BERJAGA-JAGA DALAM DOA
Efesus 6:18 mengatakan, "Dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus." Kita akan memusatkan perhatian pada satu bagian dari ayat ini "berjaga-jagalah di dalam doamu itu". Apa yang diacu oleh kata "doamu itu"? Dengan membaca konteks sebelumnya, kita dapat melihat bahwa itu mengacu kepada doa dan permohonan. Yang dimaksud oleh rasul adalah, berdoa setiap waktu dengan segala doa dan permohonan saja tidaklah cukup; kita juga harus berjaga-jaga di dalam doa dan permohonan itu. Di satu pihak, kita harus berdoa, dan di pihak lain, kita harus berjaga-jaga. Apa artinya berjaga-jaga? Berjaga-jaga adalah sadar dan terus mengamati atau memperhatikan dengan mata terbuka lebar; atau waspada akan bahaya atau hal-hal darurat. Berjaga-jaga dalam doa dan permohonan berarti memiliki penglihatan rohani untuk melihat adanya tipu muslihat Iblis dan menemukan tujuan dan cara kerjanya. Sekarang kita akan membicarakan beberapa aspek dengan lebih rinci bahwa kita harus berjaga-jaga dalam doa dan permohonan.
I
Doa adalah sejenis pelayanan yang harus ditaruh pada kedudukan yang pertama. Iblis selalu melancarkan siasatnya untuk menaruh hal-hal lain yang berhubungan dengan Tuhan di atas doa dan menempatkan doa pada urutan terakhir. Walaupun orang-orang telah sering diingatkan tentang pentingnya doa, namun tidak banyak di antara mereka yang mengindahkannya. Pada umumnya banyak orang lebih bergairah untuk menghadiri sidang-sidang pemberitaan, penelaahan Alkitab, dan sebagainya. Mereka tertarik kepada sidang-sidang itu dan meluangkan waktu untuk sidang-sidang itu. Tetapi kalau ada sidang doa, yang hadir hanya sedikit sekali. Walaupun sudah sangat sering disampaikan berita-berita yang mengingatkan bahwa pelayanan utama kita adalah doa dan kalau kehidupan doa kita gagal, hal-hal lain juga akan gagal, namun doa tetap diabaikan dan dianggap tidak terlalu berarti. Kalau kita menghadapi setumpuk persoalan, dengan bibir kita bisa mengaku bahwa hanya doalah yang dapat membereskan semua, walaupun begitu kita lebih banyak berbicara dan berusaha daripada berdoa. Singkatnya, segala perkara ditaruh di depan doa; perkara-perkara lain ditempatkan pada posisi utama, sedangkan doa disingkirkan ke tempat yang paling belakang karena dianggap sebagai satu-satunya hal yang paling tidak penting. Ada seorang saudara yang mengenal Tuhan sangat dalam mengatakan demikian, "Kita semua telah melakukan dosa dengan mengabaikan doa. Kita harus berkata kepada diri sendiri: Engkaulah orangnya." Jangan mencela orang lain karena mereka tidak berdoa. Kita sendiri harus bertobat. Kita perlu mohon Tuhan membuka mata kita agar melihat pentingnya doa dan nilai doa. Lagi pula, kita harus tahu bahwa kalau Iblis tidak menipu kita, kita tidak akan mengabaikan doa sedemikian. Sebab itu, kita harus berjaga-jaga dan membongkar segala tipu muslihat Iblis. Jangan biarkan dia membuat kita santai atau buta.
