← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 18/24

JANJI BERLAWANAN DENGAN HUKUM TAURAT

Pembacaan Alkitab:

Gal. 3:2b, 3b, 6, 9-11, 13-14, 17, 21-25

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa dalam kekekalan yang lampau Allah telah menetapkan satu kehendak, satu rencana. Ketetapan kehendak ini ialah agar umat yang Ia pilih menerima keputraan dan menjadi anak-anak Allah, kemudian bersama dengan Putra Sulung Allah terbentuk menjadi manusia korporat yang mengekspresikan Allah untuk selama-lamanya. Inilah keterangan singkat dari ketetapan kehendak Allah yang kekal. Setelah memiliki ketetapan kehendak ini, Allah merampungkan pekerjaan penciptaan. Inti penciptaan Allah ialah manusia, sebab Allah berkehendak mendapatkan sekelompok manusia untuk menjadi ekspresi-Nya. Dari Kejadian 1 kita tahu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan kata lain, manusia diciptakan dengan potensi untuk mengekspresikan Allah. Pada saat diciptakan, manusia tidak memiliki hayat maupun sifat ilahi. Namun, manusia diciptakan dengan kapasitas untuk menerima Allah dan menjadi satu dengan-Nya.

KEJATUHAN, KUTUK, DAN JANJI

Kita tahu setelah penciptaan, manusia jatuh. Di satu aspek, kejatuhan Adam mendatangkan sifat dosa dan perbuatan dosa; di aspek lainnya, kejatuhan Adam mendatangkan kutuk. Karena itu, manusia yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya telah terlibat dalam dosa dan berada di bawah kutuk. Fakta bahwa manusia menempuh jalan yang semakin menurun setelah Kejadian 3, menunjukkan bahwa manusia berada di bawah kutuk. Kita nampak kutuk ini dari Kain, keturunan umat manusia yang kedua. Karena keturunan-keturunan Kain semua berada di bawah kutuk, maka mereka jatuh semakin rendah. Pada akhirnya, manusia jatuh sedemikian rupa di Babel sehingga terpecah belah dan menjadi kacau balau. Tidak dapat disangsikan bahwa manusia yang jatuh itu sudah terlibat dalam dosa bahkan berada di bawah kutuk.

Di tengah-tengah situasi kejatuhan yang sedemikianlah Allah yang mulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham (Kis. 7:2). Alkitab tidak mengatakan Allah yang pengasih menampakkan diri kepada Abraham, tetapi mengatakan Allah yang mulia menampakkan diri kepadanya. Hal ini sangat bermakna. Pada diri Adam ada dosa dan kutuk, tetapi pada diri Abraham ada janji Allah. Menurut Kejadian 12:3, Allah berjanji kepada Abraham bahwa di dalam dia segala bangsa akan diberkati. Latar belakang janji ini adalah kutuk atas umat manusia. Karena umat manusia berada di bawah kutuk, maka arah manusia menuju ke bawah. Namun Allah datang memanggil Abraham dan berjanji bahwa di dalam dia, segala bangsa, yakni umat manusia yang dalam keadaan terpecah-belah dan kacau balau itu, akan beroleh berkat. Tentu saja ini merupakan berita yang baik. Tak heranlah, kemudian, Paulus menganggap hal ini sebagai Injil.

Akan tetapi, masalah yang kita tekankan di sini adalah janji itu. Ketika memanggil Abraham, Allah memberinya sebuah janji. Galatia 3:17 membicarakan satu janji dan satu perjanjian. Dalam ayat 8 pasal ini Paulus juga menerangkan bahwa perkataan Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:3 merupakan pemberitaan Injil bagi Abraham. Penuturan janji tersebut merupakan pemberitaan Injil. Tambahan pula, perjanjian yang disahkan dalam Kejadian 15 merupakan pengukuhan Injil.

Dalam Kejadian 12:3 janji hanya sekadar janji, sebab masih perlu penggenapan. Dalam pasal ini tidak dijelaskan kepada kita kapan, bagaimana, atau di mana janji itu akan dipenuhi. Kemudian dalam Kejadian 15, janji itu telah menjadi perjanjian yang telah disahkan, dan dalam Kejadian 17, perjanjian ini telah dikuatkan dengan tanda sunat. Sekalipun janji telah disahkan menjadi perjanjian dan telah dikuatkan, namun tetap belum digenapi.

