KOTA KUDUS, YERUSALEM BARU
Kita telah nampak bahwa perempuan dalam Kejadian 2 adalah perempuan dalam Kejadian 5, juga adalah perempuan dalam Wahyu 12. Sekarang mari kita lihat seorang perempuan lain, yang tercatat dalam Wahyu 21 dan 22.
Kedua pasal pada akhir kitab Wahyu ini bersesuaian dengan Kejadian 1 sampai 3 pada awal Alkitab, walaupun ada jarak yang panjang antara keduanya. Dalam Kejadian, Allah menciptakan langit dan bumi, dan dalam kedua pasal terakhir kitab Wahyu ini ada langit dan bumi yang baru. Di sana ada pohon kehidupan (hayat), di sini juga ada pohon hayat. Di sana ada sungai yang mengalir keluar dari Eden, di sini juga ada sungai air hayat yang mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Di sana ada emas, di sini juga ada emas. Di sana ada mutiara (damar bedolah), di sini juga ada mutiara. Di sana ada sejenis batu berharga (krisopras), di sini juga ada segala jenis batu berharga. Dalam Kejadian 2, kita nampak bahwa Adam memiliki Hawa sebagai istrinya. Dalam Wahyu 21, kita nampak bahwa Anak Domba memiliki istrinya; istri Anak Domba ini adalah Yerusalem Baru. Dalam perempuan inilah tujuan kekal Allah digenapi. Dalam Kejadian 3, kita nampak bahwa kejatuhan manusia diikuti oleh kematian, penyakit, penderitaan, dan kutukan. Tetapi, ketika Yerusalem Baru turun dari surga dalam Wahyu 21, kita tidak nampak kematian, penderitaan, tangisan, atau kepedihan lagi, karena perkara-perkara yang lama semuanya telah berlalu. Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, kita melihat bahwa Kejadian 1 sampai 3 benar-benar bersesuaian dengan Wahyu 21 dan 22. Keduanya berdiri saling berhadapan pada dua ujung rentangan waktu.
Sekarang kita nampak empat perempuan: Hawa dalam Kejadian 2, istri (gereja) dalam Efesus 5, perempuan dalam visi dalam Wahyu 12, dan istri Anak Domba dalam Wahyu 21. Keempat perempuan ini sebenarnya satu perempuan, tetapi dalam perjalanan sejarahnya, dapat dibagi menjadi empat tahap. Ketika ia masih berada dalam rencana Allah, ia disebut Hawa. Ketika ia ditebus dan mengekspresikan Kristus di bumi, ia disebut gereja. Ketika dianiaya oleh naga besar itu, ia adalah perempuan dalam visi. Dan dalam kekekalan, ketika ia sepenuhnya dimuliakan, ia adalah istri Anak Domba. Keempat perempuan ini memperlihatkan kepada kita pekerjaan Allah dari kekekalan sampai kekekalan. Perempuan dalam Kejadian 2 adalah perempuan yang ditetapkan Allah dalam kekekalan yang lampau, dan perempuan dalam Wahyu 21 adalah perempuan yang menggenapkan tujuan Allah dalam kekekalan yang akan datang. Di tengah-tengah kedua perempuan itu, masih ada dua perempuan; yang satu adalah gereja, yang dipersiapkan untuk Kristus oleh Allah, dan yang lainnya adalah perempuan yang akan melahirkan anak laki-laki pada akhir zaman. Dengan kata lain, keempat perempuan ini menunjukkan kepada kita empat tahap sejarah dari satu perempuan: satu tahap ada pada kekekalan yang lampau, dua tahap ada di antara dua kekekalan, dan satu tahap lainnya ada pada kekekalan yang akan datang. Walaupun keempat perempuan ini nampaknya berbeda ketika kita membicarakannya, tetapi jika kita menggabungkannya, mereka sama. Istri Anak Domba, tentu saja, adalah perempuan dalam Efesus 5. Karena Tuhan Yesus adalah Anak Domba, maka perempuan dalam Efesus 5 itu tidak mungkin bukan istri Anak Domba. Perempuan dalam Efesus 5 itu juga serupa dengan Hawa, dan Hawa juga serupa dengan istri Anak Domba dalam Wahyu 21. Kemudian, ketika ada para pemenang, yang pekerjaannya mewakili seluruh gereja, perempuan dalam Wahyu 12 akan membawa masuk perempuan dalam Wahyu 21. Sebagai akibatnya, Allah dalam kekekalan yang akandatang benar-benar akan mendapatkan seorang perempuan, seorang perempuan yang memegang kekuasaan, yang telah menanggulangi Iblis dengan tuntas. Allah benar-benar akan mendapatkan seorang istri untuk Anak Domba, dan dengan demikian tujuan-Nya akan digenapkan.
Sekarang mari kita lihat bagaimana perempuan dalam Wahyu 12 menjadi perempuan dalam Wahyu 21.
KEJATUHAN BABEL
Dari antara kedua perempuan yang dibicarakan dalam Wahyu 17:1-3 dan 21:9-10, yang satu disebut pelacur besar, dan yang lainnya disebut pengantin perempuan. Dalam pasal 17:1, kita membaca, “Lalu datanglah salah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: ‘Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.’” Kemudian pasal 21:9 mengatakan, “Kemudian datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, ‘Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.’” Pasal 17:3 mengatakan, “Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Aku melihat seorang perempuan . . .” Pasal 21:10 mengatakan, “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah.” Pada saat Roh Kudus memberikan inspirasi kepada manusia untuk menulis Alkitab, Ia dengan sengaja menggunakan struktur yang paralel dalam menjelaskan kedua perempuan ini, supaya kita memiliki kesan yang jelas.
Pertama-tama, mari kita pertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan pelacur. Pelacur yang dibicarakan dalam Wahyu 17 dan 18 adalah Babel, yang perbuatannya sangat tidak diperkenan Allah. Mengapa perbuatannya sangat tidak diperkenan Allah? Apa yang diwakili oleh Babel? Apa prinsip Babel? Mengapa Allah terus-menerus menanggulangi Babel dan mengapa perlu menunggu Babel dihakimi, baru istri Anak Domba muncul? Semoga Allah membuka mata kita sehingga kita benar-benar dapat melihat Babel yang sebenarnya menurut Alkitab.
Nama “Babilon” berasal dari “Babel”. Kita ingat cerita tentang menara Babel dalam Alkitab. Prinsip dari menara Babel adalah usaha membangun sesuatu dari bumi untuk mencapai surga. Dan ketika manusia membangun menara itu, mereka menggunakan batu bata. Ada perbedaan yang mendasar antara batu bata dan batu. Batu dibuat oleh Allah, dan batu bata dibuat oleh manusia. Batu bata adalah ciptaan manusia, produk manusia. Arti dari Babel adalah, manusia berusaha membangun sebuah menara untuk mencapai surga dengan caranya sendiri. Babel menggambarkan kemampuan manusia. Babel menggambarkan kekristenan yang palsu, kekristenan yang tidak mengizinkan Roh Kudus memiliki kekuasaan. Ia tidak mencari bimbingan Roh Kudus, melainkan melakukan segala hal dengan usaha manusia. Segala sesuatunya adalah batu bata yang dibakar oleh manusia; segala sesuatunya adalah tindakan manusia. Mereka tidak nampak bahwa manusia itu terbatas, malahan berusaha melakukan pekerjaan Tuhan dengan kemampuan alamiah mereka sendiri. Mereka tidak berdiri pada posisi di mana mereka benar-benar dapat berkata kepada Tuhan, “Tuhan, jika Engkau tidak memberikan kasih karunia kepada kami, kami tidak dapat melakukan apa-apa.” Mereka berpikir bahwa kemampuan manusia cukup untuk perkara-perkara rohani. Maksud mereka adalah membangun sesuatu di bumi ini yang dapat mencapai surga.
Tetapi Allah tidak mungkin menerima hal semacam ini. O, seseorang yang memiliki sedikit bakat mungkin berpikir bahwa setelah ia belajar sedikit teologi, ia akan dapat berkhotbah. Apakah ini? Batu bata! Seorang mungkin sangat pandai, lalu mengira asal ia menerima sedikit pembinaan, memiliki sedikit pengetahuan, ia bisa menjadi seorang pekerja Kristen. Apakah ini? Batu bata! Seseorang cekatan, mampu bekerja, lalu memintanya mengelola urusan-urusan gereja. Apakah ini? Batu bata! Setiap usaha yang memakai kekuatan manusia untuk membangun sesuatu dari bumi ke surga adalah batu bata.
Sekali lagi, kita harus menekankan bahwa tidak ada kedudukan bagi manusia di dalam gereja. Perkara-perkara surga hanya dapat berasal dari surga; perkara-perkara dunia tidak dapat pergi ke surga. Kesulitan manusia adalah tidak nampak bahwa manusia ada di bawah penghakiman, juga tidak melihat bahwa manusia hanyalah debu tanah. Manusia mungkin dapat membangun tinggi, tetapi surga lebih tinggi daripada manusia yang paling tinggi. Betapapun tingginya manusia membangun menara, mereka tetap tidak dapat menyentuh surga. Surga selalu di atas manusia. Walaupun manusia dapat mendaki dan membangun dan tidak jatuh, tetap tidak mungkin menyentuh surga. Allah menghancurkan rencana manusia membangun menara Babel untuk menunjukkan kepada manusia bahwa sendiri tidak berguna dalam perkara-perkara rohani; manusia tidak dapat melakukan apa pun.
Ada peristiwa lain dalam Perjanjian Lama yang sangat menonjol. Ketika orang-orang Israel masuk ke tanah Kanaan, orang pertama yang melakukan dosa adalah Akhan. Dosa apa yang dilakukan Akhan? Ia berkata, “Aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, . . . aku mengingininya, maka kuambil” (Yos. 7:21). Babel terletak di tanah Sinear. Menyinggung Sinear berarti menyinggung Babel. Jubah Babel yang indah telah menggoda Akhan untuk berbuat dosa. Apa artinya jubah yang indah? Jubah yang indah dikenakan untuk penampilan yang bagus. Seseorang memakai jubah yang indah, berarti ia menghiasi dirinya untuk memperbaiki penampilannya, untuk membuat dirinya sendiri lebih gemerlap. Keinginan Akhan terhadap jubah Babel itu berarti ia berusaha untuk menghiasi dirinya sendiri, membuat dirinya sendiri kelihatan lebih baik. Inilah dosa yang dilakukan oleh Akhan.
Kemudian dalam Perjanjian Baru, ketika gereja baru saja dibangunkan, siapa yang pertama kali melakukan dosa? Alkitab menunjukkan kepada kita Ananias dan Safira. Apakah dosa yang mereka lakukan? Mereka berbohong kepada Roh Kudus. Mereka tidak begitu mengasihi Tuhan, tetapi mereka ingin dipandang sebagai orang-orang yang sangat mengasihi Tuhan. Mereka hanya berpura-pura. Mereka tidak bersedia menyerahkan semuanya dengan senang hati kepada Tuhan, tetapi di hadapan manusia mereka bertindak seolah-olah mereka telah menyerahkan semuanya. Inilah jubah Sinear yang indah.
Karena itu, prinsip Babel adalah kemunafikan. Faktanya tidak begitu, tetapi di hadapan manusia bertindak seolah-olah begitu, untuk mendapatkan kemuliaan dari manusia. Inilah bahaya dari anak-anak Allah — kemunafikan rohani. Ada begitu banyak tingkah laku rohani yang dilakukan dalam kepura-puraan dan ini dikenakan sebagai pelapis. Banyak doa yang panjang itu palsu; banyak doa yang pura-pura. Kenyataannya tidak demikian, tetapi doa itu dibuat nampak sungguh-sungguh. Inilah prinsip Babel. Jika kita mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan kondisi kita yang sebenarnya, kita menggunakan prinsip Babel.
Anak-anak Allah tidak mengetahui betapa banyak kepalsuan yang telah mereka kenakan agar menerima kemuliaan dari manusia. Hal ini benar-benar berbeda dengan pengantin perempuan. Segala sesuatu yang dilakukan dalam kemunafikan, dilakukan dalam prinsip pelacur, bukan prinsip pengantin perempuan. Jika anak-anak Allah dapat dilepaskan dari sikap berpura-pura atau munafik di hadapan manusia, ini bagus sekali. Prinsip Babel adalah berpura-pura, agar menerima kemuliaan dari manusia. Jika kita menujukan pandangan kita pada kemuliaan dan kedudukan manusia dalam gereja, kita ada dalam dosa Babel dan dosa yang dilakukan oleh Ananias dan Safira. Setiap konsikrasi yang palsu adalah dosa, dan dengan demikian setiap kerohanian yang palsu juga dosa. Penyembahan yang benar adalah dalam roh dan kebenaran. Semoga Allah membuat kita menjadi orang-orang yang benar.
Keadaan Babel yang lain terlihat dalam Wahyu 18:7, “Sebab ia berkata di dalam hatinya: Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda.” Ia bertakhta seperti ratu. Ia telah kehilangan semua karakternya sebagai janda. Ia tidak memiliki perasaan tentang Tuhan Yesus yang dibunuh dan disalibkan di atas salib. Sebaliknya, ia berkata, “Aku bertakhta seperti ratu.” Ia telah kehilangan kesetiaannya; ia telah kehilangan tujuannya yang sebenarnya. Inilah prinsip Babel, dan inilah kekristenan yang bobrok.
Pasal 18 juga menunjukkan kepada kita banyak hal lain tentang Babel, khususnya tentang kemewahan yang dinikmatinya. Di sini kita harus mengingatkan diri kita sendiri bahwa di satu pihak kita mempercayai penemuanpenemuan ilmu pengetahuan. Ada banyak hal yang harus kita gunakan ketika kita membutuhkannya. Seperti Rasul Paulus berbicara tentang mempergunakan barang-barang duniawi (1 Kor. 7:31), tujuan kita dengan benda-benda ini hanyalah “menggunakan” mereka. Tetapi menikmatinya secara mewah adalah perkara lain. Ada orang Kristen yang menolak semua kemewahan dan segala sesuatu yang merupakan kesenangan daging. Kami tidak mengatakan bahwa kita jangan menggunakan benda-benda tertentu, melainkan segala sesuatu yang berlebihan adalah kemewahan. Apakah dalam hal pakaian, makanan, atau perumahan, jika berlebihan atau melebihi kebutuhan kita, itu adalah kemewahan atau prinsip Babel. Allah mengizinkan kita memiliki semua yang kita butuhkan, tetapi Ia tidak mengizinkan benda-benda yang melebihi kebutuhan kita. Kita harus menempuh kehidupan kita berdasarkan prinsip kebutuhan; kemudian Allah akan memberkati kita. Jika kita hidup menurut hawa nafsu kita sendiri, kita berada di dalam prinsip Babel, dan Allah tidak akan memberkati kita.
Sekarang kita telah nampak bahwa prinsip Babel adalah mencampurkan perkara manusia dengan firman Allah, mencampurkan perkara daging dengan perkara Roh, memunafikkan sesuatu yang berasal dari manusia sebagai sesuatu yang dari Allah, untuk mendapatkan kemuliaan manusia, untuk memuaskan hawa nafsu manusia. Karena itu, Babel mengacu kepada kekristenan yang bercampur aduk dan bobrok. Jika demikian, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Babel? Wahyu 18:4 mengatakan kepada kita, “Lalu aku mendengar suara lain dari surga berkata, ‘Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari hadapannya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetakamalapetakanya.’” Juga, 2 Korintus 6:17-18 mengatakan, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menyentuh apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan.” Firman Allah adalah agar anak-anak-Nya tidak terlibat dalam perkara apa pun yang mengandung karakter Babel. Allah mengatakan bahwa kita harus keluar dari setiap situasi di mana kekuatan manusia dicampuradukkan dengan kekuatan Allah, kemampuan manusia dicampuradukkan dengan pekerjaan Allah, dan pendapat manusia dicampuradukkan dengan firman Allah. Kita tidak dapat mengambil bagian dalam apa pun yang mengandung karakter Babel. Kita harus keluar darinya. Anak-anak Allah harus belajar dari dalam hati mereka untuk memisahkan diri mereka dari Babel dan menghakimi semua tindakan Babel. Jika mereka melakukannya, mereka tidak akan dihukum bersama Babel.
Awal Babel adalah menara Babel, dan hari demi hari menara itu semakin besar. Tetapi pada akhirnya, Allah akan menghakiminya. Wahyu 19:1-4 mengatakan, “Setelah itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di surga, katanya, ‘Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan ada pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Dialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusak bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.’ Untuk kedua kalinya mereka berkata, ‘Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.’ Kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu sujud dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata, ‘Amin, Haleluya.’” Setelah Allah menghakimi pelacur itu, menghancurkan seluruh pekerjaannya, seluruh barangnya, dan prinsip yang diwakilinya, datanglah suara dari surga mengatakan, “Haleluya!” Dalam seluruh Perjanjian Baru, hanya ada beberapa haleluya, dan itu dinyatakan dalam pasal ini. Mengapa? Karena Babel, yang telah mencampuradukkan perkataan Kristus, telah dihakimi.
