MEMANCARKAN KEMULIAAN PERJANJIAN YANG BARU (1)
Pembacaan Alkitab:
2Kor. 3:7-11, 18; Yoh. 17:1; Luk. 24:26; Kis. 3:15; Rm. 6:4
MENJAMAH REALITAS YANG BATINI
DARI FIRMAN
Dalam berita sebelumnya saya telah menunjukkan bahwa jika kita ingin menjamah “daging” dalam Alkitab, kita harus melampaui “bulu” dan “kulit”. Alkitab sama seperti banyak hal lainnya, memiliki penampilan lahiriah, juga memiliki realitas batiniah. Misalnya, seorang manusia memiliki penampilan lahiriah dan juga memiliki realitas batiniah. Jika Anda hanya mengenal seseorang berdasarkan penampilan lahiriahnya, sebenarnya Anda sama sekali tidak mengenal orang itu. Untuk mengenal seseorang secara menyeluruh, Anda perlu mengenalnya menurut manusia batiniahnya. Ini memerlukan Anda meluangkan banyak waktu bersama dengan orang itu untuk mengenal bagaimana keadaan batiniahnya.
Dalam 2Korintus 5:16 Paulus berkata, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut daging” (Tl.). Mengenal orang menurut daging berarti mengenal orang menurut penampilan lahiriahnya saja. Paulus ingin mengenal orang menurut roh, yaitu menurut realitas batiniah.
Ini juga adalah cara Paulus mengenal Kristus: “Jika kami pernah menilai Kristus menurut daging, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Ini berarti Paulus tidak lagi mengenal Kristus menurut penampilan lahiriah, melainkan menurut roh yang di dalam. Prinsip ini dapat juga diterapkan dalam pembacaan Alkitab kita. Jika kita ingin mengenal Alkitab, kita bukan hanya harus mengenal bentuk luaran dari firman itu, tetapi juga mengenal realitas batiniahnya.
Saya lahir dalam lingkungan kekristenan, sejak kecil saya telah hafal nyanyian: “Yesus cinta padaku, tercatat di Alkitab.” Ini adalah satu nyanyian yang baik; namun, kebenaran yang terkandung di dalamnya hanyalah bulu kebenaran; bahkan bukan bagian kulit dari firman itu. Banyak khotbah yang disampaikan di lingkungan orang-orang Kristen hari ini hanya termasuk bulu atau kulit. Hanya sedikit khotbah yang disampaikan di antara orang-orang Kristen yang dapat membawa pendengarnya masuk lebih dalam daripada kulit, sehingga dapat membantu mereka menjamah daging yang sejati dari firman.
Sebelum Perang Dunia II, masih ada buku-buku yang mengandung berita yang berbobot mengenai daging dari firman itu yang diterbitkan. Tetapi tahun-tahun belakangan ini, sulit sekali menemukan buku-buku baru yang berbobot semacam itu. Dari tahun ke tahun, saya selalu mengamati situasi di antara orang-orang Kristen. Saya terutama ingin melihat buku-buku dan artikel-artikel macam apakah yang telah diterbitkan mengenai hal-hal rohani. Menurut pengamatan saya, sejak tahun 1945, sangat sedikit buku yang diterbitkan yang menjamah daging Alkitab. Jika ada orang yang tahu lebih banyak tentang buku-buku semacam ini, saya ingin mengenal judul dan pengarangnya. Dalam 2Korintus 3, Paulus membicarakan tentang memancarkan kemuliaan dari perjanjian yang baru. Inilah bagian daging dari firman itu; ini bukan bulu atau kulit.
