ROH ITU BERLAWANAN DENGAN DAGING
Pembacaan Alkitab:
Gal. 3:2-3, 5, 14; 5:16-19; 1:16; 2:16; 4:23, 29; 5:13, 22; 6:8, 12-13; 4:6; 5:5, 25
Dalam berita ini kita tiba pada sebuah subyek yang sangat penting: Roh itu berlawanan dengan daging. Karena pengaruh latar belakang kita dalam kekristenan, maka sangat picik dan terbataslah pengertian kita terhadap istilah Roh itu dan daging dalam Perjanjian Baru. Padahal istilah-istilah ini mengandung makna yang sangat luas. Istilah-istilah ini merupakan ungkapan-ungkapan yang paling penting yang dipakai dalam Perjanjian Baru.
DEFINISI DAGING DAN ROH ITU
Dalam 3:3 Paulus bertanya pada kaum beriman Galatia, “Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?” Roh itu, yaitu Kristus yang telah bangkit, adalah milik hayat; daging, yaitu manusia yang jatuh, adalah milik dosa dan maut. Kita tidak seharusnya memulai dengan Roh dan berusaha mengakhirinya dengan daging. Karena kita sudah memulainya dengan Roh, kita harus mengakhirinya dengan Roh dan tidak berhubungan dengan daging. Dalam 2:20 yang bertentangan adalah Kristus dengan “aku”, di sini yang bertentangan adalah Roh dengan daging. Ini menunjukkan bahwa dalam pengalaman kita, Roh adalah Kristus dan daging adalah “aku”. Dari pasal 3 sampai akhir Surat ini, Roh adalah Kristus dalam pengalaman hayat kita. Dalam wahyu adalah Kristus, dalam pengalaman adalah Roh.
Daging telah dihukum dan ditolak di seluruh kitab ini (1:16; 2:16; 3:3; 4:23, 29; 5:13, 16-17, 19, 24; 6:8, 12-13), dan mulai pasal 3, setiap pasal memberikan perbedaan antara daging dengan Roh (3:3; 4:29; 5:16-17, 19, 22; 6:8). Daging adalah ekspresi sepenuhnya dari manusia tripartit yang jatuh, dan Roh adalah perwujudan Allah Tritunggal yang melalui proses. Daging cenderung memelihara hukum Taurat dan diuji oleh hukum Taurat. Roh diterima dan dinikmati berdasarkan iman. Ekonomi Allah mengalihkan kita dari daging ke Roh, sehingga kita dapat berbagian dalam berkat kekayaan Allah Tritunggal. Hal ini tidak mungkin terjadi dengan daging yang memelihara hukum Taurat, tetapi dengan Roh yang diterima berdasarkan iman dan dialami melalui iman.
Dalam Kitab Galatia, daging tidak semata-mata mengacu kepada tubuh manusia yang telah jatuh dan bejat, bahkan totalitas dari umat manusia yang telah jatuh. Karena itu, daging merupakan ekspresi terakhir dari manusia tripartit yang jatuh. Jadi, dalam pengertian ini daging mencakup tubuh, jiwa, dan roh manusia. Jika Anda merenungkan perbuatan daging yang terdaftar dalam 5:19-21, Anda akan nampak beberapa hal seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, dan kemabukan bertalian dengan hawa nafsu daging; yang lain bertalian dengan jiwa yang jatuh, seperti: perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, dan perpecahan; dan ada sebagian lagi bertali-an dengan roh yang telah mati, yakni: penyembahan berhala dan sihir. Ini membuktikan bahwa ketiga bagian dari diri kita yang jatuh telah tercakup dalam daging yang jahat itu. Karena itu dalam Kitab Galatia daging mengacu kepada seluruh diri manusia yang jatuh. Daging bukan hanya sebagian dari diri manusia yang jatuh, tetapi mencakup totalitas dari manusia tripartit yang jatuh.
