Daftar isi Allah Mau · bab 1/1

ALLAH MAU

Pembacaan Alkitab:

Yohanes 3:16

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Ada satu perkara yang sangat tidak disenangi oleh manusia di dunia ini, yaitu "disalah-pahami" orang. Jelas bermaksud baik, namun disangka bermaksud jahat; jelas melakukan dengan kasih, namun disangka berniat buruk. Di dunia ini, banyak perkara yang tidak disenangi oleh manusia; dan disalah-pahami adalah salah satu dari hal-hal yang paling tidak disenangi oleh manusia. Teman, izinkan saya berkata, "Di seluruh dunia ini, yang paling disalah-pahami manusia ialah Allah!" Kalau orang lain salah paham, sehingga menaruh syak terhadap kita, itu suatu perkara biasa. Tetapi kalau manusia salah paham, sehingga menaruh syak terhadap Allah, itu suatu perkara yang sangat serius. Kita disalah-pahami, paling banyak hanya oleh beberapa orang atau sekelompok orang; ini masih boleh dikatakan perkara kecil. Tetapi Allah telah disalah-pahami oleh umat manusia, ini benar-benar satu perkara yang amat serius!

Allah yang sebetulnya bermaksud baik dan pengasih terhadap manusia, telah disalah-pahami dan tidak disukai oleh manusia. Mereka malah menganggap Allah bermaksud jahat dan kejam. Inilah satu-satunya kesalahpahaman terbesar yang ada pada umat manusia terhadap Allah.

Sebelum kita percaya Tuhan, begitu mendengar kata "Allah", segera kita merasa tidak senang. Kita merasa akan dirugikan bila kita mau bergaul dengan Allah. Sama halnya dengan kisah yang pernah saya baca dalam suatu surat kabar. Seorang pemuda bertemu dengan seorang pendeta. Begitu berhadapan muka, pemuda itu segera berkeluh-kesah, "Wah, celaka! Celaka!" Sambil berkata demikian, air matanya pun mengalir deras. Pendeta itu segera bertanya, "Apa yang telah terjadi?" Dengan bercucuran air mata, ia menjawab, "Wah, celaka! Celaka!" Setelah pendeta itu mengulangi pertanyaannya, barulah pemuda itu mengeluarkan sepucuk surat dari dalam sakunya, sambil berkata, "Ini surat dari pengacara." Pendeta itu bertanya, "Sudahkah kamu baca surat ini?" Dia menjawab, "Belum! Aku tak berani membacanya! Isinya pasti hal-hal yang tidak baik. Surat pengacara selalu membawa berita buruk." Pendeta itu berkata, "Cobalah baca lebih dulu, apa sebenarnya maksud surat itu." Dia menjawab, "Tidak! Bagaimanapun aku tidak mau membacanya. Aku sangat benci menerima surat dari pengacara. Isinya pasti kabar yang tidak baik." Kemudian pendeta itu berkata, "Bolehkah saya membaca surat ini untukmu?" "Boleh," jawabnya. Sambil membuka sampul surat itu, pendeta itu bertanya lagi, "Benarkah surat ini belum kaubuka?" "Sungguh, belum," jawabnya lagi. Setelah selesai membaca surat itu, pendeta itu berkata, "Surat ini memberitahukan kepadamu, bahwa salah seorang saudaramu telah meninggal dunia, dan dari harta peninggalannya, ada sebagian yang diwariskan kepadamu. Sekarang orang yang mengurus perkara ini berada di suatu tempat, dan kamu boleh ke tempat itu untuk mengambil harta warisan bagianmu sebesar dua puluh ribu dollar."

Teman-teman sekalian, ketahuilah, sikap kita terhadap Allah sama seperti sikap pemuda itu. Begitu kita mendengar kata "Allah", hati kita segera merasa tidak senang dan merasa kurang enak. Seolah-olah berhubungan dengan Allah itu adalah perkara yang tidak menyenangkan, dan seolah-olah Allah selalu mempunyai maksud tidak baik terhadap manusia.

