Daftar isi Dua Belas Bakul (5) · bab 6/12

Pekerjaan Allah

Pembacaan Alkitab:

Yohanes 6:28-29; Efesus 2:10; Galatia 1:11-12, 16; 1 Korintus 3:9-15

MANUSIA TIDAK BISA MELAKUKAN PEKERJAAN ALLAH

Tertulis dalam Injil Yohanes 6:28, beberapa orang bertanya kepada Tuhan Yesus, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Orang-orang itu sangat bergairah ingin mengerjakan pekerjaan Allah; tetapi mereka menemukan satu kesukaran, yaitu tidak mengetahui perbuatan yang bagaimana baru terhitung sebagai mengerjakan pekerjaan Allah. Mereka mengira, asal mengetahui harus berbuat apa dan bagaimana, sudahlah bisa mengerjakannya. Dengan kata lain, asalkan masalah “apakah yang harus mereka perbuat” itu sudah dibereskan, tentu mereka sudah bisa mengerjakan pekerjaan Allah. Seolah-olah bisa atau tidak bisa itu tidak jadi masalah, asal mengetahui bagaimana melakukannya, itu sudah cukup. Nyatalah di sini, bahwa manusia ingin melakukan pekerjaan Allah, bahkan merasa dirinya mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk melaksanakan pekerjaan Allah.

Akan tetapi, jawaban Tuhan Yesus sama sekali berbeda dengan pertanyaan manusia. Tuhan menjawab, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”. Manusia berkata ingin mengerjakan, tetapi jawaban Tuhan menghendaki manusia percaya. Manusia ingin mengerjakan, ini berarti manusia mampu; tetapi manusia harus percaya, ini berarti manusia tidak mampu. Percaya berarti menerima (Yoh. 1:12). Percaya kepada Dia yang telah diutus Allah berarti percaya kepada Tuhan Yesus. Dalam hal percaya ini, tidak terkandung jasa atau kemampuan manusia. Bukan manusia bisa melakukan sesuatu, melainkan semuanya telah diselesaikan oleh Allah; manusia hanya tinggal menerima saja. Manusia cukup hanya menerima Putra Allah. Percaya berarti Allah telah melakukan semua pekerjaan, Ia telah mengaruniakan Putra tunggal yang dikasihi-Nya itu kepada kita, tidak perlu kita berbuat apa pun, cukup menerima karunia-Nya saja.

ALLAH TELAH BEKERJA

Tuhan menjawab, “Inilah pekerjaan Allah”. Orang yang tidak mengetahui tentu mengira dirinya bisa mengerjakan pekerjaan Allah, sehingga ia bergairah dan ingin aktif mengerjakannya. Tetapi Tuhan berkata, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Inilah pekerjaan Allah; bukan manusia mengerjakan pekerjaan Allah, melainkan Allah sendiri sudah mengerjakan pekerjaan itu. Itu pekerjaan Allah, bukan pekerjaan manusia. Percaya kepada Tuhan Yesus adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan manusia. Pekerjaan Allah hanya dapat dikerjakan oleh Allah sendiri, manusia tidak bisa mengerjakannya. Dalam pekerjaan Allah manusia tidak ada bagian apa pun.

Contoh yang baik untuk hal ini tercantum dalam kisah Marta dengan Maria. Dalam kisah itu terlihat oleh kita betapa Marta sibuk melayani Tuhan, sedemikian sibuknya sehingga ia mohon Tuhan menyuruh Maria untuk membantunya. Mungkin dalam hati ia berpikir, ia telah mengeluarkan banyak tenaga maupun harga, bahkan merasa banyak bersusah untuk Tuhan, tentu hal ini dapat terbilang sebagai mengabdi kepada Tuhan, atau bekerja bagi Tuhan. Tetapi Tuhan tidak memuji jerih payahnya, malahan berkata kepadanya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia” (Luk. 10:38-42).

Sebenarnya, apa yang telah dilakukan Maria? Alkitab mengatakan, bahwa dia duduk dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Maria hanya duduk mendengarkan, ia tidak melakukan apa pun; ia tidak seperti kakaknya yang sibuk bekerja. Mendengar perkataan Tuhan berarti menerima firman Tuhan. Perkataan-perkataan Tuhan adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63), dan demi firman-Nya Tuhan mengaruniakan hayat-Nya kepada manusia. Maria duduk menerima firman Tuhan, ini berarti memberi kesempatan kepada Tuhan, agar Tuhan dapat bekerja atas dirinya, agar Tuhan melalui firman-Nya dapat mempersekutukan diri-Nya kepada Maria; sedang Maria sendiri hanyalah suatu bejana penerima saja. Di sini kita tampak bahwa yang bekerja bukanlah Maria, melainkan Tuhan sendiri. Manusia Maria ini adalah pekerjaan Tuhan, ia adalah sasaran pekerjaan Tuhan. Sebab itu Alkitab mengatakan, “Karena kita ini buatan (pekerjaan) Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef. 2:10). Syukur kepada Tuhan, kita ini bukanlah pekerjaan manusia, melainkan pekerjaan Allah; kalau ini adalah pekerjaan Allah, tentu mutlak dapat diandalkan. Oh, fakta yang betapa mulia! Kita adalah pekerjaan Allah.

