KATA PENDAHULUAN
Pembacaan Alkitab: Ams. 1:1-6
Amsal, Pengkotbah, dan Kidung Agung adalah kitab-kitab yang khusus. Dengan berita ini kita memulai pelajaran-hayat Amsal.
I. JUDUL
Amsal dalam bahasa Ibrani adalah mishle, artinya “kiasan, pepatah, perumpamaan,” untuk menyajikan kebenaran-kebenaran umum.
II. PARA PENULIS
Kitab Amsal adalah kumpulan perkataan orang bijak. Penulis dan pengumpul utamanya adalah Salomo, yang menulis tiga ribu amsal (1 Raj. 4:32; cf. Pkh. 12:9), dan Hizkia, yang menambahkan beberapa amsal nenek moyangnya di dalam pasal duapuluh lima sampai duapuluh sembilan.
III. WAKTUNYA
Waktu penulisan kitab ini adalah sekitar tahun 1000 S.M. Sedangkan bagian Salomo ditulis sekitar 1000 S.M. tahun, bagian Hizkia ditulis sekitar tiga ratus tahun kemudian.
IV. TEMPATNYA
Amsal kemungkinan ditulis di Yerusalem.
V. TEMANYA
Tema Amsal adalah bahwa kitab ini berisi kata-kata hikmat yang mengajar orang bagaimana berperilaku dan bagaimana membangun karakter mereka di dalam penghidupan insani. Singkatnya, ini adalah subyek yang besar, dan semua agama dan filsafat adalah berkenaan dengan ini. Perkara-perkara tingkah laku dan membangun karakter telah mengajarkan subyek-subyek ini sejak manusia masuk ke dalamnya.
VI. POSISI KITAB AMSAL
DI DALAM WAHYU ILAHI KITAB SUCI
Sekarang kita perlu memperhatikan posisi Amsal di dalam wahyu ilahi Kitab Suci.
A. Wahyu Ilahi di dalam Kitab Suci itu
Senantiasa Maju
Wahyu ilahi di dalam Kitab Suci itu senantiasa maju, mulai dari penciptaan manusia dalam gambar Allah di dalam pasal pertama kitab Kejadian, kemudian melalui banyak proses di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sampai pada perampungan Yerusalem Baru di dalam dua pasal terakhir kitab Wahyu. Ribuan hal yang dicantumkan di dalam Alkitab. Hal yang pertama adalah Allah menciptakan langit dan bumi, dan hal yang terakhir adalah Yerusalem Baru. Di antara dua hal terakhir ini, wahyu ilahi maju mengikuti sejarah insani,
B. Sulit Menentukan Kedudukannya
Karena kitab Amsal adalah kumpulan kata-kata orang bijak selama berabad-abad sampai pada Hizkia di abad keenam sebelum Kristus, maka sulit untuk melacaknya di dalam wahyu ilahi Kitab Suci.
C. Sebagai Tambahan Hukum Taurat
Karena amsal-amsal ini terutama dikumpulkan oleh dua raja Yehuda di zaman hukum Taurat, kitab Amsal dapat dianggap sebagai tambahan hukum Taurat. Hukum Taurat adalah foto Allah, menuntut umat Allah untuk memeliharanya agar mereka dapat menjadi copy Allah bagi ekspresi-Nya dan untuk memuliakan-Nya; kitab Amsal sebagai tambahan hukum Taurat membantu umat Allah untuk memelihara hukum Taurat.
Karena hukum Taurat ditulis menurut apa adanya Allah, hukum Taurat memberi tahu manusia bagaimana bertingkah laku dan bagaimana membangun diri mereka menurut atribut-atribut Allah. Allah itu kasih dan terang, dan Allah itu adalah kudus dan benar. Di sini ada beberapa atribut Allah. Sejak Allah menciptakan manusia di dalam gambar-Nya berarti bahwa Allah menciptakan manusia menurut apa adanya Dia, yaitu, menurut atribut-atribut-Nya. Hukum Taurat, yang ditulis menurut atribut-atribut Allah, menuntut bahwa manusia berperilaku dan membangun dirinya seperti Allah. Sehubungan ini, Amsal adalah suatu bagian yang ditambahkan kepada hukum Taurat, menyuruh orang berperilaku dan membangun diri mereka menurut apa adanya Allah. Ini membantu kita untuk melihat di mana posisi kitab Amsal berada di dalam wahyu ilahi di dalam Kitab Suci.
D. Urutan Kelima Kitab Puisi
Urutan kelima kitab puisi—Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung—dalam makna rohaninya itu sempurna dan manis.
