← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 13/24

KRISTUS DAN ROH ITU

Pembacaan Alkitab:

Gal. 3:1-5, 13-14; 4:6; 1 Kor. 15:45b; 2Kor. 3:17; Rm. 8:2, 9-10

Galatia 3 adalah pasal yang sangat penting, namun juga sangat sulit dimengerti. Pasal ini merupakan salah satu pasal yang paling sulit dipahami dalam Perjanjian Baru. Sebab itu, tidaklah mudah kita menjelaskan apa yang diwahyukan pasal ini dengan beberapa kalimat saja. Ketika kita membaca pasal yang penting ini, janganlah kita menganggap ini memang semestinya demikian, dan mengira kita mengerti semua istilah yang digunakan Paulus. Sebagai contoh, dalam pasal ini Paulus menyinggung tentang “percaya kepada pemberitaan Injil” (ayat 2). Jangan beranggapan kita sudah memahami istilah ini.

[“Percaya kepada pemberitaan Injil” dalam ayat 2, dalam bahasa aslinya adalah “mendengar tentang kepercayaan”. Tentang arti kepercayaan di sini, lihat catatan 231 dalam Galatia 1; Perjanjian Baru versi Pemulihan, 1998:843. Untuk memudahkan pemahaman, dalam berita-berita Pelajaran Hayat Galatia ini kita memakai istilah iman sebagai ganti istilah kepercayaan, misalnya, mendengarkan tentang iman red.]. Dalam 3:1-4:31 kita nampak satu perbandingan antara Roh oleh iman kepada Kristus dan daging oleh melakukan hukum Taurat. Dalam perbandingan ini kita nampak dua kelompok yang berlawanan satu sama lain: Roh dan daging sebagai kelompok pertama, sedangkan iman dan hukum Taurat sebagai kelompok yang lain. Hukum Taurat mengikuti daging, sedangkan iman mengikuti Roh itu. Jadi, Roh itu adalah oleh iman kepada Kristus dan melakukan hukum Taurat adalah oleh daging.

Kedua pasal pertama dari Kitab Galatia boleh dianggap seperti sisi luar dari kitab ini. Tetapi pasal 3 adalah inti kitab ini, lembaganya. Dalam bagian inti Kitab Galatia ini diketengahkan perbandingan antara Roh itu dengan daging, juga antara iman dengan hukum Taurat. Karena itu, benarlah kalau mengatakan bahwa judul utama pasal 3 dan 4 adalah: Roh oleh iman kepada Kristus berlawanan dengan daging oleh melakukan hukum Taurat. Memiliki pengertian yang sedemikian terhadap pasal-pasal ini berarti memiliki sesuatu yang sangat besar nilainya. Tanpa nampak perbandingan ini kita tidak berdaya memahami apa yang diwahyukan dalam pasal-pasal ini.

Galatia 3:1-14 menampakkan kepada kita bahwa Roh itu adalah berkat yang dijanjikan karena iman kepada Kristus. Di sini kita memiliki Roh itu, berkat, janji, iman, dan Kristus. Roh itu adalah berkat, berkat berasal dari janji, janji oleh iman, dan iman berada di dalam Kristus. Apa artinya mengatakan Roh itu adalah berkat dan berkat itu dari janji? Apakah artinya janji adalah karena iman? Tidaklah mudah kita memahami hal-hal ini, justru hal-hal inilah yang harus kita perhatikan ketika kita membahas pasal-pasal ini.

Dalam 3:1-5 Paulus menyinggung Roh itu tiga kali. Dalam ayat 2 ia bertanya, “Apakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada mendengarkan tentang iman?” (Tl.). Dalam ayat 3 ia bertanya lagi, “Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?” Kemudian dalam ayat 5 Paulus bertanya apakah kaum beriman Galatia menerima suplai Roh itu karena melakukan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman (Tl.). Jadi, Roh itu merupakan hal yang sangat penting dalam 3:1-5.

Hal penting lainnya ialah “mendengarkan tentang iman”. Paulus dua kali menyinggung hal mendengarkan tentang iman; pertama berkaitan dengan menerima Roh itu (ayat 2), kedua berkaitan dengan Allah menganugerahkan (menyuplaikan) Roh itu (ayat 5). Penerimaan Roh itu dan penyuplaian Roh itu, kedua-duanya berkaitan dengan mendengarkan tentang iman. Ditinjau dari segi doktrin, mendengarkan tentang iman di sini lebih penting daripada Roh itu, sebab yang ditekankan Paulus di sini adalah perbandingan antara melakukan hukum Taurat dan mendengarkan tentang iman. Walaupun mendengarkan tentang iman begitu pentingnya, tetapi kebanyakan pembaca Kitab Galatia justru mengabaikannya; kalau mereka tidak mengabaikan, tentu menganggapnya memang semestinya demikian. Jaranglah orang yang menuntut untuk mengetahui apakah sebenarnya arti mendengarkan tentang iman itu.

