Kehidupan Mezbah dan Kemah
Pembacaan Alkitab :
Kejadian 12:7-8; 13:34,18.
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan mezbah dan kemah. Mezbah ditujukan kepada Allah dan kemah ditujukan kepada dunia. Allah menghendaki agar anak-anakNya mempunyai mezbah di hadiratNya dan juga mempunyai kemah di bumi. Ada mezbah, pastilah tinggal di kemah; ada kemah, pastilah tetap datang ke mezbah. Mustahil mempunyai mezbah tanpa kemah, pula mustahil mempunyai kemah tanpa mezbah. Mezbah dan kemah adalah saling berkaitan, mereka tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.
KEHIDUPAN MEZBAH
Kejadian 12:7 berbunyi, "Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman : ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya." Di sini kita melihat, bahwa "mezbah" didasarkan atas penampakan Allah. Kalau tidak ada penampakan Allah, maka mezbah tidak akan ada. Siapa pun tidak akan dapat mempersembahkan diri kepada Allah, kalau ia tidak mendapatkan penampakan Allah. Hanya apabila Allah menampakkan diri kepada manusia, maka manusia dapat membawa segalanya ke atas mezbah untuk dipersembahkan kepada Allah.
Konsikrasi (persembahan) tidak berasal dari anjuran manusia, bukan pula karena dorongan manusia, melainkan berasal dari Allah. Jika Allah tidak menampakkan diri, maka tidak ada seorang pun yang dapat dengan inisiatif sendiri membawa segalanya ke atas mezbah; tidak ada seorang pun yang dapat dengan inisiatif sendiri mempersembahkan diri kepada Allah. Kalaupun manusia mengharapkan untuk mempersembahkan dirinya kepada Allah, sebenarnya berdasarkan diri sendiri, manusia tidak memiliki sesuatu apapun yang dapat dipersembahkan kepada Allah. Seperti ada orang mengatakan, "Aku ingin mempersembahkan hatiku kepada Tuhan, namun hatiku tidak mau memenuhinya." Manusia tak dapat datang kepada Allah. Tapi jika pada suatu hari manusia bertemu dengan Allah, maka pertemuan itu secara otomatis akan menghasilkan tindakan persembahan. Asal Anda bertemu dengan Allah, asal Anda melihat Allah -- walaupun hanya sekejap -- maka Anda bukan lagi menjadi milik Anda sendiri. Allah tidak bisa tidak mendapatkan sesuatu dari penampakan diriNya kepada manusia! Begitu seseorang bertemu dengan Allah, ia pasti tidak dapat hidup untuk diri sendiri lagi.
Kita harus tahu, bahwa kekuatan untuk berkonsikrasi kepada Allah berasal dari penampakan diri Allah. Orang-orang yang menggembar- gemborkan konsikrasi belum tentu merupakan orang-orang yang berkonsikrasi. Orang yang mengajarkan ajaran mengenai konsikrasi belum tentu adalah orang yang berkonsikrasi. Orang yang telah mengerti doktrin konsikrasi juga belum tentu telah mempersembahkan diri. Hanya orang yang telah melihat Allah adalah orang yang benar-benar dapat berkonsikrasi. Allah menampakkan diri kepada Abraham, dan reaksi langsungnya adalah Abraham membangun sebuah mezbah bagi Allah. Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Paulus pada jalan menuju Damaskus, dan segera Paulus bertanya, "Tuhan, apa yang harus kuperbuat?" (Kisah Para Rasul 22:10). Titik peralihan dalam hayat rohani kita tidak berasal dari keputusan atau niat kita untuk berbuat sesuatu bagi Allah, melainkan dikarenakan kita melihat Allah. Hasil dari perjumpaan Anda dengan Allah ialah adanya satu perubahan radikal yang membuat Anda tidak lagi meneruskan jalan Anda yang dulu. Ketika Allah tertampak olehku, aku segera bertenaga untuk mengesampingkan diri sendiri; ketika Allah tertampak olehku, maka aku tidak dapat tidak menyangkal diri sendiri. Penampakan Allah membuat Anda tidak dapat hidup lagi. Dalam penampakan Allah terkandung kekuatan yang tidak terduga dan tidak terbatas besarnya yang akan membuat seluruh jalan hidup Anda berubah. Kekuatan hidup bagi Allah dari umat kristiani tergantung pada penampakan Allah! 0, bukan karena aku bertekad melayani Allah maka aku dapat melayani Allah; bukan karena aku ingin membangun mezbah, segera aku dapat membangun mezbah; semuanya harus ada penampakan Allah.
Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, Dia berfirman, "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu. " Penampakan diri Allah memberi kita satu warisan yang baru. Penampakan diri Allah memperlihatkan kepada kita, hari ini apa yang Roh Kudus berikan di dalam kita adalah jaminan warisan kita kelak; bagian yang kita dapatkan hari ini di dalam Roh Kudus akan kita dapatkan secara sempurna kelak. Tatkala rencana Allah genap, kita akan dengan sempurna menerima warisan kita.