ALLAH MEMPERLAKUKAN UMAT-NYA

MENURUT JANJI

Pada waktu Allah mengabsahkan janji menjadi perjanjian dalam Kejadian 15, kegelapan meliputi Abraham (ayat 12). Kegelapan itu merupakan suatu petunjuk bahwa umat Allah akan mengalami saat-saat gelap dan kesengsaraan besar sebelum janji tersebut digenapi. Alkitab mencatat betapa keturunan Abraham pindah ke Mesir dan hidup setidak-tidaknya 400 tahun di bawah tirani orang Mesir.

Tahun-tahun itu merupakan suatu periode kegelapan panjang. Kemudian, setelah 400 tahun itu, Allah memimpin mereka keluar dari kegelapan tirani orang Mesir. Allah tidak memperlakukan mereka menurut hukum Taurat, yang belum diberikan-Nya itu, melainkan memperlakukan mereka menurut janji yang dibuat-Nya dengan Abraham, leluhur mereka.

Sulitlah kita jumpai sebuah ayat dalam Kitab Keluaran yang menunjukkan maksud hati Allah dalam memimpin bani Israel keluar dari Mesir adalah untuk memberi mereka hukum Taurat. Namun, jelas sekali diterangkan bahwa Allah bermaksud agar mereka melakukan suatu perayaan bagi-Nya. Kata Musa kepada Firaun, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun” (Kel. 5:1). Sudah tentu, Allah juga berencana mewahyukan pola tempat kediaman-Nya kepada mereka.

Hampir-hampir tidak ada petunjuk bahwa Allah bermaksud memberikan hukum Taurat kepada mereka sebelum Keluaran 19. Pada awal pasal ini, Allah mengucapkan kata-kata yang sangat ramah kepada umat itu, “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku” (Kel. 19:4). Tuhan berkata lebih lanjut kepada mereka, bila mereka sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian-Nya, maka mereka akan menjadi harta kesayangan-Nya sendiri dari antara segala bangsa dan menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus (ayat 5-6). Perkataan Allah sangat ramah dan mesra. Ketika umat itu mendengar apa yang Allah katakan, mereka menjawab, “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan” (ayat 8). Setelah umat itu memberi respon demikian, suasana sekitar Gunung Sinai itu berubah. Suasana mesra berubah menjadi suasana yang mengerikan. Karena ketakutan akan suasana tersebut, umat Israel menyuruh Musa mewakili mereka untuk menjumpai Allah. Di tengah-tengah situasi yang demikianlah Sepuluh Perintah itu diberikan. Karena itu, pada diri Adam ada kejatuhan, pada diri Abraham ada janji, dan pada diri Musa ada hukum Taurat. Pasal 20-23 dari Kitab Keluaran semuanya bertalian dengan hukum Taurat.

Tetapi menyusul pasal-pasal ini, berikut ketetapan dan peraturan-peraturannya, kita tiba pada pasal 24, di mana situasi sekitar Gunung Sinai berubah sekali lagi. Musa, Harun, Nadab, Abihu, dan tujuh puluh tua-tua Israel naik ke atas gunung. Keluaran 24:10 mengisahkan, “Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.” Betapa indahnya pemandangan ini! Dalam keadaan demikianlah Allah mewahyukan pola tabernakel kepada Musa.

MENURUT HUKUM TAURAT

DAN MELALUI TABERNAKEL

Sesudah hukum Taurat dan ketentuan-ketentuannya diberikan kepada umat, Allah memperlakukan bani Israel menurut hukum Taurat melalui tabernakel. Umat itu bukan berkontak dengan Allah melalui hukum Taurat, melainkan melalui tabernakel dengan imamat beserta kurbankurban persembahan. Semua itu secara simbolis merupakan kegenapan janji Allah kepada Abraham. Allah memperlakukan umat itu menurut hukum Taurat melalui tabernakel, imamat, dan kurban-kurban persembahan. Misalnya seorang Israel berbuat dosa. Menurut Sepuluh Perintah, ia harus dikucilkan. Tetapi Allah tidak mengucilkannya, malahan memberkati orang berdosa yang demikian melalui mezbah, sebagai kegenapan janji-Nya kepada Abraham untuk memberkati segala bangsa. Orang yang telah berbuat dosa itu harus membawa satu kurban sebagai kurban penebus salah. Setelah kurban tersebut dipersembahkan di atas mezbah, orang yang berdosa itu akan beroleh pengampunan.

