← Daftar isi Ministri Doa Gereja · bab 2/5

BERDOALAH DEMIKIAN

"Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat. (Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

(Mat. 6:5-15)

Biasanya sewaktu membicarakan doa, kita memperhatikan jawaban doa. Tetapi di sini Tuhan Yesus tidak menekankan pada jawaban doa, melainkan upah doa, "doa yang mendapat upahnya". Berdasarkan apa berkata demikian? Berdasarkan perkataan "mendapat upahnya" yang terdapat dalam ayat 5, kata-kata yang sama seperti yang digunakan dalam ayat 2 tentang memberi sedekah, dan ayat 16 tentang berpuasa. Kalau "mendapat upahnya" itu berarti jawaban doa, lalu apa arti mendapat upahnya dalam memberi sedekah dan berpuasa? Kalau dilihat dari konteksnya, "upah" di sini mengacu kepada upah yang akan diperoleh seseorang pada zaman Kerajaan. Di sini diperlihatkan bahwa masalah terjawabnya doa itu nomor dua, sedangkan yang utama adalah doa yang mendapat upahnya. Kalau doa kita sesuai dengan kehendak Allah, doa kita bukan hanya akan terjawab, tetapi juga akan diingat dan diberi upah kelak di depan takhta penghakiman Kristus. Jadi, doa yang disebutkan di sini bukan hanya memberi jawaban hari ini, tetapi juga akan memberi kita kebenaran. Dengan perkataan lain, doa kita adalah kebenaran kita.

Akan tetapi, kebenaran doa itu tidak bisa diperoleh melalui doa yang sembarangan, doa yang di mulut tetapi tanpa hati, doa yang mengarang cerita, atau doa yang berasal dari motivasi yang tidak murni. Di sini, di satu pihak, Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak meniru doa-doa dari dua jenis orang. Di pihak lain, Dia juga memberi kita pola (contoh) doa. Terlebih dulu mari kita membahas dua jenis doa yang seharusnya tidak kita ikuti.

JANGANLAH SEPERTI ORANG MUNAFIK

YANG BERDOA SUPAYA DILIHAT ORANG

Tuhan Yesus berkata, "Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang." Pada pokoknya berdoa adalah berkomunikasi dengan Allah, untuk mengekspresikan kemuliaan Allah. Tetapi orang-orang munafik menggunakan doa yang seharusnya memuliakan Allah itu untuk memuliakan diri sendiri; karena itu mereka senang berdoa dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya. Mereka berbuat demikian dengan maksud supaya dilihat orang, sebab rumah ibadat dan tikungan jalan adalah tempat-tempat umum, di mana orang-orang berkumpul atau melintas. Mereka berdoa bukan agar didengar Allah, tetapi agar dilihat orang. Maksud mereka adalah menonjolkan diri mereka sendiri. Doa-doa seperti ini sangat dangkal, tidak dapat dianggap sebagai doa kepada Allah atau bersekutu dengan Allah. Karena motivasi doa seperti ini adalah untuk menerima kemuliaan dari manusia, dan karena tidak ada suplai yang tersimpan di hadapan Allah, maka mereka tidak akan menerima apa pun dari Tuhan. Mereka telah menerima upahnya, yaitu pujian dari manusia, jadi dalam kerajaan yang akan datang, tidak akan ada apa-apa lagi untuk dikenang.

Kalau begitu, bagaimana seharusnya kita berdoa? Tuhan Yesus berkata, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Di sini frase "dalam kamarmu" mempunyai makna kiasan. "Rumah-rumah ibadat" dan "tikungan-tikungan jalan raya" mewakili tempat-tempat terbuka (umum), sedangkan "dalam kamar" mewakili tempat yang tersembunyi. Saudara saudari, Anda bisa mendapatkan "kamar" walaupun di tikungan-tikungan jalan raya dan di tempat-tempat ibadat, di jalan-jalan umum maupun dalam mobil. Kamar adalah tempat Anda berkomunikasi dengan Allah secara diam-diam, tempat Anda tidak memamerkan doa Anda dengan sengaja. "Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu" maksudnya mengurung diri sendiri dan menolak dunia. Dengan kata lain, kita harus mengabaikan segala suara di luar dan dengan diam-diam berdoa sendiri kepada Allah.

"Berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Perkataan ini sungguh menghibur. Berdoa kepada Bapamu yang tersembunyi itu perlu iman. Walaupun Anda tidak merasa apa-apa secara luaran, tetapi Anda harus percaya bahwa Anda sedang berdoa kepada Bapa yang ada di tempat yang tersembunyi. Dia ada di tempat tersembunyi, tidak terlihat oleh mata, namun Dia benar-benar ada di sana. Dia tidak meremehkan doa Anda, Dia yang ada di tempat tersembunyi itu melihat. Semua ini adalah tanda yang menunjukkan betapa besar perhatian-Nya terhadap doa Anda. Dia tidak hanya melihat lalu pergi, tetapi Dia akan membalasnya kepada Anda. Percayakah Anda? Kalau Tuhan berkata "akan membalasnya", Dia akan membalasnya. Tuhan menjamin bahwa doa Anda di tempat tersembunyi itu tidak akan sia-sia. Kalau Anda berdoa dengan benar, Bapa akan membalas Anda. Walaupun hari ini kelihatannya tidak ada balasan apa pun, akan tiba harinya saat Anda menerima upah. Saudara saudari, apakah doa Anda di tempat yang tersembunyi itu lulus penyaringan Bapa di tempat yang tersembunyi? Percayakah Anda bahwa Bapa yang melihat Anda di tempat yang tersembunyi akan membalasnya kepada Anda?

JANGANLAH SEPERTI BANGSA-BANGSA YANG TIDAK MENGENAL ALLAH

Tuhan Yesus tidak hanya mengajar kita untuk tidak memamerkan diri sendiri, tetapi juga mengajar kita: "Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele (mengulang-ulang dengan sia-sia) seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." "Bertele-tele" atau mengulang-ulang dengan sia-sia dalam bahasa Yunaninya berarti mengulang-ulang secara monoton seperti orang gagap berbicara. Beberapa orang mengulang-ulang kata-kata yang sama secara monoton dalam doa mereka. Doa demikian tidak lebih dari suara-suara tanpa arti. Kalau Anda di dekat mereka dan mendengarkan doa-doa mereka, Anda akan mendengar bunyi yang monoton berulang-ulang seolah-olah Anda sedang berada dekat sungai sambil mendengarkan riak-riak air yang menimpa batu-batuan atau berdiri dekat jalan berbatu-batu dan mendengarkan gilasan terus-menerus dari roda pedati yang melaluinya. Mereka melantunkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, maka doanya akan dikabulkan. Namun doa yang demikian adalah sia-sia dan tidak berkhasiat. Kita tidak boleh berdoa seperti itu.