Allah menampakkan diri kepada Abraham dan Abraham mendirikan sebuah mezbah. Mezbah ini bukan untuk mempersembahkan korban penebus dosa, melainkan mezbah untuk mempersembahkan korban bakaran. Korban penebus dosa adalah untuk pengampunan dosa diri sendiri; korban bakaran adalah mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Mezbah ini bukan ditujukan kepada bagaimana Tuhan mati bagi kita, melainkan bagaimana kita mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Mezbah ini adalah mezbah seperti yang disebutkan dalam Roma 12:1, "Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati." Kemurahan Allahlah yang menyediakan Tuhan Yesus mati bagi kita; kemurahan Allahlah yang menyediakan salib, tempat kita mati bersama dengan Kristus; kemurahan Allahlah yang menyediakan salib yang menanggulangi Iblis; kemurahan Allahlah yang menyediakan hayatNya tinggal di dalam kita; dan kemurahan Allahlah yang akan membawa kita ke dalam kemuliaan. Karena kemurahan Allah yang begitu ragam dan tak terduga inilah, maka kita perlu mempersembahkan diri sebagai korban yang hidup kepadaNya.
Ada satu hal yang sangat bermakna dalam persembahan korban bakaran, yaitu jika kemampuan Anda besar, Anda boleh mempersembahkan seekor lembu; kalau Anda tidak mampu mempersembahkan seekor lembu, Anda boleh mempersembahkan seekor kambing; kalau tidak mampu lagi, boleh mempersembahkan seekor burung tekukur atau merpati (Imamat 1:3,10,14). Tetapi, apapun juga yang dipersembahkan, baik itu lembu, kambing, burung tekukur atau merpati, haruslah dipersembahkan dengan utuh. Anda tidak bisa mempersembahkan sepotong daging sapi atau sepotong daging kambing. Yang dikehendaki Allah adalah persembahan yang utuh, bukan persembahan yang separuh atau sebagian. Allah tidak menghendaki persembahan yang tidak sempurna.
Apa maksud korban bakaran diletakkan di atas mezbah? Supaya ia dibakar sampai habis. Orang selalu mengira, bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah untuk melakukan ini atau mengerjakan itu bagi Allah; namun apa yang Allah inginkan bukan pekerjaan kita, melainkan diri kita dibakar habis. Allah tidak menginginkan seekor lembu atau seekor kambing, melainkan lembu atau kambing itu diletakkan di atas mezbah dan dibakar habis. Mezbah bukan berarti bekerja bagi Allah. melainkan hidup oleh Allah. Mezbah bukan berarti sibuk ini dan repot itu, melainkan hidup oleh Allah. Segala aktivitas dan pekerjaan tidak dapat menggantikan mezbah. Aku mutlak hidup oleh Allah, itulah penghidupan mezbah. Korban persembahan dalam Perjanjian Baru adalah "mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup", seperti yang tercantum dalam Roma pasal 12; bukan seperti yang terdapat dalam Perjanjian Lama yang sekali dibakar sudah habis. Setiap hari kita dibakar di atas mezbah, namun tetap hidup; tetap hidup, namun juga tetap dibakar sehingga tak bersisa bagi diri sendiri. Inilah korban persembahan dalam Perjanjian Baru.
Begitu Allah menampakkan diri kepada Abraham, Abraham segera mempersembahkan diri kepadaNya. Jika Anda berjumpa dengan Allah, Anda pasti juga akan mutlak mempersembahkan diri. Mustahil orang yang telah melihat Allah bisa dengan dingin duduk di sana. Reaksi dari perjumpaan dengan Allah adalah mezbah; setelah mengetahui karunia Allah, pasti disusul dengan mempersembahkan diri; setelah melihat kemurahan Allah, Anda pasti menjadi satu persembahan yang hidup; setelah menerima sorotan terang Tuhan, Anda pasti akan berkata, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?"
Abraham belum mendengar banyak doktrin tentang konsikrasi, ia juga tidak didorong oleh orang lain untuk mempersembahkan diri; tapi begitu Abraham melihat Allah, ia segera mendirikan sebuah mezbah bagi Allah. 0, saudara-saudari perkara mempersembahkan diri adalah sesuatu yang spontan. Jika Allah menampakkan diri kepada seseorang, siapapun dia, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hidup bagiNya. Ini terjadi pada diri Abraham dan juga pada diri setiap orang yang telah berjumpa dengan Allah selama 2.000 tahun sejarah Gereja.
KEHIDUPAN KEMAH
Hasil dari mezbah adalah membawa masuk kemah. Kejadian 12:8 berkata, "Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya di Betel." Sejak saat itu, Abraham tinggal di rumah Allah - Betel; dan sejak hari itu ia memasang kemah. Ini bukan berarti Abraham tidak memiliki kemah sebelum ia dipanggil keluar, melainkan Allah tidak menyinggungnya. Sampai Abraham memiliki mezbah, barulah Firman Allah mewahyukan tentang kemah.
