MEMBERIKAN TUMPANGAN KEPADA SEKERJA YANG DALAM PERJALANAN
Pembacaan Alkitab: 3Yoh. 1-8
Pokok Surat 3Yohanes adalah dorongan kepada rekan sekerja dalam kebenaran. Dalam berita ini kita akan melihat 3Yohanes 1-8. Ayat 1-4 adalah pendahuluan, dan ayat 5-8 membicarakan tentang memberikan tumpangan kepada sekerja yang dalam perjalanan.
PENDAHULUAN
Mengasihi dengan Sungguh-sungguh
Permulaan 3Yohanes hampir sama dengan 2Yohanes. Dalam ayat 1 Rasul Yohanes mengatakan, “Dari penatua kepada Gayus yang terkasih, yang kukasihi dalam kebenaran.” Rasul Yohanes, seperti Petrus, adalah penatua dalam gereja di Yerusalem sebelum kota itu dihancurkan pada 70 M. Menurut sejarah, setelah kembali dari pembuangan, Yohanes tinggal di Efesus untuk merawat gereja-gereja di Asia. Karena itu, boleh jadi dia juga adalah penatua dalam gereja di Efesus, tempat dia menulis surat ini.
Surat 3Yohanes diamanatkan kepada “Gayus yang terkasih”. Ini bukan Gayus dari Makedonia yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 19:29, bukan Gayus dari Derbe yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 20:4, juga bukan Gayus dari Korintus yang disebutkan dalam 1Korintus 1:14 dan Roma 16:23, tetapi Gayus yang lain (nama ini adalah nama yang sangat umum pada saat itu). Menurut isi dari surat ini, ia pasti seorang saudara yang terkemuka dalam gereja.
Dalam ayat 1Yohanes membicarakan tentang mengasihi Gayus dalam kebenaran. Di sini “kebenaran” mengacu kepada realitas ilahi yang terwahyukan Allah Tritunggal yang disalurkan ke dalam manusia dalam Putra, Yesus Kristus menjadi kesejatian dan ketulusan manusia, agar manusia dapat menempuh hidup yang sesuai dengan terang ilahi (Yoh. 3:19-21) dan menyembah Allah, menurut apa adanya Allah dan menurut apa yang Allah cari (Yoh. 4:23-24). Inilah kebajikan Allah (Rm. 3:7; 15:8) menjadi kebajikan kita, yang dengannya kita bisa mengasihi kaum beriman. Dalam kebenaran semacam inilah, Rasul Yohanes, yang tinggal dalam realitas ilahi Allah Tritunggal, mengasihi Gayus yang terkasih.
Baik dalam Segala Hal dan dalam Kesehatan
Dalam ayat 2 Yohanes mengatakan, “Saudaraku yang terkasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” Menurut konteks ayat ini, “segala sesuatu” mengacu kepada hal-hal luaran dan hal-hal materi. Kata “semoga” di sini mengandung arti dalam suasana doa. Secara harfiah, kata “baik-baik” di sini dalam bahasa Yunaninya berarti lancar, seperti dalam perjalanan (Rm. 1:10). Artinya, berhasil dalam mencapai tujuan yang dikehendaki; karena itu, baik dan lancar. “Sehat” di sini adalah kesehatan tubuh, seperti yang tercantum dalam Lukas 5:31; 7:10; dan 15:27.
Dalam ayat 2 Yohanes membicarakan tentang kebaikan jiwa. Manusia terdiri atas tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh (1Tes. 5:23). Jiwa adalah bagian yang berada di antara tubuh dan roh, memiliki kesadaran diri, sehingga manusia mempunyai kepribadian. Jiwa terkandung di dalam tubuh dan merupakan wadah untuk menampung roh. Bagi kaum beriman, Allah sebagai Roh itu tinggal di dalam rohnya yang sudah dilahirkan kembali (Rm. 8:9, 16) dan meluas dari rohnya untuk meresapi jiwanya, sehingga jiwanya dapat diubah untuk mengekspresikan Dia (Rm. 12:2; 2Kor. 3:18). Inilah kebaikan jiwa kaum beriman. Ketika jiwa kita dipenuhi dan dikendalikan oleh Roh Allah melalui roh kita, sehingga dapat mengendalikan dan menggunakan tubuh kita bagi tujuan Allah, ini berarti jiwa kita baik-baik. Rasul berharap agar penerima suratnya, yang adalah saudara yang terkasih, terkemuka dalam kebaikan jiwanya, dapat baik-baik dalam segala sesuatu dan dalam kesehatan tubuh, sama seperti jiwanya baik-baik dalam hayat Allah.