Wahyu 18:2-8 memberi tahu kita alasan kejatuhan Babel dan penghakimannya, yaitu mengumumkan perbuatanperbuatan yang berdosa dari Babel dan akhir penghakimannya. Semua orang yang sehati dengan Allah harus mengatakan, “Haleluya!” Karena Allah telah menghakimi Babel. Penghakiman faktual terjadi pada masa yang akan datang, namun penghakiman rohani harus terjadi pada hari ini. Penghakiman faktual akan dilakukan oleh Allah pada masa yang akan datang, tetapi penghakiman rohani harus kita lakukan pada hari ini. Jika anak-anak Allah membawa banyak perkara yang tidak rohani ke dalam gereja, bagaimana perasaan Anda terhadap hal itu? Apakah karena kita semua adalah anak-anak Allah dan kita harus saling mengasihi, maka kita tidak harus mengatakan, “Haleluya” kepada penghakiman Allah? Kita harus tahu bahwa ini bukanlah masalah kasih, tetapi masalah kemuliaan Allah. Prinsip Babel adalah campur aduk dan kecemaran; karena itu, disebut pelacur. Dalam kitab Wahyu, Allah menggunakan beberapa tempat untuk menggambarkan Babel, ini menunjukkan kepada kita kebencian Allah yang luar biasa terhadapnya. “Siapa saja yang membinasakan bumi” (11:18) adalah perempuan ini, yang tentangnya ditulis dalam pasal 19, “yang merusak bumi”.
Allah membenci prinsip Babel ini lebih daripada apa pun. Kita harus memperhatikan di hadapan Allah, berapa banyak dalam diri kita yang tidak mutlak. Apa saja yang setengah-setengah, tidak bersungguh-sungguh, adalah Babel. Kita mohon Allah menerangi kita, supaya dalam terang-Nya kita dapat menghakimi segala sesuatu dalam diri kita yang tidak mutlak. Hanya jika kita menghakimi diri kita sendiri sedemikian rupa, kita dapat mengakui bahwa kita juga membenci prinsip Babel. Mohon Tuhan memberikan kasih karunia-Nya, tidak membiarkan kita mencari kemuliaan dan kehormatan di luar Kristus. Apa yang diinginkan Allah agar kita dambakan dan cari adalah menjadi orang yang mutlak, bukan orang yang hidup dalam prinsip Babel.
Wahyu 19:5 memberi tahu kita, “Lalu kedengaranlah suatu suara dari takhta itu, ‘Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!’” Satu ciri khusus dari kitab Wahyu adalah pernyataan dari surga. Kita membaca misalnya, “suara yang nyaring dari surga,” dan “suatu suara keluar dari takhta itu.” Ini adalah pernyataan dari surga, yang menandakan saat dan tempat Allah berbicara, dan apa penekanan-Nya. Ada alasan-alasan pasti untuk pernyataan ini dalam Wahyu 19:5. Di satu pihak, karena pelacur besar itu dihakimi, dan di pihak lain, karena pernikahan Anak Domba yang akan datang. Itulah sebabnya, ada pernyataan dari takhta untuk memberikan pujian kepada Allah kita. Allah telah bekerja dari kekekalan dan telah menghabiskan banyak energi untuk pekerjaan-Nya, sehingga Ia layak mendapatkan pujian. Kitab Efesus menyebutkan bahwa Allah memiliki ahli-ahli waris di antara orang-orang kudus. Apakah ahli waris Allah di antara orang-orang kudus? Hanya ada satu hal yang dapat diberikan manusia kepada Allah — pujian. Pujian adalah warisan Allah pada orang-orang kudus. Suara dari surga menyatakan bahwa semua hamba Allah, semua yang menjadi milik Allah, kecil maupun besar, harus memuji-Nya. Tujuan Allah harus digenapkan, dan akan segera digenapkan. Allah pasti mendapatkan apa yang dicari-Nya; jadi kita semua harus memuji-Nya.
Ketika suara dari surga menyatakan bahwa pujian harus diberikan kepada Allah, ada gema yang sangat besar berbunyi di seluruh alam semesta. Wahyu 19:6 mengatakan, “Kemudian aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya, ‘Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.’” Di satu pihak ada deklarasi dari takhta, dan di pihak lain ada reaksi dari berjuta-juta manusia. Ketika Yohanes mendengarkan, bukan suara satu orang yang didengarnya, melainkan suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat. Ketika Anda mendengarkan suara air terjun yang besar atau ombak samudra, Anda menyadari betapa besarnya suara desau air bah. Suara guruh cukup keras; apalagi suara deru guruh yang hebat! Semua suara yang kuat dan bergemuruh ini ada di sana dan berkata, “Haleluya!” Deklarasi dari surga, respon dari seluruh alam semesta, dan setiap suara mengatakan, “Haleluya,” karena ada peristiwa khusus yang akan terjadi. Peristiwa ini adalah, “Tuhan Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.”
Sementara kita membaca pernyataan ini, ke mana hati kita tertuju? Di sini tidak mengatakan bahwa Anda akan menjadi raja, karena itu harus bersukacita; juga tidak mengatakan bahwa Anda telah menerima mahkota, karena itu harus memuji Allah. Yang dikatakan di sini adalah bahwa Tuhan, Allah kita yang mahakuasa, telah menjadi raja. Maksud hati Allah ialah Allah menjadi raja, Allah memerintah. Allah memerintah berarti Kristus memerintah. Mari kita kembali kepada Wahyu 11:15, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” “Tuhan kita” di sini mengacu kepada Allah, dan “Dia yang diurapi-Nya” mengacu kepada Kristus. Tetapi kata ganti “Nya” yang mengikutinya digunakan secara agak aneh. Karena bacaan itu dimulai dengan “Tuhan kita dan Kristus-Nya” logis untuk dilanjutkan dengan, “Dan mereka akan memerintah untuk selama-lamanya.” Dengan demikian tata bahasanya akan benar. Tetapi tidak tertulis demikian. Kalimat itu diikuti oleh, “Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Di sini kita nampak bahwa pemerintahan Tuhan adalah pemerintahan Kristus, dan pemerintahan Kristus adalah pemerintahan Allah. Kerajaan Allah adalah kerajaan Kristus. Allah memerintah sebagai raja berarti Kristus memerintah sebagai raja. Karena Allah dan Kristus memerintah, maka semua orang bersukacita dengan kegembiraan yang luar biasa dan berteriak, “Haleluya!”
Wahyu 19:7 melanjutkan, “Marilah kita bersukacita dan bersorak sorai, dan memuliakan Dia! . . .” Inilah saatnya Allah dimuliakan. Kemudian, “Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” Kata “pengantin-Nya” di sini dalam bahasa aslinya adalah “istri-Nya”. Bukan hanya Kekuasaan Allah telah mulai, Kerajaan pun telah datang, bahkan manusia “korporat” itu, Hawa yang kekal yang diinginkan Allah, telah didapatkan. Pernikahan Anak Domba sudah datang, dan istri-Nya telah siap sedia. Jadi, di sini ada dua alasan untuk memuji: Pertama, karena Allah telah memerintah, maka kita mengatakan, “Haleluya!” Yang lainnya, karena Allah telah mendapatkan apa yang Ia tetapkan dalam kekekalan yang lampau. Tentang hal ini, kita juga mengatakan, “Haleluya!” Kita harus bersukacita dan sangat gembira, karena apa yang diinginkan Allah, suatu hari pasti akan didapatkan-Nya. Saat pernikahan Anak Domba datang, sang istri telah siap sedia.
Sering kali, jika kita lebih mengamati diri kita sendiri, nampaknya tidak mungkin hari itu akan datang, yaitu Kristus membawa gereja ke hadapan-Nya sebagai gereja yang mulia, yang tidak memiliki cacat, atau kerut, atau yang serupa itu. Tetapi karena hal itu terjadi, bagaimana kita dapat menahan diri untuk mengatakan, “Haleluya!” Betapapun banyaknya kelemahan yang ada kemarin dan hari ini, apa yang telah ditentukan Allah akan didapat-Nya pada hari itu. Jangan pernah melupakannya. Pada hari itu, sang istri pasti siap sedia. Karena itu, kita harus memberikan kemuliaan kepada-Nya, dan kita harus mengatakan, “Haleluya!”
Mari kita baca ayat 7 sekali lagi, “Marilah kita bersukacita dan bersorak sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan istri-Nya telah siap sedia” (Tl.) Kita harus mencatat bahwa di sini dikatakan istri Anak Domba, bukan pengantin perempuan Anak Domba. Sekarang mari kita lanjutkan dengan pasal 21:1-2, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru . . . Aku juga melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Kapan waktunya dalam Wahyu 19 ketika dikatakan bahwa sang istri telah siap sedia? Sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Kapan waktunya dalam Wahyu 21 ketika dikatakan bahwa pengantin perempuan itu sudah siap? Setelah Kerajaan Seribu Tahun. Karena Yerusalem yang baru harus menunggu langit dan bumi yang baru sebelum menjadi pengantin perempuan Anak Domba, bagaimana dapat dikatakan bahwa istri Anak Domba telah siap sedia sebelum Kerajaan Seribu Tahun? Perhatikan bahwa Wahyu 19 tidak berbicara tentang pernikahan Anak Domba, melainkan hanya mengatakan bahwa pernikahan Anak Domba telah tiba. Pada saat itu, jika kita menoleh ke belakang, kita melihat bahwa pelacur itu telah jatuh, dan jika kita melihat ke depan, kita melihat langit dan bumi yang baru. Karena itu, dibuat deklarasi bahwa pernikahan Anak Domba telah tiba. Tetapi dalam kenyataannya, masih ada selang waktu seribu tahun. Hanya ketika seribu tahun ini telah berlalu, saat yang sebenarnya akan tiba untuk pernikahan Anak Domba. Perempuan ini sebenarnya adalah istri Kristus pada langit dan bumi yang baru, bukan selama waktu Kerajaan.
Ada hal lain yang harus kita perhatikan. Dalam Wahyu 12, ada seorang perempuan dengan anak laki-laki dan juga banyak anak lainnya. Tetapi dalam Wahyu 19, hanya ada satu istri. Di manakah anak laki-laki dan banyak anak itu? Nampaknya mereka telah menghilang. Dengan cara bagaimanakah perempuan ini, anak laki-laki, dan anak-anaknya yang lain semuanya menjadi istri dari Anak Domba?
Untuk jelasnya, kita harus melihat lagi prinsip anak laki-laki itu. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh anak laki-laki itu, dilakukannya untuk mewakili seluruh gereja. Dalam Wahyu 19, pernyataan bahwa sang istri itu telah siap sedia dikatakan ketika nampak kepada para pemenang. Keseluruhan gereja harus menunggu langit dan bumi yang baru untuk menjadi pengantin perempuan, harus menunggu sampai hari itu baru siap sedia. Tetapi seribu tahun sebelum hari itu, ada pengumuman bahwa sang istri telah siap sedia. Mengapa ini dikatakan? Kesiapan macam apakah itu? Jawabannya adalah, pernyataan ini mengacu kepada kesiapan para pemenang; bukan siapa pun, kecuali para pemenang. Karena para pemenang itu benarbenar siap, maka dapat dibuat pernyataan bahwa sang istri telah siap sedia.
Kita harus ingat bahwa apa yang dilakukan oleh para pemenang bukan semata-mata untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk seluruh gereja. Firman Allah mengatakan, jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Kor. 12:26). Para pemenang berperang melawan Iblis untuk kepentingan seluruh Tubuh. Kemenangan mereka membawa faedah bagi seluruh tubuh. Karena itu, siap sedia yang disebut dalam Wahyu 19 ada kaitannya dengan masalah hayat. Karena para pemenang memiliki lebih banyak kedewasaan dalam hayat, maka mereka siap. Dan karena para pemenang siap di hadapan Allah, Allah mempertimbangkan kesiapan mereka sebagai kesiapan seluruh Tubuh.
Apakah kita merasakan betapa berharganya hal ini? Kita harus mengingat satu hal: semua penuntutan, semua pertumbuhan, bukan untuk individu-individu, melainkan untuk Tubuh. Yang diterima setiap anggota dari Allah adalah untuk seluruh Tubuh. Jika telinga Anda mendengar sebuah perkataan, Anda tidak dapat mengatakan bahwa Anda belum mendengar, karena telinga Anda bersatu dengan tubuh Anda. Jika mulut Anda mengatakan sesuatu yang salah, Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda telah salah berkata, karena mulut Anda dan tubuh Anda bersatu. Demikian juga, apa pun yang didapatkan oleh para pemenang adalah yang didapatkan oleh seluruh Tubuh. Karena Tuhan kita adalah Kepala gereja, apa pun yang telah diselesaikannya di salib, menjadilah milik gereja. Demikian juga, ketika kita mendapatkan faedah dari Kepala, kita juga mendapatkan faedah dari Tubuh. Ketika kita mengambil bagian dalam apa yang telah dilakukan Tuhan, kita juga mengambil bagian dalam apa yang dilakukan anggota-anggota lain. Ketika Allah melihat kesiapan para pemenang, Ia mempertimbangkannya sebagai kesiapan seluruh gereja. Karena itu, dikatakan bahwa sang istri telah siap sedia.
Kesiapan sang istri yang dibicarakan di sini secara khusus mengacu kepada pakaiannya. Wahyu 19:8 mengatakan, “Kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus). Alkitab menyatakan kepada kita bahwa ada dua pakaian untuk orang Kristen. Satu adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah ’pakaian’ kita. Yang lain adalah pakaian lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih, seperti yang dibicarakan di sini. Kapan saja kita datang ke hadapan Allah, Tuhan Yesus adalah ’pakaian’ kita. Ia adalah kebenaran kita, dan kita mengenakan-Nya jika kita datang ke hadapan Allah. Pakaian ini adalah pakaian yang umum, supaya setiap orang kudus mengenakan pakaian di hadapan Allah dan tidak didapatkan telanjang. Di pihak lain, jika kita dihadapkan kepada Kristus, kita harus didandani dengan lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih. Inilah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus. Kata “benar” di sini dalam bahasa aslinya berbentuk jamak dan dapat diterjemahkan “kebenaran-kebenaran”. Hal ini berarti sederetan perbuatan yang benar, susul menyusul. Semua ini adalah pakaian lenan kita yang halus. Sejak kita diselamatkan, kita mulai mendapatkan pakaian lenan yang halus ini, perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus, sebagai perhiasan kita.
Kita juga nampak kedua pakaian untuk orang Kristen ini dalam Mazmur 45:14 yang mengatakan, “Keindahan belaka putri raja itu di dalam, pakaiannya berpakankan emas.” Kemudian ayat 15 memberi tahu kita, “Dengan pakaian bersulam berwarna-warna ia dibawa kepada raja.” Di sini kita nampak bahwa pakaian yang disebutkan dalam ayat 14 berbeda dari ayat 15. Dalam ayat 14 pakaian itu dari emas, tetapi dalam ayat 15 pakaian itu dari pekerjaan sulaman. Pakaian lenan yang halus dalam Wahyu 19 adalah dari sulaman, bukan dari emas.
Jika demikian, apakah emas itu? Tuhan Yesus adalah emas. Ia adalah emas karena Ia sepenuhnya dari Allah. Kebenaran yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita, pakaian yang dikenakan kepada kita ketika kita diselamatkan adalah dari emas. Tetapi selain pakaian ini, ada pakaian lainnya yang telah kita sulam sejak hari kita menerima keselamatan kita. Ini adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus. Dengan kata lain, pakaian dari emas diberikan kepada kita oleh Allah melalui Tuhan Yesus, sedangkan pakaian sulaman diberikan kepada kita oleh Tuhan Yesus melalui Roh Kudus. Ketika kita percaya kepada Tuhan, Allah memberi kita Tuhan Yesus melalui pakaian emas. Pakaian ini adalah Tuhan Yesus sendiri dan tidak ada kaitannya dengan perbuatan kita. Pakaian ini dipersiapkan oleh-Nya, siap pakai. Tetapi, pakaian yang bersulam itu berkaitan dengan perbuatan-perbuatan kita. Pakaian ini dibuat satu jahitan demi satu jahitan oleh Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita hari demi hari.
Apa arti sulaman? Artinya: pada mulanya ada sepotong kain polos tanpa ada apa pun di atasnya. Kemudian, sesuatu dijahitkan kepadanya dengan menggunakan benang, dan dengan jahitan ini, bahan yang semula dan benang yang dijahitkan menjadi satu. Ini berarti, ketika Roh Allah bekerja atas kita, Ia memasukkan Kristus ke dalam diri kita — inilah pekerjaan sulaman. Kemudian kita akan memiliki bukan hanya pakaian dari emas, tetapi juga pakaian yang disulam oleh Roh Kudus. Dengan pekerjaan ini, Kristus akan ada dalam kita dan diekspresikan dari kita. Pakaian yang disulam ini adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus. Pekerjaan ini tidak dilakukan sekali saja, tetapi dilakukan berulang-ulang hari demi hari sampai Allah mengatakan, “Sudah siap”.
Mungkin ada orang akan bertanya, “Perbuatanperbuatan benar apa yang dibicarakan di sini?” Injil mencatat banyak perbuatan yang benar, misalnya perbuatan Maria menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan mengurapi-Nya dengan minyak narwastu. Inilah perbuatan yang benar. Ini menjadi salah satu dari benang-benang yang bersilang atau memanjang pada pakaian lenannya yang halus. Ada orang-orang lainnya, seperti Yohana, istri Khuza, dan banyak perempuan lainnya, yang karena kasihnya kepada Tuhan, melayani kebutuhan materi-Nya dan murid-murid-Nya. Ini juga perbuatan yang benar. Banyak kali hati kita tersentuh oleh kasih Allah, dan kita mengekspresikannya secara lahiriah. Inilah kebenaran kita, pakaian lenan kita yang halus. Inilah pekerjaan sulaman yang sedang dikerjakan hari ini. Setiap ekspresi yang berasal dari kasih kita terhadap Tuhan dan dilakukan melalui Roh Kudus adalah sebuah jahitan di antara beribu-ribu jahitan lainnya dalam pekerjaan sulaman. Alkitab memberi tahu kita bahwa siapa pun yang memberi segelas air kepada orang yang kecil, tidak akan kehilangan pahalanya. Inilah perbuatan yang benar, yang dilakukan karena kasih terhadap Tuhan. Ketika kita melakukan ungkapan atau tindakan kasih terhadap Tuhan, ini adalah kebenaran.
