← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 10/23

HUBUNGAN KRISTUS DENGAN PENCIPTAAN

Pembacaan Alkitab: Kol. 1:15-19

SARANA PENCIPTAAN

Menurut ajaran tradisional yang berlaku di kalangan kekristenan, Kristus dianggap sebagai Pencipta. Walau se-laku Allah, Kristus adalah Pencipta, tetapi tidak ada ayat dalam Alkitab yang mengatakan dengan tegas bahwa Kristus menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu dalam alam semesta. Ketika beberapa orang mendengar perkataan ini, mereka mungkin heran akan Yohanes 1:3 yang berbunyi: “Segala sesuatu dijadikan melalui (through) Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Tl.). Ayat ini tidak mengatakan Kristus te-lah menciptakan segala sesuatu, tetapi segala sesuatu dija-dikan melalui Kristus. Dalam Versi King James (juga dalam bahasa Indonesia) ayat ini diterjemahkan, “segala sesuatu dijadikan oleh (by) Dia.” Ini terjemahan yang kurang tepat. Preposisi Yunaninya seharusnya diterjemahkan “melalui” bukan “oleh”. Jadi, ayat ini tidak mengatakan segala sesua-tu diciptakan oleh Kristus, melainkan dijadikan melalui Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa Kristus adalah sara-na penciptaan.

Ada orang mungkin mengira bahwa Ibrani 1:10-12 mengatakan Kristus itu Pencipta. Tetapi, ayat-ayat ini merupakan kutipan dari Mazmur 102 yang menerangkan Allah sebagai Pencipta. Ayat-ayat ini dikutip untuk membuktikan Kristus adalah Allah.

Kristus pada faktanya memang sebagai Pencipta segala sesuatu. Tetapi butir yang kita tekankan di sini ialah bah-wa Alkitab tidak mengatakan secara khusus tentang Kristus adalah Pencipta, sebaliknya Dia sebagai sarana penciptaan yang melaluinya segala sesuatu dijadikan. Jika kita membi-carakan penciptaan secara umum, memang Kristus adalah Sang Pencipta. Namun jika kita ingin membicarakannya lebih pasti, lebih baik kita mengatakan Kristus adalah sa-rana penciptaan.

Kolose 1:16 mengatakan, “Di dalam Dialah telah dicip-takan segala sesuatu”. Dalam versi King James ayat ini diterjemahkan, “Karena oleh Dialah segala sesuatu telah di-jadikan.” Ini terjemahan yang kurang tepat. Preposisi Yunani yang digunakan di sini akan lebih tepat jika diterjemahkan dengan mengatakan “di dalam” Kristus telah diciptakan se-gala sesuatu, menunjukkan bahwa Dia adalah sarana pen-ciptaan segala sesuatu. Namun, jika dikatakan “oleh Dia” berarti Kristus sebagai Pencipta, bukan sarana penciptaan.

KRISTUS MENGEKSPRESIKAN

ALLAH DALAM PENCIPTAAN

Dalam Kolose 1:15 Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Ini berarti Kristus adalah ekspresi dari Allah yang tidak kelihatan. Dalam hal ini kita harus bertanya bagaimana Kristus mengekspresi-kan Allah. Jawabnya ialah Dia mengekspresikan Allah di dalam penciptaan. Tetapi, Kristus tidak mengekspresikan Allah di dalam penciptaan hanya melalui menciptakan se-gala sesuatu secara obyektif. Kalau Kristus hanya sebagai Pencipta yang obyektif, tidak sebagai sarana penciptaan yang subyektif, Dia tidak dapat mengekspresikan Allah di dalam penciptaan. Ingatlah, segala sesuatu bukan dicipta-kan “oleh” Kristus, tetapi “melalui” Kristus. Ini menunjuk-kan suatu proses yang terjadi di dalam Kristus.