Tubuh kita mungkin baik dalam kesehatan, dan hidup kita mungkin baik dalam hal-hal materi. Akan tetapi, jiwa kita perlu baik dalam hayat ilahi. Kemudian, apakah kebaikan jiwa kita? Kebaikan jiwa kita adalah penyebaran hayat ilahi ke dalam jiwa. Melalui kelahiran kembali, hayat ilahi telah ditanamkan ke roh kita. Sekarang dari roh kita hayat ini perlu menyebar ke dalam jiwa kita. Jika ini terjadi, jiwa kita akan baik-baik saja dengan penyebaran hayat ilahi ke dalamnya. Saya berharap kita semua akan mengejar ini, sehingga kita mempunyai pengalaman yang cukup tentang kebaikan jiwa kita melalui penyebaran hayat ilahi ke dalamnya.
Saudara Gayus yang terkasih baik dalam jiwanya. Rasul Yohanes mengharapkan saudara ini tidak hanya baik dalam jiwa, tetapi juga baik dalam hal-hal materi dan dalam kesehatannya. Salam di sini ini khusus; unik dalam seluruh Alkitab.
Perjanjian Baru adalah kitab mengenai kebaikan rohani, bukan mengenai hal-hal materi atau kesehatan tubuh. Namun, Yohanes yang menulis hal-hal ilahi, mengharapkan orang yang menerima surat ini akan baik dalam kesehatan tubuh dan bahkan dalam hal-hal materi.
Hidup dalam Kebenaran
Dalam ayat 3 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan bersaksi tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.” Kebenaran mengenai persona Kristus adalah unsur dasar dan inti dari ministri penambalan Yohanes. Ketika ia menemukan anak-anaknya hidup dalam kebenaran (ayat 4), dia sangat bersukacita. Hidup dalam kebenaran berarti Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita dalam realitas. Karena itu, hidup kita sehari-hari adalah hidup dalam kebenaran, yang adalah realitas Allah Tritunggal yang kita nikmati.
Dalam ayat tiga Yohanes berbicara tentang “hidupmu dalam kebenaran”. Kata-kata “hidupmu dalam kebenaran”, menurut bahasa aslinya adalah “kebenaranmu” (red.). “Kebenaranmu” adalah kebenaran mengenai Kristus, khususnya mengenai keAllahanNya. Wahyu kebenaran ini menentukan jalan hidup penerima surat ini, dan menjadi kepercayaan yang mendasar bagi penerima surat ini. Ini adalah kebenaran obyektif yang menjadi subyektif dalam kehidupan sehari-hari penerima surat ini. Kebenaran ini adalah realitas keilahian Kristus. Hayat kita ditentukan dan dibentuk dengan wahyu kebenaran ini. Ini berarti kita hidup, berjalan, dan bertingkah laku dalam realitas ilahi Allah Tritunggal, yang adalah kenikmatan kita. Kenikmatan ini membentuk jalan kita, cara hidup kita. Ini menunjukkan bahwa cara hidup kita ditentukan, dibentuk, dicetak dengan apa yang kita percayai mengenai persona Kristus dan dengan apa yang telah kita lihat dan nikmati dari realitas ini. Kebenaran ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita.
