NUBUAT TENTANG KEMEROSOTAN GEREJA
Pembacaan Alkitab: 1 Tim. 4:1-5
Dalam berita ini kita akan melihat nubuat tentang kemerosotan gereja sebagaimana disajikan dalam 4:1-5.
I. NUBUAT ROH
Dalam 4:1 Paulus berkata, “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” Fakta bahwa ayat ini dimulai dengan kata “tetapi”, menunjukkan bahwa kata-kata selanjutnya berlawanan dengan yang disebutkan dalam 3:16. Pada akhir pasal 3, Paulus mencapai pokok masalah dari keempat Surat Kiriman ini: 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon yang menyajikan gambaran mulia tentang gereja. Akan tetapi, dalam 4:1-5, ia menerangkan sesuatu yang sangat gelap, yang sangat kontras dengan situasi dalam 3:15-16.
Dalam 4:1 Paulus menggunakan ungkapan, “Roh dengan tegas mengatakan”. Ini adalah Roh itu yang tinggal di dalam roh kita dan berbicara kepada kita dari dalam roh kita (Rm. 8:9-11, 16). Untuk mendengar perkataan Roh itu dan agar terhindar dari roh penyesat dan ajaran setan-setan, kita harus melatih roh kita agar roh kita menjadi peka dan jernih.
Hari ini banyak orang dalam gerakan Pentakosta yang mengikuti cara Perjanjian Lama bernubuat dan berkata, “Demikian firman Tuhan.” Ungkapan ini tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru kita nampak prinsip inkarnasi. Menurut prinsip ini, Allah tidak berbicara secara langsung, melainkan Dia berbicara melalui manusia. Pertama, di dalam Yesus Kristus Allah berinkarnasi dan berbaur dengan manusia. Sekarang setelah kematian dan kebangkitan Kristus, Dia dapat menjadi satu Roh dengan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Dalam 1Korintus 6:17 Paulus mengumumkan, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini mengacu kepada roh perbauran. Roh ilahi berbaur dengan roh insani yang telah dilahirkan kembali. Dalam Perjanjian Baru, roh perbauran inilah yang berbicara. Untuk inilah maka 4:1 tidak mengatakan “Roh Allah mengatakan” juga tidak mengatakan “Roh Kudus mengatakan” melainkan mengatakan, “Roh dengan tegas mengatakan.” Menurut prinsip inkarnasi yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, ini menyiratkan roh kita. Kita telah nampak bahwa prinsip inkarnasi berarti sifat ilahi dibawa ke dalam sifat insani dan bekerja dengan sifat insani. Karena itu, ketika Roh itu berbicara, Ia berbicara di dalam roh kita melalui roh kita, dan dari roh kita. Menurut prinsip Perjanjian Baru, bila tidak ada seorang pun yang benar-benar menjadi satu roh dengan Allah Sang pembicara, tidak akan ada jalan bagi Allah untuk berbicara. Paulus memimpin atau memberi teladan sebagai orang yang menjadi satu roh dengan Tuhan. Karena ia telah menjadi satu dengan Dia secara demikian, maka ia mampu berbicara banyak bagi Tuhan. Dalam 1Korintus 7 Paulus berkata dengan pasti bahwa mengenai perkara tertentu ia tidak memiliki firman dari Tuhan, tetapi ia memberikan pendapatnya, pertimbangannya, sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah (ayat 25). Namun ketika kita baca bagian Alkitab ini pada hari ini, kita nampak bahwa ucapan Paulus sebenarnya adalah firman Tuhan. Ketika Paulus berbicara, Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh itu dan yang telah berbaur dengan roh Paulus yang telah dilahirkan kembali, berbicara dari dalamnya. Hari ini kita juga memiliki roh perbauran sedemikian ini di dalam kita. Di dalam roh dan melalui roh perbauran inilah Roh itu berbicara dengan tegas.
Satu Timotius 4:1 adalah kelanjutan 3:15-16. Tidak diragukan lagi, ayat-ayat di belakang ini adalah perkataan Paulus. Sekarang dalam 4:1 Paulus berkata bahwa Roh berbicara dengan tegas. Di manakah Roh itu berbicara? Tidak diragukan lagi bahwa Roh itu berbicara dari dalam Paulus. Ketika Paulus sedang menulis surat kepada Timotius tentang gereja sebagai rumah Allah, tiang penopang dan dasar kebenaran, dan rahasia ibadah yang agung, Roh itu berbicara di dalam rohnya. Ini bukanlah Roh yang tiba-tiba turun ke atas kita dan membuat kita bernubuat, “Demikianlah firman Tuhan.” Bicaranya Roh dalam 4:1 sesuai dengan cara inkarnasi. Roh itu berbicara dari dalam roh Paulus.