Wahyu 7 memberi tahu kita bahwa pakaian ini adalah pakaian putih. Pakaian ini telah dicuci dan diputihkan dalam darah Anak Domba. Kita harus ingat bahwa kita hanya dapat menjadi putih dengan cara dibersihkan dari dosa-dosa kita melalui darah. Dan bukan hanya dosa-dosa kita saja, perbuatan kita juga harus disucikan. Perbuatan ini juga hanya dapat diputihkan dengan cara dicuci dalam darah. Tidak satu pun perbuatan orang Kristen yang sejak awal ‘putih’. Walaupun kita benar, namun kebenaran kita tercampur dan tidak murni. Banyak kali kita baik terhadap orang lain, tetapi di dalam batin kita tidak rela. Banyak kali kita bersabar terhadap orang lain, tetapi ketika kita pulang, kita mengomel. Karena itu, setelah melakukan beberapa perbuatan baik, kita masih perlu penyucian darah. Kita membutuhkan darah Tuhan Yesus untuk menyucikan kita dari dosa-dosa yang kita lakukan, dan kita juga membutuhkan darah Yesus untuk membersihkan perbuatanperbuatan kita yang benar.
Tidak seorang Kristen pun dapat membuat pakaian yang benar-benar putih. Sekalipun kita dapat membuat sebuah pakaian yang sembilan puluh sembilan persen putih, masih ada campuran satu persen. Di hadapan Allah, tidak seorang pun benar-benar tanpa cela. Bahkan perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan karena kasih kita terhadap Allah pun perlu dibersihkan oleh darah. Seseorang yang sangat rohani pernah mengatakan bahwa air mata yang diteteskannya untuk dosa pun perlu dibersihkan oleh darah. O, air mata yang mengalir karena pertobatan pun perlu dicuci dengan darah. Karena itu, dalam Wahyu 7 dikatakan bahwa jubah mereka disucikan dalam darah Anak Domba. Tidak ada sesuatu pun yang dapat kita banggakan. Baik secara luaran maupun di dalam batin, tidak ada sesuatu yang baik pada diri kita. Semakin kita mengenal diri kita sendiri, kita semakin menyadari betapa kotornya kita; perbuatan dan maksud-maksud kita yang terbaik pun tercampur dengan kekotoran. Tanpa pembersihan darah, kita tidak mungkin menjadi putih.
Tetapi jubah di sini tidak hanya putih, tetapi juga berkilau-kilauan. Arti berkilau-kilauan adalah memancarkan terang (bersinar). Warna putih mudah menjadi pudar, pucat, dan biasa. Tetapi jubah ini bukan hanya putih, bahkan berkilau-kilauan. Sebelum Hawa berdosa, ia mungkin putih, tetapi ia tidak mungkin berkilau-kilauan. Memang, sebelum kejatuhan Hawa tidak berdosa, tetapi ia hanya tidak bersalah, bukan kudus. Allah bukan hanya menuntut agar kita putih, tetapi juga berkilau-kilauan. Putih merupakan aspek yang pasif dan diam, tetapi berkilau-kilauan merupakan aspek yang positif dan aktif.
Karena itu, kita tidak boleh takut akan kesulitan, kita tidak seharusnya mendambakan jalan yang datar. Karena hari-hari yang penuh kesulitan dapat membuat kita berkilau-kilauan. Anda merasa bahwa orang-orang Kristen tertentu tidak berdosa atau salah dalam hal apa pun, bahwa dalam setiap aspek mereka cukup baik; tetapi Anda tidak merasakan kecemerlangan pada mereka. Kebaikan mereka hanya kebaikan yang biasa saja. Mereka putih, tetapi tidak berkilau-kilauan. Di pihak lain, ada orang-orang Kristen lainnya yang sering kali menghadapi cobaan dan penderitaan. Banyak kali mereka sangat terguncang sehingga nampaknya mereka pasti jatuh — tetapi mereka terus bertahan. Setelah jangka waktu tertentu, orang-orang Kristen ini mendapatkan kualitas berkilau-kilauan. Mereka berkilau-kilauan dalam karakter dan kebajikan. Mereka tidak biasa-biasa saja; mereka tidak hanya putih, tetapi juga berkilau-kilauan.
Allah bekerja dalam diri kita sepanjang waktu. Ia terus-menerus bekerja agar kita menjadi putih; Ia terusmenerus menggarap kita supaya kita berkilau-kilauan. Kerinduan-Nya adalah agar kita berkilau-kilauan. Itulah sebabnya kita harus membayar harga yang tinggi. Itulah sebabnya kita harus rela menerima segala macam kesulitan datang kepada kita. Jika tidak, kita tidak mungkin menjadi berkilau-kilauan. Putih saja tidaklah cukup; Allah menuntut kecemerlangan yang positif terlihat dalam kita. Ketakutan akan kesulitan, kesusahan, keinginan akan jalan keluar yang mudah, jalan yang lancar — semua itu akan membuat kita kehilangan kecemerlangan kita. Semakin banyak penderitaan dan kesulitan yang kita alami, kita akan semakin berkilau-kilauan. Orang-orang yang kehidupannya dilalui dengan mudah dan biasa-biasa saja mungkin putih, tetapi mereka tidak mungkin berkilau-kilauan.
Pakaian ini terbuat dari lenan yang halus. Menurut Alkitab, wol berbeda artinya dengan lenan. Wol menunjukkan pekerjaan Tuhan Yesus, dan lenan yang halus menunjukkan pekerjaan Roh Kudus. Yesaya 53:7 menggambarkan Tuhan Yesus sebagai seekor domba yang kelu di depan penggunting bulunya. Dari ayat ini, kita nampak bahwa wol memiliki karakter penebusan. Tetapi, pada lenan yang halus tidak ada karakter penebusan. Lenan dihasilkan dari tanaman; lenan ini tidak ada kaitannya dengan darah. Lenan yang halus adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus atas diri manusia. Pakaian lenan yang halus memberi tahu kita bahwa Allah bukan hanya menuntut manusia untuk memiliki kebenaran Allah, tetapi juga perbuatan benar. Allah tidak hanya bermaksud untuk mendapatkan kebenaran-Nya dalam diri kita, Ia juga bermaksud mendapatkan banyak kebenaran atas diri kita.
“Kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih.” Ini berarti semua perbuatan, semua kebenaran yang luaran, dihasilkan oleh kasih karunia; tidak dibuat oleh manusia berdasarkan alamiahnya sendiri; tetapi merupakan hasil dari pekerjaan Roh Kudus dalam manusia. Karena itu kita harus belajar untuk menengadah kepada Tuhan, dan berkata, “Tuhan, berilah aku! Tuhan, curahkan kasih karunia!” Betapa baiknya ini — pakaian ini diberikan oleh kasih karunia! Jika kita mengatakan bahwa pakaian ini dibuat oleh kita, ini benar; memang pakaian ini telah dibuat oleh kita. Tetapi, di pihak lain, pakaian ini diberikan oleh Allah, karena jika kita bersandar pada diri kita sendiri, kita tidak dapat menghasilkan apa-apa. Tuhanlah yang melakukannya dalam kita melalui Roh Kudus. Sering kali kita merasa beban itu sungguh berat. Kita ingin melarikan diri, dan kita hampir memohon kepada Tuhan, “O, Tuhan, lepaskan aku!” Tetapi kita harus mengubah doa kita menjadi, “Tuhan, buatlah aku mampu menanggung beban ini. Tuhan, mampukan aku berdiri dalam beban ini. Buatlah aku menjadi putih dan karuniakan kepadaku pakaian yang berkilau-kilauan.”
Wahyu 19:9 memberi tahu kita, “Lalu ia berkata kepadaku, ‘Tuliskanlah: . . .’” Allah berbicara, dan Ia meminta Yohanes untuk menuliskannya. Apakah yang ditulisnya? “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Sekali lagi, malaikat berkata, “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” O, tidak ada hak istimewa yang lain, tidak ada kedudukan lain yang lebih tinggi dari ini — diundang ke perjamuan kawin Anak Domba. “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” Allah membuat sangat jelas bahwa ini adalah kata-kata-Nya yang benar. Kita harus menerimanya, memperhatikannya, dan mengingatnya.
Apa perbedaan antara mereka yang diundang ke perjamuan kawin dan pengantin perempuan Anak Domba? Perbedaannya adalah pengantin perempuan adalah kelompok yang terpilih — manusia baru. Tetapi orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba adalah banyak individu — para pemenang. Perjamuan kawin Anak Domba mengacu kepada zaman Kerajaan. Di sana, orang-orang yang diundang akan bersama-sama dengan Tuhan dan menikmati persekutuan yang unik dan khusus, yang tidak pernah dirasakan siapa pun sebelumnya. Tuhan berkata melalui malaikat-Nya, “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba. Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” O, semoga Allah, demi kepentingan-Nya sendiri, Ia menjadikan kita orang-orang yang dengan rendah hati menuntut untuk memuaskan keinginan hati-Nya. Demi kepentingan gereja, semoga Ia membuat kita menuntut menjadi orang-orang yang menyuplaikan hayat. Demi Kerajaan, semoga Ia membuat kita menjadi para pemenang.
LANGIT YANG BARU DAN BUMI YANG BARU
Sekarang mari kita baca Wahyu 21:1, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.” Sekali lagi, dari kejauhan, kita berdiri berseberangan dengan Kejadian. Dalam Kejadian 1, langit dan bumi adalah langit dan bumi yang mula-mula, tetapi di sini kita memiliki langit dan bumi yang baru. Dalam Kejadian ada laut, tetapi di sini, laut tidak ada lagi.
Ayat 2 melanjutkan, “Aku juga melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Dalam Wahyu 19, ada pernyataan bahwa pernikahan Anak Domba telah tiba dan sang istri telah siap sedia. Tetapi di sini dalam pasal ini, Yerusalem Baru dipersiapkan bagaikan seorang pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Inilah pernyataannya. Kita telah mengatakan bahwa dalam kitab Wahyu ada banyak pernyataan, tetapi pernyataan yang paling utama dari semuanya ada pada pasal 11:15. Menurut urutan kejadiannya, pengangkatan anak laki-laki dan pelemparan naga dari surga terjadi setelah pernyataan ini. Jika demikian, bagaimana kata-kata “kerajaan dunia telah menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya” dapat dinyatakan pada waktu itu? Ini disebabkan pernyataan tersebut dibuat pada permulaan segala sesuatu, bukan pada saat tergenapnya. Ini berarti telah terjadi titik balik. Ada peralihan yang pasti menuju rencana Allah yang kekal; karena itu, Allah dapat membuat pernyataan semacam ini di surga. Kemudian dalam Wahyu 19, Allah membuat pernyataan lain, yang mengatakan bahwa pernikahan Anak Domba telah tiba dan sang istri telah siap sedia. Sama seperti sebelumnya, pernyataan ini dibuat pada titik awal peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Karena para pemenang di hadapan-Nya mewakili pengantin perempuan dan karena kelompok orang ini benar-benar siap di hadapan-Nya, Allah dapat menyatakan bahwa pernikahan Anak Domba telah tiba dan sang istri telah siap sedia. Tetapi “telah tiba” direalisasikan sepenuhnya dalam langit dan bumi yang baru. Dalam Wahyu 21:2, Yohanes sebenarnya melihat Yerusalem Baru turun dari Allah di surga. Pada saat itu pengantin perempuan benarbenar siap dalam pengertian apa pun. Di sini, kesiapan ini bukan hanya kesiapan seperti yang dinyatakan dalam Wahyu 19, tetapi kesiapan dalam faktanya.
Sekarang kita harus kembali membaca Efesus 5:26-27, “Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dalam firman, supaya dengan demikian Ia mempersembahkan jemaat kepada diri-Nya sendiri dengan mulia tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Tl.). Kata-kata “supaya dengan demikian Ia mempersembahkan jemaat kepada diri-Nya” digenapi dalam Wahyu 21. Di sini sekarang ada seorang Pengantin Perempuan yang sepenuhnya siap untuk dipersembahkan kepada Tuhan. “Yang berhias bagaikan Pengantin Perempuan” tidak sulit untuk dimengerti. Ini menunjukkan kepada kita bahwa pada akhir zaman Kerajaan, seluruh gereja akan mencapai tahap itu. Apa yang tidak kita tampak hari ini, akan tampak sepenuhnya pada hari itu. Hari ini kita mungkin mengatakan bahwa standar Allah untuk gereja terlalu tinggi, bagaimana mungkin gereja dapat mencapai standar seperti itu? Kita tidak tahu bagaimana Allah akan melakukannya, tetapi kita tahu bahwa pada masa langit dan bumi yang baru, gereja pasti sudah mencapai posisi itu. Ada orang mengira bahwa gereja akan mencapai tingkatan pada Efesus 5 sebelum zaman Kerajaan. Tetapi Tuhan tidak berkata demikian. Baru pada Wahyu 21, gereja akan mencapainya. Pada masa langit dan bumi yang baru, bukan hanya sekelompok orang kudus saja yang akan disempurnakan, tetapi semua orang kudus, seluruh tubuh, dari semua bangsa sepanjang masa. Mereka semua akan berada di hadapan Allah dan dimuliakan di hadapan-Nya.
Dalam Wahyu 21:3 kita membaca, “Lalu akan mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata, ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’” Ayat ini menyatakan kepada kita bagaimana keadaan langit dan bumi yang baru itu. Langit dan bumi yang baru ada dalam berkat yang kekal, dan berkat yang positiflah yang dibicarakan di sini. Ayat ini diikuti oleh pernyataan yang mengatakan bahwa tidak akan ada lagi ini dan itu. Ini adalah aspek-aspek yang negatif, bukan yang positif. Apakah berkat yang positif dan kekal itu? Berkat itu adalah, Allah beserta kita. Penyertaan Allah adalah berkat itu. Segala sesuatu yang telah dikatakan Alkitab mengenai berkat dalam kekekalan tercakup dalam kata-kata ini, “Allah akan tinggal bersama-sama mereka.” Penderitaan yang paling berat adalah hidup tanpa penyertaan Allah. Semua kenikmatan dalam kekekalan adalah penyertaan Allah. Berkat hari itu, seperti yang dibicarakan di sini, tidak lain adalah Allah beserta kita. Salomo pernah berkata kepada Allah, “Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini!” (1 Raj. 8:27). Langit dan langit yang mengatasi segala langit tidak dapat memuat-Nya, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yerusalem Baru dapat memuat-Nya. Allah tinggal dalam Yerusalem Baru, dan takhta Allah didirikan di sana.
Yerusalem Baru adalah perempuan yang kita bicarakan itu. Dalam Kejadian, kita melihat sebuah taman dan seorang perempuan. Perempuan itu kemudian berdosa, dan Allah mengusirnya keluar dari taman itu. Sekarang, dalam langit dan bumi yang baru, perempuan dan kota kudus itu menjadi satu, mereka bukan lagi dua hal yang terpisah. Karena Yerusalem Baru adalah perempuan itu, Yerusalem Baru adalah istri Anak Domba, maka perempuan itu dan kota kudus adalah satu. Tidak hanya demikian, takhta Allah juga didirikan di Yerusalem Baru, atau, kita dapat mengatakan bahwa Allah sendiri tinggal dalam perempuan itu. Yang Berkuasa tinggal di dalamnya. Karena itu, betapapun besarnya kekuatan atau godaan yang mungkin datang dari luar, tidak ada masalah. Kekuasaan jahat tidak dapat lagi masuk, manusia juga tidak mungkin jatuh lagi, karena Allah tinggal di dalamnya.Berkat dari langit dan bumi yang baru adalah penyertaan Allah. Setiap orang yang pernah mengalami penyertaan Allah dalam pengalamannya tahu bahwa ini benar-benar satu berkat. Tidak ada berkat lain yang lebih besar atau lebih berharga daripada ini.
Mari kita baca lagi bagian terakhir dari ayat 3, “Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” Apakah Anda nampak hubungan antara Allah dan manusia? Apakah artinya kita akan menjadi umat Allah? Artinya Allah akan tinggal bersama kita, dan karena itu kita akan menjadi umat-Nya. Apakah artinya Allah akan menjadi Allah kita? Artinya Allah akan menyertai kita, dan karena itu Ia akan menjadi Allah kita. Ketika kita menjauh dari hadapan-Nya, Allah tidak dapat menjadi Allah kita. Berkat yang paling besar dan paling tinggi dalam kekekalan adalah Allah tinggal bersama-sama kita dan menjadi Allah kita.
Ayat 4 mengatakan, “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Setiap manusia mengalami menetesnya air mata, tetapi dalam langit dan bumi yang baru, mereka akan menerima berkat ini — Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka. Kematian sepenuhnya merupakan akibat dari kejatuhan. Tetapi dalam langit dan bumi yang baru, tidak akan ada kematian lagi. Musuh yang terakhir ini akan dimusnahkan. Perkabungan atau dukacita adalah kepedihan hati kita, rasa menderita di dalam batin, tetapi tangisan adalah ekspresi luarnya. Luka adalah penderitaan pada tubuh fisik kita. Tetapi Allah akan mengakhiri semua itu. Semua itu diringkas dalam kata-kata berikut: air mata, kematian, perkabungan, ratap tangis, dan dukacita. Semua tidak akan ada lagi; semuanya akan berlalu.