Kita percaya bahwa Allah Tritunggal menjadi seorang manusia dan hidup di bumi, mati di atas salib bagi penebusan kita, dan dalam kebangkitan menjadi Roh pemberi hayat. Sekarang Roh pemberi hayat ini adalah perampungan Allah Tritunggal. Roh ini adalah perampungan dari semua adanya Bapa dan semua adanya Putra sebagai satu persona yang memiliki keilahian dan keinsanian. Kristus, Sang Putra adalah Allah juga seorang manusia yang sejati, yang telah merampungkan penebusan dan sekarang adalah Roh pemberi hayat, Roh yang memberikan hayat. Kita percaya ini, dan kepercayaan ini sekarang membentuk, menentukan, mencetak, cara hidup kita. Inilah yang dimaksud dengan hidup di dalam kebenaran.
Filsafat yang dipegang seseorang akan menentukan cara hidupnya. Apa yang dipercayai seseorang akan selalu mem-bentuk kehidupannya. Kita, orang-orang Kristen, hidup di dalam kebenaran ilahi. Ini berarti cara hidup kita ditentukan, dibentuk, dicetak oleh realitas ilahi Allah Tritunggal sendiri yang kita nikmati.
Dalam ayat 3 Yohanes berkata kepada Gayus, “Sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.” Penerima surat ini tidak hanya berpegang pada kebenaran, tetapi juga berjalan dan hidup dalam kebenaran. Kebenaran mengenai persona Kristus seharusnya tidak hanya menjadi kepercayaan kita, tetapi juga kehidupan kita, kehidupan yang mempersaksikan kepercayaan kita. Karena itu, kebenaran yang di dalamnya kita berjalan, menjadi kebenaran dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dalam ayat 4 Yohanes melanjutkan, “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” Seperti dalam 2Yohanes 4, “kebenaran” di sini mengacu kepada realitas ilahi, khususnya tentang persona Kristus seperti yang didefinisikan dalam Injil dan Surat 1Yohanes, yaitu Kristus adalah Allah dan manusia, mempunyai keilahian dan keinsanian, memiliki sifat ilahi dan sifat insani, mengekspresikan Allah di dalam kehidupan insani dan merampungkan penebusan dengan kuasa ilahi di dalam daging insani bagi manusia yang jatuh, sehingga Dia dapat menanamkan hayat ilahi ke dalam mereka dan membawa mereka ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah. Surat 2 dan 3 Yohanes menekankan kebenaran ini. Yang kedua mengingatkan kaum beriman yang setia agar tidak menerima orang-orang yang tidak tinggal dalam kebenaran ini, dan yang ketiga mendorong kaum beriman untuk menerima dan membantu orang-orang yang bekerja bagi kebenaran ini.
PERHATIAN YOHANES DALAM SURAT-SURATNYA
Surat 2 dan 3Yohanes berdasar pada Surat 1Yohanes. Surat 2 dan 3Yohanes menunjukkan bahwa kita perlu hidup dalam kebenaran dan berjalan dalam kebenaran. Perbedaannya adalah dalam Surat 2 Yohanes ada larangan mengambil bagian dalam bidah, mengambil bagian dalam suatu ajaran yang berlawanan dengan kebenaran ini. Kita harus meninggalkan suatu ajaran atau seseorang yang berlawanan dengan realitas Allah Tritunggal. Tetapi dalam Surat 3Yohanes ada dorongan untuk membantu rekan-rekan sekerja dalam kebenaran. Kita perlu bersatu dengan orang-orang yang bekerja bagi realitas ilahi Allah Tritunggal yang kita nikmati, dan kita perlu melakukan apa pun yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan pekerjaan ini. Sebab itu, dalam Surat 2 Yohanes ada sikap yang negatif terhadap bidah dan dalam Surat 3 Yohanes ada satu sikap yang positif terhadap pekerjaan bagi kebenaran. Sikap kita seharusnya negatif atau positif tergantung pada situasi khusus itu, bagi realitas ilahi atau berlawanan dengannya.
