← Daftar isi Gereja · bab 15/23

PEMBANGUNAN TUBUH KRISTUS DI DALAM KEESAAN

Pembacaan Alkitab:

1 Kor. 8:4; Yes. 45:5; Yoh. 17:20-23; Ef. 2:15; Rom. 15:7; Flp. 2:2; 1 Kor. 12:25; Mzm. 133:1-3

Garis Besar

I. Allah adalah satu

A. Di dalam esensi-Nya

B. Di dalam tujuan-Nya

C. Di dalam ekonomi-Nya

D. Di dalam tindakan-Nya

II. Allah yang unik memiliki satu ekspresi yang unik

III. Aspirasi dan doa Tuhan mengenai keesaan Tubuh

IV. Penyelesaian Tuhan atas keesaan Tubuh

V. Penggenapan keesaan Tubuh

A. Pelaksanaan keesaan Tubuh secara universal

B. Menerima pengajaran dan persekutuan para Rasul

VI. Tinggal di dalam persekutuan dengan seluruh gereja

VII. Pelaksanaan keesaan Tubuh secara lokal

A. Atas tumpuan keesaan

B. Menjadi satu dengan seluruh kaum saleh

C. Taat kepada otoritas para penatua

Keesaan adalah penting bagi Kristus, karunia-karunia yang telah disempurnakan, dan kaum saleh yang telah disempurnakan untuk pembangunan Tubuh Kristus. Jika tidak terdapat keesaan, adalah mustahil untuk membangun Tubuh Kristus. Kristus tidak terbagi. Dia hanya memiliki satu Tubuh; karena itu, setiap orang yang berhubungan dengan pembangunan satu Tubuh Kristus harus berada di dalam keesaan. Keesaan berbeda dengan kesatuan. Kesatuan adalah di luar. Orang-orang yang berbeda dengan tujuan-tujuan dan opini-opini yang berbeda dapat berusaha untuk menyatukan diri mereka di dalam organisasi-organisasi seperti Persatuan Bangsa-bangsa atau serikat-serikat buruh. Tetapi mereka tidaklah satu. Keesaan adalah di dalam, keesaan adalah dari esensi dan sifat yang sama. Hasil dari keesaan di dalam ini muncul keselarasan di luar yang diekspresikan di dalam cara orang-orang bertindak dan bergerak. Dengan keesaan yang intrinsik dan pelaksanaan keselarasan yang di luar, Kristus sang Kepala, karunia-karunia yang telah disempurnakan, dan kaum saleh yang telah disempurnakan akan membangun Tubuh Kristus.

I. ALLAH ADALAH SATU

A. Di dalam Esensi-Nya

Hanya ada satu Allah (1 Kor. 8:4; Yes. 45:5; Maz. 86:10). Dia memiliki tiga aspek—Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Mat. 28:19; 2 Kor. 13:14). Meskipun Dia memiliki tiga aspek, tetapi, Dia adalah satu Allah. Bapa, Putra, dan Roh mungkin berbeda tetapi tidak terpisah. Meskipun mereka serentak ada dari kekekalan sampai kekekalan, mereka saling huni, tinggal di dalam satu sama dengan lainnya. Kamu tidak akan pernah dapat menemukan Bapa tanpa Putra di dalam-Nya, atau kamu tidak akan pernah dapat menemukan Putra tanpa Bapa di dalam-Nya, atau kamu tidak akan pernah dapat Roh itu tanpa Bapa dan Putra. Ketiganya adalah satu; juga, Allah disebut Allah Tritunggal. Allah adalah satu di dalam esensi dan tidak dapat dibagi.

B. Di dalam Tujuan-Nya

Allah adalah satu di dalam tujuan-Nya. Allah, Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh—memiliki satu tujuan. Tujuan Allah adalah membangun gereja untuk mengekspresikan-Nya dan memuaskan-Nya.