Apakah kemah itu? Kemah adalah sesuatu yang bisa berpindah- pindah, ia tidak menetap. Melalui mezbah Allah akan menanggulangi diri kita; dan melalui kemah Allah akan menanggulangi semua milik kita. Abraham memiliki mezbah, dan ia telah mempersembahkan semuanya kepada Allah. Lalu, apakah sejak saat itu Abraham bahkan sepotong pakaian pun tidak memiliki lagi? Tidak! Abraham masih memiliki ternak, domba dan barang-barang lainnya; namun dia telah menjadi seorang penghuni kemah. Dengan kata lain, apa yang tersisa dari mezbah hanya dapat disimpan di dalam kemah. Di sini ada satu prinsip, yaitu segala sesuatu Anda harus diletakkan di atas mezbah, barang-barang selebihnya memang boleh Anda pakai, tetapi barang-barang itu bukanlah barang-barang Anda, melainkan barang-barang yang diletakkan di dalam kemah. Kita harus ingat, tanpa melalui mezbah, kemah tidak mungkin ada; namun barang yang diletakkan di atas mezbah belum tentu semua dibakar habis. Banyak barang, begitu diletakkan di atas mezbah segera terbakar habis; banyak barang, begitu dipersembahkan kepada Allah segera diambil oleh Allah, tidak disisakan untuk Anda. Tetapi ada juga barang yang setelah diletakkan di atas mezbah, Allah menyisakan sebagian untuk Anda pakai. Barang-barang yang tersisa yang ditinggalkan untuk Anda pakai, hanya dapat Anda simpan di dalam kemah.
Kehidupan Abraham adalah satu kehidupan mezbah. Pada suatu hari, bahkan putra tunggalnya pun dipersembahkan di atas mezbah. Tapi apa yang Allah perbuat? Ia tidak "mengambil" Ishak. Ya, apa yang Anda persembahkan di atas mezbah, benar-benar diterima oleh Allah; Dia tidak dapat membiarkan Anda hidup untuk diri sendiri, Allah tidak dapat membiarkan Anda hidup menurut kesenangan diri sendiri, Allah tidak dapat membiarkan Anda hidup bersandarkan kekuatan diri sendiri. Mezbah menuntut segala sesuatu Anda. Namun apa yang Anda taruh di atas mezbah itu belum tentu semuanya dibakar habis oleh Allah. Banyak barang, seperti Ishak, meskipun telah Anda taruh di atas mezbah, Allah kembali memberikan itu kepada Anda. Tetapi barang-barang yang sekarang ada di dalam tangan Anda itu, tidak lagi menjadi milik Anda, Anda hanya dapat meletakkannya di dalam kemah.
Ada orang yang bertanya, "Jika aku mempersembahkan segala sesuatu kepada Allah, apakah aku harus menjual segala milikku dan menyerahkan seluruh uangku? Jika aku mempersembahkan diri kepada Allah, lalu berapa jumlah perabot yang boleh kumiliki di rumah dan berapa banyak pakaian yang boleh ada dalam almari untuk kupakai? Banyak orang yang merasa sulit dengan pertanyaan semacam ini. Kita harus ingat, bahwa kita mempunyai dua macam kehidupan; satu kehidupan di hadapan Allah, dan lainnya kehidupan di dalam dunia. Di hadapan Allah, segala sesuatu kita benar-benar harus diletakkan di atas mezbah; tapi untuk hidup di atas dunia, kita masih memerlukan banyak benda-benda material. Untuk hidup di dunia, kita masih perlu sandang, pangan, dan papan. Kita patut mempersembahkan segala sesuatu kita kepada Allah dan hanya hidup bagiNya; tetapi jika Allah mengatakan bahwa sesuatu itu boleh tetap tinggal, maka kita pun menyisakannya. Namun demikian, kita harus menerapkan prinsip kemah untuk perkara-perkara yang disisakanNya itu, sebab benda-benda itu dikembalikan demi memenuhi kebutuhan kita di bumi ini. Kalau aku tidak memerlukannya, aku boleh mengesampingkannya. Aku boleh memakai barang-barang itu, tetapi aku tidak terjamah olehnya. Barang-barang itu boleh ada di tanganku, juga boleh tidak ada; boleh ditambahkan, juga boleh dikurangi. Inilah penghidupan kemah.
Sebab itu, kita harus belajar satu pelajaran: kita tidak dapat menggunakan sesuatu apapun yang belum diletakkan di atas mezbah; apa yang telah diletakkan di atas mezbah, tidak dapat dengan kemauan diri sendiri menariknya kembali; dan apa yang dikembalikan Allah kepada kita, harus kita perlakukan menurut prinsip kemah.
