MENDIRIKAN WEWENANG DALAM GEREJA
Pembacaan Alkitab: Tit. 1:1-9
Mengetahui urutan penulisan keempat surat, 1 dan 2Timotius, Titus, dan Filemon sangatlah membantu. Surat Filemon ditulis paling awal, ketika Paulus dipenjara untuk kali pertama di Roma. Setelah bebas dari penjara, Paulus menulis Surat 1 Timotius dan Surat Titus. Terakhir, ketika ia dipenjara untuk kali kedua, pada saat penganiayaan Nero, ia menulis Surat Kirimannya yang terakhir, Surat 2Timotius.
I. ISI POKOK KITAB INI:
PEMELIHARAAN KETERTIBAN GEREJA
Pokok Surat Titus adalah pemeliharan ketertiban gereja. Selama Paulus dipenjara untuk kali pertama di Roma, gereja-gereja mengalami ujian. Selama masa pengujian ini, gereja-gereja tertentu terbukti tidak tertib. Jadi, setelah bebas dari penjara, Paulus mengunjungi berbagai tempat, termasuk Kota Efesus dan Pulau Kreta. Menyadari situasi gereja-gereja tersebut, Paulus berbeban untuk menulis surat kepada Titus dengan memberi tahu dia bagaimana memelihara ketertiban yang wajar dalam perhimpunan lokal. Ini adalah latar belakang dan juga alasan ditulisnya surat ini. Jika tata tertib gereja mau terpelihara, wewenang gereja perlu ditegakkan. Karena itu, dalam berita ini kita akan melihat dari 1:1-9 mengenai penegakan wewenang dalam gereja. Seperti yang akan kita lihat, hal ini erat kaitannya dengan penetapan para penatua di tiap kota (ayat 5).
II. PENDAHULUAN
A. Paulus, Hamba Allah dan Rasul Yesus Kristus
Mari kita lihat 1:1-9 ayat demi ayat dan kemudian kita lihat beberapa butir penting tertentu secara lebih rinci.
Titus 1:1 mengatakan, “Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus, menurut kepercayaan orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan penuh akan kebenaran yang sesuai dengan ibadah” (Tl.) Paulus menjadi rasul berdasarkan empat hal ini: (1) perintah Allah (1Tim. 1:1); (2) janji hayat (2Tim. 1:1); (3) Kepercayaan orang-orang pilihan Allah; (4) pengetahuan yang penuh akan kebenaran yang sesuai dengan ibadah. Perintah berada di pihak Allah, berbicara untuk Allah dan menuntut sesuatu dari diri kita bagi Allah. Kepercayaan berada di pihak kita, menanggapi tuntutan Allah dan menerima hayat-Nya; ini menyatakan bahwa kita tidak bisa memenuhi tuntutan Allah, tetapi Allah sudah merampungkan segalanya bagi kita, dan kita menerima yang dirampungkan oleh Allah. Hayat yang dijanjikan Allah adalah yang kita terima dari Allah, supaya tuntutan-Nya tergenap. Demikianlah Paulus menjadi rasul untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Dalam 1:1 Paulus menyebut orang-orang pilihan Allah, mengacu kepada kaum beriman dalam Kristus, yang dipilih oleh Allah Bapa sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4) dan yang ditentukan dari antara umat manusia untuk mendapatkan keselamatan.
Paulus menjadi rasul bukan hanya menurut kepercayaan orang-orang pilihan Allah, tetapi juga menurut pengetahuan yang penuh akan kebenaran. Kepercayaan ialah menerima segala sesuatu yang Allah rencanakan untuk kita, segala yang Allah genapkan untuk kita, dan segala yang Allah berikan kepada kita. Pengetahuan yang penuh akan kebenaran adalah pemahaman yang tuntas terhadap kebenaran, semacam pengakuan dan penghargaan yang mutlak terhadap realitas segala perkara yang rohani dan ilahi yang kita terima melalui percaya. Jabatan rasul dilaksanakan menurut pemahaman berdasarkan pengertian dan penghargaan terhadap realitas ekonomi Allah.
