Maria
Pembacaan Alkitab :
Yohanes 20:1-18
Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia pernah menampakkan diriNya kepada beberapa orang. Tetapi kepada siapakah Ia pertama kali menampakkan diriNya? Kepada Maria Magdalena. Tuhan ingin sekali menampakkan diriNya kepada Petrus, karena Petrus sedang dalam kelemahan; tetapi Tuhan lebih mengutamakan menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Tuhan ingin sekali menampakkan diriNya kepada kedua murid yang sedang berjalan ke Emaus, karena mereka telah salah jalan; tetapi Tuhan lebih mengutamakan Maria Magdalena. Tuhan ingin sekali menampakkan diriNya kepada Yohanes, karena Yohanes adalah yang dikasihiNya; tetapi Tuhan lebih mengutamakan Maria Magdalena. Tuhan ingin sekali menampakkan diriNya kepada Tomas, karena Tomas tidak percaya akan kebangkitanNya; tetapi Tuhan lebih mengutamakan Maria Magdalena. Dan jugs, Tuhan ingin sekali menampakkan diriNya kepada murid-murid yang lain; tetapi Tuhan tidak menampakkan diri kepada mereka terlebih dulu, melainkan kepada Maria Magdalena. Mengapa Tuhan tidak mendahulukan Petrus, Yohanes, Tomas dan murid-murid yang lain, tetapi mengutamakan Maria Magdalena?
Maria Magdalena adalah orang yang paling akhir meninggalkan Tuhan ketika Tuhan disalib; Maria Magdalena adalah orang yang paling pagi pergi ke kubur Tuhan. Sebenarnya yang beroleh selamat tidak hanya Maria Magdalena seorang; orang yang daripadanya setan telah diusir keluar oleh Tuhan juga tidak hanya Maria Magdalena seorang; tetapi yang pagi-pagi buta telah pergi mencari Tuhan adalah Maria Magdalena. Memang, banyak perkara yang tidak ia pahami sehingga mungkin banyak orang berpendapat, bahwa pikirannya kurang baik. Tetapi ia memiliki sesuatu yang paling baik yang mungkin tidal kita miliki. Sesuatu yang paling baik yang ia miliki ialah ia sangat merindu-dambakan Tuhan. Ini seharusnya juga menjadi dambaan dan tuntutan setiap kita sebagai orang Kristen.
Dalam Injil Yohanes 1:29 dikatakan, "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata : "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." Inilah perkataan Yohanes pembaptis ketika pertama kali dia berjumpa dengan Tuhan. Sampai pada ayat 36, Yohanes pembaptis kembali melihat Tuhan Yesus dan dia berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah!" Kali ini Yohanes tidak menambahkan kata-kata "yang menghapus dosa dunia", mungkinkah ia lupa? Tidak! Ini justru pengalaman orang yang telah beroleh selamat.
Ketika seseorang untuk pertama kali berjumpa dengan Tuhan, maka dalam ingatannya ada dua orang, yaitu Tuhan dan dirinya sendiri; Tuhan ialah Anak Domba Allah yang menghapus dosanya. Tetapi ketika ia berjumpa dengan Tuhan untuk kedua kalinya, hanya Tuhan sajalah yang diingatnya, sedang dirinya sendiri telah dilupakan. Pertama kali adalah bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberi karunia; kedua kalinya adalah karma diriNya maka menghampiri Dia. Kita dibaptis menyatakan bahwa kita bersatu dengan Tuhan; kita mengadakan Pemecahan Roti adalah memperingati diri Tuhan. Pada langkah pertama kita adalah umat Tuhan, pada langkah kedua kita adalah kekasih Tuhan; langkah pertama adalah percaya akan pekerjaanNya, langkah kedua adalah menghampiri Tuhan sendiri. Banyak orang hanya mengetahui keadian pekerjaan Tuhan, tetapi tidak mengetahui betapa mustikanya diri Tuhan; hanya mengetahui diri sendiri beroleh selamat, tetapi tidak mengetahui keindahan Tuhan. Di sinilah letak perbedaan antara Maria Magdalena dengan orang lain. Maria Magdalena tidal hanya mementingkan karunia keselamatan, lebih-lebih ia mengindahkan diri pribadi Juruselamat itu.