II
Setelah kita paham tentang pentingnya doa dan mempersembahkan diri untuk melayani dan bekerja dalam doa, saat ini, serangan Iblis satu demi satu akan datang. Kita akan merasa bahwa kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Saat kita hendak berdoa, seseorang akan mengetuk pintu depan atau ada orang masuk lewat pintu belakang; atau orang tua bertengkar, atau anak-anak membuat masalah. Kalau bukan penyakit yang datang secara tiba-tiba, mungkin ada yang mengalami suatu kejadian. Sebelum kita memutuskan untuk berdoa, segalanya tampak tenang, tenteram. Ketika kita mau mengkhususkan waktu untuk berdoa, banyak hal terjadi, menimpa kita satu demi satu. Banyak kejadian yang tidak terduga dan mengejutkan menimpa kita dengan tiba-tiba seperti serangan tentara gerilya. Sejumlah kesulitan timbul untuk menghalangi agar kita tidak berdoa. Banyak hal berusaha meniadakan waktu doa kita. Apakah hal-hal itu terjadi secara kebetulan? Tidak! Itu adalah siasat Iblis yang terencana untuk menghentikan doa kita. Iblis bisa mendorong kita melakukan banyak hal asalkan dia berhasil menghilangkan waktu doa kita. Dia tahu bahwa segala pekerjaan rohani yang tidak dibangun atas dasar doa, tidak begitu bernilai dan akhirnya akan gagal. Karena itu, ia membuat kita sibuk melakukan banyak hal sehingga mengabaikan doa. Dari pagi hingga petang kita sibuk bekerja, menjenguk, menyiapkan akomodasi, mempersiapkan khotbah, begitu rupa sehingga doa dikesampingkan, dan hanya ada sedikit waktu tersisa untuk berdoa.
Di sini, saya mengutip lagi perkataan seorang saudara yang mengenal Tuhan sangat dalam:
Ketika bani Israel mulai berencana untuk keluar dari Mesir, reaksi Firaun adalah memperberat pekerjaan mereka. Tujuan Firaun adalah membuat mereka demikian sibuk oleh pekerjaan, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan tentang keluar dari Mesir. Ketika Anda mulai merencanakan atau memutuskan untuk melaksanakan kehidupan doa yang lebih banyak, Iblis akan memulai satu muslihat dengan membuat Anda lebih sibuk, menumpuk pekerjaan dan keperluan-keperluan pada diri Anda, sehingga Anda tidak ada kesempatan untuk berdoa. Saudara-saudara, dengan tegas kita harus mengatasi hal-hal ini. Biasanya, ketika kita mencari waktu untuk berdoa, akan timbul peselisihan mengenai tugas, kewajiban, dan tanggung jawab yang kita pikul. Ada orang yang menganggap dengan berdoa, kita mengabaikan tugas kita, meninggalkan kewajiban kita, dan merusak tanggung jawab kita. Namun, bila kita dihadapkan pada situasi seperti ini, kita harus membawa persoalan-persoalan mengenai tugas, kewajiban, dan tanggung jawab kita kepada Tuhan serta mendoakannya. (Doa seperti ini tidak mudah diterapkan pada setiap orang beriman, sebab dapat menimbulkan kesalahpahaman. Ada orang yang sangat senang meninggalkan kewajibannya; mereka tidak memikul tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Mereka paling senang melempar tanggung jawab atas keluarga mereka dan perkara-perkara lainnya kepada orang lain supaya mereka memiliki waktu untuk berdoa. Semoga Tuhan melindungi perkataan ini dari kesalahpahaman). Kita harus tahu bahwa musuh akan menggunakan perkara-perkara seperti tugas-tugas, kewajiban, dan tanggung jawab yang menjamah hati nurani untuk menciptakan alasan terbaik untuk menghentikan doa kita. Kalau kita menyadari bahwa kehidupan doa kita sudah habis atau kita telah jatuh ke dalam satu kedudukan yang terkurung di mana kita tidak dapat menempuh satu kehidupan yang rohani, unggul, dan menang, maka kita harus berkata kepada