MENGHARAPKAN UNTUK TERANGKAT
Pembacaan Alkitab: Kid. 8:1-14
Kidung Agung pasal 8 mewahyukan harapan pengasih untuk terangkat. Sulamit telah dewasa dalam hayat untuk tingkat tertentu dia menjadi Salomo dalam setiap aspek dan dari setiap pandangan, kecuali untuk fakta bahwa dia masih memiliki daging.
I. MENGELUH KARENA DAGINGNYA
“O, seandainya engkau saudaraku laki-laki, / Yang menyusu pada buah dada ibuku, / Akan kucium engkau bila kujumpai di luar, / Karena tak ada orang yang akan menghina aku” (8:1). Karena dia menyadari bahwa semua masalahnya berasal dari dagingnya, dia mengharapkan agar Tuhan dapat menjadi saudaranya di dalam daging yang dilahirkan dari kasih karunia, sama seperti dia, dan agar dia dapat mencium-Nya sebagai orang yang sama seperti dia di dalam daging dan tidak akan ada orang yang menghina dia, ini menandakan keluh kesahnya karena daging. Kekurangan ini, masalah ini, dapat dibereskan hanya oleh terangkat.
II. MENGHARAPKAN UNTUK DISELAMATKAN DARI KELUH KESAHNYA KARENA DAGING
Di dalam ayat 2 sampai 4 kita melihat bahwa dia mengharapkan untuk diselamatkan dari keluh kesahnya karena daging (Rm. 8:19-25) Ini menandakan bahwa dia mengharapkan untuk diangkat melalui penebusan Allah terhadap tubuhnya (Rm. 8:23b; Ef. 4:30b).
A. Dia Berharap agar Dia dan Kekasihnya dapat Berjumpa di Yerusalem Surgawi
“Akan kubimbing engkau dan kubawa / Ke rumah ibuku, supaya engkau mengejar aku; / Akan kuberi kepadamu anggur / Yang harum untuk diminum, air buah delimaku. / Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, / Tangan kanannya memeluk aku” (Kid. 8:2-3). Di sini dia berharap agar dia dan Kekasihnya dapat berjumpa di Yerusalem surgawi, di mana dia disempurnakan oleh kasih karunia, sehingga dia dapat memberikan suatu jalan bagi Kekasihnya untuk menikmati kekayaan pengalamannya akan hayat ilahi bagi kepuasan-Nya di dalam pelukan-Nya, seperti yang Dia lakukan terhadapnya sebelum pengangkatan (2:6).
B. Sang Kekasihnya Menyuruh Kaum Beriman
yang Turut Campur untuk tidak Membangunkan Dia dari Harapan Keterangkatannya yang Tepat
“Kusumpahi kamu, putri-putri Yerusalem, / Mengapa kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta / Sebelum diinginnya” (ay. 4). Sang Kekasihnya menyuruh kaum beriman yang turut campur untuk tidak membangunkan dia dari harapan keterangkatannya yang tepat sampai dia bangun di hadapan wajah-Nya, yaitu, sampai dia bertemu muka dengan muka dengan Dia dalam keterangkatan.
III. SEBELUM KETERANGKATAN
Ayat 5 sampai 14 adalah berhubungan dengan perkara-perkara sebelum keterangkatan.
A. Roh itu Bertanya Melalui Orang Ketiga
“Siapakah dia yang muncul dari padang belantara, / Yang bersandar kekasihnya?” (ay. 5a). Roh itu bertanya melalui orang ketiga, Siapakah pengasih Kristus yang pernah muncul dengan sendirinya dari padang belantara rohani (3:6) dan yang sekarang muncul dengan Kekasihnya dari padang belantara secara daging.
B. Kristus Menjawab bahwa Dia adalah Orang Berdosa yang Telah Bertobat dan Telah Diselamatkan oleh Kasih Karunia
“Dibawah pohon apel kubangunkan engkau, / Di sanalah ibumu telah mengandung engkau, / Di sanalah dia mengandung dan melahirkan engkau” (8:5b). Di sini Kristus menjawab bahwa dia adalah orang berdosa yang telah bertobat dan telah diselamatkan oleh kasih karunia melalui kelahiran kembali di dalam Dia sebagai Penyedia hayat (2:3).
