← Daftar isi Bagaimana Memberitakan Injil (1) · bab 5/9

MEMPELAJARI PERKATAAN YANG MEMPUNYAI KAIL DAN MEMPELAJARI HATI MANUSIA

Menciptakan Perasaan Perlu pada Diri Orang Berdosa

Hati manusia lebih licik daripada segala sesuatu, sepenuhnya dalam kegelapan, juga sepenuhnya tidak mau Allah; orang yang jatuh sama sekali tidak memiliki hati yang mau Allah. Hal ini dibuktikan oleh Alkitab sejak semula. Seorang yang berdosa, sepenuhnya milik dunia, juga sepenuhnya milik kejahatan, dia sama sekali tidak tertarik terhadap firman Allah. Karena itu, ketika kita memberitakan Injil kepada orang berdosa, tujuan pertamanya bukan menyuruh dia mengerti tentang Injil, tujuan pertama pemberitaan Injil adalah supaya orang yakin terhadap satu atau dua kalimat firman Allah, sehingga menciptakan perasaan perlu di atas diri orang. Kita bukan dengan sederhana mengisahkan cerita, kebenaran, dan berita aungerah keselamatan kepada orang, tujuan pemberitaan Injil kita adalah supaya orang berdosa timbul suatu perasaan perlu Injil; bukan hanya supaya dia jelas tentang Injil, juga bukan supaya dia mempelajari dengan jelas doktrin tentang Injil. Karena meskipun manusia dalam pikirannya mengenal Injil, mengerti Injil, tetap bisa merasa tidak perlu diri Allah sendiri.

Orang Berdosa yang Beroleh Selamat Pasti Mempunyai Dua Perasaan

Kalau seorang berdosa ingin beroleh selamat, harus mempunyai dua perasaan, yang satu perasaan perlu, yang satu lagi perasaan terhadap dosa. Karena itu, cara kerja yang paling mendasar bagi orang yang memberitakan Injil ialah harus menimbulkan perasaan perlu dalam diri orang, dan juga supaya orang merasakan ada dosa. Ketika Tuhan memberitakan Injil kepada perempuan Samaria, Dia pada mulanya tidak memperlihatkan Injil kepadanya, juga tidak membawa dia melihat dosa, tetapi lebih dulu membuat dia mempunyai perasaan perlu. Dia datang menimba air karena haus, lalu Tuhan Yesus dari kehausan yang di luar, membicarakan tentang kehausan yang di dalam. Tuhan terus menggiring perempuan itu mempunyai perasaan perlu, sehingga dia berkata kepada Tuhan, "Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus" (Yoh. 4:15). Tuhan tidak segera memberi dia minum air, melainkan terlebih dulu menyinggung tentang suaminya. Inilah langkah selanjutnya, yaitu memberi dia perasaan terhadap dosa. Tuhan Yesus sangat berhikmat. Terlebih dulu dari air membuat dia mempunyai perasaan perlu, kemudian dari suami membuat dia mempunyai perasaan terhadap dosa, dengan demikian perempuan itu beroleh selamat. Setiap orang yang memberitakan Injil, sedikitnya perlu satu kali dengan baik-baik mempelajari perkataan tentang Injil dalam Perjanjian Baru, untuk mendapatkan prinsip pemberitaan Injil dari perkataan-perkataan itu.

Kita harus mengetahui, setiap orang berdosa berada dalam kegelapan, tidak bisa berpikir mau Allah, juga tidak bisa menentukan mau Allah. Hatinya sepenuhnya gelap. Karena itu, ketika kita memberitakan Injil, harus dengan terang menerangi kegelapan dalam pikiran manusia. Kita seharusnya terlebih dulu dengan firman Allah meletakkan terang ke dalam pikirannya. Ketika kita memberitahukan penebusan Tuhan Yesus kepada orang, titik berat kita ialah supaya orang merasakan perlu Injil, menciptakan hati yang perlu Injil. Setelah dia merasakan perlu, baru dengan rinci menceritakan Injil kepadanya. Sebab itu, memberitakan Injil harus terlebih dulu membuat dia tidak puas terhadap keadaan sekarang, kemudian mereka baru bisa mempunyai perasaan perlu, baru bisa merasakan dirinya perlu anugerah keselamatan Allah.