Tuhan, "Tuhan, sementara berdoa, aku menyerahkan tugas kewajibanku kepada-Mu. Jangan biarkan perkara apa pun menggagalkan aku atau merusak waktu doaku. Jagalah waktu doa ini dan jangan biarkan Iblis menggangguku, sebab aku memakai waktu ini untuk mencari kemuliaan-Mu." Dalam ruang lingkup doa, prinsip perpuluhan juga bisa dipraktekkan. Setelah kita mempersembahkan kepada Tuhan bagian dan kedudukan yang menjadi hak-Nya, dan mempersembahkan sepersepuluh kepada Tuhan, kita akan nampak bahwa kita dapat lebih efektif memakai sembilan per sepuluh waktu yang tersisa itu daripada sepuluh per sepuluh waktu yang kita miliki sebelum memberikan perpuluhan. Prinsip perpuluhan ini sangat efektif. Namun, di sini ada semacam peperangan dalam doa yang harus kita kenal. Kita harus berdiri tegap dan kuat, berdiri teguh pada kedudukan di dalam Kristus dan berdoa dengan kemenangan salib. Kita harus memanfaatkan kemenangan Kristus di atas salib dalam berdoa, mengusir musuh dari kedudukan doa kita sehingga kita dapat mempertahankan kedudukan kita dalam berdoa. Hal ini serupa dengan Sama, salah seorang pahlawan Daud, yang berdiri di tengah-tengah ladang yang penuh dengan kacang merah, mempertahankannya, dan memukul kalah orang Filistin (2 Sam. 23:11-12). Ladang yang penuh dengan kacang merah ini boleh mewakili kedudukan doa kita yang harus dijaga dalam kemenangan Golgota dari penyusupan musuh. Ini adalah peperangan untuk mendapatkan doa, perang demi doa. Saya sangat prihatin bahwa kita sering menerima pengaturan keadaan dan menganggap berdoa pada waktu tertentu itu tidak mungkin. Karena perkara-perkara timbul dan berkembang sedemikian rupa, kita menganggap kita tidak bisa berdoa pada saat itu. Memang, kalau kita memberi kesempatan kepada Iblis, banyak hal akan menghalangi kita berdoa. Itulah siasat musuh. Dalam nama Tuhan dan oleh kemenangan-Nya di atas salib, kita harus menyingkirkan semua hal yang menghalangi kita berdoa. Salib adalah hal yang paling efektif untuk merebut waktu doa bagi kita, seperti dalam hal-hal lainnya, asalkan kita tahu bagaimana menggunakan kuasa kemenangan-Nya.
Kata-kata di atas memberi peringatan dan nasihat kepada kita. Saudara saudari, kita harus memperjuangkan waktu untuk berdoa, kita harus mengkhususkan satu waktu untuk doa. Kalau kita menunggu sampai ada waktu luang baru berdoa, kita tidak pernah mendapat kesempatan untuk berdoa. Kita harus menyisihkan waktu tertentu untuk berdoa. Andrew Murray berkata, "Siapa yang tidak menyisihkan waktu untuk berdoa, dia tidak berdoa." Karena itu, saudara saudari, kita perlu berjaga-jaga dan mengkhususkan waktu untuk berdoa. Kita juga harus berdoa untuk melindungi waktu doa kita agar jangan dirampas oleh tipu daya si jahat.
III
Kita bukan hanya perlu berjaga-jaga dalam menjaga waktu doa, tetapi juga harus berjaga-jaga sambil berdoa supaya kita dapat benar-benar berdoa. Iblis akan menggunakan segala siasatnya melalui lingkungan luar kita yang memaksa kita tidak ada waktu untuk berdoa, bahkan, saat kita sudah berlutut berdoa, ia masih akan memakai segala macam tipu daya untuk menghambat kita berdoa. Tadinya, pikiran kita jernih dan angan-angan kita terkonsentrasi sebelum berdoa, tetapi begitu berlutut untuk berdoa, pikiran kita mulai kacau. Kita mulai mengingat hal-hal yang tidak perlu kita ingat, dan mulai memikirkan hal-hal yang belum saatnya kita pikirkan. Banyak gagasan yang tidak perlu, tiba-tiba masuk ke dalam pikiran. Sebelum berdoa, semua pemikiran itu tidak ada; tetapi begitu kita berdoa, pemikiran-pemikiran