MANUSIA BEKERJA SAMA DENGAN ALLAH

Jika demikian halnya, bukankah manusia itu tidak ada kedudukan apa pun dalam pekerjaan Allah? Lalu mengapa Paulus berkata, “Karena kami adalah kawan sekerja untuk Allah”? (1 Kor. 3:9). Dia berkata kepada orang saleh di Korintus, “Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” (1 Kor. 9:1). Mari kita lihat bagaimana cara Paulus bekerja sama dengan Allah. Dari 1 Korintus 3, kita dapat mengetahui bahwa Allah itulah Tuan dari segala pekerjaan, dan semua orang yang bekerja haruslah tunduk di bawah pengaturan-Nya.

Dalam Surat Galatia, Paulus mengatakan bahwa Injil yang ia beritakan berasal dari wahyu Allah, sebab Allah berkenan mewahyukan Putra-Nya di dalamnya. Melalui wahyu itulah Paulus memperoleh pengenalan realitas rohani terhadap Kristus, dan karena itu pula ia dapat memberitakan Kristus kepada orang kafir, tanpa terlebih dulu meminta pertimbangan manusia milik daging. Paulus bisa bekerja, karena terlebih dulu ia membiarkan Allah bekerja di dalam dirinya. Allah terlebih dulu melalui Roh Kudus mewahyukan Putra-Nya kepada Paulus, sehingga dalam realitas rohani ia dapat mengenal Kristus, bukan berdasarkan darah daging manusia (2 Kor. 5:16). Karena Paulus sudah mendapatkan Kristus, maka ia dapat memberitakan Kristus kepada orang lain. Paulus bukan memberitakan Kristus yang objektif yang tidak dapat diraba, melainkan Kristus yang benar-benar pernah ia alami. Bagi Paulus, Kristus sama riilnya dengan dirinya sendiri. Kristus di dalam dia, dan dia di dalam Kristus. Kristus berada di dalam pikiran, perkataan, dan perilakunya. Kristus menjadi Tuan di dalamnya, sedang dia menjadi penampilan di luar. Kalau Anda mengatakan, dia adalah Paulus, memang dia benar-benar Paulus; kalau Anda mengatakan bahwa Kristus tertampak dari dirinya, memang dia benar-benar adalah penampilan Kristus. Semua ini dikarenakan Kristus telah menduduki dirinya (Flp. 3:12, Darby). Apa yang diberitakan oleh Paulus, berdasar pada apa yang ada pada dirinya. Seberapa banyak pengenalannya terhadap Kristus, sebanyak itu pula yang dapat diberitakannya kepada orang lain.

Jadi, bekerja sama dengan Allah bukan berarti Anda bekerja bagi Allah, melainkan terlebih dulu membiarkan Allah menggarapkan Kristus ke dalam Anda, kemudian Anda memberitakan Kristus yang Anda kenal melalui wahyu itu kepada orang lain. Pekerjaan itu tetap dikerjakan oleh Allah sendiri, manusia hanya mengatakan apa-apa yang telah dikerjakan oleh Allah. Sebab itu Paulus berkata kepada kaum saleh di Korintus, “Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Kristus?” Maksud Paulus ialah, “Kalian berada di dalam Tuhan dikarenakan aku sudah memberitakan Kristus yang kukenal itu kepada kalian, agar kalian juga memperoleh-Nya.”

Pemberitaan apakah yang diberitakan Paulus kepada orang-orang di Korintus? Ia mengatakan, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Kor. 2:2). Inilah inti pemberitaannya, yaitu Yesus Kristus. Hari ini, garis pekerjaan Roh Kudus di dalam setiap orang saleh juga demikian: di aspek negatif, melalui salib melenyapkan ciptaan lama mereka; bersamaan dengan itu, di aspek positif, melalui wahyu menggarapkan Kristus ke dalam kaum saleh, agar mereka menjadi ciptaan baru. Apa yang Paulus beritakan dahulu, adalah juga yang diwahyukan Roh Kudus kepada kaum saleh pada hari ini. Bagaimana Roh Kudus dahulu memberi wahyu kepada Paulus, sehingga ia mengenal Kristus dan Ia yang tersalib, demikian juga hari ini Roh Kudus mewahyukannya kepada kita. Karena itu sekali lagi kami katakan, “Pekerjaan itu tetap dikerjakan oleh Allah, manusia hanyalah memberitakan apa yang telah dikerjakan Allah di atas dirinya.”

