← Daftar isi 2 Korintus (2) · bab 5/20

ESENS MINISTRI DARI PERJANJIAN YANG BARU (1)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 3:3, 6-9, 18; 4:1a

Judul dari berita ini adalah “Esens Ministri dari Perjanjian yang Baru”. Kata esens berhubungan dengan apa yang Paulus katakan mengenai kemuliaan dan keunggulan ministri dari perjanjian yang baru dalam 2Korintus 3:7-11. Ayat-ayat ini memperlihatkan kerendahan kemuliaan ministri Musa, ministri hukum Taurat, ministri kepada penghukuman dan kematian, dan memperlihatkan keunggulan ministri kerasulan, ministri kasih karunia, ministri kepada pembenaran, dan ministri Roh. Ministri yang pertama adalah melalui kemuliaan untuk sementara, sedangkan ministri yang selanjutnya tetap berada dalam kemuliaan sampai selama-lamanya. Dalam 2Korintus 2:12-17, rasul membicarakan tentang kemenangan dan khasiat dari ministri rasul; dalam 2Korintus 3:1-6, tentang fungsi dan kemampuannya; dan dalam 2Korintus 3:7-11, tentang kemuliaan dan keunggulannya.

Dalam berita sebelumnya kita telah membahas sejumlah butir dasar yang berhubungan dengan ministri dari perjanjian yang baru: esens, khasiat, fungsi, kelayakan, kemuliaan, dan keunggulan. Sekarang dalam berita ini kita perlu melihat esens ministri dari perjanjian yang baru.

DITULIS DENGAN ROH ITU SEBAGAI ESENS

Beberapa orang mungkin menunjukkan bahwa kata esens tidak ditemukan dalam 2Korintus 3. Meskipun kata ini tidak dipakai di sini, tetapi konsepsi ini tidak diragukan lagi tersirat dalam ayat 3: “Karena telah ternyata bahwa kamulah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Dalam bahasa Yunaninya, kata “pelayanan” berarti melayankan (meministrikan) sesuatu kepada seseorang, misalnya, seperti seorang pramusaji yang melayani di sebuah rumah makan atau seorang pramugari di pesawat terbang. Jadi, Paulus mengatakan bahwa kaum beriman Korintus adalah surat-surat Kristus yang dilayani oleh para rasul. Namun, karena menyadari bahwa kata melayani ini tidak cukup, maka Paulus kemudian memakai kata “ditulis”. Ini menjelaskan makna meministrikan, melayani. Cara Paulus meministrikan ada-lah dengan menulis.

Dalam 2Korintus 3:3 Paulus berkata, “ditulis bukan dengan tinta”; ia tidak mengatakan “ditulis bukan oleh tinta”. Kata “dengan” menunjukkan bahwa tinta rohani, yaitu Roh dari Allah yang hidup itu, adalah esens, unsur yang dipakai oleh orang yang melakukan penulisan. Kita benar-benar perlu menaruh perhatian yang teliti kepada pemakaian kata “dengan” oleh Paulus ini. Kata depan ini menunjukkan bahwa Roh itu bukanlah penulis atau alat yang dipakai untuk menulis; sebaliknya, Roh itu adalah esens, unsur, substansi, yang dipakai dalam menulis. Roh dari Allah yang hidup, yang adalah Allah yang hidup itu sendiri, bukanlah satu alat, seperti pena, melainkan satu unsur, yaitu tinta surgawi yang dipakai dalam penulisan, yang dengan-Nya para rasul meministrikan Kristus sebagai isi untuk menulis surat-surat Kristus yang hidup yang menyampaikan Kristus.

Mari kita mengambil hal menulis sebuah surat dengan bolpen sebagai satu ilustrasi. Anda mungkin menjadi penu-lisnya, tetapi bolpen itu adalah alatnya. Namun, tinta itu bukanlah penulis atau pun alatnya; tinta ini adalah unsurnya, esensnya. Tetapi jika bolpen Anda kehabisan tinta, bagaimanapun Anda berusaha menulis dengan bolpen tersebut akan sia-sia. Anda mungkin menulis kata-kata di atas kertas, tetapi kertas itu akan kosong. Dalam kasus yang demikian, ada penulis dan alatnya, tetapi tidak ada tinta sebagai esens penulisan yang diperlukan.

