← Daftar isi Ayub · bab 16/38

BERITA ENAM BELAS

MAKSUD ALLAH DI DALAM DIA MENCIPTAKAN MANUSIA DAN DI DALAM PENANGGULANGANNYA TERHADAP UMAT PILIHANNYA

Pembacaan Alkitab: Ayb. 10:13a; Mat. 1:18, 20; Yoh. 7:39; 1 Ptr. 1:3; Ef. 1:22b-23; Kol. 3:10-11; Kej. 1:1-2; 2:7; Why. 22:17; Gal. 3:14; 6:18; 5:25; Rm. 8:4

Kita telah melihat bahwa kitab Ayub meninggalkan dua pertanyaan ganda penting kepada kita mengenai maksud Allah di dalam Dia menciptakan manusia dan di dalam penanggulangan-Nya terhadap umat pilihan-Nya. Di dalam berita ini, saya ingin memberikan satu perkataan lebih lanjut mengenai jawaban untuk pertanyaan ini, yaitu satu jawaban yang tidak ditemukan di dalam Perjanjian Lama melainkan hanya di dalam Perjanjian Baru. Jawaban ini, yang diberikan oleh Allah di dalam wahyu-Nya, mutlak berkenaan dengan Allah Tritunggal itu sendiri.

MAKSUD ALLAH ADALAH MENGGARAPKAN DIRINYA SENDIRI KE DALAM MANUSIA

Perjanjian Baru mewahyukan kepada kita bahwa maksud Allah di dalam Dia menciptakan alam semesta dan jutaan butir termasuk manusia adalah untuk menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Allah ingin masuk ke dalam manusia untuk menjadi isi manusia dan untuk menjadi hayat, sifat, suplai hayat, dan elemen manusia. Untuk melakukan hal ini, maka Allah harus melalui satu proses yang panjang.

ALLAH KELUAR DARI KEKEKALAN DAN MASUK KE DALAM WAKTU UNTUK MENJADI SEORANG MANUSIA YANG LUAR BIASA YANG BERNAMA YESUS

Alkitab bukan ditulis oleh logika manusia melainkan menurut pergerakan Allah. Meskipun Allah melakukan banyak hal di dalam Perjanjian Lama, tetapi Dia tidak bergerak. Sebaliknya, dari Adam sampai Kristus, Allah tetap tinggal di dalam keilahian-Nya dan tinggal di dalam kekekalan. Dia tidak keluar dari kekekalan ke dalam waktu untuk masuk ke dalam manusia dengan keilahian-Nya. Teapi pada satu hari, setelah periode waktu selama empat ribu tahun, di mana manusia telah dicoba, diuji, dan terbukti penuh dengan dosa dan tidak baik untuk apa pun, Allah keluar dari kekekalan dan masuk ke dalam waktu dengan keilahian-Nya, masuk ke dalam rahim seorang dara insani untuk mengikatkan diri-Nya sendiri dengan keinsanian. Inilah tahap pertama dari pergerakan Allah. Tahap kedua adalah kelahiran-Nya dari dara insani itu untuk menjadi manusia-Allah. Setelah tinggal di dalam rahim seorang dara insani selama sembilan bulan, Dia keluar dari rahim itu, bukan hanya dengan keilahian melainkan juga dengan keinsanian, untuk menjadi seorang manusia yang bernama Yesus. Manusia ini luar biasa, benar-benar tidak umum, karena Dia adalah manusia-Allah.

KRISTUS MENEMPUH SATU KEHIDUPAN INSANI YANG SEJATI UTNUK MENGEKSPRESIKAN ALLAH DI DALAM KEINSANIANNYA

Dia yang kekasih ini, manusia Allah yang ilahi dan insani ini, yaitu Yesus Kristus Putra Allah, menempuh satu kehidupan insani yang sejati di bumi ini. Dia makan dan minum, Dia tidur, Dia bersukacita dan Dia menangis. Menurut empat Injil, di dalma persona ini, kita bisa melihat kebajikan-kebajikan insani yang mengekspresikan atribut-atribut ilahi. Ini berarti bahwa di dalam penghidupan-Nya, Tuhan Yesus mencapai hal yang paling besar di alam semesta ini—Dia mengekspresikan Allah di dalam keinsanian-Nya.

PENYALIBAN KRISTUS MENGGENAPKAN PENEBUSAN KEKAL ALLAH

Pada akhir dari kehidupan-Nya di bumi ini, Tuhan Yesus pergi ke salib, dan Dia mati di sana. Penyaliban Kristus menggenapkan penebusan kekal Allah. Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus mengakhiri semua hal negatif di dalam ciptaan lama dan bahkan mengakhiri seluruh ciptaan lama itu sendiri, dan Dia menebus bagian dari diptaan lama yang telah dipilih oleh Allah. Bukan hanya demikian, melalui kematian itu, Dia melepaskan hayat ilahi yang tersembunyi di dalam tubuh insani-Nya.

DI DALAM KEBANGKITANNYA, KRISTUS MELAHIRKAN KEMBALI UMAT PILIHAN ALLAH UNTUK MENJADI BANYAK PUTRA ALLAH SEBAGAI ANGGOTA-ANGGOTA KRISTUS UNTUK MENYUSUN TUBUHNYA

Setelah Kristus menyelesaikan pekerjaan-Nya di atas salib, Dia pergi untuk tidur dan beristirahat (melalui Dia melakukan banyak hal di antara kematian dan kebangkitan-Nya). Kemudian Dia bangun dari antara orang mati; Dia bangkit. Melalui kebangkitan-Nya, Dia membawa keinsanian-Nya ke dalam keilahian (Rm. 1:3-4). Dia juag dilahirkan untuk menjadi Putra sulung Allah untuk menjadi Pemimpin dari banyak putra Allah. Di dalam kebangkitan-Nya, Dia juga menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b). Dengan kata lain, melalui kematian dan kebangkitan, Dia dirampungkan untuk menjadi “Roh itu” (Yoh. 7:37-39). Selain itu, di dalam kebangkitan Kristus, semua orang yang telah dipilih oleh Allah dilahirkan kembali untuk menjadi banyak putra Allah (1 Ptr. 1:3).