itu berjubel masuk untuk mengganggu kita. Dari luar tampaknya tenang dan tidak ada hal-hal yang muncul untuk mengganggu; tetapi begitu berlutut berdoa, telinga kita mendengar suara-suara (yang sebenarnya tidak bersumber dari luar). Suara-suara itu muncul dengan cara yang tidak lazim dan tidak dapat dijelaskan untuk mengganggu doa kita. Sebelum berdoa mungkin kita merasa kuat, tetapi begitu berlutut berdoa, kita merasa lelah seolah-olah tidak dapat melanjutkan lagi. Hal ini tidak disebabkan oleh kurang tidur; sebab sebelum berdoa, kita tidak merasakan lelah sedikit pun, tetapi begitu kita berdoa, kita merasa lelah dan ingin tidur. Kadang-kadang bahkan gejala penyakit yang sebelumnya tidak ada tiba-tiba muncul pada saat berdoa. Mungkin kita ingin melepaskan beban melalui doa, namun sementara berlutut untuk berdoa, tidak ada sepatah kata pun yang dapat kita ucapkan. Seolah-olah kita tercekik dan kurang berdoa. Ada banyak pokok doa, tetapi pada saat berdoa kita menjadi lumpuh, dingin, dan kehilangan beban. Bahkan walaupun berusaha untuk berdoa, doa kita menjadi seperti berbicara kepada angin, dan baru mengucapkan dua atau tiga patah kata, kita sudah kehabisan bahan. Semua kondisi tersebut di atas terjadi secara mendadak selama waktu doa. Kalau kita tidak mengenal siasat Iblis dalam menghancurkan doa, kita akan berhenti berdoa dan berdiri. Karena itu untuk berdoa, untuk berdoa dengan tuntas dan melepaskan beban kita melalui doa, kita perlu berjaga-jaga dalam doa. Kita harus berjaga-jaga untuk menghadapi suasana yang ingin menghentikan doa kita. Di sini kita dituntut untuk berperang. Sebelum berdoa, kita harus berdoa agar Allah membuat kita bisa berdoa. Saat berdoa, kita harus memohon Tuhan untuk menolong agar kita dapat berdoa dengan angan-angan yang tidak bercabang, dan melepaskan kita dari semua siasat musuh yang menghentikan kita dari berdoa. Kita harus berkata kepada pikiran-pikiran, suara-suara, kelemahan-kelemahan, dan penyakit-penyakit yang mengganggu, "Semua hal yang tidak jelas sumbernya ini adalah dusta dan tipuan Iblis. Aku menentangnya." Kita harus membuka mulut dan mengusir mereka, tidak memberikan sedikit pun kesempatan (tumpuan) kepada musuh. Kita harus berjaga-jaga dan melawan tipu muslihat Iblis dengan doa. Kemudian kita tidak hanya bisa berdoa, tetapi juga bisa berdoa dengan tuntas.
Untuk berdoa dengan tuntas dan kuat, kita tidak bisa hanya berharap secara kosong. Kita tidak bisa dengan nyaman memasuki kehidupan doa seperti ini. Demikian pula kalau hanya ikut-ikutan juga tidak mungkin kita memasuki kehidupan doa. Kita harus belajar, kita harus diremukkan, dan berperang, agar dapat memiliki doa yang demikian.
IV
Di samping itu, selama berdoa kita harus berjaga-jaga terhadap segala doa yang bukan doa sejati. Iblis tidak hanya akan merampas waktu doa kita, tetapi juga melucuti kekuatan kita untuk berdoa. Bahkan ia akan datang saat kita berdoa untuk membuat kita mengucapkan kata-kata yang tidak ada hubungannya, kata-kata yang kacau, tidak penting, dan kosong. Ia akan membuat kita meminta secara sia-sia, dan memboroskan waktu doa kita. Ia akan berusaha menjajah waktu doa kita sehingga doa kita sama dengan nol besar. Doa-doa yang bersifat daging, usang, membosankan, panjang, tanpa hati, dan tanpa tujuan, hanya memboroskan waktu dan sia-sia. Doa-doa seperti ini kedengarannya seperti kebiasaan kita, namun sebenarnya di situ ada usul-usul, hasutan, dan tipu daya Iblis. Kalau kita tidak berjaga-jaga, doa kita akan menjadi tidak bermakna dan tidak berguna.
