PUTRA ALLAH BERLAWANAN DENGAN AGAMA MANUSIA
Pembacaan Alkitab : Gal. 1:13-16
Dalam Galatia 1:13-16 kita nampak masalah Putra Allah berlawanan dengan agama manusia. Ayat 13 dan 14 menampilkan sebuah lukisan yang hidup dari agama manusia. Dalam ayat 13 Paulus berkata, “Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.” Di sini kita melihat suatu perbandingan antara agama Yahudi dengan gereja Allah. Tatkala Paulus berada dalam agama Yahudi, ia menganiaya gereja, karena gereja berlainan dengan agamanya. Paulus sangat membenci gereja, sebab gereja mengurangi nilai agamanya. Dengan kegairahan agamanya ia menganiaya gereja Allah tanpa batas dan berusaha membinasakannya.
Dalam ayat 14 Paulus berkata selanjutnya, “Di dalam agama Yahudi pun aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” Adat istiadat atau tradisi di sini adalah tradisi dalam sekte Farisi; Paulus pernah menjadi anggotanya. Ia menyebut dirinya “orang Farisi, keturunan orang Farisi” (Kis. 23:6). Agama Yahudi tidak hanya tersusun dari hukum Taurat yang diberikan Allah beserta tata cara agamanya, tetapi juga mencakup tradisi buatan manusia. Karena Paulus begitu rajin dan bergairah bagi tradisi nenek moyangnya, maka ia menjadi seorang tokoh agama dan jauh lebih maju daripada banyak teman yang sebaya dengannya.
ALLAH BERKENAN MEWAHYUKAN
PUTRA-NYA DI DALAM KITA
Selanjutnya, dalam ayat 15-16 Paulus berkata, “Tetapi sewaktu Allah . . . berkenan menyatakan (mewahyukan) Anak-Nya (Putra-Nya) di dalam aku . . .” Pada waktu yang ditetapkan Allah, ketika Saulus bergairah dalam agamanya dan menganiaya gereja, Putra Allah diwahyukan kepadanya. Allah dapat membiarkan kegairahan Saulus bagi tradisi nenek moyangnya, sebab hal itu menghasilkan satu latar belakang gelap guna mewahyukan Kristus yang berlawanan dengannya. Pada waktu yang diperkenan Allah, Allah mewahyukan Putra-Nya dalam diri Saulus, orang Tarsus. Allah berkenan mewahyukan kepadanya Persona yang hidup dari Putra Allah. Mewahyukan Putra-Nya di dalam kita juga merupakan perkenan-Nya. Yang selalu menjadi perkenan Allah Bapa adalah Kristus, Putra Allah, bukan hukum Taurat (Mat. 3:17; 12:18; 17:5).
Putra Allah, sebagai perwujudan dan ekspresi Allah Bapa (Yoh. 1:18; 14:9-11; Ibr. 1:3) adalah hayat kita (Yoh. 10:10; 1Yoh. 5:12; Kol. 3:4). Hasrat hati Allah adalah mewahyukan Putra-Nya dalam kita, supaya kita dapat mengenal Dia, menerima Dia sebagai hayat kita (Yoh. 17:3; 3:16), sehingga kita menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12; Gal. 4:5-6). Sebagai Putra Allah yang hidup (Mat. 16:16), Kristus jauh melampaui Yudaisme dan tradisinya (Gal. 1:13-14). Penganut Yudaisme telah memperdaya orang-orang Galatia sehingga mereka menganggap aturan-aturan hukum Taurat itu melebihi Putra Allah yang hidup. Karena itu, dalam pembukaan Surat ini rasul bersaksi bahwa ia sudah terlibat sangat dalam dan jauh lebih maju dalam alam Yudaisme. Tetapi Allah telah menyelamatkan dia dari arus dunia yang jahat di pandangan Allah itu dengan mewahyukan Putra-Nya di dalamnya. Dalam pengalamannya, ia menyadari bahwa Putra Allah yang hidup tidak dapat dibandingkan dengan Yudaisme beserta tradisinya yang mati, yang diturunkan dari nenek moyangnya.
Dalam Galatia 1:16 Paulus menekankan fakta bahwa Putra Allah telah diwahyukan di dalam dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah mewahyukan Putra-Nya kepada kita di dalam kita; ini bukan yang lahiriah, tetapi yang batiniah; bukan dengan visi lahiriah, tetapi dengan penglihatan batiniah; bukan wahyu yang obyektif, tetapi yang subyektif.
