← Daftar isi Ayub · bab 9/38

BERITA SEMBILAN

RONDE KEDYA DARI TIGA RONDE DI DALAM PERDEBATAN-PERDEBATAN DI ANTARA AYUB DAN KETIGA TEMANNYA

PASAL 12—20

(1)

KERUMITAN YANG UNGGUL, TUDUHAN, DAN ARGUMEN-ARGUMEN AYUB DAN TEGURAN DAN PERINGATAN ELIFAS

(1)

Pembacaan Alkitab: Ayub 12—13

Di dalam berita ini kita akan mulai melihat kerumitan yang unggul, tuduhan Ayub terhadap teman-temannya, dan argumen-argumen terhadap Allah. Ini diikuti teguran dan peringatan Elifas.

I. KERUMITAN YANG UNGGUL, TUDUHAN, DAN ARGUMEN-ARGUMEN AYUB

A. Kerumitan Ayub yang Unggul di dalam Perkara Mengenal Allah

Di dalam 12:1—13:2 kita melihat kerumitan Ayub yang unggul di dalam perkara mengenal Allah.

1. Mengklaim Bahwa Ia Tidak Lebih Rendah daripada Teman-temannya

Dengan menganggap dirinya sebagai seorang manusia yang benar, manusia yang saleh/sempurna, yang berseru kepada Allah, Ayub mengklaim bahwa ia tidak lebih rendah daripada teman-temannya, yang telah membuatnya menjadi bahan tertawaan. Mereka hidup aman, tidak tahu bahwa kemah-kemah perusak maju dan bahwa orang-orang yang membangkitkan murka Allah dan membawa allah mereka di dalam milik mereka akan memiliki keamanan (12:1-6). Perkataan ini adalah tentang kemakmuran yang disangka benar dalam berbuat baik dan penderitaan dalam berbuat kejahatan.

2. Merendahkan Teman-temannya dan Meminta Mereka untuk Belajar dari Binatang-binatang, Burung-burung, Bumi, dan Ikan

Ayub merendahkan teman-temannya dan meminta mereka untuk belajar dari binatang-binatang, burung-burung di langit, bumi, dan ikan-ikan di laut, semuanya tahu bahwa Yehovahlah yang menjadikan mereka dan bahwa di dalam tangan-Nya ada nyawa dari segala makhluk hidup dan roh dari semua daging manusia. Namun, teman-temannya kurang memiliki telinga yang menguji kata-kata, dan memiliki langit-langit mulut yang mengecap makanan (ay. 7-11).

3. Memegahkan Keunggulan dan Keluasan Pengenalannya terhadap Allah

Akhirnya, Ayub memegahkan keunggulan dan keluasa pengenalannya terhadap Allah (12:12—13:2). Ayub mengumumkan bahwa pada Allah ada hikmat dan kekuatan, bahwa Allah mengendalikan apa yang terjadi di bumi dan bahwa Allah menerintah atas bangsa-bangsa, membuat bangsa-bangsa menjadi besar dan menghancurkan mereka. Pembicaraannya di dalam 12:12-25 menunjukka bahwa ia sangat berpengetahuan. Kemudian sebagai satu kata penutupnya ia mengatakan kepada teman-temannya, “Sesungguhnya, semuanya itu telah dilihat mataku, didengar dan dipahami telingaku. Apa yang kamu tahu, aku juga tahu, aku tidak kalah dengan kamu” (13:1-2). Ini benar-benar satu tanda dari kerumitan Ayub yang unggul.

B. Ayub Menuduh Teman-temannya itu Berdusta

Di dalam 13:4-19, Ayub menuduh teman-temannya itu berdusta. Ia menyebut mereka orang-orang yang menutupi dusta dan tabib-tabib yang tidak berharga dan mendesak mereka untuk diam (ay. 4-5).

C. Argumen-argumen Ayub terhadap Allah

Di dalam 13:3, 20—14:22, kita memiliki argumen-argumen Ayub terhadap Allah. DI dalam 13:3 ia mengumumkan, “Tetapi aku, aku hendak bebicara dengan Yang Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah.”