Berdasarkan wahyu dalam Perjanjian Baru, Roh adalah perwujudan terakhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah itu Roh, dan manusia yang jatuh adalah daging. Allah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses, dan daging adalah manusia tripartit yang telah jatuh. Pernahkah Anda memahami bahwa manusia hari ini adalah manusia tripartit yang telah jatuh dan Allah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses? Manusia tripartit yang jatuh adalah daging, dan Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah Roh itu. Sebagaimana daging dalam Kitab Galatia tidak hanya ditujukan kepada tubuh yang bejat dan penuh hawa nafsu, melainkan totalitas dari manusia yang jatuh, demikian pula Roh itu tidak hanya ditujukan kepada Persona ketiga dari Allah Tritunggal, melainkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Daging mengacu kepada seluruh diri kita yang jatuh, dan Roh itu adalah Allah Tritunggal secara keseluruhan, yakni Bapa, Putra, dan Roh, yang telah melalui proses melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Allah Tritunggal hari ini adalah Roh itu. Ketika kita membaca tentang daging dalam Perjanjian Baru, perlulah kita menyadari bahwa daging mengacu kepada totalitas diri manusia yang jatuh. Seasas dengan itu, ketika kita membaca tentang Roh itu dalam Surat-surat Kiriman Paulus, kita pun harus mengerti bahwa Roh itu ditujukan kepada Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit.
PENYALAHGUNAAN IBLIS
ATAS HUKUM TAURAT
Ekonomi Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri selaku Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam diri kita menjadi hayat dan segala sesuatu kita, agar diri-Nya menjadi satu dengan kita dan kita pun menjadi satu dengan Dia, sehingga kita dapat mengekspresikan Dia secara korporat untuk selama-lamanya. Akan tetapi, dalam usaha menggagalkan ekonomi Allah, Iblis, seteru Allah, memperalat hukum Taurat yang sementara diberikan oleh Allah bagi kehendak-Nya, menyuruh umat pilihan Allah meninggalkan ekonomi-Nya. Jika kita membaca Kitab Galatia dari sudut pandang ini, kita akan menemukan bahwa kitab ini tidak sulit dimengerti. Ketika kita membaca Surat Kiriman ini, kita harus nampak bahwa ekonomi Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai Roh pemberihayat almuhit ke dalam kita untuk menghasilkan suatu kesatuan yang organik antara kita dengan Allah Tritunggal, sehingga kita dapat mengekspresikan Dia secara korporat. Tetapi Iblis telah memperalat hukum Taurat pemberian Allah itu untuk menyelewengkan umat Allah dari ekonomi-Nya dan menghalangi penggenapan ekonomi Allah.
Penting sekali memahami dengan jelas arti disalahgunakannya hukum Taurat. Hukum Taurat telah disalahgunakan bila dipakai untuk menggugah keinginan manusia yang jatuh untuk meninggikan dirinya sendiri dan membenarkan diri melalui memelihara hukum Taurat. Para penganut agama Yahudi menyalahgunakan hukum Taurat sedemikian dengan maksud menyesatkan kaum beriman dari ekonomi Allah. Apa yang kita lihat dalam Kitab Galatia adalah penyalahgunaan hukum Taurat pemberian Allah ini. Hukum Taurat yang diberikan Allah telah disalahgunakan oleh Iblis untuk menjauhkan umat pilihan Allah dari ekonomi-Nya.
JALAN IMAN
Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa melakukan hukum Taurat berlawanan dengan mendengarkan tentang iman. Iman adalah jalan bagi umat Allah untuk menanggapi, memahami, mencerap, menikmati, dan mengambil bagian dalam hakiki Allah yang telah melalui proses menjadi Roh itu. Berdasarkan Kitab Galatia, hukum Taurat telah digantikan oleh iman. Dalam pengalaman kita, hukum Taurat seharusnya sudah berlalu, dan imanlah yang seharusnya berlaku.
Sebagaimana hukum Taurat sejalan dengan daging, maka iman sejalan dengan Roh itu. Bila kita berusaha memelihara hukum Taurat, kita akan segera berada dalam daging. Tetapi bila kita menempuh jalan iman dengan mendengar, mengapresiasi, menyeru, menerima, menyambut, bersatu, mengambil bagian, dan menikmati, dengan spontan kita akan mengalami Roh itu. Hal ini dapat kita buktikan melalui pengalaman kita. Bila kita berusaha sekuat tenaga untuk memelihara hukum Taurat, kita akan berada di dalam daging, di dalam manusia tripartit yang jatuh. Namun, bila kita menempuh jalan iman, kita berada di dalam roh kita seraya menikmati Roh itu. Dalam jalan imanlah kita menikmati Roh itu sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Tambahan pula, jalan iman ini akan mengembangkan dan menumbuhkan kesatuan yang organik antara Allah yang telah melalui proses dengan manusia yang dilahirkan kembali. Allah menginginkan kesatuan organik ini dapat berkembang sampai tahap yang tertinggi.