Seorang berdosa asalnya sama sekali buta terhadap Allah, dia tidak bisa mempunyai respon terhadap Allah; tetapi kita ingin menyelamatkan mereka, maka ketika kita memberitakan Injil, harus melalui roh dengan kuat mengantar firman Allah ke dalam hati orang berdosa. Dengan demikian, firman Alah tidak akan keluar lagi, sama seperti telah berakar. Kemudian kita bisa memberitakan firman Injil kepadanya. Sepertinya firman Allah di dalamnya sudah ada pegangan, lalu kita melalui pegangan ini menggugah dia, sehingga di dalamnya akan menghasilkan perasaan perlu. Kita meletakkan perkataan-perkatan ini ke dalam orang berdosa, demikian orang berdosa bisa beroleh selamat melalui perkataan-perkataan ini. Sebab itu, memberitakan Injil adalah manaruh satu pengertian ke dalam seseorang, kemudian menurut pengertian ini menciptakan suatu keperluan. Ketika Tuhan memberitakan Injil kepada perempuan Samaria, dengan cepat Dia melakukan beberapa belokan, sehingga perempuan itu beroleh selamat. Tuhan terlebih dulu menciptakan perasaan perlu di dalam perempuan itu, kemudian memperlihatkan dosa-dosanya, demikianlah dia beroleh selamat. Tuhan kita tidak saja adalah Juruselamat, juga Tuhan yang bisa menyelamatkan orang. Dalam hal pemberitaan Injil, tidak ada orang lain yang sehebat Tuhan yang tercantum dalam kitab Injil.

DUA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

Ketika kita belajar memberitakan Injil, ada dua hal yang perlu kita perhatikan: pertama, harus mengerti firman Allah, mendapatkan firman yang mempunyai kail; kedua, harus mengerti hati orang berdosa, yaitu harus mengerti bagaimana keadaan orang yang akan diselamatkan. Mengenai butir pertama, kita dengan rinci akan membaca ayat-ayat Alkitab Perjanjian Baru yang berkaitan dengan pemberitaan Injil. Kita akan mulai dari Injil Matius 1, melihat bagaimana orang berdosa berada dalam keadaan gelap dan jahat; melihat bagaimana Tuhan memberitakan Injil, bagaimana orang tergerak oleh Injil. Kita perlu memperhatikan bagaimana Tuhan menghadapi orang berdosa, juga memperhatikan bagaimana orang menerima Tuhan. Dengan demikian, ketika Anda memberitakan Injil lagi, sama seperti meletakkan seorang berdosa yang hidup di hadapan Anda, lalu Anda mencoba lagi untuk membalikkannya.

Mencari Perkataan yang Berkait

Pemberitaan Injil bukan hanya untuk berita Injil, juga bukan hanya dengan Injil membangkitkan kegairahan orang berdosa. Kita selalu memberitakan dalam firman Allah, sepertinya dalam firman ini ada kait yang bisa mengait orang. Perkataan Injil kita harus seperti kait yang bisa mengait orang; kita tidak saja memberitakan firman, tetapi perlu dengan firman mengait orang. Kita tidak boleh malas, jangan tidak memakai kait. Kita perlu ingat, dalam pemberitaan Injil, bukan doktrin Injil yang berkhasiat, tetapi kait yang berkhasiat. Sebab itu kita perlu sering mempelajari, oleh karena perkataan-perkataan apakah seseorang beroleh selamat? Kalau kita mempelajari dengan teliti, akan menemukan bahwa setiap orang beroleh selamat karena perkataan yang berkait. Jadi, memberitakan Injil jangan mementingkan pemberitaan yang jelas, asal memiliki beberapa perkataan yang berkait, setiap kali Anda memakainya, pasti ada orang yang beroleh selamat.