C. Di dalam Ekonomi-Nya

Allah juga satu di dalam ekonomi-Nya. Ekonomi Allah adalah menggarapkan diri-Nya—Bapa, Putra, dan Roh—ke dalam orang yang dipilih, diciptakan, ditebus, dan dilahirulangkan-Nya sehingga mereka dapat dipenuhi dengan-Nya, ditransformasi, dan dibangun ke dalam satu Tubuh Kristus.

D. Di dalam Tindakan-Nya

Satu Allah menyelesaikan begitu banyak hal untuk menggarapkan ekonomi-Nya. Kamu dapat melihat prinsip keesaan, yang adalah menurut sifat keesaan Allah, di dalam segala sesuatu yang Dia lakukan. Dia menciptakan satu alam semesta. Dia menciptakan satu bumi bagi tujuan-Nya diluar ratusan juta galaksi dan bintang. Allah memerlukan jutaan orang bagi tujuan-Nya, tetapi Dia hanya menciptakan satu laki-laki. Dia tidak menciptakan seorang perempuan. Dari satu laki-laki ini, Dia membangun seorang perempuan. Dari satu pasangan ini mendatangkan jutaan orang.

Selama air bah, Dia hanya menyelamatkan satu keluarga, keluarga Nuh. Dia memilih dan memanggil satu manusia, Abraham, menjadi kepala dari satu ras yang terpilih. Dia memakai satu manusia, Musa, untuk membawa keluar umat-Nya dari Mesir pada satu waktu. Dia mendambakan satu tabernakel bagi bangsa Israel untuk menyembah-Nya. Dia membawa mereka ke dalam satu tanah permai pada satu waktu dan meminta mereka untuk berperang bersama-sama di dalam keesaan. Dia meminta umat-Nya untuk menyembah-Nya pada satu tempat—satu bait di dalam satu kota, Yerusalem.

Untuk memiliki satu ciptaan baru, Dia pertama-tama berinkarnasi sebagai satu manusia, Yesus. Hasil dari kematian dan kebangkitan satu Manusia ini, Dia menciptakan satu manusia baru, gereja. Pada akhirnya, gereja akan menjadi satu dan hanya Yerusalem Baru untuk kekekalan.

Kamu dapat melihat bahwa Allah adalah satu di dalam diri-Nya, di dalam tujuan-Nya, di dalam ekonomi-Nya, dan di dalam tindakan-Nya. Karena Dia adalah di dalam keesaan, prinsip operasi-Nya adalah di dalam keesaan, tindakan-Nya adalah di dalam keesaan, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya di dalam keesaan; karena itu, cara membangun gereja harus di dalam keesaan.

II. ALLAH YANG UNIK MEMILIKI SATU EKSPRESI YANG UNIK

Allah adalah satu di dalam setiap aspek. Ekspresi-Nya juga harus di dalam keesaan. Sejak hanya ada satu Allah, hanya boleh ada satu rumah Allah untuk menjadi tempat tinggal Allah. Sejak ada satu Kepala, hanya boleh ada satu Tubuh. Seperti dengan satu suami terdapat satu isteri, demikian juga, hanya ada satu gereja sebagai ekspresi penuh dari satu Allah. Setiap perpecahan tidak diperbolehkan karena perpecahan tidak membangun gereja. Mustahil untuk membangun Tubuh Kristus ketika terdapat perpecahan.

III. ASPIRASI DAN DOA TUHAN MENGENAI KEESAAN TUBUH

Doa Tuhan di dalam Yohanes 17 memperlihatkan aspirasi-Nya bagi keesaan Tubuh-Nya. Keesaan Tubuh Kristus yang organik adalah keesaan organik di dalam Allah Tritunggal. Ayat 20 berkata, "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka." Ayat ini memberitahu kita bahwa doa Tuhan di sini mencakup kita, semua orang yang percaya ke dalam-Nya. Ayat 21 berkata, "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan dan Aku di dalam Engkau..." Ini memperlihatkan bahwa keesaan seluruh kaum beriman seharusnya seperti keesaan di dalam Allah Tritunggal. Allah Tritunggal adalah tiga tetapi satu. Bapa di dalam Putra dan Putra di dalam Bapa. Keesaan di dalam ke-Allahan bukan hanya sebuah penyatuan. Hal itu adalah keesaan manusia-manusia. Keesaan dari Tiga dari keAllahan adalah bahwa Mereka secara mutual tinggal satu sama lain. Apakah keesaan di antara kaum beriman? Tidak ada kata yang dapat secara adekuat menjelaskannya, tetapi ada contoh dai keesaan ilahi di antara Tiga di dalam ke-Allahan.