Saudara saudari, doa-doa Anda tidak seharusnya hanya berupa suara yang tanpa arti. Banyak doa orang-orang dalam sidang doa tidaklah berarti. Bila Anda tidak mengatakan "amin" atas doa mereka, mereka akan menuduh Anda tidak sehati dengan mereka. Tetapi kalau Anda mengaminkan doa mereka, mereka akan terus mengulangi perkataan tersebut. Mereka berdoa bukan untuk mencapai suatu tujuan, tetapi untuk membangkitkan pendukung. Doa mereka bukan untuk melepaskan beban, tetapi untuk menyelesaikan satu pidato. Ada banyak doa yang dipengaruhi manusia, ada banyak ucapan yang jauh melebihi keinginan hati. Sekali lagi saya katakan bahwa doa seperti itu mirip dengan bunyi riak-riak air yang menimpa batu atau roda pedati yang tak henti-hentinya menggilas jalan yang berbatu-batu. Doa itu mempunyai suara, tetapi tidak mempunyai arti. Kita tidak boleh berdoa seperti itu.

Tuhan berkata, "Janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." Ayat ini menunjukkan bahwa didengar atau tidaknya doa kita itu oleh Tuhan tergantung pada sikap kita di hadapan-Nya dan juga apa keperluan kita, tidak tergantung pada banyak atau sedikitnya kata-kata kita. Kalau kita berdoa untuk apa yang tidak kita perlukan, doa kita tidak akan dijawab, walaupun mungkin kata-kata yang kita ucapkan itu sangat banyak. Kalau meminta bukan karena keperluan, itu adalah ketamakan, adalah salah minta. Allah senang memenuhi segala keperluan kita, tetapi Dia tidak akan memuaskan keinginan egoistis kita. Betapa bodoh orang-orang yang berkata bahwa mereka tidak perlu berdoa karena Tuhan mengetahui segala keperluan mereka, sebab tujuan berdoa di sini bukan untuk memberi tahu Tuhan, melainkan untuk menyatakan sandaran, kepercayaan, penghargaan, dan keinginan kita. Karena itu, kita harus berdoa. Tetapi dalam doa kita, keinginan hati kita harus melebihi perkataan kita, percayanya kita harus lebih kuat daripada perkataan kita.

"BERDOALAH DEMIKIAN"

Sekarang kita akan melihat doa yang Tuhan Yesus ajarkan. Doa ini umumnya dikenal sebagai "Doa Bapa Kami". Tetapi anggapan seperti ini tidak benar. Doa ini bukan Doa Bapa Kami, melainkan doa yang diajarkan Tuhan kepada kita. Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam Lukas 11:1-4. Kita harus mempelajari doa ini baik-baik.

Tuhan berkata, "Karena itu, berdoalah demikian . . ." Berdoalah demikian bukan berarti berdoa dengan kata-kata ini setiap kali kita berdoa. Tuhan Yesus sama sekali tidak bermaksud begitu. Dia mengajarkan kita bagaimana berdoa, bukan menyuruh kita mengulangi perkataan-perkataan ini, melainkan berdoa menurut cara yang demikian.

Sejak bumi diciptakan, doa sudah sering diucapkan kepada Allah. Dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman, tak terhitung banyaknya orang yang berdoa kepada Allah. Tetapi jarang yang berdoa dengan benar. Banyak orang memperhatikan keperluan mereka, tetapi mereka tidak memperhatikan apa yang diinginkan Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus membuka mulut untuk mengajar kita berdoa. Doa seperti ini sangat berarti, besar, dan dalam. Saudara saudari, jika kita ingin belajar berdoa, kita harus belajar "berdoa demikian". Allah telah datang ke bumi untuk menjadi seorang manusia, dan untuk pertama kalinya memberi tahu kita bagaimana berdoa dengan tepat.

Tuhan ingin kita berdoa kepada "Bapa kami yang di surga". "Bapa" adalah sebutan, nama baru bagi manusia untuk memanggil Allah. Sebelumnya manusia memanggil Dia sebagai "Allah yang Mahakuasa", "Allah yang Mahatinggi", "Allah yang hidup", atau "Yehova"; tidak ada seorang pun dari mereka yang berani memanggil Allah sebagai "Bapa". Di sinilah untuk kali pertama Allah dipanggil "Bapa". Hal ini jelas menunjukkan bahwa doa ini diucapkan oleh mereka yang sudah beroleh selamat dan memiliki hayat kekal. Begitu seseorang telah beroleh selamat, ia dapat memanggil Allah sebagai "Bapa". Hanya mereka yang lahir dari Allah adalah anak-anak Allah, dan hanya mereka yang dapat memanggil Allah sebagai "Bapa". Doa ini ditujukan kepada "Bapa kami yang di surga". Jadi doa ini diucapkan atas dasar bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Alangkah manis dan menyenangkan hal ini. Semula hanya Tuhan Yesus sendirilah yang dapat memanggil Allah sebagai "Bapa", tetapi dalam ayat ini Tuhan Yesus menyuruh kita memanggil Allah sebagai Bapa kita. Ini adalah satu wahyu yang besar. Kalau bukan karena fakta bahwa Allah sangat mengasihi kita dan menyerahkan Putra tunggal-Nya kepada kita, kita tidak mungkin dapat memanggil-Nya Bapa kita. Puji syukur kepada Tuhan, melalui kematian dan kebangkitan Putra-Nya, sekarang kita menjadi anak-anak Allah; kita telah mendapat satu posisi baru. Mulai sekarang kita dapat mengucapkan doa kepada Bapa kita yang di surga. Alangkah akrab, leluasa, dan membubungnya ini! Semoga Roh Tuhan memberi kita pengertian yang lebih dalam tentang Allah sebagai Bapa kita dan juga membuat kita percaya bahwa Bapa kita itu pengasih dan panjang sabar. Dia tidak hanya akan mendengar doa kita, tetapi juga akan membuat kita mempunyai sukacita berdoa.

Doa ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama mengenai hal-hal Allah, adalah doa dengan tiga kedambaan hati kita terhadap Allah (ayat 9-10); ini adalah dasar. Bagian kedua mengenai urusan-urusan kita sendiri, adalah permohonan kita kepada Allah agar Dia melindungi kita (ayat 11-13a). Bagian ketiga mengenai pernyataan kita, adalah puji-pujian kita kepada Allah (ayat 13b). Sekarang mari kita bahas satu demi satu.