DASAR PEKERJAAN

Sebab itu, Paulus mengatakan bahwa dasar pekerjaan itu ialah Yesus Kristus sendiri, selain Dia, tidak ada dasar lain lagi. Paulus juga berkata, “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Benih yang ditabur di ladang adalah Kristus, dan yang dituai kelak tentu juga Kristus. Dasar bangunan itu adalah Kristus, maka pembangunan selanjutnya juga harus berdasarkan Kristus. Ketika kita dilahirkan kembali, Allah menaruh hayat Kristus ke dalam kita sehingga kita memperoleh satu hayat yang dulu tidak pernah kita miliki. Hayat yang kita peroleh saat kita dilahirkan kembali adalah hayat yang ditambahkan, ini adalah pekerjaan Allah. Segala pekerjaan Allah di atas diri manusia mutlak berdasarkan hayat yang ditambahkan ini, dan hayat ini adalah Kristus sendiri (Kol. 3:4). Sebagaimana hayat itu mutlak berasal dari Allah, maka pertumbuhan selanjutnya juga mutlak karena dipelihara oleh Allah (2 Kor. 5:5). Dalam hal ini, tangan manusia tidak ada bagian, bahkan yang “terbaik” dari manusia pun tidak dapat disisipkan ke dalamnya. Kewajiban terbesar dari manusia ialah bekerja sama dengan Allah, manusia tidak patut menghalang-halangi pekerjaan-Nya. Karena itu, menjadi kudus hanyalah merupakan kelanjutan dari hayat ini; menempuh kemenangan hanyalah berarti bahwa hayat itu telah mengalahkan dosa, daging, dunia, dan Iblis; bertumbuh dan dewasa itu pun hanya berarti bahwa hayat itu telah meraja dan berkuasa atas keseluruhan pribadi manusia. Bagi kaum saleh, hayat yang diperoleh saat dilahirkan kembali adalah permulaan pekerjaan Allah, dan kelanjutan sampai kesudahannya juga tidak dapat terjadi di luar hayat tersebut.

Jadi saudara saudari, khususnya bagi orang yang terpanggil untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan, jika Anda benar-benar mau bekerja sama dengan Allah, pekerjaan Anda harus mutlak murni. Dalam perkara ini kita harus bersikap takut dan gentar, serta menolak segala yang “terbaik” yang berasal dari diri sendiri, agar pekerjaan Allah tidak tercampur-aduk. Kita harus ingat, kalau kita tidak mempunyai wahyu Roh Kudus, tidak memiliki penglihatan dan pengalaman di dalam realitas rohani, kita tidak mungkin mengerjakan pekerjaan Allah.

Seorang yang telah dilahirkan kembali, baru dapat bersaksi kepada orang lain, bagaimana Tuhan telah menyelamatkannya. Tanpa memiliki pengalaman dilahirkan kembali, tidak mungkin melakukan pekerjaan ini. Demikian pula tentang kemenangan, kekudusan, dipenuhi Roh Kudus, Kristus berkuasa di batin, dan lain sebagainya, hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah sungguh-sungguh mengalaminya. Bahkan ketika mempersaksikannya, masih harus dilakukan di dalam Roh Kudus; kalau tidak, urapan Tuhan tidak akan menyertainya. Dalam pekerjaan rohani, kita harus mutlak bersandar kepada Roh Kudus; jika Roh Tuhan tidak memulai pekerjaan-Nya, bagaimanapun manusia bekerja, tetap tidak akan berhasil.

Ingatlah, pekerjaan Allah adalah terlebih dulu Anda membiarkan Allah menggarapkan ke dalam Anda, baru kemudian Allah melalui Anda dan di dalam Roh Kudus mengerjakannya; inilah yang bisa membangun gereja.

BAHAN PEKERJAAN

Surat 1 Korintus 3:12 memberi tahu kita, ada orang membangun dengan emas, perak, dan batu permata, ada orang membangun dengan kayu, rumput kering, atau jerami; sekali kelak pekerjaan masing-masing itu akan nyata, karena hari itu pekerjaan masing-masing orang akan diuji dengan api. Kita tahu, kayu, rumput kering, dan jerami tentu tidak tahan pembakaran; tetapi emas, perak, dan batu permata tahan pembakaran. Emas ditujukan kepada hal-hal yang berasal dari Allah, adalah pekerjaan Allah. Perak ditujukan kepada penebusan, yaitu pekerjaan Tuhan di kayu salib. Batu permata ditujukan kepada pekerjaan Roh Kudus, yaitu Roh Kudus melalui wahyu menggarapkan hayat Allah ke dalam diri manusia, menggarap sehingga Allah dan manusia bisa menjadi satu. Inilah pengalaman kita yang subjektif pada hari ini. Batu permata adalah sejenis benda senyawa, terjadi melalui tekanan dan pembakaran yang tinggi, kemudian melalui pemotongan dan penggosokan, barulah menjadi suatu batu permata yang indah gemerlapan. Demikian juga penggarapan Allah atas diri kaum saleh. Di satu pihak Allah memakai keadaan-keadaan sekeliling seperti api membakar, di pihak lain masih perlu melewati pemotongan dan penggosokan tangan-Nya, yaitu menyingkirkan barang-barang yang tidak berguna dan menggarapkan barang-barang yang dikehendaki-Nya, baru kemudian bisa bersinar dan memuliakan Allah.