Ayat 21 selanjutnya berkata, "Sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku." Seperti Bapa di dalam Putra dan Putra di dalam Bapa, kita juga di dalam Bapa dan Putra. Sebelum kita percaya ke dalam Tuhan Yesus, kita terpisah dari saling huni Allah Tritunggal, tetapi sekarang kita di dalam Allah Tritunggal. Allah Bapa adalah di dalam Putra, dan Allah Putra adalah di dalam Bapa, Bapa dan Putra adalah di dalam Roh itu, dan Roh itu yang adalah di dalam Bapa dan Putra memiliki sebuah hasil, akibat. Hasil ini, akibat ini, adalah bahwa seluruh kaum beriman dapat tinggal di dalam Tiga dari ke-Allahan. Dalam seluruh alam semesta terdapat satu keesaan demikian, dan keesaan ini adalah bahwa kaum beriman dibaurkan dan dibungkus dengan Allah Tritunggal.

Ayat 22 berkata, "Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu." Apakah kemuliaan di dalam ayat ini? Bapa telah memberikan hayat ilahi-Nya kepada Putra sehinggga Putra dapat mengekspresikan Bapa. Ekspresi ini adalah kemuliaan. Sekarang Putra telah memberikan kita hayat ilahi-Nya yang dengannya kita dapat mengekspresikan Dia. Ekspresi ini adalah juga kemuliaan. Ini menunjukkan bahwa keesaan yang kita miliki dengan Allah Tritunggal adalah hayat ilahi, dan dengan hayat ilahi ini kita dapat mengekspresikan Allah Tritunggal. Hayat ilahi yang telah diberikan kepada kita dan adalah di dalam kita. Ketika kita mengekspresikan Allah Tritunggal dengan hayat ilahi ini, itulah keesaan. Keesaan adalah ekspresi Allah Tritunggal di dalam dan dengan hayat ilahi-Nya.

Ayat 23 berkata, "Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." Putra di dalam kaum beriman dan Bapa di dalam Putra, dan dengan ini kaum beriman dapat disempurnakan ke dalam satu. Pada satu sisi, kita di dalam keesaan ilahi. Pada sisi lain kita masih perlu disempurnakan. Ini berarti bahwa kita mungkin di dalam keesaan hanya pada satu tingkat yang rendah. Ini adalah mengapa kita perlu disempurnakan ke dalam satu. Disempurnakan adalah bagi kita untuk memiliki pertumbuhan di dalam hayat ilahi setiap hari. Hayat ilahi telah diberikan kepada kita, dan kita perlu dihidup dengan hayat ilahi ini. Kemudian pengalaman kita akan menjadi keesaan ilahi. Pada permulaan hidup Kristiani kita, kita hanya memiliki sedikit hayat ilahi, sehingga kita perlu disempurnakan. Ini berarti bahwa hayat ilahi di dalam kita bertambah secara terus menerus. Semakin kita bertumbuh di dalam pertambahan hayat ilahi, semakin kita disempurnakan dasn semakin keesaan kita perhidupkan. Saya mengharapkan bahwa kita semua dapat menyadari bahwa keesaan Kristiani adalah perbauran Allah Tritunggal dengan kaum beriman di dalam sebuah cara pertambahan. Tahun yang lalu keesaan ilahi yang diekspresikan di dalam kita mungkin hanya lima puluh persen. Tahun ini mungkin ekspresi keesaan ilahi kita mungkin bertambah sampai enam puluh persen. Kemudian kita dapat bertambah samapi tujuh puluh persen. Pertambahan hayat ilahi ini dan ekspresinya adalah diri kita disempurnakan ke dalam satu.