Dalam 2Korintus 3:3, Roh Kudus bukanlah penulisnya, alatnya, atau pun kekuatannya. Bila orang-orang Kristen hari ini berbicara tentang Roh itu, maka konsepsi mereka berhubungan dengan kekuatan. Tetapi jika kita membaca ayat ini dengan teliti, melihat konteksnya, kita akan nampak bahwa di sini Roh itu adalah esens, bukan kekuatan.

Karena banyak orang Kristen mengabaikan Roh itu sebagai esens, maka saya sengaja menekankan kata esens dalam berita ini. Apakah orang Kristen hari ini melihat Roh itu sebagai esens? Sebagian besar orang-orang Kristen mengira bahwa Roh itu adalah alat atau kekuatan. Yang lainnya melihat lebih dalam dan membicarakan Roh itu sebagai persona ilahi. Tetapi saya tidak tahu apakah ada pengkhotbah yang membicarakan Roh itu seperti yang dilakukan Paulus dalam 2Korintus 3. Pandangan Paulus tentang Roh itu dalam pasal ini adalah Roh itu merupakan esens yang dipakai untuk menulis surat-surat Kristus. Di sini Paulus tidak memandang Roh itu sebagai persona, sebagai alat, atau kekuatan. Melainkan, Roh itu adalah esens yang dipakai untuk menulis surat-surat Kristus yang hidup.

Ministri (pelayanan) dari perjanjian yang baru bukanlah pengajaran belaka. Tidak ada satu pun dari guru-guru Anda di sekolah yang pernah menuliskan suatu esens ke dalam diri Anda. Mereka mungkin dapat menanamkan konsepsi-konsepsi ke dalam Anda, tetapi mereka tidak dapat menyalurkan esens apa pun ke dalam Anda. Namun, ministri dari perjanjian yang baru ini dapat melakukannya lebih dari sekadar mengajar kita; ministri dari perjanjian yang baru ini menulisi kita. Selain itu, ministri dari perjanjian yang baru ini bukan menulisi kita dengan konsepsi, pengetahuan, atau teologi, melainkan dengan satu esens, yaitu dengan sesuatu yang riil dan konkret.

Dalam kehidupan gereja dalam pemulihan Tuhan, apakah Anda tidak merasakan bahwa Anda berada di bawah satu penulisan rohani? Banyak dari antara kita dapat bersaksi bahwa melalui ministri dari perjanjian yang baru ini, Kristus telah dituliskan ke dalam kita. Esens ilahi telah dituliskan ke dalam diri kita, dan esens ini adalah Roh itu.

Namun, kita masih perlu mendefinisikan apakah esens ini. Kita sadar bahwa kita telah ditulis dengan Roh itu, tetapi apakah Roh ini?

KEMATIAN BERLAWANAN DENGAN ROH ITU

Sekarang kita harus melanjutkan untuk melihat beberapa istilah yang berhubungan dengan ministri dari perjanjian yang baru ini. Dalam 2Korintus 3:7 Paulus membicarakan tentang ministri kepada kematian, dan dalam ayat 8, tentang ministri Roh. Jadi, dalam ayat-ayat ini kita memiliki satu perbandingan antara ministri kepada kematian dan ministri Roh itu. Ministri kepada kematian mengacu kepada ministri perjanjian yang lama, yaitu ministri Musa. Paulus berani dalam mengatakan ministri kepada kematian. Tidak heran orang-orang Yahudi sakit hati terhadapnya. Kemudian Paulus membandingkan ministri kepada kematian ini dengan ministri Roh itu.

Kebanyakan dari kita tidak akan membandingkan kematian dengan Roh itu, karena kematian selalu berlawanan dengan hayat. Bagi kita, hasilnya adalah hayat atau kematian, kematian atau hayat. Paulus tidak memakai kata hayat dalam 2Korintus 3:18, melainkan mengatakan tentang Roh itu. Ini menunjukkan bahwa di sini Roh itu berhubungan dengan hayat, karena hayat adalah yang berlawanan dengan kematian. Dalam 2Korintus 3:6 Paulus mengatakan bahwa Roh itu memberikan hayat. Karena itu, di sini Roh itu menunjuk kepada Roh yang memberikan hayat dan juga menunjuk kepada hayat yang diberikan oleh Roh itu. Ministri perjanjian yang lama adalah ministri kepada kematian; ministri dari perjanjian yang baru adalah ministri kepada hayat yang terwujud di dalam Roh itu.

