← Daftar isi Titus · bab 3/6

MEMIMPIN KAUM SALEH BERBAGAI USIA MENEMPUH KEHIDUPAN YANG TERTIB

Pembacaan Alkitab: 2:1-8

Dalam 2:1-8 kata “sehat” digunakan tiga kali. Dalam ayat 1 Paulus berkata, “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.” Dalam ayat 2 Paulus berbicara tentang sehat di dalam iman, kasih dan ketekunan. Dalam ayat 8 Paulus mengacu kepada pemberitaan sehat yang tidak dapat dicela. Titus harus memberitakan hal-hal yang sesuai dengan ajaran sehat dan menunjukkan dirinya sendiri sebagai suatu teladan perkataan yang sehat, dan orang-orang yang tua harus sehat dalam iman, kasih dan ketekunan. Sangat bermakna sekali bahwa dalam ayat-ayat ini, suatu bagian dalam Surat Titus, umat saleh dinasihati agar menempuh kehidupan yang tertib di dalam gereja, Paulus memakai kata “sehat” tiga kali. Jika kita mempelajari ayat-ayat tempat kata ini digunakan, terutama bila kita mendoabacakannya, kita akan mendapat makanan yang kaya. Saya mendorong Anda agar mendoakan perkataan Paulus mengenai ajaran sehat, sehat dalam iman, kasih dan ketekunan, dan pemberitaan sehat. Bila Anda melakukan hal ini, Anda akan menikmati hidangan rohani yang limpah.

I. MEMBERITAKAN HAL-HAL YANG

SESUAI DENGAN AJARAN YANG SEHAT

Titus 2:1 mengatakan, “ Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.” Ayat ini dimulai dengan kata “tetapi” untuk menunjukkan bahwa ayat ini berlawanan dengan 1:16. Berlawanan dengan mereka yang mengaku mengenal Allah, tetapi melalui perbuatan mereka menyangkal Dia, Titus harus memberitakan hal-hal yang sesuai dengan ajaran yang sehat.

Ajaran yang sehat selalu sesuai dengan kebenaran (1:14), kepercayaan (1:13). Kebenaran kepercayaan ini adalah isi dari ajaran rasul, juga isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ajaran ini bukan hanya menyuplaikan hayat kepada kaum beriman dan menyembuhkan penyakit rohani, bahkan dengan berbuat demikian, ajaran ini juga membawa gereja ke dalam keadaan tata tertib yang baik. Maka ajaran yang sehat ini sangat ditekankan dalam ketiga surat ini, 1 dan 2Timotius dan Titus, surat-surat yang membahas ketidaktertiban dan kemerosotan gereja. Dalam 2:1 Paulus berpesan kepada Titus agar tidak menyimpang dari ajaran yang sehat, dari ajaran para rasul. Ia tidak boleh seperti para penyangkal, para pembual, yang mengajarkan ajaran yang berbeda dan menjadikan gereja tunduk kepada pengaruh agama Yahudi dan aliran Gnostik.

Kita juga harus diingatkan untuk memberitakan hal-hal yang sesuai dengan ajaran yang sehat. Kata sehat menunjukkan kata yang higienis dan yang dapat menyuntik orang lain untuk melawan racun rohani serta menyuplai mereka dengan hayat. Ajaran kita tidak boleh hanya menyampaikan pengetahuan kepada orang lain, tetapi harus menyuplai mereka dengan hayat. Sering kali ketika saya tergoda untuk berbicara tentang topik tertentu, saya dihentikan. Saya merasa bahwa tidak banyak unsur higenis di dalam apa yang saya rencanakan untuk saya utarakan. Kita perlu mengingatkan diri sendiri dan diperingatkan oleh Roh itu untuk menyampaikan ajaran yang sehat.

