PERCAKAPAN KEDUA ANTARA NABI DAN TUHAN DAN NYANYIAN NABI KEPADA TUHAN
Pembacaan Alkitab: Hab. 2:5–3:20
Dalam berita ini saya akan melanjutkan untuk memperhatikan percakapan kedua antara nabi dan TUHAN dan kemudian melanjutkan nyanyian nabi kepada TUHAN.
4. Lima Celaka untuk Orang Kasdim
Setelah permohonan nabi kepada TUHAN (1:12–2:1), TUHAN menjawab Habakuk (2:2-20), menyingkapkan penghakiman-Nya atas orang Kasdim (ay. 5-20). Dalam jawaban-Nya kepada nabi, TUHAN berbicara mengenai lima celaka kepada orang Kasdim.
a. Celaka Pertama
Pertama, karena orang Kasdim menjarah banyak bangsa, orang Kasdim mau menjarah dan merampas bangsa-bangsa (ay. 5-8). Hanya setelah tujuh belas tahun, Allah membalas orang Babel. Sementara raja, cucu Nebuchadnesar, berpesta di istananya memakai perabotan bait Allah, dia melihat visi tulisan di tembok (Dan. 5). Pada malam yang sama, Darius orang Media mengalahkan Babel dan membunuh raja.
b. Celaka Kedua
Kedua, TUHAN menghakimi orang Kasdim karena mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, berdosa terhadap jiwanya sendiri (ay. 9-10). Sebagai akibat dari penghakiman ini, batu akan berseru-seru dari tembok rumahnya dan balok menjawab dari rangka rumahnya (ay. 11).
c. Celaka Ketiga
Ketiga, orang Kasdim akan menerima balasan yang adil untuk membangun kota-kota dengan pencurahan darah dan mendirikan benteng dengan kesalahan (ay. 12). Ini adalah dari TUHAN bahwa bangsa itu berlelah untuk yang sia-sia dan bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN seperti air yang menutupi dasar laut. (ay. 13-14). Ini adalah misterius. Sementara semua hal ini terjadi, sesuatu yang khusus, sesuatu yang misterius akan terjadi di bumi–bumi akan dipenuhi dengan pengetahuan tenatang kemuliaan TUHAN.
d. Celaka Keempat
Keempat, karena orang Kasdim sesamanya mabuk dengan rasun supaya melihat ketelanjangannya dan melakukan kekajaman, penghancuran, dan penumpahan darah kepada kota-kotanya, mereka akan dikenyangkan dengan malu, dengan piala di sebelah tangan kanan Tuhan dan dengan cela besar akan meliputi kemuliaannya (ay. 15-17).
e. Celaka Kelima
Kelima, orang Kasdimthe Chaldeans membuat patung pahatan, patung tuangan, dan berhala bisu dan berkata kepada mereka, ‘”Terjagalah!” dan “Bangunlah!” Karena itu, mereka akan ditipu oleh berhala dan tidak mendapat keuntungan (ay. 18-19). Ayat 20 menutup, “Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!”
IV. NYANYIAN NABI KEPADA TUHAN
Habakuk 3:1-19 adalah nyanyian nabi kepada TUHAN.
A. Dalam Doa
Pertama, kita memiliki nyanyian nabi dalam doa (ay. 1-2). Dalam doanya dia memohon TUHAN untuk menghidupkan pekerjaan-Nya dalam lintasan tahun (ay. 1-2a), dan dia memohon Dia membuatnya mengenal pada tahun-tahun ini Dia akan mengingat belaskasihan dalam murka.
B. Dalam Pujian
Dalam pujian, nabi memuji Allah dalam keagungan dan kemegahan-Nya (ay. 3-4), dalam penghakiman-Nya yang mengerikan atas bangsa-bangsa (ay. 5-12), dan dalam keselamatan-Nya terhadap umat-Nya dan yang diurapi-Nya (ay. 13-15).
C. Dalam Bersandar kepada TUHAN
Dalam ayat 16 sampai 19 nabi menyatakan bersandarnya kepada TUHAN.
1. Nabi Gemetar di Tempatnya
Ayat 16a berkata bahwa nabi, setelah mendengar suara TUHAN, gemetar di tempatnya, dengan bibirnya menggigil mendengar suara itu dan kebusukan memasuki tulangnya. Tulisan Habakuk di sini sangat puitis.