Ayat 5 mengatakan, “Ia yang duduk di atas takhta itu berkata, ‘Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!’” Kesulitan kita hari ini adalah kita yang ciptaan baru masih hidup dalam ciptaan yang lama. Tetapi pada hari itu, semuanya akan menjadi baru; semuanya akan ada dalam ciptaan yang baru. Bukan hanya yang di dalam akan menjadi baru, tetapi juga yang di luar. Seluruh lingkungan dan segala hal yang di dalamnya akan menjadi baru. Ini disebut kekekalan. Ciptaan yang baru itu untuk kita. Hanya segala yang ada di dalam ciptaan yang baru, yang dapat memuaskan hati kita. Yesaya 6 memberi tahu kita sebuah pengalaman yang menyakitkan, yaitu “Aku ini seorang yang najis bibir.” Selain itu, ia mencatat pengalaman yang menyakitkan lainnya, “Aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir.” Tetapi pada hari itu, segala sesuatu di sekitar kita akan menjadi ciptaan yang baru. Hari itu akan sungguh-sungguh mulia.
Ayat 5 melanjutkan, “Lalu firman-Nya, ‘Tuliskanlah, karena segala perkataan ini dapat dipercaya dan benar.’” Betapa baiknya semua ini ditulis. Allah memberikan kata-kata ini kepada Yohanes dan menyuruhnya untuk menuliskannya. Tidak satu pun catatan atau judul dari apa yang dituliskan dapat terlewat. Kata-kata ini tepat dan benar! Puncak kepercayaan kita adalah melihat Allah menjadi pemenang akhir.
Dalam ayat 6, Allah memberi tahu Yohanes, “Semuanya telah terjadi.” Atas dasar apa Allah mengatakan kepada Yohanes bahwa semuanya telah terjadi? Karena “Akulah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Sepertinya banyak kali pekerjaan Allah belum berhasil, tetapi Ia mengatakan, “Akulah Alfa dan Omega.” Allahlah yang membuat penentuan awal, dan Allahlah juga yang akan melakukan penyelesaian akhir. Betapa kita berterima kasih kepada Allah karena Ia adalah Alfa, pemula segala sesuatu. Kejadian 1:1 mengatakan, “Pada mulanya Allah . . .” Ketika langit dan bumi diciptakan, Allahlah yang menentukan segalanya. Segala hal bemula dari Allah. Tetapi pada saat yang sama, Ia juga Omega. Manusia dapat dan akan jatuh, tetapi Allah adalah Omega. Manusia boleh mengatakan ini dan itu, tetapi perkataan yang terakhir adalah perkataan Allah. Ia adalah Omega.
Mengapa Allah berkata demikian? Karena Ia ingin memberi tahu kita bahwa Ia akan menggenapkan rencana-Nya, Ia akan mencapai tujuan-Nya, Ia akan menyelesaikan apa yang telah dimulai-Nya. Kita mengakui bahwa pekerjaan Iblis memang telah “mengacaukan” pekerjaan Allah, tetapi kita lebih mengakui bahwa Allah bukan hanya Alfa yang menetapkan pada awalnya, tetapi juga Omega, yang pada akhirnya akan berhasil. Allah tidak pernah menyerah, dan Ia tidak akan mungkin membiarkan sedikit pun dari rencana-Nya tidak tergenapkan. Bagaimanapun keadaan gereja dalam pengalaman, dalam tujuan Allah, ia tidak akan memiliki cacat atau kerut atau yang seperti itu. Bahkan, ia akan mengenakan kemuliaan dan dipersembahkan kepada Putra-Nya.
Ketika kita melihat anak-anak Allah sangat berbeda satu dengan yang lainnya dalam hal keyakinan dan doktrin, juga dalam prakteknya, kita bertanya, bagaimana mungkin mereka sampai kepada kesatuan iman seperti yang dibicarakan dalam Efesus 4? Banyak kali kita menghela napas dan berkata, jangan-jangan sekalipun kita menunggu dua ribu tahun lagi, entah ini bisa tergenap atau tidak! Tetapi Allah berkata bahwa Ia adalah Omega! Pasti tiba harinya, Ia akan memiliki gereja yang penuh kemuliaan di hadapan-Nya. Ia mungkin menggunakan air atau api, tetapi Ia pasti akan memiliki gereja yang mulia. Kita tidak dapat menghalangi Allah. Ia pasti mendapatkan apa yang memuaskan-Nya. Betapapun lemah, tawar, atau kerasnya kita, suatu hari, Allah akan menghancurleburkan kita. Ia akan memecahkan dan menghancurkan kita sampai kita menjadi seperti yang diinginkan-Nya. Allah adalah Omega! Karena Allahlah yang melakukannya, Ia akan melakukannya sampai akhir. Ia tidak akan berhenti. Mari kita memuji-Nya dengan bersukacita. Ia pasti mencapai tujuan-Nya!
Ayat 6 melanjutkan, “Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Di sini penekanannya bukanlah pada penebusan, melainkan kebutuhan kita akan Allah. Arti dari haus adalah membutuhkan Allah. Tanpa Allah berarti tanpa air. Karena itu, mata air kehidupan adalah untuk kepuasan dari mereka yang haus.
Sekarang kita harus memperhatikan dengan teliti ayat selanjutnya, ayat 7. Betapa kita berterima kasih kepada Allah akan janji yang sangat berharga dalam ayat ini, yang memberi tahu kita apa yang akan didapatkan oleh para pemenang. Para pemenang yang dibicarakan di sini berbeda dengan yang disebutkan dalam Wahyu 2 dan 3. Para pemenang dalam pasal 2 dan 3 adalah satu kelompok dari seluruh gereja, sedangkan para pemenang yang disebutkan di sini berkaitan dengan “mereka yang haus”. Kata-kata yang mendahului adalah “Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Ini diikuti oleh “Siapa yang menang, ia akan memperoleh semuanya ini.” Dengan kata lain, semua orang yang minum dari mata air kehidupan adalah para pemenang yang dibicarakan di sini. Para pemenang ini berbeda dari mereka yang tidak minum air ini. Jenis kemenangan ini sama dengan yang dibicarakan dalam 1 Yohanes. 1 Yohanes 5:4 mengatakan, “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita.” Mereka yang lahir dari Allah, mereka yang adalah milik Tuhan, adalah mereka yang memiliki iman. Mereka yang bukan milik Tuhan, tidak memiliki iman. Dan iman inilah yang membuat kita mengalahkan dunia. Tentu saja ini seharusnya membuat kita senang, bersukacita, dan bersorak Haleluya! Dalam langit dan bumi yang baru kita semua adalah pemenang! Pada masa Kerajaan, hanya sejumlah kecil orang sebagai anak laki-laki, tetapi dalam Yerusalem Baru, seluruh tubuh adalah pemenang. Dalam Yerusalem Baru, masalahnya hanyalah Anda memiliki iman atau tidak. Jika Anda memilikinya, Anda adalah pemenang.
Pada hari itu, Allah akan menghapus air mata dari setiap mata mereka, maut tidak akan ada lagi, tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu. Tetapi semua ini adalah aspek-aspek yang negatif. Yang positif adalah, “Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka, dan mereka akan menjadi umat-Nya.” Dan bukan hanya itu saja, karena dalam ayat 7 Allah mengatakan, “Aku akan menjadi Allahnya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” Karena itu, kedudukan kita sebagai orang Kristen di hadapan Allah bukan hanya sebagai manusia, tetapi juga anak. Allah menginginkan banyak anak masuk ke dalam kemuliaan. Kita berterima kasih dan memuji Allah karena Ia berkata, “Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.” Tidak ada berkat yang lebih besar dalam kekekalan daripada ini.
Ayat 8 memberi tahu kita, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala dengan api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” Sama seperti berkat dalam kekekalan itu suatu fakta, demikian juga penghukuman dalam kekekalan. Hukuman dari Allah Sang kasih itu tidak terhindarkan. Ini adalah peringatan yang keras untuk semuanya.
KOTA KUDUS YANG TURUN DARI SURGA
Sekarang mari kita melihat rincian dari kota kudus, yaitu Yerusalem Baru.
Wahyu 21:9-10 mengatakan, “Kemudian datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, ‘Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.’ Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah.”
Dalam pasal 17:1-3, ketika malaikat ingin menunjukkan kepada Yohanes pelacur besar itu, ia membawanya ke padang gurun. Dalam pandangan Allah, dalam pandangan orang-orang yang diberi inspirasi oleh Roh Kudus, pelacur itu adalah seseorang yang diam di padang gurun. Ia tinggal di sebuah tempat yang tidak ada hayat, tidak ada buahbuahannya — tanah yang tandus. Manusia hari ini dapat melihat bangunan-bangunan tempat ibadah yang tinggi dan besar, mereka dapat mengambil bagian dalam kebaktian hari Minggu yang dipersiapkan dengan baik dan menampilkan kecekatan manusia, tetapi di mata Allah, segala sesuatu yang berasal dari Babel ada di padang gurun dan ditolak.
Tetapi di sini, ketika malaikat itu menunjukkan kepada Yohanes istri dari Anak Domba, ia membawanya ke gunung yang besar dan tinggi. Di sana malaikat itu menunjukkan kepadanya kota kudus, Yerusalem, yang turun dari surga, dari Allah. Dari gunung yang besar dan tinggi itulah Yohanes nampak ini. Ini menyatakan satu hal kepada kita: jika kita ingin nampak visi Allah yang kekal, kita harus dibawa ke gunung yang besar dan tinggi. Jika secara rohani kita tidak berdiri di gunung yang tinggi, kita tidak akan nampak. Orang yang tinggal di dataran, tidak nampak Yerusalem Baru, tidak nampak puncak pekerjaan Allah. Ketika Musa dengan bani Israel sampai ke Sungai Yordan, apa yang Allah perintahkan untuk dilakukannya? Allah menyuruhnya naik ke puncak gunung Abarim dan mengangkat matanya untuk memandang tanah yang telah dijanjikan-Nya. Sekali lagi, hal ini memberi tahu kita bahwa untuk menerima visi dan wahyu dan memandang visi Allah, kita harus berada di tempat yang tinggi.
Jangan pernah berpikir bahwa menjadi orang Kristen yang biasa saja hari demi hari, tidak melakukan dosa yang besar, sudah cukup baik. Kita harus ingat, jika kita mengambil kedudukan semacam ini, rencana Allah yang kekal tidak berarti apa-apa bagi kita selain doktrin dan pengetahuan saja. Kita harus berharap untuk meningkat dalam rohani dan memiliki pencapaian rohani. Kita harus berharap untuk mendaki gunung yang tinggi. Jika kita melakukannya, kita akan melihat Yerusalem Baru.
Apa yang ingin Allah kerjakan, pasti akan digenapkan-Nya. Apa yang telah direncanakan Allah dalam kekekalan yang lampau, pasti didapatkan-Nya dalam kekekalan yang akan datang. Pertama-tama, harus ada para pemenang untuk membawa masuk Kerajaan, dan kemudian harus ada para pemenang untuk mendatangkan langit dan bumi yang baru. Tetapi masalahnya adalah, siapa yang akan menjadi pemenang? Untuk menjadi pemenang, kita harus memiliki wahyu. Jika tidak ada wahyu, segala sesuatu akan dipandang sebagai doktrin belaka. Kita harus ingat bahwa pengetahuan tidak mungkin menghasilkan buah; hanya wahyu yang menghasilkan buah. Namun, untuk memiliki wahyu, kita harus naik ke gunung yang tinggi; kita tidak dapat tinggal di dataran. Memang ada kesulitan dalam hal mendaki gunung, yaitu kita harus menggunakan kekuatan kita untuk mendaki. Kita tidak dapat mencapai puncak, kecuali kita berusaha. Mohon Allah mengaruniakan kepada kita pencapaian rohani ini dan melepaskan kita dari dataran yang rendah. Kita tidak boleh berpikir bahwa diselamatkan saja dan tidak menginginkan apa-apa lagi sudah cukup. Allah harus menyelamatkan kita dari kualitas hidup yang rendah ini dan menunjukkan kepada kita keinginan hati-Nya. Ketika kita telah berada di gunung yang tinggi, barulah kita akan menerima wahyu.
Setelah Yohanes melihat Yerusalem Baru, ia melakukan hal yang sangat bodoh — ia sujud di depan kaki malaikat (Why. 22:8). Tindakannya ini, walaupun bodoh, memiliki arti. Yohanes adalah rasul yang meninggalkan dunia ini paling akhir dari antara kedua belas rasul sebermula. Pengetahuan, perbuatan, kasih, dan pengalamannya jauh lebih banyak daripada kita; tetapi dalam kitab Wahyu kita nampak bahwa ia melakukan hal yang bodoh ini dua kali. Ada dua peristiwa di mana ia ingin menyembah malaikat. Hal ini dicatat satu kali dalam pasal 19:10, dan sekali lagi dalam pasal 22:8. Meskipun tindakan Yohanes ini dicegah oleh malaikat itu dengan berkata, “Janganlah berbuat demikian,” hal ini menampakkan kepada kita betapa Yohanes adalah seorang yang sungguh hati dan ia sangat menghargai rencana dan pekerjaan Allah. Dalam situasi semacam itu, ia tidak dapat menahan dirinya sendiri, sehingga ia melakukan sesuatu yang bodoh. Perbuatannya itu salah, tetapi hatinya ternyata benar. Ini menunjukkan kepada kita sikap yang harus kita miliki jika kita melihat visi Allah. Semoga Tuhan juga mengaruniakan kepada kita untuk melihat visi semacam ini. Semoga Ia memungkinkan kita naik ke ketinggian untuk melihat Yerusalem Baru. O, semoga segala sesuatu yang ada di dalam kita adalah untuk kesuksesan visi ini dan tidak untuk apa pun lainnya.
Malaikat itu berkata kepada Yohanes, “Aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.” Malaikat itu berkata bahwa ia akan menunjukkan kepada Yohanes mempelai Anak Domba, tetapi apakah yang kemudian nampak oleh Yohanes? Ia melihat “kota yang kudus, Yerusalem, yang turun dari surga, dari Allah.” Mempelai Anak Domba yang dilihat Yohanes adalah kota kudus Yerusalem. Karena itu, gambaran dari kota yang mengikutinya adalah juga gambaran dari mempelai Anak Domba. Kota ini adalah sebuah figur, yang menggambarkan karakteristik dan kondisi rohani dari tubuh yang ingin didapatkan oleh Allah sebelum penciptaan.
Kota ini turun dari surga dari Allah. Ini berarti Allah bukan hanya memperhatikan akan ke mana manusia korporat ini, tetapi juga dari mana asalnya. Ini bukan sekadar perihal masa depan, melainkan juga perihal sumber. Mempelai Anak Domba turun dari surga. Yerusalem yang Baru berasal dari surga, bukan dari bumi. Di sini Allah tidak menunjukkan kepada kita seorang manusia yang mempunyai sejarah dosa dan kemudian diselamatkan — bukan berarti bahwa kita tidak memiliki sejarah dosa dan tidak perlu bertobat dan diselamatkan oleh kasih karunia. Yang sedang kami katakan adalah, ayat-ayat Alkitab ini hanya menunjukkan kepada kita bagian yang dari Allah. Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita gereja yang mulia pada Efesus 5 yang akan dipersembahkan kepada Kristus.
Dalam Perjanjian Lama, ada seorang perempuan yang secara khusus mewakili gereja yang akan dipersembahkan kepada Kristus. Ia adalah Ribka. Abraham berkata kepada pembantunya, “Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang istri bagi Ishak, anakku” (Kej. 24:3-4). Ribka bukan penduduk tanah sebelah Barat Yordan, tetapi ia adalah sanak saudara Ishak.
Yang diinginkan Allah adalah memiliki manusia yang merupakan ’sanak saudara’ Kristus. Karena Kristus berasal dari surga, gereja juga harus berasal dari surga. Ibrani 2:11 mengatakan, “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Siapakah saudara? Saudara adalah mereka yang lahir dari ibu dan ayah yang sama. Betapa kita berterima kasih kepada Allah bahwa di satu pihak kita dibeli dengan darah Tuhan yang mahal, dan di pihak lainnya kita benar-benar dilahirkan dari Allah. Ada dua aspek dalam sejarah setiap orang Kristen: yang satu adalah, secara lahir kita dibeli oleh Allah, dan yang lainnya adalah, secara batin kita dilahirkan dari Allah. Dari sudut pandang sejarah kita yang berdosa, secara lahir kita dibeli; tetapi dari sudut pandang sejarah kita yang terlepas dari dosa, kita dilahirkan dari Allah, karena siapa pun yang dilahirkan dari Allah, tidak dapat berdosa. Bagian ini tidak memiliki permulaan dosa, juga tidak memiliki sejarah dosa. Fakta bahwa Yerusalem Baru turun dari Allah secara tidak langsung menyatakan bahwa gereja itu tidak pernah ada di bumi ini. Nampaknya gereja itu turun ke bumi untuk pertama kalinya. Ini tidak berarti bahwa kita tidak datang kepada Allah sebagai orang-orang berdosa, tetapi ada satu bagian dalam diri kita yang berasal dari Allah dan sepenuhnya dari Allah. Betapa kita harus berterima kasih kepada Tuhan bahwa Yerusalem Baru turun dari surga, dari Allah!
