← Daftar isi Ayub · bab 6/38

BERITA ENAM

RONDE PERTAMA DARI TIGA RONDE DI DALAM PERDEBATAN-PERDEBATAN DI ANTARA AYUB DAN KETIGA TEMANNYA

PASAL 4—11

(2

PEMBELAAN AYUB

Pembacaan Alkitab: Ayub 6—7

Setelah Elifas menegur dan mengoreksi, Ayub membela dirinya. Pasal 6 dan 7 dicurahkan untuk pembelaan Ayub.

I. MENYATAKAN KELUHAN-KELUHANNYA

Pertama, di dalam 6:1-7, Ayub menyatakan keluhan-keluhannya. Ia mengatakan, “Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca! Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku” (ay. 2-3). Kemudian selanjutnya ia mengatakan bahwa anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku (ay. 4).

II. MENANTANG ALLAH MENGENAI BERAPA BANYAK ALLAH AKAN MENUNTUT DARIPADANYA

Ayub melanjutkan dengan menantang Allah mengenai berapa banyak Allah akan menuntut daripadanya (ay. 8-13). Ayub mengatakan, “Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan! Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (ay. 8-9). Di dalam pembicaraannya, Ayub sungguh berbeda dengan Paulus, yang bersukacita dengan kemenangan ketika ia akan martir.

“Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga? Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh daripadaku?” (ay. 11-13). Di sini Ayub menantang Allah, dengan bertanya kepada-Nya berapa banyak yang akan Dia tuntut daripadanya. Kelihatannya bagi Ayub, Allah seolah-olah memperlakukan dia seperti batu atau tembaga. Perkataan Ayub mengenai hikmat menunjukkan bahwa ia telah habis di dalam setiap hal dan telah menjadi kosong.

III. MENYALAHKAN TEMAN-TEMANNYA KARENA TIDAK MENUNJUKKAN KEBAIKAN KEPADANYA

Ayub menyalahkan teman-temannya karena tidak menunjukkan kebaikan kepadanya, yang pusing karena berada di bawah pukulan Allah (ay. 14-23). Ayub mengatakan kepada mereka, “Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melainkan takut akan Yang Mahakuasa. Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap, yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair, yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas” (ay. 14-17). Di sini Ayub membandingkan teman-temannya dengan sungai-sungai yang tidak memilki banyak air. Ia juga membandingkan mereka dengan sungai-sungai yang keruh, gelap, karena es dan salju dan yang akhirnya menjadi surut karena matahari dan menjadi kering. Ayub mengatakan bahwa teman-temannya tidak memiliki “air” apa pun yang dengannya mereka bisa menyuplai dia ketika ia kehausan.

IV. MEMBENARKAN DIRINYA SAMBIL MENGATAKAN BAHWA IA TIDAK SALAH DI DALAM HAL APA PUN

Ayub membenarkan dirinya sambil mengatakan bahwa ia tidak salah di dalam hal apa pun (ay. 24-30). “Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat. Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur! Tetapi apakah maksud celaan dari pihakmu itu? Apakah kamu bermaksud mencela perkataan? Apakah perkataan orang yang putus asa dianggap angin?” (ay. 24-26). Di sini Ayub mengatakan bahwa kata-kata Elifas itu tidak tulus melainkan sesat dan menyimpang. Jika mereka tulus, maka Ayub akan terbantu oleh mereka.

Di dalam ayat 27, Ayub selanjutnya mengatakan, “Bahkan atas anak yatim kamu membuang undi, dan sahabatmu kamu perlakukan sebagai barang dagangan.” Ayub memberi tahu teman-temannya bahwa mereka tidak memperlakukannya seperti seorang teman melainkan seperti barang dagangan yang atasnya orang-orang tawar menawar harga.

Di dalam ayat 28 sampai 30, Ayub melanjutkan, “Tetapi sekarang, berpalinglah kepadaku; aku tidak akan berdusta di hadapanmu. Berbaliklah, jangan terjadi kecurangan, berbaliklah, aku pasti benar. Apakah ada kecurangan pada lidahku? Apakah langit-langitku tidak dapat membeda-bedakan bencana?” Di sini Ayub dengan tegas mengumumkan bahwa ia pasti benar (ay. 29b). Ia membela dirinya dengan memaksakan bahwa ia tidak salah di dalam hal apa pun.