MEZBAH YANG KEDUA
Kejadian 12:8 berbunyi, "Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah Barat dan Ai di sebelah Timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN." Inilah mezbah Abraham yang kedua. Mezbah telah mengantar kepada kemah dan kini kemah mengantar kembali kepada mezbah. Setelah ada mezbah, semua barang bukan lagi milik Anda; barang yang tersisa setelah melalui mezbah, haruslah ditaruh di dalam kemah. Tidak lagi ada benda yang patut mencengkeram Anda, hati nurani Anda di hadapan Allah adalah penuh damai dan Anda dapat dengan penuh keberanian berkata kepada Allah, "Padaku tidak ada satu pun yang tidak kuserahkan kepadaMu. Jika demikian, kemah kembali bawa Anda ke mezbah. Tetapi jika barang-barang Anda telah berakar, dan Anda tidak bisa lagi memindahkannya, tidak dapat melepaskannya, itu berarti Anda telah tercengkeram olehnya, Anda tak akan dapat memiliki mezbah yang kedua.
Ketika Anda mempersembahkan di atas mezbah, seharusnyalah Anda telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Allah memang akan menyisakan beberapa untuk Anda pakai, tetapi Anda tidak bisa memilih apa-apa yang akan ditaruh di dalam kemah, memilih apa-apa yang setelah diletakkan di atas mezbah akan kembali lagi kepada Anda. Segala sesuatu Anda hanya dapat diletakkan di atas mezbah. Kemudian apa yang ditinggalkan Allah haruslah Anda taruh di dalam kemah. Setiap benda yang akan ditaruh di dalam kemah, harus terlebih dulu melalui bertanya kepada Allah; jika Allah mendinkan, barulah boleh. Tidak ada satu benda pun yang atasnya Anda boleh menentukan tinggal atau tidak. Pula, benda-benda yang ada di dalam kemah, setiap saat harus bisa kembali ke mezbah. Kapan Allah berfirman, "Benda ini tidak perlu Anda pertahankan." Anda dapat dengan segera menyingkirkannya. Kalau Anda menggenggam erat benda itu dan berkata, "Ini kepunyaanku", maka Anda telah kekurangan sebuah hati mezbah, kekurangan sebuah hati yang mempersembahkan. Jika demikian, Anda tidak akan memiliki mezbah yang kedua. Dan Anda tidak dapat berkata, "Ya, Allah, aku hidup adalah untukMu."
Allah menghendaki kita meletakkan segalanya di atas mezbah, kemudian kita dapat menaruh apa yang ditinggalkanNya untuk kita di dalam kemah. Setelah tindakan ini barulah ada mezbah kedua. Yang paling mustika adalah mezbah kedua. Karena suatu dorongan atau rangsangan, kita mudah sekali bergairah dan mempersembahkan diri. Tetapi setelah lewat tiga tahun, lima tahun, karena di dunia ini kita telah mendapatkan banyak, maka kita tidak bisa kembali ke mezbah. Kalau kehidupan kita tetap adalah kehidupan kemah, kalau kita bisa memiliki mezbah kedua, betapa mustikanya ini! 0, benda material bukan masalah, masalahnya ialah bagaimana dengan persembahan Anda itu.
PEMULIHAN MEZBAH DAN KEMAH
Abraham juga pernah gagal. Dia meninggalkan mezbah dan kemah untuk turun ke Mesir. Tetapi kemudian dia memulihkan kembali. Bagaimana dia memulihkannya? Kejadian 13:34 memberitahu kita, "Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abraham memanggil nama TUHAN. "
Pemulihan adalah kembali kepada mezbah dan kemah. Hari ini, apakah Anda gagal? Apakah Anda jatuh? Adakah yang telah berubah dan tawar? Adakah yang turun ke Mesir, memiliki selera sendiri, memiliki harapan sendiri, memiliki kedambaan sendiri, memiliki tuntutan sendiri? Jika ada yang mencari jalan pemulihan, baliklah kepada mezbah dan kemah. Firman Allah memperlihatkan kepada kita, bahwa pemulihan Abraham adalah kembali lagi kepada kedudukan mezbah dan kemah yang semula. Jadi pemulihan adalah kembali kepada kemah, kembali kepada mezbah.
Apa yang terjadi setelah pemulihan Abraham? Kejadian 13:18 mencatat, "Sesudah itu Abraham memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN." Hebron berarti persekutuan; di sanalah terdapat persekutuan yang kekal, persekutuan yang terus menerus. Setelah Abraham tinggal di Hebron, ia mendirikan lagi sebuah mezbah di sana bagi Allah. Ingatlah, kalau kita mau memiliki persekutuan dengan Allah, kita tidak boleh meninggalkan mezbah.
Kiranya Allah memberi karunia kepada kita, agar di hadapanNya kita melihat betapa pentingnya persembahan itu, sehingga kita memperhidupkan satu kehidupan mezbah dan kemah.
