← Daftar isi Ulangan (4) · bab 1/30

PENDAHULUAN

Pembacaan Alkitab:

Ul. 1:1; 8:3; 30:14; 2Tim. 3:16a; Yoh. 1:1; Rm. 10:8-9; Mat. 4:4; Yoh. 6:63b, 57b

Dalam berita ini kita akan memberi kata pendahuluan untuk Pelajaran-Hayat Ulangan.

I. KESIMPULAN KITAB PENTATEUKH

Kitab Ulangan adalah kesimpulan kitab Pentateukh, lima kitab pertama dari Alkitab. Lima kitab ini ditulis oleh Musa. Kitab Ulangan adalah kitab yang terutama berisi perkataan yang jelas, sederhana. Ini berarti, secara umum, Kitab Ulangan bukan kitab lambang, tanda, dan bayang-bayang, juga tidak ada nubuat yang lebih dalam. Hampir semua pasal dalam kitab ini berisi perkataan yang jelas. Kita mungkin berpikir bahwa perkataan yang jelas lebih mudah dipahami dibandingkan lambang dan tanda. Sebenarnya, perkataan jelas dalam Alkitab lebih sulit dipahami dibandingkan gambar yang diperlihatkan dalam lambang dan tanda.

Apakah arti kata “Ulangan” di sini? Secara harfiah, Ulangan di sini berarti “hukum kedua” karena itu menandakan pembicaraan ulang, diutarakan kembali, dibicarakan lagi. Kitab Ulangan adalah pembicaraan ulang, bukan tentang perkataan biasa, tetapi tentang hukum ilahi. Hukum Taurat diberikan melalui Musa kali pertama ketika dia berusia delapan puluh tahun. Empat puluh tahun kemudian, setelah generasi pertama mati, kecuali Kaleb dan Yosua, hukum Taurat dibicarakan lagi kepada bani Israel. Pada waktu itu, Musa menghadapi mereka, generasi yang lebih muda, yang kebanyakan tidak hadir untuk mendengar penyampaian Sepuluh Perintah, ketetapan hukum, dan peraturan-peraturan. Karena itu, Allah memberi beban kepada Musa untuk mengutarakan hukum Taurat lagi, mengulanginya, menceritakan kembali. Pengulangan hukum Taurat ini sebenarnya sangat berarti dan bermakna.

Kita seharusnya tidak berpikir bahwa hanya Kitab Ulangan, kitab kelima dari Alkitab, yang merupakan satu pengulangan, pembicaraan kembali. Sesungguhnya, seluruh Alkitab adalah satu pengulangan. Karena itu, kita harus memperhatikan seluruh Alkitab yang berisi enam puluh enam kitab sebagai pengulangan. Penulisan Alkitab sudah lengkap sembilan belas abad yang lalu, tetapi ketika kita membaca Alkitab hari ini, kita mengalami pembicaraan kembali. Firman dalam Alkitab telah dikatakan, tetapi dibicarakan ulang kepada kita hari demi hari. Ini berarti setiap hari kita mengalami pengulangan. Sebagai contoh, Kitab Roma ditulis hampir dua puluh abad yang lalu, tetapi hari ini ketika kita membaca Kitab Roma, firman dalam Surat Kiriman ini dibicarakan kepada kita lagi. Ini berarti dalam pembacaan kita atas Kitab Roma kita memiliki “ulangan”.

Mengatakan bahwa kita memiliki pembicaraan kembali Alkitab tidak berarti kita bisa menambahkan sesuatu kepada Alkitab. Pernyataan Joseph Smith bahwa ia memiliki wahyu yang ditambahkan kepada apa yang ada dalam Alkitab, itu adalah ngawur dan bidah. Wahyu 22:18 dan 19 menunjukkan bahwa seluruh wahyu Allah telah lengkap dan tidak seorang pun boleh menambahkan sesuatu atau mengurangkan sesuatu darinya. Karena itu, kita seharusnya tidak berpikir bahwa kita dapat menerima wahyu yang baru selain dari apa yang dicatat dalam enam puluh enam kitab dari Alkitab. Apa yang dapat kita miliki hari ini adalah pengulangan, pembicaraan kembali firman dalam Kitab Suci. Firman sudah dikatakan, tetapi sekarang dapat dibicarakan kembali kepada kita; yaitu, dapat menjadi “ulangan” bagi kita.