Kota ini sama sekali berbeda dengan kota yang dicatat dalam pasal 17. Kota itu disebut sebagai kota besar, dan kota ini disebut kota kudus. Karakteristik dari Babel adalah kebesarannya, dan karakteristik dari Yerusalem Baru adalah kekudusannya. Di antara orang-orang Kristen, ada orang yang memperhatikan kebesaran, tetapi ada orang yang memperhatikan kekudusan. Mereka yang memperhatikan kebesaran ada pada prinsip Babel, sedangkan mereka yang memperhatikan kekudusan ada pada prinsip Yerusalem.
Apakah arti kekudusan? Kita dapat mengatakan demikian: Hanya Allahlah yang kudus. Jadi, apa yang berasal dari Allah, barulah kudus. Mengatakan bahwa “Ia yang menguduskan dan yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu,” berarti Kristus itu kudus, karena Ia berasal dari yang Satu itu, dan kita juga kudus karena kita juga berasal dari yang Satu itu. Hanya mereka yang berasal dari yang Satu itu kudus. Hanya apa yang berasal dari Allah memiliki nilai. Apa yang berasal dari Allah, dan hanya itu, adalah Yerusalem Baru. Segala sesuatu yang berasal dari manusia harus dikesampingkan. Masalah keterangkatan juga berdasar pada hal ini. Mengapa akan ada orang-orang yang ditinggalkan? Karena mereka memiliki banyak hal yang tidak berasal dari Kristus, dan segala sesuatu yang tidak berasal dari Kristus tidak dapat dibawa ke surga. Tidak satu benda pun yang tidak berasal dari surga dapat kembali ke surga. Segala sesuatu yang berasal dari bumi harus ditinggalkan di bumi; semua yang berasal dari surga, dapat kembali ke surga.
CAHAYA KOTA KUDUS
Ayat 11 menggambarkan kota ini sebagai “penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.” Permata yaspis sudah pernah disebutkan satu kali dalam buku ini — dalam pasal 4. Pada saat itu, Yohanes melihat Seseorang duduk di atas takhta, yang nampak seperti permata yaspis dan Yang nampak oleh Yohanes duduk di atas takhta sama dengan permata yaspis. Dengan kata lain, arti dari permata yaspis adalah Allah yang tertampak. Jika manusia berdiri di hadapan takhta, Allah akan tertampak olehnya sebagai permata yaspis. Demikianlah kita akan mengenalnya di sana, bukan sementara kita ada di sini. Apa yang kita kenal hari ini masih samar-samar dalam banyak hal, tetapi di kota itu ada kemuliaan Allah dengan kecemerlangan permata yaspis. Ini berarti ketika Yerusalem Baru turun ke bumi, kita akan nampak Tuhan sendiri. Kita tidak akan pernah lagi salah memahami-Nya, kita juga tidak perlu bertanya alasan untuk apa pun. Cahaya Yerusalem Baru bening seperti kristal, sedikit pun tidak ada campuran. Pada hari itu, segala sesuatu dalam segala arah akan transparan dan ternyata dengan jelas kepada kita. Pada hari itu kita akan melihat Allah, dan kita akan mengenal Allah.
PENDUDUK KOTA YANG KUDUS
Ayat 12-14, “Temboknya besar dan tinggi, pintu gerbangnya ada dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.” Berapa banyak orang yang tercakup dalam manusia korporat ini? Di sini dikatakan bahwa nama-nama dari kedua belas suku Israel ditulis di atas gerbang, dan nama-nama kedua belas murid ditulis di atas dasar. Ini menunjukkan kepada kita bahwa kota ini menampung orang-orang kudus baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru.
Kita akan buktikan hal ini dengan membaca beberapa ayat Alkitab berikut ini:
Lukas 13:28-29 mengatakan, “Ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.” Di sini kita nampak bahwa Kerajaan Allah mencakup Abraham, Ishak, dan Yakub, yang mewakili orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama. Mereka yang berasal dari Timur, Barat, Utara, dan Selatan mewakili orang-orang kudus dalam Perjanjian Baru. Kedua kelompok ini adalah partisipan dalam Kerajaan Allah; jadi, tentu saja, mereka semua akan bersama masuk ke dalam Yerusalem Baru.
Ibrani 11:9-10 mengatakan, “Karena iman ia tinggal di tanah yang dijanjikan itu sebagai orang asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang bersamasama menjadi ahli waris janji yang sama itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” Kota yang dimaksud dalam ayat-ayat ini adalah Yerusalem Baru. Hanya kota inilah yang memiliki dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Ayat 13 mengatakan, “Dalam iman mereka semua ini telah mati . . .” “Semua ini” adalah Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan lainnya. Ayat 16 melanjutkan, “Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi. Sebab itu, Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” “Mereka” di sini adalah “semua” dalam ayat 13. Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama memiliki bagian dalam Yerusalem Baru. Untuk Habel pada awal Perjanjian Lama dan untuk orang-orang kudus sepanjang Perjanjian Lama, Allah telah menunjuk sebuah kota, Yerusalem Baru. Mereka semua memiliki bagian di dalamnya. Sekali lagi dalam ayat 39-40, “Namun, mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun telah diberi kesaksian yang baik tentang mereka karena iman. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita, mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” Allah telah membuat semua orang kudus dalam Perjanjian Lama menunggu; mereka belum mendapatkan kota itu. Ia telah meminta mereka untuk menunggu, supaya kita dan mereka dapat pergi bersama-sama. Dari sini kita nampak bahwa baik orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru akan ada di Yerusalem Baru.
Efesus 2:11-14 mengatakan, “Karena itu, ingatlah bahwa dahulu kamu adalah orang-orang bukan Yahudi secara jasmani, yang disebut orang-orang tak bersunat . . . Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” Ayat 11-13 memakai kata ganti “kamu”, tetapi dalam ayat 14 memakai “kita”. Ketika mengatakan “kamu”, ini mengacu kepada orang-orang kudus di Efesus, tetapi ketika memakai “kami”, ini mengacu kepada orang-orang kudus Yahudi maupun Efesus, dan juga orang-orang kudus dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kristuslah yang menjadi pendamaian kita dan telah membuat keduanya menjadi satu, meruntuhkan tembok pemisah di tengah. Ayat 15 melanjutkan, “sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” “Keduanya” di sini bersesuaian dengan “kedua” dalam ayat 14. Ini juga mengacu kepada orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Hal ini tidak mengacu kepada hubungan antara manusia dan Allah. Dapatkah Allah dan manusia diciptakan bersama-sama untuk menjadi manusia baru? Tidak. Ayat-ayat ini mengacu kepada orang-orang kudus, kafir maupun Yahudi, orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Ayat 16 melanjutkan, “dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.” Untuk memperdamaikan “keduanya di dalam satu tubuh” dengan Allah berarti orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru diperdamaikan dengan Allah. Ayat 17-19 mengatakan, “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, karena melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Orang-orang kudus di Efesus bukan orang-orang asing lagi, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Ayat 20-22, “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Dengan demikian, tempat kediaman Allah mencakup semua orang kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Abraham, Ishak, dan Yakub ada di sana; kita juga ada di sana.
Kesimpulannya, pada zaman langit dan bumi yang baru, semua orang yang memiliki hayat Allah akan tercakup dalam Yerusalem Baru.
KOTA, PINTU GERBANG, DAN TEMBOKNYA
Mari kita lanjutkan melihat Wahyu 21. Kita harus memberikan perhatian khusus kepada tembok kota. Ayat 12 mengatakan, “Temboknya besar dan tinggi . . .” dan ayat 15 mengatakan, “Malaikat yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.” Kemudian ayat 17, “Ia juga mengukur temboknya: Seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.” Dulu, Allah membuat sebuah taman di Eden, dan ular dapat datang ke dalam taman itu untuk berbicara dengan Hawa. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa di sekeliling taman itu tidak ada tembok. Allah tadinya menyuruh Adam memelihara (menjaga) taman itu. Tetapi Adam tidak menjaganya, dan Iblis masuk. Sekarang, bagaimana dengan Yerusalem Baru? Kita membaca bahwa Yerusalem Baru memiliki tembok kota. Apa tujuan tembok ini? Di satu pihak, tujuannya adalah untuk menampung, dan di lain pihak untuk membatasi. Tembok ini menampung dan menjaga segala hal yang ada di dalam kota, membatasi dan menolak segala hal yang ada di luar kota. Jika ada tembok yang mengelilingi sebuah kota, tembok itu berfungsi untuk memisahkan segala benda yang ada di dalam kota dari segala benda yang ada di luarnya dan untuk membedakan keduanya. Yerusalem Baru adalah manusia baru yang diinginkan Allah. Manusia baru ini ada di hadapan Allah dan terpisah dari semua yang ada di luar. Ular tidak mungkin masuk lagi. Sekarang ada sebuah tembok, ada pemisahan, ada perbedaan. Tidak ada lagi kemungkinan untuk masuk bagi ular.
Ketika menggambarkan Yerusalem Baru, hal pertama yang disebutkan selain kemuliaan Allah ialah tembok kota. Karena itu, pemisahan merupakan salah satu prinsip yang penting dalam kehidupan orang Kristen. Jika tidak ada pemisahan, orang-orang Kristen akan tidak berharga. Harus ditarik sebuah garis untuk membedakan mana yang rohani dan mana yang bersifat daging. Yerusalem Baru memiliki pemisah, memiliki pembatas, dan kita harus belajar dari hal ini. Segala sesuatu dari Babel harus ditolak, sedangkan semua yang dari Allah harus dilindungi. Membangun tembok kota bukan sesuatu yang mudah, karena Iblis sangat membenci tembok itu. Ketika Nehemia kembali ke Yerusalem untuk membangun tembok, Sanbalat dan Tobia, bani Arab, bani Amon, dan bani Asodit datang dan melakukan berbagai usaha untuk menghentikan pembangunan itu. Nehemia memegang tombak dengan satu tangan, dan dengan tangan yang lain ia membangun tembok. Karena itu, kita harus berdoa agar Allah memampukan kita memegang perlengkapan rohani untuk berperang melawan roh-roh jahat di udara dan mempertahankan prinsip pemisahan.
Kota itu memiliki dua belas pintu gerbang dan dua belas batu dasar, dan pada batu dasar itu terdapat nama dua belas Rasul dari Anak Domba. Ini memberi tahu kepada kita bahwa segala sesuatu di dalam kota itu didasarkan pada prinsip Kerajaan Allah yang diberitakan oleh Para Rasul. Sebelumnya, kita telah mengacu kepada kata-kata dalam Efesus 2, “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi.” Ini berarti bahwa semua wahyu yang didapatkan para rasul adalah batu dasar dari Yerusalem Baru.
Pintu gerbang adalah untuk keluar masuk. Tetapi mengapa nama kedua belas suku Israel ditulis di atasnya? Tuhan Yesus mengatakan, “Keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yoh. 4:22). Segala hal yang berkaitan dengan Allah telah kita pelajari dari Israel. Hukum diberikan kepada bangsa Israel, penebusan dikenal melalui Israel. dan keselamatan berasal dari Israel. Karena itu, di pintu-pintu gerbang ada nama dua belas suku Israel.
Kota itu memiliki tiga pintu gerbang di sebelah Timur, tiga pintu gerbang di sebelah Utara, dan tiga pintu gerbang di sebelah Selatan, dan tiga pintu gerbang di sebelah Barat. Ada tiga pintu gerbang di setiap arah. Pintu gerbang biasanya terletak di sebuah tempat yang mudah untuk keluar masuk. Karena itu, fakta bahwa kota ini memiliki pintu gerbang pada keempat sisi menunjukkan bahwa pintu gerbang ini berlokasi pada sebuah posisi yang sangat sentral dan merupakan pusat segala sesuatu. Yerusalem Baru adalah karya agung di lubuk hati Allah.
Puji Tuhan. Di pintu gerbang ada dua belas malaikat untuk menjaga pintu gerbang masuk (Why. 21:12). Dulu, ada kerub menjaga jalan ke pohon hayat, tetapi sekarang pohon hayat di kota dijaga oleh malaikat-malaikat di pintu gerbang. Malaikat-malaikat adalah roh-roh yang melayani (Ibr. 1:14); pada suatu hari, para malaikat akan tunduk pada gereja (Ibr. 1:14).
Ayat 15, “Malaikat yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.” Dalam Alkitab, emas mewakili semua yang dari Allah. Karena itu, jika kota itu diukur dengan emas, berarti kota itu dapat diukur dengan standar Allah dan bersesuaian dengan standar Allah. Kita perlu mencari kemuliaan Allah, dan berharap jika kita diukur pada hari itu, kita akan dapat memenuhi standar Allah.
Ayat 16, “Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Lalu ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: Dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.” Ada tempat lain di dalam Alkitab yang ukuran panjang, lebar, dan tingginya sama — yaitu, tempat maha kudus dalam Bait Suci. “Ruang belakang itu dua puluh hasta panjangnya dan dua puluh hasta lebarnya dan dua puluh hasta tingginya. Ia melapisinya dengan emas kertas, lalu ia membuat mezbah dari kayu aras di depannya” (1 Raj. 6:20). Panjang, lebar, dan tingginya, semuanya sama. Dalam Alkitab, hanya tempat maha kudus dalam Bait Suci dan kota Yerusalem Baru mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tinggi yang sama. Dengan kata lain, dalam langit dan bumi yang baru, Yerusalem Baru menjadi tempat maha kudus bagi Allah. Dulu, ketika Daud memberikan kepada Salomo pola Bait Suci, ia berkata, “Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu” (1 Taw. 28:19). Dari sini kita nampak bahwa segala sesuatu dalam Bait Suci itu dibangun berdasarkan wahyu ilahi. Dalam langit dan bumi yang baru, Yerusalem Baru adalah Bait Suci Allah. Segala sesuatu yang membentuk kota itu berasal dari sesuatu di dalam Allah. Tidak ada sesuatu pun yang berasal dari luar Allah.
Ayat 17, “Ia juga mengukur temboknya: Seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.” Dapatkah kita mengatakan hari ini bahwa ukuran manusia adalah ukuran malaikat? Tidak, tidak pernah. Jadi, kapankah ukuran seorang manusia akan sama dengan ukuran malaikat? Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa pada hari kebangkitan, manusia akan sama seperti malaikat-malaikat (Luk. 20:36). Seratus empat puluh empat hasta di sini akan dinyatakan ketika ukuran manusia setara dengan ukuran malaikat. Dengan kata lain, segala sesuatu dalam kota ini ada dalam realitas kebangkitan. Syukur kepada Allah atas segala benda yang tertampung dalam kota ini, tidak ada satu benda pun yang tidak dalam kebangkitan. Segala sesuatu yang sudah mati dan segala sesuatu dari manusia ada di luar kota itu; tetapi di dalam kota, segala sesuatu dibangkitkan dan berasal dari Allah. Kebangkitan berarti berasal dari Allah. Segala sesuatu yang berasal dari manusia, sekali sudah mati, tidak mungkin bangkit, tetapi segala sesuatu yang berasal dari Allah, walaupun telah mati, akan bangkit lagi. Apa pun yang tidak dapat dibelenggu atau ditahan oleh kematian disebut kebangkitan. Jika apa yang berasal dari kita itu melewati salib, hal itu akan binasa, tetapi tidak sesuatu pun dari Allah dapat disentuh oleh kematian.
Ketika Yohanes mencatat gambaran dari kota itu, semua angka yang digunakannya adalah dua belas — dua belas pintu gerbang, dua belas batu dasar, dua belas rasul, dua belas suku, dan sebagainya. Ukuran dinding kota itu adalah seratus empat puluh empat hasta, hasil dari dua belas kali dua belas. Jadi kita nampak bahwa dua belas adalah angka yang digunakan dalam kekekalan. Angka ini adalah angka yang paling berharga dalam Alkitab. Dalam bagian depan Kitab Wahyu, kita melihat banyak angka tujuh, seperti tujuh gereja, tujuh meterai, tujuh sangkakala, tujuh cawan, tujuh malaikat, dan sebagainya. Tetapi di bagian akhir kita melihat banyak angka dua belas, seperti yang sudah disebutkan tadi. Tujuh berarti kesempurnaan, dan dua belas juga berarti kesempurnaan, tetapi keduanya tidak sama. Tujuh terdiri dari tiga ditambah empat, sedangkan dua belas terdiri dari tiga kali empat. Karena Allah adalah Allah yang Tritunggal, angka tiga mewakili Allah; sedangkan empat adalah angka yang menggambarkan penciptaan, seperti empat angin, empat musim, dan empat makhluk hidup. Jika tiga ditambah dengan empat, ini berarti Allah ditambahkan kepada manusia. Betapa lengkap, betapa sempurnanya Pencipta bersama ciptaan-Nya! Tetapi apa pun yang ditambahkan juga dapat dikurangi dan karena itu hilang lagi; jadi penghitungan ini tidak kekal. Tetapi dalam Yerusalem Baru, kesatuan antara manusia dan Allah bukan lagi tujuh, melainkan dua belas. Bukan lagi tiga ditambah empat, melainkan tiga dikali empat. Perkalian merupakan kesatuan yang sempurna, sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan. Pada saat Pencipta berbaur dengan makhluk ciptaan, jumlahnya adalah dua belas, dan dua belas adalah kesatuan yang sempurna. Dalam langit dan bumi yang baru, Allah dan manusia akan menjadi satu; Allah dan manusia tidak mungkin terpisahkan lagi.