BAGAIMANA IBLIS MENGHALANGI PERKEMBANGAN KESATUAN YANG ORGANIK INI
Namun saya berbeban untuk menunjukkan betapa Iblis, si licik itu mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kesatuan yang organik ini. Ia telah memperalat aliran-aliran dalam kekristenan untuk merusak perkembangan kesatuan organik antara manusia yang dilahirkan kembali dengan Allah yang melalui proses demi menghalangi ekonomi Allah. Andaikata dalam negara ini tidak ada berbagai aliran itu, hanya ada pemulihan Tuhan, maka kesatuan organik antara kita dengan Allah pasti akan berkembang pesat dalam waktu yang singkat.
Namun, pada faktanya, kesatuan ini telah terhalangi, terutama bukan oleh agama-agama lain, melainkan oleh aliran-aliran dalam kekristenan. Sebagaimana Iblis pada zaman dahulu memperalat agama Yahudi, demikian pula ia memakai aliran-aliran dalam kekristenan hari ini untuk menghalangi perkembangan yang tepat dari kesatuan organik antara umat Allah dengan Allah Tritunggal.
Prinsip yang dianut Iblis dalam melakukan hal ini ialah mempergunakan hal-hal pemberian Allah untuk dipakai orang secara keliru. Sebagai contoh, prinsip ini dapat terlihat dalam aliran kekristenan tertentu di mana memang ada beberapa hal pemberian Allah. Banyak orang beriman sejati di dalam aliran tersebut telah terpesona oleh hal-hal pemberian Allah yang diperalat oleh Iblis. Karena beberapa hal milik Allah dapat ditemukan dalam aliran itu, maka banyak orang mungkin akan bangkit membela dan berkata bahwa di sana benar-benar ada hal-hal milik Allah. Hendaklah kita ingat nubuat Tuhan dalam Matius 13:33, “Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” Seperti perempuan dalam perumpamaan ini, maka aliran kekristenan tertentu telah mencampurkan ragi dengan tepung halus. Ia telah mencampuradukkan hal-hal milik setan dengan hal-hal pemberian Allah. Karena itu, apa yang kita temukan dalam kekristenan tertentu adalah campuran hal-hal milik setan dengan hal-hal pemberian Allah. Dalam Wahyu 17 aliran kekristenan tertentu diwakili oleh seorang wanita yang di tangannya ada satu cawan emas yang penuh dengan segala kekejian dan kenajisan. Itulah situasi yang sesungguhnya dalam aliran itu.
Seprinsip dengan ini, tidak dapat kita sangkal bahwa di dalam aliran Protestan juga ada hal-hal milik Allah. Orang juga menemukan hal-hal pemberian Allah di sana. Akan tetapi, banyak dari hal-hal itu telah diperalat Iblis untuk menggagalkan ekonomi Allah dan menghambat perkembangan kesatuan yang organik itu. Kebanyakan orang beriman sejati di kalangan denominasi-denominasi Protestan tidak pernah mendengar tentang kesatuan yang organik ini. Banyak pula yang bahkan tidak tahu bahwa Kristus hidup di dalam mereka. Orang-orang itu mungkin telah dibawa kepada Tuhan, tetapi setelah mereka dibawa kepada-Nya, mereka terhambat dan tidak dapat maju untuk mengalami Dia. Melalui pemberitaan Injil dari aliran Protestan, banyak orang berdosa telah beroleh selamat. Namun demikian, setelah mereka beroleh selamat dan menjadi kaum beriman, mereka tidak dapat mengalami Kristus justru karena denominasi-denominasi yang membawa mereka beroleh selamat itu.