Manusia dapat dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama ialah orang-orang yang telah mendengar tentang Allah dan telah percaya Tuhan Yesus. Golongan kedua ialah orang-orang yang belum percaya kepada Allah, belum percaya kepada Tuhan Yesus. Saya yakin, orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, tentu dapat bersaksi kepada Anda, bahwa sebelum mereka percaya Allah, mereka merasa tidak senang mendengar kata-kata "Allah" atau "Yesus". Sikap mereka sama dengan sikap pemuda yang menerima surat dari pengacara itu. Tetapi begitu percaya, mereka semua berkata, "Betapa baiknya kalau aku sudah percaya sejak dini." Percaya Tuhan Yesus benar-benar lebih baik daripada mendapatkan harta warisan. Firman Allah lebih berharga daripada kata-kata pengacara yang dikatakan kepada pemuda itu. Firman Allah memberitahu kita, "Barangsiapa percaya kepada Tuhan Yesus, ia mendapatkan hidup yang kekal." Saya pun berani bersaksi. Hari ini, hal pertama yang ingin saya katakan kepada Anda, ialah "Janganlah takut mendengar kabar tentang Allah. Janganlah mengira bahwa Allah mempunyai maksud jelek terhadap Anda. Bila Anda mau mendengar dan Anda benar-benar telah mendengar, Anda pasti tahu, bagaimanakah sebenarnya Allah itu.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya mengunjungi beberapa tempat di Asia Tenggara, saya bertemu dengan seorang remaja dan menganjurinya percaya kepada Yesus. Ia menolak anjuran saya dan berkata, "Tuan Nee, kalau tuan mengajakku bersahabat, itu boleh saja. Tetapi kalau tuan menyuruhku percaya kepada Yesus, itu perkara yang tidak baik, itu tak mungkin kulakukan." Selang beberapa waktu, saya berjumpa lagi dengan remaja itu, dan saya menganjurinya lagi. Tetapi ia tetap menolak dengan jawaban yang sama. Saya bertanya kepadanya, apa sebabnya. Dia menjawab, "Aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Ketika ia masih berumur enam tahun, ia percaya Yesus. Tapi kemudian ia meninggal. Kalau aku juga percaya Yesus, tentu aku akan mengalami nasib yang sama dengan saudaraku itu. Jika demikian, apakah faedahnya?" Oh, kasihan sekali, anak ini telah salah paham terhadap Allah! Ia salah paham terhadap hati Allah!

Cobalah pejamkan sejenak mata Anda, sambil merenungkan bagaimana tanggapan Anda terhadap Allah. Mungkin Anda mengira, Allah itu berwajah hitam, bengis, kejam, jahat dan menakutkan. Mungkin Anda mengira, Allah sangat senang membiarkan manusia berbuat dosa, hingga kelak manusia masuk neraka. Teman, saat ini, sebenarnya bagaimana pemikiran Anda tentang Allah?

Pada suatu kali, saya menganjuri seorang doktor yang menjadi guru besar di sebuah universitas, agar ia percaya Yesus. Ia menolak anjuran saya itu sambil berkata, "Allah Anda itu sangat buruk. Di surga Ia tidak mempunyai pekerjaan yang baik, sehingga pekerjaanNya setiap hari hanyalah mengamat-amati manusia dan mencatat nama-nama di antara mereka yang tidak baik. Sesuai dengan catatan-catatan itu, Ia menentukan dosa dan menjatuhkan hukuman kepada mereka serta memasukan mereka ke dalam neraka." Betapa besar salah paham doktor ini terhadap Allah. Boleh jadi Anda juga berpikir, bahwa Allah itu benci kepada Anda, dan Ia tidak suka Anda beroleh selamat. Sebaliknya, Ia senang melihat Anda binasa dalam neraka.

Tetapi saya bisa mengatakan dengan tegas kepada Anda, bahwa Allah tidaklah demikian. Saya akan menyampaikan sebuah berita kepada Anda. Bila Anda sudah mengetahuinya dengan jelas, tentu Anda tidak akan melepaskan Allah ini. Dengarkanlah FirmanNya:

"Begitu besar kasih Allah akan dunia (manusia) ini!" Allah itu Kasih! Perhatikanlah, Allah itu Kasih. Alangkah ajaibnya, Allah tidak hanya memikirkan, memelihara, memperhatikan dan membelaskasihani Anda, bahkan Ia mengasihi Anda juga.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang kawan sekolah saya dulu. Dengan segenap hati, saya menganjurinya percaya Yesus. Karena ia selalu menolak, hampir saja saya menangis. Saya berpendapat, betapa baiknya kalau ia mengetahui, bahwa Allah itu benar-benar mengasihinya. Kasih Allah sangat sering dicurigai orang. Dengan penuh prasangka, orang-orang bertanya kepada diri sendiri, "Apakah Allah itu baik, apakah Allah itu mau dan bisa menyelamatkan orang semacam aku?" Dengan tegas saya katakan, janganlah menaruh syak! Allah tidak hanya membelaskasihani Anda, memelihara Anda, memperhatikan Anda, bahkan Ia mengasihi Anda. Sejak dulu hingga sekarang, ada satu perkara yang sangat mengherankan, yaitu Allah mengasihi manusia. Begitu manusia berdosa dan jatuh, kasihlah yang Allah nyatakan pertama-tama. Terhadap manusia, hati Allah penuh dengan kebaikan. Ia senang sekali bila manusia memperoleh keselamatan. Mungkin Anda juga menyangka, bahwa Allah itu bengis dan kejam serta senang kalau Anda menjauhi diriNya. Tetapi Alkitab, yaitu Firman Allah sendiri, mengatakan kepada kita, bahwa Allah itu Kasih. Allah sangat mengasihi Anda yang berdosa dan yang berjauhan dengan Dia. Dengan perantaraan hamba-hambaNya, Allah berulang-ulang mencurahkan isi hatiNya dengan mengatakan, "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau" (Yesaya 49:15). Oh! Demikianlah kasihNya kepada kita. Lagi pula Ia masih mengambil sebuah perumpamaan yang sangat indah, kataNya, "Jika seseorang menceraikan isterinya, lalu perempuan itu pergi daripadanya dan menjadi isteri orang lain, akan kembalikah laki-laki yang pertama kepada perempuan itu? Bukankah negeri itu sudah tetap cemar? Engkau telah berzina dengan banyak kekasih, dan mau kembali kepadaKu? Demikianlah Firman TUHAN" (Yeremia 3:1). Betapa lapang hati Allah untuk menerima kita yang berdosa ini! Tetapi, sungguh sangat disayangkan, perkara semacam ini - Allah mengasihi manusia - tidak dipercayai oleh manusia. Manusia selalu mengira Allah itu tidak mungkin sebaik itu. Tetapi saya tegaskan lagi, bahwa Allah benar-benar kasih. Karena tidak ada jalan lain, dan karena kasihNya kepada manusia itu tidak terbatas, maka dibuatlah suatu jalan bagi manusia, yaitu Dia sendiri menjelma menjadi manusia, turun ke dunia, agar dapat memberitakan kasihNya kepada segenap manusia.