Seorang saudara menyampaikan cerita dari biografi Evan Roberts: "Pada suatu hari ada beberapa orang di rumahnya berdoa untuk satu hal. Pada pertengahan doa dari seorang saudara, Evan Roberts menghampiri saudara itu dan menutup mulut saudara itu dengan tangannya dan berkata, 'Saudara, jangan diteruskan, sebab sebenarnya Anda sama sekali tidak berdoa.' Membaca sampai di sini, saya berkata dalam hati, bagaimana mungkin Evan Roberts dapat bertindak demikian? Namun dia justru telah berbuat demikian. Sekarang saya tahu bahwa Roberts benar. Banyak perkataan dalam doa kita diucapkan dalam daging oleh hasutan Iblis. Doa-doa itu mungkin panjang, tetapi banyak yang tidak riil dan tidak berguna." Saudara saudari, ini adalah suatu fakta. Bukankah sering kali dalam berdoa kita seolah-olah berkeliling ke seluruh dunia? Banyak waktu terhambur dan tenaga terkuras, namun tidak sepatah kata pun yang mengenai sasaran. Bagaimana mungkin kita dapat mengharap Tuhan menjawab doa semacam ini? Doa semacam ini tidak mempunyai nilai rohani sama sekali. Itulah sebabnya, ketika kita berdoa, kita harus berjaga-jaga, tidak mengulur-ulur waktu, atau terlalu banyak memberikan alasan. Katakan saja apa yang ada di dalam hati kita kepada Allah secara tulus. Jangan memenuhi doa kita dengan kata-kata yang kosong.
Kita harus berjaga-jaga, agar ketika berdoa kita tidak berbicara dengan ceroboh. Seorang yang pandai berdoa menulis sebuah syair yang di dalamnya berisi sebuah kalimat tentang berdoa, "Kalau Anda berdoa kepada Allah, persiapkanlah dulu apa yang Anda inginkan dari Allah." Saudara saudari, saat kita berlutut berdoa, jika kita tidak tahu apa yang kita inginkan, bagaimana mungkin kita bisa berharap Tuhan menjawab doa kita? Kalau doa kita tidak mempunyai sasaran dan tanpa hati, itu sama saja dengan tidak berdoa sama sekali. Iblis akan menggunakan hal itu dan membuat kita berpikir bahwa kita sudah berdoa, walaupun sebenarnya kita belum berdoa sama sekali. Kita perlu berjaga-jaga dan waspada sehingga setiap kali menghampiri Tuhan, kita tahu apa yang diinginkan oleh hati kita. Jika kita tidak memiliki suatu keinginan, kita tidak memiliki doa. Semua doa dikendalikan oleh keinginan hati. Tuhan kita memperhatikan hal ini. Bartimeus, seorang pengemis buta, berseru-seru kepada Tuhan, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Tuhan menjawabnya, "Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?"(Mrk. 10:47, 51). Sekarang Tuhan pun mengajukan pertanyaan yang sama seperti itu, "Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?" Dapatkah Anda menjawab pertanyaan ini? Beberapa saudara dan saudari setelah berdoa selama sepuluh atau dua puluh menit, tidak bisa mengatakan kepada Anda tentang apa yang mereka minta kepada Tuhan. Walaupun mereka mengucapkan banyak perkataan dalam doa, mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka minta. Itu adalah doa tanpa keinginan, doa tanpa tujuan, yang tidak terhitung di pandangan Allah. Kita harus berjaga-jaga terhadap doa-doa yang seperti itu.
Ketika berdoa, kata-kata yang dapat mengekspresikan keinginan kita sama pentingnya dengan keinginan itu sendiri. Kadang-kadang ada satu keinginan dalam hati kita, tetapi semakin banyak bicara, seolah-olah kita menjadi makin jauh dari keinginan tersebut. Dalam hal ini juga kita harus berjaga-jaga. Siasat Iblis adalah menarik kita agar tidak berdoa atau mendorong kita keluar ketika kita sedang berdoa, sehingga semakin berdoa kita semakin lari entah ke mana. Sebab itu, saat berdoa kita harus menjaga perkataan kita agar tidak menyimpang dari pokok doa. Kalau menyimpang, kita harus kembali. Kita harus berjaga-jaga terarah kepada sasaran dan membuang kata-kata yang tidak perlu. Kita harus berjaga-jaga agar tidak mengucapkan doa-doa yang pada hakikatnya sama sekali bukan doa.