Perhatian Rasul Yohanes dalam menulis ketiga suratnya tertuju pada kenikmatan atas Allah Tritunggal. Ini juga menjadi perhatian kita hari ini. Di antara kaum beriman ada satu kekurangan besar tentang realitas ilahi dan kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal. Bukannya menikmati Allah Tritunggal, orang-orang Kristen malahan mempunyai agama dengan doktrin-doktrin, kredo (pernyataan iman), upacara-upacara, dan praktek-praktek. Memakai satu frase dari Pilgrim’s Progress dari John Bunyan, kita dapat mengatakan bahwa secara keseluruhan, agama hari ini adalah “pasar malam kesia-siaan”. John Bunyan memakai istilah ini untuk menggambarkan dunia, sedangkan kita menggunakannya untuk menggambarkan agama. Agama tidak memiliki realitas, juga tidak memiliki kenikmatan atas Allah Tritunggal; hanya ada kesia-siaan. Akan tetapi, kita perlu berhati-hati, jangan hanya berbicara tentang kebenaran, realitas, tanpa memiliki pengalaman yang sejati atas realitas ilahi.
Apakah kebenaran, realitas ilahi, yang dibicarakan Yohanes dalam Suratnya? Realitas ini adalah Bapa di dalam Putra, dan Putra sebagai Roh disalurkan ke dalam orang-orang yang dipilih, ditebus, dan dilahirkan kembali oleh Allah sehingga mereka dapat menikmati Dia sebagai hayat, suplai hayat, dan segala sesuatu dalam hayat ciptaan baru. Sesungguhnya, kebenaran ini, realitas ini, adalah kenikmatan atas Allah Tritunggal. Bapa di dalam Putra menjadi seorang manusia, yang mati di atas salib untuk merampungkan penebusan, dan bangkit menjadi Roh pemberi hayat. Sekarang Dia dapat menyalurkan diriNya sendiri ke dalam umat pilihanNya, sehingga mereka dapat memiliki Dia bagi kenikmatan mereka dan juga sebagai hayat, suplai hayat, dan segala sesuatu mereka, yang mereka perlukan untuk kehidupan ciptaan baru. Inilah realitas ilahi seperti yang diwahyukan dalam Surat-surat Yohanes.
Banyak orang Kristen hari ini tidak memperhatikan realitas ilahi ini. Sebaliknya, bagi mereka segala sesuatu mengenai Allah dan keselamatan adalah obyektif. Mereka hanya memiliki Allah yang obyektif, Juruselamat yang obyektif, penebusan yang obyektif, keselamatan yang obyektif, pembenaran yang obyektif, dan pendamaian yang obyektif. Mereka mungkin percaya banyak doktrin yang mendasar, tetapi semua doktrin ini hanya bersifat obyektif dan digunakan untuk membentuk satu agama. Dalam kamus rohani, orang-orang Kristen semacam ini tidak ada kata “kenikmatan” semacam ini.
Alkitab mewahyukan bahwa Allah adalah kenikmatan kita dan Dia adalah makanan kita. Menurut firman yang murni, Allah dapat dimakan (Yoh. 6:57). Setelah penciptaan manusia, kita mempunyai pohon hayat. Kemudian dalam penebusan dan penyelamatan Allah seperti yang dilambangkan oleh sejarah bangsa Israel, kita melihat makan domba Paskah dengan roti tidak beragi. Setelah bani Israel mengembara di padang gurun, mereka setiap hari makan manna, yang adalah lambang Kristus. Meskipun banyak orang Kristen mengerti bahwa manna adalah satu lambang Kristus, mereka tidak mengerti bahwa Tuhan Yesus dapat dimakan. Dalam Injil Yohanes 6 Tuhan Yesus mewahyukan bahwa Dia adalah roti hayat dan kita perlu makan Dia. Selanjutnya, kita mengingat Dia pada mejaNya dengan makan dan minum Dia.
Tuhan Yesus menetapkan meja dengan mengambil roti, memberkatinya, memberikannya kepada murid-murid, dan menyuruh mereka memakannya. Dia menyuruh mereka melakukan hal ini sebagai peringatan akan Dia. Ini menunjukkan bahwa cara yang Tuhan berikan kepada kita untuk mengingat Dia bukanlah berlutut atau bersujud. Melalui makan Tuhan, kita mengingat Dia; ini barulah memuliakan, menghormati Dia. Prinsipnya sama dengan minum cawan.
Kita sangat perlu nampak apakah realitas ilahi itu.