Banyak putra Allah ini telah menjadi anggoat-anggota Kristus untuk menyusun Tubuh-Nya, yang adalah gereja Allah (Ef. 1:22b-23). Tubuh ini adalah manusia baru di dalam ciptaan baru dan Kristus adalah setiap anggota dari manusia baru ini (Kol. 3:10-11). Tubuh ini, manusia baru ini, adalah satu organisme yang misterius bagi Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung. Akhirnya kesatuan ini akan diperbesar dan rampung untuk menjadi Yerusalem Baru sebagai kepenuhan, ekspresi yang korporat dari Allah untuk kekekalan. Di dalam Yerusalem Baru, kita bisa melihat perbauran antara Allah dengan manusia, supaya Allah dan manusia menjadi astu kesatuan yang korporat. Di dalam Yerusalem Baru, kita juga bisa melihat atribut-atribut ilahi diekspresikan melalui kebajikan-kebajikan insani untuk kekekalan.

ROH ITU ADALAH PERAMPUNGAN DARI ALLAH TRITUNGGAL

Semua perkara ini terlibat dengan Allah Tritunggal. Di dalam Kejadian 1 dan 2, Allah sebagai Yehovah Elohim dan kita juga melihat Roh-Nya (1:1-2; 2:7). Tetapi pada akhir dari Alkitab, Dia yang disinggung di dalam Wahyu 22:17 adalah Roh itu. Yehovah Elohim tetap ada di sana, tetapi sekarang Dia adalah Roh itu. Nama Roh itu adalah Yesus Kristus. Ketika kita mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” maka kita mendapatkan Roh itu. Yesus Kristus adalah namanya dan Roh itu adalah personanya.

Di dalam Perjanjian Baru ada banyak gelar ilahi, seperti Bapa, Tuhan, Tuan, Penebus, Penyelamat, Tuhan dari semua, dan Raja di atas segala raja. Semua gelar ini mengacu kepada persona Roh itu. Di dalam satu hal tertentu, gelarnya mungkin Bapa, dan di adlam hal lainnya gelarnya mungkin Penebus atau Penyelamat. Poinnya di sini adalah bahwa semua gelar ilah ini mengacu kepada persona Roh itu.—Roh yang almuhit, majemuk, pemberi hayat sebagai perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

ROH ITU ADALAH KESELURUHAN BERKAT ILAHI DARI INJIL YANG DIBERIKAN KEPADA KITA

Galatia 3:14 menunjukkan kepada kita bahwa Roh itu adalah keseluruhan, totalitas berkat ilahi dari injil yang diberikan kepada kita. Berkat ini adalah berkat yang mencakup semua dan almuhit. Berkat yang demikian ini meliputi penebusan, kelahiran kembali, hayat ilahi, keadilbenaran, pembenaran, pengudusan, transformasi, dan pembaruan.

MELAKUKAN SEGALA SESUATU DAN MENJAGI SEGALA SESUATU OLEH ROH ITU, DENGAN ROH ITU, DI DALAM ROH ITU, DAN MELALUI ROH ITU

Hari ini, di dalam kehidupan Kristiani kita, kita orang-orang Kristen seharusnya hanya berhubungan dengan Roh ini. Karena kita memiliki hayat dan hidup oleh-Nya, maka kita juga harus berjalan oleh-Nya (Gal. 5:25; Rm. 8:4). Kita harus melakukan segala sesuatu dan menjadi segala sesuatu oleh Roh itu, dengan Roh, itu, di dalam Roh itu, dan melalui Roh itu. Kita harus berdia oleh Roh itu, membaca Alkitab oleh Roh itu, mengasihi orang lain oleh Roh itu, dan memberitakan injil oleh Roh itu.

Galatia 6:18 menunjukkan bahwa Roh itu sebagai kasih karunia yang almuhit menyertai roh kita. Kita harus memustikakan dua roh di dalam Galatia—Roh ilahi sebagai keseluruhan dari berkat ilahi bagi kita dan roh insani sebagai penerima, penampung, pemelihara dari Roh ilahi ini. Jadi, kita perlu memperhatikan roh kita, melakukan segala sesuatu dengan melatih roh kita. Dengan demikian, kita akan mengalami Roh ilahi yang hidup di dalam kita, membuat rumah-Nya di dalam kita, dan mentransformasi kita. Roh ilahi ini hidup di dalam kita untuk berdoa, membaca Alkitab, membicarakan firman Allah, mengasihi pasangan kita, dan mengunjungi orang-orang dosa bagi pemberitaan injil. Penghidupan yang demikian ini adalah perbauran dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan manusia tripartit yang telah dilahirkan kembali. Inilah wahyu ilahi di dalam Perjanjian Baru sebagai jawaban untuk penderitaan-penderitaan Ayub dan jawaban untuk pertanyaan besar mengenai tujuan Allah di dalam Dia menciptakan manusia dan di dalam penanggulangan-Nya terhadap umat pilihan-Nya.