V
Kita harus berjaga-jaga dalam doa. Jangan biarkan Iblis mengganggu doa kita dengan tipu muslihatnya. Sering kali Iblis segera menuduh kita begitu kita gagal sedikit saja, dan membuat kita menganalisis diri sendiri sementara sedang berdoa sehingga seolah-olah kita hampir tidak bisa membuka mulut di hadapan Allah. Bila jawaban Allah tampak jauh atau tidak kunjung tiba, dia akan membuat kita kecewa dan putus asa, sehingga kita tidak ada kekuatan untuk menantikan Allah. Saudara saudari, kalau doa kita sesuai dengan kehendak Allah, kita harus ngotot dalam doa. Walaupun kita gagal, kita masih bisa datang kepada Allah oleh darah Anak Domba; Iblis tidak bisa menghalangi kita. Kita harus menjadi seperti seorang janda yang datang kepada hakim yang tidak benar dengan tidak henti-hentinya sehingga hakim itu membela perkaranya (Luk. 18:5). Kita harus menjadi seperti perempuan Sunem yang tidak mau meninggalkan Elisa sampai Elisa bangkit dan mengikutinya (2 Raj. 4:30). Kita yakin bahwa penundaan jawaban doa dapat membantu kita mengenal sesuatu yang belum pernah kita kenal sebelumnya, dan belajar tentang hal-hal yang belum pernah kita pelajari sebelumnya. Dalam hal apa pun jangan biarkan Iblis menghentikan atau merusak doa kita.
(Di sini, kita boleh lebih banyak menyanyikan kidung-kidung mengenai peperangan rohani).
Iblis tidak suka kalau beberapa orang dari kita berdoa bersama. Dia akan meletakkan perangkap-perangkap pada jalan kita serta membuat berbagai rencana untuk menghentikan doa kita. Perkara-perkara seperti desas-desus yang tidak beralasan, cerita-cerita yang tidak benar, kecurigaan tanpa sebab, kesalah-pahaman, rasa takut yang tidak beralasan, dan kengerian yang tidak berdasar dengan diam-diam dibangkitkan oleh Iblis untuk menciptakan perpecahan, untuk mengguncangkan sidang-sidang doa, dan merusak keesaan dalam doa. Karena itu, kita harus "menguji segala sesuatu" (1 Tes. 5:21). Jangan terlalu cepat percaya. Jangan mudah diguncangkan, juga jangan sembarangan bicara. Kalau kita berjaga-jaga, kita akan tahu bahwa banyak perkataan dan perbuatan yang tidak perlu dan tidak akurat itu tidak lain adalah tipuan musuh yang bertujuan untuk melemahkan hati dan tangan umat Allah, dan bahkan untuk memecah-belah mereka. Karena itu, di satu pihak kita harus berdoa, di pihak lain harus berjaga-jaga. Kita harus mengikuti teladan Nehemia yang menempatkan penjaga-penjaga siang dan malam (Neh. 4:9). Jawaban kita terhadap ancaman Iblis adalah: "Hal seperti yang kausebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka! Orang manakah seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!" (Neh. 6:8, 11). Kita tidak boleh takut dan jangan berhenti berdoa. Suatu ketika seorang saudara berkata, "Kita perlu menempatkan penjaga-penjaga yang berjaga terhadap muslihat Iblis, karena ia memiliki sangat banyak cara untuk merusak kehidupan korporat umat Tuhan." Jadi, saudara saudari, kita harus berjaga-jaga untuk memeriksa dan menilik segala hal, agar Iblis tidak ada peluang untuk memecah-belah dan merusak keesaan kita dalam doa, atau menghentikan doa kita.
