JANGAN JATUH DAN MENINGGALKAN ANUGERAH
Dalam Ibrani 12 terdapat peringatan kelima atau terakhir dari Surat Ibrani. Susunan kitab ini sangat istimewa. Di dalamnya ada lima ajaran pokok, dan dalam tiap ajaran ada sebuah peringatan. Di antara peringatan-peringatan itu, ada tiga peringatan yang tercantum di belakang ajarannya (3:7-4:13; 10:19-39; 12:1-29), dan ada dua peringatan disisipkan dalam ajaran (2:1-14; 5:11-6:20). Seluruh pasal 12 merupakan satu peringatan yang melanjutkan ajaran dalam pasal 11. Peringatan ini menyuruh kita berlari dalam perlombaan dan jangan jatuh dan meninggalkan anugerah. Berlari dalam perlombaan memerlukan anugerah, dan anugerah ini cukup untuk menyuplai kita berlari dalam perlombaan. Sebelum membahas masalah jangan jatuh dan meninggalkan anugerah, saya ingin menyampaikan lagi sedikit perkataan tentang berlari dalam perlombaan. Dalam pasal 10 dan 12 kita menemukan tiga istilah yang semakna. Dalam Ibrani 10:20 tercantum kata “jalan yang baru dan yang hidup”; dalam 12:1 ada kata “perlombaan”. Seperti kita lihat, perlombaan ialah jalan di mana kita berlari. Kalau kita hanya berjalan saja, jalan itu tetap sebagai jalan, tetapi bila kita mulai berlari, jalan itu menjadi perlombaan. Istilah yang ketiga yang sama artinya adalah “jalan” (12:13). Jalan yang kita tempuh seharusnya menjadi perlombaan di mana kita berlari. Baik disebut jalan atau perlombaan, artinya sama saja.
Menurut bahasa aslinya, kata “jalan” (way, 10:20) dan “perlombaan” (race, 12:1) berbentuk tunggal, sedangkan kata “jalan” (paths) dalam Ibrani 12:3 berbentuk jamak. Mungkin Anda akan bertanya, mengapa bisa demikian? Ini sama seperti sebuah jalan raya bebas hambatan yang terbagi dalam beberapa bagian. Jalannya cuma satu, tetapi ada banyak bagian, karena itu istilahnya berbentuk jamak (paths).
Jalan dalam 10:20 adalah jalan masuk ke tempat maha kudus, dan perlombaan dalam 12:1 ialah untuk mencapai sasaran dan meraih pahala. Dalam 12:13 kita nampak bahwa di atas jalan raya bebas hambatan menuju tempat maha kudus dan menuju sasaran Allah ini terdapat banyak jalan (paths), dan jalan-jalan ini seharusnya lurus tanpa liku-liku. Ada beberapa orang Kristen yang lututnya lemah, bila jalan mereka tidak lurus, mereka akan jatuh karena kelemahan lutut mereka. Karena itu, kita harus meluruskan jalan, agar lutut mereka tidak sampai terkilir, yakni tidak lepas sendi atau terpelecok, melainkan disembuhkan.
Tinggal dalam tempat maha kudus berarti terus berlari dalam perlombaan. Menurut pengalaman kita, kapan saja kita dalam pikiran berniat sedikit kompromi, roh dalam batin kita akan merasa kehilangan penyertaan Allah, dan merasa tidak lagi berada dalam tempat maha kudus. Jalan kita untuk berkontak dengan Allah segera menjadi tidak lurus lagi, tetapi menjadi berliku-liku. Liku-liku itu akan membuat kita meninggalkan tempat maha kudus, meninggalkan tabut kesaksian, manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan meninggalkan loh kesaksian. Meskipun pada mulanya kita hanya terpisah sedikit saja dari tempat maha kudus, tetapi akhirnya kita akan menyadari alangkah jauhnya kita terpisah dari tempat maha kudus.
