← Daftar isi 1 Yohanes · bab 16/16

KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MENGALAHKAN DUNIA, MAUT, DOSA, IBLIS, DAN BERHALA (5)

Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 5:18-21

Dalam 5:20 Yohanes mengatakan, “Akan tetapi, kita tahu bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya, Yesus Kristus. Dialah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” Anak Allah, yang telah datang kepada kita dalam inkarnasi dan melalui kematian dan kebangkitan, telah memberi kita pengertian, kemampuan, untuk mengenal Allah yang benar. Pengertian ini, kemampuan mengenal ini, meliputi pikiran kita yang diterangi, roh kita yang dihidupkan, dan Roh realitas. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk mengenal Allah. Seperti yang telah kita jelaskan, mengenal Allah berarti mengalami Dia, menikmati Dia, dan memiliki Dia.

YANG BENAR

Dalam 5:20 Yohanes dua kali berbicara tentang “Yang Benar”. Berbicara tentang Allah hanya sebagai Allah berarti berbicara secara obyektif. Akan tetapi, istilah “Yang Benar” bersifat subyektif, mengacu kepada Allah menjadi subyektif bagi kita. Dalam ayat ini, Allah yang obyektif menjadi Yang Benar dalam kehidupan dan pengalaman kita.

Apakah artinya “Yang Benar”? Khususnya, apakah arti kata “benar”? Di sini kata “benar” dalam bahasa Yunaninya adalah alethinos, benar, sejati (satu kata sifat yang berhubungan dengan aletheia, kebenaran, realitas Yoh. 1:14; 14:6, 17), bertentangan dengan palsu dan tiruan. Sebenarnya, Yang Benar adalah realitas. Putra Allah telah memberi kita satu pengertian sehingga kita dapat mengenal, yaitu, mengalami, menikmati, dan memiliki realitas ilahi. Karena itu, mengenal Yang Benar berarti mengenal realitas dengan mengalami, menikmati, dan memiliki realitas ini.

Satu Yohanes 5:20 menunjukkan bahwa Allah telah menjadi realitas kita dalam pengalaman kita. Putra Allah telah datang melalui inkarnasi dan melalui kematian dan kebangkitan, telah memberi kita satu pengertian sehingga kita dapat mengalami, menikmati, dan memiliki realitas, yang adalah Allah sendiri. Sekarang Allah yang dulu obyektif bagi kita telah menjadi realitas subyektif kita.

Dalam 5:20 Yohanes mengatakan bahwa kita ada di dalam Yang Benar. Kita tidak hanya mengenal Allah yang benar; kita juga ada di dalam Dia. Kita tidak hanya mempunyai pengetahuan tentang Dia; kita ada di dalam kesatuan yang organik dengan Dia. Kita bersatu dengan Dia secara organik.

Ketika Yohanes mengatakan bahwa kita ada di dalam Yang Benar, Dia mengatakan satu hal yang sangat penting. Kita tidak hanya mengenal Yang Benar, dan tidak hanya mengalami, menikmati, dan memiliki Dia sebagai realitas, tetapi kita ada di dalam realitas ini. Kita ada di dalam Yang Benar.

DI DALAM YANG BENAR,

DI DALAM PUTRA-NYA YESUS KRISTUS

Dalam 5:20 Yohanes mengatakan, “Kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya (PutraNya), Yesus Kristus.” Berada di dalam Allah yang benar adalah berada di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus sebagai Putra Allah adalah jelmaan Allah (Kol. 2:9), maka berada di dalam Dia berarti berada di dalam Allah yang benar. Ini menyatakan Yesus Kristus Putra Allah adalah Allah yang benar.

Mari kita perhatikan lebih rinci perkataan Yohanes, “Kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya, Yesus Kristus.” Perhatikanlah bahwa ada satu tanda koma setelah kata “benar”. Dalam teks asli bahasa Yunani tidak ada tanda baca sama sekali. Sebab itu, penerjemah berbeda pendapat mengenai perlu atau tidaknya satu tanda koma diletakkan setelah “benar”.

