← Daftar isi Keluaran (9) · bab 16/20

MEZBAH UKUPAN EMAS (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 30:1-5; 37:25-28: Rm. 8:34; Ibr. 7:25

Pada berita yang lalu telah kita nyatakan bahwa Injil Yohanes dapat dianggap sebagai wakil dari keseluruhan Alkitab. Pada Injil ini kita dapati penciptaan, Kemah Suci, dan bermacam-macam bagian yang ditemukan di pelataran luar dan di dalam Kemah Suci; Mezbah kurban bakaran, bejana pembasuhan, meja, kaki pelita, tabut perjanjian, dan mezbah pembakaran ukupan. Seperti yang telah kita lihat, perabot terakhir dalam Kemah Suci yang akan diwahyukan mezbah pembakaran ukupan, adalah pusat dari pekerjaan Allah di alam semesta. Tempat ini merupakan Istana Merdeka surgawi.

Kitab Roma juga dapat dianggap sebagai wakil dari Alkitab secara keseluruhan. Dalam beberapa pasal pertama dari Kitab Roma, kita dapati mezbah kurban bakaran dan dalam pasal 8 kita temukan tabut, karena pasal tersebut adalah tempat maha kudus. Selanjutnya dalam pasal 8 ada mezbah ukupan, Kristus, sebagai pendoa syafaat. Ayat 34 mengatakan siapakah dia yang akan menghukum? Kristus Yesuslah yang telah mati. Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang menjadi Pembela bagi kita? Menurut ayat ini, Persona yang telah mati karena dosa-dosa kita dan yang telah bangkit dari antara orang mati dan yang naik ke sebelah kanan Allah di surga adalah Persona yang berdoa bagi kita. Hanya Persona inilah yang dapat menghukum kita, tetapi alih-alih menghukum kita, Dia berdoa syafaat bagi kita. Haleluya, Persona ini takkan pernah menghukum kita! Sekarang setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya. Dia berdoa bagi kita.

KEPERLUAN AKAN DOA SYAFAAT

Jika bukan karena doa syafaat Kristus, tidak seorang pun akan menerima kematian-Nya, mengalami kebangkitan-Nya, atau menjadi satu dengan-Nya dalam kenaikan-Nya. Untuk mendorong orang-orang mengalami kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, doa syafaat-Nya merupakan hal yang diperlukan. Tanpa doa syafaat Kristus dan gereja, orang-orang dosa takkan menerima kematian Kristus. Tidak hanya demikian, orang-orang yang telah menerima kematian Kristus takkan maju untuk mengalami kebangkitan-Nya, lebih sedikit lagi yang mengetahui apa makna bersama-sama Kristus dalam kenaikan, duduk bersama Dia di dalam hal-hal surgawi. Semua pengalaman ini tergantung pada dorongan yang berasal dari doa syafaat Kristus dan doa syafaat gereja. Inilah makna dari mezbah ukupan. Alkitab pertama-tama menunjukkan mezbah, yaitu salib Kristus kepada kita, lalu bejana pembasuhan, pekerjaan kelahiran kembali Roh Kudus. Selanjutnya kita memiliki Kristus sebagai suplai hayat, terang, dan dalam tempat maha kudus sebagai tabut. Terakhir, dalam Kitab Wahyu, kitab pelaksanaan Allah, kita melihat bahwa administrasi ilahi, pelaksanaan ilahi, selalu dirampungkan dengan mezbah ukupan. Sebagai orang-orang yang mencari Tuhan, kita di dalam pemulihan secara individu dan bersama-sama harus belajar satu hal berdoa. Kita membutuhkan kehidupan berdoa. Kehidupan berdoa yang sejati selalu merupakan kehidupan berdoa syafaat. Doa sejati pada pokoknya bukan berdoa untuk diri sendiri, melainkan terus-menerus berdoa bagi orang lain. Berdoa bagi diri sendiri bukanlah doa syafaat, tetapi berdoa bagi orang lain ialah memohon bagi mereka. Jadi berdoa bagi orang lain ialah doa syafaat.

