Daftar isi Mengaku Dosa · bab 1/1

Mengaku Dosa

TUHAN berfirman kepada Musa : "Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN, dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya, atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya, atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa - apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah, maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu, atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya.

Imamat 6:1-5

Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulangtulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, sum-sumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata : "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepadaMu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidaklah melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak

Mazmur 32:11-7

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.

Amsal 28:13

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeraiah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.

Matius 5:23-26

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka : "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

Matius 3:7-8

Orang banyak berkata kepadaNya : "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya : Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." Ada datang juga pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya : "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya : "Jangan menagih lebih banyak dah pada yang telah ditentukan bagimu." Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya : Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?' Jawab Yohanes kepada mereka : "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."

Lukas 3:10-14

Hubungan Pengakuan Dosa

Mengapa kita perlu membicarakan persoalan mengaku dosa? Karena mengaku dosa adalah satu perkara yang sangat penting bagi seseorang setelah ia beroleh selamat. Satu hal yang terlebih dulu perlu Anda perhatikan, yaitu di dunia ini, tidak ada seorang Kristen yang beroleh selamat karena ia mengaku dosa. Ada orang berkata, "Tidak mengaku dosa, berarti tidak beroleh selamat." Anggapan ini adalah bidat. Tidak ada seorangpun yang bisa beroleh selamat karena mengaku dosa. Anda tidak mungkin berada di ruang tamu dulu, baru kemudian masuk melalui pintu rumah; Anda tidak mungkin makan dulu, baru kemudian memasak makanan. Meskipun di dunia ini banyak perkara yang berkebalikan, namun hal beroleh selamat tidak bisa dibalikkan. Ada orang berkata, "Berapa banyak seseorang mengaku dosanya, berapa banyak pula ia diampuni." Anggapan ini juga salah, karena ini berarti melemparkan pekerjaan Kristus yang mulia ke dalam debu. Orang-orang itu juga berkata, "Jika mata Anda berdosa, mata Anda harus disalibkan, maka mata Anda tidak akan berdosa lagi." Pernah seseorang berkata kepada saya, "Si anu berkhotbah tentang salib." Saya lalu bertanya kepadanya, "Khotbah tentang salib siapa?" Ia memang membicarakan salib, tapi salib siapa yang ia bicarakan? Paulus berkata, "Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu, selain Yesus Kristus, dan ketersalibanNya" (terjemahan langsung). Bukan salib Anda, melainkan salibNya. Bukan salib Anda dan saya, juga bukan Anda dan saya tersalib yang membuat kita beroleh selamat, melainkan salib Tuhan Yesus. Jika kita menyalibkan mata atau mulut kita, itu adalah salib kita, bukan salib Tuhan Yesus. Di atas salib Tuhan telah menanggung dosa kita. Jika Dia tidak mati, selamanya kita tidak bisa beroleh selamat.

Jadi, bukan pengakuan dosa kita yang membuat kita beroleh selamat. Di sini saya tidak berkata, bahwa kita tidak perlu mengaku dosa, tetapi perhatikanlah, jangan menaruh ruang tamu di pinggir jalan. Marilah kita membedakan antara langkah pertama dengan langkah kedua. Ketahuilah, kita terlebih dulu mengetahui telah beroleh selamat, kemudian baru mengaku dosa. Tidak ada hal lain yang membuat kita beroleh selamat, kecuali darah adi Tuhan Yesus. Saya bukannya tidak memperhatikan hal mengaku dosa, tetapi saya mau Tuhan Yesus dijunjung tinggi. Ingatlah, kita beroleh selamat bukan karena mengaku dosa, melainkan karena darah adi Tuhan Yesus.

