Allah Memberi Karunia
Kepada Orang Yang Rendah Hati
"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
I Petrus 5:5b
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."
Efesus 2:8,9.
Dalam I Petrus 5:5 jelas sekali dikatakan kepada kita, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati". Ini berarti, terhadap orang yang sombong, Allah akan menentangnya; terhadap orang yang rendah hati, Allah akan memberi karunia kepadanya. Teman, jika Anda pada hari ini ingin mendapatkan karunia Allah, Anda harus memiliki satu sikap yang mendasar, yaitu rendah hati. Sebab hanya orang yang rendah hati yang bersyarat menerima karunia Allah.
Efesus 2:8-9 menunjukkan kepada kita, bahwa beroleh selamat itu berdasarkan kasih karunia Allah, itu adalah pemberian Allah; bukan dari diri kita sendiri, atau dari perbuatan kita, melainkan mutlak perbuatan Allah. Teman, mungkin Anda bertanya, "Apakah beroleh selamat itu?" Beroleh selamat berarti semua dosa Anda telah diampuni oleh Allah, masalah kedosaan Anda telah terselesaikan. Beroleh selamat berarti roh-jiwa Anda tidak masuk ke dalam neraka, tetapi naik ke surga. Beroleh selamat pun berarti memperoleh kehidupan (Hayat) Allah, yakni hidup yang kekal selama-lamanya.
Teman, kami memberitakan Injil kepada Anda bukan bermaksud agar Anda mengerti sedikit ajaran dan tatacara agama Kristen, atau mengharap Anda menjadi anggota gereja Kristen, melainkan bermaksud menyelesaikan masalah keselamatan jiwa Anda. Teman, apakah Anda sudah beroleh selamat? Apakah dosa Anda telah diampuni Allah? Apakah persoalan roh-jiwa Anda sudah terjawab? Apakah Anda sudah memiliki hidup yang kekal? Oh, ini adalah persoalan yang sangat serius! Jika Anda masih belum beroleh selamat, maafkan kami disini akan mengajak Anda untuk memperhatikan masalah kesudahan Anda, yaitu yang menyangkut hidup atau binasa kekal itu. Jangan sekali-kali Anda mengabaikannya!
Sebenarnya, jika Anda mau membereskan masalah keselamatan jiwa Anda, itu sederhana dan mudah sekali. Saat ini juga Anda dapat menyelesaikannya. Firman Allah memberitahu kita, bahwa perkara beroleh selamat itu mutlak adalah karunia Allah, itu dilakukan oleh Allah sendiri. Allah mengasihi manusia, sebab itu, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Ia telah mengutus AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia, untuk menggantikan kita menerima hukuman dosa di kayu salib. Asalkan Anda mau menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, Anda pasti beroleh selamat; karena kita beroleh selamat berdasarkan kasih karunia. Jadi, kasih karunia tak lain adalah Anak Allah, Yesus Kristus. Sebenarnya Anda harus dihukum, harus mati dan binasa kekal, tetapi sekarang Tuhan Yesus datang menggantikan Anda mati, menggantikan Anda menanggung hukuman dosa. Asal Anda percaya kepadaNya, Anda tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Teman, kalau beroleh selamat adalah berasal dari karunia Allah, adalah pemberian Allah dan pekerjaan Allah, maka jika Anda ingin beroleh selamat, Anda wajib bersikap rendah hati di hadapan Allah, yaitu mohon Tuhan menyelamatkan Anda. Beroleh selamat bukan berarti Anda menyelamatkan diri Anda sendiri, juga bukan menyuruh Anda memperbaiki diri Anda, melainkan Allah datang menyelamatkan Anda; karunia Allah sebagai air hidup mengalir ke atas diri Anda. Karena itu, Anda harus rendah hati di hadapan Allah. Keadaan rendah hati itulah yang memungkinkan air karunia Allah itu mengalir ke atas diri Anda. Oh, teman, Tuhan Yesus sudah mati bagi dosa Anda, darahNya sudah tercurah bagi Anda, bahkan Dia sudah bangkit dari kematian. Allah telah menyediakan karunia keselamatan yang demikian besar, sekarang hanya menunggu Anda datang menerimanya.