Ajaran yang sehat tidak memancing perdebatan atau argumentasi. Jika kita memberikan perhatian yang cukup untuk menyuplaikan Tuhan, kita tidak akan berminat berdebat. Meja makan bukanlah tempat untuk berdebat atau berargumentasi, melainkan untuk berpesta dan makan. Dalam hidup gereja kita tidak boleh menukar meja makan dengan meja belajar. Kita semua perlu belajar bagaimana meletakkan “masakan” sehat di atas meja makan untuk memberi makan umat saleh.

II. MENGENAI ORANG-ORANG YANG TUA

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa dalam berperang untuk kebenaran, kita perlu memelihara hubungan yang baik dengan orang lain. Tingkah laku kita perlu disesuaikan dengan standar tertinggi dan juga sangat manusiawi. Dalam setiap lingkungan hidup seharihari dan keluarga kita, kita harus benar dan tepat.

Dalam ketiga surat ini: 1 dan 2Timotius dan Titus, Paulus menekankan pentingnya insani yang tepat. Dalam 2:2 Paulus berbicara tentang orang yang tua, demikian, “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan ketekunan” (kesabaran).

A. Sederhana

Menurut ayat ini, laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana. Hidup sederhana menurut bahasa aslinya dapat juga diterjemahkan memiliki pengendalian diri, lembut, tenang. Sering kali orang yang sudah tua lebih mudah tersinggung atau cepat marah daripada orang muda. Sebagai orang yang sudah tua, saya sendiri dapat bersaksi bahwa dalam keluarga biasanya orang yang lebih tualah yang cepat menjadi jengkel atau tidak sabar. Hari ini saya dapat terganggu oleh kejengkelan-kejengkelan atau kesebalan-kesebalan tertentu yang tidak mempengaruhi saya lima puluh tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai laki-laki yang tua, saya memerlukan pesan Paulus untuk bersi-kap tenang. Tentu saja sikap ketenangan ini adalah kebajikan yang diperlukan oleh setiap orang dalam hidup gereja.

B. Terhormat

Laki-laki yang tua hendaklah terhormat. Terhormat mengacu kepada suatu kualitas karakter manusia yang patut dihormati, menyiratkan kewibawaan, membangkitkan dan mengundang rasa hormat. Terhormat adalah suatu kebajikan yang mengandung rasa hormat manusia.

C. Bijaksana

Dalam ayat 2 Paulus berpesan agar laki-laki yang tua hendaknya bijaksana. Ia mengatakan hal yang sama mengenai perempuan-perempuan muda (ayat 5) dan orang-orang muda (ayat 6). Dalam 1Timotius 3:2 Paulus menyebut hal-hal ini di antara syarat penilik gereja. Bersikap bijaksana tidak hanya tanggap, tetapi juga arif dalam memahami segala perkara. Tidak peduli berapa umur kita, kita semua perlu bijaksana. Jika kita adalah orang yang bijaksana, kita akan terhindar dari kekristenan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Di satu pihak, kita perlu menyala-nyala di dalam roh; di pihak lain, kita perlu bijaksana. Bila kita ingin menjadi manusia yang tepat, kita memerlukan kualitas ini.

D. Sehat

1. Dalam Iman

Jika kita ingin sehat dalam iman, setiap hari kita perlu berada di bawah transfusi yang berasal dari kesatuan organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Kata iman dalam ayat 2 tidak mengacu kepada kepercayaan yang obyektif, hal-hal yang kita percayai, melainkan mengacu kepada tindakan percaya. Dalam kehidupan sehari-hari kita memerlukan iman yang menjaga kita dalam kesatuan yang organik. Agar sehat dalam iman, kita perlu datang kepada firman dan berkontak dengan Tuhan melalui doa yang hidup dengan roh kita. Kemudian kita akan memiliki iman, infus Allah yang hidup ke dalam kita melalui kontak kita dengan firman di dalam roh. Karena itu, iman adalah persona hidup yang diinfuskan ke dalam kita. Semakin lama kita tinggal di dalam kesatuan yang organik dengan persona ilahi ini, kita akan semakin sehat dalam iman.

