← Daftar isi Bagaimana Memberitakan Injil (1) · bab 2/9

ORANG BERDOSA BISA BEROLEH SELAMAT, HATINYA HARUS BERTEMU DENGAN TUHAN MEMBERITAKAN INJIL WAJIB MEMPERHATIKAN

APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANG BERDOSA

Dalam bab ini kita tidak memperhatikan bagaimana Allah dalam Injil mengenapkan segala sesuatu bagi kita, tetapi kita akan melihat bagaimana Injil terlaksana pada diri orang berdosa. Kalau kita pernah mempelajari bagaimana Injil terlaksana pada diri orang berdosa, kita pasti bisa memberitakan Injil. Ketika seorang berdosa mendengarkan Injil, kalau bisa dengan subyektif mengetahui bagaimana dia bisa beroleh selamat, dia akan mengetahui bagaimana memberikan Injil kepada orang lain. Ketika kita memberitakan Injil, sering tidak mengetahui apa yang harus dilakukan oleh orang berdosa agar bisa beroleh selamat. Sebab itu, usaha kita sering sia-sia.

Mengenai pemberitaan Injil ada dua kebenaran yang mendasar. Pertama, pekerjaan Allah di dalam Kristus. Pekerjaan Allah di dalam Kristus adalah bagaimana Allah membuat Tuhan Yesus mencurahkan darah, mati di atas salib untuk menebus dosa kita, kemudian Dia bangkit dari kematian. Allah membangkitkan Tuhan Yesus karena Dia telah memenuhi tuntutan kebenaran-Nya; inilah kebenaran yang mendasar dari Injil. Hal ini memang penting, tetapi bagi orang berdosa, ini adalah perkara lampau. Orang berdosa harus melakukan perbuatan lain lagi baru bisa beroleh selamat. Kedua, Allah menurunkan Roh Kudus. Bagaimana Allah menyalurkan pekerjaan yang sudah dikerjakan di dalam Kristus ke atas diri kita? Yaitu melalui menurunkan Roh Kudus. Ini juga kebenaran yang mendasar dari Injil. Kalau Roh Kudus tidak diturunkan, meskipun Tuhan Yesus telah merampungkan penebusan bagi kita, meskipun Allah sudah siap menerima kita, kita tetap tidak bisa beroleh selamat. Karena tidak ada Roh Kudus, pekerjaan Tuhan Yesus menjadi obyektif, tidak bisa menjadi subyektif; berada di luar tubuh, tidak bisa berada di dalam tubuh; hanya menjadi milik Allah, tidak bisa menjadi milik manusia. Karena itu, setelah Roh Kudus datang, pekerjaan yang dirampungkan Kristus baru bisa terlaksana di atas diri manusia. Sekarang masalahnya adalah: Tuhan Yesus telah merampungkan pekerjaan-Nya dan Roh Kudus juga sedang menunggu akan bekerja di atas diri orang berdosa, lalu apa yang harus orang berdosa lakukan agar bisa beroleh selamat? Di antara orang yang memberitakan Injil, ada orang memperhatikan bertobat, ada orang memberitakan harus percaya, ada orang lain lagi memberitakan harus mengaku dosa. Sebenarnya, apa yang harus orang berdosa perbuat agar bisa beroleh selamat? Inilah yang harus kita ketahui.

Hari ini, orang-orang yang memberitakan Injil dengan sendirinya berbau teologi. Sebelumnya mereka sudah menyediakan tiga aspek perkara bagi orang berdosa: pertama, harus mempunyai setumpuk kebenaran Injil; kedua, harus nampak kesia-siaan dunia, kejahatan dosa, dan lain-lain; ketiga, harus memiliki tindakan tertentu, misalnya bertobat, mengaku dosa, percaya, dibaptis, dan lain-lain. Hari ini, orang yang memberitakan Injil kebanyakan sudah mempersiapkan perkara-perkara ini, inilah sikap utama mereka. Mereka sudah siap untuk mengajar setumpuk kebenaran Injil, kemudian menyuruh orang-orang itu melakukan sesuatu, mengira dengan demikian mereka baru bisa beroleh selamat. Tetapi apakah ini adalah pengajaran Alkitab? Sebenarnya bagaimana Alkitab mengajar kita memberitakan Injil? Kita akan mencari beberapa contoh dari Alkitab. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul sudah banyak orang percaya Tuhan dan beroleh selamat; tetapi sebenarnya bagaimana Tuhan Yesus dan para rasul membawa orang-orang beroleh selamat? Dari apa yang mereka perbuat, kita bisa dengan jelas mengetahui bagaimana memberitakan Injil, dan melihat keadaan pemberitaan Injil pada hari ini banyak yang tidak benar.