Dalam Roma 8:2 kita nampak hubungan antara Roh hayat dengan Kristus, “Sebab hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus Yesus dari hukum dosa

dan hukum maut” (Tl.). Apakah artinya Roh hayat di dalam Kristus? Ajaran tradisional memimpin kita untuk percaya bahwa Roh itu dan Kristus adalah Persona yang terpisah dan berbeda. Tetapi kalau Roh itu adalah Persona yang terpisah dari Kristus, bagaimanakah Roh itu dapat berada di dalam Kristus? Ada guru Kristen mengajarkan bahwa Kristus, Sang Putra, Persona Tritunggal yang kedua, sedang duduk di atas takhta di surga, dan Roh Kudus, Persona Tritunggal ketiga, sekarang sedang bekerja di batin kita. Berbeda dengan ajaran tradisional, maka Alkitab tidak mengatakan Roh itu terpisah dan berbeda dengan Kristus, melainkan Roh itu berada di dalam Kristus.

Melalui jawaban Tuhan atas pertanyaan Filipus dalam Yohanes 14, kita dapat memahami perkara ini. Ketika Filipus berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (ayat 8). Jawab Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (ayat 9-10). Perkataan Tuhan menunjukkan dengan jelas bahwa Bapa dan Putra bukan dua Persona yang terpisah. Sebaliknya, Bapa berada di dalam Putra, dan Putra berada di dalam Bapa. Mereka tidak dapat dipisah-pisahkan. Tambahan pula, Putra diutus dari dan bersama Bapa (Yoh. 6:46 Tl.). Pada satu aspek, Dia diutus dari Allah, pada aspek lain, Dia selalu bersama Allah. Putra sebenarnya tidak meninggalkan Bapa, Bapa pun tidak terpisah dari Putra. Karena itulah, Tuhan berkata, “Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:11).

Pada prinsipnya, hubungan Kristus dengan Roh itu dan hubungan antara Kristus Putra dan Bapa adalah sama. Fakta bahwa Roh hayat berada di dalam Kristus berarti ada satu hubungan batini di antara Tiga dari ke-Allahan itu. Putra itu Putra, Bapa itu Bapa. Namun, Bapa di dalam Putra, dan Putra di dalam Bapa. Demikian pula, Putra itu Putra, Roh itu Roh, tetapi Roh itu berada di dalam Putra. Hal ini menunjukkan Tiga dari Allah Tritunggal itu tidak dapat dipisah-pisahkan.

Petunjuk lebih lanjut dari kebenaran ini terdapat dalam Roma 8:9-10. Dalam ayat-ayat itu Paulus mengatakan, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran.” Dalam ayat ini kita baca tentang Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus. Sebutan-sebutan ini semuanya menunjuk pada satu realitas yang sama, yakni Roh yang almuhit. Roh Allah adalah Allah, Roh Kristus adalah Roh Allah, dan Kristus itu sendiri adalah Roh Kristus. Kristus adalah Roh Kristus, Roh Kristus adalah Roh Allah, dan Roh Allah adalah Allah itu sendiri. Semua sebutan ini mengacu kepada Roh pemberi hayat yang almuhit. Persona yang satu ini adalah Roh Allah, Roh Kristus, Roh hayat, Kristus, dan Allah.

Dalam Roma 8:2 dan 9 tercatat tiga sebutan Roh itu: Roh hayat, Roh Allah, dan Roh Kristus. Jadi, Roh itu adalah dari hayat, dari Allah, dan dari Kristus. Sebutan-sebutan ini tentu bukan menunjukkan adanya tiga Roh. Jika kita mengatakan Roh hayat terpisah dari Roh Allah, atau Roh Allah berbeda dengan Roh Kristus, itu sama sekali keliru. Sebaliknya, Roh yang satu ini adalah Roh hayat, Roh Allah, dan Roh Kristus. Hayat, Allah, dan Kristus bukan tiga satuan atau substan yang terpisah. Sebaliknya, hayat itu Allah, Allah itu Kristus, dan Kristus itu hayat. Jadi, Roh hayat adalah Roh Allah, dan Roh Allah adalah Roh Kristus. Ketiganya merupakan satu satuan, yakni Roh yang almuhit itu.

I. KRISTUS DAN ROH ITU ADALAH SATU

Satu Korintus 15:45b mengatakan bahwa Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat (Tl.). Dua Korintus 3:17 menunjukkan kepada kita bahwa sekarang Tuhan adalah Roh itu. Adam yang akhir dalam 1Korintus 15:45b dan Tuhan dalam 2Korintus 3:17 keduanya mengacu kepada Kristus. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa hari ini Kristus dan Roh itu adalah satu.

