MEZBAH
Pembacaan Alkitab:
Yeh. 40:47; 43:13-17
Dalam berita ini kita akan maju dari pintu gerbang dalam dan bahkan dari pelataran dalam untuk mempertimbangkan perkara yang sentral—mezbah. Sebelum kita melakukan hal ini, saya ingin mengulang dua perkara lain sehingga kita mungkin terkesan dengan dua perkara ini.
Pertama, kita telah melihat bahwa seluruhnya ada enam pintu gerbang dalam tiga kelompok dua, di sebelah timur, di sebelah selatan, dan di sebelah utara. Kita perlu ingat bahwa enam adalah angka manusia, yang diciptakan pada hari keenam dan angka tiga melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Enam pintu gerbang melambangkan Allah Tritunggal yang berbaur dengan manusia. Tiga dibaurkan dengan enam. Fakta bahwa tiga pintu gerbang dibagi menjadi tiga kelompok dua menunjukkan bahwa Allah Tritunggal menjadi manusia, manusia Allah dan telah “terbelah”, atau “terpotong” dalam penyaliban-Nya, dan sekarang berada dalam kebangkitan. Sekarang Dia adalah pintu gerbang yang melaluinya kita masuk ke dalam Allah dan ke dalam semua hal tentang Allah.
Kedua, kita perlu menyebutkan bahwa dari pelataran luar ke pelataran dalam adalah suatu jarak yang tepat seratus hasta (40:47). Angka seratus terdiri dari sepuluh kali sepuluh atau dua puluh kali lima. Sepuluh kali sepuluh melambangkan kepenuhan dalam kepenuhan atau kelengkapan dalam kelengkapan. Dua puluh kali lima melambangkan tanggung jawab yang penuh dan lengkap, sebagai sebuah kesaksian. Lagipula, seperti diagram pada halaman 215 menunjukkan bahwa masing-masing ada tiga bagian dari seratus hasta, sehingga jumlahnya tiga ratus hasta. Sekali lagi, angka tiga melambangkan Allah Tritunggal yang menjadi manusia, manusia Allah. Betapa ajaib dan mengagumkan bahwa kita adalah manusia Allah yang demikian! Dia telah disalibkan, tetapi sekarang Dia berada dalam kebangkitan, dan kita ada di dalam Dia.
MEZBAH MENJADI PUSAT BANGUNAN
Jika kita mendiskusikan diagram pada halaman 215 yang menunjukkan rancangan bait, kita akan melihat bahwa tidak peduli pintu gerbang mana pada bangunan yang kita masuki, akhirnya kita akan sampai pada mezbah. Tidak ada pengecualian; mezbah tidak dapat dihindari. Kita semua telah masuk melalui manusia Allah yang ajaib, yang tersalib dan sekarang ada dalam kebangkitan. Jika kita ingin bertemu dengan Allah, kita harus datang ke mezbah.
Mezbah adalah pusat dari bangunan. Mezbah adalah pusat bukan hanya pelataran dalam, tetapi juga seluruh tempat dari bait.
Mezbah ini, yang melambangkan salib, sebenarnya adalah pusat alam semesta. Sepanjang memperhatikan hubungan manusia dengan Allah, bumi adalah pusatnya. Pusat bumi yang berpenghuni adalah tanah permai Kanaan, Palestina, karena tanah permai itu adalah pusat yang menghubungkan, yang menghubungkan benua-benua Eropa, Asia, dan Africa. Kota Yerusalem adalah pusat tanah permai; bait adalah pusat Yerusalem; dan mezbah adalah pusat bait. Jadi, secara ultima, mezbah adalah pusat alam semesta. Karena mezbah melambangkan salib, ini berarti bahwa salib adalah pusat alam semesta.
Sangatlah penting bagi kita untuk mengenal makna yang penuh tentang salib. Menurut pengajaran orang Kristen yang dangkal, salib adalah tempat dimana Tuhan Yesus mati bagi kita. Tentu saja ini benar, tetapi arti salib jauh melampaui hal ini. Sebagai pusat alam semesta, salib melambangkan kematian yang almuhit dari Allah, dari manusia, dan dari semua makhluk hidup. Kematian Tuhan Yesus di atas salib bukan sekedar kematian seseorang; itu adalah kematian almuhit yang melibatkan Allah, manusia, dan semua makhluk ciptaan.