Kitab Ulangan adalah kesimpulan Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan. Terpisah dari Kitab Ulangan, empat kitab itu tidak memiliki kesimpulan. Menurut Anda, apakah tulisan Musa dapat disimpulkan dengan Kitab Kejadian? Kitab Kejadian berakhir dengan seseorang dalam peti mati di Mesir. Tentu saja wahyu ilahi tidak dapat disimpulkan secara demikian. Untuk kesimpulan yang tepat, Kitab Ulangan diperlukan. Kitab Ulangan adalah kesimpulan yang almuhit dari empat kitab yang terdahulu, karena Kitab Ulangan adalah totalitas pemikiran kitab-kitab itu. Karena itu, jika kita mau memahami pemikiran Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, dan Bilangan, kita perlu datang ke Kitab Ulangan.

A. Kata Kesimpulan Hukum Taurat

Kitab Ulangan bukan saja kesimpulan dari Pentateukh, juga kata kesimpulan hukum Taurat.

B. Menganggap Hukum Taurat sebagai Firman Hidup Allah—Embusan Allah

Bagaimanakah sifat hukum Taurat? Hukum Taurat adalah embusan Allah. Saya tidak mengatakan hukum Taurat adalah nafas Allah, tetapi saya mengatakan hukum Taurat adalah embusan Allah. Ketika Allah memberi hukum Taurat, Dia mengembuskan hukum Taurat. Inilah alasan Paulus berkata, “Seluruh Kitab Suci adalah embusan Allah” (2Tim. 3:16a Tl.). Di sini Paulus tidak hanya mengatakan bahwa seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah, melainkan mengatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah embusan Allah. Karena itu, hukum Taurat adalah embusan Allah.

Dalam Ulangan 8:3, ketika Musa berbicara bagi Allah, mengatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari “segala yang diucapkan TUHAN.” Perhatian bahwa ayat ini tidak mengatakan “segala firman”, melainkan “segala”. Kata-kata yang ditulis dalam Pentateukh, yang disimpulkan oleh Kitab Ulangan, adalah hal-hal yang keluar dari mulut Allah. Hal-hal ini adalah embusan Allah. Ketika Musa ada bersama Allah di Gunung Sinai, banyak hal diembuskan oleh Allah. Misalnya, Sepuluh Perintah, adalah butir-butir hukum dasar. Namun demikian, bahkan Sepuluh Perintah adalah embusan Allah. Jika kita membaca perintah-perintah itu dengan membuka hati dan dengan roh yang mencari dan terlatih, kita akan merasakan bahwa perintah-perintah itu bukan sekadar peraturan, tetapi juga sesuatu yang hidup, sesuatu yang penuh hayat untuk menyuplai kita dan penuh terang untuk menerangi kita.

Para pemazmur yang sangat tinggi mengapresiasi hukum Taurat, memiliki jenis pengalaman ini dalam hubungannya dengan hukum Taurat. Maka penulis Mazmur 119 dapat mengatakan, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (ayat 103). Bagi para pemazmur, apa pun yang keluar dari mulut Allah bukan sekadar peraturan, tetapi sesuatu yang manis rasanya.

Karena seluruh Kitab Suci adalah embusan Allah, bahkan ayat seperti Kejadian 3:1 dan Wahyu 20:2 dan 3 dapat menyuplai, merawat, menguatkan, dan menerangi kita. Kejadian 3:1 mengatakan bahwa adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat, dan Wahyu 20:2 dan 3 mengatakan Iblis diikat dan dilemparkan ke dalam jurang maut. Ayat-ayat ini adalah embusan Allah, dan jika kita mendoabacakannya, kita akan dirawat olehnya. Dari sini, kita melihat bahwa kita dapat dirawat dan diterangi oleh setiap ayat dalam Alkitab, termasuk silsilah dalam Matius 1. Butir yang kita tekankan di sini adalah bahwa Kitab Ulangan, kata kesimpulan hukum Taurat, menganggap hukum Taurat sebagai firman hidup Allah, sebagai embusan Allah.

