TERANG ILAHI DAN KEBENARAN ILAHI (2)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 1:5-7
Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang arti kata kebenaran dalam Perjanjian Baru. Kita telah menjelaskan bahwa kebenaran adalah Allah, Kristus, dan Roh itu. Karena itu, kebenaran adalah Trinitas ilahi. Sebenarnya Tiga dari Trinitas adalah satu realitas.
FIRMAN ALLAH
Setelah melihat bahwa kebenaran adalah Allah Tritunggal, kita selanjutnya dapat menunjukkan bahwa kebenaran juga adalah firman Allah sebagai wahyu ilahi, yang tidak hanya mewahyukan lebih-lebih menyampaikan realitas Allah dan Kristus serta realitas segala perkara rohani dan ilahi. Jadi, firman Allah juga adalah realitas (Yoh. 17:17).
Firman adalah penjelasan Allah Tritunggal. Ini berarti aspek keempat tentang apa adanya kebenaran, firman, sesungguhnya adalah penjelasan dari tiga aspek yang pertama dari kebenaran — Bapa, Putra, dan Roh itu. Karena itu, realitas adalah Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh, dan juga firman ilahi.
ISI KEPERCAYAAN
Menurut Perjanjian Baru, kebenaran juga adalah isi kepercayaan (percaya), yaitu unsur substansial dari apa yang kita percayai sebagai realitas Injil yang penuh (Ef. 1:13; Kol. 1:5); isi kepercayaan ini diwahyukan dalam seluruh Perjanjian Baru (2Kor. 4:2; 13:8; Gal. 5:7; 1Tim. 1:1; 1Tim. 2:4, 7b; 3:15; 4:3; 6:5; 2Tim. 2:15, 18, 25; 3:7-8; 4:4; Tit. 1:1, 14; 2Tes. 2:10, 12; Ibr. 10:26; Yak. 5:19; 1Ptr. 1:22; 2Ptr. 1:12).
Isi firman Allah juga adalah isi kepercayaan kristiani kita. Ini adalah kepercayaan yang obyektif, yaitu apa yang kita percayai. Firman adalah wahyu dan penjelasan dari trinitas ilahi, dan firman ini mempunyai isi. Singkatnya, isi ini adalah isi Perjanjian Baru dan juga isi kepercayaan kristiani kita. Karena itu, isi Perjanjian Baru dan isi kepercayaan kristiani kita juga adalah kebenaran, realitas. Ini berarti dalam Perjanjian Baru, realitas mengacu kepada isi kepercayaan kita dan isi seluruh Perjanjian Baru.
REALITAS TENTANG ALLAH, MANUSIA,
DAN ALAM SEMESTA
Dalam Alkitab kebenaran juga adalah realitas tentang Allah, alam semesta, manusia, hubungan manusia dengan Allah dan dengan sesama manusia, dan kewajiban manusia kepada Allah, seperti diwahyukan melalui penciptaan dan Alkitab (Rm. 1:18-20; 2:2, 8, 20).
Jika kita ingin mengetahui situasi yang sebenarnya tentang Allah dan alam semesta, kita tidak perlu menerka atau membuat dugaan-dugaan. Kita hanya perlu dengan sederhana datang kepada Alkitab, karena dalam Perjanjian Baru kita mempunyai kebenaran tentang Allah, alam semesta, dan manusia. Kita juga mempunyai kebenaran mengenai kewajiban manusia kepada Allah dan hubungannya dengan Allah dan sesamanya. Kebenaran ini diwahyukan sebagian dalam penciptaan Allah, dan diwahyukan sepenuhnya dalam Alkitab. Dalam penciptaan Allah kita dapat melihat aspek-aspek tertentu dari kebenaran tentang Allah, manusia, dan hubungan manusia dengan Allah. Karena itu, dalam Perjanjian Baru kata kebenaran mengacu kepada hal-hal ini.