Orang yang menjadi batu permata, yaitu “manusia-Allah”, adalah karya agung (masterpiece) Allah di dalam Kristus. Orang-orang demikian adalah orang-orang yang dapat dipercaya oleh Allah. Seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 7:25-40, yang sebenarnya merupakan perkataan Paulus sendiri, karena dia tidak memiliki perintah Tuhan, tetapi pada akhirnya ia berkata, bahwa itu semua berasal dari gerakan Roh Kudus. Dalam sepotongan waktu, Madame Guyon mengalami demikian. Begitu di dalamnya ia memutuskan sesuatu, hal itu pun terjadilah; karena keputusannya itu juga keputusan Allah. Meskipun kata-kata itu berasal dari mereka sendiri, namun diakui Allah sebagai kata-kata-Nya. Allah tidak khawatir bersatu dengan mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan diri sendiri dan masuk ke dalam Allah, seperti setetes air yang telah hilang di dalam laut, yang kemudian tidak dapat dipisahkan lagi. Orang sedemikianlah yang disebut batu permata, benda garapan Roh Kudus, dan kemuliaan Allah.

Karena itu kita harus bersembah sujud dengan rendah hati di hadapan Allah, membiarkan Allah bekerja di atas diri kita, yaitu menggarapkan hayat Kristus ke dalam diri kita. Jika demikian, kita pun dapat membantu orang lain, agar orang lain dapat mengenal penggarapan Roh Kudus. Inilah pekerjaan batu permata.

PEKERJAAN ROH KUDUS

Sekarang kita akan melihat bagaimana sebenarnya pekerjaan Roh Kudus di dalam diri manusia.

1. Permulaan Pekerjaan — Hari Pentakosta

Pada hari Pentakosta, Roh Kudus — Pekerja — itu turun ke bumi dan mulai bekerja, membuat orang menegur dirinya sendiri karena dosa dan kemudian percaya kepada Tuhan Yesus. Setelah itu, Ia tinggal di dalam orang yang telah percaya demi melanjutkan pekerjaan-Nya, agar perawakan rohani orang-orang beriman itu bertumbuh dan mencapai kedewasaan, mencapai kematangan hayat.

2. Tempat Pekerjaan — Roh Manusia

Roh Kudus tinggal di dalam roh orang yang telah dilahirkan kembali. Jadi, roh adalah tempat Ia bekerja, dan juga pusat dari pekerjaan-Nya. Dari roh inilah pekerjaan rohani itu dimulai.

Pekerjaan Roh Kudus itu ada yang secara langsung, ada pula yang tidak langsung. Secara langsung, kalau Ia mewahyukan kehendak Allah ke dalam roh manusia, lalu menerangi jiwanya supaya pikirannya mengerti, kemudian tubuhnya bergerak melaksanakan kehendak Allah itu. Tidak langsung, kalau Ia dengan berbagai macam benda dan perkara berbicara kepada manusia. Ada kalanya dengan Alkitab, ada kalanya melalui malaikat, ada kalanya melalui benda-benda, perkara-perkara atau manusia lainnya. Misalnya, Allah pernah dengan keadaan pohon-pohon yang daun-daunnya berguguran dan beku di musim dingin berkata kepada Lawrence, supaya ia percaya dengan teguh akan kuasa kebangkitan Allah. Allah Sang Hikmat dapat berbicara kepada manusia dengan berbagai cara. Tetapi satu hal yang pasti, yaitu Ia membawa masuk perkataan-Nya ke dalam roh manusia, demikian barulah perkataan-Nya itu benar-benar berhubungan dengan hayat rohani manusia.