Dalam Alkitab terjemahan J.N. Darby pada Kolose 1:16 terdapat catatan kaki bahwa kata “di dalam Dia” berarti di dalam kuat kuasa persona Kristus. Darby mengatakan, “Dia adalah persona yang kuat kuasa intrinsik-Nya mem-beri ciri-ciri kepada penciptaan.” Dalam memberi komentar tentang arti preposisi bahasa Yunani yang dipakai dalam frase “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu”, Darby mengatakan bahwa itu adalah “yang umum dipakai bagi ciri-ciri suatu perkara yang telah rampung” (Collected Writings, Vol. 33, p. 87). Dia juga berkata bahwa “pencipta-an segala sesuatu telah diberi ciri-ciri dan dirampungkan oleh kuat kuasa yang terkandung dalam Tuhan Yesus Kristus, dan segala sesuatu berkelangsungan hidup sebagai satu keseluruhan yang tersusun dan teratur oleh hukum melalui kuat kuasa yang terkandung dan konstan” (Collected Writings, Vol. 31, p.188).

Kristus adalah sarana aktif yang melaluinya pencipta-an terlaksana. Dalam proses ini kuat kuasa Allah telah ter-ekspresikan, juga telah ternyatakan. Ini jelas diwahyukan dalam Roma 1:20. Ayat ini mengatakan bahwa “Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Kuat kuasa Allah telah dinyatakan di da-lam segala benda yang tercipta. Karena itu, dalam perkata-an Darby, penciptaan mengandung ciri-ciri kuat kuasa intrinsik (yang terkandung di dalam) Kristus.

BERKAITAN DENGAN PENCIPTAAN

SECARA SUBYEKTIF

Kristus secara subyektif berkaitan dengan penciptaan. Kristus tidak menciptakan alam semesta hanya secara obyektif, yaitu sebagai Pencipta yang obyektif. Kita boleh berkata bahwa Dia tidak berdiri di samping sambil mem-buat segala sesuatu itu dihasilkan. Sebaliknya, proses pen-ciptaan terjadi di dalam Dia, yakni di dalam kuat kuasa persona-Nya. Kristus adalah kuat kuasa yang unik dalam alam semesta. Persona-Nya adalah kuat kuasa ini. Sebab itu, penciptaan terlaksana di dalam Dia. Ini berarti Dia tidak sekadar Pencipta yang obyektif, tetapi juga sarana yang subyektif yang melaluinya penciptaan terlaksana. Ka-rena alasan ini, penciptaan mengandung ciri-ciri kuat kua-sa intrinsik Kristus. Alkitab tidak mengatakan Kristus telah menciptakan alam semesta, tetapi mengatakan segala sesuatu dijadikan melalui Dia, atau diciptakan di dalam Dia. Kata “oleh Dia” bersifat obyektif, sedang kata “melalui Dia” dan “di dalam Dia” bersifat subyektif.

Penggunaan bensin sebagai sumber tenaga mobil boleh dipakai sebagai satu ilustrasi yang membantu. Sebuah mo-bil dijalankan oleh pengemudi, tetapi ia menerima suplai te-naga dari bensin. Karena bensin menyuplai tenaga, maka sebuah mobil mengandung ciri-ciri tenaga dari bensin. Te-tapi bensin tidak menyuplai sebuah mobil sebagai tenaga yang obyektif, ia dengan subyektif memberikan tenaga ke-padanya melalui menjalankan bagian-bagian mesin tertentu dari mobil itu. Kalau tenaga bensin itu bersifat obyektif, maka sebuah mobil tidak akan mengandung ciri-ciri tenaga intrinsik bensin. Tetapi karena bensin itu berkaitan dengan mobil secara subyektif, maka kendaraan yang digerakkan olehnya mengandung ciri-ciri dari tenaga yang terkandung di dalamnya.