Perlombaan kita pada akhirnya harus berada dalam tempat maha kudus. Bila kita hanya berlari di pelataran luar, sangatlah dangkal. Kita harus berlari dalam tempat maha kudus. Boleh jadi Anda mengira tempat maha kudus terlalu kecil untuk menjadi tempat lomba lari. Ya, tempat maha kudus dalam Kemah Pertemuan memang hanya sepuluh hasta (panjang, lebar, dan tingginya sama; Kel. 26:8, 16). Pada Bait Allah ukurannya menjadi dua puluh hasta (1Raj. 6:20), dan sampai di Yerusalem Baru ukurannya menjadi dua belas ribu stadia (Why. 21:16). Ukuran tempat maha kudus, baik dalam Kemah Pertemuan, dalam Bait Allah, maupun dalam Yerusalem Baru semua melambangkan kesempurnaan dari apa adanya Allah yang kekal itu. Ditinjau dari sudut mana saja, Allah itu sempurna dan lengkap; kelengkapan dan kesempurnaan-Nya kekal dan tidak terbatas.
Semakin kita berlari, tempat maha kudus akan menjadi semakin luas, dari Kemah Pertemuan meluas ke Bait Allah, dan terus meluas ke Yerusalem Baru. Kali pertama kita berlomba dalam Kemah Pertemuan, ia hanya sepuluh hasta. Setelah terus berlari ke depan, ia menjadi dua puluh hasta dalam Bait Allah; dan kalau kita berlari lagi ke depan, ia menjadi dua belas ribu stadia di Yerusalem Baru. Bila kita berlari dalam kekekalan, kita akan menemukan bahwa tempat maha kudus itu kekal, tanpa tepi dan batasnya. Hal ini sungguh bermakna sekali.
Perlombaan dalam tempat maha kudus tidak dapat kita usaikan. Saya telah berlari dalam perlombaan ini puluhan tahun lamanya, semakin saya lari ke depan, tempat maha kudus menjadi semakin panjang, semakin lebar, dan semakin tinggi. Bagi kaum muda, tempat maha kudus di mana mereka berlari mungkin hanya sepuluh hasta panjang, lebar, dan tingginya. Setelah berlari beberapa tahun, tempat maha kudus ini akan jauh lebih luas. Kelak ketika kita masuk ke dalam kekekalan, kita akan nampak bahwa seluruh kota Yerusalem Baru adalah tempat maha kudus, dan ukuran kota itu, yakni panjang, lebar, dan tingginya sama. Hari ini kita terus berlari dalam tempat maha kudus, dan jalan yang selalu kita tempuh ini harus diluruskan. Untuk meluruskan jalan, kita harus memiliki anugerah. Kita harus berlari dalam perlombaan, jangan jatuh dan meninggalkan anugerah. Kita memerlukan anugerah untuk berlari dalam perlombaan.
I. ANUGERAH ALLAH
Sekarang kita harus mempertanyakan satu pertanyaan: Apakah anugerah itu? Sewaktu saya masih muda, saya telah diajar oleh guru-guru terkenal bahwa anugerah berarti kita tidak perlu berbuat apa-apa, Allahlah yang berbuat segalanya untuk kita. Berdasarkan ajaran itu, semua yang kita lakukan adalah pekerjaan, bukan anugerah, hanya yang dilakukan Tuhan bagi kita baru terhitung anugerah. Misalkan, kita tidak usah berbuat apa-apa untuk dosa-dosa kita. Jika kita berbuat, itulah pekerjaan atau usaha kita. Tuhan Yesus telah mati di atas salib karena dosa-dosa kita, itulah anugerah. Apakah Anda puas akan definisi anugerah yang sedemikian? Untuk sejangka waktu, saya merasa puas akan definisi tersebut. Namun, setelah menelaah ayat-ayat tertentu dalam Alkitab, saya mulai mempertanyakannya. Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah datang melalui Yesus Kristus, dan Yohanes 1:16 menerangkan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Dalam 1Korintus 15:10 Rasul Paulus mengatakan, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Pada suatu hari, ketika saya membandingkan ayat ini dengan Galatia 2:20 “bukan lagi aku... , melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” barulah saya memahami bahwa anugerah tidak lain ialah Allah dalam Kristus tersalur ke dalam diri kita sebagai kenikmatan kita dalam pengalaman. Jadi bukan hanya pekerjaan yang Tuhan lakukan untuk kita saja; bahkan Allah Tritunggal sendiri tersalur ke dalam diri kita, dan kita alami sebagai kenikmatan. Singkatnya, anugerah ialah Allah Tritunggal yang kita alami.
