Daftar isi Beritahukan Kepadanya · bab 1/1

Beritahukan KepadaNya

Pembacaan Alkidtab :

Matius 14.1-12; Markus 6:30-32

Kedua bagian ayat ini memberitahukan dua keadaan yang berlainan. Pertama, keadaan dukacita; kedua, keadaan sukacita. Yang satu memperlihatkan murid-murid Yohanes Pembaptis melihat gurunya mati dipenggal. Sungguh suatu perkara yang menyedihkan! Setelah mereka menguburkannya, mereka pergi memberitahu Tuhan Yesus. Yang lainnya memperlihatkan kedua belas murid Tuhan diutus untuk memberitakan Injil,

menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Ini perkara yang menggembirakan. Mereka pun datang memberitahu Tuhan.

Alkitab sering mencantumkan perihal Tuhan memberitakan firman kepada orang, tetapi jarang mengisahkan perihal orang memberitahukan sesuatu kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan kita adalah Tuhan yang kepadaNya orang boleh memberitahukan sesuatu. Tuhan Yesus adalah Orang yang sangat mudah menerima pemberitahuan orang. Pemberitahuan apa saja Ia selalu bersedia mendengarkannya. Kedua bagian ayat di atas justru mempelihatkan simpati Tuhan terhadap kita.

Sering kali kita sedih, sering kali kita gembira. Saat itulah kita, perlu ada orang yang mau mendengar kesedihan atau kegembiraan kita. Tapi tak seorangpun mau. Kadangkala kita memberitahu orang, tetapi orang itu tidak mau mendengarnya. Ketika kita menemui perkara yang sangat sulit dibereskan, dan kita memberitahu kepada orang, namun orang itu menganggap perkara tersebut sepele. Kita beritahukan kepada orang tentang perkara yang sangat berat dan penting, namun orang tidak menanggapinya. Kadangkala kita memberitahu kepada orang suatu kabar gembira, orang pun tidak dapat mengerti atau, ikut bergembira bersama kita. Kadangkala kita merasa kesal, tapi orang tak bisa menerima perasaan kita. Walaupun mereka yang pernah mempunyai pengalaman yang sama bisa merasakannya, tapi saat itu mereka tetap tidak mau bersimpati. Kadangkala, karena mereka sendiri sudah cukup banyak kesedihan atau kegembiraan yang seakan-akan tak sanggup ditanggung sehingga tidak dapat lagi menerima perasaan kita. Kadangkala kita mengharap ada orang mau mendengarkan luapan hati kita tentang hal-hal yang menyedihkan atau menggembirakan, tetapi kalau ada orang mau mendengar saja sudah cukup baik, sukar sekali bisa mendapat simpatinya.

Banyak orang mengira bahwa Tuhan kita, adalah Tuhan yang Mahabesar. Memang Tuhan itu Mahabesar, namun Ia tidak meremehkan perkara-perkara kecil. Mungkin Anda mengira haruslah perkara-perkara yang besar saja baru Tuhan mau mendengar, tapi ternyata Ia tidak pernah melalaikan perkara yang kecil. Tidak ada sesuatu yang dipandang Tuhan terialu kecil sehingga Ia tidak mau mendengar. Ia mau mendengar segala masalah Anda. Ia mau mendengar pemberitahuan muridmuridNya sendiri, juga mau mendengar pemberitahuan murid-murid Yohanes Pembaptis.

Murid-murid Yohanes sudah lama mengikuti gurunya, pasti hubungan mereka sangat akrab. Ketika gurunya dibunuh, tak mungkin mereka tidak sedih. Namun dalam Alkitab tidak tertulis bahwa mereka mengatakan keburukan Herodes atau mereka menangis sepanjang hari. Di situ hanya tertulis setelah, mengambil dan mengubur mayat Yohanes Pembaptis, pergilah murid-muridnya memberitahu Yesus.

Ada orang setelah menguburkan mayat berkata, "Habislah segala sesuatuku, putuslah harapanku. Dia sudah mati, aku pun kehilangan segalanya." Siapa tahu, justru inilah saatnya menghampiri Tuhan. Anda boleh memberitahukan kesedihanmu. Dia tak mungkin berkata, "Kau terlalu duniawi, emosional atau terlalu terpengaruh oleh kematiannya." Ia mengetahui perasaan Anda dan mengerti kesedihan Anda.

Ada orang yang belum pernah mengalami kesedihan ditinggal orang tua, istri, sanak saudara atau familinya, tapi kadangkala pernah mengalami kehilangan sesuatu, seperti peristiwa kematian Yohanes, sehingga merasa putus asa. Anda merasa langit Anda tidak biru lagi, semua pemandangan membosankan, jalanpunbuntu. Bila pada saat demikian Anda hanya menangisi mayat itu sepanjang hari, memandanginya dengan sedih, dan menempatkannya di hadapan Anda, ini sama sekali tak akan berguna. Anda harus seperti murid-murid Yohanes, menguburkan mayat itu, lalu pergi memberitahu Tuhan.