II. KRISTUS YANG DISALIBKAN

Dalam 3:1 Paulus mendeklarasikan bahwa “Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang” di depan mata kaum beriman Galatia. Tuhan telah disalibkan di atas salib sebagai Kristus, bukan sebagai Roh itu. Kita tidak dapat mengatakan Roh itu disalibkan bagi kita, Kristuslah yang disalibkan bagi kita.

III. KRISTUS SEBAGAI ROH ITU MASUK KE DALAM ORANG YANG PERCAYA

Orang-orang Galatia percaya kepada Kristus yang disalibkan melalui mendengar Injil, namun yang mereka terima adalah Roh itu (3:2; 4:6). Persona yang disalibkan di atas salib adalah Kristus, tetapi Persona yang masuk ke dalam orang-orang yang percaya adalah Roh itu. Dalam penyaliban untuk penebusan orang-orang yang percaya, Dia adalah Kristus, tetapi dalam penghunian sebagai hayat orang-orang yang percaya, Dia adalah Roh itu. Inilah Roh pemberi hayat almuhit yang menjadi berkat Injil yang almuhit dan terakhir (ultima). Orang-orang yang percaya menerima satu Roh ilahi yang sedemikian ini karena mendengarkan tentang iman, bukan karena melakukan hukum Taurat. Dia masuk ke dalam orang-orang yang percaya dan hidup di dalam mereka, bukan karena mereka memelihara hukum Taurat, melainkan karena iman mereka dalam Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.

Jangan mengira bahwa Persona yang mati di atas salib itu berbeda dengan Persona yang masuk ke dalam kita. Persona yang mati bagi kita adalah Persona yang masuk ke dalam kita sebagai hayat kita. Ketika Persona ini mati di atas salib, Dia mati sebagai Kristus. Ketika Dia masuk ke dalam kita sebagai hayat kita, Dia masuk sebagai Roh itu. Dalam penyaliban untuk penebusan kita, Dia adalah Kristus (3:13), tetapi dalam penghunian sebagai hayat kita, Dia adalah Roh itu (Rm. 8:2, 9-10).

IV. YANG DIPERCAYA OLEH ORANG-ORANG

YANG BEROLEH SELAMAT ADALAH KRISTUS

YANG DISALIBKAN DAN DIBANGKITKAN,

TETAPI YANG DITERIMA MEREKA ADALAH ROH ITU

Yang kita percaya adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan, tetapi yang kita terima adalah Roh itu (3:2). Sebutan Persona yang kita percaya adalah Kristus, bukan Roh itu. Tetapi, ketika kita percaya kepada Kristus, kita menerima Roh itu. Kristus adalah Persona yang telah disalibkan demi penggenapan penebusan dan yang telah dibangkitkan. Karena itu, kita percaya kepada-Nya. Namun, ketika Dia masuk ke dalam kita, Dia masuk sebagai Roh itu. Dalam fungsi penebusan, sebutan-Nya adalah Kristus, sedang dalam fungsi hayat, sebutan-Nya adalah Roh itu. Selaku Persona yang paling penting dalam alam semesta, Kristus mempunyai status lebih dari satu. Meskipun Kristus dan Roh itu adalah satu, tetapi fungsi, sebutan, dan status-Nya berbeda.

V. KRISTUS DALAM WAHYU EKONOMI ALLAH

DAN ROH ITU DALAM PENGALAMAN

HAYAT KITA

Penekanan dalam wahyu ekonomi Allah di dalam kedua pasal pertama Kitab Galatia ialah pada Kristus. Tetapi dalam pengalaman hayat kita, sebagaimana yang disajikan dalam keempat pasal terakhir, penekanannya adalah pada Roh itu. Pernahkah Anda perhatikan, dalam Galatia 1 dan 2 tidak disebut-sebut tentang Roh itu? Tetapi, ayat demi ayat membicarakan Kristus. Mulai 3:2, Roh itu diwahyukan; Roh itu dalam pasal 3 adalah Kristus dalam pasal 2. Janganlah mengira bahwa Roh itu terpisah dengan Kristus. Dalam pasal-pasal yang membahas wahyu ekonomi Allah, kita membaca tentang Kristus, tetapi dalam pasal-pasal yang mengungkapkan pengalaman hayat kita, kita membaca tentang Roh itu. Di samping memberi kita wahyu tentang ekonomi Allah, Kitab Galatia juga memberi kita wahyu tentang pengalaman hayat kita. Yang di depan bersifat obyektif, sedangkan yang di belakang bersifat subyektif. Penekanan dalam wahyu ekonomi Allah pada segi obyektifnya adalah Kristus, tetapi penekanan dalam pengalaman hayat pada segi subyektifnya adalah Roh itu.