VI
Kita harus berjaga-jaga dalam doa, tidak tertipu oleh Iblis yang membuat doa kita tidak konkret. Sering kali ada banyak hal yang harus dibereskan, banyak orang yang perlu didoakan, banyak berita inti yang perlu disampaikan, banyak masalah harus diatasi. Namun, pada saat berdoa, seolah-olah tidak ada topik untuk didoakan. Bahkan kita kekurangan kata-kata untuk mengutarakan doa kita. Kita berusaha keras hanya untuk mengucapkan dua atau tiga kalimat. Jelas di sini ada serangan Iblis. Adakalanya doa kita kedengaran seperti kebiasaan karena kita malas, takut akan rintangan, kurang kasih, tidak mau maju dan sungguh-sungguh. Tetapi pada kesempatan lain, ketika kita berkumpul, kita benar-benar ingin berdoa, namun doa kita sangat sedikit. Hal ini membuktikan bahwa ada sesuatu yang mengganggu, dan sesuatu itu tidak lain adalah siasat Iblis untuk menghentikan doa kita. Kalau kita berjaga-jaga, kita akan menemukan bahwa banyak dari kepikunan, kegagalan untuk mengingat, kecenderungan terseret, dan kecerobohan itu bukan diakibatkan oleh diri kita, tetapi oleh tarikan, tipuan, penyerobotan, dan perampasan Iblis. Sebab itu kita harus menentang siasat Iblis. Kita harus mendoakan orang-orang, perkara-perkara, kebenaran, atau persoalan kita dengan cermat dan tuntas. Saudara saudari, kita harus tahu, doa yang terburu-buru, doa yang terlalu "hemat" waktu, biasanya adalah doa yang sembrono, yang mudah memberikan lubang kepada Iblis. Kita tidak boleh kendur, kita harus mohon Tuhan mengingatkan kita akan segala beban dalam doa dan memberi kita kata-kata untuk mengutarakan beban tersebut. Pada saat yang sama, kita harus menanggulangi kemalasan dan kesukaan kita untuk mengulur-ulur waktu. Tuhan kita bangun pagi-pagi benar waktu hari masih gelap "dan berdoa di sana". Ketika Simon dengan kawan-kawan berkata kepada-Nya, "Semua orang mencari Engkau," jawab-Nya, "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang" (Mrk. 1:35-38). Alangkah konkret dan tuntasnya Dia. Tuhan kita "pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul" (Luk. 6:12-13). Sekali lagi, alangkah konkret dan tuntas! Ketika Rasul Paulus mengingatkan kaum saleh di Efesus untuk "berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil" (Ef. 6:18-19), permohonan seperti ini adalah yang sangat konkret, jelas, dan perlu. Kalau kita mempunyai perasaan Tubuh, memperhatikan jiwa orang dosa, urusan kaum beriman, dan pelayanan hamba-hamba Allah, kita akan mempunyai banyak orang dan perkara yang perlu didoakan. Demikian pula perlu banyak doa agar setiap kebenaran bisa disampaikan. Dalam suratnya kepada kaum beriman di Efesus, Paulus berkata, "Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, . . . Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan . . . dan meneguhkan" (Ef. 3:14-19, Tl.). Dari sini kita tahu bahwa wahyu tentang kebenaran yang mulia yang diterima oleh Paulus itu datang dari berdoa, dan wahyu itu sendiri adalah doa. Nilai sebenarnya dari terang kebenaran datang melalui doa. Kita harus mendoakan kebenaran itu agar masuk ke dalam hayat kita, dan kemudian mendoakannya agar terekspresi melalui kita. Kita harus mendoakan banyak kebenaran yang telah kita dengar dan katakan sehingga kebenaran-kebenaran ini tidak hanya teringat dalam angan-angan dan tercatat dalam buku catatan kita, tetapi juga ternyata dalam kehidupan kita. Semua ini memerlukan doa yang tegas dan tuntas!
Di balik beraneka ragam kesulitan, ada Iblis yang mendalangi. Kalau tidak berjaga-jaga, kita akan menganggapnya hanya sebagai kesulitan-kesulitan manusia, perkara, dan benda. Tetapi kalau kita mempunyai penglihatan rohani, kita akan nampak di sini ada pekerjaan Iblis, dan kita harus mengusir Iblis yang bersembunyi di balik hal-hal itu. Adakalanya seperti yang dikatakan Tuhan, "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa" (Mat. 17:21). Hal ini menuntut kita berjaga-jaga di satu pihak, dan di pihak lain berdoa dengan tekun. Kalau tidak, kesulitan-kesulitan ini akan menumpuk bertimbun-timbun seperti sebuah gunung yang memaksa Anda berjalan memutarinya atau harus menyuruhnya tercampak ke dalam laut. Oh, saudara saudari, kita harus berdoa dengan tuntas. Kita harus menyingkapkan muslihat Iblis, menghancurkan kubu-kubunya. Kita harus mengusir Iblis yang bersembunyi di balik setiap kesulitan.
