Daftar isi Pemborosan dan Pragmatisme · bab 1/1

Pemborosan dan Pragmatisme

"Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepadaNya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak ku dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat ku murid-murid gusar dan berkata : "Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak ku dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin" Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata : Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuhKu, ia membuat suatu persiapan untuk penguburanKu. Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."

Matius 26:6-13

Ayat-ayat di atas telah dua kali saya uraikan pada waktu-waktu yang lalu. Kini saya tidak ingin mengulangi uraian mengenai arti ayat-ayat tersebut. Yang ingin saya singgung adalah keistimewaan catatan Injil Matius, yang juga mengandung ajaran-ajaran rohani yang berguna bagi kita.

Ayat-ayat tersebut ditujukan kepada perbuatan Maria, namun Injil Matius Ini tidak menyebut nama Maria, tidak sama dengan catatan Injil lainnya. Mengapa Injil Matius hanya mengatakan "seorang perempuan"? Ini berarti, bahwa apa yang dilakukan oleh perempuan itu, tidak hanya dapat dilakukan oleh seorang perempuan yang bernama Maria, tetapi juga dapat dilakukan oleh perempuan-perempuan lainnya. Jadi istilah perempuan di sini bukan ditujukan melulu untuk seorang perempuan tertentu. Di samping itu, dengan tersembunyinya nama perempuan ini, juga menyatakan tidaklah penting menonjolkan orang yang melakukan perkara ini; hanya diri Tuhan yang patut mendapatkan perhatian.

Seperti kita ketahui, keluarga Maria tidak mempunyai pembantu, kecuali kakaknya Marta dan adiknya Lazarus, tidak ada lagi orang lain di rumahnya, karena itu, Maria sendirilah yang melayani Tuhan. Kita juga tahu, bahwa mereka bukanlah keluarga kaya. Tetapi satu perkara yang mengherankan, yaitu Maria dapat membeli satu buli-buli minyak narwastu murni (tercatat pada kitab Injil yang lain), tersimpan dalam buli-buli pualam; minyak narwastu murni dalam buli-buli pualam ini tentu sangat mahal harganya. (Pada zaman sekarang, boleh dikatakan tidak ada minyak wangi yang semahal itu). Perbuatannya itu menimbulkan kritikan/ tegoran yang keras dari orang banyak. Mereka mengatakan, "Untuk apa mengurapi kepala Yesus dengan minyak yang seharga tiga ratus dinar lebih itu, tidakkah lebih baik minyak itu dijual saja dan uangnya dapat disedekahkan kepada orang yang miskin?" Tetapi Tuhan berkata kepada mereka, "Di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga." Saya percaya, ke manapun Injil tersebar, perkara Maria ini juga akan diberitakan di sana. Jika Injil telah tersebar sampai di suatu tempat dan perkara Maria ini tidak diberitakan di sana, ini tidaklah patut. Di mana ada Injil, di situ harus ada perkara Maria ini. Dengan perkataan lain, jika ada orang memahami Injil, ia harus pula mengetahui perkara Maria. Sayang sekali, Injil telah diberitakan di banyak tempat, namun perkara Maria ini masih belum diberitakan.

Orang yang tidak mengerti akan bertanya, "Mengapa uang sebesar tiga ratus dinar lebih itu memiliki manfaat yang begitu besar?" Ya, tiga ratus dinar lebih ini benar-benar memiliki manfaat yang begitu besar. Karena Tuhan Yesuspun dijual dengan harga tiga ratus dinar lebih. Janganlah Anda salah paham terhadap saya. Injil bernilai tiga ratus dinar lebih. Penilaian musuh terhadap Tuhan Yesus juga tiga ratus dinar lebih. Dengan perkataan lain, tiga ratus dinar lebih yang kedua, bukanlah tiga ratus dinar lebih, melainkan dalam pandangan musuh, hanya bernilai tiga ratus dinar lebih. Dengan perkataan lain, satu buli-buli minyak narwastu bernilai tiga ratus dinar lebih, itu berarti Maria telah menjual dirinya sendiri. Dengan perkataan yang lain lagi, Maria sendiri adalah minyak narwastu di dalam buli-buli, dia ditaruh di dalam buli-bull untuk dijual kepada Tuhan.

Mengapa di mana Injil diberitakan, harus pula menyebutkan perkara Maria? Sebab setiap kali Injil diberitakan, perlu ada perkara Maria untuk mempertahankan keseimbangan kebenaran. Jika di suatu tempat hanya ada pemberitaan Injil tanpa pemberitaan perkara Maria, kebenaran akan menjadi berat sebelah. Orang mudah sekali memberitakan Injil, namun tidak memberitakan perkara Maria. Mengapa? Tidak lain karena pemberitaan Injil kadang-kadang bisa berbahaya karena melampaui batas, dan tidak ada keseimbangan yang semestinya. Pada hari ini, memberitakan Injil sangat mudah. Injil yang diberitakan di antara kita dan yang diberitakan di antara orang dunia, hanyalah untuk memuaskan diri kita. Kita percaya Tuhan Yesus adalah supaya kita mendapatkan keuntungan, sukacita, damai, kita mendapatkan sesuatu. Kita sudah merasa senang jika kita mendapatkan keuntungan, sukacita, damai dan mendapatkan sesuatu. Banyak orang percaya Kristus hanya sampai pada taraf beroleh selamat, tidak binasa, kelak tidak masuk ke neraka, melainkan beroleh hidup yang kekal, naik ke surga; banyak orang percaya Kristus, tapi tidak mencapai taraf mempersembahkan diri kepada Tuhan. Banyak pemberitaan Injil hanya memberitahu orang tentang beroleh selamat, pindah dari dalam maut ke dalam hidup, terhindar dari hukuman, mendapatkan hidup kekal, dan sejenisnya, semua ini suka didengar orang. Tetapi jika Anda memberitahu mereka, setelah percaya Tuhan, harus mempersembahkan diri kepada Tuhan, taat kepada Tuhan, menjadi hamba dan tawananNya, mereka tidak mau. Banyak orang hanya tampak beroleh selamat berarti terlepas dari hukuman, mereka tidak tampak beroleh selamat juga berarti terlepas dari diri sendiri. Banyak keselamatan yang diperoleh orang hanya sebagai kelepasan dari neraka saja, belum sebagai kelepasan dari keduniawian. Banyak orang memandang keselamatan hanya sebagai kebahagiaan hidup kekal, belum tampak bahwa beroleh selamat itu berarti didapatkan oleh Tuhan. Jika semuanya ditaruh di dalam tangan Tuhan, maka banyak orang yang akan tersingkir.

Perbedaan yang demikian sudah nyata pada masa Tuhan Yesus. Hal ini khususnya tertulis dalam Injil Lukas. Di sana tercatat, ada seorang mengadakan perjamuan besar dan menyuruh hamba-hambanya mengundang orang-orang yang timpang dan yang cacat untuk menikmati jamuannya. Inilah perjamuan Injil, dan banyak sekali orang yang menghadirinya. Tuhan memberikan perjamuan InjilNya kepada semua orang, tidak peduli siapa, semuanya boleh datang. Pada saat itu, banyak sekali orang yang datang; tercatat dalam Alkitab, bahwa ada banyak orang yang berjalan bersama Tuhan. Orang-orang itu merasa betapa baiknya Injil itu, sebab Injil adalah perkataan indah yang keluar dari mulut Anak Allah. Tetapi mengherankan sekali, Tuhan melanjutkan perkataannya, mengatakan, "Barangsiapa tidak memikul salib dan mengikut Aku, tidak layak menjadi muridKu, barangsiapa mengasihi ibu bapanya, lebih daripadaKu tidak dapat menjadi muridKu barangsiapa tidak melepaskan semua yang milik dunia, tidak dapat menjadi muridKu." Setelah Tuhan memberitakan Injil, Ia segera membicarakan hubungan kita dengan Tuhan.

Terhadap keselamatan, banyak orang hanya mempunyai konsepsi tidak terhukum di neraka saja, tidak mempunyai konsepsi Kristus. Banyak orang percaya Kristus hanya sebab Kristus itu suatu metode beroleh selamat, bukan percaya Kristus karena Kristus memang patut dipercayai. Banyak orang tidak tampak, bahwa percaya Kristus adalah mengambil diri Kristus sebagai tujuan. Mereka hanya tampak, dengan percaya Kristus, mereka bisa datang ke hadapan Bapa, bisa masuk ke surga. Tuhan Yesus berkata, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup." Banyak orang percaya Kristus adalah jalan, adalah metode, tetapi tidak tampak Kristus adalah hidup (hayat). Mereka berpikir, "Aku percaya Kristus karena Kristus adalah sarana yang terbaik yang bisa menyelamatkan aku. Bersandarkan Kristus aku bisa datang ke hadapan Allah, masuk ke surga." Mereka tidak tampak Kristus adalah hidup, adalah tujuan. Banyak orang berpikir, "Aku ingin naik ke surga, aku tidak mau menerima hukuman, namun aku sendiri tidak bisa mencapainya, maka lebih baik minta pertolongan Kristus." Kristus adalah prosedur yang membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka, Kristus bukan tujuan mereka. Mereka sama sekali tidak mengerti perkara-perkara yang telah dirampungkan oleh Kristus. Inilah bahaya Injil yang mungkin tedadi ditengah-tengah kita. Sebab itu, perlu perkara Maria juga diberitakan. Hanya mendengarkan dan percaya Injil saja masih kurang, kita perlu juga mencium aroma harum minyak narwastu mumi itu. Beroleh selamat bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan segalanya untuk Kristus. Inilah kisah Maria.