C. Sang Pengasih Mengakui bahwa Dia tidak dapat Berdiri Sendiri dan Hidup di dalam Kekasihnya Sampai Keterangkatannya
“Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, / Seperti meterai pada lenganmu, / Karena cintamu kuat seperti maut, / Kegairahan gigih seperti dunia orang mati, / Seperti nyala api Yehovah! / Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, / Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. / Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, / Namun ia pasti akan dihina” (8:6-7). Di sini kita melihat bahwa ketika sang pengasih mendengar apa yang dikatakan Kekasihnya di dalam ayat 5, dia mengakui bahwa dia tidak dapat berdiri sendiri dan dia hidup di dalam Kekasihnya sampai keterangkatannya. Dia meminta Kekasihnya agar menjaga dia dengan kasih-Nya dan kekuatan-Nya, karena kasih-Nya itu sekuat maut yang tak tergoyahkan dan kecemburuan-Nya itu sekejam alam maut yang tak tertaklukkan, yang adalah seperti Yehovah yang cemburu (Kel. 20:5; 2 Kor. 11:2), yang adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12:29) yang membakar habis semua hal negatif yang dapat dibakar; dan kasih-Nya tidak dapat dipadamkan oleh ujian ataupun ditenggelamkan oleh penganiayaan ataupun digantikan oleh segala kekayaan, dan bila ada orang yang ingin menggantinya, dia akan dihinakan.
D. Memperhatikan Para Pengasih Kristus
yang Masih Muda
“Kami mempunyai seorang adik perempuan, / Yang belum mempunyai buah dada. / Apakah yang akan kami perbuat dengan adik kami / Pada hari kami dipinang?” (Kid. 8:8). Karena dia telah matang dalam hayat dalam mengejar Kristus dan dalam perampungan akhir pengalamannya akan Kristus, sebelum keterangkatannya, dia dengan Kristus memperhatikan para pengasih Kristus yang masih muda, berusaha untuk menyempurnakan mereka agar matang dalam hayat untuk pembangunan Tubuh Kristus dan agar mengasihi Kristus hingga mereka bertunangan dengan Dia di dalam kasih untuk penyusunan mempelai Kristus (ay. 8; 2 Kor. 11:2).
E. Dia Bersama Kekasihnya Menyempurnakan Orang yang adalah Tembok dan Orang
yang adalah Pintu
“Bila ia tembok, / Akan kami dirikan atap perak di atasnya; / Bila ia pintu, / Akan kami palangi dia dengan palang kayu aras” (Kid. 8:9). Bila seseorang adalah tembok untuk pembatasan pengudusan, dia dengan Kekasihnya akan menyempurnakannya dengan membangun menara peperangan di atasnya berdasarkan penebusan Kristus (Rm. 3:24); dan bila seseorang adalah pintu bagi orang-orang untuk masuk ke dalam Kristus, dia dan Kekasihnya akan menyempurnakanya dengan membangun palang di sekitarnya dengan keinsanian Kristus yang surgawi dan yang telah dimuliakan (Mat. 26:64; Kis. 3:13) dan hayat insani-Nya yang surgawi (Flp. 2:7-8).
F. Bersaksi bahwa Dia adalah Tembok Pemisah dengan Dua Menara dari Iman dan Kasih
“Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara. / Dalam matanya ketika itu aku bagaikan orang yang telah mendapat kebahagian” (Kid. 8:10). Di sini dia bersaksi bahwa dia adalah tembok pemisah dengan dua menara dari iman dan kasihnya (1 Tim. 1:14), yang telah dikembangkan, sehingga dia di mata Kekasihnya adalah sebagai persona yang telah memperoleh damai sejahtera berdasarkan pengudusan.
