Daftar isi Perkataan yang Sia-sia Membocorkan Hayat · bab 1/1

Perkataan yang Sia-sia Membocorkan Hayat

Pembacaan Alkitab :

Amsal 13:3; 15:4; Matius 12:34, 36-37

Wadah yang Bocor

Kalau suatu wadah yang berisi air berlubang, meskipun kecil sekali lubangnya, air yang ada di dalamnya akan bocor keluar dan habis. Masalahnya bukan ada airnya atau tidak, melainkan bocor atau tidak bocor.

Ada saudara saudari, di hadapan Tuhan sangat menuntut, ingin mengenal salib dan adakalanya juga rela memikul salib. Orang yang sedemikian itu seharusnya penuh dengan hayat. Tetapi aneh sekali, adakalanya orang yang menuntut Tuhan, yang mempunyai kedambaan kepada Tuhan dan mau memikul salib, di atas dirinya sama sekali tidak terjamah adanya hayat. Yang Anda temukan di atas dirinya justru malah maut. Di manakah sebabnya? Sebabnya, hayat yang diperolehnya telah bocor karena ulahnya sendiri. Amsal 13:3 berkata, "Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya. Siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."

Sewaktu Salomo menulis sampai kata-kata ini, yang dimaksud dengan "nyawa" ini nyawa secara rohani atau secara jasmani. Saya tidak berani dengan tegas menentukannya. Tetapi baiklah dari sini kita ambil prinsipnya untuk melihat perkara rohani. Perkataan ini memperlihatkan kepada kita satu perkara, yaitu seorang yang menuntut Tuhan, seorang yang mempunyai hayat Tuhan dan yang dengan hayat ini akan menyuplai gereja, ia harus berhati-hati terhadap perkataannya. Kalau perkataannya tidak berhati-hati, hayatnya akan bocor.

Ada orang di tangan Tuhan tidak seberapa berguna, karena hayatnya bocor. Di atas dirinya Anda hanya menjamah maut, tidak menjamah hayat, karena dari bibirnya ia membocorkan hayat. Sebab itu, di hadapan Tuhan, kita hams menjaga mulut kita dengan ketat. Banyak pengalaman bisa memberitahu kita, tidak ada sesuatu pun yang membocorkan hayat kita yang lebih hebat daripada perkataan yang sia-sia. Bukan berarti dosa lebih baik dari perkataan yang sia-sia. Di sini, selain dosa, perkara lain yang bisa membuat hayat kita musnah adalah perkataan yang sia-sia.

Dihakimi Berdasarkan Ucapan

Dalam Matius 12:36 Tuhan Yesus berkata, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung-jawabkannya pada hari penghakiman." "Kata-kata" yang dikatakan dalam ayat ini bukanlah kata-kata yang kotor/najis, juga bukan mengatakan kata-kata fitnahan atau pun kata-kata jahat; di sini hanya mengatakan, kata-kata itu adalah perkataan yang sia-sia. Perkataan yang sia-sia adalah kata-kata yang berlebihan, yang mestinya tidak perlu diucapkan; kata-kata yang tidak usah diucapkan karena tak ada sangkut-pautnya; kata-kata yang menimbulkan salah benar. Setiap kata yang sia-sia pada hari penghakiman harus dipertanggung jawabkan. Menurut ucapan kita akan dibenarkan dan menurut ucapan pula kita akan dihukum. Inilah kata-kata Tuhan Yesus. Kita harus tampak, bukan saja mengucapkan kata-kata fitnah itu baru suatu hal yang serius; tetapi mengucapkan kata-kata yang sia-sia pun serius. Bukan saja mengucapkan kata-kata kotor/najis itu baru serius, berkata sembarangan pun serius.

Kita harus tampak, ada perkara, ada dosa yang dengan suatu cara bisa diganti rugi; tetapi juga ada perkara, ada dosa yang tidak bisa diganti rugi. Perkataan yang sia-sia, perkataan yang menyalahi orang, tidak bisa Anda hapuskan dengan mengganti rugi. Anda bisa saja telah minta maaf kepadanya, juga telah menarik kembali perkataan Anda itu, tetapi perkataan yang telah keluar itu tak mungkin bisa terhapus bersih. Barang-barang yang kita curi dari orang lain bisa kita kembalikan, tetapi perkataan sia-sia yang melukai orang lain tidak bisa kita tarik kembali. Dosa ini akan terbentang di hadapan Allah. Karena itu Tuhan Yesus berkata, "Menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Amsal 15:4 mengatakan, "Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati." Lembut berarti tidak panas/pedas, pelan, yang cocok. Seorang yang banyak bicara, lidah orang itu bisa panas. Kalau sudah panas, maka tiadalah pohon kehidupan. Bicara yang lembut itulah pohon kehidupan. Lidah yang lembut bukan lidah yang tergesa-gesa, bukan lidah yang ceroboh, bukan lidah yang banyak bicara. Lidah yang demikian baru merupakan pohon kehidupan. Lidah orang Kristen yang suka mengucapkan perkataan yang sia-sia, di atas dirinya tidak ada bau Kristus. Orang yang suka mengucapkan perkataan yang sia-sia tidak bisa menyuplai hayat. Perkataan yang sia-sia merupakan satu lubang yang besar, yang akan membocorkan hayat Anda.