Kehidupan berdoa yang sempurna ialah kehidupan berdoa bagi orang lain, menjadi pengantara bagi mereka. Kita perlu berdoa bagi gereja-gereja di seluruh bumi dan bagi semua orang beriman. Kita perlu berdoa bagi orang-orang yang lebih tua, orang-orang yang lebih muda, dan para penentang. Hari demi hari kita perlu berdoa tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang-orang lain. Kita perlu kehidupan doa syafaat yang demikian. Doa syafaat yang dipersembahkan di mezbah pembakaran ukupan harus meningkat setiap hari.

Jika kita memperhatikan bagan Kemah Suci dan pelataran luar, kita akan melihat bahwa mezbah pembakaran ukupan adalah pusatnya. Jika tidak ada mezbah pembakaran ukupan di dalam Kemah Suci, Kemah Suci takkan mempunyai pusat. Pusat pelaksanaan administrasi Allah bukanlah tabut perjanjian; pusat pelaksanaan adalah mezbah pembakaran ukupan. Sangat penting bagi kita semua untuk melihat ini.

Bagan Kemah Suci dan pelataran luar juga merupakan bagan dari ketiga bagian diri kita. Pelataran luar melambangkan tubuh; tempat kudus melambangkan jiwa; dan tempat maha kudus melambangkan roh. Di mana Anda berada sekarang? Di pelataran luar, di tempat kudus, atau di tempat maha kudus? Beberapa orang beriman mungkin sudah berada di pelataran luar. Ketika kita hilang sabar atau ketika kita menggerutu, mengeluh, dan bergosip, kita berada di pelataran luar, yaitu di dalam daging. Kemarahan dan keluhan adalah tanda-tanda keberadaan di pelataran luar, di dalam tubuh.

Melalui membaca berita-berita Pelajaran-hayat kita bisa diterangi mengenai Kemah Suci dan perlengkapannya. Walaupun demikian, tak satu pun dari hal-hal yang telah kita peroleh terangnya dapat efektif dalam pengalaman kita, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sebabnya ialah kekurangan kehidupan berdoa. Kalau kita tidak memiliki pusat, mezbah ukupan, takkan ada satu aspek pun dari Kemah Suci itu dan pelataran luar yang efektif dalam pengalaman kita. Oh, kita harus memiliki kehidupan berdoa! Kita harus memiliki mezbah pembakaran ukupan. Kehidupan berdoa akan mendorong kita untuk mengalami mezbah, bejana pembasuhan, meja, kaki pelita, dan tabut perjanjian. Jika Anda mau berdoa sedikit saja, Anda akan memperoleh pengalaman bahwa meja roti sajian merupakan hal yang berharga, bahwa pelita adalah unggul, dan bahwa tabut perjanjian adalah hal yang menarik.

Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan mengenai perlengkapan dalam Kemah Suci. Kita mungkin mengetahui apa yang ada di dalam tempat kudus dan tempat maha kudus. Sekalipun demikian, kita mungkin tidak memiliki apa pun dari aspek-aspek Kemah Suci ini dalam pengalaman kita. Agaknya, kita mungkin seperti sebuah mesin tanpa motor. Tahukah Anda apa arti “motor” dalam hidup kita, motor dalam tubuh, jiwa, dan roh kita? Motor ini ialah kehidupan berdoa. Kristus bukan hanya roti, terang, dan tabut perjanjian, Dia juga mezbah pembakaran ukupan. Ini berarti Dia adalah pendorong dan bahkan motor. Karena itu, kita perlu membiarkan Dia berdoa di dalam kita, membiarkan Dia memimpin kita ke dalam doa dan ke dalam kenikmatan akan Dia sebagai doa kita. Saya harap kita semua melihat hal ini.