Mengaku dosa tidak ada hubungannya dengan beroleh selamat; mengaku dosa berhubungan dengan mendapatkan pahala. Matius 5:23-26 mengatakan, jika Anda teringat ada saudara yang bermasalah dengan Anda, maka perkara pertama yang harus Anda lakukan ialah pergi berdamai dengannya dulu. Anda harus sekuatnya berusaha untuk berdamai dengannya, kalau tidak, ia akan menyerahkan Anda ke tangan hakim, dan hakim akan menyerahkan Anda kepada pembantunya dan Anda akan dilemparkan ke dalam penjara. Di sini memberitahu kita, bahwa tatkala Tuhan Yesus meraja selama seribu tahun di bumi, orang Kristen ini akan menderita kerugian di dalam kerajaan. Karena itu kita harus jelas, seseorang beroleh selamat adalah karena Tuhan Yesus, tetapi setelah seseorang beroleh selamat, kalau kemudian dosa-dosanya tidak dibereskan, ia akan menderita kerugian pada zaman Tuhan meraja selama seribu tahun.

Keharusan Mengaku Dosa

Amsal 28:13 mengatakan, "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." Saudara saudari, hari ini, marilah kita bersama menyadari, bahwa semua dosa yang kita lakukan dulu, kini harus kita akui dengan tuntas; yang bersalah kepada orang, harus mengakui kesalahan itu kepada orang yang bersangkutan, yang bersalah kepada Allah, harus mengaku dosa kepada Allah. Jika tidak, kelak kita akan menerima kerugian.

Pada suatu kali, tuan Evan Roberts ditanyai seseorang tentang kemajuan kerohanian orang Kristen. Dia berkata, "Kapankah hari terakhir Anda mengaku dosa?" Orang yang bertanya tidak mengerti jawaban ini. Ia bertanya, "Kalau demikian, apakah hal mengaku dosa ini harus dilakukan setiap hari? Apakah itu mirip dengan kita makan nasi?" Merenungkan dirinya sendiri, sadariah ia bahwa dirinya telah beberapa tahun berselang tidak lagi mengaku dosa. Akhirnya dia mengerti maksud jawaban tuan Evan Roberts. Artinya, seseorang Kristen bisa memiliki kemajuan rohani, dikarenakan ia mengaku dosa. Yang berdosa kepada Allah, harus mengaku dosa kepada Allah; yang bersalah kepada manusia, harus mengaku salah kepada manusia. Demikian akan membuat kerohaniannya mengalami kemajuan.

Saudara saudari, banyak orang tidak merasa sedih, meskipun mereka telah berbuat dosa. Ini dikarenakan mereka telah gagal dalam hal pengakuan dosa. Setelah seseorang beroleh selamat, jika ia mau mengakui dosa-dosanya dalam seumur hidupnya - baik terhadap Allah maupun terhadap manusia -- dia baru bisa dengan baik menempuh jalan yang di depannya, dan ia akan berjalan lebih cepat daripada orang yang lain. Banyak orang Kristen yang perasaannya sangat tumpul terhadap dosa!

Ada orang tidak berbuat dosa hanya karena "muka" (gengsi). Ada yang karena gengsi keluarga, ada yang karena gengsi diri sendiri. Ada orang tidak berbuat dosa karena tidak memiliki modal untuk berbuat dosa. Ada juga orang tidak berbuat dosa karena takut akan akibat dosa yang bisa membuatnya menderita. Saya ingin bertanya, "Siapa di antara Anda semua yang tidak mau berbuat dosa, tidak berani berbuat dosa, karena merasa dosa itu membencikan, dosa itu najis, dosa itu berlawanan dengan Allah?" Saya merasa sangat heran, banyak orang setelah berbuat dosa, masih bisa tidur nyenyak, masih bisa makan dengan lahap. Allah kita sangat membenci dosa. Saya membenci dosa, bukan karena gengsi saya, bukan karena saya tidak memiliki modal untuk berbuat dosa, bukan karena takut akan akibat dosa, melainkan karena Allah. Jika orang Kristen ingin memiliki perasaan benci akan dosa, ia harus mengaku dosa. Sedikitnya saya bisa berkata, bahwa mengaku dosa bisa membantu kita memiliki perasaan membenci dosa. Saya pribadi, jika berbuat dosa, segera saya merasa sangat susah, pahit; namun perasaan ini sangat baik.