TEMPAT PERTEMUAN ALLAH DAN MANUSIA
Seperti yang telah kita tunjukkan, dengan melihat pada rancangan dari bait, kita dapat melihat bahwa tidak peduli melalui pintu gerbang yang mana kita masuk, kita akan tiba pada mezbah. Ketika Allah datang dari bait untuk bertemu dengan manusia, Dia juga tiba pada mezbah. Oleh karena itu, mezbah bukan hanya pusat alam semesta, tetapi juga tempat pertemuan Allah dengan manusia dan manusia dengan Allah. Jika seseorang masuk melalui pintu gerbang utara dan yang lain masuk melalui pintu gerbang selatan, pada akhirnya keduanya akan bertemu dengan Allah dan dengan satu sama lain di mezbah.
Allah keluar dari tempat kediaman-Nya dan pergi ke atas salib dan mati di sana. Pertama, Dia meninggalkan tempat kediaman-Nya dan dilahirkan di Bethlehem. Setelah hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, Dia pergi ke atas mezbah, ke atas salib. Saat Dia sedang sekarat di sana, Dia tidak sendirian. Melalui ingkarnasi-Nya, Dia telah menaruh manusia pada Diri-Nya Sendiri. Maka, saat Dia sedang sekarat di atas salib, manusia juga sedang sekarat di sana. Ini menunjukkan bahwa Allah dan manusia bertemu di atas salib dengan cara kematian.
Kematian Menjadi suatu Kelepasan bagi Allah
Namun, Allah tidak dapat dipengaruhi oleh kematian. Tidak peduli berapa banyak kematian yang telah Dia lalui, Dia masih tetap sama. Kematian sebenarnya membantu Dia untuk dilepaskan. Allah keluar dari tempat kediaman-Nya dan pergi ke atas salib dan mati di sana untuk melepaskan apa yang ada di dalam-Nya. Kita dapat menggunakan sebutir gandum sebagai ilustrasi. Ketika sebutir gandum ditaburkan ke dalam tanah, gandum itu mati. Apakah kematian yang mengerikan atau kematian yang indah? Kita seharusnya berkata bahwa kematian sebutir gandum itu indah, karena tanpa kematian, semua kekayaan dan kecantikan yang ada dalam bulir gandum tidak dapat dilepaskan. Untuk alasan ini, kematian bulir gandum tidak mengerikan tetapi indah. Dalam prinsip yang sama, kematian itu indah bagi Allah. Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Dia sedang membicarakan Diri-Nya Sendiri sebagai biji gandum yang akan jatuh ke dalam tanah dan mati untuk menjadi berlipat ganda menghasilkan banyak butir. Dengan kematian-Nya, kekayaan hayat ilahi di dalam Dia dilepaskan. Karena Allah itu hayat, bahkan kebangkitan, Dia tidak dapat diakhiri oleh kematian. Apapun yang berasal dari manusia dapat diakhiri, tetapi apapun yang berasal dari Allah dilepaskan melalui kematian. Sekarang kita dapat melihat bahwa ketika Allah pergi ke atas mezbah, salib, dan mati di sana, hayat-Nya dilepaskan.
Kematian Menjadi Suatu Pengakhiran bagi Manusia
Seperti yang telah kita tunjukkan bahwa manusia juga ada pada salib. Ketika Tuhan Yesus mati, manusia juga mati, dan kematian ini berarti pengakhiran manusia. Semua hal negatif yang berkaitan dengan manusia diakhiri di atas salib. Puji Tuhan bahwa kita semua telah diakhiri di atas salib! Dengan kematian Tuhan Yesus yang almuhit di atas salib, semua kekayaan Allah dilepaskan. Kematian Kristus di atas salib adalah suatu pelepasan yang indah bagi Allah dan suatu pengakhiran yang indah bagi kita. Kita semua perlu visi mezbah ini. Kita perlu melihat bahwa, tidak peduli umur berapa kita, kita semua telah diakhiri di atas salib pada waktu yang sama. Kekayaan Allah dilepaskan di sana, dan semua hal negatif diakhiri di sana. Oleh karena itu, kematian kristus yang almuhit di atas salib adalah pengakhiran kita dan pelepasan Allah.