G. Di dalam Pekerjaan Kristus Dia adalah Tuan dari Semua Pekerjaan, dan Sang Pengasih Dia Berpartisipasi di dalam Satu Bagian Pekerjaan
“Salomo mempunyai kebun anggur di Baal-hamon. / Diserahkan kebun anggur itu kepada para penjaga, / Masing-masing memberikan seribu keping perak untuk hasilnya. / Kebun anggurku, yang punyaku sendiri, ada di hadapanku; / Bagimulah seribu keping itu, raja Salomo, / Dan dua ratus bagi orang-orang yang menjaga hasilnya” (Kid. 8:11-12). Di dalam pekerjaan Kristus, Dia adalah Tuan dari semua pekerjaan (Baal-hamon dan kebun-kebun anggur). Sang pengasih Dia berpartisipasi di dalam satu bagian pekerjaan (satu kebun anggur) dan memberi-Nya apa yang Dia tuntut (seribu syikal), dan dia sebagai orang yang bergabung dengan Kekasihnya memberikan kepada dirinya sendiri sebagai penjaga buah (bukan penjaga kebun anggur) dua ratus syikal sebagai pahala. ini menandakan bahwa Kristus sebagai Kekasih kita adalah Tuan dari semua, memiliki segala sesuatu (Kis. 10:36), dan kita sebagai pengasih-Nya berbagian di dalam semua milik-Nya (1 Kor. 3:21-22) dengan gratis di dalam kasih karunia Kristus (Rm. 3:24) yang adalah hasil dari kasih Allah (2 Kor. 13:13). Namun, kita sebagai para pengasih-Nya masih harus memberikan kepada-Nya sebagai Kekasih kita apa yang harus kita berikan, bukan sebagai suatu kewajiban, melainkan sebagai suatu perkara kasih (cf. Gal. 5:13). Kristus sebagai Kekasih kita yang mengikatkan diri-Nya kepada kita menjadi satu, masih ingin memberi kita, sebagai para pengasih-Nya yang mengikatkan diri kepada-Nya menjadi satu, suatu pahala kebenaran (2 Tim. 4:8). Ini menunjukkan bahwa Kristus sebagai Kekasih kita memberi kita pahala bagi sisa jerih payah kita sebagai suatu pendorong bagi kesetiaan kita di dalam jerih payah kita bagi Dia dalam kasih; jadi, (cf. Mat. 25:20-23); ini adalah pahala kebenaran.
Salomo sebagai tuan agung, memiliki banyak kebun anggur, menyewakan kebun-kebun anggur untuk mendapatkan hasil. Penjaga-penjaga kebun anggur akan diupah Oleh Salomo seribu syikal. Penjaga-penjaga kebun anggur ini membantu untuk menjaga buah. Penjaga-penjaga kebun anggur ini telah diupah dua ratus bagi yang menjaga hasilnya. Kita juga telah menerima satu bagian dalam pekerjaan Tuhan. Menurut ketentuan Tuhan, kita seharusnya diupah oleh Dia seribu syikal, yaitu upah dari Dia yang Dia tentukan. Karena kita tidak mendapat bantuan, kita sebagai penjaga kebun anggur mampu menjaga hasil pelayanan kita. Malahan memberikan dua ratus syikal kepada orang lain, kita memberi dua ratus syikal ini untuk kita sendiri. Ini sama seperti Tuhan memberikan kepada kita dua ratus syikal sebagai satu pahala.
Hari ini, kita bekerja dengan Tuhan, dan Dia menentukan bahwa kita diupah oleh Dia sesuatu. Bila kita setia, kita diupah dengan apa yang Tuhan janjikan. Namun kita masih memiliki sisa, yang menjadi pahala kita.