KEMULIAAN DAN ROH ITU
Apakah kemuliaan dari perjanjian yang baru itu? Dalam menjawab pertanyaan ini, beberapa orang mungkin mengatakan bahwa kemuliaan dari perjanjian yang baru ini adalah Roh itu. Yang lainnya mungkin menjawab bahwa kemuliaan ini adalah kebangkitan, atau Kristus dalam kebangkitan. Memang benar mengatakan bahwa kemuliaan dari perjanjian yang baru ini adalah Roh itu. Dua Korintus 3:18 mengatakan, “Tetapi kita semua seperti cermin memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datang-nya dari Tuhan Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dari kemuliaan ke kemuliaan” (Tl.). Dalam ayat ini kata depan “dari” dipakai dua kali. Pertama, dalam frase “dari Tuhan Roh”; kedua, dalam frase “dari kemuliaan ke kemuliaan”. Ada satu hubungan di antara “dari Tuhan Roh” dan “dari kemuliaan ke kemuliaan”. Hubungan ini menjadi nyata melalui pemakaian kata “karena”. Ini menunjukkan bahwa perkara dari kemuliaan ke kemuliaan adalah perkara yang berasal dari Roh itu. Hal ini memberikan dasar kepada kita untuk mengatakan bahwa kemuliaan erat hubungannya dengan Roh itu. Pada faktanya, kemuliaan dalam ayat ini sama dengan Tuhan Roh.
Dalam 3:18 Paulus mengatakan bahwa kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Ketika kita dengan muka yang tidak berselubung, memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan, Dia menginfus kita dengan unsur-unsur apa adanya Dia dan apa yang Dia kerjakan. Demikianlah, kita diubah secara metabolis untuk memiliki bentuk hayat-Nya oleh kuasa hayat-Nya, berdasarkan esens hayat-Nya, yaitu kita ditransfigurasi terutama oleh pembaruan pikiran kita (Rm. 12:2), menjadi gambar-Nya. Sedang diubah menyatakan kita sedang berada dalam proses pengubahan. Frase “dari kemuliaan ke kemuliaan” berarti dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan lainnya. Ini menunjukkan proses yang terus maju dalam hayat di dalam kebangkitan. Selain itu, frase “dari Tuhan Roh” menunjukkan bahwa proses ini berasal dari Tuhan Roh.
ROH ITU DAN MEMPELAI PEREMPUAN
Pemakaian sebutan Allah yang pertama dalam Alkitab adalah dalam Kejadian 1:1: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Ayat ini membicarakan tentang Allah. Kata Allah dalam bahasa Ibrani adalah Elohim. Tetapi dalam pasal yang terakhir dari Alkitab, yaitu Wahyu 22, kita memiliki sebutan Allah lainnya. Wahyu 22:17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, Marilah!” Di sini kita tidak memiliki Allah, sebagai Elohim; kita memiliki Roh itu. Selain itu, Roh itu dan mempelai perempuan berbicara bersama-sama. Bagaimana hal ini dapat terjadi, mengingat Roh itu ilahi sedangkan mempelai perempuan itu tidak? Tidak ada pengungkapan semacam ini dalam Kejadian 1. Tidak ada ayat yang mengatakan, “Pada mulanya Allah dan malaikat-malaikat menciptakan langit dan bumi.” Sebaliknya, Kejadian 1:1 hanya membicarakan tentang Allah; ayat ini tidak mengatakan “Allah dan . . .” Tetapi Wahyu 22:17 membicarakan mengenai Roh itu dan mempelai perempuan.
Kita perlu memperhatikan dua aspek yang penting dari Wahyu 22:17. Pertama, seperti yang telah kita lihat, Roh itu disinggung bersama-sama dengan mempelai perempuan; yaitu, Roh itu disinggung bersama-sama dengan suatu tambahan. Kedua, ayat ini bukanlah satu perintah, melainkan mengandung satu janji yang berhubungan dengan air hayat.
Ketika seorang saudara muda menikah, ia tidak lagi sendirian, tidak lagi bujangan, karena ia telah mendapatkan seorang istri sebagai tambahannya. Sekarang yang ada bukan lagi satu orang, melainkan satu pasangan. Sebelum menikah, apa saja yang ia katakan, ia katakan secara pribadi, hanya dirinya sendiri. Tetapi setelah ia menikah, ia dan istrinya bisa berbicara seperti satu orang. Maka, mengenai pasangan ini dapat ditulis, “Ia dan istrinya mengatakan . . .”
SATU PASANGAN UNIVERSAL
Prinsipnya sama dengan pandangan Alkitab mengenai Roh itu dan mempelai perempuan. Seluruh Alkitab mengisahkan satu roman universal, yaitu roman dari satu pasangan universal. Pasangan ini terdiri atas Allah sebagai Suami dan umat pilihan-Nya sebagai mempelai perempuan. Karena itu, pada akhir Alkitab kita memiliki wahyu tentang pasangan universal ini.