Mengapa hari ini masih ada orang belum beroleh selamat? Mengapa hari ini masih banyak orang yang tidak mendapatkan karunia Allah ini? Tak lain karena "Allah menentang orang yang congkak". Bukan Allah tidak mau memberikan, melainkan karena manusianya yang sombong. Teman, dengan jujur kami katakan pada Anda, kami telah bertahun-tahun lamanya memberitakan Injil keselamatan ini, tetapi kami tidak pernah melihat orang yang sombong di hadapan Allah bisa menerima karunia keselamatan ini! Orang yang sombong selalu tidak mau mengakui bahwa dirinya memerlukan keselamatan; orang yang sombong tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah orang dosa. Oh, orang yang sombong di hadapan Allah, adalah orang yang ditentang Allah. Hanya orang yang rendah hati yang bisa memperoleh karunia keselamatan. Allah memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati.
Sekarang mari kita melihat beberapa perumpamaan dari dalam Alkitab yang menunjukkan orang yang bagaimana yang ditentang oleh Allah, sehingga tidak bisa menerima kasih karunia Allah.
1. Orang yang Merasa Puas Diri
Contoh pertama adalah yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas 14:16-24. Mari kita baca bersama: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu telah siap. Tetapi mereka bersama-sama menolak (meminta maaf). Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya itu: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu."
Di sini, Tuhan mengibaratkan karunia Allah (yaitu Injil keselamatan yang kami beritakan) sebagai suatu perjamuan yang besar. Perjamuan besar telah disediakan. Menjelang perjamuan itu dimulai, tuan rumah menyuruh hamba-hambanya berkata kepada orang-orang yang telah diundang, "Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap." Kami yang memberitakan Injil, adalah hamba-hamba yang disuruh Allah untuk mengundang orang. Anda adalah orang yang diundang oleh tuan itu, yaitu Allah sendiri. Perjamuan sudah disediakan; segala sesuatu sudah disiapkan oleh tuan rumah (Allah) -- tuan rumah telah mengeluarkan harta dan tenaga, pokoknya segalanya telah diatur beres olehnya. Para undangan tidak perlu melakukan apa-apa lagi, tidak perlu membayar apapun; mereka tinggal datang dan makan saja. Anda diundang menghadiri perjamuan ini, tak lain agar Anda dipuaskan, agar Anda memperoleh sukacita.
Teman yang kekasih, perjamuan Injil Allah sudah disediakan -- Tuhan Yesus sudah mati tersalib untuk Anda; darahNya telah mengalir untuk membasuh dosa Anda, -- ya, segala sesuatu telah siap; sekarang hanya menunggu kedatangan Anda belaka. Jika Anda mau datang makan perjamuanNya ini, tidak saja pikulan dosa, duka dan kesusahan Anda akan terlepas, bahkan ketika Anda pulang, Anda pasti memiliki rasa damai, puas dan sukacita. Tuhan Yesus mau membereskan persoalan dosa Anda, Dia mau memuaskan hati Anda; asal Anda mau datang dan menerima.
Tetapi apa yang terjadi sangatlah megecewakan tuan rumah itu, sebab orang-orang yang telah diundang itu semuanya dengan senada menolak. Orang yang pertama berkata: "Aku telah membeli ladang, dan aku harus pergi melihatnya." Orang yang kedua berkata: "Aku telah membeli lembu lima pasang, aku harus pergi mencobanya." Orang yang ketiga berkata, "Aku baru kawin, sebab itu aku tidak dapat datang." Mereka menganggap perjamuan besar itu tidak ada sangkut-pautnya dengan diri mereka. Mereka merasa, asal ada tanah, lembu, istri, sudahlah cukup. Mereka sudah merasa puas dengan barang-barang itu. Mereka tidak menyadari keperluan roh-sukma mereka. Mereka tidak menghargai keselamatan yang Allah sediakan. Oh, mereka merasa puas diri! Alhasil, tidak seorang pun dari mereka yang dapat menikmati perjamuan besar itu. Sebaliknya, orang-orang yang miskin, cacat, buta, timpang dan orang-orang yang di lorong-lorong dan lintasan jalan, justru telah memenuhi ruangan perjamuan besar itu. Betapa berbahagianya mereka.