Di sebuah sekolah minggu, seorang guru bertanya kepada anak-anak, siapa yang mau menjadi Lazarus? Siapa yang ingin menjadi hartawan? Ada anak yang menjawab, "Aku mau menjadi Lazarus, sebab kelak bisa menikmati kebahagiaan." Anak lain menjawab, "Aku mau menjadi hartawan, sebab aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak." Ada satu anak menjawab, "Ketika hidup di bumi, aku mau menjadi hartawan, setelah aku mati, aku mau menjadi Lazarus." Banyak orang Kristen mempunyai pikiran demikian, paling baik menikmati kebahagiaan sewaktu hidup di dunia masa kini, juga menikmati kebahagiaan setelah mati kelak; ingin menikmati kebahagiaan di dua alam itu. Inilah jalan yang ditempuh oleh kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Maria hari ini adalah menjadi Lazarus selagi hidup, juga tetap menjadi Lazarus setelah mati. Sebagaimana ia menghampiri Allah setelah mati, iapun menghampiri Allah semasa masih hidup. Sebagaimana ia mengesampingkan dunia ketika ia mati, iapun mengesampingkan dunia ketika ia masih hidup. Setelah mati ia menjadi Lazarus, ketika masih hidup, ia juga adalah Lazarus. Inilah kisah Maria.

Di sini tidak berarti kita tidak mementingkan pemberitaan Injil; kita benar-benar memperhatikan hal pemberitaan Injil. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa jika Injil diberitakan di seribu atau sepuluh ribu tempat sekalipun, perbuatan Maria juga harus diberitakan di sana. Jika hanya ada pemberitaan Injil saja, di sinilah letak bahayanya. Karena itu, kisah Maria harus juga diberitakan. Di satu pihak, Anda harus mendapatkan Injil, di pihak lain, Anda juga harus memberikan segala-galanya kepada Tuhan. Paulus berkata, "Satu orang sudah mati untuk semua orang" (2Korintus 5:14). Inilah Injil. Tetapi tidak berhenti sampai di sini, selanjutnya dikatakan, "Supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (ayat 15). Ini baru berarti melakukan apa yang dilakukan oleh Maria. Tuhan adalah Tuhan yang telah mati bagiku. Tujuan kematian dan kebangkitanNya ialah supaya aku hidup bagiNya. Di sini dengan jelas sekali memberitahu kita, bahwa tidak ada orang Kristen yang hanya beroleh selamat tanpa menerima penderitaan. Kita tidak hanya ditentukan untuk percaya Tuhan Yesus, tetapi juga ditentukan untuk menderita bagi Tuhan. Inilah yang dikatakan oleh Paulus. Jadi, kita harus tahu, bahwa kita telah ditetapkan untuk percaya Tuhan Yesus, juga telah ditetapkan untuk menderita bagi Tuhan. Banyak orang percaya Kristus hanya sampai ke taraf supaya menerima sukacita saja, tidak mencapai taraf percaya supaya menderita bagi Tuhan Yesus. Banyak orang tidak mengetahui apakah percaya Tuhan Yesus itu. Ketahuilah, percaya Kristus juga berarti percaya hingga menerima penderitaan karena Tuhan Yesus. Puji syukur kepada Allah, sebab penderitaan ini sangat berharga! Banyak orang percaya Yesus hanya sampai masuk ke surga saja, belum sampai keluar dari dunia; banyak orang percaya Yesus hanya sampai diperkenan Allah, belum sampai dibenci orang. Tetapi seorang imani yang sempurna, seorang yang seluruhnya dimiliki Kristus, adalah orang yang percaya Tuhan Yesus sedemikian rupa sehingga diperkenan Allah juga dibenci manusia. Sebab itu, perkara Maria ini harus disampaikan setelah pemberitaan Injil, kisah Maria harus diteruskan. Hari ini, banyak sekali orang yang percaya kepada Injil, namun sedikit sekali orang yang seperti Maria. Semoga kita hari ini tidak saja percaya Injil, juga menjadi orang yang percaya Injil seperti Maria.

"Datanglah seorang perempuan kepadanya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan" (ayat 7). Dalam Injil Markus dikatakan, bahwa ia terlebih dulu memecahkan buli-buli itu, kemudian baru mengurapkan minyak wangi ke atas kepala Tuhan. Ketika ia berbuat demikian, maka Yudas mendahului semua orang mencela perbuatannya, bahwa ia telah memboroskan tiga ratus dinar lebih; lebih baik uang tiga ratus dinar lebih itu disedekahkan kepada orang miskin. Minyak wangi dapat dijual seharga tiga ratus dinar lebih, paham apakah ini? Apakah tujuannya? Di samping itu, Maria menuangkan minyak ke atas tubuh Tuhan, paham apa pula. ini? Apakah tujuannya?

Perbuatan Maria

Mari kita membicarakan Maria dulu. Maria menuangkan minyak wangi ke atas kepala dan tubuh Tuhan adalah untuk penguburan Tuhan. Maria berpikir, "Aku telah tampak betapa Dia telah membangkitkan adikku dari kematian, Diapun sering datang ke Betania, berkunjung ke rumahku. Dia sungguh-sungguh adalah Juruselamatku yang kekasih. Telah empat kali Dia berkata kepada murid-muridNya, bahwa Dia akan mati (Lihat Matius 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2), namun murid-murid tidak mengerti untuk apa Dia mati. Tetapi aku tahu, bahwa Ia mati adalah untukku. Setelah Dia mati, tentu ada orang yang mengurapiNya dengan minyak wangi, mur dan kemenyan, tetapi aku tidak mau melakukan hal itu setelah Dia mati; aku mau melakukannya ketika Dia masih hidup. Aku mau mencurahkan segala- galaku ke atas diriNya. Apakah gunanya kalau aku mengurapiNya setelah Dia mati? Mumpung Dia masih hidup, lebih baik aku mengurapiNya sekarang juga!" Coba Anda bayangkan, betapa mahainya satu buli-buli minyak wangi yang berharga tiga ratus dinar lebih itu, mungkin pada hari inipun tidak ada minyak wangi yang semahal itu; jadi boleh dikatakan pada waktu itu barang itu adalah barang yang sangat berharga.

Kapankah Maria melakukan hal itu? Ketika Tuhan sedang duduk makan. Yaitu pada saat Tuhan sedang senang, dan tidak merasakan apa-apa; ia dengan diam-diam melaksanakannya. Dia tidak mau kalau Tuhan tahu lebih dulu, dia juga tidak memberitahu Tuhan. Sebelum orang lain melakukannya, dia dengan diam-diam melakukannya di atas diri Tuhan. Apakah artinya ini? Banyak orang mau keselamatan, namun tidak mau Juruselamat; banyak orang menghargai keselamatan, namun tidak menghargai Juruselamat; banyak orang mengindahkan agama Kristen, namun tidak mengindahkan Kristus; banyak orang menghargai pekerjaan penebusan, namun tidak menghargai Tuhan Penebus; banyak orang menghargai salib Kristus, namun tidak menghargai Kristus yang tersalib. Banyak orang bertanya, "Apakah untungnya bila aku percaya Yesus? Inilah perkataan mereka yang pertama. Mereka tidak bertanya, "Jika aku percaya Yesus, aku harus memiliki hubungan yang bagaimana dengan Tuhan Yesus? Hanya Maria yang mengetahui hal ini. Inilah titik perbedaannya. Maria tahu, "Tuhan mati bagiku, bangkit bagiku, aku harus memberikan kasih dan segala-galaku kepadaNya. Aku harus meleburkan segala-galaku ke dalam minyak narwastu murni ini untuk kemudian kucurahkan ke atas diri Tuhan." Maria telah mencurahkan segala-galanya ke atas diri Tuhan. Hanya Maria yang mengetahui kematian Tuhan. Pada hari pertama dalam satu, minggu itu, banyak perempuan yang pergi ke makam Tuhan dengan maksud mengurapi tubuh Tuhan. Tetapi sudah terlambat! Hanya satu perempuan yang tidak terlambat, karena hanya dia yang mengetahui kematian Tuhan, hanya dia yang mempersembahkan, memberikan kepada Tuhannya.