Apakah di antara Anda dengan orang lain ada persoalan? Seorang saudara menulis dalam buku hariannya, "Di antara diriku dengan orang lain, antara orang lain dengan diriku, tidak ada persoalan apapun. Aku tidak perlu menyesal. Aku tidak perlu ditolong ulang. Aku tidak perlu melakukan apa-apa. Aku boleh meninggal dengan tenang." Saudara saudari, bisakah kita berkata, dosa-dosa yang kuketahui, sudah kuakui dengan tuntas?" Adakah di tengah-tengah kita, orang yang belum mengaku dosanya? Sering kali, manusia tidak berani mengadakan perhitungan dengan Allah. Pernyataan "tidak berani" ini menyatakan, bahwa pada diri kita ada penyakitnya. Orang yang biasa makan buah pear (buah 11), asal melihat di kulitnya ada sedikit lubang (berlubang karena ulat), segera tahu bahwa di dalam buah ini ada penyakitnya. Kita boleh saja ingin memakannya, namun kita tidak berani membuka isi di dalamnya.

Lingkupan Pengakuan Dosa

Berapa besar perbuatan dosa, berapa besar pula lingkupan pengakuan dosa. Anda tidak bisa mengaku dosa dengan lingkupan yang melebihi perbuatan dosa, atau sebaliknya, melakukan pengakuan dosa lebih kecil daripada perbuatan dosa. Misalnya, saya berbuat dosa kepada Allah, maka lingkupan pengakuan dosa saya haruslah hanya kepada Allah. Jika lingkupan perbuatan dosa saya tidak hanya mencakup Allah, tetapi juga melingkupi seorang saudara, maka lingkupan pengakuan dosa saya juga harus sebesar itu. Jika saya mengakui dosa saya terhadap Allah, atau dosa saya terhadap seseorang, kepada umum (orang banyak), ini berarti telah terkena racun tradisi pengakuan dosa dari ajaran Roma. Banyak pemimpin-pemimpin kebangunan rohani, menganjuri orang mengaku dosa di depan umum, perbuatan itu salah; perbuatan itu malah akan membuat pikiran/otak manusia tercemar. Jika berbuat dosa kepada satu orang, cukuplah kalau mengaku dosa kepada satu orang itu; bersalah kepada lima orang, mengakulah kepada lima orang itu. Jika lingkupan perbuatan dosa besar, tidaklah patut kalau lingkupan pengakuan dosanya kecil. Aka saya berbuat dosa, baik kepada Allah maupun kepada manusia, tapi saya hanya mengaku dosa kepada Allah, itu tidaklah cukup. Ingatlah, bagaimana perbuatan dosa, begitu juga lingkupan pengakuan dosa. Tidak bisa lebih besar atau lebih kecil.

Hasil Pengakuan Dosa

Mengenai pengakuan dosa ini, saya boleh mengisahkan sedikit pengalaman saya kepada Anda. Dulu, ketika saya masih remaja, saya bersekolah di sekolah milik Yayasan gereja. Setiap kali ujian, setiap mata pelajaran selalu mendapatkan nilai di atas sembilan puluh, atau seratus; rata

