← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 1/24

LATAR BELAKANG DAN SUBYEK KITAB INI

Pembacaan Alkitab:

Gal. 1:1-7; 3:1, 3; 4:17, 21; 5:2, 4; 6:12, 15

Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose merupakan sekelompok surat yang membentuk jantung wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru. Karena itu, kitab-kitab ini sangatlah penting. Kitab Efesus membahas gereja sebagai Tubuh Kristus. Kitab Kolose membahas Kristus sebagai Kepala Tubuh. Kitab Galatia berkaitan dengan Kristus, dan Kitab Filipi berkaitan dengan pengalaman atas Kristus. Dalam Kitab Kolose dan Efesus kita menerima satu visi yang jelas tentang Kepala dan Tubuh. Dalam Kitab Galatia dan Filipi, kita nampak Kristus dan pengalaman atas Kristus.

Sebagaimana dalam setahun ada empat musim, demikian pula ada empat musim dalam pengalaman kristiani kita. Ini berarti dalam pengalaman kita terhadap Tuhan, kita akan melewati musim dingin juga musim panas. Pengalaman musim dingin sangat berfaedah, sebab pengalaman itu mempersiapkan kita untuk suatu permulaan baru yang tiba pada musim semi. Selama musim dingin berbagai jenis kehidupan menjadi “lenyap”. Melalui pelenyapan yang terjadi pada musim dingin, kehidupan-kehidupan itu dipersiapkan untuk bertumbuh kembali. Karena dalam pengalaman rohani kita perlu ada pelenyapan, maka kita harus siap untuk musim dingin pada saat-saat yang ditentukan. Kita boleh mengatakan bahwa Kitab Galatia merupakan kitab musim dingin, sebuah kitab yang melenyapkan kita dan menyingkirkan setiap perkara yang tidak seharusnya permanen. Namun, pelenyapan ini berguna bagi suatu tujuan yang sangat positif, yakni mempersiapkan kita untuk pertumbuhan hayat lebih lanjut.

Kita semua perlu dilenyapkan. Kita perlu dilenyapkan tidak hanya dalam perkara-perkara yang alamiah atau duniawi, tetapi juga dalam berbagai aspek dari pengalaman rohani kita. Demi pertumbuhan lebih lanjut dalam Tuhan inilah kita perlu dilenyapkan. Beberapa perkara tertentu dalam kehidupan Kristiani kita mungkin sangat baik, alkitabiah, dan rohani. Tetapi, asalkan perkara-perkara tersebut bukan Kristus sendiri, semuanya tidaklah seharusnya tinggal terlalu lama bersama kita. Hanya Kristus sendirilah yang seharusnya memiliki kedudukan yang permanen dalam kehidupan kristiani kita. Semua perkara lainnya, sampai-sampai pengalaman-pengalaman yang paling rohani pun harus dilenyapkan. Agar pelenyapan ini terjadi, Allah menetapkan musim dingin. Jangan sekali-kali berharap mempunyai musim panas yang tidak berkesudahan dalam kehidupan kristiani kita. Sebaliknya, kita harus berharap adanya perputaran musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Manakala kita datang pada suatu musim dingin dalam pengalaman kita terhadap Tuhan, kita harus berbesar hati bahwa musim semi dan musim panas akan menyusul pada waktunya. Karena itu, kita harus berbesar hati bila dilenyapkan untuk memperoleh permulaan baru yang lain. Harapan saya ialah semoga berita-berita mengenai Kitab Galatia ini bermanfaat untuk mencapai tujuan tersebut.

I. LATAR BELAKANG

Untuk mempelajari Kitab Galatia dengan tepat, kita perlu mengenal latar belakang dan pokok dari kitab ini. Semua kitab dalam Perjanjian Baru mempunyai latar belakang khusus tersendiri. Kita bersyukur kepada Tuhan atas latar belakang itu. Walaupun sebagian besar dari latar belakang itu tidak begitu positif, tetapi Tuhan memakai latar belakang yang negatif itu sebagai dasar untuk melepaskan wahyu ilahi. Semakin negatif suatu latar belakang, semakin besar pula kesempatan Tuhan untuk menyatakan wahyu-Nya. Semakin buruk latar belakangnya, semakin besarlah keperluan terhadap wahyu Allah. Jika kita nampak hal ini, kita akan bersyukur kepada Tuhan atas semua latar belakang yang negatif itu, sebab semua itu diperlukan demi tertulisnya kitab-kitab dalam Perjanjian Baru ini.