Suatu kali, karena kesehatan tubuh, saya beristirahat di suatu pegunungan. Saya senang melihat hijaunya rerumputan dan indahnya bunga-bunga di sana. Saya juga senang melihat burung-burung yang hidup di alam bebas, beterbangan ke sana ke mari dengan riangnya. Saya merasa kasihan melihat burung-burung yang terkurung dalam sangkar. Pada suatu hari terlihatlah oleh saya sekawanan burung sedang memakani sisa makanan yang saya taruh di atas pagar. Karena senang melihat burung-burung itu, saya segera mengambil nasi sepiring untuk diberikan kepada burung-burung itu. Di luar dugaan, begitu saya mendekat, burung-burung itu segera terbang melarikan diri. Padahal, sedikit pun saya tidak bermaksud menangkap burung-burung itu. Pemberian yang timbul karena sayangku kepada mereka tidak diterima, malahan burung-burung itu menjadi takut. Kemudian terpikirlah olehku, bila saya ingin mendekati burung-burung itu, saya harus berusaha agar burung-burung itu bisa mengerti segala isi hati saya. Untuk itu tak ada jalan lain, selain saya bisa berbahasa burung, atau menjelma menjadi burung, lalu berbaur dengan mereka, dan memberitahukan isi hati saya kepada mereka. Dengan demikian tidak akan ada salah paham lagi dalam hati mereka. Tetapi sayang, saya tidak bisa menjelma menjadi burung, sehingga saya tidak dapat mengutarakan isi hati saya kepada mereka. Demikian juga sikap Allah terhadap kita. Allah mengasihi kita, senang kepada kita. Ia merasa senang sekali bila kita mau datang kepadaNya. Sayang sekali, kita tidak tahu maksud hatiNya. FirmanNya mengatakan, sejak dulu, dengan perantaraan hamba-hambaNya, berkali-kali dan dengan berbagai cara, Ia hendak mengatakan apa yang terkandung dalam hatiNya dan kasihNya yang sangat besar. Karena manusia masih tetap tidak mengerti isi hatiNya, maka tidak ada jalan lain bagiNya, kecuali Ia sendiri menjelma menjadi manusia, - manusia inilah yang disebut Yesus, yaitu Kristus. Andaikata hari ini saya menjelma menjadi burung, tentu Anda menganggap saya sangat merendahkan derajat saya. Tetapi, fakta bahwa Allah telah menjelma menjadi manusia, bukankah itu lebih merendahkan derajat? Betapa merendahnya Allah, kalau sampai Allah yang mahamulia itu mau menjadi manusia. Allah yang mengungguli segala sesuatu itu telah merendahkan diriNya menjadi sederajat dengan manusia, berlaku dan bersikap sebagai manusia. Segala perbuatan Yesus di dalam dunia hanya menyatakan kepada kita, betapa Allah sangat mengasihi manusia. Bila Anda telah membaca riwayat hidup Tuhan Yesus di dunia, tentu Anda akan mengetahui, bahwa Tuhan Yesus tidak hanya manusia yang baik, bahkan adalah jelmaan Allah yang datang dari surga. Karena pada mulanya kita menyangka Allah membenci kita, maka Ia sendiri menjelma menjadi manusia, datang ke dunia untuk menunjukkan kepada manusia bagaimana keadaan Allah yang sebenarnya. Bagaimana keadaan Yesus, begitu pula keadaan Allah. Keadaan Yesus selama tiga puluh tiga setengah tahun di dunia ini hanya menyatakan keadaan Allah semata. Bagaimana sikap Yesus terhadap manusia, demikian juga sikap Allah terhadap manusia.

Pada suatu ketika, seorang yang berpenyakit kusta menyembah Yesus sambil berkata, "Ya Tuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat melahirkan aku." Kemudian Yesus mengulurkan tanganNya serta menjamah dia, kataNya, "Aku mau, jadilah engkau tahir!" Begitu Tuhan bersabda, penyakit itu segera lenyap. Penyakit kusta adalah suatu penyakit yang najis. Kalau kita, pasti tak mungkin mau menjamahnya. Tetapi Tuhan telah menjamahnya. Ini menunjukkan, betapa besar rasa simpati Tuhan kepada orang yang berpenyakit kusta itu. Di sini seakan-akan Tuhan berkata kepada manusia, asal manusia mau datang kepadaNya, tentu Ia akan menjamahnya.

Dalam Alkitab ada kisah tentang seorang perempuan yang tertangkap basah ketika berbuat zinah. Lalu ia dibawa ke hadapan Tuhan. Menurut hukum Taurat, orang semacam itu harus dirajam hingga mati. Meskipun Tuhan Yesus tahu juga, bahwa perempuan itu memang berdosa, namun Ia tidak sampai hati melihat perempuan itu dirajam hingga mati. Karena itu Ia berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan ini." Hati nurani semua orang yang ada di situ menyatakan, bahwa mereka sendiri pun berdosa. Karena itu, pergilah mereka satu per satu, mulai dari yang tua sampai kepada yang muda. Akhirnya, tinggallah Yesus seorang diri, dan perempuan itu berdiri di tengah-tengah. Kemudian Tuhan berkata, "Hai perempuan . . . tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya, "Tidak ada, Tuhan." Kata Yesus kepadanya, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:3-11).

Teman-teman sekalian, bila sampai saat ini Anda belum percaya, maka saya katakan lagi, bahwa Allah sekali-kali tidak membenci Anda, sebaliknya, Ia sangat mengasihi Anda.