Dalam 1:1 Paulus menunjukkan bahwa kebenaran itu sesuai dengan ibadah. Kebenaran, realitas ekonomi kekal Allah adalah sesuai dengan ibadah; ibadah adalah Allah menyatakan diri dalam daging. Tugas rasul adalah menya-lurkan realitas ini kepada umat pilihan Allah yang percaya dan menggenapkan ibadah ini di antara mereka dengan memberitakan, mengajarkan, dan melaksanakannya dalam firman dan dalam Roh itu (1Tim. 6:3).
Dalam ayat 2 Paulus meneruskan, “Dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta.” Paulus menjadi rasul, bukan hanya menurut kepercayaan dan pengetahuan akan kebenaran, juga berdasarkan pengharapan akan hayat yang kekal, yang dalam kekekalan dijanjikan oleh Allah yang tidak dapat berdusta. Ini sesuai dengan “janji hayat” dalam 2Timotius 1:1. “Berdasarkan pengharapan akan hayat yang kekal” berarti berdasarkan, bersyaratkan dan bersandar pada harapan akan hayat yang kekal. Hayat yang kekal, hayat Allah yang bukan ciptaan, bukan hanya untuk kita nikmati dan kecap pada hari ini, tetapi kelak juga akan kita warisi (Mat. 19:29) dengan sem-purna sampai selamanya. Pengalaman kita terhadap hayat yang kekal pada hari ini, membuat kita memenuhi syarat untuk mewarisinya pada masa yang akan datang. Kenikmatan terhadap hayat yang kekal pada hari ini adalah suatu pencicipan; pewarisan hayat kekal pada masa yang akan datang dan dalam kekekalan barulah pengecapan yang penuh. Pewarisan ini adalah pengharapan akan hayat yang kekal. Inilah pengharapan yang penuh bahagia yang diwahyukan dalam 2:13, yang meliputi kemerdekaan kemuliaan keputraan yang penuh, penebusan tubuh kita (Rm. 8:21-25), keselamatan yang akan dinyatakan pada zaman akhir (1Ptr. 1:5), serta pengharapan yang hidup dari warisan yang tidak bisa binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kita (1Ptr. 1:3-4). Inilah berkat dan kenikmatan yang penuh, rohani, ilahi, dan surgawi terhadap hayat yang kekal yang disinggung dalam 1Timotius 4:8, baik dalam Kerajaan Seribu Tahun maupun dalam langit baru dan bumi baru (2Ptr. 1:11; 3:13; Why. 21:6-7). Paulus menerima jabatan rasulnya dan merampungkan ministri rasulnya, bukan berdasarkan keuntungan masa kini, juga bukan dengan hak khusus hukum Taurat sebagai syaratnya, melainkan berdasarkan pengharapan ini sebagai syaratnya. Ini menunjukkan bahwa untuk jabatan rasulnya, dia bersandar dan mengandalkan hayat ilahi dengan segala pengharapannya, yang Allah janjikan dalam kekekalan, dan yang dibawakan kepada kita melalui Injil (2Tim. 1:10).
Surat Kiriman ini membicarakan pemeliharan ketertiban dalam gereja. Untuk ini, kepercayaan orang-orang pilihan Allah, kebenaran yang sesuai dengan ibadah, dan hayat yang kekal adalah hal-hal yang tidak boleh kurang. Sebab itu, dalam perkataan pembukaannya, ketiga hal ini sudah dikemukakan.
Hayat kekal adalah hayat Allah, hayat Allah yang bukan ciptaan, yang bukan hanya dalam waktu bertahan sampai selamanya, tetapi juga dalam sifatnya kekal dan ilahi. Hayat kekal Allah diberikan kepada semua orang beriman dalam Kristus (1Tim. 1:16) dan yang merupakan unsur utama anugerah ilahi yang diberikan kepada kita (Rm. 5:17, 21). Hayat ini telah menaklukkan maut (Kis. 2:24) dan akan menelan maut (2Kor. 5:4). Menurut janji hayat yang sedemikian inilah Paulus menjadi rasul (2Tim. 1:1). Hayat ini beserta ketidakfanaannya telah memancar keluar melalui pemberitaan Injil, sehingga dapat dilihat oleh manusia.