TIGA KEDAMBAAN HATI TERHADAP ALLAH

Bagian yang pertama adalah tiga kedambaan hati terhadap Allah.

Kedambaan Hati yang Pertama:

"Dikuduskanlah Nama-Mu"

Hari ini Allah mempunyai satu harapan, yaitu kita semua berdoa agar nama Allah dikuduskan oleh manusia. Memang nama Allah sangat diagungkan di antara malaikat-malaikat, tetapi di bumi, nama Allah dipakai dengan sembarangan, bahkan berhala menggunakan nama-Nya. Ketika nama Allah dipakai dengan sia-sia oleh manusia, Dia tidak murka dan menghantam manusia dengan petir. Dia menyembunyikan diri-Nya sendiri, seolah-olah Dia tidak ada. Dia tidak pernah melakukan apa-apa terhadap orang yang mempermainkan nama-Nya dengan sia-sia. Tetapi Dia menghendaki anak-anak-Nya berdoa: "Dikuduskanlah nama-Mu." Saudara saudari, kalau Anda mengasihi dan mengenal Allah, Anda akan menginginkan nama Allah dikuduskan. Anda akan merasa terluka kalau ada orang menggunakan nama Allah dengan sia-sia. Keinginan Anda akan menjadi semakin kuat dan Anda akan berdoa dengan lebih bersungguh-sungguh: "Dikuduskanlah nama-Mu," sampai suatu hari semua orang menguduskan nama-Nya, dan tidak ada seorang pun yang berani menyebut nama-Nya dengan sia-sia lagi.

"Dikuduskanlah nama-Mu!" Nama Allah bukan hanya sekadar sebutan yang diucapkan mulut kita, bahkan adalah satu wahyu besar yang kita terima dari Tuhan. Dalam Alkitab, nama Allah dipergunakan untuk memberi wahyu kepada manusia agar mereka mengenal Allah. Nama-Nya mewahyukan hakiki-Nya dan mengungkapkan kesempurnaan-Nya. Hal ini tidak dimengerti oleh jiwa manusia, perlu Tuhan sendiri mewahyukannya kepada kita (Yoh. 17:6). Tuhan berkata, "dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka" (Yoh. 17:26). Untuk mengenal nama Allah, kita perlu mendapat wahyu berulang-ulang dari Tuhan.

"Dikuduskanlah nama-Mu!" Ini bukan hanya keinginan hati kita, tetapi juga penyembahan kita kepada Bapa. Kita harus memberikan kemuliaan kepada Allah. Kita harus memulai doa kita dengan pujian. Muliakanlah Allah sebelum mengharap belas kasihan dan anugerah-Nya. Biarlah Dia menerima pujian yang penuh tentang diri-Nya, kemudian kita akan menerima anugerah-Nya. Saudara saudari, ingatlah hal yang paling utama dan juga merupakan sasaran akhir dari doa kita adalah agar Allah dimuliakan.

"Dikuduskanlah nama-Mu!" Nama Allah berhubungan dengan kemuliaan-Nya. "Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang" (Yeh. 36:21). Kaum Israel tidak menguduskan nama Allah, sebaliknya mereka menajiskan nama-Nya ke mana pun mereka pergi. Allah merasa sakit hati karena nama-Nya dinajiskan. Tuhan ingin agar kita memiliki keinginan kudus ini. Dengan perkataan lain, Dia ingin memuliakan nama-Nya melalui kita. Pertama-tama, nama-Nya harus dikuduskan dalam hati kita, dan kemudian keinginan ini akan semakin dalam. Salib harus melakukan satu pekerjaan yang lebih dalam pada diri kita, baru setelah itu kita dapat memuliakan nama Allah. Kalau tidak, kita tidak dapat memandangnya sebagai keinginan kudus, sebaliknya kita akan memandangnya sebagai satu khayalan yang kosong. Saudara saudari, kalau demikian, kita sungguh perlu ditanggulangi dan dibereskan.

Kedambaan Hati yang Kedua:

"Datanglah Kerajaan-Mu"

Kerajaan apakah yang dimaksud? Kalau ditinjau dari konteksnya dalam Injil Matius, kita akan nampak bahwa kerajaan ini adalah Kerajaan Surga. Dengan mengajarkan berdoa "datanglah Kerajaan-Mu", Tuhan Yesus bermaksud mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di surga, di bumi ini tidak ada Kerajaan tersebut. Karena itu, kita seharusnya berdoa agar Allah memperluas batas Kerajaan Surga, sehingga mencapai bumi ini. Dalam Alkitab, Kerajaan Allah dibicarakan baik secara geografis maupun sejarah. Sejarah adalah perkara waktu, sedangkan geografis adalah perkara tempat.

Menurut Alkitab, faktor geografis Kerajaan Allah lebih menonjol daripada faktor sejarahnya. Matius 12:28 mengatakan, "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." Apakah ini perkara sejarah? Bukan! Ini adalah perkara geografis. Di mana pun Anak Allah mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, di situ ada Kerajaan Allah. Jadi, selama periode waktu ini, Kerajaan Allah lebih bersifat geografis daripada sejarah.

Saudara saudari, kalau pandangan kita terhadap Kerajaan itu selalu bersifat sejarah, berarti kita hanya nampak salah satu sisi kebenaran dan pandangan kita itu belum lengkap. Dalam Perjanjian Lama, Kerajaan Surga hanyalah nubuat. Dengan datangnya Tuhan Yesus, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat. 3:1-2). Kemudian Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (4:17). Mereka berkata demikian karena saat itu sudah ada orang-orang yang membentuk Kerajaan Surga. Kalau kita sampai ke Matius 13, kita nampak bahwa Kerajaan Surga bahkan mulai tampil secara nyata di bumi. Hari ini, di mana pun anak-anak Allah mengusir setan dengan Roh Allah serta menghancurkan pekerjaan setan, di situ terdapat Kerajaan Allah. Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: "Datanglah Kerajaan-Mu," sebab Dia berharap agar Kerajaan Allah memenuhi seluruh bumi.

