← Daftar isi Hagai · bab 1/1

PEMBANGUNAN RUMAH YEHOVA DALAM WAHYU KEPADA KESEJAHTERAAN ISRAEL DAN KEDATANGAN MESIAS

Pembacaan Alkitab: Hag. 1–2

Dalam berita ini kita akan meliput kitab Hagai, suatu kitab yang memperhatikan pembangunan rumah Yehova dalam wahyu kepada kesejahteraan Israel dan kedatangan Mesias.

I. PENDAHULUAN

Hagai 1:1 adalah pendahuluan.

A. Arti Nama Hagai

Nama Hagai dalam bahasa Ibrani berart “perayaan-Ku” atau “perayaan Yehova,” melambangkan bahwa nabi Hagai, yang telah dilahirkan dalam penawanan di Babel, sangat mengharapkan untuk kembali dari penawanan itu sehingga perayaan Yehova dapat dipulihkan.

B. Waktu Ministri Hagai

Waktu ministri Hagai adalah 520 S.M., pada zaman Zakharia (Ezra 5:1).

C. Tempat Ministrinya

Tempat ministrinya adalah Yerusalem.

D. Sasaran Ministrinya

Sasaran ministrinya adalah orang-orang Israel yang dipulihkan

E. Pokok

Pokok nubuat Hagai adalah penghukuman Yehova atas tawanan yang kembali untuk membangun rumah-Nya.

F. Pokok Pikiran

Pokok pikiran kitab Hagai yaitu pembangunan rumah Yehova berhubungan dengan kesejahteraan umat Allah hari ini dan sampai datangnya kerajaan milenium bersama Mesiasnya pada zaman pemulihan. Rumah Allah, atau bait dalam Perjanjian Lama, adalah satu gambaran pertama Kristus sebagai rumah Allah secara individu, dan kemudian gereja, Tubuh, Kristus yang diperbesar, sebagai rumah Allah secara korporat. Karena itu, kita seharusnya menganggap bahwa Hagai mengacu kepada kita, sejak kita adalah realitas gambaran. Penghukuman Yehova atas tawanannya yang kembali melambangkan penghukuman-Nya atas kita dalam pemulihan.

G. Wahyu mengenai Kristus

Wahyu mengenai Kristus dalam kitab Hagai meliput dua perkara.

1. Diri Kristus Didambakan Semua Bangsa

Pertama, kitab ini mewahyukan First, this book reveals Christ in His being the Desire of

all the nations (2:7).

2. Kedatangan Kristus sebagai Mesias di Zaman yang akan Datang

Kedua, kitab ini mewahyukan Kristus dalam kedatangan-Nya sebagai Mesias (dilambangkan oleh gubernur Zerubabel) di zaman akan datang (2:23).

H. Bagian-bagian

Hagai memiliki tiga bagian: pendahuluan (1:1); teguran dan perintah TUHAN mengenai keterlambatan pembangunan rumah-Nya (1:2-15); dan nubuat mengenai rumah TUHAN dalam Kerajaan Seribu Tahun dan janji Mesias dalam kerajaan yang akan datang (2:1-23).

II. TEGURAN DAN PERINTAH TUHAN MENGENAI KETERLAMBATAN PEMBANGUNAN RUMAHNYA

A. Teguran TUHAN

Dalam 1:2-6, 9-11 kita memiliki teguran TUHAN.

1. Alasan Bangsa itu

‘‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” (v. 2). Di sini kita memiliki alasan bangsa itu sebab keterlambatan untuk membangun kembali rumah TUHAN. Alasannya adalah waktunya belum sampai untuk rumah TUHAN dibangun.

2. Pertanyaan TUHAN

Alsaha bangsa itu diikuti dengan pertanyaan TUHAN. “Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (vv. 3-4). Mereka memperhatikan rumahnya tetapi rumah TUHAN tidak, maka Dia datang menanyai mereka tentang rumah-Nya.

3. TUHAN Menanggulangi Perhatian Diri dan Allah Mengabaikan Orang Tawanan yang Kembali

Dalam ayat 5, 6, dan 9 sampai 11 kita memiliki TUHAN menanggulangi perhatian diri dan Allah mengabaikan orang tawan yang kembali.

a. Memerintahkan Mereka untuk Memperhatikan Jalan-jalan Mereka

Dalam penanggulangan-Nya, hal pertama TUHAN lakukan adalah memerintahkan bangsa itu untuk memperhatikan jalan-jalannya (ay. 5).

b. Memberi Tahu Mereka bahwa Mereka Telah Menabur Banyak tetapi Membawa Pulang Hasil sedikit

TUHAN menunjukkan bahwa orang tawanan yang kembali telah menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit; mereka telah makan dan minum tetapi tanpa dipuaskan; mereka berpakaian tetapi tanpa dihangatkan; dan mereka bekerja untuk upah yang ditaruh dalam buli-buli yang berlobang (ay. 6). Ini memberi tahu kita bahwa jika kita tidak memiliki hati untuk memperhatikan rumah Allah untuk kepuasan-Nya, bukan perkara berapa banyak kita makan atau minum atau betapa baiknya kita berpakaian, tidak ada kepuasan. Jika kita mengabaikan gereja, kita tidak akan memiliki kenikmatan atau kepuasan sejati.