Kolose 1:16 mengatakan, “segala sesuatu diciptakan . . . untuk Dia” (LAI). Istilah “Untuk Dia” lebih baik diterjemah-kan “kepada Dia”. “Untuk Dia” bersifat obyektif, tetapi “ke-pada Dia” bersifat subyektif. Segala sesuatu telah dicipta-kan di dalam Kristus, melalui Kristus, dan akhirnya, kepada Kristus. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Kristus mem-punyai hubungan yang subyektif dengan penciptaan. Pen-ciptaan tidak saja untuk Dia, juga kepada-Nya, berarti se-gala sesuatu terampungkan di dalam Dia. Tiga presosisi: di dalam, melalui, dan untuk (kepada), dipakai Paulus untuk menandaskan hubungan Kristus yang subyektif dengan penciptaan. Penciptaan terjadi di dalam kuat kuasa persona Kristus, terjadi melalui Dia sebagai sarana yang aktif, dan kepada Dia sebagai perampungannya. Hubungan yang de-mikian benar-benar bersifat subyektif. Karena hubungan-Nya yang subyektif dengan penciptaan, maka Kristus mengeks-presikan Allah dalam penciptaan. Penciptaan mengekspresi-kan ciri-ciri Kristus yang adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.

SEGALA SESUATU HIDUP DI DALAM KRISTUS

Dalam ayat 17 Paulus berkata lebih lanjut, “segala se-suatu menyatu di dalam Dia”. (Istilah “menyatu” di sini da-lam bahasa aslinya mengandung arti “berkelangsungan”, “bertahan”, “tetap ada” red.). Ini berarti segala sesuatu ada bersama Kristus, dengan Kristus sebagai inti pengikatnya. Ciptaan berkelangsungan di dalam Kristus, ini adalah petun-juk lebih lanjut bahwa Kristus berkaitan dengan ciptaan secara subyektif.

Membedakan kata “ada”, “terdiri”, dan “berkelangsung-an” adalah penting. Kolose 1:17 tidak mengatakan segala sesuatu “ada” atau “terdiri” di dalam Dia, melainkan “ber-kelangsungan” di dalam Dia. Ada berarti berada atau eksis; terdiri berarti tersusun atau terkonstitusi, dan berkelang-sungan berarti berkaitan bersama demi ke-beradaan (eksis-tensi). Bayangkan sebuah roda dengan pelek, jari-jari dengan poros roda. Semua jari-jari “berkelangsung-an” dalam pusat roda. Satu-satunya cara agar jari-jari itu berkelangsungan ialah berkaitan bersama pada poros roda yang berada di tengah-tengah roda. Hal ini mengilustrasikan hubungan Kristus dengan penciptaan yang berkenaan dengan fakta bahwa segala sesuatu berkelangsungan di dalam Dia.

Kita telah menunjukkan bahwa segala sesuatu ada di dalam Kristus, melalui Kristus, dan kepada Kristus. Tidak ada satu pun yang boleh dianggap terpisah dari Dia. Segala sesuatu dijadikan di dalam kuat kuasa hakiki persona Kristus, melalui yang aktif, dan kepada Dia sebagai sasaran yang sempurna. Tidak hanya demikian, segala sesuatu ber-kelangsungan, berkaitan bersama di dalam Dia sebagai po-ros roda. Karena segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, melalui Kristus, dan kepada Kristus, dan karena segala se-suatu berkelangsungan di dalam Kristus, maka Allah dapat terekspresi di dalam penciptaan melalui Kristus yang ada-lah gambar Allah yang tidak kelihatan.

SELURUH KEPENUHAN

Dalam 1:19 Paulus berkata, “Karena seluruh kepenuh-an berkenan tinggal di dalam Dia” (Tl.). Kepenuhan di da-lam ayat ini mengacu kepada gambar Allah dalam ayat 15. Gambar Allah yang tidak kelihatan itu adalah ekspresi pe-nuh dari Allah yang tidak kelihatan. Kepenuhan tinggal di dalam Kristus berarti segala ekspresi Allah, yaitu segala gambar-Nya, berkenan tinggal di dalam Kristus.

