Makanan Umat Allah
"Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya."
Keluaran 12:8-9
Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka : "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan ke luar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak!" Ketika embun b telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain : "Apakah ini? Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka : "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. Beginilah perintah TUHAN : Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."
Keluaran 16:24, 14-16
Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka : "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi Musa berkata kepada mereka : "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN? Haruslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata : "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan temak kami dengan kehausan?" Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" Berfirmanlah TUHAN kepada Musa : "Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan : "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?'
Keluaran 17:11-7
Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.
Bilangan 11:5-6
Dalam berita ini kita akan membicarakan tentang makanan umat Allah. Dalam kitab Keluaran, kita. melihat tiga macam makanan : pertama, daging anak domba, ini tercantum dalam pasal 12. Kedua, manna, yang tercantum dalam pasal 16. Dan ketiga, air, yang mengalir keluar dari batu karang. Semuanya. itu merupakan makanan yang disediakan Allah bagi bani Israel. Mereka tidak bisa kekurangan salah satu dari ketiga makanan itu. Jika telah mempunyai daging domba, tetapi tidak ada manna dan air, itu tidak bisa; ada manna tetapi tidak ada air juga tidak bisa; terlebih dahulu harus ada daging domba, kemudian ditambah manna, dan ditambah lagi air, barulah bisa membawa mereka keluar dari Mesir, melewati padang gurun, dan masuk ke tanah Kanaan.
Daging Domba
Terlebih dahulu mari kita melihat apakah domba itu? Alkitab dengan jelas memberitahu kita, bahwa domba mengacu kepada Tuhan Yesus. Bani Israel tidak saja harus mengoleskan darah di ambang pintu rumah mereka, juga harus makan daging domba. Domba tidak saja menjadi penanggung dosa sehingga mereka terlepas dari kematian, bahkan mereka harus menerima ke dalam mereka menjadi kekuatan mereka. Karena itu kita tidak hanya harus percaya Tuhan, juga harus menerimaNya. Di sini kita tampak, bani Israel tidak saja melalui darah domba yang di luar itu terlepas dari pemusnahan malaikat maut, mereka bahkan memakan dagingnya agar menjadi tenaga mereka, sehingga mereka bisa keluar dari Mesir. Ada orang, meskipun telah percaya Tuhan dan mendapatkan pengampunan dosa, tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk meninggalkan dunia, ini dikarenakan manusia batiniahnya belum pernah makan daging. Tidak salah darah sudah dibubuhkan, tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk keluar dari Mesir. Karena itu, perkara menempuh jalan di depan dan taat kepada Tuhan, bukanlah bersandar pada darah, melainkan karena makan daging.
Keluaran 12:8 memberitahu kita, daging domba itu harus dimakan tengah malam. Meskipun firman Tuhan berkata demikian, tetapi dalam pengalaman banyak orang ternyata berbeda. Ada orang jika Anda bertanya kepadanya, "Sudahkah Anda percaya Tuhan? Sudahkah Anda mendapat pengampunan dosa?" Dia bisa dengan lancar memberitahu Anda bahwa dia telah menerima karunia keselamatan. Tetapi jika Anda bertanya lebih jauh, "Mengapa Anda masih demikian mengasihi dunia?" Dia akan menjawab, "Aku tidak mempunyai kekuatan untuk meninggalkannya." (Menyinggung tentang dunia belum tentu luas cakupannya, mungkin lingkupan dunianya adalah sesuatu yang dikasihinya yang tidak bisa dia lepaskan, yang kecil, mungkin hanya sedikit harta benda, atau beberapa orang). Keadaan orang ini bisa demikian, karena pada mulanya dia tidak makan daging. Alkitab memberitahu kita, pada malam itu juga mereka harus makan daging, demikian baru bisa membuat Anda terlepas dari belenggu Mesir. Apakah artinya makan daging? Makan daging di sini berarti "saat ini juga Anda menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dalam hati Anda," dengan demikian, dalam pelaksanaan kehidupan Anda, Anda bisa mendapatkan kemerdekaan. Sering ada orang berkata, "Mengapa orang itu setelah percaya Tuhan Yesus, kehidupannya sekarang demikian kudus? Mengapa dalam hayatnya ada perubahan yang demikian? Bukankah aku juga sama seperti dia percaya Tuhan Yesus? Mengapa dunia bagiku masih demikian menarik dan tidak bisa kulepaskan?" Di sini kita bisa melihat, orang imani bisa terlepas dari dunia tergantung pada makan daging, tidak tergantung pada pembubuhan darah. Terhadap setiap orang imani, darah sudah dibubuhkan; namun pemisahannya, tergantung pada apakah Anda pernah makan daging.