Doa Tuhan di dalam Yohanes 17 adalah sebuah doa yang unik yang dibuat oleh Putra kepada Bapa. Kita mungkin biasa menyebut doa di Matius 6 adsalah doa Tuhan, tetapi doa di dalam Yohanes 17 juga adalah doa Tuhan. Sebenarnya, doa di dalam Yohanes 17 adalah lebih tinggi dari doa di dalam Matius 6. Seperti yang kita lihat, doa Tuhan di dalam Yohanes 17 adalah bahwa kita, seluruh kaum beriman di dalam Putra, adalah satu; sama seperti Bapa di dalam Putra dan Putra di dalam Bapa, sehingga kita juga dapat di dalam Allah Tritunggal (ayat 21). Keesaan di antara kita adalah satu keesaan saling huni. Tiga dari ke-Allahan secara mutual tinggal satu dengan lainnya sebagai satu, kita adalah satu dengan Allah Tritunggal, saling tinggal satu dengan lainnya sebagai satu, dan kita seluruh kaum beriman adalah satu di dalam saling huni Allah Tritunggal. Kita kaum beriman dan Allah Tritunggal semuanya adalah satu. Meskipun kaum beriman di dalam Kristus datang dari banyak negara dan kebudayaan yang berbeda, mereka semua memiliki hayat ilahi unik yang sama. Hayat yang sama yaitu yang di dalam kamu adalah juga di dalam saya. Melalui hayat ini kita adalah satu dengan lainnya dan dengan Allah Tritunggal.

IV. PENGGENAPAN TUHAN ATAS KEESAAN TUBUH

Segera sesudah doa Tuhan di dalam Yohanes 17, Dia pergi ke atas salib. Di atas salib, Dia menggenapkan penebusan bagi kita. Dia juga "membatalkan di dalam daging-Nya hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera" (Ef. 2:15). Di dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya, dia menjadi Roh itu. Sebagai roh pemberi-hayat, Dia mengembuskan Roh itu ke dalam murid-murid-Nya (Yoh. 20:22). Sebelum penyaliban-Nya, murid-murid-Nya berdebat mengenai yang lebih besar di dalam kerajaan. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi dan para tentara yang mencari untuk menangkap Yesus dan karena itu mereka melarikan diri ketika Kristus di tangkap. Mereka terpecah belah dan ketakutan, tetapi setelah menerima Roh itu mereka mampu berdoa dengan selaras (Kis. 1:14). Ini menunjukkan bahwa mereka telah menerima Roh keesaan. Kemudian, di dalam hari Pentakosta (Kis. 2) dan di dalam rumah Kornelius (Kis. 10), Roh itu dicurahkan di atas mereka untuk membentuk satu Tubuh Kristus. Di dalam satu Roh, mereka semua dibaptis ke dalam satu Tubuh (1 Kor. 12:13). Semua ini adalah fakta-fakta yang telah digenapkan.

V. PENGGENAPAN KEESAAN TUBUH

Keesaan Tubuh digenapkan oleh Allah Tritunggal dan kita mulai mengalami keesaan ini ketika kita percaya dan dibaptis. Matius 28:19 menunjuk kepada sebuah fakta yang ajaib di alam semesta: kita kaum beriman telah dibaptis ke dalam Allah Tritunggal. Ayat ini berkata bahwa kita telah dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh. Nama Allah Tritunggal mengacu kepada person Allah Tritunggal. Dibaptis ke dalam Allah Tritunggal adalah dibaptis ke dalam person ilahi dari Trinitas ilahi. Baptisan kita membawa kita ke dalam satu kesatuan yang mistikal dan organik dari Allah Tritunggal yang terproses sehingga kita semua, kaum beriman di dalam Putra, dapat menjadi satu di dalam kesatuan yang organik ini. Keesaan yang tepat di antara kita orang Kristen adalah sebuah keesaan di dalam kesatuan yang organik di antara satu dengan lainnya dan satu keesaan di antara kita dan Allah Tritunggal. Doa Tuhan di dalam Yohanes 17 berdasarkan atas fakta bahwa kita semua telah menjadi satu di dalam Allah Tritunggal.