Ayat 15-19 membentuk satu bagian dari Surat Kolose. Dalam bagian ini Kristus diwahyukan sebagai yang utama baik dalam ciptaan lama maupun dalam ciptaan baru. Sela-ku persona yang utama dalam kedua ciptaan Allah, Kristus adalah ekspresi Allah. Allah terekspresi di dalam Dia, sebab segala sesuatu telah dijadikan di dalam Dia, melalui Dia, dan untuk Dia, serta berkelangsungan hidup di dalam Dia.

Ini benar-benar tidak saja untuk ciptaan lama, lebih-lebih untuk ciptaan baru. Ciptaan baru, gereja, ialah Tubuh Kristus; Dia adalah Kepalanya. Melalui hubungan-Nya yang subyektif dengan ciptaan, Kristus adalah kepenuhan Allah yang tidak kelihatan, gambar Allah yang tidak kelihatan. Kepenuhan dalam ayat 19 bukan satu hal, melainkan satu persona yang adalah ekspresi, gambar Allah Tritunggal.

Dalam ayat 20-22 sulit ditentukan berbagai kata ganti di sini ditujukan kepada siapa. Ayat 19-20 mengatakan bah-wa kepenuhan berkenan tinggal di dalam Kristus, dan “me-lalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.” Jika kepenuhan ini bukan satu persona, bagaima-na ia dapat berkenan tinggal di dalam Kristus? Kepenuhan dapat berkenan, fakta ini menunjukkan bahwa kepenuhan ini adalah satu persona. Kepenuhan tidak hanya berkenan tinggal di dalam Kristus, tetapi juga melalui Dialah Allah memperdamaikan dengan diri-Nya. Dalam ayat 19-20 kedua kata kerja “tinggal dan “memperdamaikan” dihubungkan oleh sebuah kata sambung. Karenanya, kepenuhan berke-nan tinggal dan memperdamaikan. Frase “melalui Dia” me-nurut bahasa aslinya dipakai dua kali dalam ayat 20 dan ditujukan kepada Kristus sebagai sarana aktif yang mela-lui-Nya pendamaian itu dirampungkan. Tetapi apakah kata yang mendahului kata ganti Dia, yang kepadanya segala sesuatu didamaikan? Yaitu kepenuhan yang dikatakan da-lam ayat 19. Inilah alasan J.N. Darby menggunakan kata pengganti “diri-Nya” (itself) dan “Nya” (it) dalam terjemahan barunya dalam ayat 20 dan 22, untuk menunjukkan kepe-nuhan dalam ayat 19. Tetapi, kata ganti Yunani tidak boleh dianggap sebagai yang netral, melainkan yang maskulin. Ini berarti kita harus mengatakan “Dia” (Him) dan bukan “dia” (it). Karena itu, segala sesuatu telah didamaikan ke-pada kepenuhan itu. Dalam ayat 21 dan 22, kita yang dahulu seteru sekarang telah didamaikan oleh kepenuhan di dalam tubuh jasmani Kristus melalui kematian agar kita dapat dipersembahkan dengan kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan kepenuhan ini. Alangkah bermak-nanya bagian ini. Kepenuhanlah yang tinggal di dalam Kristus, kepenuhanlah yang mendamaikan kita, dan kepada kepenuhanlah kita akan dipersembahkan. Kepenuhan ini adalah Allah itu sendiri yang terekspresi. Kepenuhan ini berkenan tinggal di dalam Kristus, mendamaikan kita, dan mempersembahkan kita kepada diri-Nya sendiri.

