Daftar isi Dua Belas Bakul (4) · bab 7/12

Allah Membutuhkan Manusia

“Lalu aku mendengar suara TUHAN berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’”

Yesaya 6:8

“Dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: ‘TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.’”

1 Samuel 1:10-11

“Siapa saja yang mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.”

Yohanes 7:17

I. ALLAH MEMERLUKAN KERJA SAMA MANUSIA

Alkitab memperlihatkan kepada kita satu perkara, yakni Allah membutuhkan manusia. Allah membutuhkan kerja sama manusia untuk menggenapkan rencana-Nya yang kekal. Manusia adalah inti dari penciptaan Allah yang selama enam hari itu. Allah baru berhenti dari pekerjaan penciptaan-Nya setelah Ia menciptakan manusia. Boleh dikatakan, jika tidak ada manusia, Allah tidak beroleh perhentian. Meskipun kemudian manusia jatuh, kehendak Allah atas diri manusia tidak berubah. Allah tetap berusaha mendapatkan manusia. Terselamatkannya manusia, terbinanya manusia, semua itu adalah untuk memuaskan kebutuhan Allah. Allah mempunyai satu kebutuhan yang paling besar dalam pekerjaan-Nya, yaitu kerja sama dari manusia. Boleh dikatakan, kapan dan di mana saja ada pekerjaan Allah, di situ ada kerja sama dari manusia. Allah bekerja sama dengan manusia, Allah tidak dapat kekurangan manusia. (Pekerjaan yang dimaksud di sini, tidak termasuk enam hari pekerjaan penciptaan Allah, sebab pekerjaan penciptaan mutlak dikerjakan sendiri oleh Allah).

Dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, kita melihat bahwa Allah terus-menerus mencari, mendapatkan, dan memimpin manusia, bahkan melakukan banyak perkara melalui manusia. Ketika Allah ingin melakukan suatu perkara, Ia selalu terlebih dulu mencari dan mendapatkan manusia. Jika Allah tidak mendapatkan manusia, Ia tidak berdaya melakukannya. Di bawah ini kita akan mengetengahkan beberapa contoh.

Pada zaman Nuh, kita tahu dengan jelas bahwa Allah berniat menyelamatkan manusia. Namun terlebih dulu Ia harus mencari dan mendapatkan seorang yang sehati dan sejalan dengan-Nya, jika tidak, kehendak-Nya takkan bisa terlaksana. Kita tampak bahwa Allah kemudian mendapatkan seorang yang bernama Nuh. Demi kerja sama, Nuh membuat sebuah bahtera, terlaksanalah kehendak-Nya. Allah ingin kisah bahtera itu terjadi dalam alam semesta ini, untuk itu terlebih dulu Ia harus mendapatkan Nuh. Di sanalah Allah dengan manusia, manusia dengan Allah, sehati, sejalan, dan bekerja sama.

Begitu pula pada zaman Musa. Allah berkehendak menyelamatkan bani Israel dari penindasan raja Firaun. Untuk itu Allah terlebih dulu harus mendapatkan Musa. Hasil kerja sama dengan Musa, kehendak-Nya dapat terlaksana. Jika tidak, Ia pun tidak berdaya menyelamatkan bani Israel. Allah memang Mahakuasa, namun tanpa Musa, Ia tidak berdaya melakukan hal itu. Jika Musa tidak mau dipakai Allah, Allah hanya dapat menunggu. Allah hanya dapat menunggu hingga ada orang yang mau bekerja sama dengan-Nya, barulah Ia dapat melaksanakan kehendak-Nya. Dalam kisah Musa memimpin bani Israel, kita tampak betapa Allah membutuhkan kerja sama manusia. Prinsip ini jelas sekali.

Kemudian kita lihat, tatkala orang Israel tiba di kaki Gunung Sinai, Allah berkehendak agar mereka mendirikan sebuah tabernakel. Allah akan memenuhi tabernakel itu dengan kemuliaan-Nya, dan melalui tabernakel itu Allah akan tinggal di antara manusia. Tetapi untuk mencapai tujuan ini, Allah harus mendapatkan sekelompok orang yang mau bekerja sama dengan-Nya. Jika tidak, kehendak-Nya tidak akan terlaksana. Jika Allah tidak mendapatkan Musa dan sekelompok orang itu, Ia tidak dapat menyatakan kemuliaan-Nya kepada orang Israel dan tidak dapat tinggal di tengah-tengah manusia.