Menurut wahyu keseluruhan Perjanjian Baru, anugerah tidak lain ialah Allah dalam Kristus tersalur ke dalam diri kita untuk kita nikmati. Pertama, Ia tersalur ke dalam roh kita, dan ketika Ia tersebar ke dalam bagian-bagian batin kita, Ia menjadi kenikmatan kita. Anugerah Allah datang kepada kita melalui Kristus (Yoh. 1:14, 17), dan ini adalah anugerah Kristus (2 Kor. 13:13; 12:19), bahkan Kristus itu sendiri (Gal. 6:18; bandingkan 2Tim. 4:22).
II. JATUH DAN MENINGGALKAN ANUGERAH BERARTI JATUH DAN MENINGGALKAN KRISTUS
Jatuh dan meninggalkan anugerah berarti jatuh dan meninggalkan Kristus. Kalau kita jatuh dan meninggalkan anugerah, kita akan “lepas dari Kristus” (Gal. 5:4). Dalam hal ini Paulus mengingatkan gereja-gereja di Galatia, yang berada dalam bahaya seperti yang dihadapi kaum beriman Ibrani, yakni jangan “lepas dari Kristus”, akibat berpaling kembali ke hukum Taurat agama Yahudi. Jika demikian, mereka akan jatuh dan meninggalkan anugerah Allah yaitu Kristus sendiri. Janganlah kita jatuh dan meninggalkan anugerah, melainkan “menerima anugerah” (12:28 Tl., LAI: “mengucap syukur”), “diteguhkan dengan anugerah” (13:9), bahkan harus “berdiri di dalam anugerah” (Rm. 5:2). Baik Surat Galatia maupun Ibrani semua ditutup dengan pemberkatan anugerah (Gal. 6:18; Ibr. 13:25).
“Lepas dari Kristus”, dalam bahasa aslinya berarti terputus (terpotong) dari Kristus, seperti carang terputus dari pokoknya. Kita semua pasti pernah mengalami demikian. Sering kali ketika kita terputus dari persekutuan dengan Kristus yang hidup, kita merasa bahwa kita telah lepas dari anugerah. Sebaliknya, ketika kita sedang bersekutu mesra dengan Tuhan yang tercinta, kita merasa bahwa kita benar-benar berada dalam anugerah, dan anugerah itu menjadi kekuatan, kenikmatan, dan setiap kebutuhan kita. Jika kita memerlukan hayat, anugerah itulah hayat. Jika kita memerlukan kekuatan dan hiburan, anugerah itulah kekuatan dan hiburan kita. Jadi, dalam pengalaman yang riil, bukan dalam doktrin, kita nampak dengan jelas bahwa anugerah tidak lain adalah Kristus sendiri.
A. Kaum Beriman Ibrani Jatuh dan Meninggalkan Anugerah Allah
Berarti Melepaskan Jalan Menikmati Kristus dalam Perjanjian yang Baru
dan Berpaling kepada Agama Mereka yang Usang
Bagi kaum beriman Ibrani, jatuh dan meninggalkan anugerah Allah berarti melepaskan jalan menikmati Kristus dalam perjanjian yang baru dan berpaling kepada agama mereka yang usang. Susunan perabotan Kemah Pertemuan ialah satu wahyu tentang kenikmatan atas Kristus. Di mezbah kita menikmati Kristus sebagai kurban persembahan kita; di bejana pembasuhan kita menikmati Kristus sebagai Roh pemberi hayat yang mencuci bersih kita; di meja roti sajian kita menikmati Kristus sebagai suplai kita sehari-hari; di kaki pelita kita menikmati Kristus sebagai terang hayat; di mezbah ukupan kita menikmati Kristus sebagai wangi-wangian kebangkitan, yang olehnya kita diperkenan Allah, dan di tabut kesaksian dalam tempat maha kudus kita menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan hukum hayat. Inilah kenikmatan atas Kristus yang sesuai dengan jalan perjanjian yang baru. Jika kaum beriman Ibrani melepaskan jalan ini, mereka pasti akan jatuh dan meninggalkan anugerah. Janganlah kita memahami Ibrani 12:15 secara dangkal. Kalau kita menyelami Surat Ibrani, kita akan tahu bahwa yang dimaksud penulis dengan jangan jatuh dan meninggalkan anugerah adalah jangan melepaskan jalan kenikmatan atas Kristus dalam perjanjian yang baru. Dengan kata lain, penulis seolah berkata, “Hai kaum beriman Ibrani, janganlah kalian kembali ke agama Yahudi. Jika kalian melakukan itu, berarti kalian melepaskan jalan menikmati Kristus sebagai anugerah kalian, dan kalian akan jatuh dan meninggalkan anugerah Allah.”