Perbauran Allah dengan manusia dimulai ketika Tuhan Yesus dilahirkan di Bethlehem. Dengan inkarnasi-Nya, Allah datang ke dalam manusia. Tetapi perbauran manusia dengan Allah dimulai di atas salib dan sepenuhnya digenapkan dalam kebangkitan. Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan, kita ditaruh ke dalam Allah dan dibaurkan dengan Allah. Oleh karena itu, melalui inkarnasi, Allah datang ke dalam manusia, dan melalui kematian dan kebangkitan, manusia ditaruh ke dalam Allah.
Apa adanya kita dan semua yang kita miliki diakhiri di atas salib, di atas mezbah. Melalui salib, hayat ilahi dilepaskan, lalu hayat ini dibagikan kepada kita melalui kematian Kristus. Jika kita mengubur sebutir gandum dan sebuah batu kecil, sesuatu yang hidup akan tumbuh keluar dari bulir gandum, tetapi sebuah batu akan tetap terkubur. Melalui kematian-Nya di atas salib, Tuhan Yesus sebagai sebutir gandum dilepaskan, tetapi kita, sebuah “batu” yang mati diakhiri. Meskipun kita telah diakhiri dengan cara ini, hayat ilahi telah dibagikan ke dalam kita untuk membuat kita persona yang indah.
Tadinya kita tidak indah. Sebelum kita diselamatkan, kita berada di luar tembok dari bait, dan kita sangat mengasihi diri kita sendiri. Setelah kita diselamatkan dan melalui pintu gerbang masuk ke dalam pelataran luar, kita tidak lagi mengasihi diri kita sebanyak itu, tetapi masih memiliki sedikit rasa sayang diri. Namun, setelah kita masuk ke dalam pelataran dalam, kita tidak lagi mengasihi atau menyayangkan diri kita sendiri; sebaliknya, kita membenci diri kita. Saat kita melangkah lebih jauh dan sampai di mezbah, kita melihat ego yang buruk, yang kita kasihi ketika berada di luar tembok, menyayanginya di pelataran luar, dan membencinya di pelataran dalam, sudah diakhiri. Karena ego telah diakhiri, tidak perlu bagi kita untuk mengasihi atau menyayanginya atau bahkan membencinya. Sebaliknya, kita seharusnya dengan sederhana melupakannya dan meninggalkannya di atas mezbah.
Kita telah menunjukkan bahwa karena salib, mezbah, menduduki tempat yang utama dalam hubungan kita dengan Allah, kita tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, segera setelah kita masuk melalui pintu gerbang, kita mulai menyadari sesuatu mengenai salib. Salib tersirat dalam pintu gerbang yang melambangkan Tuhan Yesus yang memenuhi semua tuntutan Sepuluh Perintah, lalu yang mati di atas salib untuk memenuhi tuntutan keadilbenaran hukum Taurat Allah. Salib juga tersirat dalam memakan kurban-kurban, yang telah melewati kematian. Makan ini dilakukan di atas trotoar. Lagipula, tempat memasak dan meja-meja yang di atasnya kurban disembelih, keduanya menyiratkan salib. Ini menunjukkan bahwa seluruh bangunan kudus Allah, kita dapat melihat salib—pada pintu utama, di atas trotoar, di tempat memasak di sudut-sudut, dan pada meja-meja di pelataran luar. Oleh karena salib, bukan hanya pusat, tetapi juga kelilingnya. Salib menyebar di setiap arah dan ke setiap sudut. Setelah kita diselamatkan, kita akan bertemu dengan salib di setiap tempat. Terpisah dari salib, tidak mungkin mengontaki Kristus atau memiliki pengalaman rohani orang Kristen.
Meskipun kita bertemu dengan salib dimanapun dalam kehidupan Kristiani kita, kita mengalami salib dengan cara yang khusus ketika datang ke mezbah di pusat bangunan Allah. Datang ke mezbah di pusat adalah menyadari bahwa semua apa adanya kita dan apa yang kita miliki diakhiri pada salib. Di sini kita memiliki pengalaman salib yang pasti dan bukan hanya pengetahuan yang dangkal tentang salib. Dalam persekutuan kita dengan Tuhan, kita dibawa pada poin dimana kita menjamah salib dengan cara yang pasti dan merasakan bahwa Allah tidak akan lagi membiarkan kita untuk hidup dalam manusia alamiah kita. Ini menyebabkan kita memiliki terobosan yang besar dan ketaatan yang mutlak pada salib. Sebagai hasilnya, kita akan tahu apa itu hayat alamiah dan apa artinya ciptaan lama dilucuti. Ini adalah pengalaman salib sebagai pusat.