3. Arah Pekerjaan — Dari Pusat ke Sekeliling

Pekerjaan Allah selalu dimulai dari pusat kemudian meluas ke sekeliling. Pertama, Allah memberi wahyu di pusat manusia — dalam roh, — kemudian ke jiwa, agar pikirannya mengerti, dan akhirnya membuat tubuh melaksanakannya. Misalnya mengenai kekudusan. Yang dikenal di dalam Roh ialah Allah itu Mahakudus. Allah yang Mahakudus ini, melalui Roh Kudus telah bersatu dalam roh kita, (menjadi satu roh dengan Dia, 1 Kor. 6:17); Allah menerangkan hal ini ke dalam pikiran kita, dan pikiran kita pun mengerti. Selanjutnya kuat kuasa kekudusan itu menghasilkan suatu khasiat di dalam pikiran kita, yang menolak dan tidak memperkenankan masuk segala pikiran yang tidak kudus dan yang tidak dapat bersatu dengan Allah. Demikianlah jiwa kita menjadi kudus. Bersamaan dengan itu, khasiat ini juga mencapai tubuh kita, khususnya mata kita, kekuatan kekudusan itu menguasainya, sehingga ia tidak mau melihat hal-hal yang berlawanan dengan kekudusan. Orang yang demikian mengenal kekudusan, ketika Roh Kudus memakai dia untuk berbicara, dengan sendirinya ia dapat mengatakan kekudusan yang telah dialaminya kepada orang lain, dan perkataannya akan berkhasiat atas diri orang lain.

4. Cara Bekerja — Mewahyukan

Mewahyukan itulah cara pekerjaan Allah. Wahyu terjadi di dalam roh, maka yang utama adalah roh, bukan pikiran. Roh dan hayat terletak di depan, pikiran dan otak terletak di belakang. Banyak orang dengan otak dan pikirannya mencari kehendak Allah, sampai pikirannya menjadi bingung dan kacau, tetap tidak mengetahui kehendak Allah, sebab jalannya salah. Allah menghendaki kita menantikan wahyu-Nya di dalam roh, yang akan menerangi pikiran kita, sehingga kita dapat mengerti kehendak-Nya. Kita harus ingat, dalam perkara rohani, pikiran bukan yang utama, melainkan yang kedua. Bukan berarti pikiran tidak berguna, melainkan baru memakainya pada kedudukan yang kedua.

Dalam hal ini kita harus tahu bahwa suatu penglihatan rohani itu terdiri dari beberapa syarat. Menurut firman Allah, sedikitnya ada tiga syarat. Pertama ialah wahyu. Wahyu berarti dibuka atau menyingkirkan penutup. Misalnya, dalam lemari ini terdapat sebuah buku. Anda tidak melihatnya, karena ia tertutup oleh pintu lemari. Jika pintu lemari itu dibuka, barulah Anda dapat melihatnya. Syarat kedua ialah terang. Seandainya di ruangan ini tidak ada terang, sekalipun banyak benda terletak di depan Anda, Anda tetap tidak mengetahuinya. Syarat ketiga ialah mata yang terbuka. Benda-benda sudah tidak ada penutupnya, sudah ada terang, tetapi tanpa mata yang terbuka, benda itu tetap tidak terlihat. Ketika Roh Kudus melalui wahyu memperlihatkan realitas Kristus kepada seseorang, pada saat yang bersamaan juga menerangi pikiran dalam jiwanya. Pikiran itulah mata batin manusia. Asal saja mata orang itu tidak seperti mata orang Laodikia, tentu ia dapat tampak. Orang di Laodikia tidak bisa tampak, karena selalu merasa “ada”, mengira dirinya “ada”. Segala perkiraan yang mengira diri sendiri “ada” akan menjadi suatu selubung yang menutupi mata seseorang, sehingga tidak dapat melihat. Berbahagialah orang yang miskin di dalam rohnya.

5. Garis Pekerjaan

Garis pekerjaan Allah beraspek dua. Pertama, aspek negatif, yaitu melalui wahyu membuat orang mengenal diri sendiri. Setelah orang mengenal diri sendiri, ia pasti akan bersandar kepada kuasa Roh Kudus dan melalui salib menyingkirkan dosa, daging, dan dunia dari dirinya. Kedua, aspek yang positif, yaitu Roh Kudus mewahyukan Kristus ke dalam roh manusia, terus-menerus mempersekutukan Kristus kepada manusia. Manusia demi iman menerima Kristus, tinggal di dalam Kristus, membiarkan hayat Kristus tergarap ke dalam dirinya. Berapa banyak seseorang mengenal Kristus demi wahyu, itu menjadi ukuran besar kecilnya perawakan hayat rohaninya. Titik akhir dari garis pekerjaan Allah adalah “ego” manusia dimurnikan sedemikian rupa, sehingga tidak ada sisa sedikit pun, dan Kristus dapat menduduki orang itu secara mutlak.

6. Bentuk dan Tujuan Pekerjaan

Ketika Musa mendirikan Kemah Suci, Allah menghendaki Musa membuat kemah itu sesuai dengan gambar yang telah ditunjukkan kepadanya di atas gunung, sedikit pun tidak boleh diubah. Demikian pula pembangunan Roh Kudus dalam diri kita pada hari ini, disesuaikan dengan gambar Kristus; sebab itu segala benda di luar Kristus tidak dapat dibawa masuk. Pekerjaan Roh Kudus itu mutlak murni, Dia akan bekerja sedemikian rupa sehingga menjadikan manusia serupa dengan Tuhan yang murni (1 Yoh. 3:3).