rata selalu sembilan puluh sembilan. Tetapi terhadap satu buku yang bernama Alkitab, saya selalu tidak bisa menyelesaikan dengan baik (saya sangat tidak berselera terhadap buku ini). Karena itu, nilai-nilai saya yang baik itu, selalu terpengaruh merosot oleh karena nilai satu mata pelajaran ini. Pada tahun ketiga, saya berpikir, meskipun Alkitab adalah buku yang saya tidak berselera membacanya, (waktu itu belum percaya Tuhan) tetapi karena ketika para guru memberikan pengumuman nilai murid-murid selalu mengatakan, bahwa ada murid yang setiap mata pelajaran selalu mendapatkan nilai baik, tetapi ada satu mata pelajaran yang tidak baik, bukankah itu tetap berarti tidak baik? Karena itu, saya lalu berkeputusan untuk baik-baik mempelajari buku ini. Pada tahun pelajaran itu, kami membaca sampai kitab Kisah Para Rasul. Saya mengeluarkan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkannya. Pada waktu ujian, saya merasa bahwa saya harus mendapatkan nilai yang baik. Untuk itu, saya lalu memakai cara yang tidak benar, yaitu menulisi lengan saya dengan aya-ayat Alkitab yang saya anggap penting, lalu saya memakai baju lengan panjang untuk menutupinya. Memang, ada beberapa soal yang sesuai dengan harapan saya. Tetapi nilai hasil ujian itu hanyalah tujuh puluh lebih (dulu hanya mendapat angka empat puluh atau lima puluh). Pada suatu hari, saya beroleh selamat. Saya merasa bersalah. dan tidak damai karena kejadian itu. Saya tidak berani mengaku, jangan-jangan kalau saya mengaku, maka para guru dan kepala sekolah akan menganggap semua hasil yang baik dari saya dulu adalah dihasilkan karena mencontek (mencontoh). Takut kalau-kalau kepala sekolah akan dengan kesempatan itu mengeluarkan saya; karena salah satu peraturan sekolah mengatakan, bahwa siswa yang ketahuan mencontek di kelas, akan dikeluarkan. Apalagi terhadap beberapa kebenaran tertentu, saya tidak sependapat dengan ajaran kaum Methodis, sehingga saya tidak disenangi kepala sekolah. Saya takut kalau sampai dikeluarkan, maka saya tidak akan punya muka berjumpa dengan orang tua. Saya sungguh-sungguh menderita sejangka waktu. Akhirnya, saya merasa, jika saya tidak mengaku dosa, saya tidak akan memiliki damai, hati nurani saya bisa saja tidur, namun ia tidak bisa mati. Maka akhirnya saya menulis surat mengaku salah kepada kepala sekolah. Saya dipanggil kepala sekolah, dia berkata kepada saya, bahwa dia mewakili sekolah memaafkan saya.

Saudara saudari, sering kali hati nurani kita bisa tidur, tetapi begitu ia bangun, ia selalu mengusik kita dengan masalah tersebut. Terhadap setiap dosa yang belum kita bereskan, terasa ada satu ganjalan di sana. Meskipun hati nurani Anda bisa tertekan sehingga tidak bersuara, tapi ia tidak akan selamanya tidak bersuara. Hanya orang yang mengaku dosa yang akan dibelaskasihani, hanya orang yang mengaku dosa yang akan mendapatkan perhentian. Ketahuilah, bagaimana rasa dosa itu, begitulah rasa neraka. Banyak orang mempunyai pengalaman seperti Daud, "Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, sum-sumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas." Tetapi setelah dia mengaku dosa, dia berkata, "Engkau mengelilingi aku dengan sukacita keselamatan."

Di atasnya dikatakan, jika tidak mengaku dosa, tidak akan memiliki perasaan damai; sekarang dikatakan, jika tidak mengaku dosa, tidak akan memiliki sukacita. Ada orang bertanya, "Mengapa ada orang setelah beroleh selamat, memiliki sukacita; tetapi ada orang setelah beroleh selamat, tidak memiliki sukacita?" Ada orang tidak memiliki sukacita, karena ia tidak bersaksi bagi Tuhan, ada yang karena tidak taat kepada Allah atas suatu hal, ada yang karena tidak rela melepaskan sesuatu, tetapi ada juga yang karena tidak mengaku dosa. Sukacita karena mengaku dosa adalah satu sukacita yang besar!

Suatu kali, ketika saya memimpin suatu sidang di Changchow, ada seorang kepala sekolah yang ingin membawa murid-muridnya (yang masih kecil) untuk mengikuti sidang itu. Saya sedikit kurang setuju, karena khawatir anak-anak itu akan membuat keributan sewaktu bersidang sehingga mengganggu suasana sidang. Tetapi kepala sekolah itu sangat berpengalaman, ia berkata, bahwa Irijil itu berkekuatan, mungkin bisa menyelamatkan beberapa orang di antara mereka, karena itu, biarkanlah mereka ikut mendengarkan. Setelah kejadian itu, di antara guru di sekolah itu ada yang berkata kepada saya, bahwa di sekolah mereka terjadi sesuatu. Saya bertanya, "Apa yang terjadi?' Sekarang sekolah sedang dilanda "arus mengaku dosa". Kemudian guru itu bercerita, bahwa kejadian ini dimulai dengan seorang anak yang berumur antara tujuh, delapan tahun, ia bersama beberapa temannya pernah mencuri buah-buahan dari pohon yang tumbuh di samping ruang kepala sekolah. Mni mereka sadar, bahwa itu adalah dosa. Ingin mengaku dosa tidak berani, takut kepada kepala sekolah; tidak mengaku dosa, tidak ada damai. Ia menangis selama dua hari, dan akhirnya mengaku salah kepada kepala sekolah.