2. Dalam Kasih

Jika kita sehat dalam iman, secara otomatis kita akan sehat dalam kasih. Mungkin sekali kita mencintai orang lain terlalu berlebihan atau terlalu sedikit. Dalam kedua keadaan ini, kasih kita tidaklah sehat. Sebaliknya, kita agak sakit dalam kasih kita.

Mengapa Anda sangat mengasihi saudara tertentu dan tidak mengasihi saudara yang lain sama sekali? Hal itu dikarenakan Anda mengasihi orang lain menurut selera Anda sendiri. Dalam Filipi 2:2 Paulus berkata bahwa kita harus memiliki kasih yang sama. Hal ini berarti kasih kita terhadap semua orang kudus harus sama. Mempunyai kasih yang berbeda-beda terhadap berbagai orang kudus berarti tidak sehat dalam kasih. Tetapi memiliki kasih yang sama untuk semua orang berarti sehat dalam kasih.

3. Dalam Ketekunan (Kesabaran)

Menurut Titus 2:2, laki-laki yang tua hendaknya sehat dalam ketekunan (atau kesabaran). Bila kita mempunyai kesabaran yang cukup, kita akan mampu menanggung hal-hal yang mengganggu kita dan merepotkan kita. Telah saya tunjukkan bahwa orang yang tua lebih mudah jengkel. Sebagai seorang yang mempunyai banyak anak cucu dan terlibat dengan banyak gereja dan rekan sekerja, saya dapat bersaksi bahwa kesabaran sangat diperlukan. Misalnya, saya perlu sabar hanya untuk memperhatikan semua surat yang saya terima hari demi hari. Begitu banyaknya surat yang saya terima sehingga saya mempunyai penyimpan arsip untuk mengelompokkan dan menyusunnya. Hal ini pun memerlukan kesabaran. Bila saya kurang sabar, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap surat-surat itu.

Mereka yang telah tua lebih memerlukan kesabaran. Semakin tua, kita semakin memerlukan kesabaran. Khususnya, para penatua di gereja. Misalnya, kadang-kadang telepon berdering larut malam. Menanggapi telepon seperti itu dengan wajar memerlukan kesabaran.

Sekali lagi saya ingin menekankan fakta bahwa dalam hidup gereja, kita ingin menempuh hidup manusia yang tepat, dengan segala kebajikan manusiawi. Kita tidak ingin menjadi seperti malaikat. Hasrat kita adalah menjadi manusia sejati.

III. MENGENAI PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG TUA

Dalam ayat 3-4 Paulus berbicara mengenai perempuan-perempuan yang tua, “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang yang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, melainkan menjadi pengajar hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya.” Penggunaan kata “Demikian juga” menunjukkan bahwa tingkah laku perempuan-perempuan yang tua hendaknya sama dengan laki-laki yang tua. Dalam tindak-tanduk mereka, hendaknya sesuai dengan orang-orang kudus. “Hidup” berarti berperilaku termasuk sikap dan kebiasaan. Kata “beribadah” dapat diterjemahkan “kudus”, mengacu kepada orang-orang yang terlibat dalam hal-hal kudus. Ini bisa merupakan istilah khusus yang mengacu kepada pelayanan kita di gereja. Pelayanan apa pun di gereja adalah kudus, dan tindak-tanduk kita seharusnya sesuai dengan pelayanan kudus ini. Hidup mencakup segala apa adanya kita dalam sikap, penampilan, dan tingkah laku kita. Kesemuanya ini hendaknya sesuai dengan pelayanan gereja yang dalamnya kita berbagian. Terutama saudari-saudari yang tua hendaknya mempunyai tindak-tanduk yang cocok dengan hal-hal yang kudus (yang berkaitan dengan pelayanan gereja).

Paulus juga mengatakan bahwa perempuan-perempuan yang tua tidak boleh menjadi pemfitnah. Iblis adalah pemfitnah (Why. 12:10). Memfitnah adalah mempraktekkan si-fat pemfitnah jahat. Seorang saudari tua harus menjauhkan diri dari fitnah, perbuatan jahat Iblis.

