← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 19/24

KRISTUS YANG TERSEMBUNY1 DALAM ROH KITA

Seperti telah kita nampak, baik kemah pertemuan maupun Bait Suci, semua terdiri dari tiga bagian : pelataran luar, tempat kudus dan tempat maha kudus. Di dalam pelataran luar, kemah pertemuan terbagi dalam dua bagian : tempat kudus dan tempat maha kudus. Sebelum kita melihat berbagai benda dalam tempat maha kudus, kita perlu meninjau lebih dulu segala sesuatu yang terdapat dalam pelataran luar dan yang ada di dalam tempat kudus.

PELATARAN LUAR

Ada dua benda di pelataran luar : mezbah dan bejana pembasuhan. Semua siswa Alkitab membenarkan bahwa mezbah melambangkan salib Kristus dan bejana pembasuhan melambangkan pekerjaan Roh Kudus. Sudahkah kita mengalami mezbah dan bejana pembasuhan? Di atas salib, Kristus telah dipersembahkan sebagai kurban penghapus dosa. Dia telah mati bagi segala dosa kita, bahkan Dia telah dijadikan dosa di kayu salib karena kita; maka Dia adalah Paskah kita. Makna Paskah adalah Dia, Anak Domba Allah, menanggung dosa-dosa kita dan mati di kayu salib. Satu Korintus 5:7 dengan jelas menyatakan bahwa Kristus adalah Paskah kita. Saat kita percaya dalam kematian-Nya bagi dosa-dosa kita adalah saat Paskah kita. Pada hari itulah kita menikmati Kristus sebagai Domba Paskah kita.

Setelah kita mengalami mezbah salib, Roh Kudus segera bekerja, seperti yang dilambangkan oleh bejana pembasuhan. Bejana pembasuhan adalah tempat orang-orang membasuh dan membersihkan diri. Setelah menerima Kristus sebagai Paskah kita, Roh Kudus memulai pekerjaan pembersihan-Nya di dalam dan di luar. Ketika orang Israel masuk ke dalam kemah pertemuan, mereka harus melalui mezbah dengan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah; tetapi mereka juga harus mencuci kaki dan tangan mereka dari segala kotoran dunia dalam bejana pembasuhan. Roh Kudus membersihkan kita dari kotoran duniawi dalam hidup kita sehari-hari sejak kita beroleh selamat. Jika kita sudah memiliki pengalaman ini, berarti kita sudah diselamatkan dan tidak lagi berada di luar pelataran luar. Begitu kita berada dalam pelataran luar, kita ada di dalam batasan dan wilayah Allah. Dengan kata lain, kita ada di dalam Kerajaan Allah, karena kita sudah dilahirkan kembah, ditebus, diampuni, dan kini dibersihkan dengan pekerjaan Roh Kudus. Kalau kita tidak mengalami mezbah dan bejana pembasuhan, kita tidak bisa menjadi anak Allah yang sejati. Sekalipun kita mungkin telah menjadi orang Kristen secara luaran, tanpa pengalaman atas kedua hal itu, kita masih berada di luar Kerajaan Allah.

TEMPAT KUDUS

Tetapi bukan hanya itu; itu hanya ABC dari kehidupan orang Kristen. Kita harus maju lagi. Kita sudah memasuki pintu gerbang kemah pertemuan, tetapi masih ada tiral atau pintu lain yang harus kita lewati. Dari pelataran luar, dari tempat kita percaya kepada Tuhan, kita perlu masuk ke dalam tempat kudus.

Benda pertama dalam tempat kudus adalah meja roti sajian, meja tempat menyajikan roti. Roti adalah lambang Kristus sebagai makanan kita, karena Dia adalah Roti Hayat (Yoh. 6:35). Kristus adalah suplai hayat kita. Dia adalah manna kita setiap hari, yang merawat kita, sehingga kita bisa hidup di hadapan Allah. Meja roti sajian tidak hanya berisi satu ketul roti; melainkan meja yang memuat banyak roti. Ini berarti kita mungkin saja mengalami suplai hayat yang berlimpah, sama seperti manna yang turun dari surga (langit). Setiap pagi ada suplai manna yang berlimpah. Sejak kita mengalami Kristus sebagai Paskah kita dan pekerjaan pembersihan Roh Kudus, sudahkah kita maju untuk mengalami Kristus sebagai manna kita sehari-hari? Kalau sudah, kita mengenal meja roti sajian dengan hidup.