SIKAP YANG SEHARUSNYA ADA PADA ORANG YANG DIGARAP

Dari diri Maria kita dapat melihat bahwa dia memiliki satu sikap yang paling baik. Hal ini dapat kita bahas menjadi empat butir:

1. Ia berada di dekat kaki Tuhan Yesus, bukan di dekat kaki orang lain. Di sana ia sedang menghampiri Tuhan. Inilah jalan terpintas dan tercepat untuk memperoleh pertumbuhan hayat. Setiap saat dan setiap detik menghampiri Tuhan, mencintai Tuhan, menyembah Tuhan, dan senantiasa bersekutu dan beserta dengan Tuhan; — tidak ada jalan lain yang dapat menyamai cara ini. Orang-orang yang sangat mengenal Allah, adalah orang-orang yang sudah menemukan jalan ini. Madame Guyon berkata, “Menghampiri Allah itu sudah mencakup segala pelayanan.” Paulus pun pernah berkata, “Tetaplah berdoa” (1 Tes. 5:17). Orang yang selalu bersekutu dengan Kristus dengan muka yang tidak berselubung, pasti akan menjadi serupa dengan Tuhan (2 Kor. 3:18).

2. Ia duduk di dekat kaki Tuhan. Ini berarti ia berada di tempat kedudukan yang sangat rendah. Rendah hati adalah satu sikap yang sangat penting untuk memperoleh berkat Tuhan, “Karena Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati” (1 Ptr. 5:5). Rendah hati bukan berarti memandang rendah diri sendiri; rendah hati berarti tidak melihat diri sendiri, atau boleh dikatakan, tidak ada diri sendiri, memandang diri sendiri seperti nol. Jika kita sering menghampiri Allah dengan segala kerendahan hati, Allah pasti memberkati kita.

3. Ia duduk; tidak seperti kakaknya yang sibuk bekerja. Tenang sering kali merupakan kekuatan rohani. Kesulitan manusia yang terbesar ialah tidak dapat tenang di hadapan Allah. Manusia sering terhanyut oleh mata dan pikirannya. Mata tubuh kita dan pikiran jiwa kita adalah bagian yang paling sibuk. Orang yang selalu sibuk adalah orang yang paling sulit menerima wahyu. Pikirannya selalu naik turun seperti air danau yang berombak, tidak dapat mencerminkan dengan jelas bunga-bunga dan pepohonan yang ada di tepi danau. Jika seseorang menginginkan supaya gambar Tuhan tercetak di dalam dirinya, ia harus tenang di hadapan Tuhan.

4. Ia mendengarkan perkataan Tuhan. Perkataan Tuhan adalah roh dan hayat. Melalui firman, Tuhan mengaruniakan diri-Nya kepada manusia. Ia mendengar perkataan Tuhan berarti ia memberi kesempatan kepada Tuhan untuk mempersekutukan diri-Nya kepadanya, supaya ia bisa memperoleh Tuhan dan serupa dengan Tuhan. Ia di sana senantiasa menjadi orang yang menerima diri Tuhan. Ia tidak hanya mendengar suara, bahkan berjumpa dengan Tuhan. Saudara saudari, ketika Anda mendengarkan suatu pemberitaan, kalau hanya mendengar suara saja tanpa bertemu dengan Kristus yang ada di dalam suara, sungguh sayang sekali.

ORANG YANG MENYAMPAIKAN FIRMAN ALLAH

Para hamba Allah yang memberitakan firman Allah, juga harus memperhatikan beberapa perkara di bawah ini:

1. Harus berbicara di dalam Roh Kudus. Di samping harus merasa takut dan gentar akan diri sendiri, juga harus menerima kendali dan pengaturan Roh Kudus. Perkara rohani kalau tidak diberitakan di dalam roh, akan mendatangkan suasana yang tidak mengenakkan bagi pendengar. Perasaan di dalam Anda (perasaan langsung rohani) bisa memberi tahu Anda, bahwa meskipun perkataannya benar, tetapi sumbernya tidak benar; meskipun kalimatnya benar, tetapi manusia pembicaranya tidak benar. Jika demikian, Allah tidak dapat menyertai berita yang disampaikan. Jika hal ini mau diumpamakan, mungkin itu sama dengan sebuah anting-anting emas pada hidung babi, tentunya sangat tidak sepadan.

2. Tidak berkata-kata dalam suasana milik daging. Anda tidak dapat berbicara dalam keadaan orang-orang sedang ramai-ramai dan tertawa-tawa, sebab suasana itu sedikit pun tidak mengandung suasana rohani. Keadaan demikian serupa dengan menaruh telur di lemari es untuk ditetaskan, ini sungguh mustahil.