VI. PELAKSANAAN KEESAAN TUBUH SECARA UNIVERSAL

A. Menerima Pengajaran dan Persekutuan Para Rasul

Seperti yang telah kita tunjukkan pada pelajaran-pelajaran terdahulu, Tuhan mengutus para rasul untuk membangun gereja-gereja dengan injil pengajaran dan persekutuan mereka. Kaum saleh di dalam gereja-gereja lokal ini suatu ketika adalah orang-orang dosa di bawah penghakiman kebenaran Allah, tetapi melalui para rasul memberitakan kebenaran injil mereka menjadi taat kepada iman. Mereka bertobat, percaya dan dibaptis ke dalam Allah Tritunggal, Kristus, kematian Kristus, dsan Tubuh-Nya. Kemudian mereka bertekun di dalam pengajaran dan persekutuan para rasul sehingga mereka dapat bertumbuh di dalam Tuhan dan disempurnakan untuk membangun gereja. Karena mereka dilahirkan dari para rasul dan digembalakan oleh para rasul, mereka seharusnya selalu menerima para rasul, pengajaran mereka dan persekutuan mereka. Gereja-gereja lokal seharusnya tidak pernah terpisah dari para rasul yang membangkitkan mereka. Jenis perpecahan ini disebabkan sebuah gereja lokal kehilangan suplai hayatnya.

Pada sisi negatif, sebuah gereja lokal tidak seharusnya terpisah dari persekutuan para rasul. Pada sisi positif, adalah para rasul yasng membangkitkan gereja, dan karena itu dapat dan harus berlanjut untuk merawat gereja dan menyempurnakan kaum saleh. Mereka memiliki otoritas untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam gereja, seperti kasus di gereja di Korintus dan gereja-gereja di Galatia. Sebagai sebuah hasil dari perawatan para rasul, gereja akan dibangunkan. Ini adalah jalan yang sangat manis dan efektif yang ditetapkan Allah untuk merawat gereja. Setiap penyimpangan dari jalan yang ditetapkan-Nya akan menyebabkan pembangunan gereja menjadi lambat dan mungkin berhenti. Hal ini sangat praktis.

Beberapa orang mungkin memiliki sebuah pendapat yang berbeda mengenai hubungan para rasul dengan gereja-gereja yang telah mereka bangun. Beberapa orang telah berkata bahwa ketika para rasul membangun gereja-gereja dan menetapkan para penatua, mereka seharusnya melepaskan tangan mereka atas gereja-gereja. Menurut perasaan mereka, gereja-gereja seharusnya secara mutlak berdiri sendiri dari para rasul. Tetapi menurut para rasul, sesudah para rasul membangun gereja-gereja dan menetapkan para penatua, mereka seharusnya tetap merawat gereja-gereja.

Hubungan rasul Paulus dengan gereja di Efesus adalah sebuah bukti yang kuat atas hal ini. Menurut Kisah Para Rasul 20, Paulus membangun gereja di Efesus dan menetapkan para penutua di dalam gereja itu, tetapi sesudah ini dia tidak meninggalkan gereja dan penatua sendirian. Sebaliknya, dia tinggal di gereja di Efesus selama tiga tahun (ay. 31). Pada saat Paulus menuju Yerusalem Dia, mengutus beberapa orang dari Miletus untuk memanggil para penatua di Efesus untuk menemuinya (ay. 17). Ketika mereka menemuinya, Paulus mengingatkan mereka bagaimana dia bertingkah laku, bekerja, dan berjerih lelah di antara mereka selama tiga tahun, menasihati kaum saleh dengan air mata (ay. 31) dan mengajar mereka secara umum dan dari rumah ke rumah (ay. 20). Dia memerintahkan mereka untuk memelihara diri mereka dan kawanan domba yang dipercayakan kepada mereka (ay. 28). Dia memperingatkan mereka bahwa sesudah dia berangkat, serigala-serigala akan masuk di antara mereka, yang tidak akan menyayangkan kawanan (ay. 29). Dia memberitahu mereka bahwa beberapa orang akan dibangkitkan di antara mereka, membicarakan hal-hal yang diputarbalikkan untuk menarik murid-murid untuk mengikuti mereka (ay. 30). Bagian Firman di Kisah Para Rasul 20 ini menunjukkan bahwa Paulus tidak meninggalkan gereja di Efesus sendirian. Sebaliknya, dia selalu merawat mereka.

