← Daftar isi Kidung Agung · bab 7/9

DIPANGGIL DENGAN LEBIH TEGAS UNTUK HIDUP DI BELAKANG TABIR MELALUI SALIB SETELAH KEBANGKITAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kid. 6:4-13

Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut perkara dipanggil lebih tegas untuk hidup di belakang tabir melalui salib setelah kebangkitan.

II. KEHIDUPAN DI BELAKANG TABIR

Kidung Agung 6:4-13 membicarakan kehidupan di belakang tabir. Makna mendasar dari bagian ini adalah bahwa pengasih mengejar Kristus memerlukan pengalaman kenaikan-Nya melalui hidup di dalam Ruang Mahakudus surgawi di belakang tabir melalui salib setelah dia mengalami kebangkitan-Nya.

A. Pujian Sang Kekasih

Ayat 4 sampai 10 adalah pujian Sang kekasih.

1. Kekasihnya, Memustikakan dia Sebagai Kasih-Nya, Memuji Dia karena Dia Secantik Tempat Kudus Surgawi dan Seelok Yerusalem Surgawi

“Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, / Juita seperti Yerusalem, / Dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya” (ay. 4). Kekasihnya, memustikakan dia sebagai kasih-Nya, memuji dia karena dia secantik tempat kudus surgawi (Tirza, istana Salomo—1 Raj. 14:17) dan seelok Yerusalem surgawi (Gal. 4:26; Ibr. 12:22), menandakan bahwa dia tinggal di Ruang Mahakudus di belakang tabir, mengalami kenaikan Kristus melalui salib setelah pengalamannya akan kebangkitan-Nya.

Di surga ada tempat kudus Allah, yang mana dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama disebut Ruang Kudus, dan yang kedua adalah Ruang Mahakudus. Di antaranya, ada satu sekat, satu pemisah, satu tabir. Ibrani 10:20 memberitahu kita bahwa tabir di tempat kudus melambangkan daging. di tempat kudus surgawi ada daging; ini adalah menurut ekonomi Allah.

Satu prinsip dasar dalam ekonomi Allah yaitu bahwa Allah bukan Allah dalam waktu dan ruang. Pada-Nya tidak ada elemen waktu, Dia adalah Allah kekal. Kita memperhatikan untuk lokasi, berpikir bahwa tidak ada daging di dalam surga, tetapi Allah memperhatikan fakta. Kelihatannya kita berada di surga, tetapi kita masih memiliki daging, dan kita masih terus menerus memiliki daging sampai Allah menyelesaikan dan merampungkan ekonomi-Nya secara mutlak.

Dalam pengalaman rohani kita, kita terpikat oleh kasih Tuhan, kemudian kita tertarik oleh Tuhan sendiri dalam kemanisan-Nya. Kita mengikuti Dia dengan mengikuti jejak-jejak semua orang kudus yang berada di dalam gereja selama berabad-abad. Kemudian kita mengikuti Dia di dalam roh kita. Di dalam persekutuan ini kita diberitahu bagaimana caranya untuk masuk ke dalam kehidupan gereja, dan di dalam kehidupan gereja kita ditransformasi. Kita memperoleh kecantikan melalui transformasi ini, dan kita juga memperoleh perhentian, penudungan, dan kepuasan. Semua makna rohani ini cocok dengan tulisan Salomo.

Tahap selanjutnya adalah hidup di alam surgawi sebagai ciptaan baru Allah dalam kebangkitan. Setelah mengalami tahap ini kita perlu pergi untuk mengalami perobekan tabir. Tabir dalam bait Allah terbelah oleh kematian Kristus (Mat.27:51). Namun demikian, tabir daging tidak dibuang. Tetapi, tabir itu masih ada bagi Allah untuk digunakan dalam menyempurnakan orang-orang kudus-Nya yang menuntut. Sebagai contoh, Paulus adalah sungguh-sungguh seorang saudara yang matang, dia telah melalui hidupnya di surga sebagai ciptaan baru Allah dalam kebangkitan. Tetapi menurut 2 Korintus 12 mengizinkan satu “duri di dalam daging” menjadi karunianya (ay. 7). Di sini kita melihat bahwa seseorang semakin matang dan rohani masih dapat disulitkan oleh daging. Ini menandakan bukan perkara betapa banyak elemen Allah yang kita miliki di dalam roh kelahiran kembali, tetapi berapa banyak kita telah dikuduskan, diperbarui, ditransformasi, dan diserupakan dengan gambar Putra Sulung Allah, selama kita masih hidup di bumi ini kita masih dalam daging.