Saya berduka bahwa meskipun banyak dari kita mendengar banyak berita tentang salib, hanya sedikit di antara kita yang benar-benar menempuh hidup tersalib. Misalnya, kita menempuh hidup tersalib dalam kehidupan pernikahan kita. Jika seorang saudara yang menikah dan isterinya berdebat satu dengan yang lain, ini menunjukkan bahwa mereka tidak menempuh hidup yang tersalib. Jika kita menempuh hidup yang tersalib, mereka tidak akan menuduh satu sama lain dan membela diri mereka sendiri. Mereka yang menempuh hidup yang tersalib tidak membela diri mereka sendiri ketika mereka diserang atau dikritik. Mereka mengalami pengakhiran dari kehidupan Adam and dari kehidupan ciptaan lama mereka melalui kematian salib dan menikmati kekayaan Allah dan unsur ilahi-Nya, yang dilepaskan melalui salib.
Ketika beberapa orang, khususnya orang muda, mendengar perkataan mezbah ini, mereka mungkin takut dan mengira bahwa lebih baik tidak mengasihi Tuhan dan menuntut Dia. Mereka mengira bahwa cukup sederhana masuk melalui pintu gerbang ke dalam pelataran luar dan menikmati Kristus di atas trotoar; mereka mengira bahwa tidak perlu bagi mereka untuk melangkah lebih jauh melalui pintu gerbang dalam, yang memimpin masuk ke dalam pelataran dalam yang menghadap mezbah. Mereka takut mencapai mezbah dan menjadi kurban bakaran.
Namun, kita perlu menyadari bahwa karena Tuhan telah membelaskasihani kita, kita tidak dapat melarikan diri dari Dia. Kita tidak diselamatkan dari kehendak pribadi kita. Sebaliknya, ketika kita mengembara dalam dunia, tidak memiliki perhatian untuk masuk melalui pintu gerbang, Tuhan membawa kita melalui pintu gerbang. Terpisah dari pilihan pribadi kita, kita percaya ke dalam Kristus. Ini sepenuhnya perkara pemilihan Allah, belas kasihan-Nya, dan pencapaian-Nya atas kita dengan perhatian-Nya. Prinsipnya sama di dalam kita mengasihi Tuhan dan menuntut Dia. Jika kita tidak percaya dalam Tuhan, mengasihi Dia, dan mengejar Dia, kita akan merasa tidak nyaman dan tidak puas. Tetapi semakin kita mengasihi Tuhan dan mengejar Dia, kita semakin puas. Ini juga perkara belas kasihan Tuhan. Karena belas kasihan-Nya kepada kita dan operasi-Nya di dalam kita, kita tidak memiliki pilihan kecuali maju ke depan; tidak kembali ke belakang. Jika kita tidak maju mencapai mezbah, tetapi mencoba kembali ke belakang ke pelataran luar, kita akan merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, kita perlu maju sampai kita mencapai mezbah.
Akhirnya, semua orang yang rohani dan mengejar Tuhan berakhir pada mezbah dimana mereka diakhiri, bahkan dihancurkan, oleh Tuhan. Kelihatannya tanpa alasan, Tuhan merobek mereka dan melucuti mereka dari segala sesuatu. Allah menaruh apa adanya kita dan semua yang kita miliki pada kematian. Madame Guyon mengalami ini dan dapat berkata bahwa Allah memberinya salib. Karena kita mengasihi Tuhan dan mengejar Dia, cepat atau lambat kita akan bertemu dengan salib, yang akan merobek kita dan membawa segala sesuatu ke dalam kematian. Kita akan dipaksa untuk melewati kematian, bahkan jika kita tidak ingin berbuat demikian.
Kita tidak mengalami salib sekali untuk selamanya—kita mengalami salib sekali demi sekali. Mereka yang mengejar Tuhan akan bertemu dengan salib pada setiap belokan. Pasa satu waktu mereka akan bertemu dengan salib melalui anak-anak mereka. Pada waktu yang lain, mereka akan bertemu dengan salib melalui pasangan mereka atau melalui penyakit. Pada waktu yang lain, mereka dapat mengalami salib melalui gereja atau melalui para sekerja. Alasan bahwa salib ada di setiap tempat adalah kita harus melalui salib untuk mengontaki Tuhan. Terima kasih kepada Tuhan bahwa Allah memberi kita salib dan bahwa salib memberi kita Allah. Seorang yang sangat mengasihi Tuhan dan paling banyak mengalami Dia adalah seorang yang telah melalui salib.