KESEJATIAN SEBAGAI KEBAJIKAN ILAHI
Dalam Perjanjian Baru, bahasa Yunani untuk kata kebenaran, aletheia, juga menunjukkan kesejatian, kesungguhan, ketulusan, kejujuran, keandalan, dan kesetiaan Allah sebagai kebajikan ilahi (Rm. 3:7; 15:8), dan bagi manusia sebagai kebajikan insani (Mrk. 12:14; 2Kor. 11:10; Flp. 1:18; 1Yoh. 3:18), dan sebagai pengaliran realitas ilahi (Yoh. 4:23-24; 2Yoh. 1a; 3Yoh. 1).
Yohanes 4:23-24 mengatakan, “Tetapi saatnya akan da-tang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Beberapa orang memegang konsepsi bahwa kata kebenaran dalam ayat-ayat ini menunjukkan ketulusan penyembah-penyembah Allah. Menurut konsepsi ini, kita harus menyembah Allah tidak hanya di dalam roh kita dan dengan roh kita, tetapi juga menyembah Dia dalam ketulusan. Pengertian ini keliru. Dalam Yohanes 4:23-24 kebenaran mengacu kepada hasil, pengaliran dari Allah menjadi realitas kita. Ketika kita menikmati Allah sebagai realitas kita, kenikmatan ini akan menghasilkan sesuatu, dan hasil ini adalah kebenaran, realitas. Sebenarnya, hasil dari menikmati Allah sebagai realitas kita ini adalah Kristus tertampil dari kita. Ketika kita menikmati Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh itu — sebagai realitas kita, yaitu Trinitas ilahi menjadi satu realitas bagi kita untuk kenikmatan kita, kenikmatan ini menghasilkan semacam kebajikan tertentu. Kebajikan ini adalah Kristus yang kita alami, Kristus yang adalah penggenapan dari semua kurban.
MENYEMBAH ALLAH DENGAN KRISTUS
YANG KITA ALAMI
Pada zaman Perjanjian Lama, bani Israel menyembah Allah di satu tempat yang khusus — Yerusalem. Ketika mereka pergi ke Yerusalem untuk menyembah Allah, mereka tidak dapat berhampa tangan. Mereka diharuskan pergi ke Yerusalem dengan membawa kurban persembahan untuk menyembah Allah. Semua kurban itu melambangkan Kristus. Karena itu, bani Israel menyembah Allah di tempat yang ditunjuk oleh Allah dan dengan membawa kurban persembahan yang diwajibkan oleh Allah. Dalam perlambangan, tempat yang dipilih oleh Allah melambangkan roh manusia, di mana Allah bersemayam hari ini (Ef. 2:22), dan kurban persembahan melambangkan Kristus.
Dalam Yohanes 4 perempuan Samaria berkata kepada Tuhan Yesus, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah” (ayat 20). Tuhan Yesus menjawab, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (ayat 21). Jawaban Tuhan menyatakan bahwa zaman telah berubah. Pada zaman Perjanjian Lama, Allah menyuruh umat-Nya menyembah Dia di Yerusalem dengan membawa kurban persembahan. Tetapi zaman telah berubah, dan sekarang adalah zaman Roh itu. Karena itu, Tuhan selanjutnya mengatakan bahwa Allah adalah Roh dan siapa saja yang menyembah Dia harus menyembah Dia di dalam roh, bukan di satu tempat tertentu. Ini berarti dalam penggenapan perlambangan, roh manusia telah menggantikan Yerusalem sebagai tempat yang ditunjuk. Tuhan juga mengatakan kepada perempuan Samaria itu bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa tidak hanya di dalam roh, tetapi juga di dalam kebenaran. Kebenaran di sini adalah Kristus yang kita alami sebagai realitas dari segala kurban. Jadi, Kristus sebagai kurban persembahan adalah penggenapan lambang kurban-kurban yang digunakan dalam penyembahan kepada Allah. Hari ini kita perlu menyembah Allah di dalam roh kita dan dengan Kristus yang telah kita alami sebagai kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah.