VII
Kita harus berjaga-jaga bukan hanya sebelum dan selama berdoa, tetapi juga setelah berdoa. Kita harus berjaga-jaga, memperhatikan semua perubahan yang terjadi setelah kita berdoa. Semua doa yang serius dan dengan beban, diucapkan bukan hanya "dalam segala doa" juga "setiap waktu"; bukan hanya satu kali, tetapi berkali-kali; bukan hanya sekali dalam segala doa, tetapi setiap kali dalam segala doa. Jadi, sesudah setiap doa, kita harus memperhatikan kalau ada perkembangan baru, perubahan baru, atau pergerakan baru. Ketika Elia berdoa di Gunung Karmel, dia membungkukkan dirinya sampai ke tanah dan meletakkan kepalanya di antara lututnya. Tujuh kali dia mengutus hambanya untuk pergi dan melihat ke laut, sampai hambanya itu melaporkan bahwa ia melihat awan sebesar telapak tangan naik dari laut. Kemudian dia mengutus hambanya kepada Raja Ahab dan menyuruh raja itu untuk menyiapkan kereta dan segera pulang agar jangan kehujanan (1 Raj. 18:42-44). Ini juga terlihat dari doa Elisa bagi anak perempuan Sunem. "Lalu ia membaringkan dirinya di atas anak itu dengan mulutnya di atas mulut anak itu, dan matanya di atas mata anak itu, serta telapak tangannya di atas telapak tangan anak itu; dan karena ia meniarap di atas anak itu, maka menjadi panaslah badan anak itu. Sesudah itu ia berdiri kembali dan berjalan dalam rumah itu sekali ke sana dan sekali ke sini, kemudian meniarap pulalah ia di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu sampai tujuh kali, lalu membuka matanya" (2 Raj. 4:34-35). Kemudian dia memberikan anak itu kembali kepada ibunya. Baik Elia maupun Elisa tidak hanya berlutut berdoa tanpa meminta apa-apa. Ketika berdoa, mereka mengamati akibat doa itu dan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. Misalkan, mungkin Anda berdoa untuk seorang yang menolak Tuhan, Anda meminta agar Tuhan membuatnya percaya. Anda berdoa baginya dengan segala doa, dan Anda juga menerima janji Allah. Namun demikian, situasi di luar kelihatan semakin memburuk; dia mungkin menolak Tuhan lebih hebat daripada sebelumnya. Kalau Anda mengabaikan perubahan tersebut dan meneruskan doa Anda yang dulu, itu tidak cukup. Anda harus memperhatikan dan memberitahukannya kepada Tuhan. Kalau Anda berjaga-jaga, Anda akan menerima terang Tuhan. Anda akan mengetahui bahwa doa Anda sudah mempengaruhi teman yang tidak percaya ini dan Anda boleh mulai memuji Tuhan. Atau Anda harus mengubah doa dan melempar jala yang lain. Mungkin tidak lama lagi sikapnya melembut. Kemudian Anda boleh mengubah doa Anda dan memasang jala yang lain. Menyesuaikan doa dengan situasi menuntut sikap berjaga-jaga terus-menerus.
Efesus 6 adalah satu pasal tentang peperangan rohani. Dalam pasal ini, hal yang paling penting adalah berdoa yang disebutkan pada akhir pasal ini. Kita perlu ingat bahwa yang paling mudah diserang dalam kehidupan anak-anak Tuhan adalah doa. Karena itu kita harus berjaga-jaga memperjuangkan waktu untuk berdoa, melindungi doa-doa, menghentikan doa yang bukan doa sejati, dan mencegah Iblis memutus doa kita dengan siasatnya yang licik dan jahat. Ingatlah, doa adalah satu ministri, satu pelayanan yang mulia. Kita harus berjaga-jaga dalam doa, kita harus mempraktekkannya terus-menerus agar Iblis tidak ada kesempatan sedikit pun untuk merusak doa kita.