1. Pertikaian Ayub dengan Allah untuk Kasusnya

Di dalam 13:20-28, Ayub bertikai dengan Allah untuk kasusnya. Di dalam ayat 28, sambil menunjuk dirinya, Ayub mengatakan, “Dan semuanya itu terhadap orang yang sudah rapuh seperti kayu lapuk, seperti kain yang dimakan gegat!” Di satu pihak, Ayub mengakui bahwa ia adalah sesuatu yang lapuk, sesuatu yang akan dibuang. Di lain pihak, Ayub selanjutnya merasa bahwa ia tidak salah di dalam hal apa pun. Dengan menyadari bahwa Allah mengawasi tindak tanduknya dan menaruh batas-batas baginya (ay. 27), Ayub ingin agar Allah menjelaskan situasi itu kepadanya. Seperti yang telah kita tunjukkan, Ayub tidak mengenal tujuan Allah mengenai dia, meskipun ia percaya bahwa ada satu tujuan yang tersembunyi di dalam hati Allah.

Alkitab, yang terdiri dari enam puluh enam kitab, dimulai dengan Allah dan penciptaan-Nya di dalam kitab Kejadian dan rampung dengan Yerusalem Baru di dalam Wahyu. Di antara kedua ujung dari Alkitab ini, ada sejarah, pengajaran-pengajaran, nubuat-nubuat, dan lambang-lambang. Tetapi jika kita memahami Alkitab hanya menurut hal-hal ini, maka kita tetap tidak akan mengenal Alkitab. Kita perlu melihat ekonomi kekal Allah, yang adalah maksud kekal Allah dengan kedambaan hati-Nya untuk menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam Trinitas Ilahi-Nya sebagai Bapa di dalam Putra oleh Roh itu, ke dalam umat pilihan-Nya untuk menjadi hayat dan sifat mereka sehingga mereka bisa menjadi sama seperti Dia bagi kepenuhan-Nya, ekspresi-Nya.

Kata ekonomi adalah bentuk kiasan dari kata Yunani oikonomia, yang berarti “hukum rumah tangga, pengelolaan, atau administrasi rumah tangga,” dan kata jadiannya adalah “dispensasi (pengaturan), rencana, ekonomi administratif.” Kata Yunani ini menyiratkan pemikiran tentang penyaluran. Penyaluran berbeda dengan dispensasi. Kata penyaluran menekankan penyaluran sesuatu, sedangkan kata dispensasi, seperti yagn secara umum dipakai oleh orang-orang Kristen, mengacu kepada cara Allah menanggulangi orang-orang selama satu zaman tertentu. Hari ini banyak orang yang membicarakan tentang dispensasi tanpa melihat perkara yang penting mengenai penyaluran Allah ini.

Satu ekonomi adalah satu pengaturan untuk melaksanakan satu rencana bagi penyaluran. Ekonomi Allah adalah rencana Allah, pengaturan Allah, yaitu agar Allah bisa menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam elemen, hayat, sifat, dan atribut-atribut-Nya serta semua yang telah Dia peroleh dan capai ke dalam umat pilihan-Nya sehingga mereka bisa dibangun kembali melalui disusun dengan esens ilahi di dalam elemen ilahi dari sumber ilahi untuk menjadi sesuatu yang ilahi. Sebelum menerima penyaluran Allah ini, kita hanyalah insani. Setelah pembangunan kembali Allah dengan susunan ilahi, maka kita, seperti Tuhan Yesus, menjadi insani secara ilahi dan ilahi secara insani. Sebelum inkarnasi, Kristus itu hanyalah ilahi, tetapi setelah inkarnasi-Nya, Dia menjadi seorang manusia-Allah, yaitu seorang manusia dengan sifat ilahi. Sekarang, Dia itu insani secara ilahi dan Dia juga ilahi secara insani. Setelah dilahirkan kembali oleh Kristus, kita menjadi satu bagian dari Dia, dan sekarang kita sama dengan Dia—insani secara ilahi dan ilahi secara insani.