Bila kita ingin mendengar pembicaraan roh, kita harus melatih roh kita. Hanya roh kitalah yang dapat mendengarkan perkataan Roh itu. Pikiran tidak cocok untuk ini; pikiran tidak memiliki kemampuan untuk mendengar pembicaraan Roh itu. Roh itu berbicara kepada roh kita dan roh kita menanggapi Roh itu. Sebab itu, ketika kita membaca Kitab 1Timotius, kita harus melatih roh kita untuk mendengarkan pembicaraan Roh itu dari dalam roh Rasul Paulus.
II. MENINGGALKAN KEPERCAYAAN
Menurut 4:1, Roh mengatakan, “Pada waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad.” “Murtad” di sini dalam bahasa aslinya adalah “meninggalkan kepercayaan”. Waktu-waktu kemudian mengacu kepada masa setelah kitab ini ditulis, yang berbeda dengan “hari-hari terakhir” yang disebutkan dalam 2Tim 3:1, yang menunjukkan periode penutup zaman ini. Ketika menulis surat ini, Paulus menyadari bahwa pada waktu-waktu kemudian ada orang yang akan meninggalkan kepercayaan. Dalam ayat ini, kepercayaan bersifat obyektif yang adalah isi kepercayaan kita. Di satu pihak, Paulus berani dan terdorong, tidak kecewa sedikit pun. Ia percaya bahwa gereja adalah rumah Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran, dan bahkan rahasia ibadah. Di pihak lain, jauh di lubuk rohnya, ia tahu bahwa beberapa orang yang dikatakan beriman akan meninggalkan kepercayaan, meninggalkan eko-nomi Perjanjian Baru Allah. Paulus dapat mengetahui hal ini karena Roh itu yang berbaur dengan rohnya mewahyukan kepadanya. Meninggalkan ekonomi Perjanjian baru Allah adalah awal kemerosotan hidup gereja.
Paulus mengatakan bahwa orang-orang yang meninggalkan kepercayaan itu akan memperhatikan (mengikuti) roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. Banyak orang Kristen tidak paham bahwa menurut Alkitab, ada dua macam roh jahat. Roh-roh penyesat berlawanan dengan Roh itu, seperti yang disebutkan dalam 1Yoh 4:2, 6. Mereka adalah malaikat-malaikat yang telah jatuh, yang mengikuti Iblis dalam pemberontakannya dan menjadi bawahannya yang bekerja bagi kerajaan gelapnya (Mat 25:41; Ef 6:12). Setan-setan adalah roh-roh najis dan jahat (Mat 12:22, 43; Luk 8:2) dari makhluk-makhluk yang hidup di bumi pada zaman sebelum Adam dan yang bergabung dengan pemberontakan Iblis dan dihakimi oleh Allah (lihat Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian Berita Kedua). Setelah dihakimi, mereka menjadi setan-setan yang bekerja di bumi bagi kerajaan Iblis. Setan-setan berbeda dengan roh-roh penyesat dan malaikat-malaikat yang jatuh. Malaikat-malaikat yang jatuh ada di udara, sedangkan setan aktif di bumi.
Dalam ayat 1 Paulus berbicara tentang roh-roh penyesat di udara maupun setan-setan di bumi. Di antara orang Kristen hari ini ada doktrin-doktrin palsu yang berasal dari roh-roh penyesat di udara dan juga ajaran-ajaran yang berasal dari setan-setan. Sejarah gereja telah membuktikan bahwa Paulus benar dalam mengatakan bahwa ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin sedemikian akan masuk dan orang-orang yang meninggalkan kepercayaan akan mengikuti mereka.
Dalam ayat 2 Paulus meneruskan, “Oleh tipu daya (kemunafikan) pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.” Frase “oleh kemunafikan pendusta-pendusta” menerangkan “ajaran setan-setan” dalam ayat 1. Ajaran setan-setan dilaksanakan oleh kemunafikan orang yang berdusta. Ini menunjukkan bahwa setan-setan dan orang-orang yang berdusta bekerja sama untuk menyesatkan manusia. Orang-orang munafik ini bekerja sama dengan roh-roh jahat dan setan-setan untuk membawa masuk ajaran-ajaran sesat dan doktrin setan.
