← Daftar isi 1 Yohanes (1) · bab 8/24

SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (3)

Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 1:5-7

Kita telah nampak bahwa hubungan kaum beriman dalam hayat dengan Allah tidak dapat terputus, tetapi persekutuan mereka dengan Allah dapat terputus. Ini berarti hubungan hayat kita dengan Allah adalah tanpa syarat, sedangkan persekutuan kita dengan Allah adalah bersyarat. Syarat pertama dari persekutuan ilahi adalah mengaku dosa (1:5—2:22). Hal-hal yang berhubungan dengan syarat pertama ini adalah perihal tinggal di dalam Allah sebagai terang, hidup di dalam terang ilahi, dan mempraktekkan kebenaran ilahi. Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas pembersihan oleh darah Yesus, Anak Allah.

PENYUCIAN OLEH DARAH YESUS

Dalam 1Yohanes 1:7 Rasul Yohanes mengatakan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa.” Dalam ayat ini kita melihat bahwa kita hidup di dalam terang, tetapi Allah ada di dalam terang, karena Dia adalah terang. Ketika kita hidup di dalam terang, yang adalah Allah sendiri, kita mempunyai kenikmatan bersama dari Allah Tritunggal dan partisipasi bersama dalam ketetapan kehendak-Nya.

Ketika kita hidup dalam terang ilahi, kita berada di bawah penerangannya, dan berdasarkan sifat ilahi Allah dan melalui sifat Allah di dalam kita, terang ini menyingkapkan segala dosa, pelanggaran, kegagalan, dan kekurangan kita, yang bertentangan dengan terang-Nya yang murni, kasih-Nya yang sempurna, kekudusan-Nya yang mutlak, dan kebenaran-Nya yang unggul. Pada saat demikian, dalam hati nurani kita yang diterangi, kita merasakan keperluan akan pembasuhan darah penebusan Tuhan Yesus, dan darah itu menyucikan hati nurani kita dari segala dosa agar persekutuan kita dengan Allah dan dengan satu sama lain dapat terpelihara. Hubungan kita dengan Allah tidak dapat diputus, tetapi persekutuan kita dengan Dia mungkin saja terganggu. Yang pertama berasal dari hayat, sedangkan yang belakangan meskipun juga berasal dari hayat namun berdasar pada kehidupan kita. Yang pertama tidak bersyarat; yang belakangan bersyarat. Persekutuan kita yang bersyarat, persekutuan kita dengan Allah, perlu dipelihara dengan penyucian terus-menerus oleh darah Tuhan.

Dalam ayat 7 Yohanes mengatakan bahwa darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa. Waktu dari kata kerja “menyucikan” dalam bahasa Yunaninya menunjukkan waktu kini, dan menyatakan tindakan yang terus-menerus, menunjukkan bahwa darah Yesus, Anak Allah, menyucikan kita sepanjang masa, terus-menerus, dan konstan. Penyucian di sini mengacu kepada penyucian yang seketika dari darah Tuhan dalam hati nurani kita. Di hadapan Allah, darah penebusan Tuhan telah menyucikan kita sekali untuk selamanya (Ibr. 9:12, 14), dan khasiat penyucian ini berlangsung selamanya di hadapan Allah, tidak perlu diulang. Namun, dalam hati nurani kita, kita memerlukan penerapan yang seketika dari penyucian konstan darah Tuhan sekali demi sekali begitu hati nurani kita diterangi oleh terang ilahi dalam persekutuan kita dengan Allah. Penyucian yang instan ini dilambangkan oleh pentahiran dengan air yang dicampur dengan abu dari lembu betina muda (Bil. 19:2-10).

Dalam ayat 7 Yohanes secara khusus mengatakan bahwa darah Yesus membersihkan kita dari segala dosa. Perjanjian Baru membicarakan dosa dan dosa-dosa. “Dosa” biasanya mengacu kepada dosa yang tinggal, yang ditanggulangi dalam Roma 5:12—8:13. “Dosa-dosa” mengacu kepada perbuatan dosa, buah dosa yang tinggal di dalam kita, yang ditanggulangi dalam Roma 1:18—5:11. Namun, dalam 1:7, dosa (tunggal) dipakai bersama kata bilangan “segala”, bukan menyatakan dosa yang tinggal di dalam kita, melainkan segala dosa yang kita lakukan setelah kita dilahirkan kembali; dosa-dosa ini mencemari hati nurani kita yang telah disucikan, dan perlu disucikan dengan darah Tuhan dalam persekutuan kita dengan Allah.