Penghidupan yang Dalam
Pembawan Alkitab :
Markus 4:5-6,16-17; Hosea 14:5-7; Kidung Agung 4:12
Dari tiga bagian ayat Alkitab di atas, kita akan melihat, dalam penghidupan orang Kristen, sebenarnya penghidupan macam apa yang diperkenan Allah, penghidupan macam apa yang bisa berlangsung terus- menerus tidak berubah, penghidupan macam apa yang tahan pukulan, tahan ujian. Mengapa ada orang Kristen pada mulanya keadaannya baik, tetapi tidak lama, entah pergi ke mana orangnya? Mengapa ada orang berjalan sampai tengah jalan lalu gagal? Mengapa ada orang yang mengikuti Tuhan tidak bisa mengikuti sampai kepada kesudahannya? Semua itu berhubungan erat dengan keadaan hidupnya. Tanpa satu penghidupan yang normal, orang Kristen tidak akan bi kukuh, mudah sekali hilang. Sebab itu, masalah ini tdak bisa kita abaikan.
Penghidupan yang Dangkal
Injil Markus 4:5-6 mengatakan, "Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi hering karena tidak berakar." Inilah salah satu bagian dalam perumpamaan menabur benih yang diucapkan oleh Tuhan Yesus. Dalam ayat 16 dan 17 Tuhan Yesus menjelaskan perumpamaan ini, "Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila hemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad." Dari penjelasan Tuhan kita tampak, penghidupan semacam ini adalah penghidupan yang dangkal, yang tidak bisa tahan lama, yang tidak tahan idian. Penghidupan semacam ini awalnya kelihatan baik, tetapi kesudahannya tidak baik. Penghidupan semacam ini menurut penampilannya adalah "segera tumbuh". Sudah bertumbuh, Ini berarti benih telah terbelah kulit luarnya dan tumbuh tunasnya. Jadi, firman di atas diri orang itu tidak hanya berupa firman bahkan telah menjadi hayat. Sudah bertumbuh, bahkan bertumbuh dengan cepat. Menurut penampilannya, perkembangannya yang cepat, kemajuannya yang cepat, orang boleh merasa puas. Tetapi kesudahannya sangat mengecewakan, karena begitu matahari terbit, ia tidak tahan, layu dan menjadi kering. Cepat bertunas, tetapi juga cepat kering. Tunas yang tidak tahan terik matahari, sulit mempunyai harapan menjadi matang; tunas yang tidak tahan terik matahari, cepat sekali layu dan kering.
Banyak penghidupan orang Kristen keadaannya demikian. Banyak orang Kristen, ketika mereka baru mendengarkan firman, dengan cepat dan senang menerima, mengira dirinya telah memiliki segalanya, telah melebihi segalanya, bahkan mau mengeluarkan harga apapun, mau. menempuh jalan apa pun. Di hadapan Allah, dia mempunyai minat, mempunyai persembahan. Di hadapan manusia, dia juga bisa bersaksi, juga bergairah. Tetapi tidak disangka, dalam jangka waktu yang singkat, begitu ujian menimpa dirinya, dia mulai goyah, mulai merasa susah, mulai tidak tahan, mulai takut, mulai mundur dan tak terhindar dari kejatuhan. Saudara- saudari, kalau kita tidak mau menjadi orang Kristen, ya sudah; tetapi kalau kita mau menjadi orang Kristen, perlu terik matahari. Karena terik matahari membantu Anda bertumbuh, membantu Anda matang. Kalau begitu disinari matahari, Anda sudah tidak tahan dan jatuh, itu berarti Anda sangatlah dangkal. Penyinaran di bawah matahari hanya bisa menyingkapkan keadaan Anda yang sebenarnya, penyinaran matahari tidak bisa merampas barang sejati yang Anda miliki. Apakah firman Allah tidak tahan terik matahari? Tidak! Masalahnya, bagaimana firman Allah di atas diri Anda? Mengapa firman Allah di atas diri Anda bisa bertumbuh dengan cepat, tetapi begitu matahari terbit, segera layu? Apa sebabnya? Dari firman Tuhan kita melihat ada tiga sebab :
Sebab Pertama -- Tanahnya Tipis
Sebab pertama adalah tanahnya tipis. Tanahnya tipis berarti tanahnya tidak banyak, tidak dalam; yang dia miliki hanya sedikit itu saja. Orang Kristen yang tanahnya tipis, di dalamnya tidak ada barang yang berarti. Orang yang demikian, ketika mendengarkan pemberitaan firman sepertinya mudah sekali menerima setiap kata, tampaknya sangat mengerti, bahkan mudah sekali raenyampaikan kepada orang lain dan bersaksi kepada orang lain. Orang yang demikian juga mudah kehilangan kebenaran yang ia dengar, membantah kebenaran yang Ia dengar, membongkar apa yang telah dia beritahu kepada orang lain. Orang yang demikian mudah kenyang, juga mudah lapar; mudah gembira, juga mudah sedih; mudah gairah, juga mudah dingin; mudah tertawa, juga mudah mengucurkan air mata. Orang yang demikian adalah dangkal, hidup di dalam emosi, hidup di dalam lingkungan situasi.