Dalam pengalaman kita, kita perlu datang ke mezbah kurban bakaran, bejana pembasuhan, meja, kaki pelita, dan tabut perjanjian. Menurut pengkajian saya terhadap Alkitab, setelah kita sampai di tabut perjanjian dalam tempat maha kudus, kita perlu kembali ke mezbah pembakaran ukupan. Mezbah pembakaran ukupan bukanlah satu perlengkapan yang ada pada jalan masuk ke Kemah Suci. Sebaliknya ia dapat dibandingkan dengan motor yang menyebabkan segalanya bekerja. Jadi, mezbah pembakaran ukupan berdiri sendiri sebagai sebuah titik balik. Berkali-kali kita harus kembali ke titik balik ini. Ini berarti untuk mengalami aspek apa pun dari pelataran luar atau Kemah Suci, kita perlu berdoa. Juga bila motor berhenti, segala sesuatu lainnya berhenti juga. Bila motor bekerja, segala sesuatu lainnya bekerja juga. Inilah alasannya mengapa kita perlu memiliki sebuah motor, Kristus Sang jurusyafaat, bekerja di dalam kita. Kita perlu memiliki kehidupan berdoa.

KRISTUS SEBAGAI JURUSYAFAAT

Mezbah pembakaran ukupan melambangkan Kristus sebagai Juru syafaat untuk memelihara hubungan antara Allah dengan umat-Nya (Rm. 8:34; Ibr. 7:25). Tanpa Kristus yang demikian sebagai pengantara, hubungan yang wajar antara Allah dengan kita tak dapat terjadi, tak dapat dipertahankan. Karena itu, untuk memelihara hubungan kita dengan Allah, kita perlu tidak hanya doa Kristus secara individual, tetapi juga doa Tubuh-Nya secara korporat.

BAHAN DAN UKURAN MEZBAH UKUPAN

Menurut Keluaran 30:1 dan 3, mezbah ukupan terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas. Kayu penaga melambangkan keinsanian Kristus, dan emas melambangkan keilahian-Nya. Demikianlah mezbah ukupan yang dibuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas melambangkan keinsanian Kristus yang berwatak kuat dan berstandar tinggi untuk mengekspresikan keilahian-Nya. Tidak ada yang dapat mengekspresikan Allah seperti kehidupan syafaat. Kehidupan syafaat ini didasarkan atas keinsanian Kristus yang diperbarui dan dipertinggi untuk mengekspresikan diri Allah sendiri.

Keluaran 30:2 memberi kita ukuran mezbah ukupan: “sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, tetapi haruslah dua hasta tingginya.” Mezbah ukupan satu hasta panjang dan lebarnya, empat persegi. Tingginya dua hasta. Ini berarti mezbah ukupan adalah dua kubus yang masing-masing satu hasta ukurannya. Sebuah bujur sangkar menandakan kesempurnaan dan sebuah kubus menandakan kesempurnaan di dalam sempurna. Dan lagi dua kubus menyatakan sesuatu yang berlipat dua, sesuatu yang memberi penguatan dan menanggung kesaksian. Ini berarti Kristus yang sebagai Jurusyafaat, menempuh kehidupan syafaat-Nya dengan penegasan, kesempurnaan, dan kesaksian. Dan lagi tinggi mezbah ukupan melebihi tinggi meja roti sajian dan tabut perjanjian. Ini berarti Kristus ialah Jurusyafaat di tempat yang tertinggi.

MEMPUNYAI EMPAT TANDUK

Mezbah ukupan mempunyai empat tanduk, masing-masing pada keempat sudutnya. Dalam perlambangan Alkitab, tanduk melambangkan kekuatan. Karena itu, keempat tanduk pada mezbah ukupan melambangkan kekuatan syafaat Kristus. Tanduk-tanduk ini menandakan syafaat Kristus berkuasa atas keempat penjuru bumi.