Allah menjadikan rasul Paulus minister Kristus dengan memisahkan dia, memanggil dia, dan mewahyukan Putra-Nya di dalam dia. Karena itu, rasul Paulus tidak memberitakan hukum Taurat, melainkan Kristus, Putra Allah sebagai Injil; ia tidak hanya memberitakan doktrin tentang Kristus, tetapi memberitakan Kristus, Persona yang hidup.
PERSONA YANG HIDUP DARI PUTRA ALLAH
Butir utama dalam berita ini ialah bahwa Persona yang hidup, Putra Allah ini berlawanan dengan agama manusia. Pada masa Saulus dari Tarsus sudah begitu, demikian juga selama berabad-abad ini, dan demikian pula pada hari ini. Manusia tidak memusatkan perhatiannya atas Persona yang hidup ini, tetapi mempunyai suatu kecenderungan alami untuk mengarahkan perhatiannya ke atas agama berikut tradisinya. Namun, dari Kejadian 1 hingga Wahyu 22, Alkitab selalu mewahyukan Persona yang hidup ini. Allah hanya memperhatikan Persona hidup ini, tidak memperhatikan yang lain.
Catatan pengalaman murid-murid bersama Tuhan Yesus di atas bukit pengubahan mengilustrasikan hal ini (Mat. 17:18). Setelah membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes mendaki gunung yang tinggi, lalu Tuhan Yesus “berubah rupa di depan mata mereka; wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat. 17:2). Petrus bersama dua murid lainnya melihat kemuliaan Tuhan. Ia juga melihat Musa dan Elia berbicara dengan-Nya. Walaupun masih kita ragukan apakah Musa dan Elia juga berada dalam kemuliaan, yang pasti mereka berbicara dengan Yesus yang telah dimuliakan itu. Berdasarkan Matius 17:4, Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dalam usulnya yang ngawur ini, Petrus telah mengangkat Musa dan Elia sederajat dengan Tuhan Yesus. Petrus adalah pewaris tradisi usang yang berabad-abad dari Musa yang mewakili hukum Taurat, dan Elia yang mewakili nabi-nabi. Bagi orang-orang Yahudi, Musa dan Elia adalah wakil seluruh Perjanjian Lama. Karena itu, bahkan di atas bukit pun, Petrus masih bergairah bagi tradisi mengenai Musa dan Elia. Tetapi saat Petrus masih berbicara, “turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, ‘Inilah AnakKu yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia’” (Mat. 17:5). Kemudian, lenyaplah Musa dan Elia dari pandangan. Tatkala murid-murid itu mengangkat kepala, “mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.” Kisah ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Allah, hanya Persona hidup dari Putra-Nyalah yang mempunyai kedudukan, tidak ada tempat bagi agama atau tradisi.
MEMUSTIKAKAN TRADISI
MENGGANTIKAN KRISTUS
Manusia mempunyai suatu kecenderungan alami, yakni mengapresiasi perkara-perkara tradisional. Betapa manusia memustikakan tradisi-tradisi mereka! Sebagai contoh, golongan Advent Hari Ketujuh memustikakan hari Sabat. Mereka suka sekali berpegang teguh kepada tradisi Sabat Hari Ketujuh. Namun, berdasarkan Kolose 2:16-17, hari Sabat adalah bayangan dari realitas itu, dan wujudnya ialah Kristus. Sekarang, karena Kristus sudah datang, maka kita harus beralih dari bayangan kepada realitasnya. Namun demikian, seperti halnya orang-orang Yahudi dahulu, hari ini golongan Advent Hari Ketujuh memustikakan bayangan tetapi mengabaikan Kristus. Kristus adalah hari kita. Dia tidak saja Sabat sejati kita, tetapi juga realitas setiap hari. Kita dapat menikmati Kristus sebagai Sabat sejati kita dan realitas setiap hari!
Ada sebagian orang Kristen yang memustikakan perkara-perkara tertentu yang jauh lebih menggelikan daripada yang di atas. Pernahkah Anda mendengar ada beberapa pengkhotbah yang terpikat dengan apa yang disebut memanjangkan kaki? Di manakah Kristus dalam praktek semacam itu? Orang-orang yang ahli dalam mujizat memanjangkan kaki hanya boleh menyebut diri mereka “tukang memanjangkan kaki”, bukan pelayan Kristus. Menghubungkan mujizat memanjangkan kaki dengan nama Kristus berarti menggunakan nama-Nya dengan sia-sia.