1. Firman Adalah Kristus sebagai Firman Allah untuk Manusia Terima sebagai Hayatnya

Firman adalah Kristus sebagai firman Allah untuk manusia terima sebagai hayatnya (Ul. 30:14; Yoh. 1:1; Rm. 10:8-9). Dalam Ulangan 30:11, Musa berkata bahwa perintah-perintah ini “tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.” Kata Ibrani yang diterjemahkan “sukar” dapat juga diterjemahkan “luar biasa” atau “khusus”. Dalam ayat 12 dan 13 Musa selanjutnya mengatakan, “Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?” Kemudian dalam ayat 14 Musa berkata, “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” Firman ini dikutip dan ditafsirkan oleh Paulus dalam Roma 10. Dalam ayat 6 dan 7 Paulus berkata, “Tetapi kebenaran berdasarkan iman berkata demikian, ‘Jangan katakan di dalam hatimu: Siapa yang akan naik ke surga?’, yaitu: Untuk membawa Kristus turun, atau: ‘Siapa yang akan turun ke jurang maut?’, yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.” Di sini dalam tafsirannya, Paulus menerapkan firman dalam Ulangan 30:11-13 kepada Kristus, dan dia menafsirkan laut sebagai jurang maut. Kemudian dalam ayat 8 Paulus meneruskan, “Tetapi apa katanya? Demikian, ‘Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan.” Dalam ayat 6 dan 7 Paulus membicarakan tentang Kristus, tetapi dalam ayat 8 Kristus menjadi firman. Obyek pembicaraan Paulus di sini adalah Kristus, dan akhirnya ia menunjukkan bahwa Kristus adalah firman.

Tulisan Paulus dalam Roma 10:6-8 selanjutnya menunjukkan bahwa segala firman yang dikatakan dalam Kitab Ulangan adalah Kristus, karena Paulus menerapkan embusan Allah kepada Kristus. Kristus adalah Firman yang keluar dari Allah. “Pada mulanya ada Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah . . . Dan Firman menjadi daging dan berkemah di antara kita” (Yoh. 1:1, 14 Tl.). Firman ini, yang ada pada mulanya, yang ada bersama Allah, yang adalah Allah, dan yang menjadi daging adalah Kristus. Sebagai Firman, Kristus sendiri adalah firman yang diulang dalam Kitab Ulangan.

Dalam penafsiran Paulus atas Ulangan 30, kita melihat bahwa firman adalah Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan dibangkitkan. Karena inkarnasi Kristus telah terjadi, maka tidak perlu seseorang naik ke surga untuk membawa Kristus turun, dan karena kebangkitan Kristus telah terjadi, maka tidak perlu seseorang turun ke jurang maut untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. Hari ini Kristus adalah Dia yang berinkarnasi, disalibkan, dan dibangkitkan, tetapi di manakah Dia? Menurut Roma 10:8, Kristus ada di dalam mulut kita dan di dalam hati kita.

Firman dalam Roma 10:8 adalah firman untuk orang yang belum percaya, untuk orang yang diundang untuk mendengarkan Injil. Percayakah Anda bahwa Kristus ada di dalam hati dan mulut orang yang belum percaya? Ini adalah apa yang Paulus katakan dalam kutipan dan tafsirannya atas Kitab Ulangan. Perkataan Paulus di sini adalah pengulangan, dan dalam pengulangan ini Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus yang hidup sebagai firman ada di dalam hati dan mulut orang yang hendak kita beritakan Injil. Setidak-tidaknya pada waktu kita memberitakan firman Kristus kepada orang yang belum percaya, Kristus ada di dalam hati dan mulut mereka.