3. Harus memberikan realitas rohani kepada orang. Yang diwahyukan oleh Allah adalah satu perkara rohani yang sama riilnya dengan benda-benda materi. Misalnya, sebuah cangkir adalah satu benda, kursi adalah satu benda, keduanya adalah benda-benda yang sangat riil, bukan suatu khayalan atau filsafat. Jadi ketika menyampaikan firman, realitas rohani itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada orang lain.

4. Saat berbicara, harus mohon Tuhan memberikan perkataan yang tepat untuk menguraikan hal-hal rohani. Misalnya, ketika Lawrence mengatakan hal “introspeksi”, ia berkata, introspeksi adalah sisa dari sayang diri yang belum dibuang, juga merupakan suatu perilaku sayang diri yang berada di belakang kedok kegairahannya dalam menuntut kesempurnaan diri sendiri. Dalam pengalaman rohani terdapat suatu perkara yang tidak baik yaitu “introspeksi”, yang selalu memandang ke dalam diri sendiri. Kini Lawrence sudah dengan perkataan rohani menjelaskan arti kata tersebut. Inilah yang dimaksud dengan perkataan rohani menjelaskan perkara rohani (1 Kor. 2:13).

5. Manusia duniawi tidak bisa memahami perkara-perkara rohani, hanya manusia rohani yang bisa mengerti (1 Kor. 2:14). Mengapa demikian? Manusia duniawi tidak mempunyai benda rohani itu, maka tidak dapat mengerti; manusia rohani memilikinya, maka bisa mengerti. Misalnya Anda bertemu dengan seorang yang selamanya tidak pernah melihat arloji. Tidak peduli bagaimana jelasnya Anda memberi tahu dia bagaimana rupa arloji, ia tetap takkan mengerti. Tetapi jika Anda terlebih dulu memperlihatkan sebuah arloji kepadanya dan memberi tahu dia bahwa ini adalah arloji, tentu ia dapat mengerti. Terlebih dulu harus melihat benda itu, kemudian baru dapat mengerti dan dapat mengatakan benda itu. Demikian pula dengan perkara rohani.

Misalnya, dilahirkan kembali, ini adalah pengalaman pertama dari kerohanian seorang Kristen. Ada orang yang telah bertahun-tahun mendengar berita ini, tetapi kalau Anda membicarakan perkara dilahirkan kembali dengannya, ia seakan-akan seperti orang yang buta sejak lahir mendengar orang bercerita tentang matahari, baginya perkara ini sangat aneh. Karena di dalam dirinya tidak ada benda itu, maka ia tidak dapat mengerti. Ada juga orang yang benar-benar telah dilahirkan kembali dan juga memiliki pengalaman dilahirkan kembali, tetapi karena sewaktu mendengarkan Injil tidak begitu jelas, ia tidak tahu bahwa dirinya telah dilahirkan kembali dan beroleh selamat, ia masih mengharapkan untuk beroleh selamat. Kepada orang yang demikian, perkara kebenaran dilahirkan kembali perlu dijelaskan. Ia bisa memahaminya, karena ia telah mengalami hal tersebut. Jadi, orang yang menyampaikan berita harus terlebih dulu memperlihatkan bendanya kepada pendengar, baru kemudian menjelaskannya dengan perkataan-perkataan yang tepat. Jika demikian, orang yang mendengar tidak saja memperoleh realitas rohani, juga memperoleh pengetahuan rohani. Sebagaimana dalam hal dilahirkan kembali, demikian juga dengan hal-hal lainnya. Semakin banyak wahyu yang didapat oleh kaum beriman, semakin bertumbuh hayatnya. Jika ada perkataan yang menjelaskan wahyu yang didapat — benda, maka tidak saja akan membuat orang melihat sesuatu, juga akan membuat orang mengetahui benda apakah yang didapatkan itu. Bila orang dapat menyampaikan firman Allah dengan cara demikian, gereja pasti akan beroleh pembinaan yang sejati.

ORANG YANG MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH

Orang yang mendengarkan firman Allah juga harus memperhatikan:

1. Jangan berniat mendengarkan khotbah yang indah, melainkan berniat berjumpa dengan Kristus. Mendengarkan khotbah bukan untuk memuaskan otak kepala Anda, melainkan untuk memperoleh suplai rohani. Ada orang dapat berkhotbah dengan jalan pikiran dan ungkapan yang baik sehingga enak didengar, tetapi tidak menghasilkan buah-buah rohani. Anda seharusnya tidak menyukai khotbah yang demikian. Khotbah yang Anda perlukan adalah khotbah yang bisa membuat Anda mendapatkan benda-benda rohani, bisa membuat Anda bertemu dengan Kristus. Khotbah demikian selalu disertai kuat kuasa hayat, yang membuat hayat Anda mengalami perubahan, mengalami pertumbuhan, mendewasakan perawakan hayat Anda. Untuk ini, kita perlu mohon Tuhan memberkati kita, memberi kita daya tamyiz sehingga kita mempunyai penuntutan yang tepat.