B. Kaum Beriman Ibrani Tetap Tinggal
dalam Jalan Perjanjian yang Baru
karena Menerima Anugerah,
Diteguhkan dengan Anugerah,
dan Berdiri dalam Anugerah
Ibrani 12:28 mengatakan, “Marilah kita menerima anugerah dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut” (Tl.). Kaum beriman Ibrani tetap tinggal dalam jalan perjanjian yang baru, adalah menerima anugerah. Kata “menerima” di sini juga boleh diterjemahkan sebagai “menggunakan” atau “me-manfaatkan”. Kita semua perlu menggunakan anugerah, dan saling membantu dalam menggunakan anugerah. Jika istri Anda mempersulit Anda, Anda harus memberi tahu dia untuk menggunakan anugerah. Tinggal dalam jalan perjanjian yang baru, adalah menggunakan anugerah. Asal kita mau menggunakan sedikit anugerah saja, seluruh keadaan akan berubah. Adakalanya ketika seorang saudara sedang duduk bersama istrinya di meja makan, suasananya sangat kelam. Dalam suasana demikian, saya selalu menganjuri sang istri untuk lebih dulu menggunakan anugerah. Kalau ia berbuat demikian, ruang makan itu akan berubah menjadi terang, dan sang suami akan berkata, “Puji Tuhan!” Anugerah benar-benar merupakan makanan yang paling sehat.
Dalam Ibrani 13:9 Paulus mengatakan agar kita “diteguhkan dengan anugerah”, dan dalam Roma 5:2 ia menghendaki kita berdiri dalam anugerah. Karena kita semua sudah menerima anugerah, maka sekarang kita perlu berdiri di dalamnya. Begitu kita menerima anugerah dan dite-guhkan dengan anugerah, kita akan dapat berdiri di dalam anugerah.
III. SEBAB MUSABAB JATUH DAN
MENINGGALKAN ANUGERAH ALLAH
A. Akar Pahit — Penganut Agama Yahudi
Dalam Ibrani 12:15-16 Paulus berkata, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun kehilangan (jatuh dan meninggalkan) anugerah Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau mempunyai nafsu rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan.” Ayat-ayat ini memperlihatkan kepada kita tiga penyebab orang jatuh dan meninggalkan anugerah Allah: akar pahit, percabulan, dan nafsu yang rendah. Menurut yang tersirat dari konteks kitab ini, akar pahit pastilah penganut Yudaisme yang menyebabkan kaum beriman Ibrani menyimpang dari anugerah Allah kepada liturgi Yudaisme, sehingga mencemari diri mereka sendiri di pandangan Allah, menyia-nyiakan kekudusan Allah. Akar pahit telah merusuhi kaum beriman Ibrani melalui membujuk mereka dengan agama Yahudi, dan menangkap mereka kembali ke agama itu, sehingga mereka dicemarkan oleh agama yang awam itu, tidak dikuduskan kepada Allah yang kudus. Penganut agama Yahudi berusaha meyakinkan kaum beriman Ibrani bahwa jalan perjanjian yang baru itu salah, jalan perjanjian yang lama itulah yang benar. Pada prinsipnya, dalam pemulihan Tuhan juga ada akar-akar pahit di setiap gereja. Ada akar pahit yang mengatakan bahwa dalam gereja terdapat bidah. Akhir-akhir ini, di salah satu gereja muncul akar pahit, dan ada beberapa orang kudus yang terkasih terkena racunnya. Sekali racun pahit itu masuk ke dalam diri seseorang, akan sulit dikeluarkan. Hal semacam ini tidak hanya pernah terlihat di Amerika Serikat, tetapi juga di Taiwan dan daratan China.