Allah menggunakan hukum Taurat sebagai cermin untuk menyingkapkan keadaan umat-Nya. Tetapi setelah umat itu tersingkap, mereka dapat beralih ke tabernakel, imamat, mezbah, dan berbagai kurban. Menurut perlambangan, hal ini merupakan penggenapan janji yang Allah buat bagi Abraham. Kitab Keluaran sebenarnya bukanlah kitab tentang hukum Taurat, melainkan kitab tentang kegenapan janji Allah, kitab tentang Kristus, salib, dan gereja. Memang, ada beberapa pasal yang khusus ditujukan kepada hukum Taurat dan ketetapan-ketetapannya. Tetapi pasal-pasal lainnya menampilkan pola tabernakel dan melukiskan pembangunan tabernakel. Seperti telah kita tunjukkan, pola tabernakel diwahyukan kepada Musa dalam suasana cerah. Setelah pola itu diberikan, tabernakel lalu didirikan. Kemudian, orang-orang yang berada di bawah hukuman hukum Taurat dapat bersekutu dengan Allah melalui imamat dan kurban-kurban persembahan. Persekutuan itu melalui tabernakel, yakni melalui Kristus. Walaupun itu bukan realitas janji Allah kepada Abraham, namun itulah kegenapannya secara simbolis.

KRISTUS TELAH MENGGENAPI JANJI

Kita telah melihat tiga persona penting: Adam, Abraham, dan Musa. Sekarang kita tiba pada persona keempat, persona yang penting Yesus Kristus, yang menggenapi janji Allah kepada Abraham. Kristus menggenapi janji ini menurut tuntutan keadilan hukum Taurat yang diberikan melalui Musa. Dengan demikian, Dia membawa umat pilihan Allah keluar dari kutuk. Karena itu, janji tersebut tidak saja menjadi sebuah perjanjian, juga menjadi sebuah wasiat, pesan terakhir. Sebab setiap hal yang dijanjikan telah tergenapi. Tuntutan hukum Taurat telah terpenuhi, kutuk telah disingkirkan, dan janji telah genap. Sekarang, di dalam keturunan Abraham yang unik ini, semua bangsa yang terpecah belah dan terkutuk, telah menerima berkat. Hari ini Kristus, tanah permai kita, adalah Roh yang almuhit untuk kenikmatan kita. Pada Adam ada kutuk, pada Abraham ada janji, pada Musa ada hukum Taurat, dan pada Kristus ada penggenapan janji. Sekarang kita, kaum beriman, yakni orang-orang yang menjadi keluarga iman, menikmati wasiat baru. Kaum keluarga iman adalah kaum gereja. Kita bukan orang-orang yang bekerja, melainkan orang-orang yang mendengar. Sebagai anggota keluarga iman, kita mewarisi, berbagian, dan mengalami Allah Tri-tunggal sebagai berkat kita karena mendengarkan tentang iman. Demi mendengarkan tentang iman kita telah menjadi kaum iman, keluarga iman. Semakin kita mendengar, iman kita semakin kuat, dan kapasitas kita untuk menikmati berkat semakin besar.