Selain itu, ada satu pertanyaan apakah frase “di dalam PutraNya, Yesus Kristus” adalah keterangan tambahan untuk “di dalam Yang Benar”, atau adalah satu frase yang bersifat keterangan. Beberapa penafsir mengatakan bahwa frase ini adalah keterangan tambahan; yang lain mengatakan bahwa fungsinya seperti sebuah keterangan. Jika frase ini adalah keterangan tambahan untuk “di dalam Yang Benar”, berarti berada di dalam Yang Benar sama dengan berada di dalam PutraNya Yesus Kristus. Jika “di dalam PutraNya Yesus Kristus” adalah sebuah keterangan, frase ini menunjukkan bahwa kita ada di dalam Yang Benar dengan berada di dalam PutraNya Yesus Kristus.

Dipandang dari sudut tata bahasa, mungkin lebih baik mengatakan, “di dalam PutraNya, Yesus Kristus” bukanlah keterangan tambahan untuk frase yang di depannya, tetapi adalah satu kata penjelas yang menggambarkan bagaimana kita ada di dalam Yang Benar. Dalam hal ini, artinya kita ada di dalam Yang Benar karena kita adalah di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Alasan kita perlu melihat hal ini adalah pentingnya hal ini bagi pengalaman rohani kita.

Setelah banyak belajar, saya sampai pada kesimpulan bahwa entah bagaimana pemahaman kita atas fungsi frase “di dalam AnakNya, Yesus Kristus”, hasilnya sama. Baik frase ini adalah keterangan tambahan untuk frase yang di depannya atau satu kata yang menjelaskan sifat, hasilnya sama. Jika frase yang terakhir adalah keterangan tambahan untuk yang pertama, artinya adalah berada di dalam Yang Benar sama dengan berada di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Ini juga menunjukkan bahwa Yang Benar dan Yesus Kristus adalah satu dalam hal saling huni. Karena itu, berada di dalam Putra secara spontan berada di dalam Yang Benar. Jika “di dalam PutraNya, Yesus Kristus” adalah satu penjelasan, itu berarti kita ada di dalam Yang Benar melalui berada di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Bagaimana cara kita berada di dalam Yang Benar? Kita ada di dalam Dia dengan berada di dalam PutraNya, Yesus Kristus.

Jika kita membahas masalah ini dengan cermat, kita akan nampak bahwa dalam kedua cara pemahaman frase-frase ini, artinya sebenarnya sama. Entah kita mengatakan berada di dalam Yang Benar adalah berada di dalam AnakNya, Yesus Kristus, atau kita ada di dalam Yang Benar dengan kebajikan dari berada di dalam Yesus Kristus, hasilnya adalah sama.

ALLAH YANG BENAR DAN HIDUP YANG KEKAL

Sekarang, mari kita melanjutkan melihat bagian terakhir ayat 20, “Dialah (Tl: Inilah) Allah yang benar dan hidup (hayat) yang kekal.” “Dia” mengacu kepada Allah yang telah datang melalui inkarnasi dan telah memberi kita suatu kemampuan untuk mengenal Dia sebagai Allah yang sejati dan bersatu dengan Dia secara organik dalam PutraNya, Yesus Kristus. Semua ini adalah Allah yang benar dan sejati serta hayat yang kekal bagi kita. Segala apa adanya Allah yang benar dan sejati ini terhadap kita adalah hayat yang kekal, supaya kita dapat mengambil bagian akan Dia sebagai segala sesuatu terhadap diri kita yang sudah dilahirkan kembali.

Kita perlu dengan khusus memperhatikan kata “Dialah”. (Dalam bahasa aslinya bukan “Dialah”, melainkan “Inilah”). Yohanes memakai kata “Inilah” untuk menyebut Allah yang benar dan hidup yang kekal. Dengan ini kita nampak bahwa Allah yang benar dan hidup yang kekal adalah satu.

Kita telah nampak bahwa kita ada di dalam Yang Benar dan di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Secara doktrin, Yang Benar dan PutraNya, Yesus Kristus dapat dianggap dua. Tetapi bila kita ada di dalam Yang Benar dan di dalam Yesus Kristus secara pengalaman, Mereka adalah satu. Karena inilah Yohanes memakai “inilah” untuk menyebut Yang Benar dan PutraNya, Yesus Kristus.

Bagi orang yang tidak di dalam Yang Benar dan Yesus Kristus, Mereka adalah dua. Tetapi ketika kita ada di dalam Mereka secara pengalaman, Mereka adalah satu. Kita telah nampak bahwa berada di dalam Yang Benar adalah berada di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Ini berarti dalam pengalaman kita berada di dalam Mereka, Mereka adalah satu.