Di atas telah kita singgung bahwa orang imani harus makan daging domba, tetapi bagaimana cara memakannya? Ayat 8 bagian bawah memberitahu kita, sewaktu memakan daging harus ada dua barang lain yang dimakan bersama daging domba. Pertama, adalah sayur pahit. Sayur pahit bukaniah nama sejenis sayur, hanya saja sayur itu rasanya pahit. Karena itu tak peduli sayur jenis apa, asal rasanya pahit, itu sudah boleh. Arti pahit adalah hatinya membenci, tidak berkenan; dalam arti rohani ialah "bertobat atas kesalahan dan dosa masa lalu." Kedua, adalah roti tak beragi. Satu Korintus memberitahu kita arti roti tak beragi, yaitu "menyingkirkan dosa." Karena itu di satu pihak, kita harus menyesal dan bertobat atas dosa yang lalu, di pihak lain, kita harus melepaskan semua perbuatan dosa. Tidak ada satu orangpun yang tidak melepaskan dosa yang bisa memiliki kekuatan. Selamanya tidak ada orang yang dengan satu tangan memegang dosa, sedang tangan yang lainnya memegang Allah. Barangsiapa tertarik kepada Mesir, tidak bisa keluar dari Mesir. Karena itu kita harus menyesali kesalahan yang lalu, dan sejak kini harus menyingkirkan segala ketidakbenaran yang lalu. Kalau kita tidak menyingkirkan ragi, walaupun telah makan daging domba, kita tetap tidak bisa keluar dari Mesin Adakalanya Anda mengucapkan satu kata yang salah, hati Anda merasa sedih; saat itu Iblis akan berkata kepada Anda, "Tidak mengapa, sudah salah sekalian salah saja!" Tetapi saya akan berkala, "Aku lebih baik berdiri di pihak Allah, tidak mau menjadi kaki tangan Iblis. Tidak peduli dengan mukaku, aku mau berkata kepada orang yang kepadanya aku bersalah, bahwa perkataanku tadi salah, mohon ia memaafkannya." Mungkin ada orang akan berkata, bahwa tidak perlu berbuat begitu. Tetapi perkara ini sangat berarti. Saya sering melakukan hal ini. Karena itu terhadap perkara yang lalu, kita harus memakai sayur pahit, terhadap perkara yang akan datang, kita harus memakai roti tak beragi, demikian kita baru bersyarat memakan daging domba. Sangat banyak orang yang kerohaniannya tidak bisa bertumbuh, itu dikarenakan mereka seperti kuda yang berlari di arena kuda balap, berkeliling di arena itu saja. Kelihatannya sudah berlari cukup lama dan lauh, tetapi masih saja di tempat itu. Persoalannya ialah mereka tidak mau bertobat, tidak mau menyingkirkan dosa yang lalu. Barangsiapa tidak mau menyingkirkan dosa yang lalu, selamanya tidak bisa menempuh jalan yang di depan; barangsiapa ingin mempertahankan dosanya, selamanya tidak bisa memiliki pertumbuhan rohani.
Manna
Cukupkah hanya memakan daging domba saia? Tidak. Memang Anda telah keluar dari Mesir, tetapi masih ada penempuhan di padang gurun. Di padang gurun Anda masih harus setiap hari makan makanan di sana. Daging domba hanya untuk sekali makan; ini berarti Anda hanya perlu sekali saja menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda. Tetapi selanjutnya masih perlu ada makanan hari demi hari yang menjadi kekuatan kehidupan Anda. Kita tahu, bahwa setiap hari ada pekerjaan hari itu, ada urusan, ada perkara, ada peperangan, semuanya itu memerlukan tenaga untuk menghadapinya. Lalu makanan apakah yang kita perlukan untuk itu? Yohanes memberitahu kita, makanan itu adalah Tuhan. Izinkan saya dengan terus terang berkata kepada Anda, "Begitu Anda menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda, sudah berapa kali Anda memiliki pengalaman makan manna? Sejak Anda percaya Tuhan Yesus, pernahkah Anda menemukan dosa yang baru untuk Anda tanggulangi?" Ini sangat penting. Satu orang tidak bisa setelah makan satu piring makanan, lalu selanjutnya tidak perlu makan lagi; tiap hari dia masih perlu makan makanan. Demikian pula dalam hal rohani. Tidak bisa hanya sekali makan daging domba pada hari Paskah, kemudian tidak makan lagi; melainkan selanjutnya masih perlu setiap hari ada makanan. Ini adalah perkara yang selamanya tidak boleh diabaikan, begitu diabaikan, Anda akan mat! di padang gurun, tidak bisa maju lagi.