Hidup kekal “telah dijanjikan sebelum permulaan zaman”. Ini pasti adalah janji Bapa kepada Putra di dalam kekekalan. Sebelum dunia dijadikan, Bapa telah memilih kita di dalam Putra, dan menakdirkan kita melalui Putra untuk mendapatkan keputraan (Ef. 1:5). Bapa berjanji kepada Putra bahwa Ia akan memberikan hayat kekal-Nya kepada orang yang percaya kepada Putra, dan hal ini pasti terjadi dalam kekekalan. Melalui hayat ini, kaum beriman yang diberikan kepada Putra dalam kekekalan (Yoh. 17:2) akan menjadi saudara-saudara-Nya (Ibr. 2:11).
Dalam ayat 3 Paulus melanjutkan, “Pada waktu yang dikehendaki-Nya, Ia telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.” Kata “Waktu” mengacu kepada waktu hayat yang kekal (bukan zaman kekekalan) waktu yang cocok untuk menyatakan hayat kekal yang disebut dalam ayat 2.
Frase “Firman-Nya” dalam ayat 3 sama dengan hayat kekal dalam ayat 2. Ini sesuai dengan 1Yoh. 1:1-2.
B. Kepada Titus, Anak yang Sah
Menurut Kepercayaan Bersama
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman (kepercayaan) kita bersama: Anugerah dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.” Titus, seperti Timotius (1Tim. 1:2), adalah anak sah Paulus bukan karena kelahiran alamiah, melainkan dalam iman, yaitu dalam ruang lingkup dan unsur iman, secara rohani. Kepercayaan bersama di sini adalah kepercayaan yang dimiliki semua orang beriman (lihat 2Ptr. 1:1).
III. MENDIRIKAN WEWENANG DALAM GEREJA
A. Pesan Rasul
Titus 1:5, “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu.” Frase “setiap kota”, dibandingkan dengan “tiap-tiap gereja” dalam Kis. 14:23, bukan hanya menunjukkan bahwa batas wilayah suatu gereja lokal adalah kota tempat gereja itu berada, tetapi juga menunjukkan bahwa di dalam sebuah kota seharusnya hanya ada satu gereja. Kepenatuaan dari suatu gereja lokal seharusnya meliputi seluruh kota tempat gereja itu berada. Kepenatuaan yang unik seperti ini dalam sebuah kota, akan menjaga keesaan unik Tubuh Kristus dari perusakan. Satu kota seharusnya hanya memiliki satu gereja dengan satu badan kepenatuaan. Tak diragukan lagi, pelaksanaan ini diilustrasikan dengan contoh yang jelas dalam Perjanjian Baru (Kis. 8:1; 13:1; Rm. 16:1; 1Kor. 1:2; Why. 1:11), dan merupakan satu syarat mutlak untuk memelihara ketertiban yang tepat dalam gereja lokal. Karena itu, hal pertama yang dipesankan rasul kepada Titus dalam mengatur apa yang masih perlu diatur adalah menetapkan penatua-penatua di setiap kota.
B. Persyaratan Penatua
Dalam ayat 6-9 Paulus membentangkan persyaratan para penatua: tak bercacat, suami dari satu istri, yang anakanaknya hidup beriman, tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib, sebagai pengatur rumah Allah, seorang pengawas jemaat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri. Kita telah membahas kualifikasi ini secara rinci dalam berita yang berjudul “Penilik dan Diaken untuk pemerintahan gereja”, berita ke-5 dalam Pelajaran-Hayat 1 Timotius.