Kita perlu menyembah Bapa dengan Kristus yang adalah penggenapan kurban-kurban yang dipersembahkan oleh bani Israel dalam penyembahan mereka kepada Allah. Kristus ini bukanlah Kristus yang obyektif, melainkan Kristus yang subyektif, Kristus yang telah kita alami. Pengalaman atas Kristus sebagai penggenapan kurban-kurban menghasilkan realitas. Inilah realitas yang disebut dalam Yohanes 4:23-24, realitas ilahi yang kita alami dan menghasilkan kebajikan di dalam kita. Kebajikan ini juga adalah realitas.
Andaikata ada dua orang Israel, satu dari suku Yehuda dan yang lain dari suku Dan, datang menyembah Allah. Mereka berdua harus menyembah di Yerusalem, khususnya di Bukit Sion, yang ada di tengah-tengah Yerusalem. Mereka juga harus menyembah Allah dengan kurban-kurban tertentu; mereka tidak diperbolehkan datang ke hadapan-Nya dengan tangan hampa. Untuk menyembah Allah dengan tepat mereka harus datang ke tempat yang ditunjuk oleh Allah, dan mereka harus membawa kurban persembahan mereka. Jika mereka memenuhi syarat-syarat ini, penyembahan mereka kepada Allah barulah tepat.
Menurut Perjanjian Lama, penyembahan yang tepat bukanlah satu masalah sikap fisik seseorang di hadapan Allah; yaitu, bukanlah masalah berdiri, berlutut, atau merebahkan diri. Penyembahan yang tepat dalam Perjanjian Lama adalah masalah datang ke tempat yang benar — Bukit Sion di Yerusalem — dan dengan hal-hal yang benar — kurban persembahan. Setelah kurban persembahan dipersembahkan kepada Allah, orang yang mempersembahkannya juga dapat menikmatinya bersama Allah dengan makan satu bagian dari kurban itu. Jadi, penyembahan yang tepat meliputi datang ke tempat yang benar, memberi kurban persembahan kepada Allah, dan makan kurban persembahan di hadapan Allah. Ini menunjukkan bahwa bernyanyi, memuji, dan berdoa bukanlah prasyarat bagi penyembahan yang tepat kepada Allah. Prasyaratnya adalah tempat yang Allah tunjuk dan kurban persembahan yang Allah tuntut. Setelah kurban persembahan itu dipersembahkan kepada Allah di tempat yang ditunjuk oleh Allah, kurban persembahan itu mereka nikmati di hadapan Allah dan bersama Allah. Menurut perlambangan, inilah penyembahan yang tepat.
Sekarang kita perlu mengerti bagaimana perlambangan ini digenapi oleh penyembahan yang tepat dalam Perjanjian Baru. Tempat yang tepat bagi kita untuk menyembah Allah adalah di dalam roh kita. Selanjutnya, ketika kita menyembah Allah di dalam roh, kita harus menyembah Dia dengan Kristus yang telah kita alami.
Tahukah Anda, apakah kehidupan orang Kristen itu? Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang setiap hari mengalami Kristus yang telah kita terima. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang senantiasa mengalami Kristus. Pengalaman atas Kristus ini menghasilkan kurban persembahan yang dengannya kita menyembah Allah.
Sebagai orang-orang Kristen, kita harus mengalami Kristus setiap hari. Kemudian kita harus datang ke sidang-sidang gereja di dalam roh dan dengan Kristus yang telah kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam sidang-sidang gereja kita harus menyembah Allah di dalam roh kita dan dengan Kristus yang telah kita alami sebagai kurban persembahan. Kita boleh mempersembahkan Dia sebagai kurban penghapus dosa atau sebagai kurban penebus salah. Kita juga dapat mempersembahkan Dia sebagai kurban bakaran, sebagai kurban sajian, atau sebagai kurban pendamaian. Semua kurban ini adalah Kristus yang kita alami secara subyektif.
Pengalaman subyektif atas Kristus sedemikian ini adalah hasil dari kenikmatan kita atas Allah Tritunggal. Ketika kita mengalami Kristus, kita sesungguhnya menikmati Bapa, Putra, dan Roh itu. Jadi, mengalami Kristus adalah menik-mati Allah Tritunggal. Kenikmatan ini menghasilkan satu realitas yang sangat subyektif dan riil. Di satu pihak, rea-litas ini adalah Kristus di dalam kita, di pihak lain, ini juga adalah realitas kita.