EMAS, BATU PERMATA, DAN MUTIARA
Dari bahan apakah kota ini dibangun? Ayat 18 mengatakan, “Tembok itu terbuat dari permata yaspis . . .” Kita telah memperhatikan permata yaspis. Kita telah nampak bahwa cahaya kota itu seperti permata yaspis. Arti dari hal ini adalah, jika kita memandang kemuliaan kota itu, kita melihat gambar Allah yang sebenarnya. Dengan mengetahui gambar Allah yang sebenarnya, manusia dapat mengenal Allah yang sedang duduk di atas takhta. Allah tidak jauh dari manusia, Ia juga bukan Allah yang tidak dikenal.
Fungsi dari tembok kota, seperti yang telah nampak kepada kita, adalah untuk memisahkan apa yang ada di dalam kota dari apa yang ada di luarnya. Fakta bahwa tembok ini terbuat dari permata yaspis berarti bahwa pemisahan ini didasarkan atas apa yang nampak dalam terang Allah yang benar. Dasar pemisahan ini adalah nampak akan apa yang dituntut Allah, apa yang diminta Allah. Jika manusia tidak jelas terhadap tuntutan Allah itu, ia tidak akan mengalami pemisahan.
Mari kita baca lebih lanjut ayat 18, “Dan kota itu sendiri dari emas murni, bagaikan kaca yang jernih.” Dengan kata lain, semua yang ada di dalam kota itu berasal dari Allah. Emas melambangkan apa yang berasal dari Allah, yang ditempatkan dalam ciptaan Allah yang baru. Petrus mengatakan bahwa kita turut mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Di dalam semua orang milik Allah, ada suatu bagian yang berasal dari Allah. Sebelum kita diselamatkan, segala sesuatu di dalam kita adalah daging, segala sesuatu alamiah; tidak ada sesuatu pun yang memiliki karakter rohani. Tetapi ketika kita menerima Tuhan, Allah memberikan hayat-Nya kepada kita. Inilah emas yang diberikan-Nya kepada kita. Di dalam diri kita ada suatu bagian dari emas; ada sesuatu yang benar-benar dari Allah. Tetapi sayang, walaupun kita memiliki emas ini di dalam diri kita, emas ini tercampur dengan banyak benda lainnya menjadi suatu campuran. Tidak diragukan bahwa kita memiliki sifat Allah, tetapi pada saat yang sama kita juga memiliki banyak hal di dalam diri kita yang sama sekali bukan dari Allah. Karena alasan inilah, maka bagian terbesar pekerjaan Allah atas diri anak-anak-Nya adalah pekerjaan mengurangi, bukan pekerjaan menambah.
Sering kali manusia ingin mendapatkan Allah lebih banyak, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus lebih baik. Memang semua perkara ini penting. Kita sangat perlu lebih banyak mendapatkan Allah, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus. Tetapi masih ada satu pekerjaan lainnya — bukan pekerjaan menambah, melainkan mengurangi. Pekerjaan Allah yang mendasar ialah mengurangi “kita”. Setiap hari, sejak kita diselamatkan, Allah terus melakukan pekerjaan semacam ini, dan alat untuk pekerjaan mengurangi ini adalah salib. Pekerjaan salib adalah menyingkirkan. Pekerjaan salib bukanlah membawa sesuatu ke dalam kita, melainkan mengambilnya dari kita. Di dalam diri kita ada begitu banyak sampah. Ada begitu banyak perkara yang tidak berasal dari Allah, yang tidak membawa kemuliaan bagi-Nya. Allah ingin menyingkirkan semua itu melalui salib, supaya kita menjadi emas murni. Yang dimasukkan Allah ke dalam diri kita adalah emas murni, tetapi karena begitu banyaknya sampah di dalam diri kita, begitu banyak hal yang tidak berasal dari Allah, kita menjadi benda campuran. Itulah sebabnya Allah harus memakai banyak waktu dan tenaga, membuat kita nampak hal-hal di dalam kita yang berasal dari diri sendiri, hal-hal yang tidak dapat membawa kemuliaan bagi-Nya. Kita percaya, jika Allah berbicara kepada kita, kita akan nampak bahwa hal-hal yang harus disingkirkan itu jauh lebih banyak daripada yang harus ditambahkan. Khususnya orang-orang Kristen yang kuat jiwanya harus ingat bahwa pekerjaan Allah atas diri mereka melalui Roh Kudus adalah menyingkirkan hal-hal itu dari diri mereka, mengurangi mereka.
Ciri utama Yerusalem Baru adalah emas, emas murni. Tidak ada sesuatu pun di sana yang mengandung campuran; segala sesuatu sepenuhnya berasal dari Allah. Satu pelajaran yang Allah kehendaki untuk kita pelajari hari ini adalah nampak bahwa segala sesuatu yang berasal dari kita adalah sampah belaka. Selain emas, segala sesuatu yang berasal dari diri kita adalah sampah. Kebaikan kita, jika ditambahkan kepada emas, adalah sampah; gairah kita, jika ditambahkan kepada emas, juga adalah sampah. Segala sesuatu dari kita itu sampah. Dengan kata lain, apa pun yang tidak berasal dari Allah adalah sampah. Tidak seorang pun dari antara kita dapat berdiri di hadapan Allah dan mengatakan bahwa kita memiliki sesuatu untuk diberikan kepada-Nya. Allah menuntut emas murni. Dalam Yerusalem Baru, semuanya emas murni, tanpa sampah. Akan tiba saatnya kita nampak bahwa segala sesuatu yang tidak berasal dari Allah akan disalibkan. Segala sesuatu yang ada dalam Yerusalem Baru berasal dari Allah. Allah harus mencapai tujuan-Nya. Jika Allah mengatakan emas murni, kenyataannya adalah emas murni. Tidak ada sesuatu pun yang dapat dicampurkan dengan pekerjaan Allah.
Ayat 19-20 mengatakan, “Dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, yang kedua batu nilam, yang ketiga batu mirah, yang keempat batu zamrud, yang kelima batu unam, yang keenam batu sardis, yang ketujuh batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras, yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung.” Apa makna yang dinyatakan oleh batu permata? Ada perbedaan yang mendasar antara batu permata dan emas. Emas adalah unsur kimia, sedangkan batu permata bukan unsur kimia, melainkan senyawa. Emas adalah sebuah unsur, ketika Allah menciptakannya, ia sudah sebagai emas; emas dibuat langsung oleh Allah. Tetapi batu permata dibentuk dari berbagai macam unsur, yang melalui panas dan tekanan bertahun-tahun lamanya di bumi, terbentuk melalui kombinasi kimia. Dengan kata lain, yang dilambangkan batu permata bukanlah sesuatu yang langsung diberikan oleh Allah, tetapi sesuatu yang dihasilkan Roh Kudus dalam diri manusia melalui usaha yang keras dan pembakaran selama bertahun-tahun. Pekerjaan Roh Kudus di bumi adalah terus-menerus menguji kita supaya kita memiliki berbagai macam pengalaman dan menjadi batu permata di hadapan-Nya. Karena itu, batu permata adalah hasil pendisiplinan kita oleh Allah.
Saya akan mengilustrasikannya. Kelahiran Ishak melambangkan emas, tetapi pengalaman Yakub melambangkan batu permata. Ishak dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki melalui janji Allah. Ia tidak pernah menderita, juga tidak pernah melakukan kesalahan besar. Tetapi kehidupan Yakub berbeda. Ia mengalami banyak penderitaan, melewati banyak pengujian. Tangan Allah ada di atasnya setiap saat. Hari demi hari dan tahun demi tahun, Allah menggarap Yakub sehingga ia menjadi batu permata.
Hayat yang diberikan Allah kepada kita adalah emas, sedangkan hayat yang Allah bentuk dalam diri kita adalah batu permata. Hari demi hari, dalam segala macam keadaan, Ia membuat kita serupa dengan gambar Kristus. Inilah batu permata. Allah tidak berhenti dengan hanya memberi kita sebagian dari hayat Kristus; Ia ingin hayat Kristus itu tersusun ke dalam kita. Di satu pihak, kita harus menyadari bahwa tanpa hayat Tuhan di dalam diri kita, kita sedikit pun tidak berbeda dengan sebelum kita diselamatkan. Tetapi, di pihak lainnya, setelah mengikuti Kristus lima atau sepuluh tahun dan didisiplinkan dan dibereskan oleh-Nya, sebagian hayat Kristus telah dibentuk di dalam diri kita oleh Roh Kudus. Ada sesuatu di dalam diri kita yang telah dibentuk oleh Tuhan, dan inilah batu permata. Karena itu, Anda tidak perlu terkejut jika Allah terus-menerus meletakkan Anda dalam api untuk membakar Anda. Nampaknya hal-hal yang dialami oleh orang lain baik semuanya, tetapi hal-hal yang Anda alami serba tidak lancar. Anda disalahpahami dan diserang oleh orang-orang lain. Lebih banyak perkara telah terjadi pada Anda dibandingkan pada orang lain. Tetapi Anda harus tahu bahwa ini bukan tanpa alasan. Allahlah yang terus-menerus membakar Anda; Roh Kuduslah yang sedang bekerja untuk menyusun ke dalam diri Anda lebih banyak hayat Kristus, supaya Anda diubah serupa gambar-Nya.
Di sini kita nampak tidak hanya satu macam batu permata, melainkan banyak macam. Di antaranya adalah permata yaspis, lainnya batu nilam, batu mirah, batu zamrud, batu unam, batu sardis, dan beberapa jenis lainnya. Semua batu permata ini adalah hasil pembakaran. Batu-batu ini tidak dibentuk oleh Allah dalam sekejap, tetapi didapatkan setelah ditempa selama bertahun-tahun. Batu permata tidak diberikan kepada kita pada saat penciptaan, juga bukan sesuatu yang kita dapatkan ketika kita menjadi ciptaan baru. Batu permata dibentuk dalam diri kita melalui pembakaran oleh Allah hari demi hari. Batu permata adalah sebuah zat yang terus-menerus melewati api. Ketika api itu membakar dengan cara tertentu, sejenis mineral tertentu mencair ke dalam zat itu, dan ini menjadi sejenis batu permata. Ketika api itu membakar dengan cara lain, itu menyebabkan sejenis mineral lainnya larut ke dalam zat itu, membuatnya menjadi sejenis batu permata lainnya. Berbagai cara melelehkan beberapa mineral bersama-sama membentuk berbagai jenis batu permata.
Yang dilambangkan oleh batu permata ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Ketika kita diselamatkan, kita mendapatkan sifat Allah; tetapi sejak saat itu, hari demi hari, Roh Kudus terus menggarapkan sifat Allah ke dalam diri kita supaya kita dapat menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Buah-buah Roh Kudus itu tidak hanya satu. Ada kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan begitu banyak lainnya. Roh Kudus harus terus-menerus bekerja di dalam diri kita untuk membuat kita menghasilkan semua jenis buah yang berbeda ini. Ketika kita diselamatkan, yang diberikan Allah kepada kita adalah hayat-Nya. Tetapi buahbuah Roh Kudus bukanlah sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Allah. Ketika Roh Kudus bekerja di dalam diri kita, barulah kita menghasilkan buah-buah ini. Demikian pula, batu permata adalah sesuatu yang dibentuk dalam diri kita oleh Roh Kudus melalui berbagai keadaan sekeliling kita.
Allah bukan hanya memberikan sifat-Nya kepada kita, hari demi hari Ia membuat kita menjadi orang-orang yang dapat membawa kemuliaan nama-Nya. Ketika Anda diselamatkan, Anda mendapatkan sifat Allah, dan ketika saya diselamatkan, saya mendapatkan sifat-Nya. Dalam hal ini, semua orang Kristen sama; mereka semua telah mendapatkan sifat Allah. Tetapi pada hari-hari berikutnya, Allah mungkin menempatkan Anda pada situasi tertentu untuk memberi Anda pengalaman-pengalaman tertentu. Ia mungkin membiarkan Anda mengalami pencobaan, kesulitan, dan penderitaan tertentu supaya Anda menjadi seorang Kristen seperti batu krisolit, batu mirah, batu sardis, atau beberapa batu berharga lainnya. Allah sedang bekerja di dalam diri setiap orang Kristen, supaya masing-masing dapat menjadi sejenis batu permata tertentu. Yang kita semua miliki bersama di hadapan Allah adalah emas, tetapi setelah kita menjadi batu permata di hadapan-Nya, kita masing-masing akan menjadi bentuk tertentu.
Apa yang dibentuk oleh Roh Kudus di dalam diri kita melalui lingkungan akan tetap tinggal untuk selamanya. Jika seorang Kristen menerima lebih banyak penanggulangan pada jalan ini, ia akan belajar lebih banyak pelajaran dalam jalan ini. Kemudian, ini akan menghasilkan dalam dirinya sebuah karakter yang menonjol, sebuah karakter yang tidak akan hilang setelah beberapa tahun, tetapi akan tetap tinggal untuk selamanya. Apa yang telah diperolehnya akan menjadi batu permata untuk selamanya di Yerusalem Baru.
Banyak anak Allah yang telah berjalan bersama-Nya selama sepuluh atau dua puluh tahun, ada sesuatu yang telah Allah garapkan ke dalam mereka melalui Roh Kudus. Allah bukan hanya telah memberikan sesuatu kepada mereka, bahkan mereka sendiri telah menjadi sesuatu itu. Selama bertahun-tahun mereka telah didisiplinkan oleh Roh Kudus. Melalui banyak pencobaan dan pengalaman, Roh Kudus telah membentuk dalam diri mereka suatu hayat tertentu. Semua orang yang mengenal mereka mengakui bahwa ada sesuatu telah digarapkan ke dalam diri mereka. Mereka bukan hanya memiliki hayat yang diberikan kepada mereka oleh Allah, tetapi juga memiliki hayat yang berubah, yang digarapkan oleh Roh Kudus ke dalam diri mereka. Mereka tidak hanya memperhidupkan hayat yang telah digantikan, bahkan memperhidupkan hayat yang telah diubah. Inilah batu permata. Batu permata adalah sesuatu yang telah terbentuk di dalam kita melalui pekerjaan pembakaran Roh Kudus. Yerusalem Baru akan dipenuhi dengan batu-batu permata ini.
Sampai di sini, kita harus tahu betapa tidak bergunanya jika hanya memberikan penekanan pada doktrin saja. Kita tidak boleh berpikir bahwa sangatlah baik jika kita dapat mengetahui lebih banyak teologi atau pengajaran Alkitab. Ini tidak banyak gunanya. Hanya apa yang dibakar oleh Roh Kudus ke dalam diri kita itu yang berharga. Jika sesuatu gambar pada keramik belum dibakar sehingga melekat pada bendanya, sedikit saja gosokan akan menghapus gambar itu. Jika demikian, nilai rohani apa yang ada di dalam kita, jika dengan sedikit gosokan saja sudah dapat menghapusnya? Ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu membaca Alkitab kita, tetapi hanya jika Roh Kudus membakar dalam diri kita, maka apa yang kita baca itu ada nilainya. Semua batu permata keluar dari api. Untuk memiliki batu permata, kita membutuhkan api. Tanpa api, tidak akan ada batu permata.
Karena itu, kita tidak dapat menolak pengujian yang menimpa kita melalui situasi sekeliling; kita tidak dapat menolak pendisiplinan Roh Kudus; kita tidak dapat mengeluh jika tangan Allah melingkari dan menutupi kita dari segala arah. Betapa sering kita merasa terikat dan tertekan! Betapa kita ingin menerobos semua perhambaan dan pembatasan dan dilepaskan untuk sesaat. Tetapi kita harus ingat bahwa kita berada dalam tangan pembentukan Allah. Ia sedang membentuk kita, agar suatu hari nanti kita akan terbentuk sebagai batu permata. Allah bukan hanya memberikan hayat-Nya kepada kita, Ia juga bekerja di dalam diri kita sedemikian rupa, supaya kita memiliki kualitas yang istimewa. Inilah yang sedang dibentuk oleh Roh Kudus di dalam diri kita melalui segala macam keadaan yang Allah izinkan, dan inilah yang disebut batu permata. Jadi, hanya memiliki pengetahuan atau doktrin saja tidaklah berguna. Hanya apa yang dibakar oleh Roh Kudus ke dalam diri kita baru ada nilainya. Jika seorang Kristen telah dibakar menjadi sesuatu, barulah berita-berita yang dikhotbahkannya tidak akan berasal dari buku, melainkan benarbenar diketahuinya. Hanya apa yang telah dibakar ke dalam kita oleh Roh Kudus adalah batu permata. Jika tidak, itu adalah kayu dan jerami.
Kadang-kadang, ketika kita duduk di hadapan seseorang yang lebih matang, kita merasa bahwa inilah orang yang sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan. Ada satu hayat di dalam dirinya yang memberi ciri kepadanya; ini telah menjadi sifatnya yang khas. Kita hanya dapat tunduk di hadapannya. Mungkin ada orang-orang lain yang memiliki pelayanan yang lebih besar daripada orang tadi, dan juga orang-orang lain yang telah melakukan pekerjaan yang lebih besar, tetapi orang ini memiliki hayat yang berkelimpahan; sesuatu telah dibentuk di dalam dirinya oleh Roh Kudus. Ia memiliki kualitas yang istimewa, sesuatu yang telah keluar dari api; ia adalah batu permata. Di hadapan orang semacam ini, kita hanya dapat tunduk dan mengatakan, “Sungguh aku berharap bahwa aku juga boleh memiliki ‘sesuatu’ yang bisa menggerakkan orang.” Bukan kata-katanya yang menggerakkan orang, melainkan “sesuatu” yang telah melewati api itu.