Sikap Para Murid

Murid-murid Tuhan menganggap, bahwa perbuatan Maria yang demikian itu adalah suatu. pemborosan, suatu penghamburan. Mereka berpendapat, lebih baik tiga ratus dinar lebih itu disedekahkan kepada orang miskin. Hari ini dalam gereja juga ada dua prinsip ini. Sekelompok orang seperti Maria, yakni rela memberikan segalanya kepada Kristus, merasa Kristus layak mendapatkan segala-galanya; karena diantara aku dan Kristus ada hubungan kasih, maka aku mau menyerahkan segalanya kepadaNya. Tetapi ada sekelompok orang lagi yang selalu memperhatikan segi pragmatis. Di pihak sini adalah Maria yang berpedoman pada hati, sedang di pihak lain adalah orang yang berpedoman pada administrasi pengaturan. Di sini adalah yang berpegang pada hati, di sana adalah yang berpegang pada. urusan atau cara. Jika dipandang dari segi urusan, saya pribadi juga akan berkata, bahwa perbuatan Maria adalah suatu pemborosan, penghamburan. Tetapi, di antara orang imani, sedikit sekali orang yang tertarik oleh kasih. Kasih adalah kehidupan (hayat), sasaran dan juga segala-galanya. Jangankan tiga ratus dinar, bahkan tiga ratus kali tiga ratus dinarpun tidak terbilang apa-apa. Persoalannya bukan terletak pada nilai bendanya, melainkan terletak pada nilai sasarannya. Benda tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah nilai orang itu.

Manusia selalu menghargai benda-benda yang dikasihinya. Berapa nilai benda-benda mahal yang dipersembahkannya, senilai itu pula Tuhan Yesus baginya. Banyak orang harus berkali-kali menghitung berapa uang yang akan dipersembahkan kepada Tuhan. Sebenarnya, mereka bukan menghitung jumlah uang, melainkan menghitung nilai Tuhan. Berapa banyak yang Anda persembahkan kepadaNya, itulah pernyataan penilaian Anda terhadapNya. Kalau Anda tidak dapat memberi sebanyak itu, itu berarti Ia tidak bernilai sebanyak itu. Ingatlah, satu buli-buli minyak wangi narwastu murni, telah menyatakan nilai Kristus. Minyak narwastu dalam buli-buli itu, bukan menyatakan persembahan Maria, tetapi menyatakan berapa nilai Allah dan Kristus. Seseorang rela berkorban untuk Tuhan, itu bukan menunjukkan orang tersebut telah mengeluarkan berapa, melainkan menunjukkan berapakah harga Kristus. Para martir rela mengorbankan dirinya sendiri, bukan menyatakan berapa banyak pengorbanan mereka, melainkan menyatakan Tuhan layak mendapatkan kehidupan dan jiwa mereka. Setiap orang yang mau menderita sengsara dan mempersembahkan diri kepada Tuhan, itu menyatakan berapa nilai Kristus; setiap orang yang mau mempersembahkan waktunya untuk Kristus, itu menyatakan berapa nilai Kristus. Orang Kristen rela mempersembahkan segala-galanya, itu tak lain dikarenakan Kristus bernilai segala-galanya.

Saya ingin menjelaskan hal ini dengan perumpamaan urusan dan harga : misalkan Anda membeli suatu barang dengan sekian banyak uang, ini berarti nilai barang yang Anda beli itu seharga sekian. Harga benda itu selalu sebanding dengan nilai benda itu. Berapa besar harga yang kita keluarkan, berapa banyak pula barang yang kita dapatkan. Kalau sebuah arloji berharga lima dollar, Anda hanya mau membayarnya lima dollar saja, tidak mungkin mau membayarnya enam dollar. Dengan membayar lima dollar, menyatakan bahwa arloji itu bernilai lima dollar. Harga lima dollar Anda sama dengan nilai arloji yang lima dollar itu; sebab harga selalu sebanding dengan nilai. Begitu pula dengan harga yang Anda keluarkan bagi Tuhan, menyatakan berapa nilai Tuhan bagi Anda.

Murid-murid berpendapat, bahwa tiga ratus dinar lebih itu dapat disedekahkan kepada banyak orang miskin, mungkin cukup untuk menghidupi mereka beberapa bulan. Kalau demikian, maka uang ini akan berguna untuk perkara-perkara secara praktis. Dewasa ini justru ada dua golongan orang yang demikian di dalam gereja. Segolongan orang merasa harus mempersembahkan segala-galanya bagi Tuhan sebab merasa Tuhan patut dikasihi; mereka tidak mempedulikan untung atau rugi, sukses atau gagal, mereka hanya memperhatikan ingin menyukakan hati Tuhan saja; mereka mau melakukan apa saja untuk Tuhan, sekalipun itu sangat merugikan dirinya. Segolongan lainnya berpendapat, bahwa segala-galanya harus diletakkan pada tempat yang bermanfaat. Di mana ada gunanya, letakkanlah di situ; di mana ada hasil, letakkanlah di sana. Jika Anda mau berbuat demikian, Anda akan membawa lebih banyak orang beroleh selamat; jika Anda mau berbuat demikian, Anda akan lebih banyak membantu orang; jika Anda mau berbuat demikian, pekerjaan Anda akan semakin besar. Saudara saudari, konsepsi pragmatis sedemikian ini adalah prinsip Yudas!

"Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Perkataan ini pertama kali diucapkan oleh Yudas, kemudian murid-murid lainnya ikut mengatakan demikian. Keadaan Yudas yang tertulis dalam Injil Yohanes ini tidak tertulis dalam Injil lainnya. Yudas benar-benar seorang ahli ekonomi. Begitu ilmu ekonomi masuk ke dalam hati kita, kasih akan segera keluar dari dalam hati kita. Kalau kita dapat berekonomi dengan Kristus, maka kasih pasti akan keluar. Yang diperhatikan kebanyakan orang sekarang ini ialah, jika kita berbuat begini, pasti akan lebih berhasil; jika kita berbuat begitu, pasti akan lebih efisien. Namun Tuhan akan bertanya, "Apakah perkara itu untukKu?" Tuhan akan berkata kepada kita, "Karena orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." Perkataan ini sangat serius. Dengan kata lain, "Kamu mempunyai sangat banyak waktu untuk bekerja, tetapi kesempatan kamu untuk mengasihi Tuhan hanya pada saat Tuhan masih hidup." Hari ini adalah satu-satunya waktu untuk kita menyatakan kasih kepada Tuhan. Kita mempunyai banyak sekali waktu untuk bekerja pada masa kerajaan seribu tahun. Matius 25 mengatakan, "Barangsiapa setia di dalam perkara kecil, maka Tuhan akan menyuruhnya melakukan perkara yang besar." Jadi waktu kita untuk melakukan perkara besar adalah dalam kerajaan seribu tahun! Oh, banyak sekali orang miskin, banyak sekali pekerjaan, tetapi persoalannya hari ini : bagaimanakah hati kita dalam mengasihi Tuhan? Saya tidak mengatakan, bahwa kita tidak dapat mengasihi Tuhan di dalam masa kekekalan kelak, tetapi kesempatan kita untuk menyatakan kasih kepada Tuhan adalah pada hari ini. Pada hari itu, kita tampak Tuhan dan pasti mengasihiNya, itu tidak heran. Namun hari ini, meskipun kita tidak melihat Tuhan, namun kita mengasihiNya, inilah yang paling indah. Betapa baiknya, pada hari ini kita dapat percaya dan mengasihiNya, meskipun kita belum melihatNya! Ditinjau dari sudut kasih, tidak ada satu perkarapun yang tidak layak kita lakukan untuk Tuhan; tidak ada satupun barang yang kita korbankan bagiNya, yang kita gunakan untukNya, boleh dianggap sebagai pemborosan, sebagai yang merugikan. Ditinjau dari sudut duniawi, penggunaan tiga ratus dinar oleh Maria itu tidak pragmatis, bahkan suatu pemborosan dan sungguh ceroboh. Lain halnya dengan Yudas yang realistis dan selalu memperhatikan keperluan orang, ini sungguh berpikiran bijaksana. Tetapi Tuhan justru mengharapkan dalam gereja penuh dengan Maria yang "ceroboh" itu, Tuhan tidak ingin seorangpun seperti Yudas yang "bijak". Di sini Tuhan telah membuat satu ketetapan yang berlaku untuk selamanya bagi gereja, yaitu prinsip penghidupan gereja bukanlah pragmatisme, melainkan mengasihi Kristus.