Hari ini, sangat banyak orang Kristen terpikat oleh mujizat-mujizat, kesembuhan, nubuat, bahasa lidah, apa yang disebut pernyataan karunia, penudungan kepala dan lain sebagainya. Namun, sedikit sekali yang terpikat oleh Kristus. Alangkah kasihannya situasi semacam itu!
Saya pernah mengikuti perhimpunan kaum Brethren (Kaum Saudara) yang sangat ketat selama tujuh setengah tahun. Selama saya berada di antara mereka, saya telah mendengar banyak berita mengenai Kitab Daniel dan Wahyu. Dalam berita-berita itu banyak tafsiran mengenai binatang-binatang, tanduk-tanduk, kuku-kuku kaki, dan periode-periode hari tertentu. Sebagai pemuda yang bergairah menuntut pengetahuan, saya cukup puas dengan ajaran-ajaran semacam itu. Namun, walaupun saya telah mendengar banyak berita mengenai berbagai aspek nubuat, saya tidak banyak mendengar mengenai Kristus. Kitab Wahyu sebenarnya tidak berfokus pada binatang-binatang, kuku-kuku kaki, dan tanduk-tanduk, melainkan berfokus pada Kristus. Kitab ini adalah wahyu dari Persona Kristus. Bahkan Kitab Daniel pun mewahyukan Kristus. Namun, berita-berita yang disampaikan dalam perhimpunan kaum Brethren itu tidak berfokus pada Kristus.
Bila Anda mengikuti apa yang disebut kebaktian hari Minggu pagi dalam kekristenan hari ini, atau Anda pergi ke sidang pemahaman Alkitab yang diadakan oleh guru-guru Kristen, Anda akan mendengar tentang banyak perkara, tetapi Anda jarang mendengar berita yang mengungkapkan dan menyuplaikan Kristus kepada umat Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa hari ini, seperti halnya berabad-abad yang lalu, kaum agamawan hanya bergairah atas perkara-perkara yang agamis dan tradisi-tradisi, tetapi bukan atas Kristus. Banyak sekali orang Kristen yang hanya memperhatikan agama dan tradisi, namun mereka tidak memperhatikan Kristus, Persona yang hidup ini.
PUTRA, BAPA DAN ROH
Pusat perhatian Alkitab bukanlah praktek-praktek, doktrin-doktrin atau peraturan-peraturan, melainkan Putra Allah Persona yang hidup. Dalam 1:15-16 Paulus berkata bahwa Allah berkenan mewahyukan Putra-Nya di dalam dia. Mengenai Putra Allah, banyak orang yang masih dipengaruhi oleh ajaran-ajaran kekristenan yang tradisional yang berhubungan dengan Trinitas. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Allah Bapa mengasihi dunia dan mengaruniakan Putra-Nya kepada kita (Yoh. 3:16). Namun, persoalannya ialah, bagaimanakah kita memahami hal ini. Dengan cara apakah Bapa mengutus Putra-Nya? Pada suatu hari Filipus berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Tuhan heran atas permintaan yang demikian, lalu berkata, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (ayat 9). Kemudian Tuhan berkata, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (ayat 10). Akan tetapi, dalam ayat 16 Tuhan Yesus berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” Kalau saya Filipus, saya akan segera berkata, “Tuhan, kalau melihat Engkau berarti melihat Bapa, mengapa Engkau sekarang berkata bahwa Engkau akan meminta kepada Bapa? Bukankah perkataan-Mu saling bertentangan?” Namun, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia akan minta kepada Bapa dan Bapa akan memberi murid-murid Penolong yang lain untuk menyertai mereka selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran (ayat 17). Ia akan tinggal bersama murid-murid dan akan tinggal di dalam mereka. Tetapi dalam ayat 18 Ia berkata, “Aku datang kembali kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa Dia, yang adalah Roh Kebenaran dalam ayat 17, akan menjadi Aku yang adalah Tuhan itu sendiri dalam ayat 18. Ini memperlihatkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Tuhan akan menjadi Roh Kebenaran.