Ketika kita di dalam persekutuhan ilahi, kita di dalam terang, dan ketika kita di dalam terang, kita disingkapkan oleh terang. Terang ilahi jauh lebih kuat daripada sinar X. Terang ini menyingkapkan apa saja yang salah dalam diri kita. Ketika kita hidup di dalam terang dan mempraktekkan realitas di dalam terang, terang ini bersinar di dalam kita, di atas kita, dan melalui kita. Karena disingkapkan oleh penyinaran ini, kita nampak bahwa kita bersalah dalam banyak hal. Kita dapat nampak bahwa kita bersalah dalam pikiran, emosi, motivasi, dan maksud kita. Kita juga dapat nampak bahwa kita bersalah dengan saudara dan saudari tertentu. Karena kita disingkapkan secara demikian, hati nurani kita tertuduh. Untuk menghadapi tuduhan di dalam hati nurani kita ini, kita perlu penyucian darah Tuhan. Hanya ketika kita di dalam persekutuan dan di bawah terang, barulah kita dapat nampak kegagalan, kesalahan, kekeliruan, motivasi yang tidak murni, dan maksud jahat kita. Tetapi pada saat yang demikian ini, darah Tuhan Yesus menyucikan kita dari setiap dosa. Seperti yang telah kita jelaskan, waktu dari kata kerja “menyucikan” di sini dalam bahasa Yunaninya menyatakan bahwa ketika kita hidup di dalam terang dan di dalam persekutuan dengan Allah dan dengan orang lain, darah Yesus menyucikan kita secara konstan dan tanpa henti.

YESUS ANAK-NYA

Sungguh berarti bahwa dalam 1:7 Rasul Yohanes membicarakan “darah Yesus, Anak-Nya”. Nama Yesus menyatakan keinsanian Tuhan yang diperlukan untuk pencurahan darah penebusan, dan sebutan “Anak-Nya” menyatakan keilahian Tuhan yang diperlukan untuk khasiat kekal darah penebusan. Jadi, darah Yesus, Anak-Nya itu, menunjukkan bahwa darah ini adalah darah yang tepat dari manusia yang sejati yang dicurahkan untuk menebus makhluk ciptaan Allah yang telah jatuh, dengan jaminan ilahi sebagai khasiat kekalnya, khasiat yang mengungguli segalanya dalam ruang dan bersifat kekal dalam waktu.

Sebutan “Yesus, Anak-Nya itu” juga dipakai oleh Yohanes sebagai suntikan pencegahan terhadap bidah mengenai persona Tuhan. Salah satu bidah menekankan keilahian Tuhan dengan menyangkal keinsanian-Nya. Sebutan “Yesus” sebagai nama seorang manusia merupakan suntikan pencegahan terhadap bidah ini. Bidah yang lain menekankan keinsanian Tuhan dengan menyangkal keilahian-Nya. Sebutan “Anak-Nya itu” sebagai nama Allah adalah suntikan penangkal terhadap bidah ini.

Tidak ada ayat lain dalam Perjanjian Baru yang memakai ungkapan “Yesus, Anak-Nya itu”. Kita baru saja menjelaskan bahwa nama Yesus mengacu kepada keinsanian Tuhan dan sebutan “Anak-Nya” mengacu kepada keilahian-Nya. Yesus adalah benar-benar seorang manusia, seorang manusia yang sejati, dan darah Yesus adalah darah seorang manusia sejati. Karena kita adalah manusia, kita perlu ditebus oleh darah manusia. Dalam Perjanjian Lama darah untuk penghapus dosa adalah dari binatang, dan adalah satu lambang dari darah Kristus. Akan tetapi, darah binatang sesungguhnya tidak dapat menebus kita, karena kita adalah manusia, bukan binatang. Sebagai manusia, kita perlu darah Yesus yang berkhasiat, darah seorang manusia sejati.

Keilahian Tuhan yang ditunjukkan oleh kata “Anak-Nya” adalah satu garansi, satu jaminan bahwa khasiat darah Yesus akan tetap selamanya. Keinsanian Tuhan melayakkan Dia memiliki darah untuk dicurahkan bagi penebusan kita. Keilahian-Nya menanggung khasiat kuasa darah penebusan ini. Khasiat dari darah Yesus yang menyucikan ini ditanggung selamanya oleh keilahian-Nya.