Kita tidak seharusnya mendengar dan menerima akar pahit itu, sebab maksud mereka tidak lain ingin menghancurkan pemulihan Tuhan. Akar pahit dapat membuat orang jatuh dan meninggalkan anugerah Allah. Saya yakin sepenuhnya bahwa pemulihan Tuhan hari ini ialah tempat terbaik untuk menikmati anugerah. Kalau Anda meninggalkan pemulihan Tuhan, Anda akan jatuh dan meninggalkan anugerah Allah. Dalam lubuk roh kita tahu bahwa sebelum kita berada dalam gereja, kita tidak pernah menikmati anugerah seperti yang kita nikmati sekarang. Jangan pedulikan apa yang dikatakan oleh penentang-penentang itu, perhatikan saja pengalaman Anda. Penentang-penentang itu sering merangsang mental kita, seperti halnya ular merangsang pikiran Hawa. Begitu mereka berhasil merangsang mental Anda untuk memikirkan masalah itu, kata-kata mereka akan meracuni Anda, sehingga Anda meninggalkan pemulihan Tuhan atau menjadi tawar hati dan negatif terhadap pemulihan Tuhan.
B. Percabulan
Penyebab kedua dari jatuh dan meninggalkan anugerah Allah ialah percabulan. Sewaktu Paulus menulis ayat 16, ia tentu teringat akan kisah Ruben, putra Yakub yang pertama yang melampiaskan hawa nafsu dagingnya sehingga kehilangan hak kesulungannya (Kej. 49:3-4; 1 Taw. 5:1). Karena keinginan daging, maka orang cabul telah dijauhkan dari kenikmatan atas Kristus dalam perjanjian yang baru dari Allah. Tidak ada satu hal yang lebih merusak umat Allah daripada percabulan. Kita harus menjauhkan diri darinya. Orang-orang cabul sama seperti Ruben, akan kehilangan berkat kesulungan karena dicemari oleh hawa nafsunya.
C. Orang yang Bernafsu Rendah
Penyebab ketiga ialah bernafsu rendah, yakni orang-orang yang mengasihi dunia dan hal-hal duniawi, dan yang tertawan oleh kesenangan jasmani. Seperti halnya dengan Esau yang menjual hak kesulungannya karena sedikit makanan (Kej. 25:29-34). Hak kesulungan Esau sebagai putra sulung Ishak adalah bagian ganda atas tanah. Jabatan imam, dan jabatan raja. Karena kesenangannya akan hal-hal duniawi, ia melepaskan hak kesulungannya, maka bagian ganda atas tanah itu diberikan kepada Yusuf (1Taw. 5:1-2), jabatan imam diberikan kepada Lewi (Ul. 33:8-10), dan jabatan raja diberikan kepada Yehuda (Kej. 49:10; 1Taw. 5:2). Menyinggung tentang Esau ini, ayat 17 mengatakan, “Sebab kamu tahu bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk bertobat (memperbaiki kesalahannya), sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Perkataan “tidak beroleh kesempatan untuk bertobat” bukan berarti Esau tidak mempunyai kedudukan untuk bertobat, melainkan berarti dia tidak mempunyai kedudukan, tidak mempunyai jalan untuk balik dengan menyesali akibat dari apa yang telah dia lakukan.
Kita, orang-orang Kristen, yang lahir dari Allah, adalah buah-buah sulung dari semua ciptaanNya (Yak. 1:18) yang Dia tuai dalam penciptaan-Nya. Dalam hal ini kita adalah anak-anak sulung Allah. Karena itu, gereja yang tersusun dari kita disebut gereja anak-anak sulung (12:23). Sebagai anak-anak sulung Allah, kita memiliki hak kesulungan. Ini mencakup warisan atas bumi (2:5-6), jabatan imam (Why. 20:6), dan jabatan raja (Why. 20:4). Ini akan menjadi berkat-berkat utama di dalam kerajaan yang akan datang dan tidak akan didapatkan oleh orang-orang Kristen yang duniawi, mengasihi dan menuntut dunia, pada kedatangan Tuhan kembali. Akhirnya, hak kesulungan ini akan menjadi suatu pahala bagi orang-orang Kristen yang menang dalam Kerajaan Seribu Tahun. Segala kenikmatan duniawi, bahkan sesuap makanan, dapat menyebabkan kita kehilangan hak kesulungan kita ini. Setelah mendengar peringatan yang demikian serius, jika kaum beriman Ibrani masih ingin bernafsu dalam “sesuap makanan” dari agama lama mereka, mereka akan kehilangan kenikmatan yang penuh atas Kristus, dan akan kehilangan perhentian kerajaan dengan segala berkatnya.