"Datanglah Kerajaan-Mu!" Ini bukan hanya kedambaan gereja, tetapi juga tanggung jawab gereja. Gereja harus mendatangkan Kerajaan Allah ke bumi. Untuk ini, gereja harus membayar harga, dibatasi oleh surga dan patuh di bawah pengaturan surgawi, menjadi jalan keluar surgawi, menyalurkan kuasa surga agar ternyata di bumi. Kalau gereja ingin membawa Kerajaan Allah ke bumi, gereja harus tahu semua siasat Iblis (2 Kor. 2:11) dan ia harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah agar dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Ef. 6:11), sebab di mana ada Kerajaan Allah, setan terusir. Ketika Kerajaan Allah ternyata sepenuhnya di bumi, Iblis akan dicampakkan ke lubang tak berdasar (jurang maut, Why. 20:1-3). Karena gereja mempunyai tanggung jawab yang sedemikian besar, maka tidak heran kalau Iblis menyerangnya dengan sekuat tenaga. Semoga gereja berdoa seperti kaum beriman zaman dulu, "Ya TUHAN, tekukkanlah langit-Mu dan turunlah" (Mzm. 144:5), dan "Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun" (Yes. 64:1). Pada saat yang sama kita harus berkata kepada Iblis, "Enyahlah dari hadapanku, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan Allah untukmu" (Mat. 25:41).

Kedambaan Hati yang Ketiga:

"Jadilah Kehendak-Mu di Bumi seperti di Surga"

Ini mewahyukan bahwa kehendak Allah telah rampung di surga, tetapi di bumi ini kehendak Allah belum sepenuhnya selesai. Dia adalah Allah, siapakah yang bisa mencegah rampungnya kehendak-Nya? Manusiakah, atau Iblis? Sebenarnya tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya. Kalau demikian mengapa kita harus berdoa? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu nampak dengan jelas tentang prinsip doa.

Dalam seluruh Alkitab terdapat sejumlah prinsip dasar tentang kebenaran, dan di antaranya adalah prinsip doa. Fakta adanya berdoa dalam Alkitab adalah satu hal yang mengherankan. Allah sudah tahu keperluan kita, lalu mengapa kita perlu berdoa? Dalam pandangan manusia, karena Allah itu Mahatahu, jadi manusia sama sekali tidak perlu berdoa! Tetapi ada satu hal yang mengherankan dalam Alkitab, yaitu ia memberi tahu manusia bahwa Allah ingin agar manusia berdoa! Berdoa berarti Allah ingin melakukan satu hal tertentu, namun Dia tidak mau melakukannya sendiri; Dia menunggu sampai manusia di bumi berdoa, dan baru setelah itu Dia akan melakukannya. Dia mempunyai kehendak dan pikiran-Nya sendiri, namun Dia menunggu manusia berdoa. Allah mengetahui keperluan kita, tetapi Dia akan memenuhi semua keperluan kita hanya setelah kita berdoa. Dia tidak akan bergerak sebelum ada orang yang berdoa.

Jadi, alasan kita berdoa adalah karena Allah menunggu manusia berdoa sebelum Dia melakukan sesuatu. Tuhan Yesus harus lahir, tetapi perlu ada Simeon dan Hana yang berdoa (Luk. 2:25, 36-38). Roh Kudus memang harus datang, tetapi perlu seratus dua puluh orang berdoa selama sepuluh hari (Kis. 1:15; 2:1-2). Inilah prinsip berdoa. Apakah kita dapat membuat Allah melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan-Nya melalui doa? Tidak! Namun demikian, Dia menunggu kita berdoa sebelum Dia melakukan apa yang ingin Dia lakukan.

Pada zaman Ahab, firman Tuhan datang dengan jelas kepada Elia yang mengatakan, "Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi." Namun Dia tidak menurunkan hujan sebelum Elia berdoa (lihat 1 Raj. 18:1, 41-45). Allah tidak mau melaksanakan kehendak-Nya sendirian; Dia ingin kita berdoa sebelum Dia melaksanakan kehendak-Nya. Jadi apakah doa? Doa adalah: pertama, Allah mempunyai kehendak; kedua, kita terjamah oleh kehendak-Nya, lalu kita berdoa; dan ketiga, sementara kita berdoa, Allah menjawab doa kita.

Betapa besar kesalahan konsepsi yang mengatakan bahwa dalam hal berdoa, manusia memprakarsai sesuatu dan minta Allah melakukan sesuatu. Alkitab menunjukkan bahwa Allahlah yang pertama-tama mempunyai kehendak, Allahlah yang ingin melakukan sesuatu. Dia memberitahukan kehendak-Nya kepada kita sehingga kita mengucapkannya. Inilah yang disebut doa. Di sini Tuhan Yesus mengajar kita berdoa. Allah sendiri menginginkan nama-Nya dikuduskan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi. Tetapi Allah tidak melakukan semua ini secara langsung; Dia menunggu gereja berdoa. Jika Anda berdoa, saya juga berdoa, dan semua anak Allah berdoa, dan jika doa ini cukup banyak, maka nama Allah pun dikuduskan di antara manusia. Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga.

Anak-anak Allah harus belajar berdoa demikian, harus sering mengingat apa yang Allah minta, apa yang Allah ingin lakukan. Walaupun Allah sudah menetapkan akan melakukan sesuatu, Dia tidak akan melakukannya sebelum anak-anak-Nya termotivasi dan mau menyatakan kehendak-Nya melalui doa. Kemudian Dia akan menjawab doa tersebut. Walaupun penggenapan sepenuhnya dari "dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi" akan terjadi dalam Kerajaan Seribu Tahun, waktunya akan dipercepat atau tertunda tergantung pada doa-doa anak-anak Allah. Alasan yang mendasar dari hal ini adalah Allah tidak mau melakukan apa-apa sendirian, tetapi Dia ingin anak-anak-Nya di bumi berdoa sebelum Dia melakukan sesuatu.

Ada beberapa hal yang boleh dianggap sebagai bagian-bagian kecil dalam kehendak Allah, tetapi Allah mempunyai satu kehendak besar yang mencakup semua bagian kecil tersebut. Kalau kita memperhatikan kehendak Allah yang besar, semua bagian kecil kehendak-Nya itu akan digenapi. Allah di surga mempunyai kehendak-Nya; Roh-Nya menyampaikan kehendak ini kepada kita. Sebab itu, kita menanggapinya dengan berseru, "Tuhan, kami ingin agar Engkau melakukan hal ini." Setelah itu, barulah Allah melakukannya. Ini adalah prinsip doa yang dinyatakan dalam Alkitab. Pergerakan Allah hari ini dipengaruhi oleh doa kita di bumi. Tuhan telah mewahyukan rahasia ini kepada kita, yang tersembunyi dari zaman ke zaman. Saudara saudari, kalau kita mau mempersembahkan diri sendiri, mengeluarkan waktu untuk berdoa, kita akan nampak bahwa doa seperti ini tidak hanya akan dijawab Tuhan, tetapi juga akan diberi pahala pada waktu yang akan datang.