Kita tahu, kalau sebuah pohon itu besar, akarnya pasti dalam. Ada akar pohon yang dalamnya mencapai ratusan meter. Karena akar pohon itu ingin menghisap air di bawah tanah, dan di atas tidak mendapatkan air, maka ia terus berakar ke dalam sampai mencapai sumber air. Pohon beringin di padang pasir Arab, meskipun terkena sinar matahari yang sangat terik tapi warnanya tetap hijau dan hidup. Karena akarnya telah mencapai kedalaman, menghisap air, maka ia tidak takut terik matahari. Orang Kristen yang berakar ke bawah, tidak akan takut terik matahari. Oh, semua orang yang hidup berdasarkan situasi lingkungan, semua orang yang hidup berdasarkan perasaan, adalah orang yang tanahnya tipis. Orang yang mudah diatur oleh perasaan, orang yang mudah terpengaruh oleh suasana sekeliling, adalah orang yang tanahnya tipis. Orang yang dalam tidak melihat situasi sekeliling, tidak berdasarkan perasaan, hanya hidup berdasarkan iman. Yang diharapkan dan disandari orang yang dalam bukanlah lingkungan, melainkan Tuhan di balik situasi itu. Orang demikian, di luar situasi mendapatkan suplai Allah, mendapatkan tunjangan dan kekuatan Allah. Orang yang hiduppya tidak berharap kepada Tuhan di balik situasi, tetapi hidup berdasarkan emosi, berdasarkan situasi, tidak akan bisa mempertahankan satu kebenaran atau satu ajaran pun. Orang yang demikian, ketika situasi lancar dia sangat lincah, sangat senang; begitu mengalami ujian, segera menundukkan kepala, muram durja dan tenggelam. Begitu salib datang, dia langsung jatuh. Saudara-saudari, kalau begitu menjumpai ujian Anda segera mundur, segera layu, itu membuktikan bahwa Anda adalah orang yang tanahnya tipis; karena begitu matahari terbit menyinari Anda, Anda segera layu dan kering.
Sebab Kedua - Tidak Berakar
Sebab kedua adalah tidak berakar. Apa yang disebut akar? Bagian pohon yang tertampak di luar adalah batang; bagian yang terpendam di dalam tanah, yang tidak kelihatan adalah akar. Bagian yang ada hayat, dan yang kelihatan adalah carang; bagian yang ada hayat dan yang tidak kelibatan adalah akar. Sebab itu, akar mengacu kepada kehidupan yang tersembunyi. Barangsiapa di hadapan Tuhan tidak ada akar, hayatnya pasti kering. Barangsiapa pada aspek rohani tidak ada kehidupan yang tersembunyi, yang seluruhnya terungkap di depan manusia, adalah orang yang tidak berakar. Akar adalah bagian yang tidak kelihatan, bagian yang tersembunyi; yang kelihatan di luar, yang tersembul di luar, bukanlah akar.
Saudara-saudari, Anda harus bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya selain penghidupan yang terlibat di depan orang, di depan Tuhan ada berapa banyak kehidupan Anda yang tersembunyi? Kalau yang Anda miliki semuanya adalah bagian yang ternyata di luar, yang hanya sedikit itu, maka tidaklah heran jika begitu matahari terbit, Anda segera layu. Dalam penghidupan rohani, tidak ada satu perkara yang bisa menjaga Anda seperti penghidupan yang tersembunyi. Kalau Anda njampak seorang saudara atau saudari jatuh, jangan mengira ini satu keadaan yang kebetulan atau keadaan yang mendadak. Ketahuilah, penghidupannya yang tersembunyi di depan Tuhan sudah lama hilang. Karena dia tidak berakar, begitu matahari terbit, dia segera jatuh.
Dalam Injil Matius 6:6 Tuhan Yesus berkata, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Menutup pintu adalah penghidupan yang tersembunyi, adalah akar. Tuhan di sini berkata dengan sangat istimewa. Ia berkata, "Bapa akan melihat yang tersembunyi."Oh, berdoa itu bisa dilihat. Kita selalu mengira berdoa adalah didengar, tetapi Tuhan berkata, "dilihat". Sebab itu, ada kalanya di hadapan Allah kita tidak ada kata-kata, hanya ada satu sikap, itu juga sangat berharga. Oh, saudara-saudari, berapa banyak dari hidup Anda yang dilihat dengan tersembunyi oleh Allah? Atau segala sesuatu Anda hanya terpamerkan di depan orang? Sebenarnya, di hadapan Allah Anda memiliki berapa banyak penghidupan rohani yang selamanya belum pernah diungkapkan? Sebenarnya Anda memiliki berapa banyak pengalaman seperti yang dimiliki Paulus, yang selama 14 tahun tidak diketahui oleh orang lain (II Korintus 12:2). Kalau belum ada, ini membuktikan Anda tidak berakar. Kalau Anda seorang yang tidak berakar, begitu matahari terbit menyinari Anda, Anda segera jatuh. Saudara-saudari, jika apa yang Anda miliki masih tertinggal setelah diuji, itu baru bisa diandalkan. Kalau akar Anda tidak dalam, Anda pasti gagal.