Untuk menggenapkan ketentuan Tuhan dalam kita bekerja dengan Dia, kita harus memiliki beberapa sisa. Dengan sisa ini sebagai dasar, Tuhan akan memberi pahala kepada kita ketika Dia datang kembali. Menurut Matius 25 Tuhan menentukan bukan hanya apa yang Dia telah sampaikan kepada kita tetapi apa yang Dia telah berikan kepada kita dengan perhatian. (ay. 26-27). Perhatuan ini adalah sisa. Dalam perumpamaan ini Tuhan berkata kepada orang yang setia, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engku setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (ay. 21, 23). Inilah kenikmatan kerajaan millenium sebagai pahala dari Tuhan. Namun, dalam perumpamaan ini hamba yang malas, yang tidak memiliki hati atau sisa akan didisiplinkan dan dihakimi (ay. 28-30).
Kidung Agung 8:11-12 memperlihatkan kepada kita bahwa kita bekerja dengan Tuhan harus melebihi apa yang Dia tentukan. Kemudian kita akan memiliki satu sisa, dan ini akan menjadi pahala yang mana akan Dia berikan kepada kita secara kebenaran. Dalam 2 Timotius 4:7-8 Paulus berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik; aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Di sini kita melihat bahwa pahala bukan menurut kasih karunia Tuhan tetapi menurut kebenaran-Nya.
H. Sang Pengasih Kekasihnya Memohon agar Dia Membiarkan Dia Mendengarkan Suara-Nya
Kidung Agung 8:13 mengatakan, “Hai, penghuni kebun, / Teman-teman memperhatikan suaramu, / Perdengarkanlah itu kepadamu.” Sang pengasih Kekasihnya memohon agar Dia yang tinggal di dalam kaum beriman sebagai kebun-kebun-Nya membiarkan dia mendengarkan suara-Nya seperti teman-temannya mendengarkan suara-Nya. Ini menandakan bahwa di dalam pekerjaan yang kita, sebagai para pengasih Kristus yang mengekspresikan Dia sebagai penghidupan kita yang di luar, lakukan bagi Dia, sebagai Kekasih kita yang menghuni kita sebagai hayat kita yang di dalam, kita harus bersekutu dengan Dia di dalam pembicaraan-Nya. Ketika kita bekerja dengan Dia, kita harus senantiasa bersekutu dengan Dia, senantiasa mendengarkan Dia.
I. Sang Pengasih Kekasihnya Berdoa Agar Dia
Segera Datang Kembali di dalam Kuat Kuasa Kebangkitan-Nya untuk Mendirikan
Kerajaan-Nya yang Manis dan Indah
“Cepat, kekasihku, / Berlakulah seperti kijang, atau seperti anak rusa / Di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah” (ay. 14). Sang pengasih Kekasihnya berdoa agar Dia segera datang kembali di dalam kuat kuasa kebangkitan-Nya untuk mendirikan Kerajaan-Nya yang manis dan indah yang akan memenuhi seluruh bumi (Why. 11:15; Dan. 2:35). Di sini kita harus mencatat bahwa doa sang pengasih Kekasihnya ini adalah perkataan kesimpulan dari kitab puisi ini, menggambarkan persatuan dan hubungan yang erat antara Kristus sebagai Mempelai Laki-laki dan pengasih-Nya sebagai mempelai perempuan di dalam kasih mempelai mereka, seperti doa Yohanes, seorang pengasih Kristus, adalah perkataan kesimpulan Kitab suci, yang mewahyukan ekonomi kekal Allah mengenai Kristus dan gereja di dalam kasih ilahi-Nya (Why. 22:20).