Tujuan saya membicarakan perkara yang tercantum dalam Yohanes 14 ini ialah menunjukkan, bila kita telah diterangi sepenuhnya melalui catatan Perjanjian Baru, kita akan nampak bahwa setiap kali Putra Allah disebut, Bapa juga dilibatkan. Kita tidak dapat memisahkan Putra dari Bapa atau dari Roh. Kebanyakan orang Kristen dengan khilaf memisahkan Putra dari Bapa, juga memisahkan Roh dari Putra, dan menyatakan bahwa Mereka adalah tiga Persona yang terpisah dan berbeda. Namun, pemisahan sedemikian tidak sesuai dengan wahyu Allah dalam Perjanjian Baru. Alkitab mewahyukan bahwa di mana Putra berada di situ pula Bapa berada, dan di situ pula Roh berada. Bapa terwujud di dalam Putra dan Putra direalisasi sebagai Roh. Ini berarti Roh adalah realisasi Putra yang adalah perwujudan Bapa. Karena alasan inilah dalam 2Korintus 13:13 Paulus berkata, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Kita tidak dapat memiliki anugerah Kristus Sang Putra tanpa kasih Allah Sang Bapa atau persekutuan Roh Kudus. Anugerah Putra, kasih Bapa, dan persekutuan Roh Kudus tidak dapat dipisah-pisahkan. Ketiga-tigaNya sebenarnya adalah satu. Seprinsip dengan itu, kita pun tidak dapat memisahkan Roh dari Putra atau Putra dari Bapa. Bapa, Putra, dan Roh semuanya adalah satu. Jika tidak, Allah bukanlah Allah Tritunggal. Istilah Tritunggal terdiri atas Tri berarti tiga dan tunggal berarti satu. Sebagai Allah Tritunggal, Allah adalah tiga di dalam satu dan satu di dalam tiga.
PERWUJUDAN ALLAH TRITUNGGAL
DIREALISASIKAN SEBAGAI ROH YANG ALMUHIT
Sungguh bermakna bahwa dalam Galatia 1:15-16 Paulus tidak mengatakan bahwa Allah mewahyukan Kristus di dalam dirinya, melainkan bahwa Ia mewahyukan Putra-Nya di dalam dirinya. Mengatakan Kristus tidaklah menimbulkan keterlibatan yang sama dengan mengatakan Putra. Alasan perbedaan ini ialah, bila kita mengatakan Putra Allah, kita akan segera terlibat dengan Bapa dan Roh. Berdasarkan tulisan-tulisan Paulus, memiliki Putra berarti memiliki Bapa dan Roh. Seperti telah kita tunjukkan berulang-ulang, Putra adalah perwujudan Allah Tritunggal yang direalisasikan sebagai Roh untuk kenikmatan kita. Karena itu, tatkala Paulus mengatakan Allah berkenan mewahyukan Putra-Nya di dalam dirinya, ini berarti Persona yang diwahyukan di dalam dirinya adalah perwujudan Allah Tritunggal yang direalisasikan sebagai Roh almuhit yang telah diproses itu. Beban yang telah saya terima dari Tuhan adalah melayankan hal ini kepada umat pilihan Allah. Walaupun saya telah bertahun-tahun melayankan hal ini, saya dapat bersaksi bahwa hari ini beban ini lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.
Dalam Surat-surat Kiriman Paulus kita nampak bahwa Putra adalah rahasia Allah, perwujudan Allah, dan Persona yang di dalam-Nya berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan (Kol. 2:2, 9). Pada suatu hari, melalui inkarnasi Putra Allah telah menjadi seorang manusia yang disebut Adam yang akhir, yang melalui kematian dan kebangkitan, telah menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Dalam 2Korintus 3:17 Paulus berkata, “Sebab Tuhan adalah Roh (itu).” Jika kita menjajarkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa Putra Allah, perwujudan kepenuhan ke-Allahan, telah menjadi seorang manusia, dan di dalam kebangkitan, Persona ini sekarang adalah Roh pemberi hayat.
Dalam hal Kristus sebagai Putra Allah terdapat dua kali “menjadi”. Berdasarkan Yohanes 1:14, Firman, Putra Allah, telah menjadi daging, yakni menjadi seorang manusia. Selain itu, berdasarkan 1Korintus 15:45, Persona yang disebut Adam yang akhir ini telah menjadi Roh pemberi hayat. Inilah sebabnya Paulus dapat mengatakan dengan jelas bahwa Tuhan sekarang adalah Roh itu. Putra Allah adalah perwujudan Allah Tritunggal yang direalisasikan sebagai Roh yang almuhit. Persona yang ajaib ini berlawanan dengan agama manusia.