Kaki pelita (kandil) menyusul meja roti sajian sebagai benda kedua. Ini berarti selain hayat, Kristus juga adalah terang. Yohanes 1:4 mengatakan, di dalam Kristus ada hidup, dan hidup (hayat) ini adalah terang manusia. Yohanes 8:12 juga menyatakan bahwa terang ini adalah terang hayat. Jika kita dapat menikmati dan mengalami Kristus sebagai hayat, maka Dia akan menjadi terang kita secara pasti. Bila kita makan Kristus, kita dapat merasakan penyinaran batini menerangi kita. Setelah kita menerima Kristus sebagai Paskah kita dan telah dibersihkan oleh pekerjaan Roh Kudus, dan setelah kita tahu bagaimana makan Kristus sebagai manna hidup kita sehari-hari, maka kita dapat merasakan penyinaran batini. Benda ketiga, mezbah pembakaran ukupan, mengikuti meja roti sajian dan kaki pelita. Ini dialami bila kita merasakan suatu aroma, suatu bau harum. Bau harum ini, yang adalah Kristus dalam kebangkitan, meluas dan membubung ke Allah. Ketika kita menikmati Kristus sebagai makanan kita. dan berada dalam terang hayat-Nya, kita pun berada dalam kebangkitan. Di dalam kita ada sesuatu yang harum, meluas, dan membubung ke Allah. Hal ini tidak bisa dipertegas dengan pengetahuan atau dengan doktrin, melainkan harus ditegaskan oleh pengalaman kita. Apakah kita memiliki pengalaman yang demikian? Walaupun kita mungkin tidak mengalami hal itu secara memadai, tujuan utama dari pembahasan kali ini adalah kita harus memiliki pengalaman yang demikian. Saya dapat bersaksi bahwa hal ini sangat ajaib! Tiga puluh tiga tahun yang lalu, setiap hari dan bahkan setiap jam, saya berada di dalam tempat kudus ini. 0, Kristus adalah manna harian saya dan saya kenyang dengan-Nya dan penuh terang. Saya sangat senang dengan Allah dan Dia sangat senang dengan saya, dan sesuatu dari Kristus di batin saya meluas/menyebar dan membubung ke Allah mobagai bau harum.

TABUT PERJANJIAN DALAM

TEMPAT MAHA KUDUS

Apakah itu adalah akhir dari semuanya? Itu adalah sesuatu yang kudus, tetapi bukan maha kudus. Itu baik, tetapi bukan yang paling baik. Maka, kita perlu maju lagi untuk masuk ke dalam tempat maha kudus. Tirai pertama harus dimasuki, tetapi tirai kedua harus dirobek. Tirai ini adalah tubuh daging (Ibr. 10:20), yang harus diremukkan untuk dapat masuk ke dalam tempat maha kudus.

Hanya ada satu benda dalam tempat maha kudus yaitu tabut perjanjian. Semua siswa Alkitab sependapat bahwa tabut perjanjian adalah lambang Kristus. Walaupun Kristus dapat dinikmati sebagai makanan kita, terang kita, dan sebagai bau harum terhadap Allah, namun Kristus itu sendiri ada di tempat maha kudus. Kristus sebagai makanan, sebagai terang dan sebagai bau harum adalah tiga benda di tempat kudus, tetapi kini Kristus itu sendiri harus dijamah. Kita tidak seharusnya hanya menjamah Kristus sebagai suatu benda, melainkan harus menjamah diri Kristus sendiri. Ini lebih dalam. Kita harus berkontak dengan diri Kristus sendiri. Kita sudah mengalami Kristus sebagai Paskah kita, dan pencucian Roh Kudus; kemudian kita sudah mengalami Kristus sebagai hayat, terang, dan sebagai bau harum; sekarang kita harus berkontak dengan diri Kristus sendiri. Sedikit sekali orang Kristen yang sudah masuk ke dalam tempat maha kudus untuk menjamah tabut perjanjian, yaitu diri Kristus sendiri.