Di Yerusalem Baru ada batu-batu permata. Tanpa batu-batu permata ini, tidak mungkin ada Yerusalem Baru. Allah membutuhkan batu-batu permata. Ia membutuhkan sekelompok orang yang menampilkan kualitas batu permata. O, semoga Allah melepaskan kita dari kedangkalan! Hanya apa yang digarap oleh Roh Kudus dalam hidup kita baru bernilai, baru berguna.
Wahyu 21:21 melanjutkan, “Kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: Setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara . . .” Yerusalem Baru bukan hanya terdiri dari emas murni dan batu permata, tetapi juga mutiara. Mutiara tidak terbentuk melalui pembakaran, melainkan hasil dari pembentukan yang bertahap dalam binatang laut yang terluka. Karena itu, arti dari mutiara adalah hayat yang keluar dari kematian. Mutiara melambangkan hayat yang dibebaskan oleh Tuhan Yesus dalam aspek kematian-Nya yang non-penebusan.
Matius 13:45-46 juga berbicara tentang mutiara. “Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” Mengacu kepada apakah mutiara ini? Mutiara mengacu kepada gereja, yang telah dibentuk Tuhan dari kematian-Nya. Ia rela menjual segala sesuatu yang dimiliki-Nya untuk membeli mutiara ini. Mutiara melambangkan sesuatu yang positif, bukan sesuatu yang negatif. Gereja adalah manusia baru yang ingin diciptakan oleh Allah. Dalam manusia ini tidak ada masalah dosa, tidak ada masalah penebusan. Ia rela menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan mutiara ini. Ini menunjukkan kepada kita bahwa hayat yang sepenuhnya berasal dari Kristus, sangat dihargai oleh Allah, juga sangat dihargai oleh Kristus. Dalam Yerusalem Baru, mutiara berfungsi sebagai pintu gerbang kota. Ini berarti, segala sesuatu yang berasal dari Allah dimulai di sini. Dengan kata lain, agar manusia mendapatkan hayat di hadapan Allah, hayat itu tidak boleh sesuatu yang berasal dari manusia, melainkan dari kematian Kristus, aspek kematian Kristus yang non-penebusan.
Satu Korintus 3:12 memberi tahu kita bahwa pembangunan rohani harus memiliki bahan-bahan emas, perak, dan batu permata; bukan kayu, rumput, atau jerami. Dalam 1 Korintus 3 terdapat emas, perak, dan batu permata; tetapi dalam Kejadian 2, di Taman Eden, terdapat emas, batu permata, dan mutiara; tidak ada perak. Kemudian dalam Wahyu 21, di Yerusalem Baru, sekali lagi ada emas, batu permata, dan mutiara, dan tidak ada perak. Apa artinya ini? Emas, batu permata, dan mutiara — ketiga unsur ini — didapatkan baik di Taman Eden maupun di Yerusalem Baru. Ini berarti bahwa emas, batu permata, dan mutiara itu ada dari kekekalan sampai kekekalan. Dalam kekekalan, Allah tidak menetapkan perak, karena perak melambangkan penebusan. Allah tahu bahwa manusia akan berdosa dan membutuhkan penebusan, tetapi itu bukanlah rencana-Nya yang kekal. Dalam pekerjaan Allah ada penebusan, tetapi dalam tujuannya yang kekal tidak ada penebusan. Karena itu, Yerusalem Baru dalam hal ini sama dengan Taman Eden — tidak ada perak. Ini berarti bahwa dalam kekekalan yang akan datang, kita akan dibawa ke sebuah tempat di mana tidak ada jejak dosa sedikit pun. Tetapi, hari ini kita tidak dapat mengabaikan atau memandang rendah perak. Jika seseorang berpikir bahwa hari ini ia tidak membutuhkan perak, ia perlu mohon belas kasihan Allah. Hari ini kita tidak dapat tanpa perak. Jika hari ini kita tidak memiliki perak, kita tidak memiliki penebusan, dan kita tidak dapat melakukan apa pun. Tetapi penebusan tidak ada dalam tujuan Allah. Dalam Yerusalem Baru, kita tidak akan menemukan benda seperti perak. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah akan menghapuskan semua sejarah dosa, karena penebusan tidak termasuk dalam kota itu. Dalam Yerusalem Baru, manusia tidak membutuhkan penebusan lagi, karena mereka tidak akan berdosa lagi. Allah akan membawa kita ke suatu tahap yang sangat dapat diandalkan sehingga kita tidak mungkin jatuh lagi. Ada satu hayat di dalam diri kita yang tidak ada kaitannya dengan dosa dan tidak membutuhkan penebusan. Hayat di dalam kita itu berasal dari Kristus dan adalah Kristus sendiri. Karena Kristus sendiri tidak membutuhkan penebusan, kita yang memiliki sebagian dari hayat-Nya juga tidak membutuhkan penebusan. Jadi, dalam kekekalan tidak dibutuhkan perak.
Syukur kepada Allah, kita mendapatkan penebusan-Nya hari ini. Syukur kepada Allah, walaupun kita berdosa, darah Yesus Kristus Anak-Nya membersihkan kita dari segala dosa. Di pihak lain, Allah telah membagikan kepada kita hayat Anak-Nya, hayat yang tidak membutuhkan penebusan untuk selamanya. Suatu hari, kita akan sepenuhnya hidup dengan hayat ini dan sejarah dosa akan berlalu. Perak yang menebus tidak akan memiliki arti lagi. Kita harus nampak bahwa kejatuhan, penebusan, dan Kerajaan bukan tujuan Allah. Kejatuhan tidak ada dalam tujuan Allah, ini adalah sesuatu yang terjadi dalam perjalanan. Penebusan tidak ada dalam tujuan Allah, ini adalah pemberesan terhadap kejatuhan. Dan Kerajaan juga tidak ada dalam rencana Allah; Kerajaan ini juga merupakan pemberesan terhadap kejatuhan. Karena kejatuhan maka ada penebusan, dan karena kejatuhan maka ada Kerajaan. Semua ini hanya penyelamatan untuk perbaikan dan tidak ada dalam rencana Allah. Kami tidak meremehkan penebusan dan Kerajaan. Jika tidak ada penebusan, tidak akan ada cara untuk membereskan masalah kejatuhan. Demikian juga, jika tidak ada Kerajaan, masalah kejatuhan tidak dapat dibereskan. Walaupun demikian, kita harus ingat bahwa Allah tidak menciptakan manusia supaya manusia itu berdosa. Allah menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya sendiri. Garis ini lurus; garis surgawi ini lurus.
Ayat 21 melanjutkan, “Jalan-jalan kota itu dari emas murni . . .” Jalan adalah tempat untuk persekutuan. Dan karena jalan kota ini dari emas murni, orang-orang yang berjalan di atasnya tidak akan pernah kotor. Hari ini, mereka yang sudah mandi masih perlu mencuci kaki-kaki mereka (Yoh. 13:10) untuk memelihara persekutuan mereka dengan Allah. Jika kita berjalan di jalan dunia ini, kita tidak dapat menghindari melekatnya debu, dan dengan demikian persekutuan kita dengan Allah akan terganggu. Tetapi pada hari itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengotorkan kita; tidak ada sesuatu pun dapat mengganggu persekutuan kita dengan Allah. Dalam kekekalan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskan kita; semua kehidupan akan menjadi kudus.
Akhir dari ayat 21 memberi tahu kita bahwa kota itu “bagaikan kaca bening”. Betapa banyaknya yang tidak bening dalam situasi kita hari ini! Tetapi di masa yang akan datang, di hadapan Allah, kita semua akan menjadi bening. Walaupun demikian, hari ini, kita tidak seharusnya memiliki banyak tempat persembunyian, banyak selubung. Kita tidak seharusnya berpura-pura saleh di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian mereka. Kemunafikan, kepura-puraan, selubung — tidak satu pun yang bening. Jika kondisi kita yang sesungguhnya tidak begitu baik, tetapi kita berpura-pura sangat baik, maka kita tidak bening. Banyak kali kata-kata dan tindakan kita tidak wajar. Kita menirukan orang lain dalam berbicara, dalam bertingkah laku, dan dalam melakukan sesuatu. Dalam banyak hal kita meniru orang lain dan tidak menjadi diri kita sendiri. Ini tidak bening. Segala kepalsuan dan imitasi tidak bening. Kita tidak perlu hidup di hadapan Allah dengan kekudusan yang dibuat-buat. Kita harus ingat bahwa kerohanian yang benar adalah memikul salib. Kekudusan yang terikat dan dibuat-buat bukan kekudusan Roh Kudus. Segala sandiwara dan kepura-puraan harus disingkirkan.
Karena itu, ada banyak hal yang perlu kita akui. Di antara saudara saudari kita perlu belajar saling mengakui dosa dan tidak menutupi dosa. Jika kita telah berdosa kepada orang lain, kita tidak boleh berusaha untuk mencari-cari alasan, sebaliknya kita harus mengakuinya. Tidak seorang Kristen pun yang boleh tidak bening, karena pada hari itu, di hadapan Allah, kita semua akan bening. Jalan di Yerusalem Baru bening seperti kaca. Segalanya tertampak jelas. Karena pada hari itu keadaannya akan sedemikian, maka hari ini kita harus belajar menjadi orang-orang semacam itu — orang-orang yang bening, yang tidak berpura-pura.
BAIT SUCI DAN CAHAYA KOTA
Wahyu 21:22 mengatakan, “Aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.” Kata-kata ini sangat berharga! Kita tahu bahwa di Yerusalem dalam Perjanjian Lama ada Bait Suci. Jika manusia ingin bersekutu dengan Allah pada waktu itu, ia harus pergi ke Bait Suci. Bait Suci merupakan tempat yang khusus disediakan untuk Allah, dan ke tempat itulah manusia harus pergi untuk bersekutu dengan Allah. Tetapi dalam Yerusalem Baru tidak ada Bait Suci, karena Allah dan Anak Domba adalah Bait Suci kota itu. Ini berarti bahwa persekutuan antara Allah dan manusia pada hari itu akan akrab dan langsung, berhadap-hadapan. Manusia tidak perlu lagi pergi ke suatu tempat tertentu untuk bersekutu dengan Allah.
Dalam Perjanjian Lama ada sebuah tirai di Bait Suci. Tidak seorang pun dapat melewati tirai ini dan menghadap ke hadirat Allah, kecuali Imam Besar, dan itu hanya sekali setahun. Hari ini di dalam gereja, tirai itu telah koyak. Sekarang kita semua dapat menghadap hadirat Allah untuk menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Tetapi pada hari itu, Allah dan Anak Domba akan menjadi Bait Suci kota. Kita tidak perlu pergi kepada Allah, Ia akan ada di tempat kita berada. Hari ini kita pergi kepada Allah, tetapi pada hari itu kita akan hidup di hadapan-Nya. Allah dan Anak Domba adalah Bait Suci kota. Karena itu, jika kita tidak belajar untuk hidup di tempat maha kudus hari ini, kita adalah orang-orang yang paling bodoh. Hari ini tabir telah terkoyak, dan kita dapat masuk ke tempat maha kudus dengan penuh keberanian. Kita tidak perlu tinggal di luar.
Ayat 23, “Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya tentang Bait Suci. Allah dan Anak Domba adalah Bait Suci kota dan kemuliaan Allah menerangi kota itu. Karena itu, matahari atau bulan tidak perlu bersinar. Kita tahu bahwa pada Bait Suci dalam Perjanjian Lama, serambi luar diterangi oleh matahari dan bulan, dan tempat kudus diterangi oleh cahaya kaki pelita. Tetapi di tempat maha kudus tidak ada jendela; cahaya matahari dan bulan tidak dapat masuk ke dalamnya. Juga tidak ada kaki pelita seperti di tempat kudus. Tetapi kemuliaan Allah meneranginya. Walaupun demikian, Yerusalem Baru tidak diterangi oleh matahari atau bulan, melainkan oleh kemuliaan Allah. Hal ini menyatakan kepada kita bahwa seluruh kota akan menjadi tempat maha kudus. Gereja pada masa yang akan datang akan menjadi tempat maha kudus.
“Anak Domba itu adalah lampunya.”Kemuliaan Allah adalah terang dan Anak Domba adalah lampunya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa di Yerusalem Baru masih ada sesuatu yang tidak langsung. Allah sebagai terang akan bersinar melalui Anak Domba sebagai lampu. Ini tidak mengacu kepada penebusan, tetapi sebuah indikasi bagi kita bahwa tidak seorang pun dapat mengenal Allah secara langsung. Jika seseorang ingin mengenal Allah, ia harus mengenal-Nya melalui Anak Domba — hal ini tetap demikian, bahkan dalam kekekalan. Hanya melalui Kristus, manusia dapat mengenal Allah. Terlepas dari lampu, kita tidak dapat melihat terang; demikian pula, tanpa Kristus kita tidak dapat melihat Allah. Apa pun situasinya, Allah tetap tinggal dalam terang yang tidak dapat didekati. Hanya jika kita ada di dalam Kristus, kita dapat melihat-Nya.
Ayat 24, “Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kemuliaan mereka kepadanya” (Tl.). Kita harus memperhatikan satu hal di sini. Semua orang yang didapatkan Allah pada zaman nenek moyang, zaman Hukum Taurat, dan zaman kasih karunia, pada hari itu akan bersama-sama menjadi pengantin perempuan yang akan dipersembahkan kepada Kristus. Bahkan semua orang yang masih hidup pada akhir zaman kerajaan dan tidak tertipu oleh Iblis, akan dialihkan untuk menjadi rakyat di bumi yang baru. Orang-orang ini adalah bangsa-bangsa yang disebutkan dalam ayat 24. Semua orang yang hidup di kota akan memiliki tubuh yang telah bangkit; mereka adalah anak-anak, adalah raja-raja. Tetapi orang-orang yang ada di bumi yang baru akan tetap memiliki tubuh daging dan darah; mereka adalah orang-orang dan bangsa-bangsa di bumi ini. Raja-raja di bumi ini adalah orang-orang yang memerintah bangsa-bangsa.
Dalam Perjanjian Lama, Kemah Pertemuan diatur demikian: Kemah Pertemuan di tengah-tengah, tiga suku di sebelah Timur, tiga suku di sebelah Barat, tiga suku di sebelah Selatan, dan tiga suku di sebelah Utara. Ini tercatat dalam kitab Bilangan. Posisi Yerusalem Baru serupa dengan posisi Kemah Pertemuan Allah. Tembok kota ini memiliki tiga pintu gerbang pada setiap arah: di sebelah Timur, di sebelah Barat, di sebelah Selatan, dan di sebelah Utara — jumlahnya dua belas pintu gerbang. Seperti kedua belas suku itu diam di sekitar Kemah Pertemuan, demikian juga bangsa-bangsa itu akan diam di sekitar Yerusalem Baru. Fakta bahwa bangsa-bangsa akan “berjalan” dalam terang kota itu berarti bahwa bangsa-bangsa di bumi akan datang ke Yerusalem Baru, dan perjalanan mereka ke Yerusalem akan dibimbing oleh terang kota itu.
“Kemuliaan” yang akan dibawa oleh raja-raja mengacu kepada kemuliaan yang menjadi milik raja-raja bumi. Mereka akan memberikan kepada kota itu kemuliaan dari daerah mereka. “Kemuliaan” di sini memiliki arti yang sama dengan “kemuliaan” dalam Kejadian 31:1. Ini berarti hasil terbaik dari setiap tanah. Dengan kata lain, di bumi yang baru raja-raja bumi akan membawa hasil terbaik dari daerah-daerah mereka dan mempersembahkannya sebagai hadiah ke kota yang kudus itu.
Ayat 25, “Dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup sepanjang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana.” Tidak ditutupnya pintu-pintu gerbang itu pada siang hari menyatakan kepada kita bahwa di langit dan bumi yang baru masih ada perbedaan antara siang dan malam. Bangsa-bangsa dapat datang ke kota itu pada waktu siang. Tetapi “malam tidak akan ada lagi di sana” — di kota itu tidak akan ada malam. Karena semua orang yang ada di kota itu memiliki tubuh yang telah dibangkitkan, mereka tidak akan pernah merasa lelah; mereka dapat melayani Allah secara terus-menerus siang dan malam.
Ayat 26, “Dan kemuliaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya” (Tl.). Ini mengacu kepada raja-raja dalam ayat 24. Raja-raja bumi bukan hanya akan membawa kemuliaan mereka ke kota itu, mereka akan membawa kemuliaan dan hormat bangsa-bangsa kepadanya.
Ayat 27, “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, melainkan hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.” “Najis” dalam bahasa aslinya berarti umum atau biasa. Segala sesuatu yang berasal dari manusia dan bersifat daging itu umum atau biasa. Karena itu, segala milik manusia dan daging tidak dapat masuk ke kota itu. Hanya apa yang berasal dari Kristus dan Roh Kudus dapat masuk; segala sesuatu yang lain tidak dapat masuk. “Orang yang melakukan kekejian” dalam Alkitab secara khusus mengacu kepada penyembahan berhala, dan “yang melakukan dusta” mengacu kepada hubungan dengan Iblis. Segala sesuatu yang berkaitan dengan berhala atau dosa tidak dapat masuk ke dalam kota itu. Hanya mereka yang namanya tertulis dalam kitab Anak Domba dapat masuk.