Ada seorang pemungut cukai bernama Matius. Suatu hari, ia mengundang makan banyak pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainnya. Ia pun mengundang Yesus. Pada waktu itu, pemungut cukai sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi, karena mereka dianggap sebagai pengkhianat bangsa, yang memeras bangsa mereka untuk kepentingan diri sendiri dan pemerintah penjajah Roma. Mungkin, kita pun akan merasa benci kepada orang-orang semacam itu, dan tidak sudi bergaul dengan mereka, apalagi makan semeja dengan mereka. Mungkin Anda akan berpikir, "Kalau saya mau makan semeja dengan mereka, kemudian diketahui oleh wartawan, dan hal itu disiarkan dalam surat kabar, tentu saya akan merasa malu sekali." Tetapi tidak demikian halnya dengan Tuhan. Ia mau makan semeja dengan mereka. Ketika mereka sedang makan, sekelompok orang Farisi yang melihat Tuhan berbuat demikian, berkata kepada murid-muridNya, "Mengapa Gurumu makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa?" Mendengar celaan mereka, Tuhan berkata, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit... karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Matius 9:10-13). Perkataan itu telah membukakan hati Allah dan memperlihatkannya kepada kita. Mungkin Anda masih berpikir, apakah Allah masih suka kepada aku yang sejahat ini. Atau Anda berpikir, apakah Allah masih mau menyelamatkan aku yang pernah menjadi penyamun, pelacur, pendusta dan penuh dengan segala kecemaran. Janganlah bimbang! Tuhan telah membukakan hatiNya dan telah memperlihatkannya kepada Anda. Allah mau! Allah mengasihi Anda. Tuhan mengumpamakan diriNya sebagai seorang tabib yang tidak takut akan orang sakit; tetapi, apakah si penderita itu takut kepada tabib?

Mungkin di antara Anda ada yang berpikir, "Mulai hari ini aku akan bertekad menjadi orang yang baik. Aku tidak mau marah-marah lagi, tidak mau berjudi, tidak mau menonton film." Tetapi ketahuilah, tekad Anda itu hanya bisa bertahan dua, tiga hari saja. Begitu nafsu Anda timbul, Anda segera menjadi jahat lagi. Mungkin ada juga yang berpikir, "Allah tidak menyukai aku. Ia senang kalau aku binasa." Allah sama sekali tidak demikian. Ia senang akan Anda, bahkan mengasihi Anda. Teman-teman, buanglah segera selubung yang menutupi mata hati Anda, supaya Anda tampak, bahwa Allah sekali-kali tidak berniat jahat terhadap Anda. Allah mengasihi Anda!

Ketika pecah perang Eropa, ada seorang gadis yang sempat bertobat dan menerima Tuhan setelah mendapat anjuran dari seorang penginjil. Kemudian, gadis itu menjadi jururawat palang merah di Paris. Entah bagaimana, imannya lemah dan ia kembali menempuh kehidupan yang jatuh/gagal. Pada suatu hari, ia berkunjung ke sebuah gedung gereja. Kebetulan sekali yang berkhotbah pada waktu itu ialah penginjil yang dulu memimpin ia bertobat. Begitu ia tampak penginjil itu, terlintaslah dalam angan-angannya keinginan untuk menyinggung perasaannya dengan kata-kata yang tajam. Baru saja penginjil itu selesai berkhotbah dan turun dari mimbar, ia segera maju ke depan. Sambil menjabat tangan penginjil itu, ia berkata, "Aku akan memberitahukan sesuatu kepada tuan, yang mungkin tuan tidak mempercayainya. Aku bisa hidup dengan tenteram dan sejahtera tanpa Tuhan Yesus." Mendengar kata-kata perempuan itu, penginjil itu menjawab, "Memang, mungkin Anda bisa hidup di dunia ini dengan tenteram dan sejahtera tanpa Tuhan Yesus. Tetapi ketahuilah, Tuhan di surga tidak akan merasa senang tanpa Anda." Memang benar, setiap orang yang telah mengenal firman Allah, tahu, bahwa Allah baru bisa merasa senang bila kita ada bersamaNya. Karena Allah tidak hanya membelaskasihani kita, memperhatikan kita, Ia juga mengasihi kita. Kasih Allah itu lebih besar daripada kasih seorang ibu terhadap anaknya atau kasih antara suami istri. Kalau dulu mungkin Anda belum tahu, bahwa Allah begitu mengasihi Anda, maka pada kesempatan ini akan saya katakan: Allah mengasihi Anda!

Karena kasihNya kepada kita, maka disediakanlah dua macam karunia yang sangat besar, yaitu:

Satu, Tuhan Yesus datang ke dunia, mati untuk kita, supaya kita mendapat pengampunan dosa.