Ketahuilah, mengaku dosa itu adalah keharusan. Jika satu dosa tidak diakui, dosa itu akan mengikuti Anda seumur hidup Anda. Inilah yang dikatakan oleh Musa, Musa itu akan mengejarmu." Dosa yang Anda perbuat tidak akan berdiam diri dengan duduk tenang, ia tidak akan menjauhi Anda, sebaliknya akan mengejar Anda, mengikuti Anda. Guru tadi juga menceritakan banyak kejadian serupa. Salah satunya ada seorang anak, yang berumur antara. sebelas sampai dua belas tahun. Tiga atau empat tahun yang lalu, ketika ia sedang berada di pintu gerbang sekolah, ia melihat temannya membeli permen, namun ia sendiri tidak mempunyai uang untuk membeli permen. Lalu terpikir olehnya, bukankah di meja dapur guru anu terdapat beberapa uang logam? Aku akan ke sana. Jika guru tidak ada di sana, aku akan mengambil beberapa untuk membeli permen. Anak itu lalu pergi ke dapur. Kebetulan guru tersebut tidak di tempat. Ia segera mengambil enam ketip dan memakainya untuk membeli permen. Sekarang ia bersedih atas dosa itu, ia ingin mengembalikan, namun tidak mempunyai uang. Karena itu ia lalu berkata kepada kakak perempuannya, "Tolong, kakak harus memberi saya uang enam ketip!" Kakaknya bertanya, "Mengapa harus enam ketip? Coba jelaskan alasannya." Anak ini tidak mau, hanya menyatakan pokoknya minta uang enam ketip, kalau tidak, ia tidak bisa lepas. Kakaknya tidak berdaya, lalu memberikan sejumlah uang logam itu. Setelah memberikan uang itu, kakaknya diam-diam mengamati apa yang dikerjakan adiknya. Ternyata adiknya membawa uang logam itu kepada guru itu dan berkata, bahwa tiga atau empat tahun yang lalu, ia pernah mencuri uang enam ketip di tempat guru tersebut untuk membeli permen. Sekarang ia mengembalikan uang itu kepada gurunya. Selang sehari setelah saya mendengar berita itu, saya menyinggung hal-hal yang terjadi pada diri anak-anak itu dalam khotbah saya. Selesai sidang, beberapa hakim yang hadir dalam sidang itu berkata kepada saya, "Jika menurut apa yang Anda utarakan, maka kami sebagai hakim tidak akan diperlukan lagi. Orang yang mencuri akan mengembalikan sendiri, tentu tidak perlu lagi gedung pengadilan. Meskipun kami tidak melihat bagaimana baiknya orang Kristen, namun beberapa perkara ini telah menunjukkan kepada kami, bahwa kekristenan sangat istimewa."

Mengaku dosa tidak hanya mendatangkan kedamaian, juga mendatangkan sukacita; tidak hanya ada sukacita, juga bisa mendapatkan orang yang kepadanya Anda bersalah. Sampaipun teman Anda yang keras hati, adakalanya karena Anda mengucurkan air mata mengakui kesalahan Anda, mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat Anda, ia juga akan bersama Anda mengucurkan air mata dan mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya. Saya pernah mengalami hal ini. Jika bukan karena Kristus, jika tidak ada Kristus, di dunia ini tidak ada orang yang mau melakukan hal ini.

Saudara saudari, jika Anda masih menyimpan suatu dosa, cepat-cepatlah mengakuinya. Memang hal ini tidak mudah dilakukan. Saya sendiri, adakalanya tersiksa selama beberapa minggu, adakalanya beberapa bulan, ada juga yang setelah lewat enam bulan baru mengakuinya. Mungkin keadaan Anda lebih baik daripada saya. Tetapi satu tahun setelah saya beroleh selamat, saya telah mengaku dosa seratus kali lebih. Pernahkah Anda bersalah kepada orang lain?