Dalam langit dan bumi yang baru, hanya akan ada dua macam penduduk: Yang pertama adalah mereka yang telah diselamatkan oleh darah — mereka tinggal di kota itu dan nama mereka tertulis dalam kitab hayat. Yang lainnya adalah mereka yang akan dialihkan dari Kerajaan Seribu Tahun — mereka akan terus hidup dan menjadi penduduk bumi yang baru. Nama-nama mereka juga tertulis dalam kitab hayat, tetapi mereka tidak akan tinggal di dalam kota. Mereka hanya dapat keluar masuk kota itu.
SUNGAI AIR HAYAT DAN POHON HAYAT
Kita harus melihat apa yang akan ditunjukkan Allah kepada kita pada akhirnya. Pasal 22:1-2 mengatakan, “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan (hayat), yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon kehidupan yang berbuah dua belas macam, tiap-tiap bulan sekali; dan daun-daun pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa” (Tl.). Kita harus ingat Wahyu 2:7 mengatakan, “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Kita nampak di sini bahwa pohon hayat ditanam di Taman Firdaus Allah. Tetapi karena pohon hayat itu ada di dalam kota, ini memberi tahu kita bahwa Yerusalem Baru itu adalah Taman Firdaus Allah.
Mengenai kitab Kejadian, kita ingat bahwa dalam Kejadian 2, Allah menciptakan laki-laki sebagai lambang Kristus dan perempuan sebagai lambang gereja yang ingin didapatkan-Nya. Allah kemudian menempatkan mereka, suami istri, di Taman Eden. Jadi sekarang ada laki-laki, perempuan, dan Taman Eden. Kemudian dalam Kejadian 3, Iblis datang dan mereka jatuh, dan sebagai akibatnya, Allah mengusir mereka dari taman itu. Sekarang, dalam Wahyu 21, siapakah yang ada di Yerusalem Baru? Ada Anak Domba, yang dilambangkan Adam dalam Kejadian 2; Ia sepenuhnya untuk Allah. Dan ada istri Anak Domba, yang dilambangkan oleh Hawa dalam Kejadian 2; dan ia sepenuhnya untuk Kristus. Yerusalem Baru adalah istri Anak Domba dan Taman Firdaus Allah. Dalam Kejadian 2 ada tiga unsur: Adam, Hawa, dan Taman. Tetapi dalam Wahyu 21 dan 22 hanya ada dua — Anak Domba dan kota. Kota itu adalah Pengantin Perempuan, juga adalah Taman Firdaus; perempuan dan Taman Firdaus itu telah menjadi satu. Perempuan dalam Kejadian dapat diusir, sedangkan perempuan pada akhir kitab Wahyu tidak lagi dapat diusir.
Ada orang mungkin merasa khawatir dan bertanya, “Apa yang akan terjadi dalam kekekalan? Bagaimana jika Iblis datang lagi — apa yang akan kita lakukan?” Kita dapat menjawab bahwa itu tidak mungkin terjadi lagi, karena dalam kekekalan Allah sendiri akan tinggal di kota kudus itu. Puji Tuhan! Yang dibangunnya dalam Kejadian adalah sebuah taman, taman yang tidak memiliki tembok dan tidak dijaga dengan baik — itulah sebabnya ular dan dosa dapat masuk. Tetapi yang akhirnya didapatkan Allah adalah sebuah kota untuk perlindungan. Kota ini tidak mungkin terlibat dalam kejatuhan. Di sini perempuan dan Taman Firdaus sangat erat hubungannya sehingga tidak sesuatu pun dapat memisahkan mereka lagi. Mulai saat itu, perempuan ini tidak dapat diusir keluar dengan cara apa pun.
Wahyu 22:1 mengatakan bahwa di tengah-tengah jalan kota itu ada sungai air hayat (Tl.). Dalam Kejadian ada empat sungai, dua di antaranya selalu menindas anak-anak Allah. Babel dibangun di atas sungai Pison, dan Niniwe di atas sungai Tigris (Hiddekel). Anak-anak Allah selalu dianiaya oleh kedua sungai ini. Tetapi dalam Yerusalem Baru hanya ada satu sungai — sungai air hayat. Sungai ini memberikan hayat dan sukacita kepada manusia. Mazmur 46:5 mengatakan, “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.” Sungai ini secara khusus memberikan sukacita kepada Allah. Dan air sungai ini keluar “dari takhta Allah dan Anak Domba.” Takhta di sini berbentuk tunggal, karena Allah dan Anak Domba itu duduk di atas satu takhta. Ini berarti bahwa pemerintahan Kristus adalah pemerintahan Allah.
Ayat 2, “Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon kehidupan yang berbuah dua belas macam, tiap-tiap bulan sekali . . .” Sekali lagi, di sini digunakan angka dua belas. Apa artinya pohon itu mengeluarkan dua belas macam dan menghasilkan buahnya setiap bulan? Inilah cara untuk mengatakan bahwa semuanya puas, dan kepuasan itu kekal. Setiap bulan ada hayat. Dalam kekekalan, kita akan terus mengenal Kristus, dan kita akan terus menerima hayat Tuhan tanpa gangguan apa pun — tidak ada satu bulan pun tanpa buah. Ini berarti, tidak akan ada kemunduran. Hari ini kita nampak sesuatu yang menyedihkan. Itulah yang ditunjukkan oleh Alkitab sebagai penilaian manusia. Manusia yang berusia dua puluh sampai enam puluh tahun diberi penilaian tertentu, tetapi untuk mereka yang berusia di atas enam puluh tahun nilainya diturunkan (Im. 27:3, 7). Inilah yang kita sebut kemunduran. Tetapi dalam kekekalan tidak ada kemunduran; akan ada hayat baru dan buahbuah baru setiap bulan.
Walaupun demikian, sebelum Yerusalem Baru tiba, kita perlu mencari pengalaman yang baru setiap bulan. Pengalaman khusus yang kita alami pada usia dua puluh tahun tidak baru lagi, dan itu juga tidak dapat membantu kita hari ini. Demikian juga pengalaman lima tahun lalu tidak mungkin tetap segar atau berguna bagi kita sekarang. Kita tidak dapat hidup dengan buah-buah pohon hayat dari bulan-bulan yang lalu. Setiap bulan kita harus terus mendapatkan buah-buah segar. Secara terus-menerus, di hadapan Allah kita harus menerima hayat, kita harus menerima Kristus. Dan kita bukan hanya membutuhkan buah setiap bulan, tetapi buah yang berbeda setiap bulan. Kita tidak akan merasa puas memiliki hanya satu bagian kecil saja, bagian tertentu, di hadapan Allah. Kita harus belajar mengenal Tuhan dalam banyak aspek; kita harus menghasilkan berbagai macam buah.
Ayat 2 melanjutkan, “Dan daun-daun pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.” Buah melambangkan hayat; daun-daun, “pakaian” pohon, melambangkan tingkah laku kita yang lahiriah. Alasan Tuhan Yesus mengutuk pohon ara adalah karena pohon itu hanya memiliki daun; tidak ada buahnya. Ia hanya memiliki tingkah laku lahiriah tanpa hayat batini. Dalam langit dan bumi yang baru, bangsa-bangsa tidak akan mengalami dosa, kematian, kepedihan, kutukan, atau setan. Sekelompok orang ini, bangsa-bangsa, akan terus hidup di bumi dengan kota kudus itu di tengah-tengahnya. Disembuhkannya mereka oleh daun-daun dari Tuhan Yesus berarti perbuatan Tuhan Yesus akan menjadi teladan mereka. Apa yang akan kita dapatkan adalah buah-buah pohon hayat, dan yang mereka dapatkan adalah daun-daun. Dengan mengikuti tingkah laku Tuhan Yesus, mereka akan dimampukan untuk terus hidup dalam kesejahteraan, dan dengan demikian bangsabangsa akan hidup bersama dalam damai dan berkat.
Dalam ayat-ayat ini, sungai air hayat, dan pohon hayat menjadi satu. Dalam Yerusalem Baru, di mana ada jalan, di sana ada sungai air hayat, dan di mana ada sungai air hayat, di sana ada pohon hayat. Dengan kata lain, di mana ada aktivitas, di sana ada sungai air hayat dan pohon hayat. Ini berarti, ketika kita belajar untuk mengikut Allah, semua tingkah laku kita harus mencakup dalam sungai air hayat dan pohon hayat. Jalan adalah tempat orang-orang bergerak. Untuk bergerak, kita perlu memusatkan semua aktivitas kita pada pohon hayat, bukan pada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Ketika hayat di dalam diri kita menggerakkan aktivitas, hasilnya adalah aliran sungai air hayat dalam Roh. Dan mengalirnya hayat itu adalah jalan kita. Jika hayat Tuhan Yesus tidak bergerak di dalam diri kita, kita tidak dapat berjalan. Jika tidak ada hayat Tuhan, jika tidak ada aliran sungai hayat di dalam Roh, kita tidak dapat bergerak. Jika menurut kebijaksanaan kita, kita menghakimi bahwa suatu cara bertindak itu baik atau buruk, kita menanam pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, bukan pohon hayat. Tetapi jika kita bertindak menurut gerakan hayat di dalam batin, hasilnya adalah air hayat itu mengalir kepada orang-orang lain. Semua hal ini berkaitan. Semua pekerjaan Allah didasarkan pada pohon hayat dan menghasilkan sungai air hayat.
SELAMA-LAMANYA
Ayat 3 mengatakan, “Tidak akan ada lagi yang terkutuk . . .” Syukur kepada Allah, Kejadian 3 akan berlalu sepenuhnya, dan selama-lamanya tidak akan ada lagi kutukan. Segala sesuatu yang diceritakan dalam Kejadian 3 dapat diringkas dalam kata “kutukan”. Bahkan kematian adalah semacam kutukan. Tetapi di langit dan bumi yang baru tidak akan ada lagi kutukan, demikian juga tidak akan ada kematian. Seluruh sejarah dosa akan berlalu, manusia bisa dengan baik memuliakan Allah.
Ayat 3 melanjutkan, “Takhta Allah dan Anak Domba akan ada di dalamnya.” Situasinya di sini tidak seperti dalam Kejadian 3, di mana Allah berjalan-jalan di taman pada waktu hari sejuk. Di sini Allah memerintah; takhta-Nya terletak di sini. Sekarang taman itu telah menjadi kota, tempat di mana Allah duduk bertakhta.
Ayat 3 melanjutkan lagi, “Dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya.” Apa yang akan dilakukan hamba-hamba Allah dalam kekekalan? Mereka akan melayani-Nya. Kita tidak boleh berpikir bahwa dalam kekekalan kita tidak akan mengerjakan apa-apa. Tidak, kita akan menjadi hamba-Nya untuk selamanya, melayani-Nya.
Ayat 4, “Dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.” Semua pekerjaan kita untuk Allah harus dipimpin oleh persekutuan. Pelayanan yang sejati untuk Tuhan ada dalam persekutuan. Melayani saja tidak cukup; harus ada persekutuan. Mereka akan melayani-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya. O, betapa sering ketika kita memandang Allah, kita telah melakukan pekerjaan-Nya. Tetapi saya katakan kepada Anda, setelah kita melihat Allah, kita baru dapat melakukan pekerjaan-Nya. Bukannya sambil melakukan pekerjaan, sambil terus-menerus menyesal; ini tidak ada persekutuan. O, semoga Allah menyelamatkan kita dari semua pelayanan yang bukan dalam persekutuan, dan semoga Ia menyelamatkan kita dari suatu pekerjaan yang kita tidak dapat bersekutu sesudahnya. Kita tidak boleh merasa sombong, puas akan diri sendiri, atau merasa mampu berdikari setelah menyelesaikan pekerjaan itu. Semoga Allah menyelamatkan dan melepaskan kita dari segala macam pelayanan yang tidak berasal dari persekutuan dan bukan dalam persekutuan, dan semoga Ia memampukan kita untuk tetap dalam persekutuan, bahkan setelah kita menyelesaikan pekerjaan itu. Hamba-hamba Allah bukan hanya memiliki persekutuan dengan Allah, bahkan “nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.” Inilah kesaksian mereka; inilah yang akan tertampak oleh orang-orang yang memandang mereka. Setiap orang akan mengetahui bahwa orang-orang ini adalah milik Allah.
Ayat 5, “Malam pun tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka . . .” Di kota ini, malam tidak ada lagi. Lampu adalah buatan manusia, dan matahari adalah terang yang alamiah. Segala pekerjaan manusia dan segala yang alamiah tidak akan lagi berguna. Segala sesuatu akan terlihat jelas di sana. Hari ini kita mungkin kabur, samar-samar, dan tidak nampak dengan jelas; bahkan setelah kita menyelesaikan pelayanan tertentu, kita mungkin tidak tahu bagaimana. Tetapi pada hari itu keadaannya tidaklah demikian.
Bagian kalimat yang terakhir dari ayat 5 adalah yang paling penting dari semuanya, “Dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Inilah tujuan Allah dalam penciptaan. Dalam Kejadian, tujuan Allah adalah agar manusia memerintah, dan sekarang Ia telah mencapai tujuan itu — manusia memerintah. Ini bukan sesuatu yang terjadi dalam Kerajaan Seribu Tahun. Ayat-ayat Alkitab ini, Wahyu 21 dan 22, bukan sebuah gambaran tentang Kerajaan Seribu Tahun, melainkan kekekalan. Mereka akan memerintah sampai kekekalan, mereka akan memerintah untuk selama-lamanya. Tujuan Allah yang mula-mula tercapai.
Allah ingin manusia menguasai bumi dan menghancurkan Iblis. Sekarang manusia memerintah, dan Iblis telah dilemparkan ke dalam lautan api. Tujuan Allah atas manusia yang diciptakan-Nya telah tercapai! Di satu pihak, Allah menginginkan manusia menjadi seperti diri-Nya, di pihak lain, pekerjaan yang ditentukan Allah bagi manusia adalah agar ia memerintah. Sekarang kita telah nampak pengantin perempuan — emas, mulia, dan indah — dengan segala macam harta mustika di dalamnya. Ia tidak kekurangan apa-apa dan sesungguhnya tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu; ia kudus dan tidak bercela! Ia benar-benar diselubungi oleh kemuliaan. Gereja yang mulia yang dibicarakan dalam Efesus 5 telah digenapi dengan cara demikian. Bagaimana dengan pekerjaan mereka? Mereka akan memerintah untuk selama-lamanya.
Kita bisa berkata bahwa boleh saja rencana Allah diganggu, tetapi rencana-Nya tidak mungkin dapat dihentikan. Memang benar bahwa sejak penciptaan, pekerjaan Allah telah diganggu banyak kali. Dalam kenyataannya, nampaknya seolah-olah pekerjaan-Nya sedang dihancurkan dan rencana-Nya tidak mungkin berhasil. Tetapi di sini, Allah telah mencapai tujuan-Nya. Di sini, ada sekelompok orang yang penuh dengan emas murni, yang berasal dari Allah. Mereka penuh dengan mutiara, yang adalah pekerjaan Kristus. Dan mereka penuh dengan batu permata, pekerjaan Roh Kudus. Mereka akan memerintah untuk selamalamanya!
Kita telah melihat tujuan Allah dan bagaimana Ia bekerja, lalu, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita mengadakan kebangunan rohani? Haruskah kita membuka Sekolah Alkitab? Atau haruskah kita kembali mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa? Sebenarnya, apa yang sedang kita lakukan di sini? Allah sedang melakukan hal yang sangat besar itu. Jika kita membandingkan pekerjaan kita dengan pekerjaan-Nya, betapa kita merasa kecil! Semoga Allah memberikan kasih karunia kepada kita, sehingga setelah kita nampak visi ini, kita akan membayar harga sepenuhnya. Begitu seseorang telah melihat visi, ia akan berubah. O, semoga Allah memberi kita visi mengenai apa yang sedang dilakukan-Nya dan apa yang dituntut-Nya. Semoga Ia menunjukkan kepada kita orang-orang seperti apakah yang ingin didapatkan-Nya, dan betapa berharganya orang-orang yang telah dipilih-Nya. Jika kita nampak perkara-perkara ini, kita akan mengatakan, “Betapa kecilnya aku! Betapa aku sangat mementingkan diri sendiri!” Dan kita akan berkata, “Jika Allah tidak bekerja di dalam diriku, aku tidak mungkin dapat melakukan pekerjaan Allah. Hanya ketika Allah sendiri bergerak di dalamku dengan kekuatan-Nya yang besar, aku dapat maju ke depan dengan baik.” Visi yang besar ini harus merubuhkan kita. Visi ini harus membuat kita nampak bahwa kondisi kita hari ini tidak mungkin memuaskan hati Allah. Harapan kita adalah agar Allah memberikan visi ini kepada kita. Jika kita telah nampak visi ini satu kali, kita akan memberikan segalanya; setiap bagian diri kita akan diubah. Hari ini kita sedang berdiri di antara dua alternatif — menjadi orang yang menang atau orang yang kalah.Karena itu, tidak seorang pun di antara kita yang boleh kendur dalam doa. Jika kita lalai berdoa, kita tidak mungkin menjadi pemenang-pemenang Allah.
Semoga Tuhan Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati, Gembala domba yang agung itu, menopang dan membimbing kita dengan kuat kuasa-Nya sendiri, supaya mulai hari ini hingga selamanya kita menjadi milik-Nya, mempersembahkan diri untuk-Nya, melayani-Nya, menempuh jalan-Nya. Semoga Tuhan merahmati kita, dari sekarang sampai selamanya. Amin.