Kehendak Allah adalah seperti sungai besar (bengawan), dan doa kita adalah seperti suatu saluran. Kalau doa kita cukup besar, penggenapan doa kita juga cukup besar; kalau doa kita terbatas, penggenapannya juga akan terbatas. Kebangunan rohani di Wales pada tahun 1903-1904 boleh dianggap kebangunan rohani yang terbesar dalam sejarah gereja. Allah memakai Evan Robert, seorang pekerja tambang batu bara, sebagai bejana untuk mendatangkan kebangunan yang besar itu. Dia tidak begitu terpelajar, tetapi doanya sangat dalam. Kemudian ia menarik diri dari pekerjaan di hadapan umum selama 7 atau 8 tahun. Pada suatu hari seorang saudara berjumpa dengannya dan bertanya apakah yang dilakukan selama tahun-tahun tersebut. Ia menjawab hanya dengan satu kalimat: "Saya mendoakan doa kerajaan." Saudara saudari, seandainya tidak ada doa, kerajaan tidak akan datang. Kalau saluran tersumbat, air tidak dapat mengalir. Saat mengajar kita berdoa, Tuhan menyatakan maksud Allah dan permintaan Allah kepada kita. Kapan saja kehendak anak-anak Allah mutlak serasi dengan kehendak Allah, nama Allah akan dikuduskan, Kerajaan-Nya akan datang, dan akan terjadi di bumi seperti di surga.

TIGA HAL DOA UNTUK DIRI SENDIRI

Pada bagian kedua dari ajaran Tuhan Yesus tentang berdoa, kita nampak tiga hal doa untuk diri sendiri.

Permintaan Pertama:

"Berikanlah Kami pada Hari Ini Makanan Kami yang Secukupnya"

Banyak orang sulit memahami mengapa ketika Tuhan Yesus mengajar kita berdoa bagi nama Allah, Kerajaan Allah, dan kehendak Allah, tetapi tiba-tiba Dia beralih kepada masalah makanan kita sehari-hari. Bukankah ini suatu kemerosotan besar dari doa yang begitu tinggi kepada hal-hal yang bumiah? Saudara saudari, ini ada alasannya. Ketika seorang manusia-Allah yang sejati berdoa senantiasa bagi nama-Nya, Kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya, Tuhan akan memperhatikan orang itu.

Karena doa-doa seperti itu sangat penting, orang yang berdoa tersebut pasti akan selalu mendapat serangan Iblis. Itulah sebabnya, ada satu perkara yang perlu didoakan, yaitu makanan sehari-hari. Makanan adalah kebutuhan manusia yang sangat mendesak juga adalah satu pencobaan besar. Kalau makanan sehari-hari seseorang menjadi satu masalah, hal ini merupakan pencobaan yang sangat besar. Di satu pihak, kita berdoa agar nama Allah dikuduskan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi. Di pihak lain, sebagai manusia, kita masih hidup di bumi dan masih memerlukan makanan sehari-hari. Iblis tahu hal ini. Itulah sebabnya kita perlu doa untuk perlindungan. Ini adalah doa seorang Kristen bagi keperluannya sendiri, ia harus mohon Tuhan melindunginya. Kalau tidak, sementara dia mengucapkan doa yang demikian penting, dia akan diserang oleh musuh. Iblis bisa menyerang kita dalam aspek ini. Kalau kita kekurangan makanan sehari-hari, kita diserang, dan doa-doa kita akan terpengaruh. Kita harus nampak perlunya doa seperti ini. Kita masih hidup di bumi sebagai manusia, dan tubuh kita memerlukan makanan sehari-hari. Sebab itu, kita harus minta Tuhan memberi kita makanan sehari-hari yang secukupnya.

Doa ini juga memperlihatkan bahwa kita perlu menengadah kepada Allah dan berdoa kepada-Nya setiap hari. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." Doa ini bukan doa mingguan, tetapi doa harian. Di bumi kita tidak mempunyai sandaran apa-apa, tidak mempunyai tabungan, sampai tahap sedemikian rupa, kita tidak berdoa untuk makanan mingguan atau bulanan, kita meminta makanan untuk hari ini. Hal ini benar-benar memerlukan bersandar kepada Tuhan! Tuhan kita tidak mengabaikan keperluan kita sehari-hari, Dia juga tidak mengajar kita untuk melupakan keperluan ini. Sebaliknya, Dia menyuruh kita berdoa setiap hari. Sebenarnya Bapa kita sudah tahu hal-hal yang kita perlukan. Tuhan Yesus ingin agar kita berdoa setiap hari untuk makanan sehari-hari kita, sebab Tuhan ingin agar kita belajar menengadah kepada Bapa setiap hari, dan dengan demikian melatih iman kita dari hari ke hari. Kita sering mengkhawatirkan hal-hal yang masih jauh di depan dan mendoakan kebutuhan-kebutuhan yang masih jauh. Saudara saudari, kalau kita mempunyai keinginan yang kuat untuk nama, Kerajaan, dan kehendak Allah, kita akan menghadapi kesukaran besar. Namun, kalau Allah memberi kita makanan kita pada hari ini, kita tidak perlu mendoakan makanan kita untuk esok hari; makanan untuk esok hari baiklah kita minta esok hari saja. "Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Mat. 6:34).

Permintaan Kedua:

"Ampunilah Kami dari Kesalahan Kami,

seperti Kami juga Mengampuni Orang yang Bersalah kepada Kami"

Di satu pihak, kita ada permintaan untuk kebutuhan-kebutuhan jasmani; di pihak lain, juga ada permintaan untuk hati nurani yang tidak bercela. Dari hari ke hari, kita tidak luput dari kesalahan dalam banyak hal kepada Allah. Walaupun mungkin tidak semuanya adalah dosa, namun semuanya adalah kesalahan. Apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak dilakukan, ini adalah kesalahan; apa yang harus dikatakan, tetapi tidak dikatakan, ini juga adalah kesalahan. Tidak mudah untuk menjaga hati nurani yang tidak bercela di hadapan Allah. Setiap malam, sebelum beristirahat, kita menemukan bahwa kita melakukan banyak kesalahan terhadap Allah. Boleh jadi hal-hal itu bukan dosa, namun hal-hal itu adalah kesalahan. Kita harus mohon Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan tidak mengingatnya lagi, agar kita bisa memiliki hati nurani yang tidak bercela. Hal ini sangat penting. Dengan diampuninya kesalahan dan dosa kita, sekarang kita mempunyai hati nurani yang tidak bercela, dan kita dapat hidup dengan berani di hadapan Allah.