Ketika Tuhan Yesus datang, Yohanes Pembaptis membicarakan tentang Dia sebagai Anak Domba Allah. Menurut Yohanes 1:29, ketika Yohanes melihat Yesus datang kepadanya, ia mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Menurut Injil Yohanes 3, Yohanes Pembaptis selanjutnya mengatakan Tuhan Yesus sebagai Mempelai Laki-laki. Beberapa murid Yohanes iri karena fakta ada begitu banyak orang datang kepada Tuhan Yesus dan mengikuti Dia. Mereka berkata kepada Yohanes, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya” (Yoh. 3:26). Dalam jawabannya Yohanes berkata, “Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh” (ayat 29). Melalui ini kita melihat bahwa Tuhan Yesus bukan hanya Anak Domba Allah, tetapi juga Mempelai Laki-laki yang layak mendapatkan mempelai perempuan.
Konsepsi tentang pasangan universal ini bukan hanya terdapat dalam Perjanjian Baru, tetapi juga dalam Perjanjian Lama. Bahkan dalam Perjanjian Lama pun kita nampak bahwa Allah mendambakan satu kehidupan pernikahan bersama umat pilihan-Nya. Misalnya, Yesaya 54:5 mengatakan, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang men-jadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya.” Allah mengasihi umat pilihan-Nya seperti seorang mempelai laki-laki mengasihi mempelai perempuannya. Maka, kedambaan Allah adalah menikah dengan umat-Nya, yaitu mendapatkan mereka sebagai pertambahan-Nya.
Diberikannya Hawa sebagai pasangan bagi Adam juga menggambarkan bahwa pernikahan adalah seorang laki-laki mendapatkan seorang istri untuk menjadi pertambahannya. Menurut Kejadian 2, Adam diciptakan lebih dulu. Menurut Kejadian 2:18, Tuhan Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Allah tidak menghendaki Adam seorang diri saja, menjadi seorang bujangan. Karena itu, Allah membuat Adam tidur nyenyak, kemudian mengambil satu dari rusuknya, dan membentuknya menjadi seorang perempuan. Sebelum perempuan itu dijadikan dan diberikan kepadanya, Adam tidak dapat menemukan sesuatu yang sepadan dengannya. Kejadian 2:20 mengatakan, “Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang di hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” Tetapi ketika Allah membawa perempuan itu kepadanya, Adam berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (ayat 23). Hawa adalah pertambahan Adam. Ini menggambarkan satu prinsip: pernikahan berarti pertambahan.
Kita juga dapat membandingkan perihal suami dan istrinya dengan dua paruhan semangka. Suami adalah paruhan semangka yang pertama, dan istrinya adalah paruhan yang kedua. Hanya bila dua paruhan itu disatukan baru ada satu buah semangka yang utuh, yang lengkap.
Sebagaimana Adam seorang diri itu tidak baik, demikian juga tidak baik Allah seorang diri, yaitu menjadi seorang “bujangan”. Tanpa umat pilihan-Nya sebagai mempelai perempuan-Nya, Allah itu “sendirian”. Dia hanyalah setengah bagian dari pasangan universal ini. Saya tahu bahwa pemikiran ini akan mengejutkan orang-orang yang berpikiran doktrinal atau teologis. Bila mereka mendengar perkataan ini, mereka mungkin berkata, “Apakah Anda mengajarkan bahwa Allah itu sendiri tidak lengkap? Bagaimana Anda dapat membandingkan Allah dengan seorang bujangan atau paruhan buah semangka? Itu bidah! Tidak ada seorang pun yang boleh mengikuti pengajaran sesat yang demikian! Allah itu mahakuasa, sempurna, dan lengkap. Sebagai Dia yang agung, Raja, Penguasa di surga, Dia adalah obyek penyembahan. Kita telah diciptakan oleh Dia, dan kita harus tunduk menyembah Dia.” Tentu saja, Allah itu lengkap. Namun, banyak orang yang memakai kebenaran tentang “kelengkapan” Allah untuk menyanggah wahyu Alkitab mengenai pasangan universal, hanya melihat penampilan lahiriah firman itu. Mereka hanya mengenal bulu dan kulitnya. Jika kita memegang realitas batini dari firman ini, kita akan sadar bahwa Allah tidak mungkin puas hanya dengan penyembahan luaran dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Kita akan tahu bahwa jauh di lubuk hati-Nya, Dia menghendaki satu mempelai perempuan.