Hati nurani pendusta yang munafik telah kehilangan perasaannya, seperti telah dicap dengan besi panas; besi panas yang digunakan untuk mencap budak dan ternak dari pemilik tertentu. Kitab ini dengan tegas menekankan hati nurani. Dalam hidup gereja, kasih yang berlawanan dengan iri hati dan perselisihan, berasal dari hati nurani yang baik (1:5). Orang-orang yang menolak hati nurani yang baik itu menjadi kandas dalam kepercayaan (1:19). Orang-orang yang melayani dalam gereja harus memelihara rahasia kepercayaan dengan hati nurani yang suci (3:9). Memelihara hati nurani yang baik dan suci adalah menjaga agar hati nurani peka dalam fungsinya. Hal ini akan melindungi kita dari ajaran yang setani dan munafik dari pendusta-pendusta yang menyesatkan.
Ketika saya masih muda, saya percaya kepada setiap orang yang bersaksi bahwa ia adalah orang Kristen. Pada suatu hari, Saudara Watchman Nee menunjukkan fakta bahwa ada orang-orang Kristen yang berbohong. Saya heran bagaimana seorang Kristen bisa menjadi pembohong. Alkitab mengatakan bahwa Iblis adalah bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Akhirnya saya mengerti dari pengalaman bahwa orang Kristen dapat berdusta. Dalam kasus orang Kristen yang berdusta ini, hati nurani mereka seolah-olah telah dihanguskan dan kehilangan fungsinya. Hari ini banyak dusta telah disebarkan mengenai kita justru oleh orang-orang Kristen. Ada beberapa orang yang lebih keterlaluan dengan menyebarkan dusta-dusta mereka dalam media cetak. Tetapi hati nurani kita bersaksi bahwa kita dalam pemulihan Tuhan benar-benar mempercayai kebenaran yang diwahyukan dalam Alkitab mungkin lebih banyak daripada orang-orang Kristen lain.
Kita dalam pemulihan Tuhan jangan hanya mengetahui ekonomi Allah, tetapi juga harus mengetahui siasat jahat Iblis. Kita harus nampak perbedaan tajam antara situasi pada akhir pasal 3 dengan yang dijelaskan pada permulaan pasal 4. Kita perlu cermat, berpikiran jernih, dan jelas mengenai perbedaan antara kekristenan hari ini dengan pemulihan Tuhan. Kita juga harus mengetahui apa yang sedang dilakukan Iblis melalui roh-roh jahat, setan-setan, dan orang-orang yang berdusta dalam kemunafikan.
Ayat 3 mengatakan, “Mereka melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.” Kawin dan makan ditetapkan oleh Allah. Makan adalah untuk eksistensi manusia, dan kawin adalah untuk kelangsungan dan perbanyakan manusia. Di satu pihak, Iblis membuat manusia melecehkan kedua hal ini dengan mengumbar daging mereka yang penuh nafsu; di pihak lain, dia menekankan pertapaan secara berlebihan dengan melarang orang kawin dan melarang orang makan makanan tertentu. Inilah ajaran setan !
Perkawinan ditetapkan oleh Allah untuk melaksanakan maksud Allah atas manusia. Makanan diperlukan untuk mempertahankan keberadaan manusia di bumi bagi peng-genapan tujuan Allah. Tetapi Iblis melalui roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan dengan kerja sama dari orang-orang munafik dan para pendusta, mencoba untuk menghancurkan hal-hal ini, baik menyebabkan orang-orang menyalah gunakannya melalui pengumbaran nafsu atau mempraktekkan pertapaan.
III. KEBENARAN MENGENAI MAKANAN
Dalam ayat 3 Paulus berbicara tentang “makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan”. Semua barang yang dapat dimakan diciptakan oleh Allah bagi manusia untuk hidup. Kita harus memakannya dengan mengucap syukur kepada Allah dari hati yang penuh rasa terima kasih.
Karena semua makanan adalah pemberian Allah bagi kita, kita harus menerimanya dengan ucapan syukur. Ketika kita makan makanan kita, kita harus berkata, “Tuhan, terima kasih.” Akan tetapi, kita tidak perlu mengikuti upacara agama tradisional yang mengucapkan kata-kata berkat. Di satu pihak, saya tidak setuju dengan praktek upacara agama tersebut; di pihak lain, saya tidak setuju dengan mengabaikan bentuk terima kasih kepada Tuhan untuk makanan yang telah Ia berikan kepada kita. Saya dapat bersaksi bahwa saya berkali-kali bersyukur kepada Tuhan atas makanan saya. Saya bahkan bersyukur kepada-Nya untuk segelas air minum seraya berkata, “Tuhan air ini adalah pemberian-Mu, dan aku bersyukur kepada-Mu atas air ini.” Orang-orang yang mempraktekkan perkataan “berkat” biasanya juga melakukan hal ini sebelum mereka makan. Tetapi kita harus bersyukur kepada Tuhan atas makanan kita bukan hanya sebelum kita memakannya, tetapi juga ketika sedang memakannya dan setelah kita se-lesai memakannya. Tidak hanya demikian, kita pun dapat mengucapkan syukur kita atas setiap jenis makanan yang kita makan.