B. Tinggal di dalam Persekutuan dengan Seluruh Gereja

Seluruh gereja lokal seharusnya tetap di dalam persekutuan satu dengan lainnya. Tidak ada gereja yang adalah sebuah kesatuan yang terpisah. Seluruh gereja lokal menyusun satu Tubuh Kristus. Setiap gereja lokal dapat mempunyai keperluan-keperluan praktis yang berbeda secara lokal, tetapi yang terutama memerlukan dapat dipenuhi dengan satu Allah Tritunggal. Setiap gereja lokal mungkin mempunyai sebuah administrasi (kepenatuaan) yang berbeda, tetapi memiliki satu persekutuan yang universal. Seharusnya tidak ada gereja lokal yang rahasia. Tidak diperlukan persekutuan yang khusus di antara gereja-gereja lokal. Setiap kaum saleh dapat bersekutu dengan setiap gereja lokal pada setiap waktu. Kelebihan rohani dan keuangan juga kebutuhan-kebutuhan dari sebuah gereja lokal seharusnya tidak dibatasi kepada satu lokalitas tertentu. Gereja-gereja lokal seharusnya bersekutu satu dengan lainnya mengenai kelebihan dan kekurangan mereka. Di dalam cara ini, seluruh gereja-gereja akan memelihara persekutuan yang tepat bagi pembangunan Tubuh Kristus.

VII. PELAKSANAAN KEESAAN DARI TUBUH SECARA LOKAL

A. Atas Tumpuan Keesaan

Untuk melaksanakan keesaan Tubuh secara lokal, kita harus berdiri di atas tumpuan keesaan. Banyak kelompok Kekristenan menyebut diri mereka gereja. Tetapi di atas tumpuan apa mereka berdiri ketika mereka menyebut diri mereka gereja? Beberapa mengambil tumpuan nasionalitas, sebagai contoh, Gereja Inggris, bangsa China bagi Kristus, dll. Beberapa mengambil tumpuan menurut perorangan, seperti Gereja Luther. Beberapa mengambil tumpuan pelaksanaan, sebagai contoh, Gereja Baptis. Beberapa berkata bahwa jika seseorang tidak dibaptis di dalam cara mereka, dia tidak diselamatkan. Beberapa berkata jika seseorang tidak beristirahat pada hari Sabtu (Sabat), dia akan ke neraka. Semuanya ini adalah tumpuan perpecahan. Tumpuan apakah yang seharusnya kita ambil? Tumpuan keesaan yang sejati. Karena Allah Tritunggal adalah satu, kita seharusnya menerima semua yang telah Dia terima (Rm. 15:7). Kita adalah satu dengan semua yang Allah Bapa ciptakan dan lahirkan, dengan orang-orang yang Kristus tebus dan kasihi, dan dengan orang-orang yang Roh itu lahirkan kembali dan ubah.

Orang-orang Kristen selalu sepertinya berkata, "Ke gereja apa kamu pergi?" Kita seharusnya tidak menjawab pertanyaan ini. Hanya terdapat satu gereja. Semua orang-orang yang diselamatkan di dalam gereja. Semuanya adalah satu di dalam Kristus. Kristus tidak terbagi; tidak boleh ada lebih dari satu gereja. Kita tidak pergi ke gereja karena kita adalah gereja. Kita tidak bergabung dengan denominasi-denominasi lainnya karena mereka terbangun di atas tumpuan perpecahan. Bergabung dengan sebuah denominasi akan menyebabkan kita menjadi terpisah dari orang-orang Kristen lainnya. Kita bersekutu dengan semua kaum beriman, tetapi kita tidak pernah bergabung dengan sebuah kelompok perpecahan. Kita berdiri di atas tumpuan keesaan, satu dengan Allah Tritunggal, menerima semua kaum beriman di dalam Kristus.