KEHENDAK ALLAH YANG UNIK
Hati Allah sepenuhnya diduduki oleh Persona hidup dari Putra-Nya ini. Oleh karena kehendak-Nya berfokus pada Persona hidup ini, maka Allah tidak tertarik untuk memberi kita perkara-perkara seperti: baptisan selam, bahasa lidah, kesembuhan, sunat, hari Sabat, penudungan kepala, atau doktrin-doktrin tentang nubuat. Kehendak Allah yang unik ialah memberikan Putra-Nya sebagai Persona yang hidup kepada kita.
Namun, karena kejatuhan, mudah sekali kita diselewengkan dan memperhatikan perkara-perkara lainnya sebagai pengganti Kristus. Bahkan di antara kita dalam pemulihan Tuhan, mungkin sekali kita memperhatikan banyak perkara lain tanpa memperhatikan Kristus. Misalnya, mungkin kita lebih banyak memperhatikan pelayanan gereja daripada Kristus. Karena itu penting sekali bagi kita untuk memiliki satu visi dari Persona hidup yang almuhit ini. Persona ini mencakup Bapa, Putra, dan Roh. Ia mencakup sifat ilahi dan sifat insani. Walaupun Persona hidup ini begitu almuhit, namun Ia sangat riil bagi kita, karena sebagai Roh pemberi hayat, Ia berada dalam roh kita yang sudah dilahirkan kembali. Di satu pihak, Ia berada di surga sebagai Tuhan, Kristus, Raja, Kepala, Imam Besar, dan Pelayan surgawi; di pihak lainnya, Ia berada di dalam roh kita, menjadi segala sesuatu kita. Dia adalah Allah, Bapa, Penebus, Juruselamat, manusia, hayat, terang, dan realitas setiap perkara yang positif. Inilah Persona yang hidup dari Putra Allah.
PERSONA YANG HIDUP
TELAH DIWAHYUKAN
Kita telah menunjukkan bahwa Surat-surat Kiriman Paulus ditulis menurut wahyu Allah. Tetapi kita pun perlu nampak perlunya suatu hikmat yang sangat tinggi untuk menafsirkan wahyu ini dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Boleh jadi ada orang yang lain yang telah menerima wahyu demikian, tetapi tidak seperti Paulus, mereka tidak mempunyai kemampuan untuk memahami dan menyampaikannya dengan kata-kata. Kita telah nampak bahwa Paulus, orang yang berpendidikan tinggi, pernah menjadi tokoh agama. Menurut mentalitasnya yang gelap, tidak ada sesuatu yang dapat dibandingkan dengan agama Yahudi berikut hukum Tauratnya, kitab sucinya, pelayanan imamatnya, dan adat istiadatnya. Sebagai orang yang selalu menuntut apa yang ia anggap terbaik, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada hal-hal tersebut. Ia menghina pengikut-pengikut Yesus; ia menganggap mereka hanya mengikuti orang Nazaret yang tidak berarti, sedangkan ia sendiri sangat bergairah bagi tradisi nenek moyangnya. Tetapi, pada suatu hari, ketika Allah Bapa berkenan, maka Persona yang hidup dari Putra Allah ini diwahyukan di dalam dirinya. Tatkala Persona ini menyatakan diri kepadanya, ia tersungkur dan berseru dengan spontan, “Siapa Engkau, Tuan” (Kis. 9:5). Tuhan segera menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Berdasarkan pengertian Saulus orang Tarsus yang gelap itu, Yesus telah terkubur di dalam makam, dan murid-murid-Nya telah mencuri jenazah-Nya, lalu menyembunyikannya entah di mana. Tetapi sekarang Saulus terkejut karena mengetahui Yesus masih hidup, masih berbicara dari surga dan mewahyukan diri-Nya kepadanya. Sejak Persona hidup ini terwahyu di dalam Saulus, maka selubungnya telah tersingkir dan pikiran Saulus yang tajam telah menjadi terang terhadap Putra Allah. Sejak saat itu dan seterusnya, ia hanya memperhatikan Persona ini dan tidak lagi memperhatikan agama atau tradisi-tradisi.