VI. ORANG-ORANG YANG PERCAYA

MENERIMA ROH ITU SEBAGAI BERKAT INJIL YANG ALMUHIT DAN TERAKHIR (ULTIMA)

Sebagai orang-orang yang percaya, kita telah menerima Roh itu, Roh pemberi-hayat almuhit sebagai berkat Injil yang almuhit dan terakhir. Menurut pengertian kebanyakan orang Kristen, Persona yang mereka terima ketika mereka percaya kepada Tuhan Yesus hanyalah Kristus, Putra Allah. Tidak banyak yang nampak bahwa Persona yang mereka terima bukanlah Kristus yang obyektif, melainkan Roh itu yang subyektif. Karena banyak yang tidak jelas tentang hal ini, maka mereka membicarakan tentang apa yang disebut berkat yang kedua, atau tentang menerima Roh di luar kelahiran kembali. Ketika sebagian orang Kristen tahu bahwa seseorang telah percaya kepada Kristus, mereka lalu bertanya kepadanya apakah ia sudah menerima Roh Kudus. Padahal orang Kristen yang sejati adalah orang yang percaya kepada Kristus dan menerima Roh itu. Menjadi orang Kristen yang sejati berarti percaya kepada Kristus, dan percaya kepada Kristus berarti menerima Roh itu. Namun, orang-orang yang menganggap Kristus terpisah dan berbeda dengan Roh itu mungkin mengira ada kemungkinan orang percaya kepada Kristus tanpa menerima Roh itu. Ini adalah kesalah pahaman yang serius! Sebagaimana telah kita tunjukkan berulang-ulang dalam berita ini, kita percaya kepada Kristus dan menerima Roh itu adalah peristiwa yang terjadi pada waktu yang bersamaan.

Ada banyak orang Kristen, ketika ditanya apakah mereka telah menerima Roh itu, mereka tidak jelas, bahkan tidak tahu bagaimana menjawabnya. Mereka perlu nampak, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, terjadilah suatu kesatuan yang organik. Saat bertobat dan beriman, saat itulah rampung suatu kesatuan organik yang ajaib antara kita dengan Tuhan Yesus. Banyak orang karena tidak tahu tentang fakta kesatuan organik semacam ini, maka mereka tidak dapat menikmati Roh itu sebagai berkat Injil yang almuhit dan terakhir. Mereka tidak menikmati berkat ini, malahan diselewengkan ke peraturan-peraturan, doktrin, atau ke pemahaman Alkitab secara harfiah dan mati. Yang lainnya mungkin menuntut apa yang disebut berkat yang kedua atau pencurahan Roh dengan berbahasa lidah. Namun, dalam keempat kitab yang merupakan jantung wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose tidak disebut-sebut tentang bahasa lidah atau pencurahan Roh. Sebaliknya, Paulus menempatkan penekanan yang kuat atas pemeteraian Roh itu, jaminan Roh itu, dan pencicipan Roh itu. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita dimeteraikan oleh Roh itu. Pada saat itu pula terjadi kesatuan yang organik, jaminan Roh itu diberikan. Dengan kata lain, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita pun menerima Roh itu, dan Roh itu menjadi berkat Injil yang terakhir bagi kita.

Para penganut agama Yahudi tidak mengetahui kesatuan organik yang rahasia dengan Kristus semacam ini, sedang kaum beriman Galatia tidak jelas tentang hal ini dan diselewengkan dari hal ini. Demikian pula orang-orang Kristen hari ini. Karena begitu banyak orang beriman tidak memahami apa yang terjadi dalam batin mereka pada saat mereka percaya Tuhan Yesus, mereka diselewengkan dan diduduki oleh hal-hal lain. Karena itu, penting sekali kita nampak apakah yang terjadi di dalam kita ketika kita percaya kepada Tuhan. Dengan satu kesatuan yang organik ini kita telah dicangkokkan ke dalam Allah Tritunggal. Sekarang seluruh diri Allah Tritunggal, semua yang telah Ia lakukan, semua yang telah dirampungkan, dan semua yang telah dicapai dan diperoleh-Nya, telah menjadi bagian kita. Karena para penganut agama Yahudi mengacaukan kaum beriman di Galatia dan karena kaum beriman di Galatia itu sendiri kekurangan pengenalan, maka Paulus berbeban menulis Surat Kiriman ini. Ia teristimewa berbeban membahas masalah-masalah dalam pasal 3. Setiap orang yang percaya harus jelas bahwa Kristus dan Roh itu adalah satu. Kesatuan ini adalah satu rahasia bagi kenikmatan kita.