Mengingat roh kelahiran kembali kita adalah seketika itu juga, transformasi jiwa kita adalah terus maju. Penebusan tubuh kita juga terus maju. Paulus mengatakan bahwa manusia bathiniah kita diperbarui tetapi manusia jasmaniah kita, tubuh kita, dihabisi dari sehari ke sehari. Ini adalah pengaturan Allah menurut ekonomi-Nya. Allah tidak merencanakan kita untuk mencapai suatu standar kerohanian yang sedemikian tinggi sehingga tidak ada daging lagi yang dinyatakan. Ekonomi Allah adalah untuk menjaga kita hidup di dalam kenaikan sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan, bukan perkara bagaimana kita menjadi rohani. Kita mungkin berpikir bahwa dalam kebangkitan seharusnya tidak ada lagi daging, tetapi Allah masih memerlukan daging supaya menggarap sesuatu di dalam kita.

Karena daging masih dengan kita, kita perlu untuk membereskan daging setiap hari dengan berjaga-jaga dan berdoa. Bila kita tidak berjaga-jaga, daging akan bertindak. Di dalam doa kita perlu berjaga-jaga dan berdoa di dalam roh

Dalam Kidung Agung 6:4 Yerusalem melambangkan satu tanda bersifat kerajaan. Semakin kita surgawi, semakin kita menjadi rajani. Menjadi rajani adalah berkuasa seperti seorang raja. Roma 5 mengatakan bahwa oleh kelimpahan kasih karunia, kita dapat memerintah dalam hayat (ay. 17). Namun demikian, kita mungkin menjadi rajani dan hidup dalam kenaikan sebagai ciptaan baru Allah dalam kebangkitan, di sana masih ada tabir, dalam tempat kudus surgawi. Ini menandakan bahwa bukan perkara bagaimana kita menjadi rohani, kita masih dalam daging, yang adalah tabir. Karena itu, kita perlu untuk belajar melalui tabit dengan pemberesan salib setiap hari. Kemudian kita akan hidup di balik tabir, di dalam Ruang Mahakudus, yang ada hanya Allah sendiri. Inilah tahap tertinggi dalam pengalaman pengasih Kristus seperti yang disajikan Kidung Agung. Ketika kita mencapai tahap sedemikian, kita tidak akan melakukan sesuatu tetapi menunggu dan mengharap untuk terangkat.

2. Dia juga Dahsyat seperti Bala Tentara

dengan Panji-panjinya

Pengasih Kristus adalah juga “dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya” yang diangkat sebagai suatu tanda kemenangan (ay. 4b).

3. Sang Pengasih menjadi Tempat Kudus Surgawi

dan Yerusalem Surgawi adalah karena Kemenangannya atas Musuh-musuh

Pujian Kekasihnya ini menandakan bahwa dia menjadi tempat kudus surgawi dan Yerusalem surgawi adalah karena kemenangannya atas musuh-musuh. Hanya dengan menjadi seorang pemenang, seorang yang mengalahkan musuh-musuh, memungkinkan kita hidup di balik tabir.

4. Yang Menandakan Kematangannya dalam Hayat bagi Pembangunan Allah

Sebelumnya, dia seperti kuda betina di antara kereta-kereta Firaun, bunga pacar di dalam kebun anggur, bunga mawar dari Sharon, bunga bakung di lembah-lembah dan di antara duri-duri, merpati, tiang asap, ranjang, tandu, taman, dan sumber air dengan mata air, tetapi sekarang dia seperti tempat tinggal surgawi Allah dan Yerusalem surgawi, yang menandakan kematangannya dalam hayat bagi pembangunan Allah.