Kita telah nampak bahwa ketika Yohanes menulis surat ini, ada bidah-bidah mengenai persona Kristus. Salah satu ajaran bidah ini mengatakan bahwa Yesus bersifat ilahi tetapi bukan insani. Ajaran bidah yang lain menyatakan bahwa Yesus bersifat insani tetapi bukan ilahi. Dengan satu ungkapan yang singkat — “darah Yesus, Anak-Nya” — Yohanes menyuntik kita terhadap kedua macam bidah itu. Frase “darah Yesus” menunjukkan bahwa Yesus adalah se-orang manusia sejati, dan kata “Anak-Nya” menunjukkan bahwa Dia bersifat ilahi. Darah yang olehnya kita disucikan adalah darah dari satu persona yang ajaib yang memiliki keinsanian dan keilahian.

SATU SIKLUS

Dalam 1:1-7 kita nampak satu siklus kehidupan rohani kita yang terbentuk dari empat perkara penting — hayat kekal, persekutuan hayat kekal, terang ilahi, dan darah Yesus, Anak Allah. Hayat kekal menghasilkan persekutuan hayat kekal, persekutuan hayat kekal mendatangkan terang ilahi, dan terang ilahi menambahkan keperluan akan darah Yesus, Anak Allah, supaya kita bisa mendapatkan lebih ba-nyak hayat kekal. Semakin banyak hayat kekal yang kita dapatkan, semakin banyak pula persekutuan yang dibawakan kepada kita. Semakin banyak persekutuan hayat ilahi yang kita nikmati, semakin banyak pula terang ilahi yang kita terima. Semakin banyak terang ilahi yang kita terima, se-makin banyak pula penyucian yang kita alami dari darah Yesus. Siklus semacam ini membawa kita maju dalam pertumbuhan hayat ilahi sampai kita mencapai kematangan hayat.

TERANG MELAWAN GELAP

Dalam 1:5-7 Yohanes memakai lima kata yang penting: terang, kebenaran, gelap, dusta, dan dosa. Terang adalah esens dari ekspresi Allah. Kita dapat mengatakan bahwa terang adalah Allah diekspresikan. Ketika kita hidup di dalam terang ini, kebenaran akan muncul, karena kebenaran adalah hasil dari terang. Terang adalah sumber kebenaran, dan kebenaran adalah hasil, akibat terang. Karena itu, ketika kita tinggal di dalam terang ilahi dan hidup dalam terang, kita mempraktekkan kebenaran.

Dusta adalah esens Iblis, dan gelap adalah ekspresi dari esens setani. Gelap ini berhubungan dengan dosa. Inilah sebabnya dalam ayat-ayat ini kita memiliki terang, gelap, dan dosa. Jika kita tidak di dalam terang, kita tentu di dalam kegelapan. Bila kita di dalam gelap, kita ditipu oleh dusta, yang adalah esens Iblis. Selanjutnya, karena dusta dan gelap berhubungan dengan dosa, maka kita juga terlibat dengan dosa.

Ingatlah bahwa terang adalah esens ekspresi Allah, dan kebenaran adalah hasil dari terang ini. Dusta adalah esens Iblis, gelap adalah ekspresi dari esens ini, dan gelap ini berhubungan dengan dosa. Ketika kita di dalam terang, kita mempraktekkan kebenaran. Tetapi ketika kita tidak di dalam terang, kita di dalam gelap. Ketika kita di dalam gelap, kita ditipu dan di dalam satu kondisi yang berhubungan dengan dosa.

Ketika kita di dalam terang, kita akan disingkapkan, dan kita akan nampak dosa-dosa kita. Kemudian kita perlu mengakui dosa-dosa kita. Ketika kita mengakui dosa-dosa kita, dengan spontan dan terus-menerus darah Yesus, Anak Allah, akan menyucikan kita dari segala dosa.

Ketika kita di dalam gelap, kita di dalam dosa. Selain itu, ketika kita di dalam dosa, persekutuan kita dengan Allah terputus. Tetapi jika kita disingkapkan oleh terang dan meng-akui dosa-dosa kita, dosa-dosa kita akan dicuci, dan persekutuan kita yang terputus dengan Allah akan dipulihkan.

PENANGKAL

TERHADAP BIDAH KAUM ANTINOMIAN

Satu Yohanes 1:6 boleh dianggap sebagai satu penangkal terhadap ajaran bidah Kaum Antinomian. Kata “antinomian” adalah satu bentuk dari dua kata bahasa Yunani: anti berarti melawan, dan nomos berarti hukum. Kaum Antinomian adalah orang-orang yang melawan hukum, yang tidak memelihara hukum. Kaum Antinomian dalam zaman Yohanes mengajarkan kebebasan dari kewajiban menaati hukum moral, dan menyatakan bahwa seseorang dapat hidup dalam dosa dan masih mempunyai persekutuan dengan Allah.