Sebab Ketiga -- Berbatu-batu
Sebab yang ketiga, di bawah tanah yang tipis itu masib. ada batu-batu. Orang yang tanahnya tipis, akarnya bukan tidak mau masuk ke dalam, melainkan ada batu yang menghalanginya. Di luar, ia same, dengan orang lain; tetapi di dalamnya ada dosa, yang tersembunyi, ada kekerasan dirinya sendiri. Batu di dalam Alkitab memiliki beberapa arti. Salah satu arti mengacu kepada hati yang keras (Yehezkiel 36:26). Dalam hal rohani, kita harus berakar dengan dalam, tidak boleh mengeraskan hati (Ibrani M). Banyak orang Kristen yang maksudnya sendiri belum pernah terpukul, individunya belum pernah diremukkan. Kalau menyinggung kehendak Allah, ia selalu mempunyai banyak alasan untuk menolak. Dia selalu menurut pandangannya sendiri, barns begini, harus begitu. Di dalamnya ada batu, hatinya sangat keras. Allah harus terlebih dulu menghancurkan batu yang di dalamnya, baru dia bisa berakar ke bawah. Hanya semacam orang yang bisa berakar ke bawah, yaitu orang yang setelah mendengar firman Tuhan menjadi gentar (Yesaya W5). Saudara-saudari, ketahuilah, hati yang tidak mau taat kepada Allah adalah hati batu. Kita harus mohon Tuhan memberi kita terang, tampak di dalam kita ada batu yang seberapa besar. Kalau di dalam kita ada batu, kita tidak bisa berakar ke bawah; jika demikian, begitu matahari terbit memancarkan panasnya, kite. tidak bisa tidak layu.
Batu bukan hanya mengacu kepada hati yang keras, juga mengacu kepada dosa yang tersembunyi, yang belum kelibatan. Kalau di dalam hayat Anda ada satu dosa yang belum disingkirkan, atau karena harganya terlalu besar sehingga Anda tidak berani membereskannya, atau karena permintaan Allah terlalu berat sehingga Anda terus tidak bisa taat; Anda terus beralasan, Anda terue bergumul dengan Allah, Anda terus mempertahankan dosa yang tersembunyi, yang belum ternyata; maka Anda tidak bisa berakar ke bawah. Begitu matahari terbit memancarkan panasnya, bagaimana. Anda tidak menjadi layu dan kering.
Terik Matahari
Saudara-saudari, kalau kita tidak memiliki terang, kita tidak akan tahu betapa dangkalnya diri kita. Kalau tidak ada terik matahari, kita tidak akan mengerti, mengapa orang yang bertumbuh paling cepat, juga akan kering paling cepat. Seringkah kita tertipu oleh diri sendiri, kita merasa puas diri, kita puas akan keadaan rohani kita, kita merasa diri kita luar biasa. Ternyata, begitu matahari terbit, kita pun layu.
Mengapa Allah membiarkan matahari menyinari kita, membiarkan kesulitan menimpa kita? Saudara-saudari, ketahuilah, ini adalah penyataan kasih Tuhan yang paling tinggi -- salib. Oh, tidak ada satu perkara yang memelihara hayat kita lebih baik daripada salib, juga tidak ada satu ujian yang lebih baik daripada salib. Pada suatu hari, kita mendengar suatu kebenaran, kita dengan gembira segera menerima, kita juga mempersembahkan diri kepada Tuhan. Kita lalu mengira diri sendiri baik, bernilai tinggi. Sebab itu, Allah khusus memberi kita ujian, memberi kita salib, supaya kita tampak diri kita sendiri. Sampai suatu hari, kita malah bergumul dengan Allah. Yang kita harapkan dari Allah bukan demikian, tapi Allah berbuat demikian. Tempat yang Allah kehendaki kita kunjungi, bukanlah tempat yang kita senangi; perkara yang Allah atur untuk kita kerjakan, bukanlah perkara yang kita senangi. Sebab itu kita tidak puas, kita tidak bisa tidak salah paham kepada Allah, menyalahkan Allah, lalu kita berselisih dengan Allah.