Injil Yohanes adalah satu contoh yang baik dari Perjanjian Baru, Injil ini ditulis untuk menentang suatu latar belakang yang negatif. Injil ini ditulis pada sepuluh tahun terakhir dari abad pertama. Pada masa itu ada suatu ke-cenderungan, bahkan di kalangan orang Kristen sendiri, untuk menyangkal ke-Allahan Kristus. Ada sebagian orang yang meragukan ke-Allahan Kristus, dan sebagian lainnya bahkan menyangkal kebenaran tersebut. Dengan latar belakang kecenderungan sedemikian inilah Injil ini ditulis oleh rasul Yohanes. Tanpa Injil ini, tak dapatlah kita memiliki suatu pengertian yang memadai terhadap ke-Allahan Kristus serta keberadaan-Nya yang kekal. Kita pun tidak mungkin memahami bagaimana Kristus bisa menjadi hayat kita. Tetapi, melalui Injil Yohanes, kita nampak dengan jelas bahwa ke-Allahan Kristus merupakan hal yang kekal dan mutlak. Dalam Injil ini kita juga memiliki pemandangan yang jelas tentang hayat kekal dan bagaimana Kristus bisa menjadi hayat kita. Jika pada akhir abad pertama, tidak ada latar belakang yang segelap itu, Injil yang ajaib ini mungkin tidak akan pernah ditulis.

Demikian pula, Surat-surat Kiriman Paulus ditulis dengan latar belakang yang khas. Misalnya, Surat 1 Korintus ditulis karena kekacauan dan perpecahan dalam gereja di Korintus. Jika kita tidak memiliki Surat 1 Korintus, kita tidak bisa mengetahui bagaimana Kristus dapat menjadi kenikmatan kita dalam segala macam situasi. Kitab tersebut melukiskan kenikmatan atas Kristus dengan cara yang tidak terdapat dalam kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kekacauan di Korintus yang telah menyebabkan ditulisnya Surat Kiriman tersebut.

Kitab Kolose juga ditulis berdasarkan latar belakang yang khusus, yakni latar belakang kebudayaan yang menyusup gereja di Kolose. Dengan latar belakang penyusupan kebudayaan inilah maka ditulislah Kitab Kolose yang sangat menakjubkan ini. Tanpa latar belakang itu, hari ini kita tidak akan memiliki Kitab Kolose.

Seasas dengan itu, terpulihnya kebenaran dibenarkan oleh iman pada masa Reformasi berasal dari suatu situasi yang negatif dan latar belakang yang gelap. Tanpa situasi dan latar belakang itu, kebenaran tentang dibenarkan oleh iman tidak akan sejelas seperti pada hari ini. Kebenaran ini tidak dapat dikaburkan lagi, sebab latar belakang yang gelap itu membuatnya lebih menonjol dan lebih tegas.

Sekarang kita tinjau latar belakang Kitab Galatia. Kitab ini ditulis sebelum tahun 60 Masehi, lebih dini daripada Kitab Efesus atau Kolose. Kitab Galatia ditulis pada awal ministri Paulus, yakni sebelum ia dipenjara.

Untuk memiliki pengalaman yang wajar atas gereja sebagai Tubuh Kristus, kita perlu memiliki Kitab Galatia. Kita perlu suatu pengalaman dan pengertian yang memadai dari semua yang disampaikan kepada kita dalam kitab ini. Jika hari ini kita ingin mempraktekkan kehidupan gereja, kita perlu mengenal Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Galatia.

Kitab Galatia mewahyukan bahwa Kristus berlawanan dengan agama berikut hukum Tauratnya. Hukum Taurat yang Allah berikan melalui Musa adalah dasar agama Yahudi. Agama Yahudi didirikan di atas hukum Taurat. Kitab Galatia mewahyukan bahwa Kristus yang kita perlukan untuk kehidupan gereja berlawanan dengan hukum Taurat dan agama.

A. Gereja-gereja di Galatia Terpedaya oleh

Para Penganut Agama Yahudi

Dalam ayat 2 Paulus berkata tentang “gereja-gereja di Galatia”, sebuah propinsi dalam Kekaisaran Romawi kuno. Melalui ministri pemberitaan Paulus, gereja-gereja didirikan di sejumlah kota dalam propinsi itu. Karena itu, ketika rasul menyebut gereja-gereja di Galatia secara kolektif, dia memakai istilah “gereja-gereja”, bukan “gereja”.