Andaikata ada beberapa saudara dalam hidup gereja acuh tak acuh tentang Kristus dan bermalas-malasan dalam hal mengalami Kristus. Akibatnya, mereka tidak memiliki pengalaman apa pun tentang Dia. Mereka telah percaya ke dalam nama Tuhan dan menerima Dia, dan hanya itu. Mereka tidak memiliki pengalaman apa pun terhadap Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari. Saudara-saudara ini mungkin beretika dan bermoral, tidak melakukan suatu dosa yang kotor. Tetapi karena mereka tidak mempunyai pengalaman apa pun terhadap Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari, ketika mereka datang ke sidang-sidang gereja, mereka datang dengan hampa tangan. Mereka tidak dapat berdoa atau mengucapkan sepatah kata untuk Tuhan. Mereka mungkin senang duduk di dalam sidang dan melihat orang-orang lain menunaikan fungsi. Ini adalah suatu hal yang meremehkan Allah. Penyembahan semacam ini tidak hanya ditolak oleh Dia — juga disalahkan.
Jangan datang kepada Allah dengan hampa tangan. Kapan saja kita datang kepada Dia, kita harus mempunyai sesuatu tentang Kristus yang telah kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Tahukah Anda, apakah yang Allah butuhkan dari kita dalam penyembahan kita kepada Dia? Allah menginginkan Kristus yang telah kita alami. Keinginan-Nya adalah kita menyembah Dia dengan Kristus yang kita alami hari demi hari.
Kita telah menjelaskan bahwa dalam mengalami Kristus kita menikmati Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Kenikmatan ini menghasilkan satu realitas yang dapat kita sebut relitas pribadi kita. Realitas pribadi ini adalah Kristus menjenuhi manusia batiniah kita. Ketika kita memiliki realitas ini, kita memiliki Kristus di dalam roh, hati, pikiran, emosi, dan tekad kita. Inilah Kristus yang telah kita alami menjadi realitas kita. Sekarang kita harus menyembah Allah bukan hanya di dalam roh kita, tetapi juga menyembah Dia dengan realitas ini, yang adalah Kristus yang kita alami dalam hidup kita sehari-hari. Ini bukan hanya realitas ilahi bagi kenikmatan kita; ini juga adalah realitas insani kita, realitas pribadi kita yang timbul dari kenikmatan kita atas realitas ilahi. Realitas insani ini adalah hasil dari realitas ilahi yang kita nikmati setiap hari. Inilah pengertian yang tepat terhadap realitas dalam Yohanes 4:23-24.
Arti kebenaran dalam Yohanes 4:23-24 telah tersembunyi atau disalahpahami. Kita telah menunjukkan bahwa ada orang-orang Kristen yang telah menerima pengajaran bahwa menyembah Allah di dalam kebenaran berarti menyembah Dia di dalam ketulusan (kesungguhan). Bertahun-tahun yang lalu, saya mendengar berita-berita yang mengatakan bahwa kita perlu tulus dalam penyembahan kita kepada Allah dan ketulusan ini adalah apa yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan kebenaran dalam ayat-ayat ini. Misalnya, seseorang dapat berkata kepada anggota-anggota suatu jemaat, “Kalian telah datang untuk menyembah Allah, tetapi hati kalian tidak ada di sini. Jika kalian seorang pengusaha, hati kalian mungkin terisi dengan usaha-usaha kalian. Ini berarti kalian menyembah Allah tanpa ketulusan (kesungguhan). Bila kalian menyembah Allah, kalian harus melupakan hal-hal yang lain dan menyembah Dia dengan kesungguhan. Untuk menyembah Allah, kalian perlu satu hati yang sungguh-sungguh (tulus).”