Kesimpulan
Puisi, sebagai suatu gambar, di dalam kitab puisi ini, sebagai kisah cinta antara seorang raja dengan seorang gadis desa, adalah suatu gambaran yang mengagumkan dan gamblang, sebagai penggenapan, dari kasih mempelai antara Kristus sebagai Mempelai Laki-laki dengan pengasih-Nya sebagai mempelai perempuan-Nya di dalam kenikmatan mereka dalam perbauran atribut-atribut ilahi-Nya dengan kebajikan-kebajikan insani para kekasih-Nya. Persesuaian kemajuan dengan tahap-tahapnya pada kedua sisi puisi ini beserta dengan gambarannya adalah wahyu yang mendasar dari Firman Kudus dari Allah yang serba bisa (omnipotent), serba tahu (omniscient), dan serba hadir (omnipresent). Kemajuan ini dimulai dengan tahap pertama di mana para pengasih Kristus tertarik untuk mengejar Dia bagi kepuasan, berlanjut melalui tahap-tahap berikut ini: (1) mereka dipanggil untuk dilepaskan dari ego melalui keesaan dengan salib, (2) mereka dipanggil untuk hidup di dalam kenaikan sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan, (3) mereka dipanggil dengan lebih tegas untuk hidup di dalam tirai melalui salib setelah kebangkitan, (4) mereka berbagian dalam pekerjaan Tuhan, dan berakhir dengan tahap akhir pengharapan mereka untuk diangkat. Semoga kemajuan yang demikian dengan tahap-tahapnya dapat menjadi petunjuk jalan bagi kita di dalam jalur perlombaan pengejaran kita akan Kristus bagi kepuasan Dia dengan kita!
BERITASEPULUH
EMPAT TAHAP PENGALAMAN ROHANI
DI DALAM KIDUNG AGUNG
Pembacaan Alkitab: Kid. 1:2-4a; 2:14; 4:8; 6:4
Walaupun kidung Agung ini kitab yang pendek, tapi berisi banyak gambaran yang besar dan penuh dengan poin-poin penting. Dalam membaca kitab ini mudah bagi kita untuk kehilangan cara. Namun, melalui tulisan-tulisan yang sampai ke hadapan kita, khususnya melalui pelajaran Saudara Nee akan kitab ini, Kidung Agung telah terbuka bagi kita. Saya sangat berterima kasih melalui Saudara Nee kita dapat melihat Kidung Agung adalah satu kisah-hayat rohani dari pengalaman orang Kristen, dilambangkan dengan satu roman. Di dalam Kidung Agung pengalaman ini memiliki empat tahap.
TAHAP PERTAMA—TERPIKAT OLEH KRISTUS DAN TERTARIK OLEH-NYA UNTUK MENGEJAR DIA BAGI KEPUASAN YANG PENUH
Dalam tahap pertama kita terpikat oleh Kristus dan tertarik oleh-Nya untuk mengejar Dia bagi kepuasan yang penuh (1:2—2:7). Tahap ini termasuk banyak hal: rindu dicium oleh Kristus; persekutuan di belakang tabir; masuk ke dalam kehidupan gereja dengan mengikuti jejak-jejak kaki kawanan domba; ditransformasi oleh Roh pembuat ulang; dan berbagian dalam perhentian dan kepuasan Kristus.
Dalam tahap ini seorang yang berdosa diselamatkan oleh kasih karunia adalah dikendalikan, terpikat oleh kasih Kristus, dan terpesona oleh apa adanya Dia. Kidung Agung 1:2 berkata tentang Kristus, “Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur.” Tidak ada di seluruh alam semesta yang dapat dibandingkan dengan Dia. Ayat 3 selanjutnya membicarakan “minyak urapan” Kristus dan berkata bahwa “nama-Nya bagaikan minyak yang tercurah.” Minyak ini, yang adalah Kristus sendiri sebagai Roh itu, adalah satu campuran dari ilahi, insani, kematian dan kebangkitan Kristus, kasiat kematian-Nya, dan kuat kuasa kebangkitan-Nya. Nama di sini melambangkan persona Kristus, diri-Nya, dan Kristus adalah Roh majemuk. “Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat” (1 Kor. 15:45b). Ini menandakan bahwa nama Kristus sebagai persona-Nya adalah minyak majemuk.