Dua, Roh Kudus berdiam di dalam diri kita, supaya kita berkekuatan untuk mengalahkan dosa.

Allah tahu, bahwa manusia tidak bisa mengasihiNya, tidak bisa menghampiriNya, dan tidak bisa menyembahNya. Ini disebabkan manusia telah jatuh dan berdosa; sedang orang dosa harus binasa di dalam neraka. Allah sangat benci akan dosa. Betapapun kecilnya dosa itu, mungkin tak berarti dalam pandangan kita, namun bagi Allah sudah sangat najis. Asal sekali saja berdusta, Allah sudah merasa najis. Mungkin ada orang yang dalam seumur hidupnya hanya berbuat dosa dalam satu dua menit saja. Namun itu sudah cukup untuk mengakibatkannya dihukum dalam neraka. Mungkinkah Anda sejak dulu tidak pernah berbuat suatu kesalahan atau mengucapkan sepatah kata yang tidak baik? Boleh jadi dalam semenit atau sedetik saja Anda sudah bisa berangan-angan yang tidak benar. Walaupun hal itu tidak diketahui oleh orang tua Anda atau istri/suami Anda, itu sudah cukup membuat Anda masuk ke neraka. Karena Allah tahu, bahwa segenap manusia berdosa, maka dicariNyalah jalan keluar untuk menanggulangi perkara ini, yaitu dengan jalan Ia sendiri datang ke dunia, menjelma menjadi manusia (Yesus Kristus), dan kemudian mati tersalib menanggung dosa manusia. Inilah perkara besar pertama yang Allah lakukan.

Bersamaan dengan ini, karena Ia juga tahu, meskipun dosa kita telah dibereskan oleh Tuhan Yesus, kita tetap bisa berbuat dosa lagi, maka dikaruniakanNyalah Roh Kudus (Roh Allah sendiri) kepada kita, agar kita beroleh suatu kekuatan untuk melawan dosa. Inilah perkara besar kedua yang Allah lakukan. Dengan kedua perkara itu, Allah menyatakan isi hatiNya kepada kita.

Teman-teman, tahukah Anda, betapa sukarnya mengalahkan suatu dosa? Misalnya saja soal kejujuran. Berapa banyakkah di antara kita yang bisa dianggap orang jujur? Meski sudah banyak tempat-tempat yang saya kunjungi, tetapi sedikit sekali orang jujur yang saya jumpai. Mengurangi sedikit perkataan sudah termasuk berdusta. Sungkan sedikit saja juga sudah termasuk dusta. Bila Anda bertekad hendak menjadi orang yang jujur, akan Anda ketahui, hal itu tidak mudah dilaksanakan.

Sering dalam benak Anda tersirat suatu niat yang kurang baik. Hati Anda membenci orang lain, atau menyimpan dendam, tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Anda suka menceritakan kejelekan orang, suka mengadu domba, suka berdusta, suka menyombongkan kepandaian diri sendiri. Dapatkah Anda terhindar dari semuanya itu? Kalau Anda melakukan satu saja di antara semuanya itu, meski Anda tidak merasakan bahwa Anda telah berbuat dosa, namun Allah mengetahuinya. Tetapi puji syukur kepada Allah, karena Ia tidak hanya mau mengampuni segala dosa Anda, RohNya juga ingin berdiam dalam diri Anda, agar Anda berkekuatan mengatasi dosa, agar Anda menjadi kudus. Inilah kehendak Allah! Apa yang direncanakanNya sudah digenapkan dengan sempurna. Karena itu, kini saya berani mengatakan, bahwa soal keselamatan tidak tergantung pada pihak Allah, tetapi tergantung pada kita. Jadi soalnya sekarang mau atau tidak Anda mempercayaiNya? Banyak kawan saya yang kini sudah berusia enam puluh tahunan, juga berani mengatakan kepada Anda, bahwa Allah benar-benar mengasihi Anda.