0, banyak orang yang dari diri mereka, setan-setan telah diusir oleh Tuhan, tetapi yang mencari Tuhan hanya Maria Magdalena seorang. Meskipun ada juga perempuan-perempuan lain yang mencari Tuhan, namun Maria Magdalenalah yang pertama-tama mengunjungi kuburNya. Pada hari pertama dalam minggu itu, pagi-pagi benar, ketika hati masih gelap, ia telah tiba di kuburNya. Apapun tidak dipedulikannya, ia datang hanya demi mencari Tuhan. Seorang saudara mengatakan dengan baik sekali : "Setelah kematian Tuhan Yesus, dalam pandangan Maria, dunia ini hampa belaka." Seluruh dunia tidak dapat menarik Maria Magdalena karena hatinya telah direbut oleh Tuhan. Hati Maria Magdalena adalah hati yang mutlak diduduki oleh Tuhan, telah ditawan oleh Tuhan. Oh, hati Maria Magdalena telah direbut oleh Tuhan.
Apakah yang dilihat oleh Maria Magdalena ketika ia tiba di kuburan? Bagaimanakah sikapnya? Dalam angan-angannya : "Tuhan yang kukasihi telah mati, kalau hati ini aku bisa melihat tubuhNya saja, cukuplah bagiku." Tetapi ternyata tubuhNya tidak ada! Maka segera ia berlari mendapatkan Petrus dan Yohanes, dan berkata kepada mereka : "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu (Yohanes) ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang-lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Bagaimanakah selanjutnya setelah kedua murid ini melihat keadaan itu? Alkitab mencantumkan : "Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah." (ayat 10).
Di dunia mereka masih mempunyai sebuah rumah yang lebih baik, mereka masih mempunyai rumah di mana mereka bisa pulang. Meskipun mereka tampak bahwa Tuhan tidak ada di sana, tetapi mereka tidak merasakan apa-apa, mereka merasakan pulang ke rumah adalah yang paling penting. Selain Tuhan, mereka masih mempunyai sebuah tempat untuk berteduh.
Tetapi bagaimana dengan Maria? "Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis" (ayat 11). Dia tidak mempunyai tempat untuk pulang! Dia tidak bisa pergi! Dalam hati Maria merasa: Kalian mempunyai rumah untuk pulang, tetapi aku tidak bisa demikian, karena Tuhan telah tidak ada. Kalian mengira tanpa Tuhan tidak mengapa, tetapi aku tidak bisa. Siapakah yang mengambilNya? Bagaimana aku bisa pergi! Ia berdiri dekat kubur itu dan menangis. Dalam pandanganNya dunia telah hampa kosong! Tuhan telah tidak ada, masih ada apa lagi yang bisa diperbuatnya? Tidak ada lagi yang perlu dikerjakan, ia berdiri saja dekat kubur dan menangis. Oh, hati Maria adalah sebuah hati seorang janda! Murid-murid yang mengikuti Tuhan boleh pulang, murid-murid yang berpengetahuan tinggi boleh pulang, Yohanes yang mengasihi Tuhan boleh pulang, Petrus yang pemberani boleh pulang, tetapi di sini ada seorang perempuan yang sederhana, yang dari dirinya Tuhan pernah mengusir tujuh setan, telah tertambat pada Tuhan. Dia tidak memiliki perhentian, dia tidak memiliki hiburan, dia tidak bisa pulang. Tuhan telah tiada, maka semuanya tamatlah. Hatinya kehilangan sesuatu sehingga terasa kosong melompong, karena itu ia tetap berdiri dan menangis.
Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki tempat mayat Yesus dibaringkan. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka, "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maria telah melihat malaikat, tetapi ia tidak merasa heran atau takut karenanya; mengapa bisa demikian? Karena hatinya mutlak tertuju kepada "Ada orang yang telah mengambil Tuhanku", sehingga perkara lain tidak diperhatikannya. Hati ini demikian khusus tertuju kepada Tuhan, sehingga penampakan malaikat pun tidak bisa menarik perhatiannya.
Mungkin ada orang yang pernah berpikir demikian : Kalau aku bisa berkumpul beberapa waktu saja dengan Yohanes yang paling mengasihi Tuhan, atau mendengarkan sekali saja khotbah Petrus yang pernah mendapat teguran Tuhan, itu cukup baik. Tetapi tidak dengan Maria. Dia berpikir, meskipun ada Petrus dan Yohanes di sana, tetapi ini tidak cukup. Hatiku adalah hati seorang janda!
Ada pula yang mungkin berpikir, betapa senangnya kalau ada malaikat yang berbicara dengannya. Tetapi Maria sedikit pun tidak merasakan apa-apa. Mungkin orang lain berpikir, malaikat itu makhluk yang menakjubkan, elok, pakaiannya putih berkilauan. Tetapi Maria memikirkan, "Tuhanku telah diambil orang, maka malaikat tidak bisa memenuhi kekosongan hatiku dan aku pun menangis." Dia berpikir, "Tuhan telah tiada, aku kekurangan! Tuhan telah tiada, meskipun ada Petrus dan Yohanes, tidak cukup! Tuhan telah tiada, meskipun ada malaikat, tetap tidak cukup!"
Malaikat bertanya kepadanya, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawabnya, "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Pikirnya, "Meskipun Tuhanku sudah mati, tetapi tubuh Tuhanku juga berharga." Sedikit pun tidak terpikir olehnya bahwa Tuhan telah bangkit. Dalam Injil Matius, Tuhan sampai empat kali memberitahu murid-muridNya, setelah Dia mati pada hari yang ketiga Ia akan bangkit (Matius 16:21; 17:23; 20:19; 26:32), tetapi sedikit pun ia tidak tahu. Hari ini harapannya habis, tetapi asal ada tubuh Tuhan cukuplah baginya. Meskipun dia demikian buta terhadap ini, tetapi karena dia tulus murni hanya mau Tuhan, maka Tuhan mewahyukan diriNya kepadanya.
Tuhan mau menampakkan diri kepada Maria Magdalena adalah untuk memuaskan sebuah hati yang sangat merindu-dambakan Tuhan. Petrus dan Yohanes telah pulang ke rumahnya, maka Tuhan tidak mencari mereka; tetapi di sini ada sebuah hati yang mutlak tulus mau Tuhan, maka Tuhan akan menemui dia. Saudara saudari, jika dalam hal pengetahuan kita sedikit kurang, itu tidak mengapa, asal saja kita memiliki sebuah hati yang bisa menggerakkan Tuhan mencari kita, inilah yang paling berharga.
Ayat 14 dan 15 mengatakan, "Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepadaNya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilNya."
Ia telah tampak Tuhan, tetapi dikiranya penunggu taman. Tuhan bertanya kepadanya, mencari siapa, jawabnya : "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, ..." Dia lupa memberitahu, bahwa dia sedang mencari Tuhan, mencari Yesus, orang Nazaret. Maria hanya mengatakan "Dia". Dalam pandangan Maria, di dunia ini hanya ada seorang "Dia." Dalam hati Maria mengira semua orang seharusnya mengenal siapakah yang dimaksud dengan "Dia". Maria mengira semua orang tahu siapa "Dia" itu. Bagi Maria siapa pun tidak dipikirkannya, kecuali Dia seorang. Inilah hati Maria.