1. Kitab Ayub
Kitab Ayub menekankan bahwa Allah menghendaki manusia mencari dan memperoleh Allah semata tanpa adanya berkat atau kemakmuran yang lain, dan bahwa Allah menghendaki manusia mencari Dia demi kesempurnaannya dan bukan demi ketulusannya. Dari sini kita melihat bahwa Allah mengingikan manusia untuk mencari suatu kesempurnaan yang adalah diri Allah, bukan suatu kesempurnaan berdasarkan kebenaran dan ketulusan seseorang.
2. Kitab Mazmur
Kitab Mazmur menekankan pencarian dan kontak manusia dengan Allah melalui pujian, doa, dan nyanyian sorak-sorainya. Jalan untuk mencari dan berkontak dengan Allah adalah memuji, berdoa kepada Dia, dan menyanyi dengan sorak-sorai.
3. Kitab Amsal
Kitab Amsal menekankan hikmat yang diterima manusia dari Allah melalui berkontak dengan Allah, dan yang mengajar manusia bagaimana berperilaku dalam penghidupan insaninya.
4. Kitab Pengkhotbah
Kitab Pengkhotbah menekankan kesia-siaan dari segala kesia-siaan segala sesuatu yang berada di bawah matahari, yang disadari oleh manusia melalui hikmat yang diterima dari Allah. Perkara-perkara di bawah matahari adalah kesia-siaan, tetapi perkara-perkara di atas tingkat-tingkat langit adalah realitas. Jika Anda mempunyai kontak dengan Allah dan telah menerima hikmat dari Allah, Anda akan melihat bahwa segala sesuatu di bawah matahari adalah kesia-siaan, usaha menjaring angin.
5. Kitab Kidung Agung
Kitab Kidung Agung menekankan bahwa Kristus adalah nyanyian dari segala nyanyian, kepuasan dari segala kepuasan bagi manusia yang berlawanan dengan kesia-siaan dari segala kesia-siaan dari segala sesuatu yang berada di bawah matahari. Hanya Kristuslah kepuasan, menjadi kidung yang kita nyanyikan kepada Dia karena kita dipuaskan. Pengasih Kristus haruslah orang yang terpikat oleh kasih-Nya dan tertarik oleh-Nya dalam kemanisan-Nya untuk mengejar Dia bagi kepuasan yang penuh.
Kitab Amsal adalah kitab yang istimewa di antara kitab-kitab di dalam Alkitab. Kitab ini memiliki karakter yang khusus, yaitu menyajikan perkataan-perkataan hikmat dari banyak orang bijak purbakala, yang tak diragukan lagi dianggap baik oleh semua orang yang membacanya. Tetapi baik atau tidaknya kitab ini tergantung pada jenis pembaca yang bagaimana Anda ini.
Bila Anda adalah persona yang beretika dengan pikiran yang kuat dan memiliki kedambaan untuk disempurnakan sebagai persona yang bermoral yang murni, tentunya kitab ini akan membantu Anda untuk meraih sukses dalam pengejaran Anda akan kesempurnaan, tetapi ini hanya akan membantu Anda mengembangkan diri Anda sendiri, yaitu mengembangkan “kebajikan cemerlang” insani yang diciptakan bagi manusia oleh Allah menurut atribut-atribut-Nya, yaitu menurut apa adanya Dia. Namun, hal ini tidak membantu Anda menjadi persona yang hidup di dalam roh menurut Roh Allah yang berhuni di dalam Anda bagi perampungan ekonomi kekal Allah, yaitu untuk memproduksi dan membangun Tubuh Kristus yang merampungkan Yerusalem Baru sebagai kedambaan hati dan sasaran akhir Allah. Di dalam Perjanjian Lama, Ayub adalah persona yang demikian. Dia puas dengan ketulusannya sendiri, dengan pengejaran kesempurnaan insaninya sendiri. Tetapi itu bukanlah yang diinginkan Allah darinya, itu malah menggantikan apa yang diinginkan Allah darinya dan menjadi musuh Allah yang merusak dia, manusia yang diciptakan oleh Allah untuk menggenapkan tujuan Allah. Tujuan Allah dalam menciptakan manusia adalah agar manusia dipenuhi oleh-Nya untuk menjadi ekspresi-Nya, bukan ekspresi kesempurnaan insani. Maka kesuksesan Ayub dalam kesempurnaan insaninya dirobek oleh Allah. Dalam perobekan-Nya, Allah juga telah merobek Ayub. Ayub dibingungkan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian Allah datang untuk mewahyukan diri-Nya sendiri kepada Ayub, ini menandakan bahwa Dia sendirilah yang harus dikejar, diperoleh, dan diekspresikan oleh Ayub. Kemudian Ayub beralih dari mengejar kesempurnaan insani kepada mengejar Allah sendiri.