Kita, orang-orang yang memberitakan Injil, perlu sering bertanya kepada saudara saudari, karena perkataan apa Anda diselamatkan? Lalu mencatat perkataan-perkataan tersebut, dan sering membacanya. Tidak saja demikian, kita juga perlu membaca cerita tentang keselamatan kita sendiri, membicarakan cerita tentang keselamatan orang yang kita selamatkan, membaca lagi cerita Injil. Kita perlu sering bertanya kepada orang-orang yang beroleh selamat, perkataan apa yang membuat Anda menyesal, tertusuk? Perlu mencatat perkataan-perkataan ini. Kemudian bertanya kepada mereka, perkataan apa yang membuat mereka senang, membuat mereka damba Injil? Ini perlu dicatat. Lalu bertanya lagi, perkataan apa yang membuat Anda memutuskan untuk percaya Tuhan? Ini juga perlu dicatat. Dengan demikian Anda akan melihat satu perkara yang ajaib, yaitu Roh Kudus suka memakai perkataan yang pernah Dia pakai. Kita, orang-orang yang memberitakan Injil, harus mengetahui Roh Kudus suka memakai perkataan apa. Kita perlu jelas akan perkataan apa yang bisa menggerakkan orang, perkataan apa yang bisa merebahkan orang, perkataan apa yang bisa membuat orang merasakan ada kekurangan, perkataan apa yang bisa mendorong orang mengambil keputusan, perkataan apa yang bisa mengait orang. Kemudian kita tidak saja bisa memakai kait, juga bisa membuat kait.

Semua pemberita Injil yang baik bisa menggiring orang ke tempat yang tinggi, kemudian merobohkan mereka dengan firman Allah. Kita harus belajar memakai perkataan yang dipakai Roh Kudus. Perkataan yang pernah dipakai oleh Roh Kudus, mudah sekali dipakai lagi oleh Roh Kudus. Sebab itu kita benar-benar perlu cerita tentang keselamatan orang; khususnya cerita keselamatan orang yang kita selamatkan. Karena melalui mempelajari, menyelidiki cerita-cerita itu, akan membantu kita mendapatkan perkataan yang dipakai oleh Roh Kudus. Kita perlu memperhatikan dan mencatat perkataan-perkataan yang menaklukkan manusia.

Kita pernah membicarakan, macam orang di dunia ini tidak terlalu banyak. Kalau kita bisa menghadapi beberapa macam orang itu, sudah cukup memadai dalam pemberitaan Injil. Kita harus banyak belajar perkataan-perkataan apa saja yang bisa menundukkan orang. Kita perlu mempunyai beberapa macam buku catatan untuk mencatat perkataan-perkataan yang menggerakkan orang yang beroleh selamat itu. Misalnya, ada orang karena perkataan "itu" hati nuraninya terjamah, ada orang karena perkataan "itu" memutuskan menerima anugerah keselamatan; perkataan-perkataan "itu" harus sering kita catat dalam buku. Kemudian ketika bertemu dengan orang bertipe yang sama, Anda boleh memakainya. Kita memberitakan Injil, asal bisa membuat seorang beroleh selamat, sudahlah cukup, tidak tergantung pada memakai berapa banyak perkataan. Perkataan yang pernah dipakai oleh Roh Kudus, harus Anda beri tanda, lain kali bisa dipakai lagi.

Mempelajari Hati Orang Berdosa

Kita juga perlu mempelajari hati orang berdosa. Kita perlu membaca Alkitab, juga perlu membaca hati orang. Orang-orang yang setiap hari kita temui, mempunyai kondisi yang berbeda-beda, juga mempunyai keadaan yang sama.

Misalnya, pertama-tama kita boleh bersama-sama mempelajari hati nurani. Kita mempersilakan saudara saudari bersaksi, mengisahkan bagaimana prosesnya mereka beroleh selamat. Kita akan menyelidiki perasaan mereka berasal dari mana, kemudian menyelidiki lagi perasaan mereka sampai di mana mencapai titik tertinggi. Setelah mendengarkan berapa banyak khotbah baru hati nuraninya merasakan dirinya berdosa? Karena khotbah yang panjang lalu mengetahui dirinya berdosa, atau karena satu dua kata lalu mengetahui dirinya berdosa?