EKSPRESI ALLAH DALAM SELURUH

APA ADANYA DIRI-NYA YANG KAYA

Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Kolose adalah almuhit. Dia tidak hanya Allah, tetapi juga yang sulung da-ri segala yang diciptakan. Segala sesuatu ada di dalam Dia dan melalui Dia. Lagi pula, segala sesuatu untuk Dia dan berkelangsungan di dalam Dia. Sebab itu, apa adanya Allah terekspresi melalui Dia. Kita telah nampak bahwa seluruh kepenuhan dalam ayat 19 bukan ditujukan kepada kekaya-an dari apa adanya Allah, melainkan ditujukan kepada ekspresi kekayaan itu. Ekspresi penuh Allah berada dalam seluruh apa adanya diri-Nya yang kaya, baik dalam ciptaan dan dalam gereja, tinggal di dalam Kristus. Diri Allah yang kaya terekspresi baik dalam ciptaan lama maupun dalam ciptaan baru melalui Kristus sebagai satu persona yang di dalam Dia, melalui Dia, dan untuk Dia se-gala sesuatu ada, dan sebagai satu persona yang di dalam-Nya segala sesuatu berkelangsungan hidup. Dengan cara yang demikianlah Allah yang tidak kelihatan itu terekspresi.

Ketika kita membahas alam semesta dan gereja, cipta-an lama dan ciptaan baru, kita nampak seluruh kepenuhan Allah Tritunggal. Kita nampak ekspresi Allah Tritunggal. Kepenuhan ini berkenan tinggal di dalam Anak dan menda-maikan segala sesuatu kepada diri-Nya sendiri bagi ekspresi-Nya. Lagi pula, kepenuhan ini akan mempersembahkan kita kudus, dan tidak bercela, dan tak bercacat kepada diri-Nya sendiri agar Dia dapat memiliki ekspresi-Nya di dalam ciptaan baru.

ANAK BAPA YANG TERKASIH ADALAH GAMBAR ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN

Kolose 1:15, “Dialah gambar Allah yang tidak kelihat-an, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Kata ganti Dia ditujukan kepada Anak Allah yang terkasih (ayat 13). Ini berarti Anak Bapa yang terkasih adalah gam-bar Allah yang tidak kelihatan. Dalam ayat 15 Paulus me-naruh frase “yang sulung dari segala yang diciptakan” se-bagai keterangan tambahan frase “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Menurut tata bahasa, ini menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut adalah sinonim atau searti. Gambar Allah yang tidak kelihatan adalah yang sulung dari segala yang diciptakan. Kata “karena” yang mengawali ayat 16 menunjukkan fakta bahwa ayat ini ia memberikan alasan bagi Paulus untuk mengatakan bahwa gambar Allah ialah yang sulung dari segala yang diciptakan. Alasannya ialah bahwa “di dalam Dialah telah diciptakan segala se-suatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang keli-hatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesua-tu diciptakan melalui Dia dan untuk Dia.” (Tl.). Mengapa gambar Allah yang tidak kelihatan adalah yang sulung dari segala yang diciptakan? Dialah yang sulung karena segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, melalui Dia, dan untuk Dia.

Kita telah nampak bahwa sebagai gambar Allah, Kristus adalah ekspresi Allah. Jika seseorang tidak mempunyai gambar atau bentuk jasmani, ia tidak dapat diekspresikan. Seorang manusia terekspresi melalui gambar jasmaninya. Walau Allah itu tidak kelihatan, Dia terekspresi melalui gambar-Nya, yaitu Anak-Nya. Anak Bapa yang terkasih adalah ekspresi Allah yang tidak kelihatan. Ekspresi ini pertama-tama ialah yang sulung dari segala yang dicipta-kan, sebab segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, melalui Dia, dan untuk Dia. Penciptaan yang terjadi melalui Dia mengekspresikan kuat kuasa Allah yang kekal dan sifat ilahi. Baik sifat ilahi dan kuat kuasa kekal itu adalah eks-presi Allah yang tidak kelihatan. Jika Anda mempelajari alam semesta secara teliti, Anda akan mengakui bahwa alam semesta mempersaksikan kuat kuasa kekal dan sifat ilahi. Bahkan banyak ilmuwan memahami bahwa dalam penciptaan terdapat beberapa kuat kuasa yang luar biasa. Kuat kuasa ini adalah Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan.