Gereja-gereja di Galatia telah terpesona (terpedaya) oleh para penganut agama Yahudi (3:1). Mereka telah di-selewengkan dari Kristus kepada agama Yahudi. Sejumlah besar orang beriman Perjanjian Baru dalam gereja-gereja di Galatia telah beralih kembali kepada agama Yahudi yang usang dan giat memelihara hukum Taurat berikut peraturan tentang sunat. Inilah latar belakang yang memberikan kesempatan kepada Paulus untuk menulis kitab yang indah ini.

Dalam menulis surat kepada orang-orang Galatia, Paulus sangat berterus terang dan lurus, ia sama sekali tidak bermain politik. Sebagai contoh, ia menyebut para penganut agama Yahudi yang meresahkan orang-orang Galatia sebagai “saudara-saudara palsu” (2:4). Kaum beriman Galatia telah terpedaya oleh saudara-saudara palsu itu.

B. Gereja-gereja di Galatia Diselewengkan dari Kristus ke Hukum Taurat

Dalam 1:6-7 Paulus berkata, “Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutar balikkan Injil Kristus.” Di sini Paulus sampai pada pokok pembicaraannya. Karena gereja-gereja di Galatia meninggalkan anugerah (kasih karunia) Kristus dan kembali memelihara hukum Taurat, Paulus berbeban menulis Surat ini. “Injil yang lain” yang disebut dalam ayat 6 menunjukkan pemeliharaan hukum Taurat dari agama Yahudi. Anugerah Kristus adalah Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh yang telah melalui proses, menjadi kenikmatan kita. Anugerah ini berlawanan dengan hukum Musa (Yoh. 1:17 dan catatan 1). Para penganut agama Yahudi meresahkan gereja-gereja dengan memutar balikkan Injil Kristus, atau mengubahnya. Dengan demikian mereka menyesatkan kaum beriman dan membawa mereka kembali kepada hukum Musa. Namun, pemeliharaan hukum Taurat itu tidak dapat menjadi Injil yang membebaskan orang-orang berdosa dari belenggunya dan membawa mereka ke dalam kenikmatan atas Allah. Ia hanya menahan mereka sebagai budak di bawah belenggunya (Gal. 5:1).

1. Lepas dari Kristus

Karena mereka telah diselewengkan dari Kristus kepada hukum Taurat, maka orang-orang Galatia telah lepas dari Kristus (5:4). Lepas dari Kristus berarti tidak memiliki apa-apa, terpisah dari Kristus. Dalam keselamatan-Nya, Allah telah membawa kita ke dalam Kristus dan menjadikan Kristus sebagai keuntungan kita dalam segala hal. Penebusan Allah telah menaruh kita ke dalam Putra-Nya, yang sekarang menjadi segala sesuatu bagi kita. Namun, para penganut agama Yahudi telah menyelewengkan kaum beriman Galatia dari Kristus kepada hukum Taurat. Dengan beralih dari Kristus kepada hukum Taurat, maka orang-orang Galatia telah tidak memiliki apa-apa, terpisah dari Kristus. Menurut Alkitab versi King James, Paulus berkata kepada orang-orang Galatia,“Kristus menjadi tidak berguna bagi kamu.” Orang-orang Galatia berada dalam suatu situasi di mana kefaedahan Kristus menjadi tidak berguna bagi mereka. Sebagai akibatnya, mereka telah dicabut dari semua keuntungan yang ada di dalam Kristus dan terlepas dari Dia. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab versi American Standard, mereka telah “terkerat dari Kristus”.

2. Jatuh dari Anugerah

Dalam Galatia 5:4 Paulus juga mengatakan kepada orang-orang Galatia bahwa mereka “hidup di luar karunia” (jatuh dari anugerah. Tl.). Lepas dari Kristus berarti jatuh dari anugerah. Ini menyiratkan bahwa anugerah yang di dalamnya kaum beriman berada adalah Kristus sendiri. Kristus yang mendatangkan faedah adalah anugerah bagi kita. Lepas dari Dia berarti jatuh dari anugerah.