DESAIN DAN UKURAN DARI MEZBAH
Bagaimana kita dapat membuktikan dari catatan di dalam kitab Yehezkiel bahwa Allah, manusia, dan semua makhluk hidup mati di atas mezbah, di atas salib? Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kematian Kristus adalah kematian yang demikian almuhit? Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa salib memberi kita Allah? Semua ini dibuktikan oleh desai dan ukuran dari mezbah. Rincian yang jelas tentang mezbah adalah ciri-ciri khusus dari visi Yehezkial. Kitab-kitab sebelumnya dari Alkitab tidak berbicara secara khusus tentang ukuran mezbah dengan cara khusus demikian, tetapi Yehezkiel memberi kita rincian mengenai mezbah. Jika kita mempertimbangkan ngambar 3 (rincian mezbah), kita akan melihat bahwa menurut visi Yehezkiel, mezbah memiliki empat bagian: alas, rak yang kecil, rak yang lebih besar pada rak yang kecil, dan mezbah yang di atas pada rak yang lebih besar. Mezbah yang di atas disebut jantung Allah, tempat dimana sesuatu dibakar untuk Allah dan oleh Allah.
Sekarang, marilah kita secara singkat mempertimbangkan ukuran-ukurannya. Alas mezbah adalah satu hasta tingginya. Angka satu melambangkan Allah yang unik; Jadi, alas mezbah satu hasta tingginya menunjukkan bahwa Allah adalah alas mezbah. Ini berarti bahwa salib dimulai oleh Allah. Rak yang kecil, yang ada pada alas mezbah, adalah dua hasta tingginya. Di sini angka dua bukan hanya melambangkan sebuah kesaksian, tetapi juga persona yang kedua dari Allah Tritunggal. Kristus adalah persona yang kedua dari Allah Tritunggal sebagai saksi. Bagian ketiga, rak yang lebih besar, adalah empat hasta tingginya, melambangkan makhluk ciptaan. Mezbah yang di atas pada puncak dari rak yang lebih besar juga empat hasta tingginya.
Puncak mezbah adalah sebuah persegi, dua belas kali dua belas hasta. Angka dua belas terdiri dari enam kali dua atau tiga kali empat. Dalam kasus ini semua angka ini terlibat. Angka empat melambangkan makhluk ciptaan, angka enam melambangkan manusia, dan angka tiga melambangkan Allah Tritunggal semuanya ada di sini. Dari semua ini, kita dapat melihat bahwa Allah ada di sini, bahkan Kristus ada di sini, dan bahwa semua makhluk ciptaan, termasuk manusia ada di sini.
Allah sebagai alas melibatkan Kristus. Ketika Kristus mati di salib, Allah, manusia, dan semua makhluk ciptaan mati di sana dengan Kristus. Oleh karena itu, mezbah ini melambangkan kematian Kristus yang almuhit.
Karena kematian Kristus itu misterius, ada banyak perbedaan opini mengenainya. Seorang Yahudi yang tidak percaya dapat berkata bahwa manusia yang bernama Yesus, orang Nazaret, mati di sana. Banyak kaum beriman hari ini akan berkata bahwa Dia yang mati di atas salib adalah Penebus mereka. Orang Kristen lain, yang lebih maju dalam pemahaman rohani mereka, dapat berkata bahwa Kristus Penebus mereka dan diri mereka sendiri mati di atas salib. Namun, saya ingin mendeklarasikan bahwa tidak hanya Kristus, Penebusku, dan mati di sana, tetapi juga semua makhluk hidup dan Allah sendiri mati di sana. Seluruh alam semesta dengan Pencipta telah melalui kematian. Karena segala sesuatu telah melalui kematian, segala sesuatu dapat diuji. Apapun yang dapat diakhiri oleh kematian, diakhiri. Sebenarnya, hanya Allah yang sanggup melalui ujian kematian. Kita dan seluruh ciptaan diakhiri, tetapi Allah sanggup melalui ujian kematian.