Untuk pembangunan Tubuh Kristus, kita memerlukan kematangan. Bacalah Efesus 4:12-16, yang membicarakan pembangunan Tubuh, memberitahu bahwa kita perlu bertumbuh hingga mencapai kematangan maka Tubuh Kristus dapat dibangun. Membangun gereja adalah perkara yang umum, cukup hanya dengan memiliki kapasitas untuk mengatur, menyusun, dan menjaga sesuatu. Ini bukanlah suatu yang organik, tetapi suatu diorganisir menurut pengaturan manusia. Namun, pembangunan Tubuh bukan sesuatu yang dikerjakan dengan kemampuan kita mengorganisir, mengatur, dan menyusun sesuatu. Tubuh Kristus adalah suatu organisme, bukan suatu organisasi. Pembangunan organisme ini bersandar pada pertumbuhan dan kematangan dalam hayat. Pembangunan Tubuh adalah suatu organik.

Bangunan Tubuh secara organik, kita perlu kematangan. Inilah sebabnya bahwa hari ini kita lebih menekankan pembangunan Tubuh dibandingkan pembangunan gereja. Satu Timotius adalah suatu kitab tentang gereja sebagai rumah Allah (3:15). Tidak ada dalam kitab ini yang membicarakan tentang pembangunan Tubuh Kristus. Satu Timotius 3 membicarakan pengaturan penatua atau diaken dalam pelayanan mereka, tetapi di dalam Efesus tidak dibicarakan penatua atau diaken. Malahan, Efesus membicarakan pertumbuhan semua anggota. Pertama-tama, kita harus bertumbuh, kemudian kita dapat menyempurnakan orang lain. Menyempurnakan orang lain adalah menurut 2 Korintus 13, yang mana Kristus hidup dan bertumbuh di dalam kita (ay. 5) dan kita menikmati Allah Tritunggal dalam kasih Bapa, kasih karunia Putra, dan persekutuan Roh itu (ay. 13). Ini adalah pembangunan Tubuh, bukan pembangunan gereja seperti satu jenis organisasi. Pembangunan ini, untuknya kita memerlukan kematangan dalam hayat, adalah unik. Pembangunan ini akan merampungkan Yerusalem Baru di dalam langit baru dan bumi baru.

5. Perkataan yang Sepertinya adalah

Penolakan Tuhan

“Palingkanlah matamu dari padaku, / Sebab aku dikalahkan olehnya” (6:5a). Ini adalah perkataan yang sepertinya adalah penolakan Tuhan (cf. Mrk. 7:25-27; Yoh. 11:5-7; Kel. 32:10; Kej. 32:26), tetapi sebenarnya ini adalah perkataan yang mengundang ekspresi kasih menangnya terhadap Dia. Penolakan yang sedemikian ini sebenarnya adalah sejenis undangan. Ketika Tuhan mengatakan, “Palingkanlah matamu dari padaku,” Dia sungguh-sungguh mengatakan bahwa kita harus mengarahkan mata kita kepada Dia setiap saat. Ketika kita mengasihi seseorang, kita ingin orang itu memandang kita setiap saat. Kata-kata Sang Kekasih adalah kata-kata mengundang ekspresi kasih menangnya terhadap dia.

6. Rambutnya Bagaikan Kawanan Kambing

“Rambutmu bagaikan kawanan kambing / Yang bergelombang turun dari Gilead” (6:5b). Makna di sini sama dengan yang ada di dalam 4:1b.

7. Giginya Bagaikan Kawanan Domba

“Gigimu bagaikan kawanan domba, / Yang keluar dari tempat pembasuhan, / Yang beranak kembar semuanya, Yang tak beranak tak ada” (6:6). Makna di sini sana dengan yang ada di dalam 4:2

8. Bagaikan Belahan Buah Delima Pelipisnya

“Bagaikan belahan buah delima pelipismu, / Di balik tekungmu” (6:7). Makna di sini adalah sama dengan yang ada di dalam 4:3b.