Kita juga perlu menyelidiki pikiran manusia. Manusia asalnya memang mempunyai pikiran yang aneh-aneh, selalu menganggap dirinya pandai. Kita akan bertanya kepada saudara saudari, bagaimana Anda pertama kali mempunyai terang Allah? Bagaimana pikiran Anda pertama kali berpaling kepada Allah? Setelah Anda mengetahui, lain kali kalau bertemu dengan orang yang bertipe sama, boleh memakai cara yang sama membawa orang tersebut beroleh selamat. Sebagaimana Allah bekerja di atas diri orang lain, Dia juga senang memakai cara yang sama bekerja di atas diri orang yang bertipe sama. Ini menjadi satu hukum. Setelah Anda mendapatkan hukumnya, Anda tidak sulit untuk memberitakan Injil. Anda bisa menyelesaikan orang yang mempunyai kesulitan dalam pikirannya, perkara selanjutnya mudah diselesaikan. Misalnya, ada seorang gadis yang ibunya meninggal dunia, ia akan menuruti perkataan ibunya untuk tidak mau menerima keselamatan Tuhan. Tetapi Lukas 16 mengatakan, famili-famili yang di dalam alam maut, sangat mengharapkan anggota keluarganya beroleh selamat. Persilakan dia membaca potongan Alkitab ini, masalahnya akan mendapatkan pemberesan, lalu ia bisa beroleh selamat.

Setelah membaca pikiran manusia, kita perlu membaca lagi tekad manusia. Anda perlu menyelidiki bagaimana caranya orang mengambil keputusan. Anda perlu membaca diri sendiri, membaca saudara saudari, membaca orang yang baru beroleh selamat. Anda perlu mengetahui bagaimana seseorang mau mengambil keputusan menerima Tuhan, kemudian ketika Anda memberitakan Injil dengan cara yang sama, pasti bisa membuat orang mau memutuskan percaya Tuhan. Kalau semuanya ini telah Anda pelajari, Anda sudah cukup banyak belajar tentang menyelamatkan orang.

Orang yang memberitakan Injil perlu memiliki satu pengalaman yang benar, yaitu bukan menyuruh orang itu memperbaiki dosanya, tetapi membawa dirinya bersama dosanya datang ke hadapan Allah. Pekerjaan menyingkirkan dosa adalah pekerjaan Allah; kita hanya bertanggung jawab menyampaikan firman Allah dan membawa orang ke hadapan Allah. Kalau seseorang bisa datang ke hadapan Allah, dosanya akan tersingkir, orangnya juga akan berpaling kepada Allah.

BELAJAR CARA ALLAH

Kita harus belajar membaca firman Allah, juga belajar membaca hati manusia. Kita perlu mahir memakai perkataan yang berkait, menurut keadaan masing-masing orang, supaya orang mempunyai perasaan perlu, juga mempunyai perasaan tentang dosa. Inilah cara yang didirikan oleh Roh Kudus. Cara Alkitab adalah cara yang terbanyak menyelamatkan orang, karena itu adalah cara Allah. Di satu pihak kita perlu mempunyai firman, di pihak lain kita juga perlu mengenal orang. Ketika memberitakan Injil, di satu pihak perlu kait yang bisa mengait orang, di pihak lain perlu mengetahui hati orang, perlu menurut keadaan hati orang memberi perkataan yang berkait. Dengan demikian mudah sekali membawa orang beroleh selamat. Orang yang memberitakan Injil, jangan hanya melihat telah menyelamatkan berapa orang, perlu melalui pemberitaan Injil belajar mempunyai perkataan yang berkait, belajar bagaimana menjamah hati orang, bagaimana menaklukkan orang. Kita harus secara khusus belajar, dalam kiat menyelamatkan orang harus mempunyai hikmat.

Hari ini jumlah orang yang beroleh selamat di China masih kurang dari seper enam belas orang yang beroleh selamat di India. Sebab itu China harus menempuh jalan gereja memberitakan Injil. Di satu pihak kita secara pribadi perlu menuntut perkara rohani yang lebih dalam, di pihak lain kita perlu belajar cara menyelamatkan orang, dan berkoordinasi dengan saudara saudari untuk menyelamatkan orang. Kita harus mempelajari kisah pemberitaan Injil dalam Alkitab, supaya pemberitaan Injil kita lebih berhasil.