Makanan yang telah Allah ciptakan harus dimakan dengan pengucapan syukur “oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran”. Percaya adalah untuk diselamatkan dan dengan demikian memulai suatu hidup rohani; memiliki pengetahuan akan kebenaran adalah mengenal tujuan Allah dalam ekonomi-Nya dan bertumbuh menuju kematangan dalam hayat rohani. Allah menghendaki agar semua manusia diselamatkan dan memperoleh pengenalan penuh akan kebenaran (2:4). Kebenaran di sini adalah ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita adalah orang-orang yang beroleh selamat melalui percaya kepada Tuhan Yesus sebagai karunia keselamatan, yang mengetahui isi realitas ekonomi Allah mengenai Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus, karena itu kita harus bersyukur untuk semua makanan yang kita makan. Orang-orang yang percaya dan mengenal kebenaran layak menerima makanan mereka dengan ucapan syukur. Kita tahu bahwa kita hidup di bumi untuk Allah dan untuk tujuan-Nya. Jadi, kita menerima apa yang telah Dia sediakan untuk menunjang kita, dan kita bersyukur kepada-Nya untuk semua itu.
Dalam ayat 4 dan 5 Paulus meneruskan, “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa (syafaat).” Pernyataan bahwa “setiap ciptaan Allah itu baik” berlawanan dengan Gnostikisme, yang mengajarkan bahwa sebagian benda ciptaan itu jahat, dan berlawanan pula dengan ajaran pertapaan tertentu yang melarang orang memakan makanan tertentu. Ada yang mengukuhi bahwa kita harus makan sayuran-sayuran saja, tidak boleh makan daging. Tetapi menurut perkataan Paulus, setiap ciptaan Allah itu baik.
Tidak hanya demikian, Paulus berkata, “Suatu pun tidak ada yang haram.” Dahulu saya akan dengan sopan berkata, “Tidak, terima kasih,” bila saya ditawari makanan-makanan tertentu pada pesta orang-orang Kanton. Khususnya, saya menolak penyu, ular, atau katak. Saya memang tidak bisa makan makanan itu. Tetapi menurut perkataan Paulus, kita jangan menolak apa pun yang diciptakan oleh Allah, tetapi menerima semuanya dengan ucapan syukur.
Dalam ayat 5 Paulus menyimpulkan, “Sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa (syafaat).” Semua makanan yang kita makan dapat dikuduskan, disi-sihkan bagi Allah untuk tujuan-Nya melalui firman Allah dan doa. Di sini firman Allah mengacu kepada perkataan doa kita yang ditujukan kepada Allah, yang sebagian bisa berupa kutipan ayat Alkitab, dan sebagian lagi berupa berita yang kita dengar dan baca. Dalam ayat ini doa mengacu kepada doa kita kepada Allah bagi makanan yang kita makan, yang memisahkan makanan kita dari keadaan yang umum dan menguduskannya bagi Allah untuk kehendak-Nya, yaitu untuk merawat kita sehingga kita dapat hidup bagi-Nya.
Banyak versi terjemahan yang tidak berani menggunakan kata “doa syafaat”, walaupun ini adalah arti dari kata bahasa aslinya. Sebagai gantinya, mereka menerjemahkannya hanya sebagai “doa”. Tetapi di sini Paulus dengan tegas berkata bahwa kita harus mengucapkan doa syafaat untuk makanan kita. Kita berdoa bagi diri kita sendiri, tetapi kita berdoa syafaat bagi orang lain maupun bagi sesuatu. Menurut ucapan Paulus dalam ayat ini, kita perlu berdoa sya-faat bagi makanan kita dan mohon Tuhan menguduskannya. Kapan saja kita duduk makan, kita harus berdoa bagi makanan itu dan bersyafaat untuk itu, dengan berkata, “Tuhan, kuduskan makanan ini bagi tujuan-Mu agar makanan ini dapat merawat hamba-Mu. Tuhan, aku percaya, dan aku mengenal kebenaran. Aku ada di bumi ini untuk-Mu dan untuk ekonomi-Mu. Aku memerlukan makanan ini, dan aku mohon agar makanan ini Kaukuduskan, Kau-sisihkan bagi diri-Mu sendiri untuk penggenapan ekonomi-Mu.” Dalam pandangan Allah, setelah berdoa syafaat bagi makanan kita secara demikian, makanan itu menjadi kudus. Inilah cara yang benar untuk menerima makanan yang diberikan oleh Allah kepada kita, dengan ucapan syukur.