Wahyu seluruh Alkitab terkandung dalam Kitab Ulangan. Ini berarti segala sesuatu dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ditemukan dalam Kitab Ulangan. Ini dibuktikan oleh kutipan Tuhan atas Kitab Ulangan dalam Matius 4:4 dan kutipan Paulus atas Kitab Ulangan dalam Roma 10. Kitab Ulangan dipenuhi dengan perkataan Musa kepada generasi kedua, generasi yang siap memasuki tanah permai dan memperolehnya. Khawatir kalau mereka mengulangi kegagalan nenek moyang mereka, Musa memberi perintah kepada mereka mengenai banyak hal, mengulangi hal-hal tertentu berkali-kali. Dia khususnya berbicara berulang-ulang mengenai hal-hal yang dapat menjaga bangsa itu dan melayakkan mereka memasuki tanah permai dan memperoleh, mewarisi, dan menikmati tanah ini. Musa seperti bapak tua yang menyampaikan keprihatinannya atas anak-anaknya. Inilah alasannya perkataan Musa dalam kitab ini berulang-ulang dan rinci. Jika kita mempelajari Kitab Ulangan dengan cermat, khususnya perkataan peringatan, kita akan melihat bahwa Musa berbicara secara rinci tentang berkat dan kutuk. Semua butir utama dari wahyu ilahi dibicarakan ulang dalam kitab ini.

Musa adalah figur, wakil, Bapa yang sejati atas orang Israel, Allah Bapa di surga, yang sangat memperhatikan umat-Nya. Apa pun yang keluar dari mulut Musa sebenarnya sesuatu yang keluar dari Bapa surgawi. Melalui Musa, Bapa yang sejati berbicara kepada bangsa itu. Untuk kita hari ini, seluruh Alkitab adalah firman Bapa yang disampaikan kepada kita.

2. Firman Adalah Kristus sebagai Makanan Manusia, Diambil Manusia sebagai Gizinya

Firman bukan saja Kristus sebagai firman Allah untuk diterima manusia sebagai hayatnya; firman juga adalah Kristus sebagai makanan bagi manusia untuk diambil manusia sebagai gizinya (Ul. 8:3; Mat. 4:4; Yoh. 6:63b, 57b). Kristus pertama-tama adalah hayat kita dan kemudian suplai hayat kita. Untuk menjadi hayat kita dan suplai hayat kita, Kristus adalah firman. Matius 4:4, kutipan dari Ulangan 8:3, mewahyukan bahwa Kristus sebagai firman adalah suplai hayat kita. Segala sesuatu yang keluar dari mulut Allah adalah Kristus. Karena berita ini membahas Kitab Ulangan, kita akan menekankan fakta bahwa firman dalam kitab ini adalah Kristus sebagai hayat kita dan suplai hayat kita. Mari kita datang ke kitab ini untuk menemukan Kristus sebagai hayat kita dan suplai hayat kita.

II. SKETSA UMUM

Sketsa umum Kitab Ulangan adalah: Kembali melatih generasi yang baru orang Israel setelah pengembaraan panjang mereka, untuk menyiapkan mereka memasuki tanah permai yang dijanjikan Allah dan mewarisinya sebagai miliknya. Kata “melatih” tidak dapat ditemukan dalam Kitab Ulangan, tetapi dalam fakta Musa kembali melatih bangsa itu. Pelatihan pertama telah diberikan empat puluh tahun yang lalu di Gunung Sinai, dan dalam Kitab Ulangan pelatihan ini diberikan lagi, saat ini kepada generasi baru, yang telah mengembara di padang gurun. Tujuan pelatihan ini adalah menyiapkan mereka memasuki tanah permai dan mewarisinya.

Selama empat puluh tahun di padang gurun, orang Israel dipimpin atau didukung oleh Allah. Musa berbicara mengenai hal ini dalam 1:31: “dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa TUHAN, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.” Walaupun pengembaraan mereka tidak menyenangkan Allah, Dia mendukung mereka setiap waktu sampai akhirnya Dia mendapatkan bangsa itu yang siap memasuki tanah permai, dan memilikinya, menikmatinya, dan membangun satu bait, rumah, untuk Allah di dalamnya.

Prinsipnya sama dengan kita hari ini. Dari tahun ke tahun, Allah memimpin kita. Allah memimpin kita bahkan ketika kehidupan kita setiap hari tidak menyenangkan Dia; Dia tidak mencampakkan kita. Dia memimpin bukan saja semua orang beriman, tetapi juga seluruh gereja. Gereja-gereja hari ini ada di atas bahu Tuhan. Dia memimpin gereja-gereja untuk tujuan merampungkan ekonomi-Nya. Allah tidak dapat dikalahkan; sasaran-Nya akan dicapai. Ketika Dia memimpin kita, Dia memerlukan kita mengalami pengulangan, pembicaraan ulangan sekali dan sekali lagi.