Dalam Alkitab tercatat enam nama atau sebutan yang terkenal: Adam, Abraham, Musa, Kristus, gereja, dan Yerusalem Baru. Kehendak Allah pada kekekalan lampau tidak bertalian dengan hukum Taurat. Pikiran Allah tidak terpusat pada hukum Taurat, melainkan pada diri Adam, Abraham, Kristus, gereja, dan Yerusalem Baru, yakni perampungan sempurna pekerjaan Allah atas diri manusia. Hari ini kita berada dalam gereja, pada masa kekekalan kita akan berada dalam Yerusalem Baru. Allah memakai hukum Taurat untuk sementara guna menyingkapkan keadaan umat-Nya yang tidak mengenal diri dan kondisi diri mereka sendiri. Allah juga memakai hukum Taurat sebagai wali yang menjaga dan memelihara umat-Nya, dan juga sebagai pemandu anak untuk membawa mereka kepada Kristus. Namun, begitu hukum Taurat telah memenuhi tugasnya, yakni telah memimpin kita kepada Kristus, ia tidak seharusnya merintangi jalan kita. Musa tidak saja seorang yang olehnya hukum Taurat itu diberikan, ia pun seorang yang menerima pola tabernakel, dan di bawah pimpinannya tabernakel itu didirikan.

Bermakna sekali bahwa dari Adam sampai Abraham berkisar kira-kira 2000 tahun, dan dari Abraham sampai Kristus juga kira-kira 2000 tahun. Lagi pula, sejak Kristus tampil di bumi sebagai manusia sampai kini juga berkisar 2000 tahun. Saya sangat sulit percaya bahwa zaman gereja akan berlangsung 1000 tahun lagi. Setelah zaman gereja, akan tiba zaman kerajaan, yang berlangsung 1000 tahun. Sesudah itu, kita akan berada dalam kekekalan. Saya tidak berani mengatakan ketujuh hari dalam Kejadian 1 melambangkan 7000 tahun yang meliputi masa Adam hingga akhir zaman milenium. Tetapi sangat berarti bahwa dari kejatuhan hingga pemberian janji berkisar 2000 tahun, dari pemberian janji hingga kedatangan Kristus untuk penggenapan janji berkisar 2000 tahun, dan zaman penggenapan juga berlangsung 2000 tahun. Walaupun kita menaruh harapan pada zaman kerajaan, tetapi kita tidak puas dengan kerajaan saja. Dalam pandangan Allah periode 1000 tahun itu seperti satu hari. Karena itu, kedambaan kita adalah memasuki Yerusalem Baru sampai selama-lamanya.

Dalam penggenapan kehendak kekal Allah, hukum Taurat hanya mempunyai kedudukan sementara. Hukum Taurat diberikan 430 tahun setelah Allah membuat janji dengan Abraham. Dengan kedatangan Kristus, maka hukum Taurat telah digenapi dan telah diakhiri.

ANUGERAH DAN IMAN

Iman tidak bertalian dengan hukum Taurat, melainkan dengan anugerah (kasih karunia). Iman kita adalah refleksi anugerah Kristus. Fungsi iman laksana sebuah kamera untuk memotret pemandangan khusus. Anugerah Kristus adalah pemandangan, dan iman kita adalah kamera untuk memotretnya. Jadi, iman kita menjadi refleksi anugerah Kristus. Dengan perkataan lain, iman kita adalah refleksi kegenapan janji Allah.

Iman tidak ada sangkut pautnya dengan hukum Taurat. Orang-orang Galatia telah keliru dalam hal memberikan kedudukan lagi kepada hukum Taurat dan membiarkannya berlaku lagi. Hukum Taurat seharusnya tidak ada dalam pemandangan lagi. Sebaliknya, kamera iman kita harus seluruhnya berfokus pada anugerah. Kita tidak boleh mencoba memelihara hukum Taurat, melainkan harus menggunakan iman untuk memotret pemandangan anugerah. Sekarang di dalam iman kita sedang menikmati anugerah, yaitu Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat almuhit bagi kenikmatan kita. Alangkah ajaibnya! Kutuk telah disingkirkan, dan hukum Taurat telah dikesampingkan. Sekarang kita memiliki penggenapan janji Allah yang unik yang telah menjadi berkat semua orang beriman. Kita adalah Abraham-Abraham yang percaya, dan yang sepenuhnya menikmati janji Allah. Jika kita nampak dan memahami hal ini, kita akan menyadari betapa janji berlawanan dengan hukum Taurat. Hukum Taurat tidak lagi memiliki kedudukan, posisi, atau tempat apa pun. Hukum Taurat telah tersingkir. Puji Tuhan, kamera iman kita sedang memotret pemandangan anugerah!