Dalam ayat 9 Paulus berkata, “Dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.” Penatua ditetapkan untuk melaksanakan pemerintahan Allah dalam gereja lokal, supaya ketertiban yang baik dapat terpelihara dalam gereja. Untuk merampungkan perkara ini, penatua harus berpegang kepada perkataan yang dapat dipercaya, yang sesuai dengan ajaran rasul, supaya mereka bisa menghentikan orang yang mengucapkan perkataan yang menganggu, dan meredakan situasi yang kacau (ayat 9-14). “Perkataan yang benar” adalah perkataan yang sejati, yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan benar, yang diajarkan dalam gereja-gereja menurut ajaran rasul. Penatua dalam gereja lokal harus berpegang kepada perkataan yang sehat semacam ini, supaya mereka dapat menunaikan tugas mereka dalam mengajar (1Tim. 3:2; 5:17).
Ajaran yang disebut di sini adalah ajaran rasul (Kis. 2:42), ajaran-ajaran ini akhirnya menjadi Perjanjian Baru. Ini menunjukkan bahwa gereja-gereja didirikan berdasarkan ajaran rasul, dan eksistensinya berdasarkan memelihara ajaran rasul. Ini juga menunjukkan bahwa ketertiban gereja dapat dipertahankan berdasarkan perkataan yang dapat dipercaya yang disampaikan menurut ajaran rasul. Kekacauan dalam gereja terutama disebabkan oleh penyimpangan dari ajaran rasul. Kalau kita ingin mengatasi perkara ini, kita harus berpegang kepada perkataan yang dapat dipercaya yang diajarkan dalam gereja menurut ajaran rasul. Dalam situasi yang gelap dan kacau, kita harus berpegang kepada perkataan dalam Perjanjian Baru yang menerangi dan menertibkan, yaitu ajaran rasul. Untuk mempertahankan ketertiban dalam gereja, selain jabatan penatua, diperlukan perkataan rasul menurut wahyu Allah. Kita telah nampak bahwa ajaran sehat menyiratkan hayat. Apa saja yang sehat mengacu kepada kesehatan hayat. Ajaran rasul melayankan ajaran sehat sebagai suplai hayat kepada orang, merawat mereka atau menyembuhkan mereka.
Dengan berpegang pada perkataan yang benar yang sesuai dengan ajaran itu, para penatua dapat “meyakinkan penentang-penentangnya”. Meyakinkan di sini berarti menyingkapkan karakter sebenarnya dari sesuatu, agar manusia mengenal dosa dan menegur dirinya sendiri. Jadi ini adalah menegur orang melalui menyingkapkan kesalahannya. Dalam Efesus 5:11, 13 kata ini diterjemahkan “telanjangilah”, “ditelanjangi”. Marilah sekarang kita kembali ke ayat 1-3 dan mempertimbangkan butir-butir penting tertentu lebih rinci.
Dalam ayat 1 Paulus berkata bahwa ia adalah rasul Yesus Kristus “Menurut kepercayaan orang-orang pilihan Allah, dan pengenalan penuh akan kebenaran yang sesuai dengan ibadah” (Tl.). Tiga hal yang penting di sini adalah kepercayaan, kebenaran dan ibadah. Paulus menjadi rasul bukan secara langsung menurut ibadah, melainkan menurut kepercayaan dan pengenalan penuh akan kebenaran yang sesuai dengan ibadah. Dalam ayat 2 kita nampak bahwa Paulus menjadi rasul juga berdasarkan pengharapan akan “hayat yang kekal”. Kata “yang . . . dijanjikan” dalam ayat ini mengacu kepada hayat yang kekal. Hayat yang kekal menyiratkan pengharapan. Pada hayat yang sementara tidak ada pengharapan sejati, tetapi pada hayat yang kekal ada pengharapan. Karena hayat yang kekal adalah abadi dan tak dapat diakhiri, ia memberi kita pengharapan.