III. POKOK PIKIRAN

Pokok pikiran Kitab Ulangan: Kristus adalah Pembimbing dan Pemimpin umat Allah, supaya mereka bisa masuk ruang lingkup surgawi dan berbagian dalam kekayaan-Nya. Kita perlu melihat bahwa setiap kata dalam Kitab Ulangan adalah suplai hayat bagi kita. Orang Israel ditunjang oleh segala sesuatu yang keluar dari mulut Allah. Ini sebenarnya berarti mereka ditunjang oleh Kristus, karena, seperti telah kita tunjukkan, apa pun yang keluar dari mulut Allah adalah Kristus. Di satu pihak, Kristus adalah tanah permai; di pihak lain, Dia adalah makanan yang menunjang kita dalam perjalanan ke tanah permai. Dia adalah Yang dapat memimpin kita memasuki tanah itu. Allah tidak pernah bermaksud menyuruh kita melakukannya dalam diri kita sendiri. Tuhan sedang memimpin kita ke dalam tanah permai oleh Kristus, dan Dia menunjang kita juga oleh Kristus, yang adalah segala sesuatu yang keluar dari mulut Allah. Ini berarti Kristus adalah penunjang kita untuk masuk ke dalam diri-Nya sendiri. Ini adalah wahyu dalam Kitab Ulangan, kitab yang membicarakan Kristus sebagai tanah permai dan sebagai makanan penunjang.

Sebagai Pembimbing dan Pemimpin umat Allah, Kristus membuat mereka mampu memasuki ruang lingkup surgawi dan berbagian dalam kekayaan-Nya. Ruang lingkup surgawi ini adalah Kristus sendiri, dan kekayaan tanah permai adalah kekayaan Kristus sebagai tanah permai yang digambarkan dalam Ulangan 8:7-9: sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; gandum dan jelainya, pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; besi dan tembaga. Lembah-lembah dan gunung-gunung melambangkan lingkungan yang berbeda agar kita dapat mengalami Kristus sebagai Roh yang mengalir. Tanah permai adalah negeri yang mengalirkan susu dan madu, keduanya adalah hasil kombinasi hayat hewan dan hayat tumbuhan. Besi dan tembaga adalah bahan untuk membuat senjata yang digunakan untuk berperang melawan musuh. (Untuk rincian kekayaan Kristus sebagai tanah permai, silakan baca “Kristus yang Almuhit”, buku yang tersusun dari berita-berita selama sidang istimewa pertama di Amerika Serikat, pada tahun 1962.) Kristus adalah segala sesuatu, air, makanan, senjata, dan tanah.

IV. KATA-KATA KUNCI

Kata-kata kunci Kitab Ulangan adalah mengasihi Allah, menaati perintah-perintah-Nya (perkataan-Nya), dan menerima berkat-Nya. Perkara-perkara ini muncul berulang-ulang di seluruh Kitab Ulangan. Musa memberi tahu kita berkali-kali bahwa jika kita mengasihi Tuhan Allah kita dan menaati perintah-perintah-Nya, kita akan menerima berkat-Nya.

V. BAGIAN-BAGIAN

Kitab Ulangan memiliki delapan bagian. Bagian pertama adalah mengulang hal-hal yang lampau (1:1—4:43). Seorang yang bertobat dan yang ingin memiliki permulaan baru akan menerima banyak manfaat dari mengulang hal-hal yang lampau. Bagian kedua adalah pengulangan hukum Taurat (4:44—26:19). Ini adalah bagian panjang yang menduduki sebagian besar kitab ini. Bagian-bagian lain adalah suatu peringatan (27:1—28:68), penetapan perjanjian (29:1—30:20), nasihat dan perintah terakhir (31:1-13, 24-29), nyanyian Musa (31:14-23, 30; 32:1-47), berkat Musa (33:1-29), dan kematian Musa, dan penggantinya (32:48-52; 34:1-12).