c. Mengatakan bahwa Mereka Mengharapkan Banyak dan Hasilnya Sedikit

Dalam ayat 9 TUHAN selanjutnya berkata bahwa mereka mengharapkan banyak, dan hasilnya sedikit. Ketika mereka membawanya ke rumah, Dia menghembuskannya karena rumah-Nya yang telah menjadi reruntuhan, dan mereka masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. Karena itu, atas mereka langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya (v. 10). Tentu saja, TUHAN memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunungh-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur baru, ke atas minyak segar, ke atas segala yang dihasilkan tanah, dan ke atsa manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha (ay. 11).

Kata “sibuk” dalam ayat 9 menunjukkan bahwa bangsa itu sibuk memperhatikan rumahnya sendiri. Hari ini banyak orang kudus sibuk memperhatikan rumah-nya sendiri bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk menghadiri sidang-sidang. Seperti kita perhatikan di sini, kita perlu menyadari bahwa di seluruh alam semesta tidak ada sedemikian seperti kenetralan. Kita harus mutlak. Kita harus memperhatikan rumah kita yang pertama atau memperhatikan rumah Tuhan yang pertama. Poinku di sini yaitu kita perlu belajar menyelamatkan beberapa waktu untuk kepentingan Tuhan. Betapa banyak orang berdosa yang menantikan kunjungan kita? Betapa banyak orang kudus, khususnya orang-orang muda, menantikan pengasuhan dan perawatan kita? Kita hari ini dapat beralasan, tetapi kita perlu memperhatikan bagaimana kita menjawan Tuhan Yesus ketika Dia datang. Kita memiliki banyak kerabat yang belum beroleh selamat. Mereka belum beroleh selamat mungkin kekurangan kita, bukan mereka. Jika demikian, ketika Tuhan datang untuk mengadakan perhitungan dengan kita (Mat. 25:19), Dia akan dengan segera menegur kita. Sulit bagi kita untuk menyebar, terutama bukan karena lingkungan kita tetapi karena alasan kita.

B. Perintah TUHAN

Dalam perintah-Nya TUHAN memberi tahu bangsa itu untuk memperhatiakn jalan-jalannya dan naik ke agunung dan membawa kayu dan membangun rumah, dan Dia akan berkenan kepadanya dan akan dimuliakan (Hag. 1:7-8). Hari ini pemberitaan Injil kita adalah kita mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun rumah Allah.

C. Respon Bangsa itu

Gubernur Zerubabel dan imam besar Yosua dan semua sisa bangsa itu merespon TUHAN dengan mendengarkan suara TUHAN Allah mereka dan perkataan nabi Hagai, dan mereka takut kepada TUHAN (ay. 12). Kemudian Hagai, utusan TUHAN, mendorong bangsa itu dengan pernyataan TUHAN, “Aku ini menyertai kamu” (ay. 13). TUHAN menggerakkan roh Zerubabel, roh Yosua, dan roh semua orang dari bangsa itu, dam mereka datang dan mengerjakan rumah TUHAN semesta alam (ay. 14-15). Betapa respon yang ajaib!

Saya berharap bahwa semua orang kudus yang terkasih akan sibuk pergi mengunjungi orang dan mengontaki kerabat, temah sekolah, dan kolega mereka untuk Injil. Semua orang kdusu harus diduduki oleh Tuhan Yesus dalam memberitakan Injil, memberi makan orang percaya yang baru, dan memperhatikan orang lain. Saya harap mengenai ini seluruh atmosfer dan lingkungan di antara kita akan berubah.

III. NUBUAT MENGENAI RUMAH TUHAN DALAM KERAJAAN SERIBU TAHUN DAN JANJI MENGENAI MESIAS DI ZAMAN AKAN DATANG

Hagai 2:1-23 adalah nubuat mengenai rumah TUHAN dalam Kerajaan Seribu Tahun dan janji mengenai Mesias di zaman akan datang.

A. Nubuat mengenai Rumah TUHAN dalam Kerajaan Seribu Tahun, sebagai Dorongan untuk Membangun Rumah TUHANpada Masa Zerubabel

Dalam ayat 1 sampai 9 nabi Hagai diperintahkan untuk berbicara kepada bangsa itu mengenai rumah TUHAN. “Sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” (ay. 6-9). Nubuat ini mengenai rumah TUHAN dalam Kerajaan Seribu Tahun adalah satu dorongan untuk membangun rumah TUHAN pada masa Zerubabel.