TAHAP KEDUA—DIPANGGIL UNTUK DILEPASKAN
DARI EGONYA MELALUI PERSATUANNYA
DENGAN SALIB
Tahap kedua adalah dipanggil untuk dipisahkan dari egonya melalui persatuanya dengan salib (Kid. 2:8¾3:5). Secara singkat, tahap kedua adalah tahap mengalami salib. Menyinggung tahap ini, kita hanya cukup dengan mengingat satu kata—salib. Kidung Agung 2:14 mengatakan, “Merpatiku, di celah-celah batu karang, / Dipersembunyian lereng-lereng gunung, / Perlihatkanlah suaramu; / Sebab suaramu merdu, dan wajahmu elok.” “Celah-celah batu karang” dan “Persembuyian lereng-lereng gunung” adalah gambaran salib. Kristus ingin melihat keelokan wajah pengasih-Nya dan mendengar suaranya yang merdu dalam persatuan, dan kesatuannya dengan salib. Salib adalah sentral yang ditekankan dalam bagian pelepasan dari ego ini.
Ketika kita mengejar Kristus dan menjadi puas dengan perhentian dan kenikmatan di dalam Kristus, kita mungkin menjadi sangat sibuk dan memperhatikan tentang ego dengan demikian jatuh ke dalam introspeksi. Maka, kita perlu mengalami penyangkalan ego dan peremukan ego melalui menjadi satu dengan salib. Kita perlu tinggal di celah-celah batu karang dan tinggal tersembunyi di persembunyian lereng-lereng gunung. Ini berarti bahwa kita harus setiap hari tinggal pada salib. Kita harus dapat berkata bersama Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Gal. 2:19b). Kita—“Aku,” ego, manusia alamiah, manusia lama —telah disalibkan, dan sekarang harus tinggal pada salib. Ini terjadi di celah-celah batu karang, di persembunyian lereng-lereng gunung. Bagaimana kita dapat mencapai celah-celah dan lereng-lereng, yang demikian terjal dan tempat yang tinggi di gunung-gunung? Bagaimana kita dapat tinggal di sana? Kita dapat pergi ke salib dan tinggal di sana hanya oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus (Flp. 3:10).
TAHAP KETIGA—DIPANGGIL OLEH KRISTUS UNTUK HIDUP DI DALAM KENAIKAN SEBAGAI CIPTAAN BARU ALLAH DALAM KEBANGKITAN KRISTUS
Tahap ketiga adalah dipanggil oleh Kristus untuk hidup di dalam kenaikan sebagai ciptaan baru Allah dalam kebangkitan Kristus (3:6¾5:1). Kematian Kristus diikuti oleh kebangkitan Kristus, dan dalam kebangkitan-Nya kita adalah satu ciptaan baru. Ciptaan baru dihasilkan dari kebangkitan Kristus. Setiap orang yang di dalam Kristus dan di dalam kebangkitan adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Perkara-perkara kebangkitan dan satu ciptaan baru sangat berhubungan dengan kenaikan Kristus. Akhirnya, kebangkitan dan kenaikan Kristus adalah satu. Bila kita berada di dalam kebangkitan, kita sesungguhnya hidup di dalam kenaikan.
Bukti bahwa tahap ketiga mengenai pengalaman rohani di dalam Kidung Agung adalah dipanggil untuk hidup di dalam kenaikan ditemukan di 4:8: “Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, pengantinku, / Lihatlah dari puncak Amana, / Dari Senir dan Hermon, / Dari liang-liang singa, / Dari pegunungan macan tutul!”. Seperti telah kita ungkapkan, Amana berarti “kebenaran,” Senir bearti “senjata yang lunak” dan Hermon berarti “pengrusakan.” Ketika kita hidup di dalam kenaikan, kita memiliki kebenaran (dilambangkan oleh Amana) dan kita memiliki kemenangan (dilambangkan oleh Hermon) atas musuh. Ketika kita hidup di dalam kenaikan, kita menyadari bahwa perang telah berlalu, bahkan kemenangan telah diraih, dan musuh telah dihancurkan. Liang-liang singa dan pegunungan macan tutul melambangkan Satan dan pasukan jahatnya. Kuat kuasa jahat ini berada di udara, tetapi ketika kita hidup di dalam kenaikan, kita berada di surga, berperang melawan mereka. Lebih jauh lagi, ketika hidup di dalam kenaikan, secara spontan kita adalah ciptaan baru Allah dalam kebangkitan Kristus. Sungguh menakjubkan!