Esens Roh itu yang dituliskan ke dalam kita adalah hayat. Hayat di sini bukanlah satu alat, persona, kekuatan, tenaga, kemampuan, talenta, atau karunia. Jika kita menyadari bahwa Roh di sini adalah hayat, maka kita akan memahami apakah sifat esens yang dengannya kita ditulis melalui ministri dari perjanjian yang baru ini.

Sering kali orang-orang Kristen menyebut Roh itu sebagai alat, kekuatan, atau karunia. Karena berada di bawah pengaruh tradisi, kita juga mungkin tidak menaruh perhatian yang memadai kepada Roh itu sebagai esens yang dituliskan ke dalam kita. Karena alasan ini, saya ingin menekankan fakta bahwa Roh itu dalam 2Korintus 3 tidak mengacu kepada kekuatan atau alat, ini mengacu kepada esens.

DARI KEMULIAAN KE KEMULIAAN

Pemahaman ini ditegaskan oleh ayat 18: “Tetapi kita semua seperti cermin yang memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan ini datangnya dari Tuhan Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dari kemuliaan ke kemuliaan” (Tl.). Kemuliaan di sini bukanlah satu alat, kekuatan, kemampuan, atau karunia. Kemuliaan juga merupakan satu esens. Sewaktu kita memandang kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, kita ditransformasi dengan kemuliaan sebagai esens. Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa “dari kemuliaan ke kemuliaan” dalam ayat 18 ini berarti dari Tuhan Roh kepada Tuhan Roh, karena dalam ayat ini kemuliaan dan Roh itu sinonim. Karena itu, ditransformasi dari kemuliaan ke kemuliaan adalah ditransformasi dari Roh kepada Roh.

Amplified New Testament menerjemahkan kata-kata “dari kemuliaan ke kemuliaan” sebagai “dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan lainnya”. Mengatakan bahwa kita ditransformasi dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan lainnya itu benar. Tetapi kita tetap harus menemukan apakah kemuliaan itu. Kemuliaan dalam 2Korintus 3:18 ini sebenarnya adalah Roh itu. Kemuliaan ini juga mengacu kepada Kristus yang bangkit, atau mengacu kepada Kristus dalam kebangkitan. Tuhan Yesus dimuliakan oleh kebangkitan (Luk. 24:26). Maka, kemuliaan, Roh itu, dan kebangkitan semuanya mengacu kepada hal yang sama. Hari ini, Roh itu di dalam kita adalah kemuliaan dan juga adalah realitas kebangkitan. Karena itu, sekali lagi kita melihat bahwa Roh dalam 2Korintus 3 ini adalah esens, bukan alat atau kekuatan.

MINISTRI ROH ITU DAN MINISTRI KEBENARAN

Dalam 2Korintus 3:9 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.” Frase “pelayanan yang me-mimpin kepada penghukuman” juga mengacu kepada ministri Musa dari perjanjian yang lama. Ministri itu adalah ministri kepada kematian dan ministri yang memimpin kepada penghukuman. Paulus berani mengumumkan fakta bahwa ministri Musa adalah ministri yang memimpin kepada kematian dan penghukuman. Tetapi, seperti yang ditunjukkan ayat 9, ministri ini pun datang dalam kemuliaan.

Sebagaimana ministri perjanjian yang lama adalah ministri kematian dan ministri penghukuman, maka ministri dari perjanjian yang baru adalah ministri Roh dan ministri kebenaran. Kematian berlawanan dengan hayat yang terwujud di dalam Roh itu, dan penghukuman berlawanan dengan kebenaran.

Kita mungkin mengharapkan Paulus memakai kata pembenaran bukannya kebenaran. Tetapi di sini Paulus membicarakan tentang kebenaran (righteousness), bukan pembenaran (justification). Berdasarkan prinsip bahwa Roh itu di sini adalah esens, maka kebenaran di sini juga harus dianggap sebagai esens. Maka, perjanjian yang baru memiliki satu esens di dalam dua aspek: aspek yang pertama adalah Roh itu, dan aspek yang kedua adalah kebenaran.

