Mencari Perkenan Tuhan
Pembacaan Alkitab :
Galatia 1:6-10; I Tesalonika 2:4; II Korintus 5:9
Mencari perkenan Tuhan adalah satu sikap utama yang harus dimiliki oleh seorang hamba Allah. Paulus mengatakan dalam surat Galatia 1:10, "Jadi bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus." Di satu pihak, Paulus mengatakan perkataan ini dengan perasaan yang sedih, sebab orang-orang beriman di Galatia telah dan cepat sekali meninggalkan kebenaran Injil yang telah diberitakan oleh Paulus. Di pihak lain, Paulus dengan serius menyatakan sikapnya terhadap Tuhan. Ketika pertama kali Paulus memberitakan Injil di Galatia, ia mengatakan kepada mereka, bahwa orang beroleh selamat adalah karena karunia Tuhan, karena iman, bukan kerena melakukan Taurat. Pada saat itu, banyak orang telah percaya kepada Tuhan, dan mereka sangat mengasihi Paulus; kasih mereka itu sedemikian rupa, sehingga mereka rela mencungkil biji mata mereka untuk diberikan kepada Paulus (Galatia 4:15). Akan tetapi tak lama kemudian, datanglah beberapa orang mengajar mereka bahwa mereka tidak cukup hanya demi karunia dan demi iman, harus pula disempurnakan demi Taurat (Galatia 3:1-3). Karena itu, di sini Paulus dengan sangat serius memberitahukan kepada mereka, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia." (Galatia 1:8). Orang-orang Galatia itu sudah disesatkan sangat dalam, maka ketika Paulus dengan sekuatnya mempertahankan kebenaran Injil, mereka tidak senang kepada Paulus. Maka Paulus berkata kepada mereka, "Jadi bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?" "Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?" (Galatia 1:10, 4:16).
Saudara-saudari, seorang yang menjadi hamba Allah, harus mempunyai satu sikap yang mendasar, yakni mencari perkenan Allah. Kalau nat itu Paulus sedikit lunak, yaitu tidak begitu teliti terhadap Injil Tuhan, asal saja ia mengatakan, "Beroleh selamat memang demi iman, tetapi masih perlu bersandar kepada Taurat, juga bersandar pada perbuatan sendiri," tentu dengan mengalahnya terhadap kebenaran, ia bisa mendapatkan simpati orang-orang Galatia, tanpa mengorbankan sesuatu, sehingga ia tetap mendapat sambutan baik dari mereka. Akan tetapi Paulustidak dapat dan tidak mau berbuat demikian. Ia tak dapat tidak setia kepada Tuhan. Dengan tidak mempedulikan perasaan orang, ia menegur mereka dengan sikap yang serius, "Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?" "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, kamu hidup di luar kasih karunia"(Galatia 3:1; 5:4).
Sikap Paulus yang demikian itu, adalah juga sikap yang seharusnya ada pada setiap hamba Allah. Siapakah sebenarnya yang menjadi hamba Allah? Banyak orang mengira mereka yang menjadi pemberita Injil, atau yang berkhotbah itulah hamba Allah, sedangkan orang-orang beriman yang lain bukan hamba Allah. Namun Alkitab menunjukkan kepada kita, bahwa setiap orang yang telah ditebus Allah semuanya adalah hamba Allah, jadi setiap anak-anak Allah adalah hamba Allah. Kitab Imamat 25:55 mengatakan, "Karena padaKulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hambaKu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir." Di sini dikatakan dengan jelas oiekali, bahwa asalkan orang itu orang Israel yang telah dikeluarkan Allah dari tanah Mesir, ialah hamba Allah. Bukan Musa atau Yosua saja yang menjadi hamba Allah, melainkan segenap orang Israel yang telah dikeluarkan dari tanah Mesir. Jadi, asalkan Anda adalah seorang yang telah diselamatkan Allah, Anda sudah menjadi hamba Allah. Kita harus memiliki dua aspek pengenalan terhadap darah Tuhan. DarahNya tidak saja telah mencuci dosa kita, darahNya pun telah menebus atau membeli kita. Tuhan tidak saja sebagai Juruselamat kita, Ia pun sebagai Tuan kita. Kita harus menyadari, bahwa Tuhan adalah Tuan kita, dan kita adalah hambaNya yang telah dibeli dengan darahNya. Kita harus memiliki pengenalan yang tegas dan jelas terhadap kekuasaan Tuhan di atas diri kita, dan kita harus hidup bagi Dia. Setiap orang yang benar-benar telah tampak kasih salib, sedikit banyak dalam hatinya pasti timbul kasih yang ditujukan kepada Tuhan. Seorang yang benar-benar mengasihi Tuhan, pasti dapat menyatakan suatu sikap yang konkret, yaitu mau mencari perkenan Tuhan.