Baiklah sekarang kita baca lagi beberapa ayat yang dikatakan Tuhan Yesus sendiri, "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau" (Matius 23:37). Melalui ayat ini kita dapat mengetahui, bahwa Allah mau, tetapi manusia tidak mau. Yerusalem adalah sebuah kota dan Tuhan menangisinya. Tuhan ingin sekali melindunginya, Tuhan menangisinya, namun mereka tidak mau. Jika hari ini ada pembaca yang sadar, bahwa dirinya adalah orang dosa, Tuhan berkata kepadanya, "Aku mau menyelamatkan kamu." Sekarang maukah Anda? Pada Allah sudah tidak ada masalah lagi, maukah Anda? Pada hari ini, kalau ada pembaca yang telah mendengar berita Injil ini, dan kelak masih juga masuk ke dalam neraka, dapatkah ia menyalahkan Allah? Allah mau, apakah Anda juga demikian? Sekarang saya hanya memberitahukan satu perkara kepada Anda: Allah mau Anda, Allah pun mengasihi Anda. FirmanNya mengatakan, ". . . berkali-kali Aku mau, tetapi kamu tidak mau!"

"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (I Timotius 2:3-4). Allah mau semua orang beroleh selamat. Inilah kehendak Allah!

"Namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu" (Yohanes 5:40). Bukannya Allah tidak mau memberi hayat kepada kita, melainkan kitalah yang tidak mau mendapatkannya! Sebab itu teman-teman, jika pada hari ini Anda mempunyai sedikit minat akan keselamatan dan hidup yang kekal, dan ingin mengatasi segala dosa serta ingin masuk ke surga, ketahuilah, Anda bisa memperolehnya, sebab Allah mau dan berkenan Anda berbuat demikian. Apakah yang Allah kehendaki? Allah menghendaki semua orang bisa mendapatkan hidup yang kekal. Jangan takut, pada pihak Allah tidak ada masalah sedikit pun, tetapi sekarang masalahnya berada pada pihak Anda sendiri.

Di London, dulu ada seseorang bertemu dengan seorang penginjil. Orang itu bertanya kepadanya, "Bukankah tuan pernah memberitakan Injil di Paris? Tahukah tuan, aku sekarang sudah percaya Tuhan Yesus?" Penginjil itu berkata kepadanya, "Baik sekali, jika Anda sudah percaya." Kemudian ia berkata pula, "Pada hari itu, hanya satu perkataan yang menyebabkan aku percaya Tuhan Yesus." "Perkataan apa?" tanya penginjil itu. Jawabnya, "Perkataan yang tuan katakan, bahwa palang pintu surga berada di luar!" Tepat benar! Palang pintu surga memang berada di luar. Jika Anda tidak mau masuk, Anda sendirilah yang salah. Andaikata palang pintu surga ada di dalam, bagaimanapun Anda tidak dapat masuk ke dalamnya. Jika Allah senang membukanya, baru dibukaNya; tetapi jika Ia tidak senang, Ia tidak akan membukanya. Anda hanya dapat mengetuk pintu surga dari luar. Namun, kalau palang pintu surga itu berada di luar, persoalannya bukan pada Allah, melainkan Anda mau atau tidak masuk ke dalamnya.