Selain itu, masih ada lagi satu perkara yang harus kita perhatikan. Kita harus hati-hati, janganlah kita menggunakan kekuatan jiwa dan kekuatan daging kita. Kita harus membatasi diri, mengekang diri sendiri, lebih-lebih tidak memakai kepintaran sendiri dan kekuatan sendiri untuk bekerja agar pekerjaan menjadi lebih besar dan berkembang. Banyak pekerjaan yang kelihatannya seperti untuk Tuhan, padahal bukan untuk Tuhan; kelihatannya seperti untuk memajukan kerajaan Kristus, padahal bukan. Sayang sekali, bahwa pekerjaan-pekerjaan mereka itu hanyalah ibarat menjual minyak wangi lalu disedekahkan kepada orang-orang miskin. Sungguhpun kita dapat bersedekah kepada lima puluh atau lima ratus, bahkan lima ribu atau lima puluh ribu orang miskin, tetapi di kepala Tuhan Yesus tidak ada minyak yang diurapkan, apakah gunanya? Hari ini, banyak orang yang memperhatikan orang-orang miskin (orang dosa, gereja, pekerjaan), tetapi mereka telah lupa, bahwa di kepala Tuhan tidak ada minyak wangi. Berapa banyak yang dilakukan untuk perkenan Tuhan? Hari ini sangat sedikit orang yang sebagai "bahan besar untuk pekerjaan kecil." Puji syukur kepada Allah! Sejak zaman Tuhan Yesus sampai hari ini, masih ada orang-orang yang mau memboroskan diri bagi Tuhan. Paulus adalah salah seorang yang demikian. Ketika dia masih muda, dia sudah memiliki kedudukan di tengah-tengah bangsa Yahudi. Dia mempunyai harapan besar untuk menjadi salah satu bintang yang cemerlang dalam sejarah orang Yahudi. Tetapi dia malah menjadi murid Yesus, orang Nazaret. Bukankah ini berarti telah memboroskan hidupnya? Sebagai anak didik guru besar Gamaliel, pengetahuan filsafatnya sangat tinggi, yang memungkinkan dirinya menjadi ahli filsafat ternama di zamannya itu. Namun dia malah menjadi pengikut tukang kayu Galilea, bukankah ini berarti telah memboroskan dirinya? Jika kita melihat sejarah gereja selak zaman lalu, ternyata orang yang seperti Paulus ini sangat banyak. Seandainya orang-orang yang bertalenta, berilmu, berpeta lidah, pandai seperti itu berkecimpung di dalam bidang politik, sastra, perdagangan, filsafat alau ilmiah, mereka tentu akan menjadi orang yang melebihi kebanyakan orang. Tetapi apa yang mereka lakukan oleh orang-orang dunia dianggap memboroskan atau menyia-nyiakan hidup semata. Syukur kepada Allah, Kristus bernilai segala-galanya. Orang-orang itu hanya ibarat satu demi satu buli-buli minyak wangi yang tertuang di atas kepala Tuhan. Tetapi orang-orang dunia mengatakan, bahwa mereka telah memboroskan hidupnya; bahkan dalam gerejapun ada orang-orang yang juga berkata, bahwa mereka telah menyia-nyiakan hidupnya.

Masalahnya tidak berhenti sampai di sini. Di dalam perhimpunan yang disebut gerejapun, sangat berkemungkinan menjadi seorang yang "bukan pemboros." Banyak orang telah membawa pragmatisme ke dalam gereja. Mereka selalu menghitung-hitung modal dan membicarakan keuntungan. Yang mereka pikirkan hanya pekerjaan, bukan diri Tuhan. Yang mereka perhatikan adalah keperluan atau kebutuhan, bukan perkenan hati Tuhan. Yang mereka perhatikan adalah hasilnya: berapa orang yang beroleh selamat, berapa orang yang mendapat bantuan; tetapi bukan menjalankan kehendak Tuhan dengan serius dan tulus. Hari ini Tuhan secara khusus mencelikkan mata kita, agar kita tampak betapa pragmatisme adalah paham yang ditolak oleh Tuhan. Syukur kepada Allah, kita hidup di sini tidak perlu menghiraukan orang miskin -- termasuk segala sesuatu yang diwakili orang miskin --, kita cukup memperhatikan perkenan Tuhan saja. Aka tidak, alangkah sulitnya ini. Sebab jika tidak ada orang yang cerdik pandai, tentulah tidak dapat melakukannya dengan baik.

Bahaya yang besar dari pragmatisme ialah ia dapat menggantikan apa yang diperkenan Tuhan. Ia memang lebih baik daripada kenajisan duniawi, namun ia bukan kehendak Tuhan. Orang yang bodoh mudah sekali mengira, bahwa pragmatisme adalah paham yang bisa menyenangkan Allah.

Hari ini dalam gereja dewasa sering timbul pertanyaan, "Apakah pekerjaan ini besar? Dapatkah membuat laporan? Adakah faedah-faedah yang nyata?" Ditinjau dari sudut ilmu ekonomi dunia, memang Yudas lebih bijak daripada Maria, sebab itu dapat disedekahkan kepada orang miskin untuk mereka hidup beberapa bulan, lebih banyak orang yang akan memperoleh manfaatnya; Yudas mementingkan kegunaan dan faedah yang nyata. Tetapi tujuan keselamatan bukan mementingkan soal Anda dan saya naik ke surga, melainkan memperhatikan hubungan Anda dan saya dengan Kristus. Bukan hubungan antara Anda dengan saya, melainkan hubungan antara Anda dan saya dengan Kristus. Seseorang boleh saja menyelamatkan banyak orang, bersedekah kepada banyak orang miskin, dan membantu banyak orang di dunia ini, namun Tuhan berkata Padanya, "Aku mencela engkau, karena engkau meninggalkan kasihmu yang semula" (Wahyu 2:2-4). Seseorang boleh memiliki banyak pekerjaan, berjerih payah dan banyak perbuatan lainnya, tetapi sudah kehilangan satu perkara, yaitu kasih.

Misalkan, ada seorang isteri, setiap hari ia sibuk melayani suaminya, juga taat kepada suaminya, tapi bersamaan dengan itu hatinya mencintai laki-laki lain, dapatkah sang suami menerima hal ini? Jika itu Anda, mungkin Anda lebih senang memiliki seorang isteri yang tidak begitu pandai bekerja, namun mengasihi Anda dengan sebulat hatinya. Jika ia bekerja untuk Anda, tetapi hatinya untuk orang lain, Anda pasti tidak menyenanginya. Karena itu, yang Allah perkenan bukaniah kita memberi sedekah kepada tiga puluh atau lima puluh orang miskin, yang Allah perkenan bukanlah pekerjaan yang besar, yang Allah perkenan bukanlah pelayanan kita terhadapnya; yang Allah inginkan ialah kita mencurahkan segenap hati kita kepadaNya. Sebab itu, kita harus tampak dua prinsip yang besar ini : Ada segolongan orang berkata, bahwa yang paling berharga bagi mereka adalah segala-gala mereka, jiwa raga mereka, seluruhnya dicurahkan ke atas diri Tuhan; segolongan orang lagi yang mulutnya mengatakan untuk Tuhan, namun hatinya untuk pekerjaan dan "kegunaan." Hari ini, orang-orang mau yang "berguna," mereka takut kehilangan "kegunaannya." Namun syukur kepada Allah, hari ini di bumi masih ada orang yang tidak mempunyai "kegunaan". Syukur kepada Allah, hari ini di bumi ada orang yang telah memboroskan "kegunaan" dirinya, tetapi telah membuat Kristus mendapatkan sesuatu.

Miss Barber yang sering saya sebutkan, dalam pandangan saya, di antara manusia yang hidup di bumi saat ini, hampir tidak ada seorangpun seperti dia yang begitu mirip dengan Maria. Dia benar-benar telah memboroskan dirinya bagi Tuhan. Pada waktu pemakamannya, seorang saudara menceritakan kisah Maria, dikatakannya bahwa ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya, seperti yang dilakukan oleh Maria. Saya rasa, perkataan saudara itu sangat tepat. Ia benar-benar mirip Maria. Sekarang ini, sulit sekali menemukan orang yang seperti dia. Ketika ia masih hidup, saya pernah bertanya kepadanya, "Apakah syaratnya untuk bekerja bagi Allah?" Ia menjawab, "Syarat untuk bekerja bagi Allah ialah mau tidak bekerja bagi Allah." Orang yang sudi berdiam diri di balik pintu bagi Allah, mau menjadi orang yang tidak dikagumi demi Allah, orang yang demikianlah yang layak melakukan pekerjaan Tuhan.

"Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu" (Matius 26:10). "Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya" (Markus 14:8). Dengan perkataan lain, segala sesuatu Maria ada di sini. Anda dan saya perlu memiliki satu penilaian untuk menggunakan segala kita ke atas diri Kristus. Dengan perkataan lain lagi, yaitu memboroskan segalanya ke atas diri Kristus. Jika Anda hari ini masih belum memboroskan sampai habis, itu belum cukup. Syukur kepada Allah, hari ini banyak orang yang kalau tidak memboroskan dirinya, akan menjadi orang-orang yang sangat berguna. Mereka bisa menjadi sastrawan, ilmuwan, atau dokter. Namun mereka telah memboroskan diri sampai habis pada diri Kristus. Hari ini Allah memanggil orang untuk memboroskan diri bagi Kristus! Saudara saudari, sudahkah Anda melakukan apa yang dapat Anda lakukan? Tuhan dapat berkata kepada Maria, bahwa ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya! Sudahkah Anda melakukan apa yang dapat Anda lakukan? Oh! Sampai di mana Injil diberitakan, pemborosan juga diberitakan di situ! Sampai di mana Injil diberitakan, di situ pula terdapat banyak orang yang membuang kegunaan dan pekerjaannya yang lebih besar demi Tuhan. Sampai di mana Injil diberitakan, di situ lenyaplah hati yang mementingkan hasil dan keuntungan. Sampai di mana Injil diberitakan, di situ segala-galanya dicurahkan ke atas diri Kristus. Yang tercurah ke atas diri Kristus, tidak ada satupun yang boros, tidak ada satupun yang sia-sia, melainkan semuanya adalah riil. Syukur kepada Allah, orang miskin dan pekerjaan tidak terbilang apa-apa. Persoalannya bukan orang miskin mendapatkan bantuan apa, masyarakat mendapatkan faedah apa, negara mendapatkan manfaat apa, melainkan apa yang Tuhan dapatkan? Hari ini, orang-orang di dalam gereja bertanya, "Orang-orang miskin, saudara saudari, masyarakat dan negara sudah mendapatkan apa?" Tetapi kita harus bertanya, "Tuhan mendapatkan apa?" Oh, semoga setelah Injil diberitakan di sini, kisah Mariapun diberitakan di sini. Semoga setelah Injil diberitakan di sini, orang-orang yang menjadi Mariapun bertambah banyak di sini.

Pengampunan Dosa dan Pengakuan Dosa

Pengampunan Dosa Berasal dari Allah

Perkara mengampuni dosa adalah keinginan hati Allah. Allah mengasihi manusia, Allah senang mengampuni dosa manusia. Karena itu sejak manusia berbuat dosa, Allah sudah memikirkan cara untuk menebus dosa.

Dalam Perjanjian Lama, Allah memakal lembu, domba, dan barang-barang lain untuk pengampunan dosa bagi manusia. Sampai Perjanjian Baru, Allah menetapkan Tuhan Yesus -- Dia adalah Anak Domba Allah -- sebagai korban penebus dosa, agar melalui satu kali persembahanNya, manusia mendapatkan penebusan dosa sampai selama- lamanya. Dari sudut pandangan Allah, pencurahan darah Tuhan Yesus di kayu salib, mutlak telah membereskan persoalan dosa manusia. Tetapi dari sudut pandangan manusia, masih harus ditambah satu syarat lagi yaitu "percaya." Barangsiapa percaya pengaliran darah Tuhan Yesus adalah untuk dosanya, dia mendapatkan penebusan, dosanya mendapatkan pengampunan. Barangsiapa tidak percaya, dia tetap binasa, dan akan masuk ke dalam neraka. Karya penebusan dosa ini sudah genap, berasal dari Allah dan diprakarsai oleh Allah. Karya ini adalah pekerjaan yang ingin Allah kerjakan. Sewaktu Allah melaksanakannya, Ia bahkan mengorbankan AnakNya yang tunggal yang Ia kasihi. Betapa besar harga yang Allah keluarkan! Karena itu, hal mengampuni dosa manusia, menebus dosa manusia, bagi Allah tidak menjadi masalah. Hai orang dosa, apakah Anda masih takut dosa Anda tidak bisa mendapatkan pemberesan? Apakah Anda takut dosa Anda tidak bisa mendapatkan pengampunan? Allah mau mengampuni Anda, Allah senang mengampuni Anda, Allah bahkan telah mengeluarkan harga yang sangat besar untuk mengampuni Anda.

Allah Bisa Mengampuni Segala Dosa Manusia

Begitu seorang dosa pereaya darah Tuhan Yesus di salib adalah untuk pengampunan dosanya, saat itu juga dia mendapatkan pengampunan. Satu orang yang sudah percaya, jika dia tidak hati-hati dan melakukan suatu dosa, asal dia mau dengan tulus hati bertobat, mengakuinya di hadapan Allah, dia juga pasti mendapatkan pengampunan dosa (1 Yohanes 1:8). Harga darah yang Tuhan Yesus alirkan sangatlah besar, bisa mengampuni segala dosa manusia, mencuci bersih segala ketidakbenaran manusia. Karena itu tidak peduli dosa itu dosa orang yang belum percaya atau orang yang sudah percaya, Tuhan sanggup membereskannya.

Allah Selamanya Mengampuni Dosa Manusia

Pernah sekali Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, bahwa ia harus mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya, ia harus selalu mengampuni orang, selamanya mengampuni orang; asal seseorang mau berpaling, bertobat, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni. Kalau Tuhan bisa mengajarkan perkataan yang penuh kasih karunia ini kepada Petrus, apakah diri Tuhan sendiri tidak bisa melaksanakannya? Tentu tidak. Tuhan pasti mengampuni dosa orang yang mau bertobat dan bersedih atas dosanya, bahkan selamanya mengampuni dosanya.

Allah Mengampuni Dosa Manusia

Adalah Tanpa Bekas

Banyak orang mengira, bahwa orang yang berbuat dosa itu seperti orang yang salah menulis; dan mengampuni dosa seperti menutupi tulisan yang salah itu, sehingga di sana masib, tertinggal suatu bekas atau suatu jejak. Ketahuilah, pengampunan dosa bukanlah demikian. Darah Tuhan Yesus mencuci bersih dosa manusia. Apakah artinya mencuci bersih? Mencuci bersih berarti mencuci sedemikian rupa, sehingga sedikitpun tidak ada noda lagi, seperti sediakala, yaitu seperti sebelum berbuat dosa, seperti Kristus yang kudus. Yesaya 1:18 mengatakan, "Firman Tuhan - sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi, seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." Lihatlah salju dan bulu domba yang putih, padanya tidak ada noda merah sedikitpun. Semua dosa manusia yang dibasuh oleh Allah, pasti tidak meninggalkan bekas atau noda apapun.

Hati Allah yang Mau Mengampuni Dosa Manusia,

Melebihi Hati Manusia yang Ingin Mendapatkan Pengampunan Dosa

Perkara yang dilakukan oleh bapa terhadap anak yang hilang dalam Lukas pasal 15, benar-benar membuat kita mengenal bagaimana hati Allah Bapa yang di surga terhadap pengampunan dosa manusia. Ketika anak hilang masih dalam pedalanan pulang ke rumahnya, begitu dilihat oleh bapanya, bapanya segera berlari menyambut anak yang hilang ini. Bapa yang tua ini bukan menyambut dengan berjalan secara perlahan-lahan, melainkan berlari menyongsongnya. Karena begitu mendalam kasih bapa terhadap anaknya, maka berjalan baginya terlalu pelan, dia tidak bisa tidak berlari mendapatkannya. Hari ini, begitu orang dosa berpaling kepada Allah, maka "kaki" pengampunan dosa Allah segera berlari menyongsongnya, Dia sangat mengharapkan secepat mungkin mengampuni dosa manusia. Apakah anak yang hilang itu yang berlari kepada bapanya? Tidak. Anak yang hilang tidak berlari. Dari dua tindakan bapa dan anak ini, kita tampak, bahwa hati bapa yang mau mengampuni anaknya melebihi hati anak yang ingin mendapat pengampunan. Jika kita melihat kisah selanjutnya, ciuman bapa kepada anaknya, pelukan bapa terhadap anaknya, semuanya memberitahu kita, bahwa orang dosa yang berpaling kepada Allah sangat diperkenan Allah, sangat disenangi oleh Allah. Meskipun di sana sang anak membenci dosa yang telah ia lakukan, merasa telah berdosa terhadap bapa, telah berdosa terhadap surga, dan mau mengakui dosanya kepada bapanya, tetapi karena begitu mendalam kasih bapa terhadapnya, sang bapa tidak tahan lagi, dia tidak bisa menunggu sampai sang anak menyelesaikan pengakuan dosanya (perhatikan: perkataan pengakuan dosa yang dipersiapkan sang anak dalam Lukas 15:18-19 ada lima kalimat, namun dalam ayat 21, hanya sempat diucapkan empat kalimat, karena telah diputus oleh bapanya) sang bapa segera menyuruh hamba-hambanya mengambil jubah yang terbaik, cincin yang terbaik, sepatu yang terbaik, dan mengenakannya kepadanya. 0, hati Allah Bapa kita yang di surga yang rela mengampuni dosa kita, melebihi hati kita yang ingin mendapatkan pengampunan dosa. Tidak perlu menunggu sampai kita menangis selama tiga hari tiga malam, mengaku dosa dan mengaku lagi, baru kita mendapatkan pengampunan. Sering kali kita selalu mengaku dan mengaku, menangis dan menangis lagi, mengira bahwa diri sendiri harus dipukul sehingga hancur dan terluka baru bisa mendapatkan pengampunan dosa. 0, kita telah salah paham terhadap hati Allah, bahkan telah melukai hatiNya. Ketahuilah, kasihNya terhadap orang yang dibeliNya, jauh melebihi kasih kita terhadap diri kita sendiri. Dia sangat ingin mengampuni kita, Dia "berlari" untuk mengampuni kita, Dia tidak menunggu kita selesai mengaku dosa, Dia sudah mengampuni kita!