Apakah yang menyebabkan banyak orang Kristen tidak dapat memperoleh perkenan Allah? Sebab yang terbesar ialah mereka lebih suka mendapat kemuliaan manusia daripada mendapat kemuliaan Allah. Dalam Injil Yohanes 12 kita tampak, bahwa di antara banyak orang yang percaya itu terdapat beberapa pemimpin atau pembesar. Karena orang-orang Farisi, mereka tidak berani mengaku, takut kalau-kalau diusir dari Bait Suci orang Yahudi (Yohanes 12:42-43). Mereka tidak berani menjadi orang Kristen secara terang-terangan. Kesulitan mereka tidak lain karena lebih suka mendapat kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah. Saudara-saudari, apakah keadaan itu ada pada diri Anda? Apakah Anda lebih menyukai kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah? Ada orang tidak berani dengan terang-terangan mengaku nama Tuhan Yesus; ada yang tidak berani terang-terangan mengaku dirinya seorang Kristen; tidak berani bersyukur dengan terang-terangan ketika hendak makan, bahkan ada yang sudah lama tidak menempuh penghidupan berdoa, membaca Alkitab dan mengikuti sidang-sidang gereja. Hal itu antara lain dikarenakan mereka takut ditertawakan orang, takut dikatakan takhayul, fanatik, ketinggalan zaman. Pada hakikatnya, mereka itu lebih suka kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah, saudara-saudari, bila Anda benar-benar mengasihi Allah, Anda pasti memiliki satu hasrat untuk mancari perkenan Allah, dan jikalau Anda benar-benar ingin mencari perkenan Allah, maka tidak seharusnya Anda menyukai kemuliaan manusia lebih daripada kemuliaan Allah.
Seorang Kristan yang mencari perkenan Tuhan, seorang Kristen yang setia kepada Tuhan, ia juga akan setia terhadap kebenaran Tuhan. Demi mempertahankan kebenaran Injil, Paulus tidak menghiraukan segala tentangan orang, tidak takut kalau Ia dimusuhi orang (Galatia 4:16). Ia lebih rela mengorbankan dirinya sendiri daripada mengorbankan kebenaran, ia lebih senang dirinya sendiri menderita kerugian daripada kebenaran dirugikan.
Di waktu-waktu yang lalu, banyak orang Kristen karena mau mencari perkenan Tuhan, mau dalam segala perkara bertindak sesuai dengan firman Tuhan, mau menerima segala yang sesuai dengan Alkitab dan menolak segala yang tidak sesuai dengan Alkitab, harus mengeluarkan banyak harga dan pengorbanan. Saudara-saudari, jika Anda mengambil sikap lunak sedikit terhadap kebenaran, Anda pasti tidak begitu banyak menerima seratigan, dan terhindar dari keeaman atau cemoohan. Namun jika Anda ingin berdiri tegak mempertahankan kebenaran, Anda tidak akan terhindar dari kesulitan-kesulitan dan tak dapat tidak Anda mengorbankan sesuatu.
Dulu ada seorang saudara karena tampak kebenaran mengenai baptisan, ia lalu bertekad untuk dibaptiskan. Tetapi hal itu tidak disetujui oleh ayahnya. Terjadilah pergumulan di dalam dirinya. Ia berpikir, jika ia tetap melakukan hal itu, pastilah ia melukai hati ayahnya, tetapi jika tidak menerima baptisan, ia merasa mengingkari firman dan kebenaran Alkitab. Tatkala ia sedang gelisah di pembaringan, tiba-tiba Tuhan memberikan sebuah firman kepadanya, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu." (Matius 10:37). Di sini ia menjumpai perkara mengeluarkan harga. Mencari perkenan ayah, atau perkenan Tuhan? Syukur kepada Tuhan, akhirnya ia tunduk di bawah kasih Tuhan, ia menerima pembaptisan. Pengalaman saudara ini menyatakan suatu perkara, yakni bila Anda ingin mencari perkenan Allah, Anda harus memiliki kepatuhan yang mutlak terhadap kebenaranNya. Jika saat itu Paulus mau berkompromi sedikit dengan orang-orang Galatia, agak lunak sedikit, tidak begitu teliti terhadap kebenaran, maka ia tetap mendapat hati mereka. Tetapi Paulus telah memperhitungkan segala resikonya, bagaimanapun ia tak mau mencari perkenan manusia, ia hanya mau mencari perkenan Allah. Ia menyadari jika ia tidak demikian, ia bukan hamba Allah; lebih baik dimusuhi mereka, sekali-kali ia tidak dapat tidak memberitahu mereka apa yang menjadi kebenaran Tuhan.