Manna yang sedap hari itu mengacu kepada apa? Apakah itu mengacu kepada membaca Alkitab? Ada benarnya, tetapi bukan. Apakah itu berdoa? Meskipun seolah ya, tetapi bukan. Apakah menanti Tuhan? Juga bukan. Semuanya itu hanyalah prosedur, hakikinya adalah kekuatan Kristus; kita hanya melalui semuanya itu menyerap kekuatan Kristus. Mengapa setiap pagi kita membaca Alkitab? Apakah untuk mengerti Alkitab? Kalau untuk mengerti Alkitab, saya merasa kasihan kepada Anda. Setiap pagi kita membaca Alkitab, adalah agar mendapatkan kekuatan Kristus demi menempuh penghidupan sehari itu. Pagi-pagi kita harus mengeluarkan waktu setengah jam atau satu jam untuk berdoa, untuk apakah ini? Yaitu agar melalui mendekati Allah, kita menyerap kekuatan hayat, menjadi kekuatan di dalam kita.
Saya ingin mengambil satu contoh nyata. Ada seorang saudari sekerja. Dia sangat takut terhadap kerbau dan anjing. Sebagai orang-orang yang bekerja, setiap kali memberitakan Injil ke desa-desa, dua makhluk hidup itu sering kami temui. Setiap kali melihat kerbau yang gemuk dan hitam itu, ia ingin segera menyingkir. Pernah sekali ketika ia sedang berjalan di suatu desa, di belakangnya ada beberapa ekor anjing yang terus menyalak kepadanya; di depannya kebetulan datang segerombolan kerbau yang besar dan hitam. Saat itu dia sangat terkejut, mau menghindari anjing, di depan ada kerbau; mau menghindari kerbau, di belakang ada anjing. Jalannya juga sempit. Dalam keadaan yang tidak bisa maju maupun mundur ini, dia hampir pingsan. Saat itulah dia berdoa kepada Tuhan, "Tuhan Engkau memberiku hayat, Engkau memberiku kekuatan." Demikianlah dia kemudian tetap berjalan selangkah demi selangkah sambil terus berdoa kepada Tuhan, akhirnya dia dengan selamat melewati dua belas ekor kerbau yang menakutkan. Inilah contoh menyerap kekuatan.
Satu contoh lagi, ada seorang saudara yang setiap pagi pasti berdoa dan ia memiliki satu doa yang sangat baik, yaitu dia berkata, "Ya Allah, hari ini kembali aku mempersembahkan diri kepadaMu." Saya bertanya kepadanya, "Mempersembahkan diri kepada Allah untuk apa?" Dia menjawab, "Aku mempersembahkan diri kepada Allah agar Allah memenuhi diriku." Ini benar-benar adalah satu doa yang sangat baik yang dipanjatkan setiap pagi.