Berdoalah agar Anda dapat nampak visi Persona yang hidup dari Putra Allah yang sedemikian ini. Doakan pula agar orang lain pun nampak visi ini. Berdoalah agar mereka nampak Persona hidup ini dan memperhatikan Dia, bukan memperhatikan perkara-perkara seperti hari Sabat, penudungan kepala, kesembuhan, dan karunia-karunia rohani. Kita perlu berdoa, agar kita dapat lebih banyak memperhatikan Persona yang hidup ini daripada perkara-perkara yang lain, bahkan daripada kehidupan gereja. Tanpa Persona yang hidup ini sebagai realitas dan isi kehidupan gereja, kehidupan gereja pun akan menjadi suatu tradisi. Oh, alangkah pentingnya kita nampak Persona yang hidup ini!
PERSONA YANG HIDUP BERLAWANAN
DENGAN SEGALA SESUATU
Walaupun kita mempunyai banyak pengetahuan tentang doktrin Alkitab, namun beban kita bukan untuk menyuplaikan doktrin, melainkan menyuplaikan Putra Allah yang hidup sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang direalisasikan sebagai Roh pemberi hayat. Janganlah kita memustikakan apa pun termasuk pengetahuan Alkitab atau pengalaman dan keberhasilan rohani kita sebagai pengganti Persona yang hidup ini. Dari hari ke hari dan dari saat ke saat, kita harus mengalami Persona yang hidup ini. Gereja adalah Tubuh dari Persona ini, yakni ekspresi-Nya yang riil dan hidup.
Karena Persona yang hidup ini adalah segala sesuatu kita, maka kita tidak perlu menuntut kekudusan, kerohanian, kemenangan, kasih, atau ketaatan semata-mata. Sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang direalisasikan sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit, Ia sekarang berada di batin kita, menjadi segala sesuatu yang kita perlukan. Dalam berita yang akan datang kita akan melihat bahwa Persona ini kini hidup di dalam kita. Apa yang menjadi kekurangan kita sebenarnya bukanlah kekudusan atau kemenangan, melainkan Persona yang hidup ini. Ia berlawanan dengan segala sesuatu. Tanpa Dia, segala sesuatu adalah tradisi buatan orang lain atau buatan kita sendiri. Semoga kita semua nampak bahwa hari ini Persona yang hidup ini berlawanan dengan segala sesuatu.
Terpisah dari Kristus, Persona hidup ini, apa pun yang kita miliki adalah agama. Sebagai contoh, seorang saudara boleh jadi sangat mengasihi istrinya; tetapi jika ia mengasihi istrinya di luar Kristus, kasihnya itu akan menjadi sesuatu yang agamis. Demikian pula, para saudari yang taat kepada suami mereka di luar Kristus, ketaatan semacam itu adalah yang agamis dan tradisional. Saya mengenal beberapa istri orang yang taat hanya karena mereka memang memiliki ketaatan alami. Sebelum mereka beroleh selamat mereka sudah berwatak taat. Setelah menjadi orang Kristen, mereka lalu menjadi istri Kristen yang baik dan taat. Namun, ketaatan semacam itu tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus. Itu adalah penampilan tradisi belaka, bukan Persona yang hidup dari Putra Allah.
Saya sangat prihatin karena banyak di antara kita yang berusaha mempraktekkan kehidupan gereja di luar Kristus. Jika demikian, maka kehidupan gereja kita akan menjadi tidak lebih daripada suatu agama dengan tradisinya sendiri. Kita benar-benar sangat memerlukan visi dari Persona yang hidup ini! Sungguh penting sekali Ia diwahyukan di dalam kita.
Sebelum saya menerima visi dari Persona yang hidup ini, saya adalah seorang yang mengukuhi banyak tradisi. Tetapi, pada suatu hari, Allah berkenan mewahyukan Putra-Nya di dalam saya. Sekarang saya tahu bahwa Persona yang hidup ini adalah perwujudan Allah Tritunggal yang almuhit yang telah melalui proses dan yang direalisasikan sebagai Roh pemberi hayat di dalam roh saya. Saya menikmati Dia, mengalami Dia, mengambil bagian atas kekayaan-Nya, dan memperhidupkan Dia di dalam roh saya. Menjadi orang Kristen berarti menjadi orang yang diduduki oleh Persona yang hidup, bukan oleh agama. Anak Allah itulah hayat, yakni hayat Allah yang bukan ciptaan dan yang kekal. Bagi pengalaman dan kenikmatan kita, Persona ini menjadi Roh almuhit dengan realitas ilahi (Yoh. 1:14; 14:6). Saya tidak menginginkan apa pun yang berkaitan dengan agama, saya hanya menghendaki Persona yang hidup ini. Manakah yang Anda pilih, agama manusia atau Persona yang hidup dari Putra Allah?