Sekarang, mari kita bahas isi tabut perjanjian. Sungguh bermakna bahwa manna juga ada di dalam tabut perjanjian. Itu bukan manna yang terbuka, melainkan manna yang tersembunyi; bukan manna yang dipamerkan, melainkan manna di tempat yang rahasia. Manna yang tersembunyi, tentu berhubungan dengan roti sajian. Bedanya adalah : roti sajian tersaji, tetapi manna di dalam tabut perjanjian itu tersembunyi. Roti sajian terpamer di meja, tetapi manna di dalam tabut perjanjian tersembunyi dalam buli-buli emas, tetapi buh-buli ini tersembunyi di dalam tabut perjanjian. Jadi mannanya tersembunyi rangkap dua! Di padang gurun orang Israel menikmati manna, tetapi manna yang mereka nikmati adalah manna yang terbuka : manna yang turun ke bumi, bukan manna yang tersembunyi di surga. Manna yang tersembunyi adalah Kristus itu sendiri.

Kita perlu mengalami Kristus yang lebih dalam semacam itu, Kristus di tempat yang rahasia. Itulah Kristus yang disebutkan dalam Kitab Ibrani 7, menurut aturan Melkisedek - bukan menurut aturan Harun. Harun adalah di pelataran luar mempersembahkan kurban di mezbah; Melkisedek adalah di takhta anugerah di surga. Mungkin kita mengalami Kristus sebagai makanan kita, tetapi kenikmatan itu hanya di tempat kudus, dan apa saja yang kita alami segera diketahui oleh banyak orang. Kadang-kadang berita tentang pengalaman kita yang "mulia" menyebar sampai ke seluruh dunia. Itu tidak lain pengalaman atas roti sajian yang terbuka. Kita perlu maju lebih dalam ke tempat rahasia yang Mahakuasa, untuk menjamah Kristus yang surgawi itu sendiri.

Dalam tabut perjanjian juga ada hukum, hukum yang mengatur dan menerangi. Hukum itu berhubungan dengan kaki pelita di tempat kudus. Hukum adalah kesaksian Allah, dan kaki pelita dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga adalah kesaksian Allah. Walaupun hukum itu berhubungan dengan kaki pelita, prinsipnya masih sama : kaki pelita bersinar secara terbuka, tetapi hukum ini adalah terang yang tersembunyi, batini, dan lebih dalam. Sering kali saudara saudari hanya memiliki terang kaki pelita. Terang mereka memang bercahaya. Di satu pihak itu baik, tetapi di pihak lain, mereka masih dangkal; segalanya terungkap ke permukaan. Mereka memerlukan Kristus menjadi hukum batini mereka. Orang-orang yang memiliki Kristus sebagai hukum hidup yang tersembunyi di dalam mereka tidak tertampak banyak di luaran, tetapi di dalam mereka mengenal Kristus dengan lebih mendalam.

Ketiga, tongkat yang bertunas. Tongkat dengan tunas yang bersemi, melambangkan Kristus yang bangkit. Ini berhubungan dengan aroma ukupan, yang sama-sama melambangkan Kristus yang bangkit; tetapi sekali lagi, bedanya adalah ukupan itu tertampak secara terbuka, sedangkan tongkat yang bertunas dialami secara tersembunyi dan dalam.

Dalam tempat kudus kita nampak tiga benda : Kristus sebagai makanan, Kristus sebagai hayat, dan Kristus sebagai bau harum. Tetapi tiga benda yang ada dalam tabut perjanjian di tempat maha kudus bersifat lebih dalam. Roti sajian adalah sesuatu yang tersaji di luar; kaki pelita adalah sesuatu yang bersinar di luar, dan ukupan adalah sesuatu yang menyebar keluar - semuanya terpamer secara luaran. Tetapi tiga benda dalam tabut perjanjian tersembunyi di dalam dan secara batini.

MAJU MASUK KE DALAM KRISTUS

Kini kita jelas bahwa tempat kudus melambangkan padang gurun di satu pihak, dan melambangkan jiwa di pihak lain. Pada zaman yang lampau, orang Israel berada di Mesir. Karena di Mesirlah mereka mengalami Paskah, Mesir adalah pelataran luar mereka. Setelah Paskah, mereka dibawa keluar dari Mesir dan masuk ke padang gurun. Dengan kata lain, mereka maju dari pelataran luar ke tempat kudus.