Trinitas ilahi seharusnya menjadi kenikmatan kita yang subyektif. Inilah realitas ilahi, dan inilah yang telah diabaikan oleh orang-orang Kristen hari ini. Karena itu, dalam pemulihan Tuhan kita telah diperintahkan oleh Tuhan untuk lebih memperhatikan masalah ini.
Dalam pemulihan Tuhan kita seharusnya tidak hanya memiliki kata-kata “realitas” dan “kebenaran” sebagai istilah semata. Jika kita hanya memiliki istilah, kita masih dalam lingkungan doktrin, meskipun doktrin itu berstandar tinggi dan memiliki kebenaran yang lebih lengkap. Kita semua perlu nampak bahwa kebenaran, realitas, adalah persona ilahi Bapa, Putra, dan Roh itu menjadi kenikmatan kita dan bahkan unsur pokok kita.
Dalam Surat 2 dan 3 Yohanes, Rasul Yohanes berbicara tentang mengasihi dalam kebenaran. Dalam 2Yohanes dia berkata lebih lanjut bahwa orang yang telah mengenal kebenaran juga mengasihi penerima surat ini dalam kebenaran, dikarenakan kebenaran yang tinggal dalam kita dan akan bersama kita selamanya (2 Yoh. 2). Tidak hanya demikian, dalam 2 Yohanes 4 dan dalam 3 Yohanes 3-4, Yohanes bersukacita melihat anak-anaknya berjalan dalam kebenaran, mereka berjalan dalam kenikmatan Allah Tritunggal. Alasan kita mengasihi orang-orang lain adalah kita menikmati Allah Tritunggal dan Allah Tritunggal yang kita nikmati adalah kasih. Karena kita menikmati Allah Tritunggal, kasih mengalir keluar dari kita kepada orang-orang lain. Karena kita menerima Allah yang adalah kasih ke dalam kita, karena kita “makan” Allah sebagai kasih, maka kita menjadi kasih. Mengenai hal ini, kita teringat perkataan, “Kamu adalah apa yang kamu makan.” Akibat dari makan Allah adalah kita mengasihi orang-orang lain dalam kebenaran.
Mulai abad pertama, gangguan-gangguan dan pengganti-pengganti realitas ilahi mulai perlahan-lahan masuk. Di antara orang-orang Kristen hari ini ada sangat banyak pengganti Kristus. Banyak yang mempunyai Kristus hanya berupa nama.
Agar dapat mengalami dan menikmati Allah Tritunggal secara riil, kita perlu nampak bahwa Dia adalah Roh yang berhuni di dalam roh kita yang dilahirkan kembali. Roh ini adalah Roh pemberi hayat yang almuhit, majemuk, yang adalah kesempurnaan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Roh ini dapat dianggap “sari” Allah Tritunggal. Seperti sari dari suatu zat yang digunakan sebagai obat atau untuk masakan sangat pekat, Roh itu sebagai sari Allah Tritunggal juga sangat pekat. Hari ini Allah kita adalah Roh di dalam roh kita. Jika kita kembali ke roh kita, tinggal di dalam roh kita, dan melatih roh kita untuk menyeru nama Tuhan dan doabaca firman, kita akan menikmati Allah Tritunggal. Kemudian kenikmatan ini akan mengubah kita, mentransformasi kita, dan membentuk cara hidup kita.
MEMBERIKAN TUMPANGAN
KEPADA SEKERJA YANG DALAM PERJALANAN
Setia, berdasarkan Kasih, Layak bagi Allah
Dalam ayat 5-6 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Saudaraku yang terkasih, engkau bertindak sebagai orang percaya dalam segala sesuatu yang kaulakukan untuk saudara-saudara seiman, sekalipun mereka orang-orang asing. Mereka telah bersaksi di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engaku menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan cara yang berkenan kepada Allah.” Di sini Yohanes berkata mengenai memberikan tumpangan atau menolong mereka yang dalam perjalanan. Dalam ayat 5 “segala sesuatu” mengacu kepada menyediakan tumpangan (seperti yang diajarkan Paulus dalam Roma 12:13 dan Ibrani 13:2), menerima saudara (3 Yoh. 7-8) yang pergi untuk pemberitaan Injil dan pelayanan firman. Ini juga meliputi memberi tumpangan kepada saudara-saudara yang keluar demi kebenaran.