Kita telah menunjukkan bahwa Roh itu dalam 2Korintus 3 berhubungan dengan hayat. Roh itu dalam pasal ini mengacu kepada hayat. Tetapi kebenaran itu mengacu kepada apa? Jika kita ingin menjawab pertanyaan ini, kita perlu menyadari bahwa Paulus menempatkan kebenaran dalam kategori yang sama dengan Roh itu. Kebenaran dan Roh itu berada pada tingkat yang sama. Ministri dari perjanjian yang baru adalah ministri Roh itu dan kebenaran, keduanya merupakan aspek esens dari ministri ini. Sama seperti sebuah meja dapat tersusun dari kayu dan cat, demikian juga ministri dari perjanjian yang baru tersusun dari Roh itu dan kebenaran. Misalnya, sebuah meja yang terbuat dari kayu dicat. Kayu adalah substansi meja itu, dan cat memberikan satu penampilan khusus kepada meja itu. Karena itu, pada meja ini ada substansi dan penampilan. Prinsipnya sama dengan ministri dari perjanjian yang baru. Ministri ini memiliki satu substansi, dan juga memiliki satu penampilan, satu ekspresi. Substansi dari ministri perjanjian yang baru ini adalah Roh itu, dan ekspresinya, penampilannya, adalah kebenaran.

ROH ITU DAN KEBENARAN

DALAM KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI

Mari kita melihat perihal Roh itu dan kebenaran dalam terang dari pengalaman kita bersama Tuhan. Sebagai orang yang mengasihi Tuhan dan mencari Dia, ketika Anda memperhidupkan Kristus, apakah Anda merasakan bahwa di dalam diri Anda ada sesuatu yang sejati, hidup, dan aktif? Substansi yang hidup ini bukanlah doktrin, pengajaran, atau teologi. Sebaliknya, substansi yang hidup dan aktif ini adalah Roh itu.

Hari ini melalui ministri ini, kita semua telah memiliki Roh itu yang dituliskan ke dalam diri kita. Sering kali setelah mengikuti suatu sidang, kita merasakan bahwa di dalam kita ada sesuatu yang hidup, sejati, dan aktif. Substansi yang hidup ini adalah Roh itu di dalam kita, yakni Roh itu yang telah dituliskan ke dalam kita. Dengan kata lain, esens ilahi telah ditambahkan ke dalam diri kita. Jika seseorang belum pernah mengalami hal ini, saya ragu apakah ia telah benar-benar beroleh selamat dan dilahirkan kembali. Saya percaya kita semua yang ada di dalam kehidupan gereja dapat bersaksi bahwa kita telah mengalami Roh itu secara batini dengan cara yang hidup, aktif, dan sejati. Selain substansi yang batini ini, kita juga memiliki penampilan lahiriah. Ekspresi ini adalah kebenaran.

Setiap orang yang telah ditulisi dengan Roh dari Allah yang hidup akan memiliki satu ekspresi kebenaran dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya, seorang saudara yang telah menikah mungkin mengalami Roh itu sebagai substansi yang hidup di dalamnya melalui penulisan yang berasal dari ministri dari perjanjian yang baru ini. Dengan spontan istrinya akan nampak bahwa ada sesuatu yang telah terjadi pada suaminya. Ia mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Ada sesuatu yang telah terjadi padanya, tetapi aku tidak mengerti apa itu. Ia kelihatannya benar dalam setiap hal dan benar terhadap segala sesuatu. Sebelumnya, ia salah dalam banyak perkara. Ia bahkan salah dalam hal menaruh barang, karena ia tidak pernah mengembalikannya di tempat yang benar. Tetapi sekarang ia memperhatikan segala sesuatu dengan benar. Aku juga melihat perbedaan dalam hal ia berbicara kepadaku. Bila waktunya tiba untuk pergi bekerja, ia memberi tahu aku dengan cara yang baik bahwa ia akan pergi. Ia berkata, ‘Sayang, sekarang aku akan pergi bekerja.’ Suamiku bahkan benar dalam hal merawat anjingnya. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya.” Karena saudara ini telah mengalami Roh itu secara batini sebagai substansinya, maka ia mengekspresikan kebenaran dalam kehidupannya di rumah.

Bila kita tidak memperhidupkan Kristus, kita akan salah dalam banyak hal. Kita mungkin salah dalam menutup jendela atau pintu. Bukannya menutup pintu dengan benar, kita malah membantingnya. Tetapi bila kita memperhidupkan Kristus dan mengalami sesuatu yang sejati dan aktif di dalam kita ini, kita menjadi benar dalam menutup jendela dan pintu. Pada kenyataannya, apa saja yang kita lakukan akan kita lakukan dengan benar.