Tiga preposisi yang dipakai dalam ayat 16 — di dalam, melalui, dan untuk — menunjukkan bahwa ciptaan secara subyektif berhubungan dengan Kristus. Ada kaitan yang subyektif antara penciptaan dengan Kristus karena proses, sasaran, dan perampungan penciptaan. Ciptaan itu ada di dalam dan melalui Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa ciptaan berkaitan dengan Kristus secara subyektif karena proses yang olehnya ia ada. Tambahan pula, seluruh cip-taan adalah untuk (kepada) Kristus. Ini menunjukkan bah-wa ciptaan berkaitan dengan Kristus secara subyektif seba-gai perampungan, sasaran dari eksistensinya. Baik dalam proses penciptaan maupun dalam sasaran penciptaan, Kristus terekspresikan. Sebab itu, penciptaan tidak dapat dipisah-kan dari Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan.

KRISTUS SEBAGAI PENCIPTA

DAN SARANA PENCIPTAAN

Kristus adalah Allah juga Kristus. Sebagai Allah, Dia adalah Pencipta; sebagai Kristus, Dia adalah yang diurapi dan yang dilantik. Sebagai yang diurapi Allah dan yang di-lantik Allah, Kristus melaksanakan amanat Allah. Sebagai Allah, Kristus adalah Pencipta; sebagai Kristus, Dia adalah alat atau sarana penciptaan. Sebab itu, dalam Yohanes 1:3 yang ditekankan bukan Kristus sebagai Pencipta, tetapi Dia sebagai sarana yang melaluinya penciptaan itu diproses dan dihasilkan. Demikian pula dalam Kolose 1:16. Proses penciptaan dilaksanakan di dalam Dia, melalui Dia, dan kepada Dia. Dialah sarana yang melaluinya dan di dalam-nya penciptaan itu terjadi.

BAGAIMANA KRISTUS, GAMBAR ALLAH,

MENGEKSPRESIKAN ALLAH

Ayat 16-18 adalah satu definisi dari ayat 15. Hal-hal yang terdapat dalam ayat-ayat ini berkaitan dengan Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Ini berarti Kristus sebagai gambar Allah berkaitan dengan proses dan sasaran penciptaan, berkaitan dengan yang sulung dari yang diciptakan, berkaitan dengan keberadaan ciptaan, berkaitan dengan yang sulung yang pertama bangkit dari antara orang mati. Hasil dari semua ini adalah seluruh kepenuhan, ke-penuhan dalam ciptaan lama dan kepenuhan dalam ciptaan baru yang disinggung dalam ayat 19. Karenanya, kepenuh-an dalam ayat 19 adalah gambar dalam ayat 15.

Bagaimana Kristus, gambar Allah yang tidak kelihat-an, mengekspresikan Allah? Sebagai Anak Bapa yang ter-kasih, Dia mengekspresikan Allah Tritunggal karena Dia adalah persona yang melaluinya ciptaan lama maupun cip-taan baru itu terjadi. Lagi pula, Dia mengekspresikan Allah Tritunggal karena Dia adalah yang sulung dari kedua cip-taan tersebut. Hal ini menyebabkan Dia menjadi ekspresi penuh Allah. Seluruh kepenuhan dalam ayat 19 menunjuk-kan persona Kristus sendiri. Itulah sebabnya dalam ayat berikutnya Paulus memakai sebuah kata ganti yang bersi-fat maskulin untuk mengacu kepada kepenuhan.

Puji Tuhan karena Kristus itu almuhit! Dalam perkataan Paulus dalam Kitab Kolose, Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan, dan yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati. Sebagai Anak Bapa yang terkasih, Dia adalah ekspresi penuh Allah, yang tertampak baik dalam ciptaan lama maupun dalam ciptaan baru. Sebagai Allah, Kristus tidak memiliki permulaan. Tetapi sebagai yang su-lung dari yang diciptakan, Dia mempunyai permulaan. Ma-rilah kita menyingkirkan konsepsi alamiah kita, memper-cayai firman Allah yang murni, dan memuji Tuhan bahwa sebagai yang almuhit, Dia adalah ekspresi penuh Allah Tritunggal.