Perusakan yang terbesar dari aliran kekristenan tertentu adalah ia membuat kaum beriman sulit mengapresiasi kesatuan organik yang batini dengan Allah Tritunggal. Yang ditekankan dalam aliran itu adalah manifestasi lahiriah. Orang-orang yang menekankan hal-hal demikian sulit sekali untuk ditenangkan dan mengenal Roh dalam roh mereka yang dilahirkan kembali dan mengikuti pengurapan batiniah. Kebanyakan dari orang-orang yang berada dalam aliran itu tidak mengetahui dan tidak memperhatikan bahwa mereka mempunyai roh yang telah dilahirkan kembali. Sebaliknya, mereka hanya memperhatikan manifestasi dari apa yang disebut karunia-karunia. Mereka tertarik kepada bahasa lidah, kesembuhan, dan mujizat-mujizat, bukan kepada perkembangan dan pertumbuhan kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal.
Pada tahun 1963 saya diundang untuk berbicara pada kelompok kekristenan tertentu. Setelah suatu sidang, pemimpin kelompok itu dan istrinya mencoba menyuruh seorang saudara untuk berbahasa lidah. Si istri menyuruh saudara itu untuk tidak berbahasa Mandarin atau Inggris, tetapi dengan bahasa lain yang terlintas dalam angan-angannya. Saudara tersebut tahu bahwa untuk mengatasi situasi itu ia harus mengucapkan sesuatu. Ia lalu ingat beberapa kata dalam bahasa Melayu, dan diucapkannyalah beberapa ungkapan yang tidak berarti. Segera pemimpin kelompok tersebut dan istrinya bertepuk tangan dan gembira karena saudara tersebut telah berbahasa lidah. Keesokan harinya saya menunjukkan kepada pasangan suami istri itu tentang apa yang sebenarnya terjadi dan menanyakan praktek itu kepada mereka.
Selain itu, dalam suatu sidang dari kelompok kekristenan itu, seorang wanita mengucapkan bahasa lidah pendek; lalu ada seorang pemuda memberikan penafsiran yang panjang terhadap perkataan itu. Kemudian, pemimpinnya mengakui bahwa penafsiran yang diberikan pemuda itu tidak benar. Lalu saya bertanya kepadanya mengapa harus ada praktek-praktek itu kalau kita telah mempunyai Kristus yang kaya untuk disuplaikan kepada orang lain. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan saya. Kemudian pemuda yang memberikan penafsiran itu me-nyangkal bahwa apa yang ia ucapkan bukanlah ingin menafsirkan bahasa lidah wanita itu. Saya mengingatkannya bahwa ia telah menyatakan dengan jelas kepada semua yang hadir bahwa ia sedang memberikan penafsiran. Selanjutnya saya berkata, “Kita tidak perlu melakukan hal-hal itu. Saya yakin dengan pasti bahwa Anda mengasihi Tuhan. Mengapa Anda tidak mau memberitakan kebenaran dan menyuplaikan kekayaan Kristus kepada orang lain?”
Ada kelompok lain bahkan menyatakan bahwa dalam sidang mereka terjadi keajaiban, ada gigi seseorang yang terbungkus (tertambal) dengan emas secara mujizat. Saya sama sekali tidak percaya laporan semacam itu. Mengapa Allah tidak memulihkan saja gigi orang itu, sebagai ganti menambalnya dengan emas? Demikian tentu lebih sesuai dengan prinsip Alkitab. Lagi pula, kalau mujizat semacam itu benar-benar terjadi, pasti diketahui oleh wartawan dan dimuat dalam surat kabar.
Kasus lainnya ialah tentang pemimpin suatu kelompok (orang Amerika) yang menyatakan bahwa ia telah diberi kecakapan berbicara dengan bahasa Mandarin. Pada suatu hari ia menuturkan suara-suara aneh tertentu dan yakin bahwa ia sedang berbahasa Mandarin. Saya bersama seorang yang berbahasa Mandarin menunjukkan bahwa kami tidak mengerti sepatah kata pun yang ia ucapkan, sekalipun saya berbahasa Mandarin dan saudara itu berbahasa Kanton, dan kami berdua mengerti beberapa dialek lainnya. Namun pemimpin aliran itu terus mengucapkan suara-suara yang berbeda. Kami pun harus memberi tahu kepadanya bahwa kami tidak mengakui perkataan-perkataannya adalah bahasa Mandarin. Ketika saudara itu mendengar ini, ia sangat kecewa. Dengan menipu diri sendiri ia yakin bahwa ia cakap berbahasa Mandarin. Namun, bahasa Mandarin yang ia ucapkan adalah bahasa ciptaannya sendiri. Kejadian-kejadian semacam ini lazim sekali terlihat dalam aliran kekristenan tertentu pada hari ini.