V. MENGEKSPRESIKAN BAHWA IA MEMILIKI PENGENALAN UMUM TENTANG PERGUMULAN, KESIA-SIAAN, KESULITAN, PENDERITAAN, DAN AKHIR HIDUP MANUSIA

Di dalam pembelaannya terhadap dirinya sendiri, Ayub mengekspresikan bahwa ia memiliki pengenalan umum tentang pergumulan, kesia-siaan, kesulitan, penderitaan, dan akhir hidup manusia (7:1-10). Meskipun Ayub mengenal hal-hal ini, tetapi ia tidak mengenal Allah dalam realitas, dan ia tidak mengenal apa-apa tentang ekonomi Allah.

VI. MENYEGANI KEHIDUPAN DAN MENGELUH

Ayub menyegani kehidupan dan mengeluh sambil bertanya mengapa Allah tidak mau mengampuninya dan membiarkan dia mati (ay. 11-21). Ia mengatakan bahwa ia akan bericara dalam kesesakan jiwanya, mengeluh dalam kepedihan hatinya (ay. 11b). Ia menyegani kehidupan dan tidak mau hidup selama-lamanya (ay. 16a). Ia menyimpulkan sampai mengatakan kepada Allah, “Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku, dan tidak menghapuskan kesalahanku? Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi” (ay. 20-21). Inilah keluhan Ayub ketika ia membela dirinya kepada Allah.

VII. AYUB, SEPERTI TEMAN-TEMANNYA, TERHENTI DALAM PENGETAHUAN BENAR DAN SALAH, DAN TIDAK MENGENAL EKONOMI ALLAH

Ayub, seperti teman-temannya, terhenti dalam pengetahuan benar dan salah, tidak mengenal ekonomi Allah, dan tidak menyadari secara memadai tujuan Allah menciptakan manusia.Ia dan teman-temannya kekurangan wahyu ilahi dan pengalaman akan hayat ilahi. A tidak memiliki pemikiran bahwa Allah tidak bermaksud menambahkan kesempurnaan, ketulusan, kebenaran, dan kejujurannya. Sebaliknya, maksud Allah adalah melucuti semua kebajikan insani yang ia miliki sebagai kepuasannya, agar ia bisa mencari dan hanya mendapatkan Allah itu sendiri. Baik ia maupun teman-temannya tidak berada di dalam gari pohon hayat seperti yang Allah tentukan kepada manusia untuk berada di dalamnya.

Allah menaruh kitab Ayub ke dalam Alkitab sebagai satu latar belakang yang hitam. Pembicaraan Ayub dan teman-temannya menunjukkan bahwa meskipun mereka kelihatannya adalah orang-orang yang saleh, tetapi mereka kekurangan Allah, dan mereka tidak mengekspresikan Allah. Ayub dan teman-temannya berkumpul bersama untuk berdebat, bukan untuk bersekutu. Mereka tidak memiliki apa-apa dari Allah untuk saling bersekutu.

Kita perlu mempertimbangkan pembicaraan kita pada hari ini di dalam sidang-sidang gereja. Ketika kita mempraktekkan cara Perjanjian Baru, kita damba untuk merawat, memberi makan semua orang kudus agar mereka bisa disempurnakan, diperlengkapi, untuk berbicara bagi Allah. Yang ingin kita dengar tidak lain selain dari Allah di dalam Kristus dengan gereja. Kita membicarakan apa adanya kita, apa yang kita miliki, apa yang kita nikmati, dan kita membicarakan apa yang kita kasihi dan apresiasikan. Jika kita mengasihi Kristus dan mengapresiasi Allah di dalam Kristus, maka itulah yang akan kita bicarakan. Maka nubuat kita dalam sidang-sidang gereja akan menjadi kaya di dalam Allah dengan Kristus dan dengan gereja. Namun, banyak yang telah menjadi anggota Tubuh Kristus selama bertahun-tahun, tetapi mereka tetap tidak bisa berbicara sekalipun hanya satu kata yang singkat bagi Kristus. Kita mungkin membicarakan tentang Kristus, tetapi kita mungkin tidak memperhidupkan Kristus atau memiliki praktek tentang mengapresiasi Kristus atau meninggikan Kristus. Jika demikian situasi kita, maka bagaimana kita bisa meministrikan Kristus kepada orang lain dengan membciarakan Dia bagi penyaluran ilahi? Saya harap bahwa mulai dari sekarang dan seterusnya, kehidupan gereja kita akan penuh dengan Kristus, dengan Kristus di dalam doa, pujian, dan nubuat kita.