Tidak hanya demikian, ketika kita ada di dalam Yang Benar dan Yesus Kristus, Mereka adalah Allah kita Yang benar dan juga hayat kekal kita. Pertama-tama, Yohanes berbicara tentang Yang Benar dan PutraNya, Yesus Kristus, dan kemudian dia berbicara tentang Allah yang benar. Di sini mungkin ada beberapa perbedaan antara Yang Benar dengan Allah yang benar. Ketika kita ada di dalam Yang Benar dan PutraNya, Yesus Kristus, Yang Benar itu disebut Allah yang benar, dan PutraNya, Yesus Kristus disebut hayat yang kekal. Ini berarti, pertama-tama Mereka adalah Yang Benar dan PutraNya Yesus Kristus, tetapi ketika kita ada di dalam Mereka, Mereka menjadi Allah yang benar dan hayat yang kekal.

Kita perlu satu pengertian yang jelas, tentang “Dia” (“Inilah”) dalam 1Yohanes 5:20 mengacu kepada apa. Kata “Dia” mengacu kepada Allah yang menjadi pengalaman kita melalui beradanya kita di dalam Dia. Kita tidak lagi di luar Allah ini, melainkan ada di dalam Allah ini, dan ada di dalam Yang Benar, di dalam Putra-Nya, Yesus Kristus. Karena kita ada di dalam Mereka, Allah dan Yesus Kristus tidak lagi obyektif bagi kita, dan di dalam pengalaman kita, Mereka tidak lagi dua. Ketika kita di dalam Mereka, Mereka menjadi satu bagi kita. Karena itu, Yohanes mengatakan “Inilah” adalah Allah yang benar dan “Inilah” adalah hayat kekal. Siapakah “Inilah”? “Inilah” adalah Allah dan Yesus Kristus yang di dalamNya kita berada. Kita juga dapat mengatakan “Inilah” meliputi keadaan dari beradanya kita di dalam Allah dan Yesus Kristus. Sebab itu, Allah yang benar dan hidup yang kekal meliputi beradanya kita di dalam Yang Benar dan PutraNya, Yesus Kristus.

Kita ada di dalam Yang Benar dan di dalam Yesus Kristus. Sekarang dalam pengalaman kita Yang Benar ini menjadi Allah yang benar, dan Yesus Kristus menjadi hayat yang kekal. Di manakah kita sekarang? Apakah kita di luar Allah yang benar dan di luar hayat yang kekal? Tidak, kita ada di dalam Allah yang benar dan di dalam hayat yang kekal. Kata “Inilah” meliputi fakta bahwa kita ada di dalam Allah yang benar dan hayat yang kekal ini. Haleluya, inilah Allah yang benar dan hayat yang kekal, dan kita ada di dalam Allah ini dan di dalam hayat ini! Kita tahu bahwa kita ada di dalam Allah yang benar dan di dalam hayat yang kekal karena kita ada di dalam Yang Benar dan di dalam PutraNya, Yesus Kristus.

Ayat 20 mengatakan bahwa Putra Allah telah datang dan telah memberi kita satu pengertian sehingga kita dapat mengenal Yang Benar, dan kita ada di dalam Yang Benar, yang berarti kita ada di dalam PutraNya, Yesus Kristus. Ketika kita ada di dalam Yang Benar dan Yesus Kristus, inilah (meliputi fakta bahwa kita ada di dalam Mereka) Allah yang benar.

Jika kita tidak di dalam Allah, kita tidak dapat mengatakan dari pengalaman bahwa bagi kita Dia adalah benar. Tentu saja, Dia akan tetap benar di dalam diriNya sendiri, tetapi kita tidak dapat bersaksi bahwa di dalam kita Dia itu benar. Tetapi karena kita ada di dalam Yang Benar, bagi kita Dia adalah Allah yang benar. Selanjutnya, Kristus adalah hayat yang kekal bagi kita. Jika kita tidak ada di dalam Dia, Kristus akan tetap hayat yang kekal di dalam diriNya sendiri, tetapi Dia bukanlah hayat yang kekal bagi kita. Karena kita sekarang ada di dalam Dia, bagi kita Yesus Kristus adalah hayat yang kekal.