Menafsirkan kata “kebenaran” dalam Yohanes 4:23-24 sebagai ketulusan adalah menguraikan firman Allah dengan cara yang alamiah dan agamawi. Penafsiran ini pasti tidak menurut wahyu ilahi. Kebenaran wahyu ilahi di sini adalah kita perlu menyembah Allah di dalam realitas, yang adalah hasil dari kenikmatan kita atas Allah Tritunggal sebagai realitas. Jika kita mengalami Kristus setiap hari, kita akan menikmati Allah Tritunggal sebagai realitas kita. Kenikmatan ini akan menghasilkan satu kebajikan, dan kebajikan ini akan menjadi realitas insani kita, satu realitas yang adalah hasil dari realitas ilahi. Lalu kita harus menyembah Allah dengan realitas ini. Kebajikan ini tidak lain adalah Kristus yang kita alami, dan Kristus ini adalah semua kurban. Kristus yang telah kita alami adalah kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian kita.
MENGALAMI KRISTUS
SEBAGAI KURBAN PERSEMBAHAN
Ketika kita mempunyai persekutuan dengan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita akan berada di dalam terang. Di dalam terang kita nampak dosa kita, juga sadar bahwa kita bersalah dalam banyak hal. Kita dapat melihat bahwa kita tidak benar terhadap suami atau istri kita atau terhadap orang tua kita. Kemudian di dalam terang kita mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan, dan kita menikmati penyucian darah adi Tuhan. Inilah mengalami Kristus secara riil sebagai Penebus kita dalam kehidupan kita setiap hari.
Karena mengalami Tuhan seperti ini dalam kehidupan kita setiap hari, kita akan datang ke sidang-sidang gereja di dalam roh kita dan mempersembahkan satu doa atau memberi satu kesaksian dari pengalaman kita. Dalam kesaksian kita, kita dapat berkata, “Saudara-saudara yang terkasih, baru-baru ini aku diterangi dalam persekutuanku dengan Allah, dan aku nampak bahwa aku bersalah dalam banyak hal dan dengan orang-orang tertentu. Tetapi aku mengakui satu per satu kepada Tuhan, dan Dia menyucikan aku. Sekarang aku menikmati Dia sebagai Penebusku dan juga sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salahku.” Ini adalah mempersembahkan Kristus dalam sidang sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita. Ini adalah cara untuk menyembah Allah di dalam roh kita dengan Kristus yang kita alami.
Ketika kita terus-menerus bersekutu dengan Tuhan di dalam terang, kita mungkin nampak bahwa kita harus mutlak bagi Allah. Akan tetapi kita tidak mutlak bagi Allah, dan berdasarkan diri sendiri kita tidak dapat mutlak. Selama kita bersekutu dengan Tuhan, mungkin kita diterangi lebih jauh oleh Roh sehingga nampak bahwa kita tidak dapat mutlak bagi Allah, karena itu kita perlu Kristus sebagai hayat kita. Dia adalah Persona yang mutlak, dan kita perlu Dia sebagai hayat kita sehingga kita dapat menempuh satu kehidupan yang mutlak bagi Allah. Dengan spontan kita dapat berdoa, “Tuhan Yesus, aku tidak dapat mutlak bagi Allah. Tetapi aku bersyukur, Tuhan, Engkau adalah hayatku. Engkau mutlak bagi Allah, dan aku percaya bahwa Engkau dapat menempuh kehidupan yang mutlak bagiku. Tuhan, aku menerima Engkau sebagai kurban bakaranku, menjadi kemutlakanku.” Setelah Anda mengalami Tuhan secara demikian, Anda dapat datang ke sidang gereja dengan pengalaman Anda terhadap Kristus. Di dalam sidang Anda dapat mempersembahkan satu doa yang di dalamnya Anda mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran Anda. Dalam doa semacam ini Anda mungkin berkata, “Tuhan Yesus, aku harus mutlak bagi Allah, tetapi berdasarkan diriku sendiri aku tidak dapat mutlak. Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, Engkau adalah hayatku. Ketika Engkau hidup di bumi, Engkau mutlak bagi Allah, dan sekarang Engkau adalah Persona di dalamku yang mutlak bagi Allah. Tuhan Yesus, Engkau adalah kurban bakaranku.” Inilah menyembah Allah di dalam roh dengan Kristus yang Anda alami sebagai kurban bakaran.