Adakalanya, jika seorang anggota keluarga Anda yang Anda kassihi bersalah kepada Anda, bukankah Anda juga menunggu dan siap mengampuni dia? Begitu dia mau dengan hati tulus mengaku salah kepada Anda, atau memberi hadiah sebagai ganti rugi kepada Anda, bukankah Anda segera mengampuninya? 0, di mana ada kasih, di sana ada hati yang mengampuni orang. Kalau yang terjadi di antara manusia saja sudah demikian, apa lagi dengan Allah Bapa yang di surga yang penuh dengan rahmat dan belaskasihan, bukankah Ia akan sampai selama-lamanya mengampuni dosa manusia?

Allah Tidak Bisa Tidak Mengampuni Dosa Manusia

Allah mengutus Tuhan Yesus datang ke bumi, bagi dosa manusia mengalirkan darah di kayu salib, untuk membereskan dosa manusia. Ini mutlak dikarenakan hati Allah yang penuh kasih. Tuhan Yesus telah mengalirkan darah adiNya, Allah sendiri bersaksi bagiNya : orang yang percaya, dosanya diampuni; orang yang mengaku dosa, dosanya dibasuh bersih. Asal percaya (jika Anda adalah seorang dosa), asal mengaku (jika Anda seorang imani), Allah tidak bisa tidak mengampuni dosa Anda. Kalau tidak, Allah tidak bisa dipercaya, Allah bukanlath Allah yang adil. Tetapi dengan sangat khidmat kami akan berkata, "Bagaimana mungkin Allah yang Mahakudus tidak bisa dipercaya dan tidak adil?" Karena itu, bagaimanapun pengampunan dosa ini sudah merupakan satu perkara yang ada jaminannya. Kita harus bersukacita karena Allah, dosa tidak lagi bisa menjadi tuan di atas diri kita, kita bisa terlepas dari dosa, bisa mendapat pengampunan dosa.

Kasih Karunia Pengampunan Allah

Akan Membimbing Orang Bertobat

Setiap kebenaran Allah beraspek dua. Yang kita katakan di atas, khusus menekankan pada aspek kasih karunia, hal ini sangat riil, asal seseorang terpelihara di dalam kasih karunia Allah, ia boleh dengan penuh kelegaan tidak lagi khawatir terhadap persoalan "pengampunan dosa." Tetapi jika orang menganggap karunia Allah itu boleh dengan seenaknya diboroskan, boleh tetap hidup dalam dosa, agar kasih karunia Allah lebih ternyata," orang yang demikian harus memperhatikan kalimat selanjutnya, karena kalimat ini sangat serius. Allah berkata, "Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasanNya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahanNya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahanNya; …" (Roma 11:22).

Ada orang berkata, "Aku setiap hari berbuat dosa dengan bersembunyi di bawah darah adi Tuhan." Ada juga yang berkata, "Pada pagi hari aku berbuat dosa, pada malam hari aku datang ke hadapan Allah untuk mengaku dosa. Begitu aku mengaku dosa, dosaku diampuni. Esok harinya kembali berbuat dosa, malamnya kembali mengaku dosa, kembali mendapatkan pengampunan dosa. Kalau Tuhan Yesus pernah mengajar Petrus untuk mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali, tentu Dia pun harus mengampuni dosaku. Apalagi jika dilihat dari 1 Yohanes 1:9, Allah itu setia dan adil, Dia akan karena kematian penggantian Tuhan Yesus di salib tidak dapat tidak mengampuni dosaku. Walaupun dosa itu adalah dosa yang sudah pernah aku akui di hadapan Allah."

Hai orang yang bodoh! Ketahuilah, kasih karunia Allah adalah untuk membimbing Anda bertobat, bukan untuk mendorong Anda berbuat dosa. Jika Anda bermotivasi bahwa darah adi bisa Anda boroskan dengan sembarangan sesuai dengan kemauan Anda, darah ad! selamanya tidak mungkin membasuh dosa yang Anda "akui secara demikian."

Syarat Orang Kristen Mendapat Pengampunan Dosa

Sekarang marilah kita berdasarkan Alkitab menjawab pertanyaan ini. Mari kita melihat 1 Yohanes 1:7 : "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."

Ayat Alkitab ini menampakkan kepada kita satu syarat dan dua hasil. Jika telah ada satu syarat ini, pasti akan mendapatkan dua hasil. Syarat apakah yang tercantum di sini? Yaitu "jika kita hidup dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang." Ini berarti, jika kita (orang Kristen) hidup di dalam terang, atau dengan kata lain, kita hidup di dalam sorotan terang, maka kita tidak akan hidup di dalam kegelapan, tidak berbuat dosa; memiliki perbuatan terang, tidak memiliki perbuatan dosa kegelapan. Terang di sini adalah terang yang bagaimana? Atau, terang pada taraf yang bagaimana? Di sini dikatakan, "Sama seperti Dia ada di dalam terang." Menurut ayat 5, "Allah adalah terang," di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. (catatan : semua terang yang lain bercampur dengan gelap). Jadi hidup di dalam terang di sini adalah hidup di dalam terang Allah. Jika demikian, kita pasti mendapatkan dua hasil: pertama adalah "Kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain," inilah persekutuan di antara saudara saudari di dalam Tuhan. Setelah memiliki taraf yang di atas, dapatlah saling bersekutu. Jika tidak bisa saling bersekutu, pasti terhadap syarat di atas ada masalah. Tidak saja demikian, masih ada hasil yang kedua, yaitu "Darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." Jadi di sini berarti, setelah memiliki syarat "Hidup di dalam terang," maka pembasuhan dosa kita oleh darah ad! akan berkhasiat. Sekarang kita telah melihat dengan jelas, "saling bersekutu" dan "pembasuhan dosa oleh darah adi," selalu mengikuti syarat "hidup di dalam terang." Orang Kristen yang tidak "hidup di dalam terang," akan kehilangan faedah "saling bersekutu" dan "mendapatkan pengampunan dosa." Sebaliknya, orang yang ingin memiliki persekutuan dan ingin mendapatkan pembasuhan dosa oleh darah, ia harus hidup di dalam terang. Jika tidak, meskipun dia ingin bersekutu, tidak akan bisa; ingin mendapatkan pembasuhan, juga tidak mungkin.

Hasil yang pertama -- persekutuan -- merupakan hal yang kelihatan, bisa dialami di bumi, dan terlihat di hadapan manusia. Hasil yang kedua -- pencucian darah adi -- merupakan hal yang tidak kelihatan, adalah satu fakta di surga, dan di hadapan Allah. Sebagaimana yang kelihatan di bumi adalah satu, fakta, yang tidak kelihatan (yang di surga) juga adalah satu fakta. Karena itu, jika Anda sebagai seorang imani yang berdosa, yang di bumi ini tidak bisa dengan wajar bersekutu, dengan saudara saudari lainnya, begitu melihat saudara saudari dalam Tuhan segera menyembunyikan diri, tidak ingin menemui mereka; dengan sangat serius saya berkata kepada Anda, "Anda adalah orang dosa yang hidup di dalam kegelapan. Begitu Anda kehilangan persekutuan dengan kaum saleh lainnya, maka khasiat penyucian darah adi Tuhan, di hadapan Allah di surga, tidak akan menimpa diri Anda." Sebagaimana Anda kehilangan hasil pertama karena Anda tidak hidup di dalam terang, maka hasil yang kedua pasti juga tidak akan Anda dapatkan. Meskipun Anda bisa di dalam mulut mengakui dosa Anda, tetapi darah adi tidak membasuh bersih dosa Anda itu. Ini bukan berarti bahwa darah adi telah kehilangan kekuatan pembasuhannya, melainkan karena keadaan Anda -- tidak hidup di dalam terang, -- tidak memenuhi syarat pembasuhan dosa oleh darah adi. Syarat pembasuhan dosa adalah "hidup di dalam terang," namun di sini Anda terus-menerus berbuat dosa, terus hidup di dalam kegelapan, karena itu darah adi tidak bisa membasuh dosa Anda; darah adi hanya bisa membasuh dosa orang yang "hidup di dalam terang."

Karena itu saudara saudari, janganlah menipu diri sendiri. Jika Anda berbuat dosa, jatuh, kehilangan persekutuan yang kelihatan, saya khawatir di dalam surga yang tidak kelihatan, darah juga tidak membasuh bersih dosa Anda. Izinkan saya memberitahu Anda, bahkan dengan sangat berat memberitahu Anda, "Jika Anda tidak mau dengan hati yang sedih, remuk, penuh penyesalan sungguh-sungguh menanggulangi dosa Anda, kelak di hadapan takhta pengadilan Kristus, Anda masih, harus mengadakan perhitungan ini." Karena itu, hanya ada pengakuan di mulut, tetapi tidak ada tindakan "hidup d! dalam terang," dengan satu hati yang bersedih dan bertobat (Mazmur 51:19), dosa ini pasti tidak mendapatkan pembasuhan.