Ketika Tuhan Yesus datang ke bumi, kita dapat tampak lebih jelas lagi betapa Allah selalu bekerja sama dengan manusia. Siapakah Tuhan Yesus kita itu? Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Di dalam alam semesta ini tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi permintaan Allah, karena itu, Allah sendiri menjelma menjadi seorang manusia. Tuhan Yesus jauh melampaui segalanya, namun selama Ia berada di bumi, Ia selalu berdiri di atas kedudukan manusia. Meskipun Ia adalah Allah dan juga Putra Allah, tetapi Ia selalu bekerja dalam status manusia. Ketika Ia dicobai oleh Iblis, berkali-kali Iblis mengatakan, “Jika Engkau Anak Allah, lakukanlah ini, lakukanlah itu.” Iblis bermaksud membuat Dia meninggalkan kedudukan-Nya sebagai manusia dan mengambil kedudukan Allah. Namun Tuhan menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Maksud Tuhan ialah Aku di sini adalah manusia; Aku dicobai di hadapanmu justru karena Aku telah menjelma menjadi manusia, Aku adalah orang Nazaret. Selain itu, ketika Tuhan Yesus mengusir setan, setan itu berteriak, “Aku tahu siapa Engkau, Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Tuhan menghardik setan itu supaya diam (Mrk. 1:23-26), karena Tuhan datang ke dunia terutama menjadi seorang manusia. Tuhan berkata, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Tatkala Natanael datang menjumpai Tuhan, ia berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” Tuhan menjawab, “Engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh. 1:49-51). Tuhan Yesus selalu mengaku diri-Nya sebagai Anak Manusia, dan selama di dunia Ia selalu berdiri pada kedudukan manusia.

Allah harus melalui manusia menggenapkan pekerjaan-Nya. Ketika manusia tidak mau memenuhi permintaan-Nya, Ia rela mengutus Anak-Nya yang terkasih datang ke dunia menjadi seorang manusia, agar pekerjaan-Nya dapat terlaksana. Kemudian kita pun tampak Tuhan mengutus 12 murid dan 70 murid untuk melakukan pekerjaan Allah (Luk. 9:1-2; 10:1). Allah mau menggenapkan rencana-Nya, namun terlebih dulu Ia harus mendapatkan manusia. Dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, kita dapat membuktikan bahwa segala pekerjaan Allah di tengah-tengah manusia selalu dikerjakan melalui manusia. Tanpa manusia, Ia tidak dapat bekerja; tanpa manusia, rencana-Nya tidak dapat dilaksanakan.

Allah berfirman, “Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yes. 6:8). Bukan Allah tidak mau memberitakan Injil, bukan Allah tidak mau menyelamatkan manusia, melainkan karena Ia tidak mendapatkan orang yang mau diutus-Nya. Banyak orang sudah diduduki oleh kemuliaan duniawi yang sia-sia, banyak orang sudah diduduki oleh kenikmatan dunia, banyak orang sudah diduduki oleh rumah tangga atau ketenangan hidup, mereka hanya mementingkan urusan sendiri, sedikit pun tidak berminat terhadap Injil dan pekerjaan Allah. Saudara saudari, tahukah Anda, banyak orang tidak beroleh selamat bukan karena Allah tidak mau menyelamatkan mereka, tetapi karena Anda tidak mau bekerja sama dengan-Nya. Bila setiap anak Allah mau bekerja sama dengan-Nya, pasti jiwajiwa yang diselamatkan-Nya tak dapat dihitung lagi. Pekerjaan Allah tidak dapat berkembang, dikarenakan Ia tidak mendapatkan orang. Saudara saudari, Allah harus mendapatkan Anda dulu, barulah Ia dapat melakukan pekerjaan-Nya.

II. ALLAH SANGAT MENGHARGAI MINAT MANUSIA

Dalam Alkitab ada satu perkara yang sangat indah, yaitu Allah sangat menghargai minat manusia terhadap-Nya. Dalam kisah Musa kita tampak bahwa ia mempunyai satu hati untuk menyelamatkan bani Israel bagi Allah. Walaupun ia baru dipakai Allah ketika berusia 80 tahun, namun minat itu sudah terkandung dalam hatinya sejak ia berumur 40 tahun. Sekalipun telah melewati 40 tahun, Allah tidak melupakan minatnya, Allah tetap mencari dan mendapatkannya.

Tidak hanya Musa, Samuel juga demikian. Dalam doanya kepada Allah, Hana berjanji demikian, “Jikalau Engkau mengaruniai hamba-Mu seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN seumur hidupnya . . . “ Karena ibu Samuel mempunyai minat demikian terhadap Allah, maka kemudian Allah mendapatkan Samuel yang melaksanakan rencana-Nya pada zaman itu. Asal Allah tampak orang berminat kepada-Nya, minat itu sangatlah dihargai-Nya.