Alkitab adalah satu kitab yang konsisten. Alkitab dimulai dengan Allah, dan diakhiri dengan Allah. Alkitab dimulai dengan pohon hayat, dan diakhiri dengan pohon hayat. Alkitab dimulai dengan sungai air hidup, dan diakhiri dengan sungai air hidup. Ini menunjukkan kekonsistenan Alkitab kepada kita.

Di dalam kitab yang konsisten ini, subyeknya adalah ekonomi Allah, rencana kekal Allah, pengaturan Allah untuk memiliki manusia yang menampung Kristus—memiliki Kristus sebagai hayat manusia, sebagai sifat manusia, dan bahkan sebagai persona manusia. Kita memiliki Kristus sebagai hayat kita, sifat kita, dan persona kita itu berarti bahwa kita disusun dengan Kristus. Alhasil dari kita disusun dengan Kristus, kita menjadi seorang manusia-Kristus, seorang Kristen. Dengan demikian kita akan mengekspresikan Kristus melalui memperhidupkan Dia, memperbesar Dia, dan meninggikan Dia. Ketika kita datang berkumpul, maka apa saja yang kita lakukan—pujian, doa, pembicaraan, dan nubuat kita—akan menjadi satu ekspresi dari Kristus.

Pembicaraan Paulus di dalam Efesus itu sangat berbeda dengan pembicaraan di dalam kitab Ayub. Di dalam Efesus 1, Paulus membicarakan tentang berkat-berkat rohani di dalam surga: pemilihan Allah, penakdiran Allah, penebusan Kristus, dan pemeteraian Roh itu. Melalui berkat-berkat yang demikian, Allah Tritunggal menjadi satu dengan semua ahli waris-Nya, membuat mereka menjadi gereja, Tubuh Kristus yang memenuhi semua dan di dalam semua. Kemudian di dalam pasal 3, Paulus mengatakan bahwa ia berlutut kepada Bapa dan meminta Dia menguatkan kaum beriman dengan kuasa melalui Roh-Nya ke dalam manusia batiniah mereka, agar Kristus bisa membuat rumah-Nya di dalam hati mereka, agar mereka bisa dipenuhi kepada seluruh kepenuhan Allah untuk menjadi kepenuhan Allah, ekspresi-Nya.

Allah tidak bisa membicarakan hal-hal seperti itu kepada Ayub dan teman-temannya, karena kebudayaan rohani mereka itu sangat primitif. Karena itu, ketika mereka berbicara satu sama lain, mereka hanya bisa menegur dan membela, mengucapkan kata-kata yang sia-sia dan hampa. Di dalam Ayub 11:12, Zofar menyebut Ayub sebagai “seorang dungu.”

Kita tidak seharusnya mengapresiasi pembicaraan Ayub dan teman-temannya secara positif melainkan hanya mengapresiasi secara negatif, sebagai satu latar belakang yang hitam bagi wahyu yang cemerlang di dalam Perjanjian Baru. Saya harap bahwa melalui pengkajian akan kitab Ayub ini, kita semua akan dibawa masuk ke dalam satu tahap lebih jauh dari kebudayaan ilahi kita agar kita bisa dipenuhi dengan penyaluran Allah di dalam Kristus sebagai hayat kita, suplai hayat kita, dan segala sesuatu kita.