Dalam kehidupan sehari-hari Anda, Anda juga dapat mengalami Kristus sebagai Persona yang memelihara Anda dengan diri-Nya sendiri sebagai roti hayat. Inilah artinya mengalami Kristus sebagai kurban sajian Anda. Karena Anda mengalami Kristus secara demikian, Anda dapat datang ke sidang gereja dengan Kristus sebagai kurban sajian Anda. Kemudian dalam doa atau kesaksian Anda dapat berbicara tentang Kristus sebagai makanan sehari-hari Anda, sebagai kurban sajian Anda.
Jika kita mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian, kemudian kita juga akan mengalami Dia sebagai kurban pendamaian kita. Kurban pendamaian berdasar pada dan tersusun dari kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian. Jika kita mengalami Kristus sebagai keempat kurban ini, tentu saja kita akan menikmati Dia sebagai damai sejahtera kita dengan Allah dan juga sebagai damai sejahtera kita dengan orang lain.
Andaikata seorang saudara tidak mempunyai kedamaian dalam kehidupan pernikahan dan keluarganya. Jika dia mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian, dia juga akan mengalami Kristus sebagai damai sejahtera dengan istri dan anak-anaknya. Kemudian saudara ini akan dapat datang ke sidang-sidang gereja dengan sukacita, dan memuji Tuhan sebagai damai sejahteranya. Dia juga akan dapat bersaksi kepada alam semesta, termasuk malaikat dan setan-setan bahwa dia adalah seorang yang penuh damai, seorang yang menikmati kedamaian sepenuhnya. Dia akan dapat bersaksi bahwa dia memiliki damai sejahtera dengan Allah, dengan keluarganya, dengan Tubuh, dan bahkan dengan setiap hal dalam lingkungannya.
Kadang-kadang kita merasa kesal terhadap situasi dalam kehidupan keluarga atau dalam hidup gereja. Alasan kekesalan ini adalah kita kurang mengalami Kristus, dan sebagai akibatnya, kita tidak memiliki Kristus sebagai damai sejahtera. Tetapi jika kita mengalami Kristus setiap hari sebagai kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian kita, kita akan memiliki Kristus sebagai damai sejahtera di dalam setiap situasi. Kemudian dalam sidang-sidang gereja kita akan dapat mempersembahkan Kristus sebagai kurban pendamaian kita.
Ketika kita datang ke sidang-sidang gereja untuk menyembah Allah, kita perlu menyembah Dia di dalam roh. Kita juga harus menyembah Allah dengan Kristus yang kita alami hari demi hari, dengan Kristus yang menjadi realitas pribadi kita. Dalam pandangan Allah, Kristus yang adalah realitas pribadi kita juga adalah kebajikan pribadi kita. Kita memiliki kebajikan insani yang tertinggi, tetapi kebajikan ini bukan dari diri kita sendiri, melainkan kemanisan Kristus yang kita alami. Ini berarti Kristus yang kita alami setiap hari menjadi kebajikan pribadi kita, yang dengannya kita dapat mempersembahkan kepada Allah satu penyembahan yang menyenangkan, yang pantas. Bila kita datang untuk menyembah Allah dengan Kristus semacam ini, Allah senang terhadap kita.
Mungkin sekarang kita dapat mengerti bahwa dalam Perjanjian Baru, kebenaran bukan hanya Allah Tritunggal, firman Allah, isi kepercayaan, dan realitas tentang Allah, manusia, dan alam semesta. Kebenaran juga adalah kesejatian, keadaan yang sebenarnya, ketulusan, kejujuran, yang dapat dipercaya, dan kesetiaan dari Allah sebagai satu kebajikan ilahi dan dari manusia sebagai satu kebajikan insani dan sebagai satu hasil dari realitas ilahi. Menurut pengertian tentang kebenaran ini, kebajikan ilahi ini pertama-tama milik Allah, dan kemudian melalui pengalaman kita terhadap Kristus, kebajikan ini juga menjadi milik kita. Setelah kebajikan ilahi ini kita alami, ia menjadi kebajikan kita, kebajikan yang adalah pengaliran dari realitas ilahi.