Kalau tempat kudus melambangkan padang gurun bagi orang Israel, bagi orang beriman Korintus dan Ibrani, tempat kudus melambangkan jiwa manusia. Misalnya, kaum beriman di Korintus telah mengalami Kristus sebagai Paskah mereka (1 Kor. 5:7), dan kemudian menempuh perjalanan di padang gurun dalam pengalaman mereka, tempat mereka menikmati Kristus sebagai manna mereka dan sebagai air hidup mereka (1 Kor. 10:1-5). Mereka juga berada di padang gurun, sama seperti orang Israel pada zaman dulu, tetapi padang gurun bagi orang Korintus adalah jiwa. Dengan membaca 1 Korintus dengan cermat, kita nampak bahwa mereka jiwani dan karnal (bersifat daging). Ya, mereka menikmati Kristus sebagai makanan mereka dan terang mereka dan memiliki banyak pengalaman ajaib atas diri Kristus, tetapi kenikmatan mereka atas Kristus ada di dalam jiwa mereka. Daging mereka, tirai yang memisahkan tempat maha kudus dari tempat kudus, belum lagi dirobek. Jiwa mereka masih belum dibereskan, sehingga mereka tidak ada di dalam roh, yaitu tempat maha kudus. Mereka menikmati sesuatu dari diri Kristus, tetapi bukan Kristus itu sendiri.

Orang Kristen Ibrani juga dilambangkan oleh orang Israel di padang gurun (Ibr. 3:6-8). Rasul Paulus menunjukkan kepada orang Kristen Ibrani dan kepada orang Kristen Korintus bahwa orang Israel adalah gambaran keadaan mereka. Ibrani 4 menunjukkan bahwa masuk ke dalam perhentian adalah masuk ke dalam tempat maha kudus dan menjamah takhta anugerah, tempat Kristus tinggal sebagai Imam Besar kita hari ini. Orang Kristen Ibrani menikmati sesuatu dari diri Kristus melalui ajaran. Satu Korintus membahas perkara karunia, sedangkan Ibrani membahas soal doktrin. Kaum beriman Korintus menikmati karunia di dalam jiwa mereka, dan kaum beriman Ibrani menikmati doktrin juga di dalam jiwa mereka; sebab itu, mereka tidak bisa mengerti perkara yang lebih dalam. Karena orang-orang Korintus dan orang-orang Ibrani kecanduan terhadap karunia mereka atau terhadap doktrin dasar, mereka harus mentoleransi padang gurun di dalam jiwa mereka.

Itulah sebabnya Rasul Paulus mendorong orang beriman Korintus untuk mengenal Roh itu dan menjadi manusia rohani, bukan manusia jiwani (1 Kor. 2:11-15). Dan dalam Ibrani 4:12, dia mengatakan hal yang sama - mereka harus memisahkan atau membedakan roh dari jiwa. Prinsip dalam kedua kitab ini sama. Hanya kedua kitab ini, dalam Perjanjian Baru, yang mengacu kepada sejarah orang Israel di padang gurun. Alasan untuk hal ini adalah orang-orang Korintus bersifat jiwani dalam karunia mereka, dan orang-orang Ibrani bersifat jiwani dalam doktrin mereka. Hari ini banyak orang Kristen bersifat jiwani dalam karunia mereka dan yang lainnya bersifat jiwani dalam doktrin mereka. Tidak perlu diragukan, doktrin memang membantu orang Kristen Ibrani dan karunia membantu orang Korintus. Tetapi mereka semua berada di dalam jiwa, yaitu tempat kudus, bukan di dalam roh, yaitu tempat maha kudus, tempat mereka dapat menjamah dan mengalami diri Kristus. Jika kita hendak berkontak dengan Dia di dalam roh kita, kita harus meninggalkan jiwa kita. Kita tidak seharusnya tinggal di dalam jiwa. Jika kita tinggal di dalam jiwa, kita berkelana di padang gurun.

Mungkin Anda berkata, "Baiklah, mengapa hal itu begitu penting? Saya masih menikmati sesuatu darl diri Kristus. Mengapa Anda katakan doktrin-doktrin ini hanya bersifat mendasar? Melalui doktrin-doktrin itu saya mengetahui sesuatu tentang diri Kristus dan menikmati sesuatu dari diri-Nya. Anda mengatakan karunia-karunia ini terlalu ditekankan. Lalu, mengapa saya masih bisa menikmati sesuatu dari Kristus melalui karunia-karunia itu?" Lihatlah gambaran di padang gurun. Selama lebih dari tiga puluh delapan tahun, orang Israel mengembara di padang gurun, dan hari demi hari, sepanjang saat itu, mereka mengambil bagian atas manna. Allah sangat penuh dengan rahmat! Dia bukanlah Allah yang kecil (picik), melainkan Allah yang sangat pemurah. Bahkan, ketika mereka salah, ia masih memberi mereka sesuatu. Tetapi manna, yang jatuh dari langit setiap hari, tidak membenarkan pengembaraan orang Israel di padang gurun. Sebaliknya, hal itu membuktikan betapa karnal dan kekanak-kanakannya mereka, dengan menikmati manna belaka selama tiga puluh delapan tahun. Manna baik untuk dimakan sejangka waktu yang singkat, tetapi mereka seharusnya segera meninggalkannya dan menikmati hasil Tanah Kanaan.