Sekarang yang saya bahas adalah khusus tentang satu syarat ini, yaitu "hidup di dalam terang." Karena syarat ini telah sangat diabaikan oleh sekelompok orang yang dengan sembarangan memboroskan darah adi, (sebenarnya darah adi tidak bisa mereka boroskan). Sebenarnya syarat ini adalah satu-satunya obat yang menyelamatkan bagi mereka. Itulah sebabnya saya ingin khusus memperhatikan hal ini. Berdasarkan Alkitab, seorang imani yang berbuat dosa dan ingin mendapatkan pengampunan dosa, sedikitnya ia memerlukan tiga syarat di bawah ink (1) Hati -- Hati yang duka dan bertobat (Mazmur 51:19; dikatakan hati yang patah dan remuk). (2) Mulut -- Mulut yang mengaku dosa (I Yohanes 1:9). (3) Perbuatan -- Hidup di dalam terang (1 Yohanes 1:7). Karena itu, jika ada orang yang merasa bahwa dirinya bisa bersembunyi di bawah darah adi Tuhan dan setiap hari berbuat dosa, atau dengan kata lain pada pagi hati berbuat dosa, malamnya mengaku dosa, lalu bisa mendapatkan pengampunan dosa, saya dengan serius dan tegas berkata kepada mereka, "Tidak ada perkara demikian." Allah tidak bisa dipermainkan. Begitu Anda hidup di dalam kegelapan, saat itu juga darah adi tidak bisa membasuh bersih Anda. Dalam keadaan yang begitu, darah adi tidak bisa menjadi kota perlindungan Anda, tidak bisa menjadi benteng perlindungan Anda. Jika Anda ingin mendapatkan pembasuhan darah. adi, terlebih dahulu Anda harus hidup di dalam terang, tidak lagi sembarangan berbuat dosa.

Pengakuan dosa yang sejati, pasti bersandarkan maksud Allah sehingga bersedih, dan kesedihan ini akan menimbulkan suatu penyesalan/ pertobatan yang tadinya tidak ada. Penyesalan ini memiliki tujuh pernyataan : (1) Kesungguhan yang besar, (2) Pembelaan diri, (3) Kejengkelan (membenci diri), (4) Ketakutan, (5) Kerinduan, (6) Kegiatan (kegairahan), (7) Penghukuman (11 Korintus 7:11). Orang yang memiliki tujuh keadaan di atas, adalah orang yang benar-benar mengaku dosa. Kalau tidak, pengakuannya hanyalah merupakan pengakuan di mulut, bukan pengakuan dosa di hati; hanya ada pengakuan dosa di mulut, tetapi hatinya tidak membenci dosa itu. Sekali lagi saya katakan, "Darah adi tidak akan berkhasiat terhadap orang semacam ini."

Ada orang berbuat dosa, namun tetap membiarkan dosa itu membelenggu dia, karena dia merasa tahu cara untuk mendapatkan pengampunan dosa; atau dengan kata lain, dia tahu jalan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Dia tahu apa yang dikatakan dalam 1 Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Dia mengira Tuhan Yesus telah mengalirkan darah adi baginya, dan darah ad! ini bisa menyuci bersih dosanya. Bersamaan dengan itu Allahpun adalah Allah yang setia dan adil, jika orang mau mengaku dosanya, maka Allah pasti mengampuni semua dosanya, juga menyucikan semua kejahatannya. Lalu, karena dia merasa sudah memiliki jaminan perlindungan ini, maka dia boleh sedikit kendor, boleh sembarangan; dia merasa ada cara untuk mendapatkan pengampunan. Demikianlah dia lalu berbuat dosa. Begitu ia berbuat dosa, lalu mengaku dosa, bukankah semuanya beres. Oh! Orang yang demikian sangatlah berbahaya!

Saya pernah mendengar satu kisah : saudara A membuka surat saudara B. Setelah si A membuka surat itu, ia berkata kepada saudara B dan mengakuinya, "Memang membuka surat pribadi orang itu tidak benar, tetapi aku tahu engkau bisa memaafkan aku, karena itu aku membuka dan melihat suratmu." 0! Inilah contoh orang yang sudah mengetahui jalan mendapatkan pengampunan, lalu dengan sengaja melakukan dosa. Ini berarti telah terkena tipu muslihat Iblis. Orang yang demikian, dalam perjalanan rohani, merupakan batu sandungan, sangat berbahaya. Karena itu kalau hari ini ada orang yang hanya mengenal cara mendapatkan pengampunan dosa dalam 1 Yohanes 1:9 -- Mengaku dosa, -- namun tidak mengetahui syarat yang juga tercantum dalam pasal yang sama, ayat 7, "hidup di dalam terarzg," semoga saat ini juga Anda takut dan gentar, tidak berbuat dosa lagi sehingga berdosa kepada Allah. Izinkan saya berkata lagi, bahwa kasih karunia Allah adalah untuk memimpin Anda bertobat, bukannya mendorong Anda berbuat dosa.

Empat Keadaan Orang Kristen

yang Dosanya Diampuni

Keadaan orang yang tampak bahwa dirinya berbuat dosa, kemudian mengaku dosa, (terhadap Allah atau terhadap manusia) berbeda-beda! Menurut pengamatan saya pribadi, sedikitnya ada empat keadaan seperti di bawah ini :

1. Karena Hati Nuraninya Tidak Damai

Begitu seseorang berbuat dosa, hati nuraninya segera merasa tidak damai, menyalahkannya. Orang yang telah mengakui dosa, hati nuraninya akan merasa damai, tidak lagi tertuduh. Orang boleh saja mengaku dosa karena ada tuduhan dalam hati nurani. Tetapi pengakuan dosa yang hanya karena tuduhan hati nurani, hanya karena supaya hati nurani ada damai, namun tidak melihat penyebab yang lebih dalam daripada ini, (penyebab yang lebih dalam ini ditujukan kepada hakiki dosa yang patut dibenci), hanyalah tindakan menyuap hati nurani. Hati nurani di dalam kita adalah satu organ yang memberitahu keadaan di dalam kita. Hati nurani menuduh, terus bersuara memberitahu kita, itu dikarenakan di dalam kita ada dosa yang patut dibenci. Boleh jadi Anda merasa kesal terhadap tuduhan hati nurani yang terus-menerus, karena itu Anda berusaha mencari satu akal supaya hati nurani tidak menuduh lagi; namun Anda telah melupakan dosa yang patut dibenci yang juga dibenci oleh hati nurani Anda. Anda hanya memperhatikan tuduhan hati nurani, namun mengabaikan penyebab tuduhan hati nurani, yaitu dosa. Akibatnya Anda tidak begitu membenci dosa, malahan merasa kesal terhadap tuduhan hati nurani, sehingga Anda tidak menanggulangi akar dari perkara itu (dosa), sebaliknya malah menanggulangi hati nurani yang mengeluarkan tuduhan. Demikinlah Anda memakai cara mengaku dosa untuk menyuap hati nurani Anda. Tetapi Allah menghendaki kita menanggulangi dosa, bukan menyuap hati nurani.

2. Takut Ada Tuduhan Hati Nurani Orang Lain

Kadangkala Anda bersalah, berdosa kepada orang. Di satu pihak Anda merasa bersalah kepada orang, di pihak lain Anda takut kalau orang itu membenci Anda, memikirkan ketidakbenaran Anda. Supaya hati nurani orang itu tidak menuduh Anda, bisa berdamai dengan Anda, Anda lalu mencari satu kesempatan mengaku dosa kepadanya. Bersamaan dengan itu Anda berpikir, jika orang itu telah mengampuni aku, maka aku berdamai dengan dia, dengan sendirinya ia tidak akan membenciku lagi, hati nuraninya tidak lagi menuduhku. Kalau orang itu tidak mau mengampuni aku, itu adalah urusannya di hadapan Allah, itu adalah tanggung jawabnya (Matius 6:15 mengatakan, "Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu"). Tindakan psikologis semacam ini, tidak jauh berbeda dengan tindakan yang pertama. Karena yang diperhatikan bukan hakiki dosa, melainkan hati nurani orang lain. Berdamai dengan orang adalah perkara yang baik. Tetapi kalau hanya memperhatikan ini lalu mengabaikan hakiki dosa yang patut dibenci, ini bukanlah satu tindakan yang Allah kehendaki kita lakukan dalam menanggulangi dosa.

Orang yang hanya karena dua alasan di atas lalu mengaku dosa, pasti akan menerima satu akibat, yaitu sangat mudah berbuat dosa, juga sangat mudah mengaku dosa. Hatinya tidak merasa bahwa setiap kali berdosa kepada orang, itu juga berdosa kepada Allah, seolah-olah tidak memerlukan darah adi lagi, hanya merasa berhubungan dengan manusia; asal hubungannya dengan manusia beres, sudah merasa cukup. Dia tidak memandang dosa sebagai hal yang patut dibenci, dan tidak memandang mengaku dosa sebagai satu perkara yang cukup serius. Bersamaan dengan itu, dia tidak merasakan memiliki satu hati yang benar-benar bersedih dan menyesal, sewaktu mengaku dosa juga tidak merasa begitu sulit. Pendek kata, terhadap perkara dosa, ia terialu memandang remeh, akibatnya iapun mudah berbuat dosa lagi. Kadangkala dosa yang pertama belum dibereskan, ia sudah berbuat dosa yang sama lagi. Mohon Allah merahmati kita, agar terhadap dosa, kita memiliki penilaian yang sama dengan Dia!

