Belajar dan Bekerja
Pembacaan Alkitab :
Matius 25:19-23
Dalam perkara rohani kita harus mengenal satu hal, yaitu "waktu" adalah untuk "kekekalan". Kita di dalam waktu melayani adalah persiapan untuk masa yang kekal. Tujuan Allah menaruh kita di dalam waktu adalah melatih kita agar berguna di dalam kekekalan. Waktu sama seperti sekolah, tempat kita mendapat latihan dan didikan rohani. Di dalam waktu kita menerima didikan dan latihan rohani, supaya dalam kekekalan kita benar-benar bisa dipakai oleh Allah. Sebab itu, pelayanan dalam waktu adalah persiapan untuk kekekalan.
Matius pasal 25 memberitahu kita, ketika Tuhan datang kembali, Dia berkata kepada hamba-hambaNya yang setia, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar." Jika hari ini kita bisa belajar dengan baik, ketika Tuhan datang, Dia akan memberikan kepada kita tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar. Hari ini adalah waktu kita belajar. Sampai Tuhan datang barulah waktu kita melayani dengan sebenarnya.
Mungkin ada saudara saudari berpikir, itu dalam masa kerajaan, bukan dalam kekekalan. Tetapi Wahyu pasal 22 memberitahu kita, dalam kekekalan kita masih tetap melayani Allah. Hari ini, tujuan Allah mengatur kita di tengah-tengah anak-anakNya, adalah agar kita dengan mereka bersama-sama belajar melayani Allah. Pekerjaan kita dalam waktu hari ini adalah persiapan untuk pelayanan dalam. kekekalan.
Sejak kita beroleh selamat, Tuhan telah menaruh hayatNya ke dalam kita. Melalui peristiwa-peristiwa yang praktis, setahap demi setahap, Ia melatih kita supaya makin lama makin belajar bekerjasama dengan Allah, berbaur dengan Allah. Allah mau mumbaurkan sifatNya ke dalam manusia, supaya manusia berguna di tanganNya. Berapa banyak kadar Allah di dalam Anda, berapa banyak juga kegunaan Anda di hadapan Allah. Kalau kadar Allah di dalam Anda bertambah sedikit, kegunaan Anda di hadapan Allah juga bertambah sedikit. Pertambahan kadar Allah bukan hanya terjadi ketika Anda membaca Alkitab atau berdoa. Melalui pekerjaan yang Anda kerjakan, Allah juga membaurkan diriNya ke dalam Anda. Tidak ada satu kegunaan rohani yang bukan berasal dari hayat Allah, yang terbaur ke dalam kita. Kegunaan kita di depan Allah tidak lain adalah membiarkan Allah terbaur ke dalam kita, pembauran itulah kegunaan kita. Allah membaurkan diriNya ke dalam kita, begitu hayat itu keluar itulah kegunaan kita.
Jadi, kita tampak bahwa Allah di dalam waktu, sehari demi sehari, tidak ada tujuan lain, kecuali menggarapkan unsurNya sendiri ke dalam kita. Unsur diri sendiri pada manusia kita terlalu tebal, sehingga Allah tidak dapat memancar keluar dari kita. Demi belaskasihanNya, lewat beberapa waktu, Allah terpancar sedikit dari Anda; sejangka waktu kemudian, Allah terpancar lagi dari diri Anda; lewat beberapa tahun, Allah bisa terpancar keluar dengan leluasa dari diri Anda. Allah perlu melewati waktu membaurkan diriNya ke dalam. Anda, itulah kegunaan Anda. Dalam waktu adalah masa kita belajar, bukan masa secara formal melayani. Hari ini adalah hari kita belajar! Hari ini adalah hari kita belajar melayani Allah. Allah menaruh banyak jiwa di depan kita supaya kita belajar; Allah menaruh banyak saudara dan saudari di depan kita supaya kita belajar. Di hadapan Tuhan kita terus belajar. Sebab itu, kita tidak mempunyai pandangan sendiri, juga tidak mempunyai cara kerja sendiri. Meskipun pelayanan kita bukan tidak bertujuan, tetapi kita bersama anak-anak Allah belajar mengerjakannya. Namun kesulitannya di sini, ada orang man bekerja tetapi tidak mau belajar; ada orang man belajar tetapi tidak mau bekerja. Kita tidak demikian, kita membaurkan dua hal ini menjadi satu. Kita akan bekerja melalui belajar, dan belajar melalui bekerja.
Lalu, apa yang perlu diperhatikan dalam belajar rohani? Dalam kitab Injil ada seorang bernama Petrus. Dia mengikuti Tuhan selama 3 tahun. Ketika mengikuti Tuhan, dia belajar atau bekerja? Dia bekerja juga belajar. Dia belajar apa? Tuhan Yesus membawa Petrus belajar, bagaimana sifat Allah masuk ke dalam manusia. Yang Petrus pelajari adalah bagaimana ia keluar dari pikiran diri sendiri dan masuk ke dalam pikiran Tuhan. Meskipun dalam kitab Injil tidak ada kata-kata demikian, tetapi ada gambaran demikian. Mari kita melihat sedikit kisah Petrus.