Sebenarnya, hak istimewa yang kita nikmati dalam Kristus adalah pencicipan dari segala berkat di dalam kerajaan yang akan datang. Kenikmatan yang tepat dari pencicipan ini akan membawa kita ke dalam pencicipan penuh dari segala berkat kerajaan. Jika hari ini kita tidak menikmati Kristus sebagai tanah permai, bagaimana kelak kita dapat masuk ke dalam perhentian-Nya di dalam kerajaan itu, dan mewarisi bumi bersama-Nya? Jika hari ini kita tidak melaksanakan keimaman kita untuk berkontak dengan Dia dan dengan doa melayani Dia, bagaimana kita dapat menunaikan tugas keimaman kita di dalam kerajaan? Jika hari ini kita tidak melatih roh kita dengan otoritas pemberian Allah untuk memerintah ego, daging, seluruh diri kita, dan musuh dengan seluruh kekuatan kegelapannya, bagaimana kita dapat menjadi raja bersama Kristus dan memerintah bangsa-bangsa bersama Dia di dalam kerajaan-Nya (Why. 2:26-27). Kenikmatan kita akan Kristus dan pelaksanaan jabatan imam serta jabatan raja hari ini merupakan persiapan dan persyaratan bagi partisipasi kita di dalam Kerajaan Kristus kelak!
Dalam Kejadian 1, kita nampak Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya, supaya manusia dapat mengekspresikan-Nya. Menurut jalan pemikiran Surat Ibrani yang mendalam, mengekspresikan Allah adalah masalah imamat. Hari ini menunaikan tugas imamat dalam perjanjian yang baru berarti membiarkan hukum hayat menggarapkan Allah ke dalam diri kita, supaya kita dapat menjadi ekspresi dan kesaksian-Nya. Inilah artinya mengekspresikan gambar Allah melalui imamat. Sejak awal, Allah sudah menetapkan manusia menjadi imam-Nya. Tidak hanya demikian, manusia bukan hanya diciptakan menurut gambar Allah sendiri, juga diberi kekuasaan untuk berkuasa atas segala makhluk ciptaan-Nya. Inilah jabatan raja. Mengekspresikan Allah dalam gambar-Nya adalah tugas imamat, sedang memerintah segala makhluk dengan kuasa Allah adalah tugas jabatan raja. Jadi, imamat dan jabatan raja merupakan nasib yang Allah tentukan bagi manusia sejak awal. Lagi pula, Allah menyerahkan seluruh bumi kepada manusia agar diduduki dan agar ekspresi dan kekuasaan Allah memenuhi seluruh bumi oleh karena perkembangbiakannya. Maka, dalam Kejadian kita nampak, imamat, jabatan raja, dan bumi, ketiga hal yang ditentukan Allah untuk diberikan kepada manusia.
Setelah Adam jatuh, Allah memilih ras lain, yaitu ras Abraham menjadi umat-Nya. Kalau kita membaca kitab Perjanjian Lama, kita nampak bahwa maksud hati Allah terhadap bani Israel dengan maksud semula Allah terhadap manusia adalah sama. Sejak semula Allah menghendaki bani Israel menjadi bangsa imamat, supaya mereka dapat mengekspresikan-Nya, dan supaya mereka memperoleh kuasa untuk mewakili-Nya. Kepada mereka Allah juga telah mengaruniakan tanah yang paling permai di bumi ini. Maka di antara bani Israel terdapat jabatan imam, jabatan raja, dan bumi (tanah permai). Akan tetapi, kebanyakan di antara mereka telah jatuh. Walau Ruben sebagai putra sulung Yakub mempunyai hak kesulungan, karena ia jatuh ke dalam pengumbaran hawa nafsu, ia kehilangan hak itu. Akhirnya hak kesulungannya itu terbagi-bagi. Bagian warisan tanah jatuh pada Yusuf, kedua anak Yusuf beroleh bagian ganda, jabatan imam jatuh pada Lewi, dan jabatan raja jatuh pada Yehuda.