Yang Diucapkan Mulut Meluap dari Hati

Perkataan yang sia-sia merupakan suatu lubang bagi kebocoran hayat. Karena itu, kita harus menjaga mulut kita dan membereskan hati nurani kita. Tuhan berkata, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati" Hatinya bagaimana, maka mulutnya akan mengucapkan yang bagaimana. Hati mengandung apa, mulut cepat atau lambat akan mengucapkan satu atau dua patah kata. Kalau tidak kita ucapkan di sini, maka akan kita ucapkan di sana. Kalau tidak kita ucapkan di rumah ini, tentu akan kita ucapkan di rumah itu. Hal yang meluap di hati akan keluar dari mulut. Sebab itu, di hadapan Allah kita harus belajar untuk tidak mengucapkan perkataan yang sia-sia.

Membereskan Hati

Untuk itu, kita harus mulai membereskannya dari hati kita. Kalau hati kita tidak benar, mulut kita selamanya tidak bisa dibereskan. Karena hati kita dipenuhi dengan berbagai barang, maka mulut kita mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Sebab itu, janganlah kita berkata, "Aku berkata demikian itu tidak berasal dari hatiku", atau dengan kata lain, "Mulutku memang berkata begitu, tetapi hatiku tidak." Dari perkataan Tuhan Yesus kita mengetahui, bahwa hal demikian tidaklah mungkin. Kalau ada perkataan demikian berarti ada hati yang demikian; karma hati Anda demikian maka barulah mulut Anda bisa berkata demikian. Jadi, kalau mau membereskan perkataan yang sia-sia, terlebih dulu harus membereskan hati.

Dalam gereja di Korintus timbul masalah, maka Paulus menganjuri saudara-saudara di sana untuk mengucapkan perkataan yang seia-sekata. Paulus berkata, "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir" (I Korintus 1:10). Hayat gereja sama seperti hayat manusia. Hayat manusia bisa karena perkataan yang sia-sia menjadi bocor; demikian juga hayat Tuhan bisa bocor karena perkataan yang sia-sia. Karena kita memiliki satu hayat yang sama, yaitu hayat Allah, maka kita bisa seia-sekata. Jadi, untuk membereskan perkataan yang sia-sia, terlebih dulu kita perlu membereskan hati kita.

Membereskan Mulut

Yakobus 3:11 berbunyi, "Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?" Dari satu sumber tidak bisa memancarkan dua macam mata air, lalu bagaimana dari satu mulut bisa mengeluarkan dua macam perkataan. Satu sumber hanya bisa mengeluarkan satu macam air. Demikian jugs dari satu mulut hanya bisa mengeluarkan satu macam perkataan. Terhadap perkataan yang sia-sia, kita harus membereskannya secara khusus di hadapan Tuhan. Kalan lubang ini tidak disumbat, maka apa yang seharusnya tidak boleh masuk akan masuk dari lubang itu, dan apa yang tidak seharusnya mengalir keluar, akan mengalir keluar dari lubang itu. Kerugian ini akan sangat besar sekali. Karena itu, kita perlu menyumbat lubang itu. Kita mohon kepada Tuhan, "Tuhan bereskanlah mulutku, dengan kasih karuniaMu jagalah bibirku."

Selain membereskan mulut Anda, juga perlu membereskan mulut orang lain. Barangsiapa senang mengucapkan perkataan yang sia-sia, barangsiapa bersifat sebagai penyambung lidah, senang bergunjing siapa benar dan siapa salah, Anda harus membantunya. Kalau ada orang datang kepada Anda dan akan memperbincangkan kata yang sia-sia, janganlah Anda berikan kesempatan kepadanya. Anda boleh dengan tegas berkata kepadanya, "Saudara mari kita berdoa." Jangan Anda biarkan dia mengutarakan perkataan yang sia-sia; Ajaklah dia berdoa, atau saling menghafalkan ayat Alkitab, dengan demikian Anda membawa dia ke jalan yang benar. Atau Anda boleh dengan tegas lagi berkata kepadanya, "Saudara, Anda harus belajar mengucapkan perkataan yang membangun. Jangan mengucapkan perkataan yang sia-sia."

Tetapi, kalau kita mau menjadi orang yang menyumbat lubang yang bocor, maka pertama-tama kita harus mohon kepada Tuhan agar kita terlepas dari hati yang ingin tabu, dan belajar takwa kepada Allah, beribadah kepada Allah. Banyak orang Kristen mempunyai hati ingin tabu, dia ingin dan senang mendengar suatu berita yang istimewa, bahkan cerita tentang perkara yang jelek sekalipun. Telinganya bagaikan tong sampah, apa saja ingin dimasukkan ke dalamnya. Kalau kita tertolong dan terlepas dari hal ini, maka kita akan lebih sedikit berbuat dosa dan sekaligus bisa membantu saudara saudari mengurangi banyak dosa. Kalau telinga kita tidak gatal, tidak memberi kesempatan kepada orang mengucapkan perkataan yang sia-sia, maka di hadapan Allah kita akan dapat menjaga mulut kita, dan tidak membocorkan hayat. Di samping itu kita juga harus membantu orang lain menyumbat lubang yang bocor.

Kita mohon Tuhan menyelamatkan kita terlepas dari perkataan yang sia-sia yang membocorkan hayat. Selain dosa, pembocoran hayat bisa terjadi karena keluarnya perkataan yang sia-sia. Kalau kita dalam perkataan bisa terjaga, kita tidak akan membocorkan hayat.