Jika tidak ada kontak dan doa yang sedemikian tiap pagi, maka ia tidak bisa menempuh hari itu. Karena itu, kita membaca Alkitab adalah untuk mendapatkan Kristus, berdoa juga untuk mendapatkan Kristus, menyerap kekuatanNya. Apakah yang dimaksud dengan menyerap kekuatanNya? Ini seperti makan. Sekali demi sekali kita makan, maka makanan itu menjadi kekuatan kita. Demikian juga dengan kekuatan rohani kita, harus setiap hari makan. Kadangkala kita merasakan doa itu sangat berarti, inilah manna. Setiap hari ada sekali berjumpa dengan Allah, ini bisa memimpin kita menempuh perjalanan hari itu. Alkitab memberitahu kita, bahwa manna tidak bisa melewati malam. Setiap hari kita harus memiliki kontak yang baru dengan Allah, demikian baru bisa mendapatkan tenaga yang baru. Pengalaman memungut manna ini harus menjadi kebiasaan kita setiap hari, yaitu setiap hari kita menerima firman yang baru dari Allah, pengaruh yang baru, dengan Kristus ada kontak yang baru. Mengapa setiap hari harus membaca Alkitab dan berdoa? Karena ini adalah satu kebiasaan. Hari ini kita harus membuat penyerapan kekuatan, pengalaman memungut manna, menjadi kebiasaan kita. Kita tahu, kalau hanya mengenal Alkitab tetapi tidak mengenal Kristus, itu tidak ada gunanya. Semoga kita menuntut pengalaman yang berharga itu!
Di depan kita telah membaca kitab Bilangan 11:5-6, yang menyinggung tentang orang Israel yang menggerutu, "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat." Ada satu hal yang pasti, begitu kita bosan terhadap manna, segera barang-barang Mesir terbentang di depan kita. Mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih, semuanya sangat merangsang kita. Ya, barang-barang Mesir sungguh kental rasanya. Semua yang kental cita rasanya pasti bisa membuat Anda teringat kepadanya, dan membuat Anda bisa mengenangnya. Aneh sekali, yang diingat oleh bani Israel hanyalah barang-barang yang enak dimakan ini; namun penderitaan yang mereka alami di Mesir, seperti pembunuhan anak laki-laki, membakar batu bata, pukulan dari mandor Mesir, semuanya itu mereka lupakan. Banyak orang yang jatuh, begitu saja melupakan penderitaan dalam dosa, pergumulan, dan belenggu Iblis; yang mereka ingat hanyalah hal-hal sebelum mereka percaya Tuhan; mereka merasa boleh melakukan ini, boleh melakukan itu; tetapi sekarang sangat terbatas, sangat menyulitkan. Kalau dikatakan daya ingat mereka itu baik memang ada sedikit baik, mereka ingat banyak; tetapi kalau mengatakan daya ingat mereka itu jelek, sungguh sangat jelek, karena mereka bahkan melupakan keselamatan mereka. Hari ini banyak orang Kristen yang tidak bisa berbuah, ini dikarenakan mereka telah melupakan keselamatan mereka yang semula. Sebenarnya, baik itu mentimun, semangka, bawang prei, dan lain sebagainya, itu hanyalah berupa barang yang kental rasanya; tetapi manna adalah barang yang tidak boleh kurang. Orang yang jemu mendekati Kristus, pasti terkenang akan Mesir, bau semangka dan mentimun sudah di depan hidungnya. Karena itu, setiap orang Kristen harus setiap hari menjaga mannanya. Hari ini banyak orang Kristen yang hanya makan tiga atau lima hari sekali, atau satu minggu sekali; ini sangat kurang. Harus setiap hari menjamah Kristus, kontak yang demikian adalah kekuatan kita.