Dalam sebuah majalah karismatik tertentu pernah dimuat satu artikel di mana si pengarang mengatakan bahwa ia telah berkontak dengan dua ratus orang yang menyatakan pernah berbahasa lidah, tetapi tanpa kecuali, kedua ratus orang itu meragukan kesejatian bahasa lidah yang mereka ucapkan. Namun demikian, si pengarang tetap menganjuri mereka meneruskan bahasa lidah mereka, tanpa mempedulikan kecurigaaan mereka terhadap kesejatian bahasa lidah yang mereka ucapkan. Artikel tersebut pernah kita bacakan di muka umum dalam sidang pelatihan 1963. Ketika itu saya bertanya kepada para peserta pelatihan apakah Petrus dan orang-orang lainnya pada hari Pentakosta menaruh syak terhadap kesejatian bahasa lidah yang mereka tuturkan? Sudah pasti Petrus dan orang-orang lainnya itu tidak menaruh syak yang demikian. Namun, kedua ratus orang yang berbahasa lidah tadi meragukan bahasa lidah mereka sendiri, sebab bahasa lidah yang mereka ucapkan bukanlah yang sejati.
Pada tahun 1963 dan 1964 ada surat kabar yang melaporkan tentang beberapa ramalan dari aliran Pentakosta tertentu, yaitu akan ada gempa bumi melanda kota Los Angeles dan menenggelamkannya ke dasar samudra. Akan tetapi, hari dan tanggal ramalan gempa bumi itu berlalu tanpa terjadi apa-apa. Tentu saja tidak tergenapinya ramalan itu cukup membuktikan bahwa ramalan itu adalah palsu.
Saya ingin mengambil satu contoh lain yang kami alami di Timur Jauh. Setelah kami pindah ke Taiwan dan memulai pekerjaan di sana, saya menunjukkan kepada kaum saleh bahwa menurut pengalaman kita di daratan China, paling baik kita membiarkan saja kekristenan. Saya juga menasihati mereka untuk tidak melibatkan diri ke dalam hal-hal karismatik. Sebaliknya, saya mendorong mereka untuk memberitakan Injil hanya kepada orang-orang yang belum percaya. Bertahun-tahun kami terus memberitakan Injil dengan agresif. Kami “banjiri” kota-kota dengan traktat dan selebaran Injil. Setelah lewat enam tahun, jumlah kami meningkat dari di bawah 500 hingga lebih dari 20.000 orang. Selama awal tahun 1960-an, sewaktu saya meninggalkan Taiwan, ada seorang pekerja Pentakosta wanita sangat terkenal di Malaysia, dan ia mempengaruhi beberapa orang saleh dalam pemulihan Tuhan. Ia bahkan mengendalikan sebuah gereja kecil di Malaysia. Akan tetapi, ada seorang saudara tua beserta tiga saudara muda menolak untuk mengikutinya, sebab mereka jelas akan kebenaran. Pada tahun 1965 pengkhotbah wanita itu merencanakan suatu sidang istimewa di Taiwan khususnya bagi orang-orang dalam gereja lokal, Dia ingin mengambil alih gereja-gereja di Taiwan. Walaupun saya tidak mengetahui situasi tersebut, tetapi saya berbeban mengunjungi Taiwan pada bulan September 1965, bertepatan dengan waktu akan diadakannya sidang istimewa tersebut. Ketika saya tiba, saya baru tahu tentang sidang istimewa mereka itu. Wanita itu, yang terkenal dengan perkataannya bahwa bahasa lidah belum tentu bahasa daerah atau dialek tertentu, mendadak diserang penyakit kanker lidah dan tidak dapat datang ke Taiwan untuk memimpin sidang istimewa itu. Ada orang meramalkan akan ada suatu kebangunan rohani di seluruh dunia yang dimulai dari Taiwan pada tahun 1966, dan wanita itu akan sembuh. Namun, kebangunan rohani tidak kunjung tiba, dan wanita itu meninggal dunia. Setelah kematiannya, ada lagi nubuat yang dimuat dalam majalah tertentu, yang meramalkan bahwa wanita itu akan bangkit dari kematian. Tetapi nubuat itu tidak pernah menjadi kenyataan.