Mengaku dosa tidak hanya mendatangkan damai, sukacita, mendapatkan orang, juga bisa mendatangkan kesaksian. Jika tidak mengaku dosa, tidak ada kesaksian. Aka saya tidak mengaku dosa saya, maka para pendengar saya akan berkata, "Orang macam Anda ini masih mau berkhotbah?" Kita masing-masing harus mengaku dosa, bahkan harus menyalahkan diri sendiri lebih dalam daripada menyalahkan orang lain. Demikian baru ada kesaksian. Harus mengakui dosa-dosa yang dulu pernah kita lakukan sebagai dosa, sebagai suatu kesalahan, setelah itu barulah kita bisa membantu orang lain. Harus terlebih dulu mengaku dosanya sendiri, baru kemudian bisa bersaksi. Jika Anda tidak mengakui kesalahan Anda yang dulu, Anda akan tampak bahwa Anda tidak bisa menganjuri orang lain, juga tidak bisa bersaksi.

Mengganti Rugi

Mengaku dosa adalah satu perkara, mengganti rugi adalah perkara lainnya. Barang apa yang menggelinding masuk ke dalam rumah Anda? Yang Anda curi? Barang apa yang tadinya bukan milik Anda, tetapi sekarang berubah menjadi milik Anda? Atau Anda mendapatkannya melalui prosedur yang tidak wajar? Atau yang Anda pungut di tengah jalan? Atau adakah uang yang Anda pinjam yang belum Anda kembalikan? Maukah Anda membereskannya pada kesempatan pertama? Kalau tidak, Allah tidak bisa memberkati Anda. Oh, banyak orang Kristen yang terlalu mengabaikan hal ini. Menurut kitab Imamat, kita tidak hanya harus mengembalikan jumlah yang semula, masih harus ditambah seperlima. Artinya, tidak hanya harus mengembalikan, juga harus ditambah sedikit. Bagaimanapun tidak boleh membiarkan orang rugi. Hanya orang Kristen adalah orang yang dirugikan. Jika sekarang Anda tidak mampu, boleh mencari kesempatan lainnya untuk membereskannya.

Jika orang yang dirugikan telah tiada, boleh diserahkan kepada ahli warisnya (kerabatnya); Jika ahli warisnya juga tiada, boleh diserahkan kepada imam. Itulah ketentuan dalam Perjanjian Lama. Jika orang yang bersangkutan masih hidup, imam tidak diperbolehkan menerima pengembalian itu. Demikian juga hari ini. Ada seorang pembantu perempuan yang pernah mencuri uang majikannya sebesar kurang lebih enam puluh yuan. Suatu hari, ia beroleh selamat, ia merasa perbuatannya dulu itu salah, dan ia rela membayar tujuh puluh yuan sebagai ganti rugi. Kemudian ia membawa uang itu kepada seorang saudara pekerja, dan mengutarakan mengapa ia membawa uang itu kepadanya, mohon pekerja itu menerimanya untuk pekerjaan Tuhan. Saudara ini bertanya kepadanya, "Apakah majikanmu masih hidup?" Perempuan itu menjawab, "Ya." Kata pekerja itu, "Mengapa Anda tidak mengembalikan kepadanya?" Pekerja itu juga dengan serius berkata kepadanya, "Allah tidak mau memakai uang curian untuk menyuplai keperluan pekerjaanNya." Jika saya di sana, saya juga akan berkata demikian.

Jika ada orang bersalah kepada orang lain dalam hal kebendaan, harus mengembalikan kepada pemiliknya. Jika pemiliknya telah tiada, carilah kerabatnya. Jika kerabatnya tidak ada, baru boleh diserahkan kepada gereja. Saudara saudari, semoga Allah bisa menggali lebih dalam lagi di atas diri kita. Dalam kitab Kisah Para Rasul, bukankah dikatakan mereka membakar sejumlah kitab sihir yang mencapai harga sekitar lima puluh ribu perak? Dalam surat Yakobus juga dikatakan, "Hendaklah kita saling mengaku dosa." Dosa yang tidak Anda ingat, tidak perlu Anda tanggung, tetapi dosa yang Anda ingat, harus Anda bereskan. Semoga tidak ada seorangpun yang menunggu hari esok baru mau mendengarkan firman Allah.