9. Sang Kekasih Dikasihi oleh Bermacam-macam Kaum Beriman

“Tetapi dialah satu-satunya merpatiku, idam-idamanku, / Satu-satunya anak ibuku, / Anak kesayangan bagi yang melahirkannya; / Putri-putri melihatnya dan menyebutnya berbahagia, / Permaisuri-permaisuri dan selir-selir memujinya” (6:8-9). Di sini kita melihat bahwa Sang Kekasihnya (Salomo, yang pada segi positifnya melambangkan Kristus) dikasihi oleh bermacam-macam kaum beriman, ratu-ratu, selir-selir, dan dara-dara (semuanya adalah segi positif dari puisi), tetapi Kekasihnya, karena menganggap dia sebagai sang kasih-Nya dan sang sempurna-Nya, Dia memujinya sebagai satu-satunya pengasih-Nya, satu-satunya pilihan yang dilahirkan kembali oleh kasih karunia.

10. Sang Kekasih Memuji Dia bagaikan Fajar

“Siapakah dia yang muncul laksana fajar yang merekah, Indah bagaikan bulan purnama, Bercahaya bagaikan surya” (ay. 10a. Sang Kekasih memuji dia bagaikan fajar, seindah bulan, seterang matahari, yang membawa dan menyinarkan terangnya kepada orang lain.

11. Dahsyat seperti Bala Tentara dengan

Panji-panjinya

Dalam ayat 10b Sang Kekasih berkata kembali bahwa dia sebagai dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya. Makna di sini sana seperti yang terdapat di ayat 4b.

B. Pekerjaan Sang Pengasih

“Ke kebun kenari aku turun / Melihat kuntum-kuntum di lembah, / Melihat apakah pohon anggur berkuncup / Dan pohon-pohon delima berbunga” (ay. 11). Di sini Dia menggarap dirinya sendiri sebagai kebun yang bertumbuh bagaikan lembah yang menumbuhkan tanaman hijau segar, bagaikan tunas pokok anggur, dan bagaikan pohon-pohon delima yang berbunga. Di bekerja di atas dirinya sendiri sebagai satu kebun yang khusus menumbuhkan kenari, untuk menumbuhkan buah yang kuat, makanan keras. Dia menganggap dirinya bukan hanya sebagai kebun hal-hal yang lunak, melainkan sebagai kebun khusus yang menumbuhkan kenari bagi Kristus.

C. Kemajuan dan Kemenangan Sang Pengasih

Ayat 12 dan 13 menggambarkan kemajuan dan kemenangan sang pengasih.

1. Dia tidak Sadar bahwa Dia Maju dengan Pesat

“Tak sadar diri aku; / kerinduanku menempatkan aku di atas kereta orang bangsawan.” (ay. 12). Dia tidak sadar bahwa dia maju dengan pesat bagaikan majunya kereta orang bangsawan.

2. Mereka yang Tertarik Kepadanya

Meminta agar Mereka Kembali

“Kembalilah, kembalilah, ya Sulamit, / Kembalilah, kembalilah, supaya kami dapat melihat engkau! / Mengapa engkau senang melihat Sulamit / Seperrti melihat tari-tarian perang?” (ay. 13). Mereka yang tertarik kepadanya meminta agar mereka kembali agar mereka dapat melihatnya bagaikan dua kemah tentara yang merayakan kemenangan mereka dengan menari (cf. Kej. 32:2).

Dalam kidung Agung 6:13 sang pengasih, Sulamit, yang adalah bentuk feminin dari Salomo, pertama kali digunakan, ini menandakan bahwa di sini dia telah menjadi duplikat, pasangan Salomo, sama seperti Salomo dalam hayat, sifat, dan gambar, seperti Hawa terhadap Adam (Kej. 2:20-23), yang melambangkan bahwa pengasih Kristus itu menjadi sama dengan Dia dalam hayat, sifat, dan gambar agar sepadan dengan Dia (2 Kor. 3:18; Rm. 8:29) bagi pernikahan mereka.