Bila Anda adalah seseorang yang memelihara hukum Taurat, maka Anda akan menganggap semua amsal di dalam kitab ini sebagai perkataan-perkataan orang bijak, mengira bahwa semuanya ini dapat menolong Anda menjadi seorang pemelihara hukum Taurat yang baik dan bahkan lebih baik lagi. Bila demikian, Anda hanya akan membuat semua amsal ini menjadi banyak hukum dan jatuh ke dalam jerat memelihara-hukum seperti kebanyakan orang Yahudi, yang tidak mengenal tujuan Allah dalam dispensasi hukum-Nya, yaitu untuk mengungkapkan kelemahan manusia yang jatuh.
Bila Anda adalah seseorang yang mengasihi Tuhan dan mengejar Kristus, bukan kesempurnaan diri, dan yang mengasihi firman Tuhan di dalam seluruh Alkitab dan membacanya dengan roh yang berdoa, bukan untuk mencari huruf-huruf doktrin, melainkan untuk mencari Roh dan firman hayat, bukan untuk memperoleh bantuan untuk pengembangan diri, melainkan untuk perawatan roh Anda agar Anda dapat menempuh kehidupan orang Kristen yang sempurna bukan dalam kebajikan-kebajikan insaninya, melainkan dalam kebajikan-kebajikan ilahi, yang adalah ekspresi atribut-atribut ilahi, maka kitab ini akan memberikan batu-batu berharga dan permata-permata kepada Anda untuk menguatkan kehidupan Anda yang mengejar Kristus bagi penggenapan ekonomi Allah dalam memproduksi dan membangun Tubuh Kristus.
Lebih jauh lagi: Allah tidak menginginkan kita hanya mencari pengetahuan, doktrin, kebenaran, teologi, dan yang disebut wahyu dalam tulisan; Allah menginginkan kita mencari Dia agar kita dapat memperoleh Dia dan Dia dapat memenuhi kita dengan diri-Nya sendiri untuk ekspresi-Nya. Dia adalah Roh itu dan kita menyembah Dia dan berkontak dengan Dia di dalam roh kita. Huruf-huruf membunuh, tetapi Roh itu memberi hayat. Perkataan yang diucapkan kepada kita oleh Tuhan haruslah menjadi Roh dan hayat bagi kita (Yoh. 6:63). Bila kita mempelajari Alkitab dengan cara huruf demi huruf, bukan dengan cara Roh dan hayat, kita akan membuat Alkitab ini, tidak peduli bagian yang manapun juga, menjadi suatu kitab huruf-huruf. Kebanyakan orang Kristen hari ini telah membuat Perjanjian Baru yang adalah Roh dan hayat menjadi Perjanjian Lama yang adalah huruf-huruf. Bagi Rasul Paulus, bahkan Perjanjian Lama itu menjadi seperti Perjanjian Baru, yaitu menjadi Roh dan hayat. Terlalu banyak orang Kristen yang telah membuat Perjanjian Baru menjadi amsal-amsal, ajaran-ajaran, nasihat-nasihat, dan perintah-perintah yang hurufiah. Pelajaran-hayat kita telah menjadikan seluruh Perjanjian Lama sebagai Firman Allah, kitab Roh dan hayat. Oleh karenanya kita harus menyadari, menjadi kitab apa Amsal ini bagi kita, itu tergantung dari jenis persona yang bagaimana kita ini dan dengan cara bagaimana kita menerimanya.
VII.SIKAP YANG HARUS DIMILIKI
OLEH KAUM BERIMAN PERJANJIAN BARU TERHADAP KITAB AMSAL
Perkara selanjutnya adalah bahwa kita perlu untuk melihat sikap yang harus dimiliki oleh kaum beriman Perjanjian Baru terhadap Kitab Amsal.
A. Percaya bahwa Kitab ini
adalah Bagian dari Firman Kudus
Sebagai kaum beriman Perjanjian Baru, kita percaya bahwa kitab Amsal adalah bagian dari Firman kudus di dalam Kitab Suci Allah.
B. Menyadari bahwa Kitab ini adalah Hembusan Allah
Kita harus menyadari bahwa kitab ini adalah hembusan Allah, untuk dihirup oleh mereka sehingga mereka dapat menerima suplai hayat dari Allah (2 Tim. 3:16).
C. Membacanya
Selanjutnya, kita harus membaca Kitab Amsal melalui dipenuhi dengan roh yang dipenuhi dengan kepenuhan Allah (Ef. 5:18-19), di dalam Roh hayat Perjanjian Baru (Rm. 8:2), dengan roh kelahiran kembali kita, dan dengan mendoa-bacakannya untuk membaurkannya dengan roh dan hayat (cf. Yoh. 6:63).
VIII. BAGIAN-BAGIANNYA
Kitab Amsal memilki empat bagian: Koleksi Salomo (ps. 1—24), Koleksi Hizkia (ps. 25—29), Perkataan Agur (ps. 30), dan perkataan Raja Lemuel (ps. 31).