Allah Membutuhkan Manusia
Pembacaan Alkitab :
Yesaya 6:8, I Samuel 1:10-11; Yohanes 7:17.
1. Allah Membutuhkan Kerja Sama Manusia
Alkitab memperlihatkan kepada kita satu perkara, yaitu Allah membutuhkan manusia. Allah membutuhkan kerja sama manusia untuk menggenapkan rencanaNya yang kekal. Manusia adalah inti dari penciptaan Allah selama enam hari itu. Allah baru berhenti dari pekerjaan penciptaanNya setelah Ia menciptakan manusia. Boleh dikata, jika tidak ada manusia, Allah tidak beroleh perhentian. Meskipun kemudian manusia jatuh, kehendak Allah atas diri manusia tidak berubah. Allah tetap berusaha mendapatkan manusia. Terselamatkannya manusia, terbinanya manusia, semua itu adalah untuk memuaskan kebutuhan Allah. Allah mempunyai satu kebutuhan yang paling besar dalam pekerjaanNya, yaitu kerja sama dari manusia. Boleh dikata, kapan dan di mana saja ada pekerjaan Allah, di situ ada kerja sama dari manusia. Allah bekerja sama dengan manusia, Allah tidak dapat kekurangan manusia. (Yang dimaksud di sini, tidak termasuk enam hari pekerjaan penciptaan Allah, sebab pekerjaan penciptaan itu mutlak dikerjakan sendiri oleh Allah).
Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, kita melihat bahwa Allah terus-menerus mencari, mendapatkan dan memimpin manusia, bahkan melakukan banyak perkara melalui manusia. Ketika Allah ingin melakukan suatu perkara, Ia selalu terlebih dulu mencari dan mendapatkan manusia. Jika Allah tidak mendapatkan manusia, Ia tak berdaya melakukannya. Di bawah ini kita akan mengetengahkan beberapa contoh.
Pada zaman Nuh, jelas sekali kita tahu bahwa Allah berniat menyelamatkan manusia. Namun terlebih dulu Ia harus mencari dan mendapatkan seorang yang sehati dan sejalan denganNya, jika tidak, kehendakNya takkan bisa terlaksana. Kita lihat, Allah kemudian mendapatkan seorang yang bernama Nuh. Demi kerja sama Nuh membuat sebuah bahtera, terlaksanalah kehendakNya. Allah ingin kisah bahtera itu terjadi di dalam alam semesta ini, untuk itu terlebih dulu Ia harus mendapatkan Nuh. Di sanalah Allah dengan manusia, manusia dengan Allah, sehati, sejalan dan bekerja sama.
Demikian pula pada zaman Musa. Allah berkehendak menyelamatkan bani Israel dari penindasan raja Firaun. Untuk itu Allah terlebih dulu harus mendapatkan Musa. Demi kerja sama dengan Musa, kehendakNya dapat terlaksana. Jika tidak, Iapun tak berdaya menyelamatkan bani Israel. Allah memang Maha kuasa, namun tanpa Musa, Ia tak berdaya melakukan hal itu. Jika Musa tak mau dipakai Allah, Allah hanya dapat menunggu. Allah hanya dapat menunggu hingga ada orang yang mau bekerja sama denganNya, barulah Ia dapat melaksanakan kehendakNya. Dalam kisah Musa memimpin bani Israel, kita tampak betapa Allah membutuhkan kerja sama manusia. Prinsip ini jelas sekali.
Kemudian kita lihat, tatkala orang Israel tiba di kaki gunung Sinai, Allah berkehendak agar mereka mendirikan sebuah Tabernakel. Allah akan memenuhi Tabernakel itu dengan kemuliaanNya, dan demi Tabernakel itu Allah akan tinggal di antara manusia. Tetapi untuk mencapai tujuan ini, Allah harus mendapatkan sekelompok orang yang mau bekerja sama denganNya. Jika tidak, kehendakNya takkan terlaksana. Jika Allah tidak mendapatkan Musa dan sekelompok orang itu, Ia tak dapat menyatakan kemuliaanNya kepada orang Israel dan tidak dapat tinggal di tengah-tengah manusia.