Seorang teman mungkin melakukan banyak hal untuk seorang saudara. Meskipun demikian, di lubuk hatinya, saudara itu mungkin tidak puas. Sebaliknya, ia mungkin berkata, “Aku tidak senang dengan satu pun dari hal-hal ini. Aku hanya ingin seorang istri. Apa yang kuinginkan bukanlah agar teman-temanku membelikan barang-barang bagiku atau melakukan banyak hal bagiku. Kedambaanku satu-satunya adalah menikmati seorang istri yang penuh dengan kasih.” Jika kita benar-benar mengenal Alkitab, kita akan tahu bahwa kedambaan Tuhan satu-satunya adalah satu mempelai perempuan. Karena alasan ini, maka menurut Wahyu 19, pada suatu hari akan ada satu pernyataan: “Hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia” (ayat 7). Akhirnya, dalam Wahyu 21 dan 22, Tuhan akan memiliki mempelai-Nya sampai selama-lamanya. Dia akan puas; Roh itu dan pengantin perempuan itu akan bersama-sama berkata, “Marilah!”
Di China sudah menjadi kebiasaan bahwa pemberitahuan atau undangan-undangan hanya ditandatangani oleh suami. Namun, di Barat sudah menjadi kebiasaan bagi suami dan istri menandatangani satu undangan. Praktek Barat ini menggambarkan wahyu dalam Alkitab mengenai Roh itu dan mempelai perempuan. Dalam Wahyu 22:17 kita melihat bahwa Allah tidak lagi sendiri; Dia telah memiliki pasangan yaitu istri-Nya. Karena alasan ini, maka Roh itu dan mempelai perempuan berkata, marilah. Ini berarti Allah memiliki seorang istri.
KEDALAMAN-KEDALAMAN DARI FIRMAN
Orang-orang yang menganggap perkataan tentang “Allah memiliki istri” sebagai bidah hanya mengenal Alkitab secara dangkal. Mereka belum menjamah kedalaman-kedalaman dari firman. Untuk mengenal sesuatu, kita harus mengenal kedalaman-kedalaman dari hal itu. Seperti yang telah kita tunjukkan, hal ini juga berlaku bila ingin mengenal seseorang. Jika Anda tahu penampilan lahiriah saya saja, bukan kedalaman-kedalaman dari diri saya, Anda sebenarnya tidak mengenal saya.
Hari ini hanya sedikit orang yang memberitakan apa yang ada di dalam kedalaman-kedalaman dari Alkitab. Mereka hanya membicarakan tentang apa yang ada di permukaan, yaitu bulu atau kulitnya. Mereka tidak melayankan daging firman itu kepada orang lain. Tetapi andaikata Anda diundang ke rumah seseorang untuk makan daging kalkun, apakah mereka menyodorkan bulu dan kulitnya kepada Anda? Tentu tidak! Anda akan dijamu dengan daging kalkun itu. Namun, hari ini banyak orang Kristen yang tidak dijamu dengan daging. Hanya bulu dan kulit yang disodorkan di hadapan mereka.
Kita tidak seharunya puas dengan pengajaran atau pemberitaan apa pun yang tidak melayankan daging dari Alkitab. Jangan memberi pujian terlalu banyak kepada orang-orang yang hanya menyajikan bulu dan kulitnya. Keperluan kita yang mendesak pada hari ini adalah menjamah kedalaman-kedalaman Alkitab.
ROH YANG ALMUHIT
Allah yang diwahyukan dalam Kejadian 1:1 adalah Allah yang “bujangan”. Kita juga dapat mengatakan bahwa Dia adalah Allah yang belum melalui proses, Allah yang “mentah”. Enam puluh enam kitab dari Alkitab mewahyukan proses yang telah dilalui oleh Allah yang “bujangan” ini. Pertama-tama Dia menciptakan langit dan bumi sebagai lingkungan untuk proses ini. Pada suatu hari, Allah berinkarnasi; Dia lahir dari seorang dara di Betlehem. Sesung-guhnya ini adalah bagian dari proses itu. Jika Anda tidak menganggap hal ini sebagai satu proses, maka Anda menyebutnya apa? Melalui proses inkarnasi Allah menjadi seorang anak kecil. Yesaya 9:5 mengatakan bahwa nama anak yang dilahirkan untuk kita ini adalah Allah yang perkasa. Dia yang dilahirkan di palungan di Betlehem dan yang dibesarkan di rumah seorang tukang kayu di Nazaret itu adalah Allah yang perkasa.