Pengharapan akan hayat yang kekal “sudah dijanjikan sebelum permulaan zaman” oleh Allah, yang tidak dapat berdusta. Ungkapan “permulaan zaman” adalah istilah khusus yang menunjukkan kekekalan. Dalam kekekalan Allah menjanjikan hayat yang kekal beserta pengharapannya. Bila kita teruskan ke ayat 3 kita nampak bahwa Allah bukan hanya menjanjikan hayat yang kekal, tetapi pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepada Paulus. Dalam ayat-ayat ini kita nampak bahwa Allah telah melakukan dua hal: menjanjikan hayat yang kekal dan menyatakan firman-Nya.
Dalam 1Timotius 1:1 Paulus berkata bahwa ia menjadi “rasul Kristus Yesus, menurut perintah Allah, Juruselamat kita”. Akan tetapi, dalam 2Timotius ia mengatakan bahwa ia menjadi rasul “menurut janji hayat dalam Kristus Yesus”. Paulus ditetapkan sebagai seorang rasul oleh perintah Allah beserta persyaratan-Nya. Suatu perintah menuntut sesuatu dari kita, tetapi hayat menyuplai sesuatu kepada kita. Terlepas dari hayat yang kekal, Paulus tidak akan memiliki suplai untuk memenuhi persyaratan Allah. Agar Paulus dapat melaksanakan perintah Allah beserta persyaratannya yang amat tinggi, ia memerlukan hayat lain. Hayat ini sebenarnya adalah hayat Allah, persona yang mengeluarkan perintah. Selain itu, hayat ini adalah Allah sendiri yang penuh tuntutan dan persyaratan itu. Pertama, Allah membuat suatu persyaratan, dan kemudian Ia masuk untuk menyuplaikan apa yang diperlukan guna menggenapi persyaratan-Nya sendiri. Ia menuntut melalui perintah, dan Ia menyuplai melalui menjadi hayat. Ketika Paulus menerima perintah Allah untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya, mungkin ia berkata, “Tuhan, siapakah aku ini, sehingga Tuhan menyuruh aku melaksanakan perintah yang sedemikian ini? Aku tidak mampu meme-nuhi tuntutan ini.” Kemudian Tuhan mungkin menjawab, “Anak bodoh, Aku akan masuk ke dalammu untuk menyuplaimu. Jika kamu berserah kepada tuntutan-Ku, Aku akan masuk ke dalammu untuk menggenapinya. Aku akan berada di dalammu sebagai hayat yang mampu melaksanakan tuntutan-Ku sendiri.”
Pada kesempatan ini patut kita bandingkan 1Korintus 15:10 dengan Galatia 2:20. Dalam 1Korintus 15:10 Paulus berkata, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Dalam Galatia Paulus berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Anugerah yang menyertai Paulus dan yang membuatnya mampu bekerja lebih keras daripada orang lain sebenarnya adalah Allah sendiri. Allah di dalam Paulus adalah hayat yang kekal sebagai suplai dan tunjangannya untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Karena itu, Allah yang memerintahkan juga adalah Allah yang menyuplai.
Dalam Titus 1:1 Paulus kembali berbicara tentang kerasulannya, tetapi ia menambahkan sesuatu kepada apa yang tertulis dalam 1Timotius 1:1 dan 2Timotius 1:1. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam 1:1-2 Paulus menyebutkan kepercayaan orang-orang pilihan Allah, kebenaran yang sesuai dengan ibadah, dan pengharapan hayat yang kekal. Walaupun sangat indah kita nampak bahwa Paulus menjadi rasul menurut janji hayat yang kekal, kita perlu bertanya dengan bijaksana, bagaimanakah hayat yang kekal ini dapat masuk ke dalam kita. Ia masuk ke dalam kita melalui kepercayaan, melalui kesatuan organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Karena itu, dalam 1:1 Paulus berkata bahwa ia menjadi seorang rasul bukan hanya menurut perintah dan hayat Allah, tetapi juga menurut kepercayaan orang-orang pilihan Allah, kepercayaan yang membawanya ke dalam suatu kesatuan organik dengan Allah. Inilah cara Paulus memperoleh suplai hayat dan dukungan untuk menggenapkan perintah Allah.