Ayat 20 dengan tegas menunjukkan bahwa kita sekarang sedang mengalami Allah yang benar, dan kita sedang mengalami Dia dengan berada di dalam Dia. Kita mengalami, menikmati, dan memiliki Dia dengan berada di dalam Dia. Inilah, bagi kita, adalah Allah yang benar dan hayat yang kekal.

Dalam ayat 20 kita mempunyai kesimpulan yang sangat penting dari seluruh Surat 1Yohanes. Surat ini mewahyukan sekarang kita benar-benar bersatu dengan Allah Tritunggal, dan Dia menjadi benar, riil, bagi kita. Dia menjadi realitas dan hayat bagi kita karena kita ada di dalam Dia.

MENJAGA DIRI KITA SENDIRI DARI BERHALA

Dalam ayat 21 Yohanes selanjutnya menyimpulkan, “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” Kata “waspadalah” berarti bentengilah dirimu terhadap serangan dari luar, seperti serbuan ajaran bidah. “Segala berhala” mengacu kepada ajaran bidah yang dibawa masuk oleh kaum Gnostik dan Cerintus, untuk menggantikan Allah yang benar, seperti yang diwahyukan dalam surat ini dan dalam Injil Yohanes dan seperti yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Berhala di sini juga mengacu kepada apa saja yang menggantikan Allah yang sejati. Sebagai anak-anak yang sejati dari Allah yang sejati, kita harus waspada dan melindungi diri sendiri dari ajaran bidah pengganti ini, dan dari segala penggantian sia-sia terhadap Allah kita yang benar dan sejati, yang denganNya kita bersatu secara organik dan yang adalah hayat yang kekal bagi kita. Inilah perkataan peringatan dari rasul yang tua kepada semua anaknya yang masih kecil sebagai penutup suratnya.

Menurut pengertian Yohanes, suatu berhala adalah sesuatu yang menggantikan, adalah satu pengganti bagi Allah yang subyektif, Allah yang telah kita alami dan yang masih kita alami. Melalui penerangan ini, kita dapat mengerti 1Yohanes 5:18-21 melalui pengalaman.

Sebelum kita beroleh selamat, kita ada di luar Allah. Allah adalah benar di dalam diriNya sendiri, tetapi kita tidak dapat mengatakan di dalam pengalaman kita bahwa Dia benar bagi kita. Tetapi setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita masuk ke dalam Allah. Karena itu, 1Yohanes 5:20 mengatakan bahwa kita tidak hanya mengenal Yang Benar, tetapi juga kita ada di dalam Yang Benar. Kita telah nampak bahwa berada di dalam Yang Benar berarti berada di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus. Karena kita ada di dalam Allah, Dia sekarang secara pengalaman menjadi benar bagi kita. Demikian juga, karena kita ada di dalam Yesus Kristus, Dia secara pengalaman menjadi benar bagi kita. Dengan pengalaman kita atas Allah dan Kristus, dengan berada di dalam Allah dan di dalam Kristus, kita dapat mengatakan bahwa inilah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Kata “Dia (Inilah)” dalam 1Yohanes 5:20 menyiratkan bahwa Allah, Yesus Kristus, dan hayat yang kekal adalah satu. Di dalam doktrin, mungkin ada satu perbedaan antara Allah, Kristus, dan hayat yang kekal, tetapi di dalam pengalaman kita mereka adalah satu. Ketika kita ada di dalam Allah dan di dalam Yesus Kristus dan ketika kita mengalami hayat yang kekal, kita menemukan bahwa semuanya ini adalah satu. Karena itu, Yohanes menyimpulkan ayat 20 dengan mengatakan, “Inilah Allah yang benar dan hayat yang kekal.” Kalimat ini tidak hanya menyimpulkan ayat 20; sebenarnya adalah kesimpulan dari seluruh kitab ini. Apa yang diwahyukan surat ini adalah Allah yang benar dan hayat yang kekal.

Perkataan Yohanes yang terakhir, dalam 1Yohanes 5:21, adalah pesan untuk melindungi diri kita dari berhala-berhala. Segala sesuatu yang menggantikan Allah yang benar dan hayat yang kekal adalah berhala. Kita perlu hidup, berjalan, dan membawa diri di dalam Allah ini dan di dalam hayat ini. Jika kita tidak hidup di dalam Allah yang benar dan hayat yang kekal, kita akan mencari pengganti bagi Allah yang benar, dan pengganti ini akan menjadi suatu berhala.