Kematian Kristus yang almuhit mengerjakan perbauran yang membawa manusia ke dalam Allah. Dalam kematian itu, Allah mati dalam manusiauntuk dilepaskan, dan manusia mati dalam Allah untuk diakhiri. Puji Tuhan bahwa dalam kematian Kristus yang ajaib dan almuhit, Allah mati dalam manusia dan manusia mati dalam Allah! Haleluya untuk kematian Kristus yang melepaskan dan mengakhiri! Dalam kematian-Nya kita diakhiri, dan Allah dilepaskan.
JANTUNG
Puncak dari mezbah, jantung Allah, adalah dua belas hasta persegi. Ini adalah tempat api Allah, tempat Allah membakar sesuatu bagi Allah, kepada Allah, dan oleh Allah. Sangatlah bermakna bahwa jantung itu berukuran dua belas hasta kali dua belas hasta. Ini adalah kali pertama angka dua belas digunakan dalam pengukuran bait. Angka dua belas adalah angka Yerusalem Baru yang terdiri dari tiga kali empat. Angka tiga adalah angka Allah Tritunggal, dan angka empat adalah angka manusia sebagai makhluk ciptaan. Oleh karena itu, angka dua belas melambangkan Allah Tritunggal yang berbaur dengan manusia. Yerusalem Baru akan menjadi perampungan perbauran Allah Tritunggal dengan manusia. Kehidupan gereja hari ini juga adalah perbauran Allah Tritunggal dengan manusia.
RAK YANG LEBIH BESAR
Rak yang lebih besar, bagian yang langsung berada di bawah mezbah yang di atas, memiliki salah satu sisi yang berukuran satu hasta. Inilah sebabnya rak yang lebih besar empat belas hasta lebarnya. Angka empat belas tersusun dari dua cara: tujuh kali dua dan sepuluh tambah empat. Tujuh adalah angka kelengkapan dan dua adalah angka kesaksian, sepuluh adalah angka kepenuhan dalam kesempurnaan, dan empat, tentu saja adalah angka makhluk ciptaan. Dengan menaruh semua angka ini bersama, kita dapat menyadari bahwa ini melambangkan makhluk ciptaan dalam kepenuhan memikul kesaksian yang lengkap.
RAK YANG LEBIH KECIL
Di bawah rak yang besar ada rak yang lebih kecil. Rak ini juga memiliki dua sisi yang masing-masing satu hasta, sehingga jumlah totalnya enam belas hasta. Angka enam belas terdiri dari delapan kali dua, melambangkan saksi (dua) dalam kebangkitan (delapan). Kristus adalah saksi yang hidup dalam kebangkitan.
ALAS
Alas juga memiliki dua sisi masing-masing satu hasta, sehingga totalnya delapan belas hasta lebarnya. Angka delapan belas terdiri dari enam kali tiga atau tiga kali enam, melambangkan manusia, Allah Tritunggal, dan kebangkitan.
Karena desainnya yang unik, mezbah itu sangat solid dan stabil. Pada alas lebih lebar daripada pada puncaknya. Alasnya delapan belas hasta persegi, rak yang kecil enam belas hasta persegi, rak yang besar, empat belas hasta persegi, dan mezbah dua belas hasta persegi. Jenis konstruksi ini membuat mezbah sangat stabil. Jika puncaknya lebih lebar daripada alas, mezbah tidak akan stabil. Tetapi karena alasnya lebih lebar daripada puncak, mezbah dapat berdiri dengan solid. Tidak akan ada yang dapat mengguncangkannya.
Pada setiap tingkat, pada setiap bagian, ada rak, yang membentang seperti dua tangan yang menopang sesuatu. Batas-batas dari rak juga berdiri menopang sesuatu. Ini adalah gambaran yang jelas yang menunjukkan pada kita bahwa mezbah tidak hanya solid dan stabil, tetapi juga sanggup menopang sesuatu. Ini menunjukan bahwa kematian Kristus di atas salib tidak hanya stabil dan solid, tetapi juga sanggup menopang sesuatu. Kematian-Nya yang ajaib, menakjubkan, dan almuhit sanggup menopang semua dari kita.
TANDUK
Pada masing-masing empat sudut dari jantung Allah, sebuah tanduk menghadap ke atas. Dalam Alkitab tanduk melambangkan kekuatan dan kuasa. Tanduk dari mezbah yang menghadap empat sudut dari bumi dan yang juga menghadap ke atas, melambangkan kuasa salib Kristus. Kuasa dari gereja dan kaum saleh bergantung pada salib. Semakin kita mengalami salib, semakin kuasa rohani akan kita miliki.