Teman yang kekasih, Mengapa orang-orang itu dapat menikmati perjamuan besar itu? Mengapa orang-orang itu bisa mendapatkan karunia Allah? Tak lain karena mereka merasa bahwa diri mereka tidak memiliki sesuatu apapun; mereka memerlukan seorang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus yang telah mengucurkan darah di kayu salib baginya. Teman, apakah hari ini Anda merasa puas diri dan tidak mau menerima karunia keselamatan Allah? Atau Anda dengan rendah hati mengaku bahwa Anda adalah orang yang tidak memiliki apa-apa, dan mau menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda? Teman, dengarlah sekali lagi, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
2. Orang yang Membenarkan Diri Sendiri
Mari kita baca Injil Lukas 18:9-14, "Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadamu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Teman, lihatlah, betapa sombongnya orang Farisi itu. Ia mengira dirinya adalah orang benar. Ia meremehkan orang lain, memandang rendah orang lain. Dia berkata, "Aku tidak sama seperti orang lain." Seolah-olah di dunia ini dirinyalah yang paling benar dan paling baik, tak seorang pun dapat melebihinya. Katanya pula, "Aku berpuasa dua kali seminggu dan aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku." Orang ini bukan mohon keselamatan di hadapan Allah, melainkan memegahkan diri sendiri. Ia bukan berdoa kepada Allah, melainkan melaporkan jasa. Ia merasa dirinya cukup benar. Teman, lihatlah, dapatkah karunia Allah diperoleh orang sedemikian? Pasti tidak! Mengapa? Karena ia menganggap dirinya benar; ia sama sekali tidak memerlukan karunia Allah. Dengan demikian, ia menjadi orang yang ditentang Allah.
Kita lihat orang yang lain, yaitu si pemungut cukai. Orang ini begitu datang sudah mengakui bahwa dirinya berdosa. Dia berdoa, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Pemungut cukai ini dihina oleh orang Farisi tadi, namun Tuhan berkata, "Orang ini (pemungut cukai) pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak." Ini berarti si pemungut cukai telah beroleh selamat. Mengapa ia dapat beroleh selamat? Sebab ia memiliki sikap yang bisa dikaruniai Allah. Orang ini "Berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit." Ia menyadari dirinya adalah seorang berdosa, berdosa besar, sehingga ia tidak layak datang ke hadapan Allah. Ia merasa berutang kepada Allah, maka ia hanya menundukkan kepala dan memukul-mukul dadanya, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Ia menyesali segala dosanya dan ia berduka atas segala kesalahannya.
Teman yang kekasih, pernahkah Anda sekali saja mengucurkan air mata karena dosa Anda? Anda sudah beberapa kali mendengar Injil, mengapa masih tidak mau merendahkan hati di hadapan Allah? Mengapa Anda masih tidak mau menundukkan kepala di hadapan Allah, memukul dada serta bersedih hati di hadapan Allah atas segala dosa Anda? Oh, temanku, betapa kami mengharapkan sekarang juga Anda mau berdoa seperti pemungut cukai itu, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!"
Banyak orang mau mengakui "semua orang adalah orang berdosa," tetapi tidak mau mengakui "aku adalah orang berdosa". Pengakuan "Aku adalah orang berdosa" ini memang tidak menyenangkan pula memalukan. Tetapi teman, jika Anda ingin memperoleh karunia keselamatan, Anda harus berdiri di atas kedudukan orang berdosa, kemudian barulah Anda dapat menerima karunia Tuhan.
Pemungut cukai itu telah diselamatkan Allah, karena ia dengan rendah hati menerima keselamatan itu. Orang Farisi itu justru ditolak Allah, karena ia membenarkan diri sendiri. Celakalah orang yang membenarkan dirinya sendiri di hadapan Allah! Celakalah orang yang sombong di hadapan Allah! Teman, camkanlah perkataan ini: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
3. Orang yang Merasa Dirinya Mampu
Injil Lukas 18:18-27 mengatakan, "Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jawab Yesus: Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu. Kata orang itu: Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku. Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: Masih tinggal satu hal lagi yang harus kau lakukan: juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku. Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya. Lalu Yesus memandang dia dan berkata: Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan mereka yang mendengar itu berkata: Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan? Kata Yesus: Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."