Banyak saudara saudari yang mempunyai pengalaman bahwa begitu ada kebocoran dalam hati nurani, maka iman tidak bisa bangkit. Hati nurani tidak boleh bocor. Dalam 1 Timotius 1:19 Paulus berkata, "Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka." Hati nurani dapat disamakan dengan sebuah kapal yang tidak boleh bocor. Kalau ada kebocoran, iman akan kandas. Hati nurani tidak bisa bertoleransi terhadap kesalahan atau hutang. Begitu ada satu kesalahan, terciptalah satu lubang, dan imanlah yang pertama-tama akan bocor keluar. Kalau ada satu lubang pada hati nurani kita, kita tak dapat percaya; walaupun kita berusaha sekuat tenaga, tetap tidak dapat percaya. Begitu suara tuduhan itu menggema dalam hati nurani, iman pun bocor keluar dengan cepat. Itulah sebabnya kita harus memelihara hati nurani yang murni. Kita harus minta Tuhan untuk mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Ini adalah satu hal yang serius. Walaupun hal ini tidak bersangkut-paut dengan apakah kita mendapat hidup kekal atau tidak, tetapi hal ini berkaitan dengan persekutuan kita dan pendisiplinan Allah.

Kita harus mohon Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita seperti kita juga mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. Kalau seseorang sulit mengampuni saudara saudarinya dan tidak bisa melupakan kesalahan-kesalahan mereka, orang itu tidak layak mohon Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Siapa yang mempunyai hati yang sempit sehingga selalu mengingat bagaimana orang-orang melukai, menyalahi, dan memperlakukan dirinya dengan buruk, tidak dapat mengucapkan doa seperti ini di hadapan Allah. Seseorang harus memiliki hati pengampun sebelum ia dapat datang kepada Bapa dengan penuh keberanian dan mohon Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita seperti kita juga mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita tidak bisa mohon Tuhan mengampuni kesalahan kita kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain. Mana mungkin kita dapat membuka mulut dan mohon pengampunan Allah, kalau kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita lebih dulu?

Saudara saudari, kalau Anda merasa tidak puas dengan beberapa orang karena mereka belum memenuhi permintaan Anda, dan kalau Anda selalu menghitung-hitung dalam hati betapa besar si A atau si B telah menyalahi Anda, bagaimana Anda dapat berdoa seperti ini kepada Bapa? Karena Anda harus mohon Bapa mengampuni segala kesalahan Anda, tidakkah Anda juga harus mengampuni kesalahan orang terhadap Anda? Anda harus lebih dulu mengampuni orang yang bersalah kepada Anda, dan kemudian Anda bisa berdoa kepada Bapa dengan penuh keberanian, "Ampunilah kesalahanku seperti aku juga telah mengampuni kesalahan orang yang bersalah kepadaku."

Semoga di sini kita memperhatikan satu hal, yaitu Alkitab di samping memberitahukan hubungan kita dengan Bapa, juga memberitahukan hubungan kita di antara saudara saudari. Kalau kita menganggap diri kita benar dengan Allah hanya karena melihat hubungan pribadi kita dengan Dia, tetapi mengabaikan hubungan kita dengan saudara saudari lainnya, maka kita menipu diri kita sendiri. Saudara saudari, sekali-kali jangan meremehkan hubungan kita dengan saudara saudari. Kalau hari ini kita menciptakan ketidakserasian dengan saudara saudari lainnya, saat itu juga kita kehilangan berkat Allah. Demikian pula, kalau hari ini kita tidak melakukan atau mengatakan apa yang seharusnya kita lakukan atau katakan kepada saudara atau saudari, meskipun itu bukan dosa, tetapi itu adalah hutang, kesalahan. Jangan mengira bahwa asalkan tidak ada dosa, maka semuanya beres; kita juga harus tidak berhutang, tidak melakukan kesalahan. Kalau kita tidak bisa mengampuni dan melupakan kesalahan saudara saudari kita, hal ini juga akan menghalangi kita untuk menerima pengampunan Allah. Sama seperti kita memperlakukan saudara saudari kita, demikian pula Allah akan memperlakukan kita. Kalau kita menganggap Allah telah mengampuni kesalahan-kesalahan kita kepada-Nya, sementara kita tetap mengingat kesalahan-kesalahan orang lain kepada kita, selalu menghitung-hitung dan berkeluh-kesah karenanya, maka ini adalah tipuan yang serius terhadap diri sendiri. Sebab dengan jelas Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: "Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." Perhatikanlah kata "seperti . . . mengampuni". Tanpa "mengampuni", mana mungkin ada "seperti"? Kalau kita belum mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kesalahan-kesalahan kita akan tetap diingat oleh Tuhan. Hanya setelah kita mengampuni dari dalam lubuk hati dengan tuntas orang yang bersalah kepada kita serta membiarkan kesalahan-kesalahan itu berlalu dengan tuntas seperti seolah-olah tidak ada masalah, maka barulah kita dapat datang dengan berani kepada Tuhan dan berkata, "Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." Hasilnya, Allah tidak bisa tidak mengampuni kesalahan kita. Mari kita dengan senang hati menggenapkan "mengampuni orang yang bersalah kepada kami," sebab hal ini besar pengaruhnya terhadap pengampunan Allah kepada kita.

Permintaan ketiga:

"Janganlah Membawa Kami ke Dalam Pencobaan,

tetapi Lepaskanlah Kami dari yang Jahat"

Permintaan pertama berhubungan dengan keperluan jasmani; permintaan kedua berhubungan dengan hubungan kita dengan saudara saudari; dan yang terakhir berbicara tentang hubungan kita dengan Iblis. "Jangan membawa kami ke dalam pencobaan" adalah permohonan di sisi negatif, sedangkan "lepaskan kami dari yang jahat" adalah permohonan di sisi positif. Ketika kita hidup di bumi bagi Allah dengan satu keinginan hati yang kuat untuk nama-Nya, Kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya, di satu pihak kita ada keperluan-keperluan jasmani di mana kita harus berharap kepada Tuhan untuk memenuhi makanan kita sehari-hari; di pihak lain kita memiliki keperluan akan hati nurani yang senantiasa bersih dan tidak bercela di hadapan Allah, supaya kita bisa mohon Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Namun demikian masih ada satu keperluan lain yang kita miliki, yaitu keperluan untuk mendapatkan damai sejahtera, mohon Allah melepaskan kita dari tangan Iblis.