3. Pembenaran melalui Hukum Taurat

Dalam Galatia 5:4 Paulus juga menunjukkan bahwa orang-orang Galatia telah menuntut pembenaran melalui hukum Taurat. Mereka telah dibenarkan di dalam Kristus, namun mereka mundur ke belakang untuk memelihara hukum Taurat dan berusaha beroleh pembenaran melalui melakukan hukum Taurat. Inilah tipu muslihat Iblis! Manusia yang telah jatuh tidak mungkin dibenarkan di hadapan Allah melalui memelihara hukum Taurat. Jalan satu-satunya untuk dibenarkan ialah dengan beriman kepada Kristus, yakni percaya kepada Tuhan Yesus. Namun, orang-orang Galatia telah terpedaya, dan karenanya mereka berusaha memelihara hukum Taurat. Mereka berusaha untuk dibenarkan dan menyenangkan Allah melalui perbuatan mereka sendiri.

4. Mempraktekkan Penyunatan

Para penganut agama Yahudi memaksa pula orang-orang Galatia untuk mempraktekkan penyunatan (6:12, 15). Dalam Kejadian 17, Allah memerintahkan Abraham dan keturunannya yang laki-laki untuk disunat. Laki-laki yang menolak penyunatan akan disingkirkan dari umat Allah. Tetapi, sunat hanya merupakan lambang dari penyaliban Kristus. Sunat sejati yang mengerat daging bukanlah yang dipraktekkan dalam zaman Perjanjian Lama itu, melainkan penyaliban Kristus. Daging kita hanya dapat ditanggulangi oleh salib Kristus. Penyaliban Kristus adalah kegenapan dari lambang penyunatan. Karena kita telah mempunyai realitas sunat, maka kita tidak lagi memerlukan bayangannya. Namun demikian, para penganut agama Yahudi mengalihkan kaum beriman Galatia dari realitas kepada bayangan. Betapa bodohnya ini!

5. Mengakhiri (Menyempurnakan) Bersandar Daging

Pula, orang-orang Galatia juga berusaha untuk mengakhiri (menyempurnakan) bersandar daging (3:3). Ini berarti orang-orang Galatia berusaha menyempurnakan diri melalui usaha sendiri, melalui usaha atau daya upaya daging yang di dalamnya sama sekali tiada kebaikan. Alangkah tololnya orang-orang Galatia itu!

II. POKOK

A. Menyelamatkan Orang Beriman

yang Telah Diselewengkan

Terlepas dari Zaman Religius yang Jahat

Pokok Kitab Galatia berkaitan dengan latar belakangnya. Pokoknya ialah menyelamatkan orang beriman yang telah diselewengkan terlepas dari zaman religius yang jahat. Dalam 1:4 Paulus berkata bahwa Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia (zaman) jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.” Suatu zaman adalah bagian dunia, adalah sistem setan. Suatu zaman ditujukan kepada suatu bagian atau aspek dari penampilan modern masa kini dari sistem Iblis yang digunakan untuk merampas dan menduduki manusia, dan menjauhkan manusia dari Allah dan tujuan-Nya. Kita boleh menganggap setiap dasawarsa sebagai satu zaman tersendiri atau bagian dari sistem dunia Iblis.

Berbagai zaman dari sistem setan tertampil dalam mode-mode busana yang dipakai orang dalam kurun waktu tertentu. Sebagai contoh, pada tahun 1950-an dasi kaum pria berbentuk sempit atau kecil, tetapi pada akhir tahun 1960-an dan hampir selama tahun 1970-an, bentuk dasi menjadi lebar. Sekarang, menurut perubahan gaya terakhir, bentuknya menjadi agak sempit lagi.

Semasih muda, saya bekerja di sebuah pabrik jala rambut (harnet) yang diekspor ke negeri Barat. Mula-mula, jala-jala rambut dibuat lebar, dirancang sesuai dengan gaya rambut yang berbentuk seperti menara. Kemudian, di luar dugaan, kami mulai menerima pesanan harnet kecil. Alasannya ialah karena kaum wanita Barat sekarang memotong rambut mereka sangat pendek, yakni bergaya lelaki, dan karenanya mereka memerlukan harnet kecil. Dengan ilustrasi-ilustrasi bentuk dasi dan harnet ini kita dapat melihat bahwa sistem dunia Iblis mempunyai zaman yang berlain-lainan dan mempunyai bagian yang berbeda-beda.