Beberapa berkata bahwa mereka adalah interdenominasi—menerima orang-orang dari seluruh denominasi. Masalahnya adalah mereka semuanya kembali ke denominasi-denominasi mereka. Mereka tidak secara sungguh-sungguh berdiri di atas tumpuan keesaan. Mereka berjabat tangan di atas tembok.

Beberapa menyebut diri mereka gereja-gereja non-denominasi. Ini adalah seperti mereka yang di 1 Korintus 1:12 yang menyebut diri mereka adalah dari Kristus. Mereka masih memisahkan diri mereka dari semua kaum beriman yang lain. Mereka adalah "kelompok-kelompok bebas" yang tidak berdiri di atas tumpuan keesaan yang sejati.

Prinsip Alkitabiah adalah satu gereja di dalam satu kota. Bukan banyak gereja di dalam satu kota atau satu gereja atas banyak kota. Gereja-gereja denominasi, interdenominasi, dan non-denominasi tidak dibangun di atas tumpuan keesaan yang sejati. Tumpuan keesaan yang sejati adalah di dalam Allah Tritunggal, menerima semua kaum beriman, dan memiliki satu gereja di dalam satu kota, tetapi bersekutu dengan para rasul dan gereja-gereja lokal yang lain. Tanpa sebuah tumpuan keesaan yang sejati demikian, mustahil membangun gereja.

B. Menjadi Satu Dengan Seluruh Kaum Saleh

Untuk membangun sebuah gereja lokal yang tepat, kita perlu menjadi satu dengan seluruh kaum saleh di dalam gereja. Kita tidak seharusnya pernah mengkritik atau memfitnah. Kita juga tidak seharusnya memiliki sebuah kasih tertentu untuk beberapa orang dan tidak untuk yang lain (Flp. 2:2). Sejak kita perlu terbangun satu dengan lainnya, kita harus menjadi satu dengan yang lainnya tanpa perpecahan apapun. "Supaya jangan terjadi perpecahan di dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan" (1 Kor. 12:15).

C. Taat kepada Otoritas Para Penatua

Taat kepada otoritas penatua adalah esensial untuk menjaga keesaan bagi pembangunan Tubuh. Para penatua adalah saudara-saudara yang lebih matang di dalam setiap lokal yang ditunjuk oleh para rasul untuk menggembalakan dan menyempurnakan gereja. Tidak menjadi satu dengan para penatua dan tidak taat kepada otoritas yang memimpin mereka bunuh diri rohani. Sebuah gereja lokal yang tidak di dalam persekutuan para rasul tidak dapat diteruskan. Demikian juga, kaum saleh yang tidak taat kepada otoritas penatua tidak dapat dibangun. Allah kita bukanlah Allah kekacauan. Dia telah mendirikan urutan yang tepat di dalam Tubuh. Para penatua tidak memiliki otoritas dari diri mereka sendiri, tetapi mereka adalah wakil otoritas Tuhan untuk merawat gereja-gereja. Kaum saleh seharusnya tidak takut kepada para pentua tetapi seharusnya bersekutu dengan mereka secara terus-menerus dan terbuka untuk menerima persekutuan mereka, menyadari bahwa para penatua telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menggembalakan gereja. Dengan taat kepada otoritas para penatua, semua kaum saleh akan digembalakan ke dalam hayat dan disempurnakan untuk membangun gereja.

KESIMPULAN

Mazmur 133 adalah sebuah mazmur atas pembangunan gereja. Kuncinya adalah keesaan di antara saudara-saudara. Karena keesaan, minyak urapan dan embun cair mengalir dari Kepala ke Tubuh. Juga terdapat berkat hayat yang diperintahkan untuk selama-lamanya. Perpecahan terbunuh. Keesaan membawa masuk hayat dan bangunan. Kita semuanya harus tinggal di dalam roh kita untuk memelihara keesaan Roh itu untuk membangun Tubuh Kristus.