Matius pasal 16 memberitahu kita, ketika "Tuhan Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." Petrus menarik Tuhan Yesus dan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Bagaimana jawab Tuhan? Tuhan berkata, "Enyahlah Iblis..., sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Kemudian Tuhan Yesus melanjutkan lagi, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Apakah diri sendiri (ego) itu? Ego itu bersembunyi di mana? Dari potongan ayat Alkitab tadi kita tampak, ego bersembunyi di dalam maksud pikiran manusia. Mungkin ada orang berkata, Petrus baik sekali, ia sungguh-sungguh meaguihi Tuhan. Tetapi Tulian berkata bahwa ia adalah Iblis, i& memikirkan apa yang dipikirkan manusia. Di sini Tuhan memperlihatkan kepada kita, ego bersembunyi di dalam pikiran manusia dan Iblis sering kali memakai ego manusia. Sebab itu kalau mau menanggulangi Iblis, harus menyangkal diri sendiri. Tuhan Yesus memimpin Petrus menerima penanggulangan, yaitu dalam melayani Tuhan dia harus keluar dari maksud pikiran manusia dan masuk ke dalam pikiran Allah. Allah menghendaki Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem untuk mati. Kasih Petrus yang demikian kepada Tuhan adalah menurut apa yang dipikirkan manusia.
0, saudara saudari, jangan mengira asal mempunyai hati yang mengasihi Tuhan sudahlah cukup. Asal ada hati melayani Tuhan sudahlah cukup. Di sini kita tampak, ada kalanya kasih manusia kepada Tuhan mungkin berasal dari apa yang dipikirkan manusia. Kita mempunyai banyak pelayanan, tetapi dalam pandangan Tuhan, semuanya tidak terhitung bahkan patut dimarahi. Sebab itu, kita harus memikirkan apa yang dipikir Allah, jangan memikirkan apa yang dipikir manusia. Inilah pelajaran yang Tuhan kehendaki kita pelajari. Kalau Anda bisa keluar dari maksud manusia dan masuk ke dalam maksud Allah, Anda boleh dikata sudah belajar.
Dalam Matius pasal 17 tereatat perihal Tuhan dimuliakan di atas gunung perubahan. Pikiran Petrus datang lagi. Dia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Siapa yang memberitahu dia untuk mendirikan tiga pernah? Di sini maksud Petrus keluar lagi. Saat ia mengucapkan perkataan demikian, Allah segera berfirman, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepadamyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Ini berarti, hanya Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang kekasih. Allah sama sekali tidak pernah bermaksud meninggikan Musa dan Elia sama seperti meninggikan AnakNya yang kekasih. Allah berkata, "Dengarkanlah Dia." Artinya, sejak kini kalian tidak lagi mendengarkan Taurat, itulah Musa; sejak kini kalian tidak lagi mendengarkan nabi, itulah Elia. Sejak kini kalian harus mendengarkan Dia!
Petrus yang kita lihat dalam keempat kitab Injil pernah juga mengucapkan kata-kata yang benar. Petrus pernah berkata, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Tetapi Tuhan berkata, "Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di Surga." Kata-kata ini tercatat dalam Matius 16:16. Tetapi sampai ayat 22, ia berkata, "Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau." Dari sini kita tampak Petrus tidak bisa mengucapkan kata-kata yang benar berdasarkan dirinya sendiri. Perkataan Petrus yang benar itu berasal dari Allah. Tak peduli berapa banyak maksud manusia, tak peduli berapa banyak pandangan manusia, dalam perkara rohani semua itu sama sekali tidak berguna.
Dalam Matius 26, Petrus sekali lagi menerima penanggulangan. Pada malam Tuhan dijual, Tuhan berkata, "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis : Ahu akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai" (ayat 31). Tetapi Petrus berkata, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak" (ayat 33). Di sini diri Petrus keluar lagi. Diri melihat dirinya sendiri berdasarkan pandangannya sendiri; dia merasa bahwa dirinya kuat, merasa bahwa dirinya lain dari yang lain. Tetapi siapa tahu, ternyata Ia tidak dapat bertahan hanya oleh pertanyaan seorang hamba perempuan; ia gagal. Allah melalui situasi menyingkapkan "ego"-nya dan menanggulangi "ego"-nya.
Kalau kita membaca Kisah Para Rasul pasal 1, tampaklah di sana ada satu Petrus yang sama sekali berbeda dengan Petrus dalam keempat kitab Injil. Boleh dikata dia sudah keluar dari maksud dirinya sendiri. Dia mengerti Alkitab, juga mengerti nubuat; ia mengetahui bagaimana memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Meskipun di kemudian hari dia pernah gagal lagi, tetapi dia sudah belajar cukup banyak.
Sebab itu, saudara saudari, kalau Anda mau belajar melayani Tuhan, Anda harus belajar keluar dari maksud diri sendiri. Jika tidak, di hadapan Allah Anda tidak akan banyak berguna. Kita harus ingat, semua pelayanan tergantung pada Allah masuk ke dalam kita, lalu keluar lagi dari dalam kita. Di atas diri Anda, Allah masuk kemudian keluar lagi, barulah ada pelayanan. Kalau hari ini Anda tidak membiarkan Allah masuk dan keluar lagi, Anda hanya bisa membuat orang menjamah otak Anda, tidak bisa membuat orang menjamah Allah yang ada di dalam Anda. Kalau kita dengan kuat hidup di dalam maksud kita sendiri, kita tidak akan bisa membuat orang lain bertemu dengan Allah. Kalau kita mau membuat orang lain bertemu dengan Allah, kita harus belajar keluar dari maksud kita sendiri. Bahkan dalam hal doa pun harus belajar keluar dari maksud sendiri. Ketika kita keluar dari maksud diri sendiri dan masuk ke dalam maksud Allah, kita baru bisa mempunyai pelajaran yang sungguh-sungguh dan pelayanan yang sungguh-sungguh. Demikianlah bukan hanya di dalam waktu kita bisa berjalan bersama Tuhan, kelak dalam kekekalan juga bisa meraja bersama Tuhan, bahkan mempunyai pelayanan yang lebih indah.
Semoga Tuhan membelaskasihani kita.