TAHAP KEEMPAT—DIPANGGIL OLEH KRISTUS DENGAN LEBIH TEGAS UNTUK HIDUP DI BELAKANG TABIR MELALUI SALIB-NYA SETELAH PENGALAMAN SANG PENGASIH AKAN KEBANGKITAN-NYA
Kita mungkin berpikir bahwa tahap ketiga adalah tahap tertinggi, tetapi menurut Kidung Agung masih ada tahap lainnya. Tahap keempat yaitu dipanggil lebih tegas untuk hidup di belakang tabir melalui salib-Nya setelah pengalaman kebangkitan-Nya (5:2¾6:13). Dalam kenaikan, di surga, ada tempat kudus Allah, dan ada satu tabir, yang melambangkan daging (Ibr. 10:20), membagi tempat kudus surgawi ini ke dalam dua bagian. Seharusnya kita tidak berpikir bahwa sejak kita sampai di tempat kudus surgawi, kita siap mencapai poin pengalaman rohani tertinggi. Kita dapat sampai ke poin tertinggi, tetapi kita tidak dapat di belakang tabir tempat kudus surgawi. Di belakang tabir ini adalah Ruang Mahakudus—diri Allah sendiri. Tabir memisahkan Ruang Mahakudus dengan Ruang Kudus telah terbelah menjadi dua ketika Kristus tersalib (Mat. 27:51), tetapi tabir tidak diambil dari sana. Tabir masih ada di sana. Setelah kita mencapai kenaikan kita akhirnya menyadari bahwa tempat kudus di surga ada tempat di belakang tabir dan kita perlu masuk ke dalam tabir dan hidup di dalam tabir, yaitu, hidup di dalam diri Allah.
Kita telah melihat bahwa tabir melambangkan daging, yang adalah lebih buruk dibanding ego. Setelah tahap pertama, obyek pemberesan kita adalah ego. Selanjutnya, dalam tahap keempat, obyek pemberesan kita adalah daging. Ini memerlukan pengalaman salib lebih lanjut, perlu bagi kita masuk ke dalam tabir melalui salib. Ini berarti bahwa setelah kita mengalami kebangkitan dan kenaikan, kita masih perlu salib agar hidup di dalam Ruang Mahakudus di belakang tabir. Kita mengalami salib dalam tahap kedua, tetapi kita perlu lebih dalam mengalami salib dalam tahap keempat.
Kidung Agung 6:4 mengatakan, “Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, / Juita seperti Yerusalem.” Di sini pengasih kristus disamakan dengan Tirza dan Yerusalem, menandakan bahwa dia telah menjadi tempat tinggal Allah. Ketika kita pertama kali tertarik oleh Tuhan, Dia menyamakan dia dengan kuda betina, seekor kuda di antara kereta-kereta Firaun. Kemudian dia disamakan dengan bunga mawar di Sharon, bunga bakung di lembah dan di antara duri-duri, seekor merpati, tiang asap, tempat petiduran, tandu, kebun, dan sumber air dengan mata air. Sekarang dia seperti tempat tinggal surgawi Allah dan Yerusalem surgawi. Kata Yerusalem dalam ayat 4 adalah satu tanda Yerusalem Baru, menandakan bahwa seluruh pengasih Kristus akhirnya akan menjadi Yerusalem Baru¾perampungan akhir Alkitab. Di Ruang Mahakudus Allah kita memiliki pengalaman rohani tertinggi.
Kita telah melihat empat tahap pengalaman rohani dalam kitab ini: tahap mengejar, tahap salib, tahap kenaikan, dan tahap hidup di Ruang Mahakudus. Bila kita memiliki pandangan yang jelas mengenai empat tahap ini, kita akan memiliki pemahaman yang tepat atas Kidung Agung. Pemahaman yang sedemikian adalah sangat berharga.
?
Pelajaran Hayat
KITAB YESAYA
Berita :
01 02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 32 33 34 35 36 37 38
39 40 41 42 43 44 45
46 47 48 49 50 51 52
53 54