Ketika Tuhan Yesus datang ke bumi, kita dapat tampak lebih jelas lagi betapa Allah selalu bekerja sama dengan manusia. Siapakah Tuhan Yesus kita itu? Dia adalah Allah yang menjelma meniadi manusia. Di dalam alam semesta ini tiada seorang pun yang dapat memenuhi permintaan Allah, karena itu, Allah sendiri menjelma menjadi seorang manusia. Tuhan Yesus jauh melampaui segalanya, namun selama Ia berada di bumi, Ia selalu berdiri di atas kedudukan manusia. Meskipun Ia adalah Allah dan juga Putra Allah, tetapi Ia selalu bekerja dalam status manusia. Ketika Ia dicobai oleh Iblis, berkali-kali Wis mengatakan, "Jika Engkau Anak Allah lakukanlah ini, lakukanlah itu." Iblis bermaksud membuat Dia meninggalkan kedudukanNya sebagai manusia dan mengambil kedudukan Allah. Namun Tuhan menjawab, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Maksud Tuhan ialah Aku di sini adalah manusia; Aku dicobai di hadapanmu justru karena Aku telah menjelma menjadi manusia, Aku adalah orang Nazaret. Selain itu, ketika Tuhan Yesus mengusir setan, setan itu berteriak, "Aku tahu siapa Engkau, Yang Kudus dari Allah." Tetapi Tuhan menghardik setan itu supaya diam (Markus 1:23-26), karena Tuhan datang ke dunia terutama menjadi seorang manusia. Tuhan berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Tatkala, Natanael datang menjumpai Tuhan, ia berkata, "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel." Tuhan menjawab, "Engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia" (Yohanes 1:49-51). Tuhan Yesus selalu mengaku diriNya sebagai Anak Manusia, dan selama Ia di dunia selalu berdiri pada kedudukan manusia.
Allah harus melalui manusia menggenapkan pekerjaanNya. Ketika manusia tak mau memenuhi permintaanNya, Ia rela mengutus AnakNya yang kekasih datang ke dunia menjadi seorang manusia, agar pekerjaanNya dapat terlaksana. Kemudian kita pun tampak Tuhan mengutus 12 murid dan 70 murid untuk mengerjakan pekerjaan Allah (Lukas 9:1,2; 10:1). Allah mau menggenapkan rencanaNya namun terlebih dulu Ia harus mendapatkan manusia. Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, kita dapat membuktikan bahwa segala pekerjaan Allah di tengah-tengah manusia selalu dikerjakan melalui manusia. Tanpa manusia, Ia tak dapat bekerja; tanpa manusia, rencanaNya tidak dapat dilaksanakan.
Allah berfirman, "Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" (Yesaya 6:8). Bukan Allah tidak mau memberitakan Injil, bukan Allah tidak mau menyelamatkan manusia, melainkan karena Ia tidak mendapatkan orang yang mau diutusNya. Banyak orang sudah diduduki oleh kemuliaan duniawi yang sia-sia, banyak orang sudah diduduki oleh kenikmatan dunia, banyak orang sudah diduduki oleh rumah tangga atau ketenangan hidup, mereka hanya mementingkan urusan sendiri, sedikit pun tidak berminat terhadap Injil dan pekerjaan Allah. Saudara saudari, tahukah Anda, banyak orang tidak beroleh selamat bukan karena Allah tidak mau menyelamatkan mereka, tetapi karena Anda tidak mau bekerja sama denganNya. Bila setiap anak Allah mau bekerja sama denganNya, pasti jiwa-jiwa yang diselamatkanNya tak dapat dihitung lagi. Pekerjaan Allah tidak dapat berkembang, dikarenakan Ia tidak mendapatkan orang. Saudara saudari, Allah harus mendapatkan Anda dulu, barulah Ia dapat melakukan pekerjaanNya.
II. Allah Sangat Menghargai Minat Manusia
Dalam Alkitab ada satu perkara yang sangat indah, yaitu Allah sangat menghargai minat manusia terhadapNya. Dalam kisah Musa kita tampak, bahwa ia mempunyai satu hati untuk menyelamatkan bani Israel bagi Allah. Walaupun ia baru dipakai Allah ketika berusia 80 tahun, namun minat itu sudah terkandung dalam hatinya sejak ia berumur 40 tahun. Sekalipun telah melewati 40 tahun, Allah tidak melupakan minatnya, Allah tetap mencari dan mendapatkannya.
Tidak hanya Musa, Samuel juga demikian. Hanna dalam doanya kepada Allah berjanji demikian "Jikalau Engkau mengaruniai hambaMu seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN seumur hidupnya..." Karena ibu Samuel mempunyai minat demikian terhadap Allah, maka kemudian Allah mendapatkan Samuel yang melaksanakan rencanaNya pada zaman itu. Asal Allah tampak orang berminat kepadaNya, minat itu sangatlah dihargaiNya.