Dalam ayat 3 Paulus juga menyebut bukan “hamba anggur”. Kata hamba juga dapat dibandingkan dengan kecanduan yang dipakai dalam 1Timotius 3:8. Menjadi hamba atau diperbudak lebih buruk daripada kecanduan. Perempuan-perempuan yang tua tidak boleh menjadi budak-budak anggur.

Paulus juga mengatakan bahwa perempuan-perempuan yang tua harus menjadi pengajar “hal-hal yang baik” dan mendidik perempuan-perempuan muda. Menjadi pengajar hal-hal yang baik adalah memberikan petunjuk yang baik.

IV. MENGENAI PEREMPUAN-PEREMPUAN MUDA

Dalam ayat 4-5 kita nampak bahwa perempuan-perempuan muda hendaknya “mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang”. Perempuan-perempuan yang tua hendaknya mendidik perempuan-perempuan muda untuk mengasihi suami dan anak-anaknya. Dalam hidup gereja kita sangat menekankan perlunya kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga yang tepat. Sesuai dengan ucapan Paulus, kita menginginkan agar saudari mengasihi suami dan anak-anak mereka dengan mutlak. Selanjutnya perempuan-perempuan muda hendaknya bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati, dan taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang. Firman Allah yang diajarkan dengan tepat dan memadai dalam gereja lokal seharusnya diperlihatkan melalui ketaatan para saudari kepada suami-suami mereka. Kalau tidak, firman Allah bisa dihujat, dijelek-jelekkan, dan dicela.

V. MENGENAI ORANG-ORANG MUDA

Ayat 6 mengatakan, “Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri” (Tl.). Penggunaan kata “demikian” juga menunjukkan bahwa pesan kepada orang-orang muda serupa dengan pesan yang diberikan kepada orang lain. Khususnya, Paulus memberi tahu Titus untuk menasihati orang-orang muda supaya menguasai diri. Telah kita tunjukkan bahwa dalam Kitab 1 dan 2Timotius dan Titus Paulus menekankan perlunya semua orang kudus, muda dan tua, laki-laki dan perempuan, agar menguasai diri. Ini terutama sekali diperlukan pada masa kemerosotan gereja. Untuk melindungi diri terhadap segala kemerosotan, kita semua dalam gereja lokal perlu menguasai diri.

VI. PESAN RASUL

Dalam ayat 7-8 Paulus memberikan pesan secara lang-sung kepada Titus, “Dalam segala hal jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Rasul telah menasihati Titus untuk mengucapkan hal-hal yang sesuai dengan ajaran yang sehat (ayat 1). Kini dia menasihati Titus lebih lanjut untuk menunjukkan dirinya sebagai satu teladan dalam perbuatan baik. Ajarannya harus sehat, di dalamnya tercakup tiga hal: (1) jujur, tanpa suatu kebobrokan atau yang bisa menjadikan bobrok, tetapi dengan segala yang murni, sejati dan tulus dalam isi, penyampaian, dan motivasinya; (2) sungguh-sungguh, kebesaran yang layak mendapat penghormatan; dan (3) perkataan yang sehat, ajaran yang disampaikan dengan perkataan yang sehat (1Tim. 6:3) untuk melayankan hal-hal yang sehat, perkataan yang tidak dapat dicela dan tidak dapat disalahkan (ayat 8). Pemberitaan yang sedemikian itu akan menyebabkan penentang-penentang menjadi malu. Kata “lawan” dalam ayat 8 berarti orang yang berada pada pihak lain, mengacu kepada penentang dari orang kafir atau orang Yahudi. Ajaran yang sehat dengan pemberitaan yang sehat membentuk perkataan yang sehat yang sangat berkhasiat menawarkan pembicaraan fitnah para penentang. Pengajaran firman kebenaran yang memancarkan terang dan memberikan hayat semacam ini selalu menutup mulut opini doktrinal yang di-hasutkan oleh si ular tua.