Dalam sebuah museum di London terdapat sehelai surat, yaitu sehelai surat yang ditulis oleh seorang anak kepada ayahnya. Pada sampulnya hanya tertulis kata-kata : "Papa, London". Dalam pikiran anak itu, setiap orang di London seharusnya mengenal ayahnya. Inilah hati Maria terhadap Tuhan.
Kalimat pertama dalam Kidung Agung 1:2 adalah, "Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!" Inilah kata-kata perempuan Sulami yang merindukan Salomo. Apa yang dipikirkan Maria adalah "Dia", apa yang diucapkan mulutnya juga "Dia". Dalam hati dan mulutnya hanya ada "Dia". Baginya asal ada "Dia" cukuplah, demikian juga dalam hati kita seharusnya hanya ada "Dia" cukuplah. Tidak memiliki pengetahuan rohani tidak mengapa, ada "Dia" cukuplah. Bukan memerlukan pengetahuan lebih banyak, melainkan memerlukan sebuah hati yang mutlak di hadapanNya.
"Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilNya" Macam apakah Maria itu? Dia adalah seorang perempuan. Tubuhnya lemah atau kuat, kita tidak mengetahuinya; tetapi kita tahu bahwa hatinya bertekad mengambilNya. Dia tidak memikirkan apakah tenaganya cukup kuat, dia juga tidak memikirkan berapa jauh jarak yang mungkin akan ditempuh, dia hanya memikirkan mengambil-Nya. Kasih tidak mengenal "kesulitan".Dalam dunia ini yang paling menakjubkan ialah di mana ada kasih di sana tidak terasa ada kesulitan. Apa pun tidak dipedulikannya, asal tahu di mana Dia diletakkan, dia akan pergi mengambilNya. Inilah hati Maria.
Dalam situasi demikian ini, Tuhan tidak dapat tidak mewahyukan diriNya kepada Maria. Sampai saat itu, Tuhan tidak dapat lagi membiarkan dia menangis terus. Tuhan tidak dapat terlebih dulu mencari Petrus, Yohanes; tidak dapat terlebih dulu mencari murid-murid yang berjalan menuju Emaus; tidak dapat terlebih dulu mencari Tomas; di sini Tuhan hams terlebih dulu memenuhi sebuah hati yang sangat merindukanNya, Tuhan harus terlebih dulu menampakkan diriNya kepada Maria Magdalena.
Bagaimanakah Tuhan menampakkan diriNya kepadanya? Kata Yesus kepadanya : "Maria!"Maria berpaling dan berkata kepadaNya dalam bahasa Ibrani : "Rabuni";artinya guru. Pernahkah Anda mendengar suara "Maria!" ini? Ketika Anda sedang berdoa di dalam kamar Anda, jika Anda telah mendengar suara "Maria!"ini cukuplah sudah. Begitu Tuhan berkata "Maria", Maria segera mengenal Dia, inilah wahyu. Asal Tuhan berkata sepatah kata, cukuplah. Ketika gembala memanggil dombanya, mata domba segera terbuka. Begitu Maria mendengar suara Tuhan, ia segera tahu bahwa suara ini bukan suara penunggu taman, melainkan suara guru dan ia tidak perlu menangis lagi. Kapan Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada Anda, maka Anda tidak perlu berkata apa-apa lagi. Tuhan hanya berkata sekali saja "Maria", dia segera mengenal bahwa itulah Tuhan. Saudara saudari, apakah kalian mengenal suara Tuhan?