Ketika tiba pada Perjanjian Baru, kita nampak kehendak Allah menginginkan seluruh kaum gereja mengekspresikan-Nya melalui jabatan imam, mewakili-Nya melalui jabatan raja, dan memiliki seluruh bumi ini, agar di bumi muncul satu kehidupan manusia yang tepat. Hari ini di bumi tidak seorang pun yang menempuh kehidupan manusia yang tepat. Orang-orang tidak beriman tentu tidak memilikinya, karena mereka masih berada dalam kejatuhan; dan kita, orang-orang Kristen, walaupun sudah diselamatkan, belum menempuh kehidupan itu sekarang, karena sekarang adalah waktunya bagi kita kehilangan jiwa dan menderita untuk kesaksian Allah. Menurut Kitab Ibrani, pada suatu hari kelak kita akan memperoleh ketiga berkat hak kesulungan tadi. Bumi ini, tanah yang akan kita diami kelak, telah disinggung dalam pasal 2. Di masa yang akan datang, bumi yang dapat didiami ini akan diberikan kepada kita, yakni orang-orang yang menjadi teman sekutu (mitra) Kristus. Di zaman yang akan datang itu, kita akan memiliki dan menguasai bumi ini, bahkan akan menjadi imamat. Selama masa Kerajaan Seribu Tahun, kita akan memiliki kehidupan manusia yang tepat. Itulah pemulihan penuh dari apa yang telah hilang dalam Kejadian 3. Pada zaman kerajaan kelak, semua pemenang akan memiliki seluruh bumi, menjadi imam yang mengekspresikan Allah, dan menjadi raja yang menguasai bangsa-bangsa. Setiap hal yang diberikan kepada manusia dalam Kejadian 1 akan terpulih semuanya. Itulah kehidupan manusia yang tepat. Itulah kehendak Allah.
Namun karena tidak seluruh umat Allah memperhatikan kehendak Allah, maka hal itu telah dibuat-Nya menjadi pahala bagi mereka yang memperhatikannya. Dalam berita yang lalu, kita telah nampak tentang pahala dan keselamatan jiwa. Keselamatan jiwa tidak lain berarti menempuh kehidupan manusia yang tepat dengan keinsanian yang tepat. Hari ini kita belum memiliki kehidupan manusia yang demikian, karena bumi masih belum dipulihkan. Tetapi pada zaman kerajaan kelak, seluruh bumi akan dipulihkan, dan kita akan memiliki bumi itu dan menjadi imam Allah untuk mengekspresikan-Nya, dan menjadi raja untuk mewakili-Nya. Lalu kita akan menjadi manusia yang tepat yang hidup oleh Yesus, manusia yang tepat, guna menggenapkan kehendak Allah yang kekal. Pada saat itu, Kejadian 1 akan terwujud sepenuhnya. Seluruh bumi akan dihuni oleh manusia-manusia yang tepat, sehingga Allah dapat diekspresikan dalam imamat dan dapat diwakili oleh jabatan raja. Inilah hasrat Allah dalam kehendak-Nya yang kekal, yang telah ditentukan menjadi bagian dan pahala kita oleh Allah dan Bapa kita yang berhikmat. Selama zaman kerajaan yang akan datang itu, kita akan berada dalam kesempurnaan dan pemuliaan, beroleh keselamatan jiwa untuk menikmati kehidupan manusia yang tepat berdasarkan sifat insani yang tepat pula. Inilah sasaran kehendak Allah, pahala, dan hak kesulungan.
Karena kita hari ini telah memiliki hak kesulungan, haruslah kita memanfaatkannya. Kita harus melatih roh kita untuk mengekspresikan Allah, mewakili Allah, dan menikmati Kristus sebagai tanah kita yang sejati. Jika hari ini kita gagal dalam melakukan ketiga hal tersebut, bagaimanakah kita dapat melakukannya kelak dalam zaman kerajaan? Maka hari ini juga kita harus mempraktekkan imamat dan jabatan raja, juga menikmati dan menempati tanah permai kita. Jika kita berbuat demikian, kita akan dipersiapkan sepenuhnya untuk memasuki sukacita memiliki bumi yang akan datang, serta dalam memanfaatkan imamat dan jabatan raja. Saat itu, kita akan menerima pahala dan menikmati hak kesulungan. Inilah sasaran Allah.
?