Ayat 7 mewahyukan bahwa Kristus adalah Kedambaan segala bangsa. Saya menghargai baris dalam kidung Charles Wesley yang mengatakan, “Dambaan semua bangsa, dalam kami Kau tinggal!’’ Kristus sebenarnya adalah kedaambaan semua umat manusia. Semua orang mendambakan hayat, terang, damai, kebaikan, dan kebenaran, namun mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka dambakan sesungguhnya adalah Kristus. Kristus adalah hayat, terang, dan damai. Jika kita tidak memiliki Dia, kita tidka memiliki hayat, terang, damai, atau kebajikan-kebajikan insani lainnya. Kristus adalah realitas dari setiap kebajikan insani. Maka, mendambakan kebajikan sebenarnya mendambakan Kristus.

Menurut pengaturan Allah dalam penciptaan-Nya atas manusia, kebajikan-kebajikan insani, seperti kasih, kebaikan, kesabaran, dan kerendahan hati, adalah untuk ekspresi atribut-atribut ilahi. Ini adalah maksud Allah supaya atribut-atribut diri-Nya dapat diekspresikan oleh manusia dalam kebajikan-kebajikannya. Sebagai satu ilustrasi untuk ini, menganggap sarung tangan yaitu dibentuk dalam bentuk tangan manusia. Tangan adalah isi sarung tangan, dan sarung tangan adalah ekspresi dari tangan. Demikian pula, kebajikan-kebajikan insani adalah “sarung tangan” untuk ekspresi atribut-atribut sebagai “tangan.” Hanya seperti sarung tangan tanpa tangan tidak memiliki isi, maka kebajikan-kebajikan insani tanpa atribut-atribut ilahi tidak memiliki realitas.

Kejadian 1:26 memberi tahu kita bahwa Allah menjadikan manusia dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya. Namun demikian, manusia adalah kosong, hanya memiliki bentuk luaran tetapi tidak memiliki Allah sebagai isi batiniahnya. Karena itu, Allah bermaksud supaya manusia yang diciptakan dalam gambar-Nya dapat memakai kehendaknya untuk memilih Allah, dilambangkan oleh pohon hayat, sebagai isinya. Memilih Allah dalam cara ini berarti bahwa kita menerima hayat Allah dengan atribut-atribut-Nya ke dalam kita untuk diekspresikan melalui kebajikan-kebajikan kita. Sebagai contoh, satu dari atribut Allah adalah kasih. Kita dapat berkata bahwa kasih ini adalah bagian dari “tangan” dan kebajikan kasih insani kita adalah bagian dari “sarung tangan.” Bahkan bukan kaum beriman memiliki kasih alamiah, insani. Sungguh, mereka tidak memiliki atribut kasih ilahi. Sebagai kaum beriman, kita menerima Allah sebagai hayat kita, dan sebagai Dia yang hidup di dalam kita, atribut kasih-Nya diekspresikan melalui kebajikan insani kita. Dalam cara ini, Kristus menjadi realitas kebajikan insani ini.

Hari ini orang di setiap tempat mendambakan hayat, terang, kasih, sabar, dan ketahan tanpa menyadari bahwa untuk mendambakan kebajikan-kebajikan ini sebenarnya mendambakan Kristus. Semua orang, termasuk bukan kaum beriman, mendambakan Kristus secara tidak sadar. Ini adalah apa yang dimaksud dengan dikatakan bahwa Kristus adalah Kedambaan segala bangsa.

B. Kenajisan Bangsa itu dan TUHAN Menanggulangi Mereka dan Kemudian Memberkati Mereka

Dalam ayat 10 sampai 19 nabi berbicara tentang kenajisan bangsa itu dan TUHAN menanggulangi mereka dan kemudian memberkati mereka. Kenajisan di sini bukan fisik tetapi moral dan rohani, termasuk hubungannya dengan Allah. Karena kenajisan disingkirkan, mereka dapat diberkati Allah.

C. Janji mengenai Mesias dalam Kerajaan akan Datang

Akhirnya, dalam ayat 20 sampai 23 kita memiliki janji Mesias mengenai (typified by Zerubbabel) dalam kerajaan akan datang. Hagai diperintahkan untuk berbicara kepada Zerubabel, bunyinya, “Maka datanglah firman TUHAN untuk kedua kalinya kepada Hagai pada tanggal dua puluh empat bulan itu, bunyinya: “Katakanlah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, begini: Aku akan menggoncangkan langit dan bumi dan akan menunggangbalikkan takhta araja-raja; Aku akan memunahkan kekuasaan kerajaan bangsa-bangsa dan akan menjungkirbalikkan kereta dan pengendaranya; kuda dan pengendaranya akan mati rebah, masing-masing oleh pedang temannya” (vv. 21-23). TUHAN menjadikan Zerubabel sebagai cincin menunjukkan bahwa TUHAN menganggap dia sebagai wakil-Nya dan Dia mengasihinya dan mempercayainya. Zerubabel sesungguhnya orang yang demikian. Dia mewakili Allah, dan dia dikasihi dan dipercayai Allah.

Dalam perkara ini Zerubabel adalah lambang Kristus, untuk cincin Allah yang diserahkan kepada Kristus. Dia mewakili Allah, dan Dia adalah Yang Allah kasihi dan percayai. Sebagai seorang yang demikian, Dia bersyarat memperhatikan pembangunan rumah Allah, gereja.

Pelajaran Hayat