Dalam ayat 6 Yohanes mengatakan bahwa saudara-saudara yang dalam perjalanan ini (yang kebanyakan sangat asing bagi Gayus, tidak dikenal oleh Gayus), bersaksi tentang kasihnya di hadapan gereja. Ini mengacu pada waktu lampau dan di dalam gereja di mana rasul ada. Kemudian Yohanes melanjutkan dengan mengatakan bahwa Gayus memperlakukan mereka dengan baik, menolong mereka dengan cara yang berkenan kepada Allah. Ini mengacu kepada apa yang dilakukan pada masa yang akan datang. Di satu pihak rasul memuji Gayus atas apa yang telah ia lakukan di masa lalu, yaitu memberi tumpangan kepada saudara-saudara yang dalam perjalanan; di pihak lain, ia mendorongnya untuk menolong mereka di masa yang akan datang. Khususnya, Yohanes mendorong Gayus menolong mereka dengan cara yang diperkenan Allah.
“Dengan cara yang berkenan” menerangkan “menolong”. Pertolongan harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan Allah, yang murah hati. Ini menunjukkan bahwa pertolongan harus dilakukan dengan murah hati.
Menjadi Rekan Sekerja dalam Kebenaran
Dalam ayat 7-8 Yohanes menyatakan bahwa dengan memberikan tumpangan kepada saudara-saudara yang dalam perjalanan, kita dapat menjadi rekan-rekan sekerja dari orang-orang yang keluar demi kebenaran. Ayat 7 mengatakan “Sebab karena namaNya mereka telah berangkat tanpa menerima apa pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” NamaNya di sini adalah Nama yang ditinggikan dan dimuliakan dari Kristus yang ajaib (Flp. 2:9; Kis. 5:41; Yak. 2:7). Sejak Tuhan naik ke surga, belum pernah ada nama di bumi yang melampaui Yesus.
Dalam ayat 7 Yohanes mengatakan bahwa pekerja-pekerja yang keluar demi kebenaran tidak menerima apa pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Orang-orang yang tidak mengenal Allah, penyembah-penyembah berhala, tidak ada hubungannya dengan pergerakan Allah untuk melaksanakan ekonomiNya di bumi. Jika setiap orang yang bekerja bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah menerima bantuan untuk pekerjaan Allah, khususnya bantuan keuangan, dari orang-orang yang tidak mengenal Allah, ini memalukan dan bahkan menghina Allah. Pada zaman rasul, saudara-saudara yang bekerja untuk Allah tidak mengambil sesuatu apa pun dari penyembah berhala. Karena itu, rasul mendorong kaum beriman untuk mendukung pekerjaan bagi ekonomi Allah ini.
Dalam ayat 8 Yohanes menyimpulkan, “Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh menjadi rekan-rekan sekerja untuk kebenaran.” Kata Yunani yang diterjemahkan “menerima” adalah hupolambano, terdiri dari dua kata: hupo, di bawah, dan lambano, mengambil; jadi, berarti mengangkat (dari bawah), yaitu menjamin, menopang, menunjang. Kita, kaum beriman, termasuk rasul, seharusnya menopang dan menjamin keperluan saudara-saudara yang bekerja bagi Allah dalam kebenaran ilahiNya dan yang tidak mengambil apa pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Jika kita mendukung pekerja-pekerja yang keluar bekerja, kita mengambil bagian di dalam pekerjaan itu dan dengan demikian menjadi kawan-kawan sekerja di dalam kebenaran.
Dalam ayat 8 “kebenaran” mengacu kepada realitas ilahi yang diwahyukan sebagai isi dari Perjanjian Baru, menurut ajaran-ajaran rasul mengenai Trinitas ilahi, khususnya persona Tuhan Yesus bagi ekonomi Allah. Semua rasul dan saudara-saudara yang setia bekerja untuk ini.