Saudara-saudari, ketahuilah, perselisihan dengan Allah bisa membuat Anda menjadi layu. Semua kelayuan rohani berawal dari terjadinya perselisihan dengan Allah. Oh, kalau Allah mengalah, dan Anda menang, hasilnya Anda pasti layu. Sebab itu, salib adalah ujian terhadap kita, yang akan menentukan hayat kita akan masuk ke dalam atau akan layu. Dengan kata lain, kekayaan atau kelayuan hayat kita tergantung pada bagaimana kita membereskan perselisihan kita dengan Allah. Kalau Anda menang, karena Allah mengalah, maka hayat Anda selain layu tidak ada akibat yang lainnya lagi. Sebab itu, jangan sekali-kali Anda bersukacita, merasa bebas dan gembira karena Anda : telah menang. Ketahuilah, ini hanya membuktikan babwa hayat Anda segera menjadi layu, hidup Anda segera jatuh. Pengalaman banyak orang Kristen bisa membuktikan hal ini. Tidak pernah satu kali pun ketika Allah mengalah, hasilnya hayat Anda malah tambah kaya. Sebab itu, jika di antam Anda dengan Allah, ada satu pergumulan yang belum terselesalkan, masih ada satu masalah yang belum terselesaikan, masih ada satu kehendak yang belum jelas, Anda harus hati-hati. Kalau Anda bercabang hati, Anda tidak puas akan pengaturan Allah, Anda ingin menempuh jalan yang Anda sendiri pandang baik, tidak perlu menunggu sampai ternyata di luar, di dalam Anda sudah mulai layu.
Saudara-saudari, setelah mendengarkan satu berita firman, kita tidak boleh menganggap sudah mendapatkannya. Allah harus mendapatkan situasi yang dibutuhkan firman ini, untuk menguji apakah Anda benar-benar sudah menerima atau hanya di luaran menerima. Allah harus mendapatkan satu situasi untuk memberitahu Anda, bahwa tidak ada ajaran Alkitab yang bisa diperoleh tanpa mengeluarkan harga. Setelah Anda mendengarkan firman tentang kesabaran, Allah lalu mengatur Anda mengalami kesengsaraan karena "kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan" (Roma 5:3). Setelah Anda mendengarkan firman tentang taat, Allah lalu membiarkan Anda mengalami penderitaan supaya Anda "belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya" (Ibrani 5:8). Setelah Anda mendengarkan firman tentang lemah lembut, Allah lalu membuat Anda menjumpai orang-orang yang merangsang Anda, perkara-perkara yang merangsang Anda, supaya Anda "harus ramah terhadap semua orang" (II Timotius 2:24). Setelah Anda mendengar firman harus "percaya",Allah lalu seperti tersembunyi, seperti tidak mendengar seruan Anda, tidak mempedulikan Anda, supaya Anda "terhadap janji Allah ... tidak bimbang karena ketidak percayaan, malah ... diperkuat dalam imannya dan ... memuliakan Allah" (Roma 4:20). Setiap kali Anda mendengar satu berita, seolah-olah ada perkara menunggu untuk menguji Anda. Oh, saudara-saudari, setelah Anda tahan uji, firman ini di atas diri Anda barulah riil.
Allah tidak pernah membiarkan kita begitu saja setelah mendengar berita konsekrasi. Allah harus menguji kita. Allah hanya bisa memakai orang yang tetap berdiri setelah melewati ujian. Seorang saudari tua yang telah bertahun-tahun melayani Tuhan berkata kepada seorang pemuda yang baru keluar melayani Tuhan :
"Semua roti yang dipersembahkan ke tangan Tuhan akan dipecahkanNya, kemudian baru dibagikan kepada orang. Roti yang belum dipecahkan tidak bisa mengubah dan memelihara hidup orang lain. Seringkali kita mempersembahkan diri, sambil memendam satu harapan, ‘Ya Tuhan, aku sudah mempersembahkan diri, tetapi jangan sekali-kaii memecah-mecahkan aku!’ Kita selalu mengharapkan roti itu tetap utuh selamanya, tetap tidak bergerak selamanya. Tetapi roti yang diletakkan di tangan Tuhan, tidak ada yang tidak dipecah-pecahkan. Kalau Anda tidak mau dipecah-pecahkan, janganlah meletakkan diri Anda ke tangan Tuhan."
Saudara-saudari, demikianlah perkataan orang yang mengenal Tuhan. Setiap roti yang diletakkan di tangan Tuhan, pasti diremukkan oleh Tuhan. Kesulitan banyak orang Kristen ada di sini : setelah mendengarkan satu berita, dengan senang berkata, "Tuhan, aku menyerahkan segalaku kepadaMu." Tetapi ketika Tuhan memecah-mecahkannya, ia mengharapkan sebaiknya tidak ada kejadian itu. Saudara-saudari, di satu pihak Anda telah dipegang oleh Allah, di pihak lain Anda tak mau dipecah-pecahkan; penghidupan demikian adalah penghidupan yang paling menderita. Saudara-saudari, kalau Anda mau mempunyai hayat yang limpah, Anda harus membiarkan Allah mengizinkan banyak urusan menguji Anda.