HIDUP DAN BERTINDAK MENURUT ROH ITU DI DALAM ROH KITA
Berdasarkan semua yang telah saya pelajari dan alami (kadang-kadang melalui banyak penderitaan,) saya nampak bahwa aliran-aliran kekristenan yang kita singgung di atas merupakan suatu halangan bagi ekonomi Allah dan satu hambatan besar bagi perkembangan kesatuan yang organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Menurut Surat-surat Kiriman Paulus, Allah Tritunggal telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Ketika Roh ini masuk ke dalam roh manusia, dihasilkanlah suatu kesatuan organik dengan Allah Tritunggal, dengan demikian manusia dapat hidup oleh Dia dalam rohnya. Dalam 1Korintus Paulus menanggulangi masalah penyalahgunaan bahasa lidah. Dalam 1Korintus 7 kita menemukan satu contoh yang paling baik dari kehidupan yang menurut kesatuan yang organik tersebut. Dalam ayat 25 Paulus berkata, “Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Setelah mengutarakan opininya mengenai masalah ini, Paulus berkesimpulan demikian: “Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (ayat 40). Di sini kita nampak prinsip Perjanjian Baru, yaitu prinsip inkarnasi. Menurut prinsip ini, ada suatu perbauran dari sifat ilahi dengan sifat insani. Allah tidak bertindak sendirian, manusia juga tidak bertindak sendirian. Sebaliknya, Allah bertindak dalam kesatuan dengan umat-Nya yang telah beroleh selamat, sebab suatu kesatuan yang organik telah terjadi antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan orang-orang yang telah dilahirkan kembali. Segala yang kita ucapkan dan lakukan haruslah berasal dari kesatuan ini, yaitu perbauran Allah dengan manusia. Hal ini sangat berbeda dengan yang dipraktekkan aliran kekristenan tertentu hari ini. Apa yang disebut nubuat oleh mereka adalah menurut prinsip Perjanjian Lama, yakni: “Demikian firman Allah”. Namun, dalam Perjanjian Baru, tidak tertera “Demikian firman Allah”, melainkan tertera apa yang dikatakan Paulus atau apa yang dikatakan Petrus dan Yohanes. Menurut 1Korintus 7, sekalipun Paulus tidak mempunyai perintah dari Tuhan tentang orang-orang yang belum kawin, ia tetap dapat mengucapkan perkataan yang di dalamnya mengekspresikan Roh Allah. Inilah prinsip Perjanjian Baru. Kita harus mengikuti prinsip ini demi mengembangkan kesatuan yang organik antara Allah yang telah melalui proses dengan manusia yang telah dilahirkan kembali.
Kita telah menunjukkan dengan tegas bahwa dalam Kitab Galatia, Roh itu mengacu kepada Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan bahwa daging mengacu kepada totalitas dari manusia tripartit yang jatuh. Jika kita nampak perbandingan ini, kita tidak akan mau terpisah dari Allah dan hidup di dalam diri kita sendiri. Setiap hal yang kita lakukan di luar Tuhan adalah dari daging. Kita harus mengenal bahwa kita telah bersatu secara organik dengan Allah Tritunggal; ini adalah perkara yang sangat penting. Dia dan kita, kita dan Dia, telah berbaur menjadi satu. Kesatuan organik sedemikian ini telah terjadi di dalam roh kita. Karena itu, kita wajib hidup dan bertindak menurut Roh itu di dalam roh kita. Inilah ekonomi Perjanjian Baru Allah, yakni jalan untuk merealisasikan kehendak kekal-Nya.