Menurut konteks kitab ini, zaman jahat yang sekarang ini mengacu kepada dunia religius, arus religius dunia, agama orang Yahudi. Ini dikuatkan oleh 6:14-15 yang menganggap sunat sebagai bagian dari dunia agama, yang bagi rasul Paulus sudah disalibkan. Di sini rasul menekankan bahwa tujuan Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri karena dosa-dosa kita adalah untuk menyelamatkan kita, untuk menarik kita keluar dari agama Yahudi, zaman jahat sekarang ini. Ini berarti menurut kehendak Allah melepaskan umat pilihan-Nya dari pemeliharaan hukum Taurat (3:23), membawa mereka keluar dari kandang domba (Yoh. 10:1, 3). Karena itu, dalam kata-kata pembukaannya, Paulus menunjukkan apa yang akan ditanggulanginya. Ia ingin menyelamatkan gereja-gereja yang diselewengkan oleh Yudaisme dengan hukum Tauratnya, dan membawa mereka kembali kepada anugerah Injil.

Bertahun-tahun saya menyukai Galatia 1:4, dan menggunakan ayat ini dalam khotbah saya. Namun, saya tidak memahami bahwa zaman jahat yang sekarang dalam ayat ini ditujukan kepada agama Yahudi. Pada masa Paulus, agama Yahudi sangat menonjol. Maksud Paulus dalam menulis Kitab Galatia adalah untuk menyelamatkan orang beriman yang disesatkan itu dari tirani zaman religius yang jahat itu.

Dalam Galatia 1:4 Paulus menunjukkan bahwa untuk menyelamatkan kita dari zaman religius yang jahat yang sekarang ini, Kristus telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita. Hal ini menunjukkan bahwa Kristus mati untuk menyelamatkan kita dari agama Yahudi. Dalam Yohanes 10 kita melihat Kristus sebagai Gembala yang baik masuk ke dalam kandang untuk mengeluarkan domba-domba-Nya dari kandang ke padang rumput. Kandang dalam Yohanes 10 mengiaskan hukum Taurat atau agama Yahudi, yang di dalamnya umat pilihan Allah terkungkung dan terkekang dalam pengawalan hingga kedatangan Kristus. Sebelum kedatangan Kristus, Allah menggunakan agama Yahudi sebagai kandang untuk menjaga domba-domba-Nya. Tetapi Kristus telah datang sebagai Gembala untuk mengeluarkan domba-domba itu dari kandang ke padang rumput di mana mereka dapat menikmati kelimpahan-Nya. Walaupun Kristus datang untuk melepaskan domba itu dari kandang, para penganut agama Yahudi justru menyalibkan Gembala yang baik ini. Kematian-Nya di atas salib tidak saja untuk dosa-dosa domba-domba itu, tetapi juga untuk mengeluarkan mereka dari kandang.

Berdasarkan Perjanjian Baru, kematian Kristus di atas salib telah menggenapkan banyak hal. Dalam Efesus 2 kita nampak bahwa Dia menyerahkan diri-Nya untuk membatalkan peraturan-peraturan demi menciptakan satu manusia baru. Dalam Galatia 1 kita nampak bahwa Kristus menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita dengan tujuan menyelamatkan kita dari agama, dari zaman jahat yang sekarang ini.

Kita harus menerapkan Galatia 1:4 tidak saja kepada kaum beriman Galatia, tetapi juga kepada kaum beriman dalam Kristus hari ini. Kebanyakan orang Kristen telah terkungkung dalam suatu kandang agama. Istilah “kandang” dalam Perjanjian Baru tidaklah positif, tetapi ada beberapa lagu Kristen yang mengatakan tentang dibawa ke kandang dengan pengertian yang positif. Kita telah menunjukkan bahwa kandang dalam Yohanes 10 ditujukan kepada agama Yahudi. Pada prinsipnya, berbagai aliran agama Kristen dan denominasi-denominasi adalah kandang. Hanya gereja adalah kawanan domba. Kristus telah membawa kita kembali kepada kawanan domba bukan kepada kandang. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa kita telah diselamatkan dari kandang dan dikembalikan kepada kawanan domba Allah.

Pada masa Yohanes 10, umat Allah, domba-domba-Nya terkungkung di dalam kandang agama Yahudi. Tetapi, seperti yang dijelaskan dalam pasal ini, Kristus datang untuk mengeluarkan domba-domba-Nya dari kandang dan menyatukan mereka menjadi satu kawanan dengan kaum beriman kafir, yakni gereja (Yoh. 10:16). Karena itu, kandang adalah agama, sedang kawanan domba adalah gereja. Hari ini, berbagai aliran agama Kristen dan denominasi-denominasi merupakan kandang-kandang yang mengurung domba-domba Kristus. Namun Kristus sedang berusaha menyelamatkan domba-Nya dari berbagai kandang agama dan menyatukan mereka sebagai satu kawanan domba.