Saudara saudari, semakin kita menempuh jalan Kerajaan Surga, pencobaan-pencobaan pun akan semakin besar. Bagaimanakah seharusnya kita menangani situasi ini? Kita harus berdoa kepada Tuhan, "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." Kita tidak boleh menjadi demikian percaya diri sehingga berani menghadapi pencobaan. Karena Tuhan mengajarkan kita berdoa demikian, maka kita pun harus berdoa agar Dia jangan membawa kita ke dalam pencobaan. Kita tidak mengetahui kapankah pencobaan itu akan datang, tetapi sebelumnya kita dapat berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Doa semacam ini adalah untuk perlindungan. Daripada kita sehari-hari menantikan pencobaan datang menimpa kita, lebih baik kita berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Hanya hal-hal yang diizinkan Tuhanlah yang boleh datang kepada kita; tetapi segala sesuatu yang tidak diizinkan-Nya harus kita doakan agar jangan terjadi pada kita. Kalau tidak demikian, kita akan dihujani dengan peperangan melawan pencobaan dari fajar hingga senja, sehingga kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Kita harus berdoa kepada Tuhan supaya Dia tidak membawa kita ke dalam pencobaan, sehingga kita tidak menjumpai hal-hal yang seharusnya tidak kita temui atau mengalami hal-hal yang seharusnya tidak terjadi pada kita. Ini adalah doa untuk perlindungan. Kita harus berdoa kepada Tuhan untuk perlindungan seperti ini, mohon Dia memberi kita makanan sehari-hari, membereskan persoalan hati nurani yang bersih, dan mohon Dia tidak membawa kita ke dalam pencobaan.

Kita bukan hanya harus mohon Tuhan "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" saja, tetapi juga "lepaskanlah kami dari yang jahat (si jahat itu)." Yang terakhir ini adalah satu permintaan yang positif. Tidak peduli di mana tangan Iblis bekerja, apakah pada masalah makanan sehari-hari, menuduh hati nurani kita, atau pada pencobaan yang diizinkan kepada kita, kita berdoa supaya Tuhan melepaskan kita dari yang jahat. Dengan perkataan lain, kita tidak berharap untuk jatuh ke dalam tangan si jahat dalam perkara apa pun. Melalui membaca Matius 8 dan 9, kita akan sadar bahwa tangan Iblis ada pada lebih banyak perkara daripada yang kita duga. Berkenaan dengan tubuh manusia, tangan Iblis berwujud demam tinggi, berkenaan dengan laut, satu badai yang datang dengan mendadak. Tangan Iblis juga menampakkan diri melalui orang yang kerasukan setan atau melalui tenggelamnya sekawanan babi. Iblis juga dinyatakan dalam penolakan atau perlawanan kepada Tuhan dalam hati manusia tanpa sebab. Dalam perkara apa pun, Iblis keluar untuk membuat manusia celaka dan menderita. Itulah sebabnya kita harus berdoa, minta agar Tuhan melepaskan kita dari si jahat itu.

Ketiga kedambaan hati kita terhadap Allah adalah doa yang mendasar; ketiga permintaan untuk diri kita sendiri adalah doa perlindungan. Doa kita untuk makanan sehari-hari bukan hanya sekadar untuk ada makanan, demikian pula permintaan kita untuk hati nurani yang tanpa tuduhan bukan sekadar supaya kita merasa enak (untuk perasaan), juga permohonan kita agar dilepaskan dari yang jahat bukan sekadar agar kita tidak celaka. Tujuan doa kita yang demikian adalah agar kita dapat hidup di bumi dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan doa, yaitu mengharapkan nama Allah dimuliakan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti juga di surga.

TIGA HAL YANG PERLU DIPUJI

Terakhir, Tuhan mengajar kita untuk memuji tiga hal: "Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." Pujian ini memberi tahu kita bahwa kerajaan adalah milik Bapa, kuasa adalah milik Bapa, dan kemuliaan adalah milik Bapa. Ketiga hal yang perlu kita puji ada kaitannya dengan kelepasan dari yang jahat. Ketiga hal itu juga terkait dengan seluruh doa yang Tuhan ajarkan. Kita berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari yang jahat karena kerajaan adalah milik Bapa, bukan milik Iblis; karena kuasa adalah milik Bapa, bukan milik Iblis; dan karena kemuliaan adalah milik Bapa, bukan milik Iblis. Titik beratnya di sini: karena kerajaan milik Bapa, maka kita tidak seharusnya jatuh ke dalam tangan Iblis; karena kuasa milik Bapa, maka kita tidak seharusnya jatuh ke dalam tangan Iblis; dan karena kemuliaan milik Bapa, maka kita tidak seharusnya jatuh ke dalam tangan Iblis. Inilah alasan yang sangat kuat di balik tidak jatuh ke dalam tangan Iblis. Jika kita jatuh ke dalam tangan Iblis, bagaimana kita dapat memuliakan Bapa? Jika Bapa memiliki kuasa atas kita, Iblis tidak dapat memiliki kuasa atas kita. Karena Kerajaan Surga milik Bapa, kita tidak dapat dan tidak seharusnya jatuh ke dalam tangan Iblis.

Mengenai kuasa, kita harus ingat firman Tuhan. Dia berkata, "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu" (Luk. 10:19). Ayat ini mengatakan bahwa kuasa yang Dia berikan dapat membuat kita mengalahkan semua kuasa musuh. Dalam kuasa ada kekuatan. Tuhan menghendaki kita mengetahui bahwa pada kerajaan ada kuasa, dan di balik kuasa ada kekuatan untuk memerintah. Kerajaan adalah milik Allah, bukan milik Iblis; kuasa juga adalah milik Allah, bukan milik Iblis; jadi, kekuatan pun adalah milik Allah, bukan milik Iblis. Tentu saja, kemuliaan juga milik Allah, bukan milik Iblis. Karena kerajaan, kuasa, dan kemuliaan semuanya milik Allah, maka orang-orang milik Allah bisa terlepas dari semua pencobaan dan terlepas dari tangan Iblis.

Dalam Perjanjian Baru, nama Tuhan menyatakan kuasa, sedangkan Roh Kudus menyatakan kekuatan. Semua kuasa ada di dalam nama Tuhan, sedangkan semua kekuatan ada di dalam Roh Kudus. Roh Kudus adalah kekuatan Allah. Kerajaan menyatakan pemerintahan surga dan kuasa Allah, sedangkan kekuatan menyatakan bahwa semua kekuatan ada di dalam Roh Kudus. Ketika Allah bergerak, Roh Kudus menjadi kekuatan-Nya. Karena kerajaan adalah milik Allah, maka Iblis tidak ada tempat untuk melaksanakan pemerintahannya. Karena kekuatan adalah milik Roh Kudus, maka Iblis tidak dapat menjamah Roh Kudus. Matius 12:28 memberi tahu kita bahwa ketika setan-setan "membentur" Roh Kudus, mereka terusir keluar. Terakhir, kemuliaan juga milik Allah. Sebab itu, kita dapat mengumumkan dan dengan lantang memuji: "Karena Engkaulah yang punya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin."