Tuhan Yesus hidup di Nazaret, sebuah kota kecil, selama tiga puluh tahun. Kemudian Dia keluar untuk melayani. Tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh memahami Dia. Orang-orang yang mengira bahwa mereka mengenal Dia berkata, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” (Mat. 13:55-56). Mereka tidak dapat memahami dari mana Dia memperoleh “hikmat dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat” (Mat. 13:54).
Akhirnya, Tuhan Yesus pergi ke salib. Kelihatannya, ketika Dia mati di atas salib, Dia sendiri yang mati di atas salib itu. Tetapi dalam pandangan Allah, alam semesta ini, seluruh ciptaan lama, mati bersama-Nya. Kematian Kristus adalah kematian yang almuhit, karena kematian ini mengakhiri segala sesuatu. Setelah Tuhan Yesus disalibkan, Dia dikubur di dalam sebuah kubur. Kemudian Dia mengadakan perjalanan ke alam maut, alam orang-orang mati. Pada hari ketiga, Kristus bangkit secara jasmani dan secara rohani. Sekarang dalam kebangkitan, Dia adalah Roh pemberi hayat.
Sebagai Roh pemberi hayat, Kristus itu almuhit. Roh ini meliputi keilahian, keinsanian, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Di dalam Roh ini kita memiliki Bapa, Putra, dan Roh itu, bahkan memiliki tujuh Roh. Karena Roh ini mengandung realitas dari setiap hal positif, kita dapat mengatakan bahwa Roh ini almuhit.
Minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30 adalah lambang dari Roh yang almuhit ini. Minyak urapan ini adalah campuran dari minyak zaitun dan empat macam rempah-rempah. Minyak zaitun melambangkan Roh Allah. Namun, minyak urapan ini bukan hanya terbuat dari minyak zaitun; melainkan terbuat dari minyak zaitun ditambah dengan empat macam rempah-rempah. Rempah-rempah ini melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya dengan penyaliban dan kebangkitan-Nya. Minyak zaitun dan rempah-rempah itu dibaurkan untuk menghasilkan satu minyak urapan. Minyak urapan ini melambangkan Roh itu.
Minyak zaitun ini tunggal; tidak almuhit. Namun, minyak urapan itu almuhit, seperti yang dilambangkan dengan fakta bahwa minyak urapan itu adalah campuran dari sejumlah unsur. Demikian juga Roh Allah dalam Kejadian 1 itu tunggal. Tetapi dalam Wahyu 22 Roh ini almuhit.
Roh itu adalah ekspresi akhir Allah Tritunggal. Roh ini mencakup semua hal yang telah dirampungkan, dicapai, dan diperoleh Kristus. Roh yang almuhit ini juga mencakup semua apa adanya Kristus. Selain itu, Roh ini memiliki satu pasangan, satu pertambahan. Ini berarti Roh itu memiliki sesuatu yang sepadan dengan Dia. Allah tidak sendiri lagi, tidak bujangan lagi, karena Dia telah memiliki satu mempelai perempuan yang sepadan dengan-Nya. Karena alasan ini, maka wahyu yang rampung dalam Alkitab adalah tentang Roh yang almuhit dengan mempelai perempuan.
Istilah “Roh itu” singkat dan sederhana, hanya terdiri atas dua kata. Namun, sebutan yang sederhana ini almuhit. Roh itu meliputi segala apa adanya Allah Tritunggal, segala hal yang telah digenapkan-Nya, dan segala hal yang telah dicapai, diperoleh, dan diraih-Nya. Roh ini juga mencakup proses yang telah dilalui oleh Allah Tritunggal. Karena Allah telah melalui satu proses yang panjang dan karena Roh itu adalah ekspresi akhir-Nya, maka Wahyu 22:17 tidak mengatakan, “Allah dan gereja”, melainkan mengatakan, “Roh itu dan mempelai perempuan”.