2. Kalau Anda mendengar suatu pemberitaan yang tidak bisa Anda mengerti, Anda wajib dengan rendah hati menunggu waktunya Tuhan; karena daya pemahaman rohani berkaitan erat dengan usia rohani. Daya paham Anda sangat berhubungan dengan usia rohani. Saat ini Anda tidak mengerti, beberapa tahun lagi Anda bisa mengerti. Anda sekali-kali tidak boleh dengan sembarangan mengkritik hal-hal yang tidak dapat Anda pahami itu, supaya Anda tidak menderita kerugian nantinya. Pula, jangan sekali-kali memandang perkara rohani itu sangat mudah, hingga merasa diri sendiri sudah paham semuanya. Ketahuilah, banyak orang yang harus mengeluarkan tenaga dan waktu beberapa tahun sebelum berhasil mempelajari pelajaran itu, setelah itu baru mereka bisa mengatakannya.

3. Harus waspada terhadap benda-benda pengganti. Ini seperti ketika seseorang sedang mengisahkan seekor kijang, namun yang ada dalam pengertiannya adalah seekor kuda; kedua hal itu jelas berbeda. Misalnya tentang “realitas”. Realitas yang kita bicarakan mengacu kepada benda-benda yang diwahyukan oleh Roh Kudus di dalam Kristus. Tetapi banyak orang, bahkan pekerja-pekerja yang sudah bertahun-tahun melayani, menganggapnya sebagai pelaksanaan (praktik). Kalau realitas berarti pelaksanaan, maka orang-orang yang disebut dalam 1 Korintus 13:3 itu adalah yang paling realitas; faktanya, mereka sama sekali tidak ada realitas di hadapan Allah. (Sebaliknya, orang yang memiliki realitas, ia pasti adalah orang yang memiliki pelaksanaan). Misalnya lagi, “terang”. Ada orang yang mengira mendapat terang berarti mendapatkan suatu pemikiran baru atau satu pandangan baru yang dikira masuk akal; demikian ini bersumber dari otak manusia saja, tidak akan memiliki kekuatan. Ada juga yang mengira bahwa mendapatkan terang berarti melihat seberkas cahaya terang secara jasmani; ini pun bukan terang sejati. Terang hayat yang sejati berasal dari wahyu Roh Kudus, kemudian dimengerti oleh pikiran. Jadi yang terlihat itu ialah suatu benda yang riil, diperlihatkan oleh Roh Kudus, dan ini disertai dengan kekuatan. Sebagaimana dikatakan oleh seorang saudara, terang itu dapat membunuh, dapat menerangi dan dapat membakar, sehingga orang mengalami perubahan hayat. Misalnya, ketika seseorang beroleh selamat, Roh Kudus meneranginya sehingga ia tampak dosanya sendiri, pada saat itu ia mengakui dosanya yang betapa cemar, dan ia merasa tidak ada jalan lain; ia sangat benci akan dosanya. Dosa yang dikenalnya melalui terang, jauh melampaui dosa yang diketahuinya dari otak. Inilah yang disebut terang hayat. Sayang sekali, banyak orang memiliki benda-benda pengganti, sehingga tidak tampak yang sejati. Karena itu, kita harus merendahkan diri, jangan beranggapan bahwa diri sendiri sudah mengerti dan memahami semua perkara.

4. Mendoakan. Kita harus merendahkan diri kita di hadapan Allah, berdoa untuk orang-orang yang membawakan berita, agar Tuhan membebaskan perkataan hayat. Juga berdoa untuk para pendengar dan diri sendiri, agar firman yang diberitakan bisa masuk ke dalam lubuk hati, menjadi wahyu dan terang, sehingga perawakan Kristus di atas gereja makin nyata. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai suatu kerja sama antara pendengar dan pengkhotbah.

Akhirnya, semoga Allah dengan khusus membelaskasihani kita, agar kita dapat mengenal dengan jelas, bahwa pekerjaan Allah itu hanya dapat dikerjakan oleh Allah, kita hanyalah orang-orang yang mengisahkan perkara-perkara yang kita tampak melalui wahyu. Marilah kita di sini belajar bekerja sama dengan Allah, tidak menghalang-halangi Allah, tidak mengubah rupa yang telah ditunjukan-Nya di atas gunung. Bersandar terang kita dikuduskan sedemikian rupa sehingga murni, tidak ada campuran. Oh, kita perlu setiap saat menengadah, setiap saat bersandar, dan dengan takut dan gentar mengakui, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk. 17:10).