ANAK-ANAK TANGGA
Anak-anak tangga ke atas mezbah menghadap ke timur. Timur menunjukkan kemuliaan Tuhan. Ini adalah arah dari terbitnya matahari, yang melambangkan kemuliaan Tuhan (Bil. 2:3; Yeh. 43:2). Ini menunjukkan bahwa salib selalu menghadap kemuliaan Allah dan selalu memimpin ke kemuliaan Allah.
UKURAN HASTA
Hasta yang digunakan Yehezkiel bukanlah ukuran hasta yang umum; sebaliknya, itu adalah hasta ditambah setapak tangan (43:13). Ini disebut hasta yang besar dan bukanlah ukuran manusia, tetapi ukuran ilahi. Jadi, mezbah bukan diukur oleh hasta manusia, tetapi oleh hasta ilahi. Kita tidak seharusnya mengukur diri kita sendiri dengan pengukuran insani kita. Pengukuran kita mungkin bernilai bagi kita, tetapi tidak bernilai bagi Allah. Kita mungkin merasa bahwa, menurut pengukuran insani dan standar kita, kita bersyarat, tetapi menurut pengukuran ilahi, kita sangat kekurangan.
MEZBAH DAN BAIT
Poin terakhir mengenai mezbah adalah hubungan mezbah dengan bait. Hanya setelah melalui mezbah kita dapat datang ke bait. Ini berarti bahwa tanpa kesadaran dan pengalaman yang tepat akan salib Kristus, kita tidak dapat memiliki realitas hidup gereja. Bait melambangkan Kristus dan juga gereja. Kita dapat memiliki kehidupan gereja yang sejati hanya setelah kita memiliki pengalaman mezbah. Jika kita damba untuk memiliki kehidupan gereja yang tepat, kita perlu kesadaran dan pengalaman yang tepat akan mezbah, akan salib Kristus. Hanya setelah kita menyadari bahwa kita telah sepenuhnya diakhiri di atas salib bahwa kita dapat memiliki kehidupan gereja yang riil.
Berada di pelataran luar untuk memiliki kenikmatan Kristus adalah ajaib, tetapi itu jauh dari pengalaman akan bait. Untuk berada di pelataran dalam dimana ministri dimulai juga adalah ajaib, tetapi bahkan hal ini jauh dari pengalaman akan bait. Untuk berada dalam bait adalah untuk berada dalam sesuatu yang sepenuhnya dalam kebangkitan. Oleh karena itu, kita perlu maju sampai melewati mezbah, melalui salib Kristus, dan sampai ke bait. Di sana kita akan memiliki realitas hidup gereja.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa hanya melalui mezbah kita dapat datang ke bait. Mezbah melambangkan salib, sedangkan bait melambangkan Kristus dan gereja, Tubuh Kristus. Salib, Kristus, dan gereja adalah subyek sentral bukan hanya Perjanjian Baru, tetapi juga seluruh Alkitab. Pertama kita datang ke mezbah, salib, lalu kita datang ke bait. Ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat memiliki gereja terpisah dari salib. Melalui pengalaman salib, kita dibawa ke dalam realitas gereja. Hanya ketika kita melalui salib, kita memiliki kehidupan gereja yang riil. Di satu pihak, sebagai orang yang diselamatkan kita berkumpul bersama untuk mempraktekkan kehidupan gereja; di pihak lain, kita dapat memiliki realitas gereja hanya setelah kita melalui salib.
Kita semua perlu dibawa sampai pada poin dimana kita mengenal dan menerima salib. Lalu setelah kita melalui salib, daging kita, ciptaan lama kita, ego kita, dan manusia alamiah dengan kehidupan alamiah kita semuanya akan ditanggulangi. Segala sesuatu yang bersumber pada keinsanian kita akan diakhiri pada salib. Lalu kita akan memiliki realitas gereja. Lalu kita akan menjadi satu dalam Tuhan, kita akan memiliki koordinasi yang sejati, Dan kita akan memiliki keharmonisan, perhentian, dan hadirat Kristus. Ini adalah bait, tempat dimana Allah berdiam. Ini adalah ekspresi Kristus, realitas gereja.