Jika kita membaca firman Allah dengan cermat, kita akan tampak bahwa segala kekayaan rohani, segala kehidupan rohani, segala terang rohani, hanya Allah karuniakan kepada satu jenis orang, yaitu orang yang mempunyai minat untuk dipakai oleh Allah. Demikian pula dengan kekuatan rohani. Kekuatan rohani bukan kita peroleh dari luar, melainkan dari minat kita terhadap Allah dan persembahan kita kepada-Nya. Kekuatan yang sejati tergantung pada berapa besarnya minat hati kita terhadap-Nya; kekuatan rohani tergantung pada berapa besar kasih kita kepada-Nya.

Dalam Perjanjian Lama ada seorang bernama Simson. Ia seorang yang gagah perkasa. Musuh-musuhnya, orang Filistin, sebenarnya tidak mengetahui di mana letak kekuatannya. Kemudian mereka menyuruh Delila membujuk dan menanyakannya; dan diketahuilah kekuatannya berada pada rambutnya. Ketika rambutnya dipotong, kekuatannya pun hilang (Hak. 16:15-17). Apakah rambutnya itu? Rambutnya adalah rambut orang nazir. Orang nazir adalah orang yang mutlak mempersembahkan diri kepada Allah. Segala kekuatan rohani kita tergantung pada berapa banyak persembahan kita kepada Allah. Jika persembahan Anda tidak tuntas, Anda masih lumpuh, tidak berkekuatan. Tidak peduli berapa banyaknya tuntutan kita, kita harus ingat bahwa kekuatan kita terletak pada persembahan kita kepada Allah.

Misalnya, ada seorang saudari yang telah cukup lama bergumul dengan Allah karena suatu hal, namun ia tetap tidak mau tunduk kepada Allah. Dalam keadaan demikian, meskipun ia mau berdoa, ia tidak akan berhasil, sebab ia tidak mau memenuhi permintaan Allah atas dirinya. Kalaupun ia membantu orang lain, ia tidak akan dapat membawa orang lain maju. Sampai pada suatu hari, kasih Allah menggerakkan hatinya, dengan mengucurkan air mata ia taat kepada Allah dan mau memenuhi permintaan-Nya. Setelah itu, barulah ia dapat membantu dan memimpin orang lain dengan riil. Jadi, kekuatan rohani bersumber pada persembahan kita. Berapa banyak persembahan kita, berapa banyak pula kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Mungkin ada orang bertanya, “Mengapa orang lain bisa memperoleh terang, tetapi aku tidak?” Kisah Simson memperlihatkan kepada kita, begitu rambutnya hilang, kekuatannya juga hilang, bersamaan dengan itu, matanya pun hilang (Hak. 16:20-21). Kita tidak memiliki terang, tidak tampak, tidak lain karena kita tidak mempersembahkan diri dengan tuntas. Tuhan berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh . . . Jika matamu jahat (kabur), gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu” (Mat. 6:21-23). Jelaslah, berapa banyak hati kita tertuju kepada Allah, sebanyak itu pula terbukanya mata rohani kita.

Anak-anak Allah tidak memiliki terang, karena hati mereka tidak tertuju kepada Allah. Anak-anak Allah tidak memiliki kekuatan, karena persembahan mereka tidak tuntas. Karena hati kita kurang tertuju kepada Allah, karena persembahan kita tidak tuntas, karena kita kurang memenuhi permintaan Allah, maka ketika Allah mencapai kita, Allah tidak mendapatkan jalan keluar. Jika persembahan kita tuntas, kita pasti mendatangkan kelimpahan rohani dan berkat surgawi. Kita percaya, kalau hati setiap saudara saudari tertuju kepada Allah, persembahan mereka juga tuntas, kita akan melihat Injil Tuhan di mana-mana akan diberitakan dan berkat surgawi tercurah kepada manusia.

Saudara saudari, kalau kita mau memiliki kekuatan yang sejati, mau mendapatkan terang yang sejati, mau memperoleh kelimpahan surgawi, tidak ada jalan lain kecuali kita memenuhi permintaan Allah. Seberapa banyak persembahan kita kepada Allah, sebanyak itu pula yang Allah berikan kepada kita.

Semoga kita tidak membendung jalan kelimpahan berkat-Nya. Semoga kita tidak menjadi perintang Allah. Untuk itu, kita perlu mempunyai hati yang tertuju kepada Allah, kita mau memenuhi permintaan-Nya. Dalam pekerjaan Allah, Dia harus mendapatkan manusia. Jika kita tidak mau, Dia akan mencari orang lain untuk memenuhi dan menggenapkan kehendak-Nya. Semoga Allah memperkuat minat kita terhadap-Nya, agar kehendak-Nya mendapat jalan keluar di atas diri kita.