2. Nabi Menantikan Hari Kesusahan
Dalam ayat 16b nabi selanjutnya berkata bahwa dia menantikan dengan tenang hari kesusahan, ketika orang Kasdim, orang-orang penyerang (atau gerombolan) Israel, akan datang menyerang bangsa itu.
3. Nabi Bersorak-sorak di dalam TUHAN dan Beria-ria di dalam Allah atas Keselamatan-Nya, dan Yehovah Tuhan Kekuatan-Nya
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, / Pohon anggur tidak berbuah, / Hasil pohon zaitun mengecewakan, / Sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, / Kambing domba terhalau dari kurungan, / Dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, / Namun aku akan abersorak-sorak di dalam TUHAN, / Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. / ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: / Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, / Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (ay. 17-19a). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa di masa gelap, masa ketika tidak ada apa-apa, Habakuk bersandar kepada TUHAN.
Semua ayat ini kelihatannya baik, tetapi untuk keseluruhan bagian ini, mereka menyatakan konsep alamiah Habakuk, tanpa banyak wahyu mengenai Kristus. Bahkan konsep Habakuk bersandar kepada Allah selama masa yang diperlukan adalah alamiah. Tidak ada perbandingan antara ayat-ayat ini dengan tulisan Paulus. Konsep Paulus berbeda. Ketika ada masalah, dia berdoa tiga kali, tetapi Tuhan memberi tahu dia bahwa Dia tidak akan menyingkirkan duri dan anugerah-Nya cukup bagi dia (2 Kor. 12:7-10). Ketika Paulus kurang makan, dia tidak “bersandar” kepada Tuhan dalam cara yang dilakukan Habakuk; sebaliknya, dia mengambil kesempatan untuk berpuasa. Dalam mengertian yang riil, dia tidak bersandar kepada Tuhan, sebab dia telah ada di dalam Tuhan, dan Tuhan ada di dalam dia. Selain itu, daripada mencoba memelihara hukum Taurat, dia memperhidupkan Kristus (Gal. 2:20; Flp. 1:21a).
Meskipun banyak orang Kristen menghargai ayat seperti Habakuk 3:17-19a, kita perlu membawanya ke alam yang lain, alam Kristus. Ayat ini bukan menurut wahyu ilahi mengenai Kristus tetapi menurut konsep nabi yang alamiah, insani, dan agamis. Jika kita dibawa ke dalam alam Kristus, kita tidak akan menghargai pemikiran alamiah, agamis yang banyak diekspresikan dalam Perjanjian Lama. Sebaliknya, kita akan memustikakan wahyu ilahi dalam Firman. Daripada, semakin “bersandar” kepada Tuhan seperti yang dilakukan Habakuk, kita akan melihat bahwa perkara penting bukan bersandar tetapi menyadari bahwa kita ada di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita.
Dalam pembacaan kita akan Kitab Habakuk, kita seharusnya tidak menghargai hal-hal ini yang cocok dengan konsep alamiah dan agamis kita tetapi tidak menurut wahyu ilahi. Inilah kenapa saya menekankan fakta bahwa satu perkara kita perlu mustikakan dalam Habakuk ditemukan dalam 2:4b–orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman.
Lebih dari enam puluh tahun yang lalu saya membaca sesuatu oleh Saudara Nee yang berkata bahwa adalah salah berdoa dan memohon Tuhan untuk menolong kita. Pada waktu itu saya tidak memahami apa yang dia maksud. Namun, saya telah belajar dari pengalaman bahwa hanya doa ini yang memberi aku suka cita adalah ini: ‘‘Memuji Engkau, Tuhan. Engkau adalah satu dengan aku. Tak peduli betapa lemah dan miskinnya aku, aku ada di dalam-Mu dan Engkau ada di dalamku.’’ Tetapi andaikata saya berdoa, ‘‘Tuhan, saya masih perlu pertolongan-Mu. Saya lemah dan miskin, dan saya tidak memiliki apa-apa. Saya memohon Engkau datang untuk menolong aku.’’ Jika saya di sini berdoa dengan cara ini, cukacitaku akan pergi.
Mengenai doa, kita harus mengambil Paulus sebagai contoh kita, bukan Habakuk. Paulus tidak berdoa untuk hal-hal yang umum. Sebaliknya, dia berdoa bahwa ‘‘Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Ef. 1:17). Kita semua perlu memiliki pandangan kita yang dipertinggi.
D. Nyanyian untuk Pemimpin Biduan
Bagian terakhir dari ayat 19 mengatakan bahwa nyanyian nabi untuk pemimpin biduan, dengan permainan kecapi nabi.
Pelajaran Hayat