Tahukah Anda, di hadapan Tuhan sekali Anda utarakan, sekali Anda curahkan isi hati Anda, itu akan menjadikan Anda sekali lagi lebih akrab dan lebih kenal kepadaNya. Pada saat demikian, mendekatiNya satu kali akan lebih baik daripada persekutuan biasa ratusan kali. Hanya dengan demikianlah hayat Anda baru bisa bertumbuh. Bawalah dan beritahukanlah kesulitan Anda kepadaNya. Dia bisa menghibur, menunjang dan membantu Anda.

Orang yang tidak. pernah mencucurkan air mata di hadapan Tuhan, tidak pernah membawa kesedihan dan kegembiraannya kepada Tuhan, untuk ditanggung bersama Tuhan, tidak pernah memberitahukan rahasia pribadinya kepada Tuhan, belumlah mempunyai persekutuan dan pergaulan yang intim dengan Tuhan. Ini bukan berarti bahwa Anda tidak bisa meminta orang lain mendoakan dan membantu Anda, tapi jika Anda mau memberitahu sendiri kepada Tuhan, pasti Anda akan lebih akrab denganNya.

Murid-murid Yobanes memberitahu kesedihannya kepada Tuhan, maka bereslah segala persoalan mereka. Perkara apa pun boleh diberitahukan kepada Tuhan. Dia selalu bersedia mendengar. Setiap orang tidak selalu dapat bersimpati kepada orang lain, tapi Tuhan dapat! Dia bersimpati atas setiap kesukaran kita. Dia memperhatikan setiap masalah orang. Di dalam hatiNya, seakan-akan hanya ada urusan Anda semata. Dia mau memikul segala penderitaan Anda. Bagaimanapun lemahnya Anda, Ia tetap bersimpati dan bersedia menanggung beban Anda. Tuhan mau memikul segala kekhawatiran kita, Ia pun sabar mendengar pemberitahuan kita. Jangan sekali-kali mengira Ia tidak menghiraukan, sehingga kita malas memberitahukan kepadaNya. Ia selalu menunggu dan bersedia mendengar pemberitahuan Anda.

Tuhan tidak hanya mau mendengar masalah-masalah kesedihan kita, juga mau mendengarkan hal-hal kegembiraan kita. Kita lebih mudah menangis dengan orang yang menangis daripada bersukacita dengan orang yang bersukacita. Banyak orang mengira "mengasihani" adalah "bersimpati". Padahal "hasihan" itu bukanlah "simpati." "Simpati" ialah dapat bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis. Kadangkala Anda melihat seseorang yang sangat gembira, Anda merasa ia terlalu gembira dan lepas kendali. Ini berarti Anda tidak bersimpati kepadanya. Paulus berkata, "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis." (Roma 12:15). Inilah artinya bersimpati. Tuhan mau bersedih bersama kita, Tuhan man bergembira dengan kita.

Markus 6:30 mengatakan, "Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepadaNya semua yang mereka kerjakan dan siarkan." Apa yang mereka kerjakan adalah hal-hal yang menggembirakan (Markus 6:7; Lukas 10:17). Mereka lari mendapatkan Tuhan dan memberitahu segala kegembiraannya. Banyak orang dapat memohon kepada Tuhan ketika mengalami kesedihan, tapi berapa orangkah yang tetap berdoa ketika gembira? Ketika sedih, otomatis bisa minta tolong kepada Tuhan. Tetapi ketika gembira, orang mudah lupa memberitahu kepadaNya.

Pada suatu hari, Spurgeon merasa lelah setelah menginjil. Kemudian bertama seorang kawan ia berkuda ke desa-desa. Saat itu ia sangat gembira dan turun dari kuda sambil mengajak kawannya. Kawan itu heran, bertanya kepadanya untuk apa. Jawabnya, "Allah mengaruniakan kegembiman besar kepada kita, saat ini kita wajib berterima kasih kepadaNya." Lalu berdoalah mereka sambil berlutut di tepi jalan.

Kita tak selalu gembira, namun ketika gembira beritahukanlah kepada Tuhan. Ingatlah dan berilah bagian kegembiman Anda kepadaNya. Tuhan tidak akan menegur kita karena, kegembiraan kita itu. Ia bersimpati akan perasaan kita. Karena itu, jangan lupa memberitahukan kegembiman kita kepadaNya.

Apa reaksi Tuhan setelah mendengar kata-kata muridNya? Ia berkata, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita ...beristirahat seketika!" Tuhan berbuat demikian supaya mereka beroleh perhentian. Kadangkala kita sendirian pergi ke tempat sunyi untuk beristirahat. Kita berbuat demikian karena mengalami kesebalan dan kesusahan. Tetapi setelah itu perasaan kita sering malah lebih buruk daripada sebelum pergi. Tuhan tidak berkata, Tergilah kamu ke tempat sunyi, untuk beristirahat," melainkan Ia berkata, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita beristirahat seketika." Penyertaan Tuhanlah yang membuat mereka memperoleh kekuatan dan kelegaan yang mesra.

Tuhan senang mendengarkan kesedihan maupun kegembiraan kita. Perkara apa pun boleh diberitahukan kepadaNya. Bila kita sudah mempunyai Tuhan yang demikian, mengapa kita tak mau menuangkan seluruh isi hati kita kepadaNya?