Jikalau kita membaca firman Allah dengan cermat, kita akan tampak bahwa segala kekayaan rohani, segala kehidupan rohani, segala terang rohani, hanya Allah karuniakan kepada semacam orang, yaitu orang yang mempunyai minat untuk dipakai oleh Allah. Demikian pula dengan kekuatan rohani. Kekuatan rohani bukan kita peroleh dari luar, melainkan dari minat kita terhadap Allah dan persembahan kita kepadaNya. Kekuatan yang sejati tergantung pada berapa besarnya minat hati kita terhadapNya; kekuatan rohani tergantung pada berapa besar kasih kita kepadaNya.
Dalam Perjanjian Lama ada seorang bernama Simson. Ia seorang yang gagah perkasa. Musuh-musuhnya, orang Filistin, sebenarnya tidak mengetahui di mana letak kekuatannya. Kemudian mereka menyuruh Delila membujuk dan menanyakannya; dan diketahuilah kekuatannya berada pada rambutnya. Ketika rambutnya dipotong, kekuatannya pun hilang (Hakim- hakin 16:15-17). Apakah rambutnya itu? Rambutnya adalah rambut orang nazir. Orang nazir adalah orang yang mutlak mempersembahkan diri kepada Allah. Segala kekuatan rohani kita tergantung pada berapa banyak persembahan kita kepada Allah. Jika persembahan Anda tidak tuntas, Anda masih lumpuh, tidak berkekuatan. Tidak peduli berapa banyaknya tuntutan kita, kita harus ingat bahwa kekuatan kita terletak pada persembahan kita kepada Allah.
Misalnya, ada seorang saudari yang telah cukup lama bergumul dengan Allah karena suatu hal, namun ia tetap tidak mau tunduk kepada Allah. Dalam keadaan demikian, meskipun ia mau, berdoa, ia tidak akan berhasil, sebab Ia tidak mau memenuhi permintaan Allah atas dirinya. Kalaupun ia membantu orang lain, ia tidak akan dapat membawa orang lain maju. Sampai pada suatu hari, kasih Allah menggerakkan hatinya, dengan mencucurkan air mata ia taat kepada Allah dan mau memenuhi permintaan-Nya. Setelah itu, barulah ia dapat membantu dan memimpin orang lain dengan dil. Jadi, kekuatan rohani bersumber pada persembahan kita. Berapa banyak persembahan kita, berapa banyak pula kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Mungkin ada orang bertanya, "Mengapa orang lain bisa memperoleh terang, tapi aku tidak?" Kisah Simson memperlihatkan kepada kita, kapan rambutnya hilang, kekuatannya juga hilang, bersamaan dengan itu, matanya pun hilang (Hakim-hakim 16:20-21). Kita tidak memiliki terang, tidak tampak, tak lain karena kita tidak mempersembahkan diri dengan tuntas. Tuhan berkata, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh... Jika matamu jahat (kabur), gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu" (Matius 6:21-23). Jelaslah, berapa banyak hati kita tertuju kepada Allah, sebanyak itu pula terbukanya mata rohani kita.
Anak-anak Allah tidak memiliki terang, karena hati mereka tidak tertuju kepada Allah; Anak-anak Allah tidak memiliki kekuatan, karena persembahan mereka tidak tuntas. Karena hati kita kurang tertuju kepada Allah, karena persembahan kita tidak tuntas, karena kita kurang memenuhi permintaan Allah, maka ketika Allah mencapai kita, Allah tidak mendapatkan jalan keluar. Jika persembahan kita tuntas, kita pasti mendatangkan kelimpahan rohani dan berkat sorgawi. Kita percaya, kalau hati setiap saudara saudari tertuju kepada Allah, persembahan mereka juga tuntas, kita akan melihat di mana-mana Injil Tuhan akan diberitakan dan berkat sorgawi tercurah kepada manusia.
Saudara saudari, kalau kita mau memiliki kekuatan yang sejati, mau mendapat terang yang sejati, mau memperoleh kelimpahan sorgawi, tidak ada jalan lain kecuali kita memenuhi permintaan Allah. Berapa banyak persembahan kita kepada Allah, berapa banyak pula yang Allah berikan kepada kita.
Semoga kita tidak membendung jalan kelimpahan berkatNya. Semoga kita tidak menjadi perintang Allah. Untuk itu, kita perlu mempunyai hati yang tertuju kepada Allah, kita mau memenuhi permintaanNya. Dalam pekerjaan Allah, Dia harus mendapatkan manusia. Jika kita tidak mau, Dia akan mencari orang lain untuk memenuhi dan menggenapkan kehendakNya. Semoga Allah memperkuat minat kita terhadapNya, agar kehendakNya mendapat jalan keluar di atas diri kita.