Pelajaran yang perlu kita pelajari adalah : memiliki karunia untuk jangka waktu yang singkat boleh-boleh saja, tetapi memaksa memiliki karunia sepanjang masa hanya membuktikan keadaan kita masih kekanak-kanakan. Kita harus maju dan bahkan mendesak untuk maju. Karunia itu bukanlah bagian kita - Kristuslah bagian kita yang telah diukurkan oleh Allah. Sebelum Rasul Paulus menanggulangi karunia dalam 1 Korintus, dia menunjukkan bahwa Kristus itu sendiri adalah bagian kita. Kita tidak dipanggil untuk masuk ke dalam persekutuan karunia, melainkan dipanggil masuk ke dalam persekutuan Kristus (1 Kor. 1:9). Allah tidak menjadikan karunia itu hikmat kita, melainkan menjadikan Kristus hikmat kita. Melalui Kristuslah kita dibenarkan dan dikuduskan dan ditebus (1 Kor. 1:30). Kita harus bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, tetapi semuanya itu hanyalah pembantu untuk jangka waktu yang singkat. Orang Israel tentu dapat bersyukur kepada Allah atas manna mereka setiap hari; tetapi manna itu hanya persediaan sementara sampai mereka tiba di Tanah Kanaan. Mereka tidak seharusnya tinggal di padang gurun dengan manna setiap hari selama tiga puluh delapan tahun.

Puji Allah atas hikmat dan rahmat-Nya, dan syukur kepada Allah atas karunia-Nya, karena ketika kita mengembara di padang gurun, kita benar-benar memerlukan manna setiap hari dan karunia untuk membantu kita. Tetapi ini tidak membenarkan kita berlama-lama dalam perjalanan semacam itu. Sebaliknya, hal itu mungkin membuktikan bahwa kita masih muda, bahkan kekanak-kanakan. Jika kita mau maju, kita tidak perlu lagi menikmati manna; kita bisa segera menikmati hasil tanah permai Kanaan. Ketika kita menikmati hasil tanah permai Kanaan, berarti kita ada dalam perhentian, dan di dalam roh. Kalau tidak, kita seperti orang Israel, terus tinggal di padang gurun jiwa kita. Jika kita tidak berada di dalam roh, salib harus menanggulangi daging kita dan jiwa kita.

Ibrani 4, 5, dan 6 menganjuri kita untuk maju, dan 1 Korintus 9 menganjuri kita untuk berlari dalam perlombaan. Kita harus maju untuk masuk ke dalam roh, agar dapat menjamah Kristus sendiri dan mengalami Kristus yang lebih dalam sebagai manna yang tersembunyi, hukum batini, dan tongkat bertunas yang rahasia. Penulis I Korintus menasihati kaum beriman Korintus untuk menepatkan dan membatasi diri mereka dalam hal karunia. Mereka harus belajar memakai karunia dengan tepat (I Kor. 14). Jika kita membaca 1 Korintus dengan cermat dan objektif, kita akan nampak bahwa maksud penulisnya bukanlah mendorong, melainkan menepatkan kaum beriman dalam pelaksanaan pemakaian karunia. Untuk berlari dalam perlombaan dengan tepat, kita harus tahu hal-hal yang lebih dalam dari Kristus di dalam roh.

Kini kita semua harus memeriksa, di mana kita berada. Apakah kita berada di mezbah kurban bakaran atau di bejana pembasuhan? Mungkin kita malah di luar pintu gerbang! Sudahkah kita mengalami kedua benda di pelataran luar itu dan maju terus ke meja roti sajian, terang, dan bau harum? Atau, sudahkah kita melewati tempat kudus dan kini berada di tempat maha kudus? Kalau demikian, kita ada di dalam roh, menjamah, dan mengalami diri Kristus dengan cara yang paling dalam. Semoga Tuhan merahmati kita, sehingga kita tahu di mana kita berada.