Tuhan mengajar kita berdoa demikian. Ini tidak berarti kita harus menghafalkannya seperti upacara keagamaan, melainkan berdoa menurut pola ini. Semua doa harus menurut pola ini. Mengenai Allah, kita damba nama-Nya dikuduskan, kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terlaksana di bumi seperti di surga. Mengenai diri kita, kita meminta Allah melindungi kita. Mengenai pujian kita, pujian itu berdasar pada fakta bahwa kerajaan, kuasa, dan kemuliaan adalah milik-Nya. Karena kerajaan, kuasa, dan kemuliaan adalah milik-Nya, maka nama-Nya seharusnya dikuduskan, kerajaan-Nya harus datang, dan kehendak-Nya harus terlaksana di bumi seperti di surga. Karena kerajaan, kuasa, dan kemuliaan adalah milik-Nya, maka kita berdoa kepada-Nya mengenai makanan kita sehari-hari, kesalahan kita, pencobaan yang kita alami, dan yang jahat. Setiap doa harus mengambil doa ini sebagai polanya. Ada yang berkata bahwa doa ini bukan untuk orang Kristen, karena tidak diakhiri dengan perkataan "dalam nama Tuhan". Anggapan demikian ini bodoh. Doa yang Tuhan ajarkan bukanlah suatu kidung yang kita doakan. Dalam Perjanjian Baru, doa apa yang diakhiri dengan perkataan "dalam nama Tuhan"? Ketika murid-murid berada di perahu, dan mereka berteriak, "Tuhan, tolonglah, kita binasa" (Mat. 8:25), apakah mereka mengakhiri perkataan mereka dengan "dalam nama Tuhan"? Tuhan tidak mengajar kita mengatakan perkataan ini. Dia mengajar kita untuk berdoa menurut prinsip ini. Dia mengajar kita cara berdoa. Dia tidak menyuruh kita berdoa dengan perkataan ini.

PENTINGNYA MENGAMPUNI KESALAHAN ORANG LAIN

Setelah Tuhan selesai mengajarkan tentang doa, Dia meneruskan perkataan-Nya, "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Ini adalah penjelasan Tuhan atas ayat 12 yang mengatakan, "Dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." Orang Kristen mudah gagal dalam hal mengampuni orang lain. Kalau di antara anak-anak Allah terdapat sikap yang tidak mau mengampuni, semua pelajaran, iman, dan kuasa akan bocor. Itulah sebabnya Tuhan begitu tegas dan jelas. Ini adalah perkataan yang sederhana. Tetapi anak-anak Allah memerlukan perkataan yang sederhana ini. "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga." Menerima pengampunan Bapa sangatlah mudah. Namun, "Jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Tidak ada pengampunan yang diberikan secara ceroboh. Perkataan ini sederhana, tetapi faktanya tidaklah begitu sederhana. Kalau kita mengampuni orang lain dengan mulut kita, tetapi tidak mengampuni dalam hati kita, dalam pandangan Bapa itu bukanlah pengampunan. Pengampunan yang hanya di mulut adalah kosong dan menipu, dan tidak terhitung di hadapan Bapa. Kita harus mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati kita. Sebagaimana murid-murid memerlukan perkataan Tuhan ini, kita juga memerlukan perkataan yang sama. Kalau orang Kristen tidak dapat didamaikan dan kalau mereka tidak mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati mereka, gereja akan menghadapi masalah. Kalau kita hidup di bumi ini tidak seperti gereja, kalau kita masing-masing ingin menempuh cara kita sendiri, begitu ada satu perkataan yang tidak kita sukai, kita tidak perlu mengampuni satu sama lain. Tetapi Tuhan tahu betapa pentingnya hal ini bagi kita. Sebab itu, Dia menekankan lagi hal ini pada akhir doa. Tuhan tahu bahwa semakin banyak kita berkomunikasi dan bersekutu satu sama lain, semakin perlu kita mengampuni satu sama lain. Dia tahu betapa pentingnya masalah ini. Sebab itu, Dia mengharuskan kita memperhatikan hal ini. Jika kita tidak saling mengampuni, kita mudah memberi tempat kepada Iblis. Jika kita tidak bisa saling mengampuni, kita bukanlah umat kerajaan, dan kita tidak bisa melakukan pekerjaan kerajaan. Tidak ada orang yang tidak mau mengampuni bisa berada dalam pekerjaan kerajaan, dan tidak ada orang yang tidak mau mengampuni bisa menjadi orang yang berada dalam kerajaan. Bila di antara kita dengan saudara dan saudari timbul masalah, berarti kita bermasalah dengan Tuhan. Kita tidak bisa berdoa kepada Tuhan di satu pihak, dan tetap tidak mau mengampuni di pihak lain. Saudara saudari, ini bukanlah perkara yang sepele. Kita harus memperhatikan apa yang diperhatikan Tuhan. Kita harus mengampuni kesalahan orang lain.

Terakhir, kita harus tahu betapa Tuhan sangat memperhatikan hal berdoa. Di atasnya, hanya ada empat ayat yang membicarakan hal memberi sedekah. Di bawahnya, dalam membicarakan puasa, hanya ada tiga ayat. Tetapi mengenai berdoa, Dia berbicara dengan penekanan khusus; karena doa berhubungan dengan Allah. Doa adalah pekerjaan yang paling penting dari orang Kristen. Tuhan menunjukkan bahwa ada upah atau pahala bagi doa, karena doa adalah hal yang terlalu besar, perkara yang sangat besar. Orang yang setia dalam pekerjaan doa ini akan menerima pahala. Orang yang terus melakukan pekerjaan ini di tempat tersembunyi dan yang memperhatikan pekerjaan ini, tidak mungkin tidak menerima upah. Semoga Allah membangkitkan orang-orang yang mau berdoa bagi pekerjaan Allah.

Selain itu, doa yang Tuhan ajarkan selalu menyebutkan "kita" dan "kami". Ini adalah bentuk sapaan yang dipakai oleh gereja. Ini adalah doa yang penuh dengan perasaan Tubuh. Ini adalah doa yang hebat. Saya tidak tahu berapa banyak orang beriman di bumi yang dapat berdoa seperti ini. Saudara saudari, semoga kita mau mempersembahkan diri kita sekali lagi untuk doa yang besar ini. Tidak terhitung banyaknya orang beriman dari zaman ke zaman yang telah menjadi bagian dari doa yang besar ini. Semoga Tuhan merahmati kita agar kita juga memiliki bagian dalam doa yang besar ini.