Air dari Batu Karang
Makan daging domba adalah permulaan hayat; makan manna adalah eksistensi hayat agar hayat bertumbuh; minum air adalah agar hayatnya ada kenikmatan. Air berarti menyegarkan, membangkitkan semangat, memiliki satu kekuatan yang baru. Karena air mempunyai fungsi yang demikian, maka tidak saja di sini ada air, di Mesirpun ada banyak. Daging domba memberi kita hayat, yaitu Kristus tinggal di dalam kita. Kristus yang tinggal di dalam memerlukan Kristus yang ada di takhta untuk merawatNya, agar Dia mempunyai kekuatan untuk berjalan. Jika hanya ada dua macam ini, tetapi tidak ada kenikmatan, maka wajah orang Kristen pasti akan bermuram durja setiap hari, dengan keluh kesah menempuh hari-harinya, seperti bani Israel yang menggerutu, yang mengatakan setiap hari hanya makan makanan itu saja, tawar, tidak ada rasanya, sungguh membosankan. Karena itu tidak bisa tanpa minum air, tanpa kenikmatan. Bagaimana air ini bisa mengalir keluar? Keluaran 17:5 memberitahu kita, perkara pertama ialah harus mengambil sebuah tongkat. Alkitab menyebut tongkat itu tongkat yang dipakai untuk memukul air sungai Nil; tidak menyebutnya tongkat Allah. Hal ini supaya bani Israel ingat, bahwa dahulu tongkat itu pernah dipakai untuk memukul air sungai Nil. Air di Mesir telah Allah pukul sehingga menjadi darah. Arti darah ialah mati. Ini berarti bahwa semua kesenangan dan kenikmatan Mesir berada di bawah penghakiman Allah. Semua pelesiran dunia hari ini, tidak lain telah menjadi darah. Mungkin bagi orang Mesir, perkara-perkara itu bisa dinikmati, seperti air yang bisa diminum; tetapi terhadap kita, perkara-perkara itu adalah darah, kita tidak bisa mendapatkan sukacita darinya. Dahulu hal ini boleh kita lakukan, hal itu boleh kita kerjakan, tetapi hari ini, semua itu telah menjadi darah. Itulah sebabnya banyak orang berkata, bahwa setelah menjadi orang Kristen banyak perkara yang membatasinya. Jika demikian, apakah orang Kristen tidak ada sesuatu untuk dinikmati? Ada, hanya saja sifat dan hakikinya tidak sama dengan kenikmatan Mesir. Itulah sebabnya Allah menyinggung tongkat pemukul tadi.
Kita telah tampak, bahwa mendapatkan hayat itu tergantung pada Kristus, mempertahankan hayat juga tergantung pada Kristus. Tetapi dari manakah kita menikmati sukacita? Ada ibu yang memandang anak-anaknya sebagai kenikmatan; tetapi kenikmatan kita dapatkan dari air yang keluar dari batu karang yang terpukul. Allah berkata kepada Musa, "Pergilah ke gunung batu di Horeb, (gunung Horeb adalah salah satu puncak gunung di gunung Sinai), maka Aku akan berdiri di sana di depanmu. Haruslah kau pukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Air yang kita dapatkan adalah air yang mengalir keluar dari batu karang di hadapan Allah. Satu Korintus pasal 10 mengatakan, bahwa batu karang ini ialah Kristus. Pemukulan atas batu karang mengacu kepada kematian Tuhan; air yang mengalir mengacu kepada Roh Kudus. Karena itu sukacita dan kenikmatan kita berada di dalam Roh Kudus. Sukacita ini cukup memenuhi semua "kerugian" kita. Banyak waktu kita yang harus kita lewatkan dalam zaman yang gelap ini, kaki kita lemah, tangan kita berat, tidak bisa memberi kita kenikmatan sedikitpun, saat inilah Allah akan memberi kita sukacita yang bisa memenuhi dan mengganti semua "kerugian" kita. Yesaya berkata tentang Tuhan, bahwa Dia seperti tunas dari tanah kering (Yesaya 512). Apakah artinya ini? Tunas tidak bisa bertumbuh di tanah yang kering, ini menampakkan kepada kita, bahwa sandaranNya adalah Allah, dunia tidak bisa memberi Dia sedikitpun. Demikian juga kita di dunia pada hari ini, kita ingin minum air, tetapi itu adalah darah; tidak minum, namun terasa haus. Tetapi Kristus adalah air hidup yang bisa meleraikan dahaga kita, bisa memuaskan kita. Hari ini Allah berdiri di atas gunung, Dia berdiri di depan batu karang yang pernah melewati mati, karena itu sukacita rohani bukanlah perkara yang kabur, melainkan ada di depan kita. Dulu pernah terjadi satu gempa bumi di Italia. Saat itu banyak orang yang sibuk memindahkan barang-barangnya, memapah orang tua, menggendong anak-anak, lari ke sana sini. Saat itu ada seorang perempuan, berdiri di depan pintunya, dan tertawa-tawa melihat tingkah laku orang yang menyelamatkan diri. Meskipun rumahnya juga runtuh, barang-barangnya juga berantakan, tetapi dia tidak mempedulikan itu. Dia terus saja tertawa. Ada orang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tertawa demikian keras?" Masih dengan tertawa perempuan itu berkata, "Asal Allah kita menggerakkan sedikit saja, kalian segera melarikan diri. Betapa besarnya Allah kita!" Benar, sering kali saat kita belum selesai menangis, kita sudah tertawa lagi.