Beberapa orang mungkin sangat sembarangan dalam menaruh sepatu atau pakaian mereka. Jika Anda melihat ruang tidur mereka, Anda akan menemukan banyak barang yang tidak rapi. Tetapi jika orang-orang itu mengalami Roh itu sebagai substansi di dalam mereka, mereka akan menjadi benar bahkan terhadap sepatu dan pakaian mereka. Segala sesuatu akan diletakkan di tempat yang benar.

Jika Anda mengalami Roh itu secara batini dan mengekspresikan kebenaran secara luaran, orang lain akan sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda pada diri Anda. Inilah hasil dari ministri perjanjian yang baru. Ministri ini menuliskan satu esens ke dalam diri kita, satu esens yang memiliki aspek yang di dalam dan aspek yang di luar. Aspek yang di dalam adalah Roh yang hidup yang bergerak di dalam kita; aspek yang di luar adalah kebenaran sebagai ekspresi kita.

MENGEKSPRESIKAN GAMBAR ALLAH

Roh itu dan kebenaran berhubungan dengan kita mengekspresikan gambar Allah. Alasannya adalah karena Roh itu dan kebenaran sebenarnya adalah Allah sendiri. Allah sebagai Roh itu sedang bergerak di dalam Anda sebagai satu substansi dan hidup di dalam Anda sebagai satu esens, karena Dia sendiri telah ditambahkan ke dalam diri Anda oleh ministri dari perjanjian yang baru. Maka, secara batini Anda memiliki Roh itu. Kebenaran yang Anda ekspresikan secara luaran juga adalah Allah sendiri. Karena itu, Anda bukan hanya tepat dalam begitu banyak hal, Anda bukan hanya benar, tetapi juga memiliki Allah sebagai kebenaran Anda. Allah sebagai kebenaran menjadi penampilan Anda, ekspresi Anda. Pertama-tama, Allah sendiri adalah Roh pemberi hayat yang hidup, bergerak, dan bertindak di dalam Anda. Kemudian Allah sendiri menjadi ekspresi, dan penampilan kebenaran yang di luar. Inilah esens ministri dari perjanjian yang baru.

Pekerjaan ministri dari perjanjian yang baru ini benar-benar berbeda dengan pekerjaan dari kebanyakan pengkhotbah dan guru-guru masa kini. Pekerjaan ministri dari perjanjian yang baru bukan sekadar mengajar kita untuk memperbaiki perilaku kita. Sebaliknya, ministri ini menulis kita dengan Roh itu. Menulis adalah menambahkan esens Allah lebih banyak ke dalam kita. Secara batiniah esens ini adalah Roh itu; secara lahiriah, esens ini adalah kebenaran. Tetapi seperti yang telah kita lihat, baik Roh itu secara batiniah maupun kebenaran secara lahiriah, adalah Allah sendiri. Karena itu, ministri dari perjanjian yang baru, yaitu ministri Roh itu dan kebenaran, adalah ministri Allah. Mengatakan bahwa ministri dari perjanjian yang baru ini adalah ministri Roh itu dan kebenaran sama dengan mengatakan bahwa ministri dari perjanjian yang baru ini adalah ministri Allah. Namun, mengatakan bahwa ministri ini adalah ministri Allah, merupakan pembicaraan yang umum, sedangkan mengatakan bahwa ministri ini adalah ministri Roh itu dan kebenaran, merupakan pembicaraan yang lebih khusus. Puji Tuhan bahwa Roh itu adalah Allah di dalam kita hidup, bergerak, dan bertindak, dan kebenaran adalah Allah yang terekspresi menjadi penampilan kita yang di luar!