Seorang saudara mengenal satu keluarga yang hanya tinggal seorang ibu dan seorang anaknya. Setiap petang anaknya pulang bersepeda, dan ketika hampir tiba di rumah, dia selalu bersiul; ibunya segera tahu bahwa anaknya sudah pulang. Pada suatu hari, saudara ini beranjangsana ke sana. Ketika minta diri mau pulang, ibu itu menahan sambil mengatakan bahwa anaknya segera tiba. Saudara ini bertanya, bagaimana bisa tahu? Ibu itu menjawab, dia telah mendengar suara siulan anaknya. Bagi orang lain suara ini sedikit pun tidak ada artinya, tetapi bagi telinga sang ibu, itu sangat berarti. Tuhan berkata, "Maria", bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi Maria merasakan bahwa suara ini sangat dikenalnya, begitu mendengar segera tahu bahwa itulah Tuhan.
Selanjutnya kata Yesus kepadanya, "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu." Dalam Matius pasal 28 dikatakan, perempuan-perempuan itu menyentuh Tuhan, menyembah Tuhan, maka Tuhan mengizinkannya. Di sini Tuhan tidak mengizinkan Maria memegang Dia, apakah artinya? Ini dikarenakan Maria sangat ingin agar Tuhan tetap tinggal di bumi, ingin memegang Dia dan tidak melepaskan-Nya; tetapi apa yang didapatkan Tuhan di bumi hanyalah mahkota duri, salib, kubur, sekarang Tuhan mau naik ke surga, "kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu." Karena itu Tuhan berkata kepada Maria, "Jangan memegang Aku, jangan menahan Aku di bumi."
Kita wajib tahu bahwa dalam Injil Matius tidak dicantumkan tentang kenaikan Tuhan ke surga, sebaliknya malah dikatakan bahwa Tuhan akan menyertai murid-muridNya sampai kepada akhir zaman. Ini disebabkan Injil Matius mengutarakan Tuhan sebagai Juruselamat di bumi yang senantiasa menyertai murid-muridNya. Injil Yohanes mengisahkan Tuhan sebagai Juruselamat di surga, tidak hatinya dibangkitkan dari kematian, bahkan terangkat ke surga, menjadi kepala umat manusia baru, menjadi wakil manusia. Sebelumnya dalam surga belum pernah ada manusia, tetapi ketika Tuhan naik ke surga, Dia adalah manusia yang pertama berada di surga, dan kemudian orang-orang yang percaya kepadaNya pun akan pergi ke sana. Surat Ibrani pasal 2 mengatakan, "Yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, ... Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah -- yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan, -- yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan". Tuhan oleh karena penderitaan maut telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, bahkan banyak orang (putra) akan dipimpinNya masuk ke dalam kemuliaan. Tuhan telah pergi, selanjutnya murid-murid juga akan pergi. Setelah Tuhan bangkit, baru menyebut murid-muridNya sebagai saudara; dengan kata lain, Tuhan adalah yang sulung dan kita adalah para saudaraNya. Tuhan telah bangkit dan naik ke surga, sehingga BapaNya menjadi Bapa kita, AllahNya juga adalah Allah kita. Karena itu Tuhan memberitahu Maria, "Tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu."
Sekarang, masih adakah yang akan dikatakan oleh Maria? Tidak. Ia sudah merasa cukup, merasa puas! Maria lain pulang; sekarang ia boleh pulang. Saudara saudari, jika kalian kekurangan wahyu ini, tidak tampak Tuhan, tidak mendengar suara Tuhan, dapatkah kalian menyalahkan Tuhan? Tentu tidak; karena kalian tidak merindu-dambakan Tuhan seperti Maria. Cobalah bertanya kepada diri Anda sendiri, apakah Anda benar-benar memikirkan, merindu-dambakan Tuhan? Adakah Anda dari lubuk batin Anda merindukan Putra Allah? Tahukah Anda bahwa hati Tuhan tidak dapat disentuh dengan kedudukan Anda, tidak dapat disentuh dengan ketenaran Anda? Tetapi jika Anda benar-benar merindukan dan memikirkan Nya sejenak saja, maka hatiNya pasti tersentuh oleh Anda!
Semoga Tuhan memberikan satu keinginan di dalam kita, yang merindukan Putra Allah dan mengasihi Dia dengan setulusnya.