UNSUR DASAR DAN PENTING

DARI MINISTRI PENAMBALAN YOHANES

Inti dari wahyu surat ini adalah persekutuan ilahi dari hayat ilahi, yaitu persekutuan antara anak-anak Allah dengan Bapa Allah mereka. Allah Bapa ini tidak hanya merupakan sumber hayat ilahi, melainkan juga terang dan kasih sebagai sumber kenikmatan atas hayat ilahi (1:1-7; 4:8, 16). Untuk menikmati hayat ilahi kita perlu tinggal dalam persekutuan menurut urapan ilahi (2:12-28; 3:24), berdasarkan kelahiran ilahi dengan benih ilahi untuk pengembangan kelahiran ilahi (2:29-3:10). Kelahiran ilahi ini dilaksanakan dengan tiga sarana: air yang mengakhiri, darah yang menebus, dan Roh yang menunaskan (5:1-13). Dengan ketiga sarana itu kita telah dilahirkan oleh Allah menjadi anak-anakNya, memiliki hayat ilahiNya, dan berbagian dalam sifat ilahiNya (2:29-3:1). Kini Dia menghuni diri kita melalui RohNya (3:24; 4:4, 13) sebagai hayat dan suplai hayat kita, supaya kita dapat bertumbuh dengan unsur ilahiNya sehingga serupa dengan Dia pada saat penyataanNya (3:1-2).

Tinggal dalam persekutuan ilahi dari hayat ilahi, yaitu tinggal dalam Tuhan (2:6; 3:6), adalah menikmati segala kekayaan ilahiNya. Melalui tinggal di dalam persekutuan ilahi ini kita berjalan di dalam terang ilahi (1:5-7) dan mempraktekkan realitas, kebenaran, kasih, kehendak Allah, dan perintah Allah (1:6; 2:29, 5; 3:10-11; 2:17; 5:2) berdasarkan hayat ilahi yang diterima melalui kelahiran ilahi (2:29; 4:7).

Untuk menjaga diri kita tetap tinggal di dalam persekutuan ilahi ini, kita perlu menanggulangi tiga hal negatif yang utama. Yang pertama adalah dosa, yaitu kedurhakaan dan ketidakadilan (1:7-2:6; 3:4-10; 5:16-18). Yang kedua adalah dunia, yang terdiri atas hawa nafsu daging, hawa nafsu mata, dan kemuliaan sia-sia (keangkuhan) hidup ini (2:15-17; 4:3-5; 5:4-5, 19), dan yang terakhir adalah berhala, yaitu ajaran bidah pengganti Allah yang sejati dan pengganti yang kosong terhadap Allah yang riil (5:21). Ketiga kelompok perkara yang sangat jahat itu adalah senjata yang dipakai oleh si jahat, Iblis, untuk menggagalkan, melukai, dan kalau mungkin, bahkan memusnahkan kediaman kita di dalam persekutuan ilahi. Pelindung terhadap perbuatan jahat Iblis itu adalah kelahiran ilahi kita dengan hayat ilahi (5:18), dan berdasarkan fakta bahwa melalui kematianNya di atas salib, Putra Allah telah menghancurkan perbuatan Iblis (3:8), kita mengalahkan Iblis dengan firman Allah yang tinggal di dalam kita (2:14). Dengan kelahiran ilahi kita, juga dengan iman kita dalam Putra Allah, kita mengalahkan dunia jahatnya (5:4-5). Selanjutnya, kelahiran ilahi kita dengan benih ilahi yang ditaburkan ke dalam manusia batiniah kita memungkinkan kita tidak biasa hidup dalam dosa (3:9; 5:18), karena Kristus telah menyingkirkan dosa-dosa melalui kematianNya dalam daging (3:5). Dalam hal adakalanya kita berdosa, kita memiliki Pengacara kita sebagai kurban pendamaian kita untuk membela perkara kita di hadapan Allah Bapa (2:1-2), dan juga darahNya yang berkhasiat kekal mencuci kita (1:7). Wahyu semacam ini adalah unsur dasar dan penting dari ministri penambalan rasul.

?