Pada butir ini saya ingin mengatakan sepatah kata bahwa pada hari penebusan dosa, darah dari kurban penghapus dosa dibawa dari tabir ke dalam tempat maha kudus, dan dipercikkan di atas tutup pendamaian tabut perjanjian, kemudian dipercikkan di atas mezbah ukupan. Ini merupakan tanda selanjutnya bahwa mezbah ukupan tidak berada di jalan terusan, tetapi agak di pusat dan titik balik. Darah penghapus dosa yang dipercikkan di atas mezbah ukupan membuat mezbah itu menjadi titik balik yang berkekuatan dan efektif.

MEMPUNYAI BINGKAI EMAS MURNI

Bagian akhir dari Keluaran 30:3 mengatakan, “Haruslah kaubuat bingkai emas sekelilingnya.” Bingkai ini adalah sejenis belebas di sekeliling mezbah. Bingkai emas yang mengelilingi mezbah ukupan melambangkan kemuliaan keilahian Kristus menjadi kuasa perlindungan doa syafaat-Nya. Kehidupan berdoa kita benar-benar mempunyai kuasa untuk melindungi umat Allah dan kepentingan-Nya. Ia mempunyai kuasa untuk melindungi apa saja yang perlu dilindungi.

GELANG DAN KAYU PENGUSUNG

Keluaran 30:4 mengatakan, “Haruslah kaubuat dua gelang emas untuk mezbah itu di bawah bingkainya; pada kedua rusuknya haruslah kau buat gelang itu, pada kedua bidang sisinya, dan haruslah gelang itu menjadi tempat memasukkan kayu pengusung, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut.” Kedua gelang emas sebagai tempat memasukkan kayu pengusung melambangkan pergerakan doa syafaat Kristus. Mengenai kayu pengusung, ayat 5 mengatakan, “Haruslah kaubuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan kausalutlah dengan emas.” Ini melambangkan bahwa sifat insani Kristus dengan sifat ilahi-Nya adalah kekuatan bagi pergerakan doa syafaat-Nya. Gelang-gelang dan kayu-kayu pengusung itu keduanya menunjuk pada Roh Kristus, yaitu Roh pemberi-hayat. Di satu pihak, Roh pemberi-hayat ini adalah gelang-gelang, di pihak lain, Roh ini adalah kayu-kayu pengusung. Roh pemberi-hayat membawa doa syafaat Kristus ke setiap tempat di bumi. Ini dapat diumpamakan dengan gelombanggelombang radio yang dikirim ke mana-mana.

Hari ini Roh pemberi-hayat mencakup unsur kehidupan insani Kristus. Ini dilambangkan dengan kayu-kayu pengusung dari kayu penaga yang disalut dengan emas. Roh itu hari ini mencakup segalanya. Sebelum kematian Kristus, Roh itu “belum ada” (Yoh. 7:39 Tl.) sebab Kristus belum dimuliakan dalam kebangkitan. Melalui kebangkitan-Nya, Dia menjadi Roh Pemberi-hayat. Ini berarti bila gereja-gereja dan orang-orang beriman berdoa dengan Kristus, Roh Pemberi-hayat akan melaksanakan apa saja yang kita doakan, membawa doa syafaat Kristus ke segala tempat di bumi sesuai dengan kepentingan Allah.

Semoga kita semua dapat dibangkitkan untuk menuntut kehidupan berdoa syafaat sedemikian, sehingga kita dapat menikmati Kristus tidak hanya sebagai meja, pelita, tabut perjanjian, tetapi juga sebagai mezbah ukupan. Mezbah ukupan adalah titik balik dari kehidupan orang Kristen kita. Mezbah ukupan mendorong setiap aspek kehidupan orang Kristen kepada tindakan yang positif. Doa syafaat juga mendorong yang lain untuk datang kepada Kristus di mezbah kurban bakaran, di bejana pembasuhan, di meja, di kaki pelita, dan di tabut perjanjian dalam tempat maha kudus.

Hal itu akan mendorong banyak orang beriman untuk menuntut kekayaan Kristus sampai mereka menjadi dewa-sa. Jadi, adalah hal yang sangat penting bagi kita berdoa syafaat dengan Kristus di mezbah ukupan.