Sekarang pembicaraan saya akan saya akhiri dengan sebuah cerita. Dulu, ada satu orang Kristen yang menjadi guru besar di Universitas Oxford. Orang ini mempunyai beberapa orang anak yang bersekolah di universitas itu juga. Di rumah orang ini, tiap malam diadakan sidang keluarga. Anaknya yang keempat sangat tidak baik. Anak itu selalu dengan macam-macam alasan menghindari sidang keluarga itu. Jika waktu sidang sudah hampir sampai ia selalu pergi ke luar; dan setelah sidang selesai baru ia kembali. Suatu hari, ketika ia pulang, kebetulan sidang itu belum selesai. Seisi keluarganya sedang berdoa bersama. Lalu ia berpikir, "Aku ingin tahu, apa yang mereka doakan?" Ia mendengar, ibunya sedang berdoa untuknya, katanya, "Ya Allah, kasihanilah anakku yang keempat. Ia selalu berada di luar seperti anak hilang. Ia pun suka bermain-main dan menghamburkan uang saja. Ia tak takut kepadaMu . . ." Mendengar ini, panaslah hatinya, dan ia berkata dalam batinnya, "Mengapa ibu selalu berdoa untuk aku saja, tidak berdoa untuk yang lain? Aku tidak suka tinggal di rumah ini lagi." Segera ia naik ke atas loteng, mengemasi barang-barangnya yang ada di kamarnya, mengambil sejumlah uang bapanya, dan menulis sepucuk surat, katanya, "Bapa, ibu, aku tidak layak menjadi anak kalian. Aku pun tidak mau menjadi anak kalian lagi. Sekarang saya ingin pergi. Selamat tinggal . . . !" Maka pergilah anak itu meninggalkan rumahnya. Pada mulanya ia tinggal di sebuah penginapan. Ketika uangnya tinggal sedikit, pergilah ia ke rumah kawannya. Tetapi kawannya itu berkata kepadanya, "Kamu boleh tinggal di rumahku, tapi jangan terlalu lama. Sebab, meskipun kamu kawan sekolahku, tapi ayahmu adalah guruku. Jika hal ini diketahui olehnya, bukankah tidak baik?" Demikianlah, ia tak dapat tinggal lama di rumah kawannya. Sejangka waktu kemudian, ia pergi dari sana dan tinggal di satu penginapan yang kecil. Sampai pada suatu hari, uangnya habis sama sekali, tidak ada makanan, pakaian pun ala kadarnya. Lalu berpikirlah ia, "Lebih baik pulang saja. Dan kalau pulang, sebaiknya malam hari saja, jangan siang hari, sebab malu kalau ketahuan." Pada hari itu, pukul dua belas malam barulah ia pulang ke rumah. Mulanya ia hendak masuk dari jendela, tapi ketika dilihatnya tiap-tiap jendela tertutup dengan baik, apa boleh buat, pergilah ia ke pintu besar. Di luar dugaan, begitu didorong sedikit saja, pintu besar itu sudah terbuka. Pintu itu tidak dipalang, hingga dengan mudah sekali ia masuk ke dalam rumah dan kemudian perlahan-lahan naik ke loteng, menuju kamar tidurnya sendiri. Sampai di depan kamar, perlahan-lahan ia membuka pintunya. Begitu pintu kamar terbuka, ah! Terlihatlah olehnya ayahnya sedang duduk menghadap pintu itu. Anak itu segera mengeraskan raut mukanya, dan berkata kepada ayahnya, "Mengapa malam ini semua orang tidak berhati-hati, sampai pintu besar pun tidak dikunci?" Ayahnya membuka kaca matanya dan memegang tangan anaknya sambil berkata, "Anakku, sejak kamu meninggalkan rumah, hingga hari ini, sudah setahun lebih, pintu rumah ini tidak pernah dikunci."

Oh, teman-teman, ketahuilah, inilah hati seorang bapa! Pintu itu bukan hanya tidak dikunci selama sebulan, atau setengah tahun, melainkan sejak dulu tak pernah dikunci. Inilah hati pengasih seorang bapa! Sering kita berpikir, "Maukah Allah menerimaku, orang berdosa ini?" Tetapi sekarang, ketahuilah, "Allah tidak pernah mengunci pintuNya!" Di pihak Allah sudah tidak ada persoalan lagi, persoalannya ada di pihak Anda. Jika hari ini ada orang dosa ingin datang ke hadapan Allah sambil berkata kepadaNya, "Ya Allah, aku adalah orang yang berdosa. Aku pernah salah paham terhadapMu. Tetapi hari ini Engkau masih mau menerima aku." Ketahuilah, bila Anda percaya sedemikian rupa, Anda sudah beroleh selamat.

Tuhan Yesus pernah memberi perumpamaan, tentang bagaimana anak yang hilang pulang ke rumah. Ketika si anak masih jauh, bapanya sudah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Bapanya berlari mendapatkan anaknya, memeluk lehernya dan mencium dia. Perumpamaan ini sungguh-sungguh menyatakan hati Allah sendiri. Teman-teman, ketahuilah, "Hari ini Allah pun memanggil Anda pulang." Yesus telah mati untuk Anda, Roh Kudus pun telah dicurahkan. Jadi, tidak ada satu pun pembaca buku ini yang harus turun ke neraka. Anda dapat terhindar dari neraka. Namun, jikalau Anda tidak mau, apa boleh buat. Saya harap hari ini Anda ingat baik-baik, Allah itu kasih! Bila hari ini Anda mau berkata kepadaNya, "Ya Allah, aku adalah orang yang berdosa; aku ingin, aku mau", niscaya Anda diselamatkan. Kalau demikian, tidak saja Allah hari ini bersukacita, kita pun akan bersukacita bersama Allah. Allah itu kasih!