Dalam 1:1 Paulus dengan hati-hati menunjukkan bahwa kepercayaan ini adalah kepercayaan “orang-orang pilihan Allah”. Kita tidak memilih Allah. Dialah yang memilih kita. Karena itu, perkara percayanya kita kepada Kristus tergantung pada pilihan Allah, bukan pilihan kita. Allah memilih kita dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Kita harus memuji-Nya dan menyembah Dia karena telah memilih kita. Hari ini kita berada dalam pemulihan Tuhan karena Allah telah memilih kita. Ia adalah persona yang mengambil inisiatif. Bagaimana Anda menjelaskan fakta bahwa Anda percaya kepada Tuhan Yesus, sedangkan orang lain, mungkin anggota keluarga Anda, menolak percaya kepada-Nya? Penjelasan satu-satunya adalah bahwa Allah telah memilih kita. Saya dapat bersaksi bahwa saya harus percaya kepada Kristus. Jika saya tidak percaya kepada-Nya, saya tidak akan memiliki damai sejahtera. Jika saya tidak percaya kepada Kristus, saya tidak akan mempunyai tujuan hidup. Saya tidak akan mampu makan atau tidur dengan baik. Tidak peduli bagaimana orang lain memperlakukan saya, dan tidak peduli bagaimana keadaan di sekitar saya, saya tidak ada pilihan lain selain percaya kepada Tuhan.
Dalam Kisah Para Rasul 13 Paulus dan Barnabas berpaling kepada orang kafir setelah orang-orang Yahudi menolak Injil. Ayat 46 mengatakan, “Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.” Ayat 48 mengatakan, “Mendengar itu bergembiralah semua orang dari bangsa-bangsa lain dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Alasan bahwa orang-orang kafir ini dapat menerima firman Tuhan dan percaya adalah mereka telah ditentukan, bahkan telah ditakdirkan untuk percaya kepada Kristus. Demikian pula, kita yang percaya kepada Kristus hari ini adalah umat pilihan Allah.
Dalam Titus 1:1 Paulus tidak berbicara tentang kepercayaan kaum beriman, melainkan kepercayaan umat pilihan Allah. Dengan demikian ia menunjukkan bahwa inisiatif untuk percaya kepada Kristus berasal dari Allah, bukan dari kita. Karena Allah telah memilih kita untuk percaya kepada Kristus, maka kita percaya kepada-Nya. Paulus menjadi seorang rasul menurut kepercayaan umat pilihan Allah. Ia telah memiliki kepercayaan ini dan kita juga memilikinya. Melalui kepercayaan, Paulus dibawa ke dalam kesatuan organik dengan Allah Tritunggal, dan dengan demikian ia dapat menerima suplai hayat yang kekal.
Paulus dapat bertahan terhadap Kekaisaran Romawi bukan karena ia kuat atau dirinya sendiri mampu, tetapi karena ia telah menerima hayat yang kekal. Ia menjadi rasul menurut hayat ini. Hayat yang kekal yang ia terima melalui kepercayaan membawanya ke dalam kesatuan yang organik bersama Allah Tritunggal.
Kita telah menunjukkan bahwa Paulus juga berkata bahwa ia menjadi seorang rasul sesuai dengan pengenalan penuh akan kebenaran. Sekali lagi kita nampak bahwa kebenaran dalam Surat 1 dan 2Timotius dan Titus menunjukkan realitas isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita hendaknya bukan hanya memiliki kepercayaan orang-orang pilihan Allah, tetapi juga pengenalan penuh akan kebenaran. Kita memiliki kepercayaan untuk membawa kita ke dalam kesatuan yang organik, dan kita memiliki pengenalan penuh akan kebenaran ekonomi Perjanjian Baru. Hal ini berarti kita mengenal Kristus sebagai perwujudan Allah dan gereja sebagai Tubuh Kristus.