Kematian Kristus di atas salib menyelamatkan kita dari zaman jahat yang sekarang ini menurut kehendak Allah Bapa. Maka, menyelamatkan domba dari kandang adalah sesuai dengan kehendak Allah. Karena berbagai aliran agama Kristen dan denominasi-denominasi merusak kawanan domba Allah, maka mereka beroposisi dengan kehendak Allah. Dengan membangun kandang-kandang mereka, mereka merusak kehidupan gereja.

Hari ini Tuhan tetap berupaya untuk mengeluarkan domba-domba-Nya dari kandang. Karena alasan inilah terjadi suatu peperangan antara agama dengan pemulihan Tuhan. Tuhan Yesus datang bukan untuk mencuri domba, melainkan untuk memimpin domba keluar dari kandang. Tetapi para penganut agama Yahudi menganggap Dia sebagai pencuri domba. Demikian pula halnya, kita dalam pemulihan Tuhan telah dituduh sebagai orang-orang murtad dan pencuri-pencuri domba. Kita bukan orang-orang yang murtad, kita benar-benar menginginkan domba-domba Tuhan dikeluarkan dari kandang dan masuk ke dalam kawanan domba.

Tuhan Yesus datang ke dalam kandang, membuka pintu, dan membawa domba-domba keluar dari kandang, tetapi para penganut agama Yahudi menyalibkan Dia. Namun melalui kematian-Nya di atas salib, Tuhan menyerahkan diri-Nya sendiri karena dosa-dosa kita, untuk menyelamatkan kita dari kandang agamawi. Orang beriman pada masa Paulus dengan kita hari ini pada prinsipnya adalah sama.

B. Paulus Menjadi Rasul

Dalam Galatia 1:1 Paulus berbicara tentang jabatan kerasulannya: “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Jabatan kerasulan Paulus sangat erat hubungannya dengan Injil yang ia beritakan. Tujuan Kitab Galatia adalah memberi tahu penerima kitab ini bahwa Injil yang diberitakan oleh rasul Paulus bukan dari pengajaran manusia (1:11-12), tetapi dari wahyu Allah. Sebab itu, pada pembukaan kitab ini, Paulus menekankan bahwa ia menjadi seorang rasul bukan karena manusia atau oleh manusia, melainkan oleh Kristus dan Allah.

Dalam ayat 1, seperti halnya dalam keseluruhan kitab ini, Paulus sangat berhati-hati dalam penggunaan kata-kata. Pertama-tama ia berkata bahwa ia menjadi seorang rasul bukan “karena manusia”; kemudian disambungnya bahwa jabatan kerasulannya juga bukan “oleh seorang manusia”. Ia menjadi seorang rasul langsung oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Hukum Taurat berhubungan dengan manusia sebagai ciptaan lama, sedangkan Injil membuat manusia menjadi ciptaan baru dalam kebangkitan. Allah membuat Paulus menjadi rasul bukan berdasarkan hukum Taurat menurut manusia alamiahnya di dalam ciptaan lama, tetapi melalui kebangkitan Kristus menurut manusianya yang telah dilahirkan kembali dalam ciptaan baru. Karena itu, di sini Paulus tidak mengatakan, “Allah Bapa, yang telah memberikan hukum Taurat melalui Musa”, tetapi, “Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak berhubungan dengan manusia dalam ciptaan lama, tetapi dengan manusia dalam ciptaan baru melalui kebangkitan Kristus. Kerasulan Paulus sepenuhnya adalah milik cipta-an baru, yang terlahir di dalam roh melalui kelahiran kembali oleh Roh Allah.

Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan mengatakan tentang semua saudara yang ada bersama-sama dengan dia. Ini menunjukkan bahwa ia menganggap semua saudara yang bersamanya sebagai rekan penulis, supaya mereka dapat memberi kesaksian dan penegasan tentang apa yang ditulisnya dalam surat ini.

C. Anugerah dan Damai Sejahtera dari Allah Bapa

dan Tuhan Yesus Kristus bagi Gereja-gereja

Dalam ayat 3 Paulus berkata, “Anugerah menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.” Anugerah (kasih karunia) adalah Allah sebagai kenikmatan kita (Yoh. 1:17; 1Kor. 15:10), dan damai sejahtera adalah keadaan yang dihasilkan dari anugerah, dari kenikmatan akan Allah Bapa kita. Alangkah indahnya bahwa anugerah dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus adalah bagi gereja-gereja.