Dalam 1:6 Yohanes menyuntik kaum beriman terhadap ajaran-ajaran bidah Kaum Antinomian. Di sini Yohanes mengatakan, “Jika kita katakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran.” Menurut ayat ini, kita tidak dapat mempunyai persekutuan dengan Allah dan pada saat yang sama hidup di dalam kegelapan. Kegelapan setani berlawanan dengan terang ilahi, dan dusta setani berlawanan dengan kebenaran ilahi. Sebagaimana kebenaran ilahi adalah ekspresi terang ilahi, maka dusta setani adalah ekspresi kegelapan setani. Jika kita mengatakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Allah yang adalah terang, tetapi kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta, kita berada di dalam ekspresi kegelapan setani, dan kita tidak mempraktekkan kebenaran dalam ekspresi terang ilahi.

Dalam Galatia 5:13 Paulus mengatakan, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, . . .” Di sini Paulus mengatakan agar kita tidak menyalahgunakan kebebasan kita. Dalam Galatia 5:1 Paulus mengatakan, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Dalam ayat 13 Paulus selanjutnya menjelaskan bahwa kita tidak boleh menyalahgunakan kebebasan kita. Meskipun kita bebas dari kuk perbudakan hukum Taurat, tetapi kita masih perlu memperhatikan moral. Ini bertentangan dengan ajaran bidah yang mengatakan bahwa siapa saja yang di bawah anugerah tidak wajib memelihara hukum moral.

Kaum Antinomian menuntut bahwa kita masih dapat mempunyai persekutuan dengan Allah sekalipun kita hidup di dalam dosa. Yohanes menulis 1Yohanes 1:6 untuk menyangkal ajaran yang salah itu. Menurut perkataan Yohanes, jika kita berkata bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Allah, namun kita hidup di dalam kegelapan, berarti kita telah menempuh jalan Kaum Antinomian. Yohanes dengan jelas menunjukkan bahwa agar dapat mempunyai persekutuan dengan Allah, kita perlu menanggulangi dosa-dosa kita dengan mengakuinya kepada Allah, sehingga kita dapat disucikan oleh darah Yesus, Putra Allah.

DUA MACAM PENYUCIAN DARAH TUHAN

Menurut perkataan Yohanes dalam 1Yohanes 1:7, darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa. Sesungguhnya ada dua macam penyucian darah Tuhan. Pertama, di hadapan Allah darah penebusan Tuhan telah menyucikan kita sekali untuk selamanya (Ibr. 9:12, 14), dan khasiat penyucian ini berlangsung selamanya di hadapan Allah, tidak perlu diulang. Penyucian yang kedua adalah penyucian darah Tuhan secara instan (seketika) dan konstan di dalam hati nurani kita. Di satu pihak, darah Tuhan mencuci dosa dan dosa-dosa kita di hadirat Allah. Di pihak lain, darah yang sama mencuci dosa dan dosa-dosa kita di dalam hati nurani kita. Menurut perlambangan dalam Perjanjian Lama, darah kurban dibawa ke dalam kemah dan dipercikkan di dalam ruang maha kudus di hadirat Allah. Ini melambangkan penyucian dosa dan dosa-dosa kita sekali untuk selamanya di hadirat Allah. Penyucian darah yang instan dan konstan dilambangkan oleh pembasuhan (penyucian) air pentahiran abu lembu betina merah. Penyucian dalam 1Yohanes 1:7 bukanlah penyucian kekal di hadapan Allah, melainkan penyucian yang terus-menerus di dalam hati nurani kita. Ketika kita tinggal di dalam terang, kita disucikan secara terus-menerus oleh darah Yesus.

Kita telah menjelaskan bahwa dalam 1Yohanes 1:7 ada siklus kehidupan rohani yang harus kita alami, siklus yang terbentuk dari empat perkara penting — hayat kekal, persekutuan hayat kekal, terang ilahi, dan darah Yesus, Anak Allah. Terlebih dulu kita mempunyai hayat kekal, dalam hayat ini kita mempunyai persekutuan. Persekutuan mendatangkan terang, di bawah sorotan terang kita mengalami penyucian darah. Kemudian darah membawakan lebih banyak hayat kepada kita; mengikuti lebih banyak hayat, kita mempunyai lebih banyak persekutuan. Mengikuti lebih banyak persekutuan, kita mempunyai lebih banyak terang, lebih banyak penyucian darah. Siklus dari hayat, persekutuan, terang, dan darah yang berulang-ulang ini akan membuat kita bertumbuh dalam hayat hingga mencapai kematangan.