Visi inti Alkitab berhubungan dengan gambar Allah yang diekspresikan oleh hayat Allah. Mengenai hal ini, dua pasal pertama dari Kitab Kejadian itu sangat penting. Dalam Kejadian 1 kita memiliki gambar Allah: “Berfirmanlah Allah, baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita . . . Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (ayat 26-27). Maksud Allah adalah agar kita memiliki gambar-Nya dan mengekspresikan Dia. Namun, jika kita ingin mengekspresikan Allah secara demikian, kita perlu memiliki hayat-Nya. Hayat Allah ini dilambangkan dengan pohon hayat dalam Kejadian 2:9. Hayat yang di dalam adalah Roh itu, dan gambar yang di luar untuk ekspresi adalah kebenaran. Puji Tuhan untuk ministri dari perjanjian yang baru dengan kedua aspek ini, hayat dan ekspresi! Secara batiniah kita memiliki Roh itu sebagai hayat, dan secara lahiriah kita memiliki kebenaran sebagai ekspresi kita.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Di antara semua orang di bumi, orang-orang yang paling benar adalah orang-orang yang memperhidupkan Kristus. Bila Anda memperhidupkan Kristus, Anda akan menjadi benar dalam setiap hal. Anda tidak memerlukan orang lain mengajar Anda untuk menjadi benar, karena Kristus yang hidup di dalam Anda akan membuat Anda menjadi benar dalam segala sesuatu dan benar terhadap setiap orang. Jika kita sembarangan terhadap barang-barang kita atau sembarangan dalam hal menutup pintu, itu adalah satu petunjuk bahwa kita tidak memperhidupkan Kristus. Jika kita sungguh-sungguh memperhidupkan Kristus, kita akan menutup pintu dengan benar. Kita juga akan benar dalam mengetuk pintu rumah orang atau membunyikan bel pintunya. Sekali lagi saya katakan bahwa kita tidak memerlukan orang lain mengajar kita bagaimana menutup pintu, bagaimana mengetuk pintu, atau bagaimana membunyikan bel pintu. Alkitab tidak berisi perintah-perintah yang demikian. Jika Alkitab berisi satu peraturan bagi setiap aspek dari kehidupan kita sehari-hari, maka Alkitab akan terlalu besar untuk kita bawa. Roh di dalam kitalah yang membuat kita menjadi benar dalam kehidupan kita. Apa yang kita perlukan adalah penulisan Roh itu lebih banyak. Ministri dari perjanjian yang baru adalah ministri Roh itu.

Ketika kita ditulisi dengan Roh itu, esens ilahi disalurkan ke dalam diri kita. Esens ini akan menyebabkan proses metabolisme rohani terjadi di dalam kita. Hasil dari proses ini, kita ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Tuhan.

TRANSFORMASI YANG DI DALAM

DAN KEBENARAN YANG DI LUAR

Kita telah melihat bahwa ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Tuhan dari kemuliaan ke kemuliaan adalah ditransformasi dari Roh itu kepada Roh itu. Jika kita mengalami transformasi batiniah yang demikian, maka dengan spontan kita akan memiliki kebenaran sebagai penampilan kita yang di luar. Kemudian kita akan menjadi benar terhadap Allah, terhadap orang lain, dan terhadap diri kita sendiri. Namun, banyak orang tidak benar terhadap Allah, terhadap orang lain, atau terhadap diri sendiri. Setiap hari mereka melukai Allah dan orang-orang di sekitar mereka. Selain itu, karena mereka kekurangan esens ilahi, mereka tidak benar terhadap diri mereka sendiri. Karena itu, mereka memerlukan ministri yang menuliskan esens ilahi ke dalam mereka. Secara batiniah, esens ini akan menjadi Roh itu di dalam mereka, dan secara lahiriah, esens ini akan terekspresi sebagai kebenaran.

Pemahaman terhadap 2Korintus 3 ini, terutama pada ayat 18, bukan hanya menurut doktrin, melainkan menurut pengalaman. Selama bertahun-tahun saya telah berusaha untuk memahami 3:18 ini. Sekarang dari pengalaman saya bersama dengan Tuhan, saya paham bahwa Roh itu adalah esens Allah yang hidup, bergerak, dan bertindak di dalam saya, dan kebenaran adalah esens Allah yang terekspresikan secara lahiriah sebagai gambar Allah untuk mengekspresikan Dia. Hasil dari memiliki Roh itu secara batiniah dan kebenaran sebagai gambar Allah secara lahiriah, saya menjadi benar terhadap Allah, terhadap orang lain, terhadap diri saya sendiri, dan terhadap begitu banyak aspek dalam kehidupan saya sehari-hari. Karena kita benar dalam setiap hal, kita memiliki damai sejahtera, sukacita, perhentian, dan iman. Inilah akibat dan hasil dari ministri dari perjanjian yang baru ini.