3. Karena Takut Hukuman yang Akan Datang

Ada orang yang teringat akan firman yang tercatat dalam 11 Korintus 5:10 yang mengatakan, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." Orang ini mengetahui penghakiman di depan takhta Kristus, tidak hanya akan menghakimi pekerjiaannya, juga akan menghakimi kelakuannya. Perkara yang hari ini tidak dihakimi oleh Roh Kudus melalui hati nurani dan memperoleh pembasuhan darah adi, kelak pasti akan ditanya oleh Tuhan, karena itu timbullah rasa takut di dalam hatinya. Kalau dosa hari ini harus diperhitungkan kelak, maka mumpung sekarang lebih baik dibereskan terlebih dahulu, sehingga kelak bisa terhindar dari hukuman. Mengaku dosa berdasarkan keadaan ini juga tidak terhitung salah, bahkan lebih baik daripada dua keadaan yang di atas. Karena dua keadaan di atas hanya berhubungan dengan manusia, dan sekarang sedikitnya berhubungan dengan Allah, ada di hadapan Allah, mengaku dosa dikarenakan takut kepada Allah. Orang yang demikian mungkin memiliki dua aspek pengakuan dosa, pertama di hadapan Allah, kedua di hadapan manusia (jika dosa ini berkaitan dengan manusia). Setelah ia mengaku dosa, lalu merasa terhadap Allah maupun terhadap manusia tidak ada lagi tuduhan hati nurani. Pengakuan dosa semacam ini meskipun tidak salah, bahkan boleh dikatakan baik, tetapi masih belum merupakan standar pengakuan dosa yang paling tinggi yang Allah kehendaki ada pada diri kita.

4. Karena Tampak Hakiki Kenajisan Dosa

Inilah keadaan yang Allah inginkan ada pada kita sewaktu kita mengaku dosa. Allah telah menaruh hayatNya sendiri ke dalam kita. Kita telah memiliki hayat ini, maka kita memiliki satu sifat yang sangat kudus, kudus seperti Allah. Di hadapan Allah, dosa adalah satu barang yang sangat najis, yang mutlak tidak bisa berdampingan dengan kekudusan Allah. Allah memberikan hayatNya yang kudus kepada kita, adalah supaya kita membenci dosa sebagaimana Allah membencinya. Kalau orang membiarkan hayat Allah yang kudus bertumbuh, mengenal hakiki kenajisan dosa, dia akan bisa seperti Madame Guyon yang berkata, "Lebih baik aku masuk ke dalam neraka daripada aku berbuat dosa." Hayat Allah di dalam kita adalah untuk mengekspresikan Kristus. Semakin sifat Kristus terekspresikan, maka kita akan semakin membenci dosa, semakin menjauhinya (Ibrani 7:26) melihat dosa seperti melihat penyakit kusta, merasa makin lega jika makin jauh dari dosa. Setiap orang yang mempunyai pengenalan sedemikian terhadap dosa, pasti tidak mudah berbuat dosa. Orang yang mempunyai keadaan yang demikian sewaktu mengaku dosa, kehidupannya sebagai manusia pasti beribadah, kudus, menempuh hari-harinya di hadapan Allah.

Bagaimana Bisa Memiliki Pengenalan yang Tepat

Terhadap Dosa

Bagaimana kita bisa memiliki satu pengenalan yang tepat terhadap dosa? Ini memerlukan penerangan Roh Kudus, ketaatan kita terhadap terang, dan penolakan kita terhadap dosa yang telah dinyatakan. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, senantiasa bergerak di dalam roh kita, di dalam kita menyingkapkan segala hakiki dosa, agar pikiran kita - pikiran yang telah diperbarui oleh Roh Kudus - menjadi paham, benar-benar mengenal bahwa itu adalah dosa, adalah satu barang yang sangat najis, demikianlah hati nurani kita lalu menghakiminya sebagai dosa. Bersamaan dengan itu, hayat baru kita -- hayat Kristus -- dengan sendirinya membenci dosa itu. Kebencian semacam ini adalah satu fungsi yang otomatis dari sifat Allah (2Petrus 1:4). Baiklah dengan sederhana akan saya katakan lagi. Ketika Roh Kudus di dalam terang hayat menyingkapkan hakiki dosa kepada kita, (Yohanes 1:4, "... hidup itu adalah terang manusia." Hayat Kristus di dalam manusia adalah terang manusia, terang ini bukan terang yang bisa dilihat di luar manusia, orang yang menuntut melihat terang yang di luar, akan berada dalam bahaya tertipu), kita lalu berdasarkan sifat hayat Allah yang di dalam kita, taat kepada terang itu dan membenci dosa yang dinyatakannya. Semakin kita taat kepada terang, maka terang yang ada di dalam kita akan semakin memancar, kenajisan dosa akan semakin tersingkap, demikianlah hati yang membenci dosa akan bertumbuh. Sama seperti di bawah sinar matahari yang sangat terang, debu-debu di udara yang biasanya tidak tampak, saat itu bisa tertampak. Orang yang senantiasa hidup di dalam terang Allah, akan tampak suatu perkara sebagai dosa, sedangkan orang lain tidak tampak hal itu. Seperti Madame Guyon yang menyesal atas perbuatan baik yang dulu pernah ia lakukan -- berderma membantu orang, - dan ia merasa perlu darah adi Tuhan mencuci bersihnya. (Karena di bawah terang Allah dia tampak, bahwa yang dia lakukan dulu itu berasal dari kebaikannya sendiri, bukan berasal dari hayat Allah, karena itu perlu pembasuhan darah Tuhan). Demikianlah perasaannya terhadap dosa makin peka, standar kekudusannya (aspek pelaksanaan) juga makin bertumbuh.

Sungguh, sifat alamiah orang yang milik Adam (orang yang belum dilahirkan kembali), sangat condong kepada dosa. Sebaliknya, di dalam orang yang milik Kristus, ada sifat Allah yang sangat membenci dosa. Karena itu rasa benci terhadap hakiki dosa adalah pernyataan yang otomatis yang ada di dalam manusia karena ia memiliki sifat Allah. Hanya keadaan yang demikianlah yang berasal dari Allah, baru bisa diperkenan Allah.

Jika kita menganalisis keempat macam keadaan di atas, kita akan tampak, bahwa ketiga macam keadaan yang pertama adalah berintikan diri sendiri, berhubungan dengan kehebatan ego diri sendiri. Hanya satu macam yang berasal dari Allah, yang berintikan Allah. Kita harus berdiri di pihak Allah.

Terlebih Dulu Harus Mengaku Dosa kepada Allah

Terhadap perkara mengaku dosa, di tengah-tengah kaum imani ada satu kecenderungan yang sangat merusak, yaitu secara perlahan-lahan lebih menitikberatkan penanggulangan terhadap manusia daripada menanggulangi di hadapan Allah. Bahkan di kalangan kekristenan tertentu, darah adipun tidak disinggung lagi; asal hati nurani manusia bisa lewat dan merasa damai, maka Allah diabaikan. Keadaan demikian sangat menakutkan, hasilnya adalah membuat manusia kehilangan rasa takut kepada Allah. Dengan berat saya berkata, "Pengakuan dosa yang tidak memerlukan darah adi, pasti berasal dari alam maut." Setiap kali seseorang berbuat dosa, yang pertama disalahl adalah Allah, bukan manusia. Yang paling banyak disalahi oleh dosa itu adalah Allah, bukan manusia. (Misalnya ada orang merusak barang di rumah Anda. Yang pertama disalahi adalah diri Anda, bukan barang Anda.) Dalam Mamur 51:6 Daud berkata, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa." Daud tidak berkata, bahwa ia berdosa terhadap Uria, atau terhadap Batsyeba. Tetapi mengenai Yudas Iskarlot yang menjual Tuhan Yesus; dosa telah ia akui, uang telah ia kernbalikan, di hadapan manusia ia sudah beres, tetapi ia masih sebagai anak binasa. Saya berkata demikian bukan berarti tidak perlu saling mengaku dosa. Saling mengaku dosa (Yakobus 5:16) sudah sepatutnya, tetapi penanggulangan di hadapan Allah, harus melebihi penanggulangan di hadapan manusia. Jangan sekali-kali kita membalikkan urutannya, lebih-lebih janganlah kita mengesampingkan Allah dan darah adi. Mengaku dosa kepada Allah itu jauh lebih penting daripada membereskan di hadapan manusia. Tentu saja, pemberesan di hadapan manusia juga perkara yang tidak boleh diabaikan. Semoga Allah membelaskasihani kita!