Orang-orang yang telah dilahirkan kembali, yang adalah insani secara ilahi dan ilahi secara insani, dengan spontan menjadi satu organisme, yaitu Tubuh Kristus, yang adalah gereja Allah sebagai manusia baru di dalam ciptaan baru Allah untuk melaksanakan “karir,” baru Allah yaitu, untuk membangun Tubuh Kristus bagi kepenuhan, ekspresi Allah Tritunggal. Kepenuhan ini sebagai organisme dari Allah Tritunggal ini akan rampung dalam Yerusalem Baru. Alkitab dimulai dengan Allah di dalam penciptaan-Nya sebagai permulaan, dan diakhiri dengan Yerusalem Baru, yang adalah perbauran dari Allah Tritunggal dan semua umat tripartit-Nya yang telah dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, ditransformasi, diserupakan, dan dimuliakan. Jadi, Yerusalem Baru adalah kelanjutan dari Allah dengan manusia untuk mengekspresikan Allah sampai kekal.

Melihat ini berarti memiliki satu pandangan terhadap seluruh Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab, kita perlu memusatkan perhatian kita kepada ekonomi kekal Allah bagi penyaluran ilahi. Jika kita tidak mengenal ekonomi Allah, maka kita tidak akan memahami Alkitab.

Kristus bukan hanya adalah pusat Alkitab, melainkan juga adalah sentralitas dan universalitas dari ekonomi Allah. Di dalam ekonomi inilah bahwa Kristus berinkarnasi, bahwa Dia pergi ke salib untuk melalui penyaliban, bahwa Dia keluar dari kematian dan masuk ke dalam kebangkitan, dan bahwa di dalam kebangkitan itu, Dia diperanakkan untuk menjadi Putra sulung Allah, dan sebagai Adam yang terakhir, Dia menjadi Roh pemberi hayat untuk melahirkan kembali semua kaum beriman-Nya untuk membuat mereka menjadi sama dengan Dia di dalam hayat dan sifat agar mereka bisa menjadi saudara-saudara-Nya dan putra-putra Allah. Putra-putra ini ditambah yang Sulung, semuanya menjadi satu manusia baru, dengan Dia sebagai Kepala dan dengan gereja sebagai Tubuh-Nya, untuk melaksanakan tujuan kekal Allah untuk merampungkan Yerusalem Baru.

Jika kita melihat wahyu mengenai ekonomi Allah ini, maka kita akan dapat memahami kitab Ayub. Ayub menderita pelucutan dan penghabisan Allah, tetapi ia tidak memahami apa yang sedang terjadi kepadanya. Ayub bisa mengatakan, “Tetapi inilah yang Kausembunyikan di dalam hati-Mu; aku tahu, bahwa inilah maksud-Mu” (10:13). Ia tahu bahwa Allah memiliki satu tujuan, tetapi ia tidak tahu apa tujuan Allah itu.

Ayub dan ketiga temannya, yaitu Elifas, Bildad, dan Zofar, berada di dalam alam dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Sekalipun Ayub agak lebih tinggi tingkatnya daripada teman-temannya, tetapi ia dan mereka tetap berada di dalam alam yang sama. Allah berusaha menyelamatkan mereka dari alam itu dan menaruh mereka ke dalam alam dari pohon hayat. Hal pertama yang harus Allah lakukan adalah melucuti Ayub, menghabisi dia, dan merobohkan dia supaya dia menjadi bukan apa-apa sebagai seseorang yang berada di bawah penderitaan. Ini menjadi dasar bagi Allah untuk membangun kembali Ayub dengan Trinitas Ilahi, agar Ayub bisa menjadi satu manusia baru, satu bagian dari ciptaan baru Allah, untuk menggenapkan ekonomi kekal Allah bagi ekspresi Allah.