Sebetulnya kerasulan Paulus meliputi empat faktor: perintah Allah, hayat yang kekal, kepercayaan, dan pengenalan penuh akan kebenaran. Karena keempat unsur ini, Paulus menjadi orang yang menggenggam agama. Ia bahkan disebut pembawa sampar, seorang perusuh. Dari keempat unsur ini, yang dua ada di pihak Allah — perintah dan hayat yang kekal, dan dua ada di pihak kita — kepercayaan dan pengenalan penuh akan kebenaran. Kali pertama kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita memiliki kepercayaan, tetapi kita tidak memiliki pengenalan penuh akan kebenaran. Puji Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya kita memiliki pengenalan penuh akan kebenaran.
Titus 1:2 mengatakan bahwa hayat yang kekal Allah “sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan”. Hal ini menunjukkan bahwa janji tersebut tidak diberikan secara langsung kepada orang-orang pilihan, melainkan dibuat oleh Bapa kepada Putra di dalam kekekalan. Yohanes 17:2 agaknya mengacu kepada hal ini. “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Dengan jalan menerima hayat yang kekal, kaum beriman yang telah diberikan kepada Putra dalam kekekalan menjadi saudara-saudara-Nya. Ibrani 2:11 menyebutkan saudara-saudara Kristus, “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Karena janji hayat yang kekal dijanjikan oleh Bapa kepada Tuhan Yesus dalam kekekalan, Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak memilih kita secara langsung; Ia memilih kita di dalam Kristus. Demikian pula halnya, janji hayat yang kekal mengenai kita diberikan kepada Kristus. Jadi, di dalam Putra kita sekarang menerima janji tersebut.
Menurut ayat 3, Allah bukan hanya menjanjikan hayat yang kekal sebelum permulaan zaman, tetapi pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil. Hayat yang kekal dijanjikan oleh Bapa kepada Putra; akan tetapi apa yang telah Bapa nyatakan bukanlah hayat yang kekal, tetapi firman-Nya. Melalui membaca ayat 2 dan 3 dengan cermat, kita nampak bahwa firman dinyatakan sepadan dengan hayat yang kekal yang dijanjikan. Paulus tidak mengatakan bahwa Allah menjanjikan hayat yang kekal dan kemudian menyatakan hayat yang kekal itu. Jadi, firman Allah adalah hayat yang kekal. Jika firman-Nya bukan hayat yang kekal secara langsung, paling tidak firman itu memuat hayat yang kekal. Dalam pengalaman kita, kita memiliki hayat yang kekal melalui firman.
Ungkapan “pada waktu yang dikehendaki-Nya” mengacu kepada waktu yang cocok untuk menyatakan hayat yang kekal yang disebut dalam ayat 2. Allah menjanjikan hayat yang kekal melalui Putra mengenai kita di dalam kekekalan, tetapi pemberitaan Injil diadakan pada zaman yang berbeda dan pada waktu yang berlainan. Allah menyatakan hayat kekal-Nya dalam perkataan-Nya melalui pemberitaan Injil, yaitu, melalui pernyataan. Pernyataan ini diadakan di Asia kecil pada satu saat dan Eropa pada saat lainnya.
Di sini Paulus tidak mengatakan bahwa hayat yang kekal dinyatakan melalui pemberitaan Injil. Melainkan, ia membicarakan tentang waktu, firman, dan pemberitaan Injil. Hayat yang kekal yang dijanjikan dinyatakan pada waktu yang berbeda-beda melalui pemberitaan Injil. Penyataan ini kali pertama terjadi pada hari Pentakosta di Yerusalem. Kemudian pemberitaan ini mencapai Antiokhia, Asia Kecil, dan Eropa. Berabad-abad kemudian pemberitaan ini mencapai China. Jadi, “pada waktu yang dikehendaki-Nya” menunjukkan berbagai waktu dinyatakannya firman Allah dalam pemberitaan Injil. Paulus dipercayakan pemberitaan ini menurut perintah Allah Juruselamat kita.