LAYAK MENJADI MEMPELAI PEREMPUAN
Jika kita ingin layak menjadi mempelai perempuan, kita harus bertumbuh dan harus melalui banyak hal. Menjadi mempelai perempuan melibatkan lebih banyak hal daripada menjadi gereja. Misalnya, seorang anak perempuan tidak layak menjadi mempelai perempuan. Sebelum ia dapat menjadi seorang mempelai perempuan, ia harus bertumbuh sampai matang. Ia juga harus sekolah dan belajar banyak hal. Kemudian seorang laki-laki akan memilihnya untuk menjadi mempelai perempuannya.
Setiap laki-laki mungkin memiliki standar yang berbeda mengenai siapakah yang mereka anggap layak untuk menjadi istrinya. Misalnya, orang dengan gelar doktor mungkin menghendaki seorang istri yang berpendidikan tinggi. Ia akan menganggap seorang perempuan yang tidak memiliki gelar master tidak layak untuk menjadi mempelainya. Demikian juga, Roh itu memiliki tuntutan yang sangat tinggi untuk mempelai perempuan-Nya. Apakah Roh itu akan mengambil seorang mempelai perempuan yang tidak matang? Tentunya, jawabannya adalah tidak. Tuhan tidak akan datang bagi mempelai perempuan-Nya sampai ia matang dan siap sepenuhnya bagi-Nya.
Jangan mengira asalkan kita adalah gereja, maka kita layak untuk menjadi mempelai perempuan. Ini mirip dengan mengatakan bahwa perempuan mana pun, tidak peduli umur atau kematangannya, layak untuk menikah. Tidak, ada tuntutan-tuntutan tertentu yang harus dipenuhi agar kita dapat menjadi mempelai perempuan. Bagi orang-orang Kristen mengatakan bahwa kita semua adalah gereja itu mudah. Tetapi ketika Tuhan Yesus datang sebagai Mempelai Laki-laki, apakah kita layak untuk menjadi mempelai perempuan-Nya? Pada saat itu Tuhan mungkin berkata kepada kita bahwa kita belum layak, bahwa kita perlu bertumbuh lebih banyak dan matang. Pemahaman tentang Mempelai Laki-laki dan mempelai perempuan ini sesuai dengan wahyu dari firman kudus.
Banyak orang Kristen yang telah tertipu dan bahkan terbius oleh pengajaran-pengajaran yang tidak jauh dari bulu dan kulit dalam firman itu. Oh, kita harus melihat kedalaman-kedalaman kebenaran yang telah Tuhan wahyukan dari firman-Nya kepada pemulihan-Nya! Betapa saya bersyukur kepada-Nya bahwa Dia telah membuka Firman-Nya untuk mewahyukan apa yang ditemukan di dalam lubuk kebenaran itu! Saya memuji Tuhan untuk hal ini. Saya dapat bersaksi bahwa saya memustikakan kata-kata, “Roh itu dan mempelai perempuan”. Ketika saya membaca hal ini dalam Wahyu 22:17, saya ingin melompat karena sukacita. Saya dapat bersaksi bahwa saya damba untuk masuk sebagai bagian dari mempelai perempuan Tuhan. Bukankah ini juga kedambaan Anda?
Tetapi apakah Anda memiliki jaminan bahwa Anda akan termasuk sebagai bagian dari mempelai perempuan ini? Apakah Anda hanya ingin menghadiri sidang-sidang gereja seperti apa yang disebut orang-orang yang menghadiri kebaktian hari Minggu? Saya tidak percaya bahwa orang-orang yang menghadiri kebaktian hari Minggu saja dapat menjadi bagian dari mempelai perempuan ini. Bila tiba waktunya bagi Tuhan untuk menyambut mempelai perempuan-Nya, apakah Anda telah siap? Apakah Anda layak dan matang? Apakah Tuhan akan berkata kepada Anda, “Aku telah menyelamatkan engkau, tetapi engkau belum bertumbuh”? Kita semua perlu bertumbuh dan matang supaya pada waktu Tuhan datang, kita dapat layak tercakup sebagai bagian dari mempelai perempuan-Nya.