Orang muda ini adalah seorang pemimpin, juga kaya. Dia memiliki satu keperluan, yaitu ingin membereskan masalah hidup yang kekal. Ia menyadari, suatu hari nanti, ia akan meninggal; sedangkan kedudukan dan hartanya tidak bisa menolong dia menghindarkan diri dari kematian itu. Untuk masalah hidup kekal inilah ia datang mencari Tuhan Yesus. Ia berkata kepada Tuhan, "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Pertanyaan ini menyingkapkan bahwa pemuda ini ingin berusaha sendiri; ia mengira dirinya mampu melakukan sesuatu, hanya saja ia tidak tahu harus bagaimana melakukan baru bisa mendapatkan hidup yang kekal. Pemuda itu telah melakukan banyak, seperti tidak berzina, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta dan menghormati ibu bapa. Semua itu sudah dilakukannya, bahkan sejak ia masih kecil. Tetapi tentang hidup yang kekal, masih belum terselesaikan. Sebab itu, ia datang kepada Tuhan dan bertanya harus melakukan apa lagi. Tuhan Yesus menjawab, "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku." Ternyata, hal ini tidak dapat dilakukan pemuda itu. Akhirnya ia pergi dengan dukacita. Selanjutnya Tuhan mengatakan, "Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Orang-orang yang mendengar perkataan Tuhan ini bertanya, "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Jawab Yesus, "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."
Teman, beroleh selamat itu bersandar pada karunia Allah, yaitu Allah yang melakukan. Manusia tidak dapat, selamanya tidak dapat! Bagaimanapun kita melakukannya, bahkan sejak kecil sampai tua, Tuhan tetap akan berkata, "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan." Oh, hidup yang kekal adalah pemberian Allah, yakni diberikan kepada kita dengan cuma-cuma oleh Allah (Roma 6:23). Supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya, mendapatkan hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Berdasarkan diri sendiri, kita sama sekali tidak mampu mendapatkan hidup yang kekal. Pemuda itu ingin mendapatkan hidup yang kekal. Maksud ini memang baik, tetapi sayang, ia salah jalan.
Tuhan berkata kepadanya, "Masih tinggal satu hal lagi . . ." Ini bukan berarti Tuhan benar-benar menyuruhnya melakukan perkara itu, melainkan untuk menunjukkan ketidak-mampuannya. Maksud Tuhan agar ia tampak, bahwa berdasarkan diri sendiri, ia tidak dapat melakukan apa-apa, juga tidak mungkin melakukan dengan sempurna; bagaimanapun ia melakukan, di hadapan Allah tetap masih kurang satu hal. Tuhan menghendaki orang itu mau merendahkan diri, menyadari ketidak-mampuannya mendapatkan hidup yang kekal, pula menyadari bahwa hidup yang kekal melulu adalah pekerjaan Allah, hanya Allah yang bisa memberinya karunia keselamatan. Jika orang itu mau merendahkan diri, mengakui ketidak-mampuannya dan mohon Tuhan menyelamatkannya, ia pasti beroleh hidup yang kekal. Tetapi kasihan sekali, ia malah pergi dengan amat sedihnya!
Teman-teman yang kekasih, orang yang merasa puas diri tidak bisa beroleh selamat, orang yang membenarkan diri sendiri tidak bisa beroleh selamat, dan orang yang merasa mampu juga tidak bisa beroleh selamat. Pendek kata, semua orang yang sombong di hadapan Allah, tidak mungkin beroleh selamat. Hanya orang yang rendah hati, barulah akan dikaruniai oleh Allah. Teman, semoga Anda mau merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui diri Anda sebagai orang yang tidak mampu, mengakui diri penuh dengan dosa, lemah dan tak berdaya melakukan apa-apa. Begitu Anda menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda, sekarang juga Anda beroleh selamat. Ingatlah, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Teman, semoga Anda adalah salah seorang yang bisa mendapatkan kasih karunia Allah.