Amsal 23:23 mengatakan, "Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian." Kebenaran harus dibeli, harus mengeluarkan harga untuknya. Jika Anda ingin mencari perkenan Allah, ingin berdiri mempertahankan kebenaran, Anda harus mengeluarkan harga. Jika Anda telah tampak dengan jelas akan kebenaran, maka hendaklah Anda mematuhinya sampai kepada akhirnya. Sayang sekali, entah berapa banyak orang Kristen yang sudah membelokkan kebenaran Tuhan, karena mereka hanya ingin mendapatkan perkenan manusia, dan tidak berani mengeluarkan harga. Saudara-saudari, kebenaran hanya boleh dibeli tidak boleh dijual. Kebenaran juga tidak boleh diubah. Kebenaran laksana tiang sebuah rumah, tidak boleh digeser, dipindahkan, direndahtinggikan atau dimiringkan. Dengan perkataan lain, kebenaran mutlak tidak dapat diubah. Jika terhadap suatu kebenaran kita tidak dapat mematuhinya atau tidak berani membayar harga, maka lebih baik kita mengakui dosa diri sendiri, mengakui kelemahan diri sendiri. Jangan sekali-kali karena kita sendiri tidak bisa menjalankannya atau karena tak bisa menanggung resikonya, lalu berusaha menurunkan atau mengubah kebenaran itu. Ini mengandung risiko yang sangat berat di hadapan Allah kelak.
Yohanes 15:20 mengatakan, "Seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya." Sebagaimana perjalanan Tuhan di dunia ini, begitu pulalah perjalanan kita. Jika kita mengakui diri kita sebagai hamba Tuhan, hendaklah kita memiliki sikap yang mendasar ini -- mencari perkenanNya. Tanpa sikap ini, cepat atau lambat kita pasti gagal. Entah berapa banyak orang terjatuh karena lebih menyukai kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah. Oh, saudara-saudari, masalah kemuliaan manusia, entah telah berapa dalamnya tertanam di atas diri kita, entah harus melalui berapa banyak pelajaran dan pengalaman baru bisa terbongkar secara tuntas dari diri kita. Sejak manusia memakan buah pohon Pengetahuan Baik dan Jahat, di atas diri manusia timbul satu kesulitan yang fatal, yaitu kemuliaan manusia. Setiap kita memiliki takhtanya masing-masing, dan takhta itu berdiri di atas kemuliaan manusia. Jika kita ingin menjadi hamba Tuhan yang setia, kita harus turun dari atas takhta kita itu. Kalau tidak, kita tidak dapat melayani Tuhan.
Ibrani 12:2 memberitahu kita, bahwa Tuhan sudah mengabaikan kehinaan tekun memikul salib. Saudara-saudari, salib bukan saja kematian balikan dipermalukan. Jika salib telah menghancurkan Anda, maka atas diri Anda akan muncul satu keadaan yang nyata, yaitu Anda tidak lagi takut dipermalukan. Banyak kegagalan orang-orang Kristen disebabkan takut malu, menyukai kemuliaan manusia, tidak mau turun dari takhtanya sendiri. Saudara-saudari, jangan mengira Anda sudah rendah hati atau lemah lembut sejak dilahirkan. Kita ini sebenarnya entah betapa congkaknya! Entah harus menerima berapa banyak karuniaNya, baru kita bisa turun dari atas takhta kita dan baru bisa tertolong keluar dari kemuliaan manusia!
Semoga Allah mengaruniai kita, agar kita memiliki sebuah hati ingin mencari perkenan Allah. Demi karuniaNya, kita bisa menjadi seorang hamba yang setia, yang selalu menantikan tibanya hari itu, agar kelak di hadapan takhta pengadilanNya kita mendengar Ia berkata kepada kita, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia."' (Matius 25:23).