SATU-SATUNYA KEPERLUAN ORANG BERDOSA

AGAR MENERIMA ANUGERAH KESELAMATAN --

HATINYA "KELUAR" MENJAMAH TUHAN

Injil Lukas 7:36-50 mengatakan tentang kasus seorang perempuan berdosa mendapatkan pengampunan dosa. Karena ia mendapatkan pengampunan dosa, lalu ia berterima kasih kepada Tuhan. Ia merasa dosanya terlalu banyak, namun diampuni oleh Tuhan, sebab itu ia merasakan Tuhan layak dikasihi. Ia tidak mementingkan harus mempunyai syarat apa untuk percaya, ia hanya merasakan Tuhan sangat menarik; hatinya "keluar" menyentuh Tuhan, dan sangat berterima kasih kepada anugerah keselamatan Tuhan. Demikian sudah cukup, dia sudah beroleh selamat. Apa yang disebut "percaya"? Percaya adalah hatinya "keluar" menyentuh Tuhan. Kita memberitakan Injil tidak tergantung orang itu sudah mengerti seberapa banyak tentang anugerah keselamatan, asal dia mau menyentuh Tuhan, dosanya diampuni. Semua dosa perempuan itu sudah diampuni, karena kasihnya banyak. Kasihnya "keluar" menyentuh Tuhan, dengan demikian dia beroleh selamat.

Dalam Lukas 18:13-14 Tuhan berkata, "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedang orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Di sini ada orang yang telah beroleh selamat, dia tidak mempunyai pernyataan yang khusus, dia juga tidak mempunyai pengetahuan rohani; dia hanya merasa bahwa dirinya adalah orang yang berdosa, memohon Allah membelaskasihaninya, demikian dia beroleh selamat. Orang yang datang ke hadapan Allah, jangan khawatir tidak mengerti kebenaran Injil, asal mempunyai hati mau pergi ke hadapan Allah, mau dengan rendah hati datang ke hadapan Allah, sudahlah cukup.

Lukas 15 membicarakan perumpamaan anak hilang yang kembali. Mengapa anak hilang ini kembali? Karena dia sadar. Memiliki sedikit kesadaran saja sudah cukup. Anak hilang ini sudah sadar, ingin mengaku dosa di hadapan bapa, dengan demikian ia beroleh selamat. Sebab itu ketika kita menyelamatkan orang, tidak perlu membuat mereka mengerti banyak, asal membuat mereka mempunyai hati yang tulus, mau datang ke hadapan Allah, sudahlah cukup. Mengenai pengertian terhadap kebenaran Injil, dapat dilakukan di kemudian hari.

Lukas 19:1-10 mengatakan tentang kisah Zakheus beroleh selamat. "Melihat" yang dilakukan oleh Zakheus sama dengan "menjamah" yang dilakukan perempuan yang sakit perdarahan (Mrk. 5:25-30). Banyak orang berdesak-desakan di dekat Tuhan, tidak membuat Tuhan merasakan sesuatu; tetapi begitu perempuan yang sakit itu menjamah Tuhan, Tuhan segera merasakannya. "Melihat" yang dilakukan oleh Zakheus juga demikian. Zakheus ingin melihat Tuhan, itu menyebabkan Tuhan memperhatikan dia. Tuhan tidak menyelamatkan orang yang acuh tak acuh, melainkan menyelamatkan orang yang ingin mendapatkan Dia. Tuhan tidak menyelamatkan orang yang berdesak-desakan, Dia hanya menyelamatkan orang yang menjamah-Nya. Tuhan tidak menyelamatkan orang yang menonton keramaian, hanya menyelamatkan orang yang bermaksud melihatnya. Keselamatan Zakheus dikarenakan dia bermaksud ingin melihat Tuhan. Karena maksud hatinya inilah Tuhan sudah dapat menyelamatkan dia. Begitu maksud hati manusia keluar, itu sangat menarik perhatian Tuhan.

Dalam Lukas 23:39-43 ada dua penjahat yang tersalib bersama Tuhan. Mereka asalnya menertawakan Tuhan, tetapi menjelang mati, salah satu di ataranya tiba-tiba berubah pikiran, lalu berkata kepada Tuhan, "Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Hatinya keluar menyentuh Tuhan, orangnya juga ikut keluar. Meskipun kata-kata doa penjahat itu salah, tetapi Tuhan mengetahui maksud hatinya, Dia selalu tidak bisa salah. Tuhan segera menjawabnya, "Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama Aku di dalam Firdaus." Asalnya hatinya keluar, Tuhan akan menyelamatkannya. Dia beroleh selamat tidak tergantung telah mengetahui seberapa banyak doktrin.

Dalam Yohanes 4:1-10, Tuhan memberitakan Injil kepada perempuan Samaria. Tuhan tidak dengan rinci membicarakan kebenaran Alkitab, Tuhan tidak mengatakan bagaimana Dia mati baginya. Tuhan hanya memberi tahu dia, "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, 'Berilah Aku minum!' niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup" (ayat 10). Firman Tuhan Yesus memperlihatkan kepada kita, Allah dengan senang memberikan anugerah keselamatan, asal hati orang berdosa berkata, "Inilah Juruselamat yang kuperlukan!" Dia segera bisa beroleh selamat. Kita harus sama seperti teladan Tuhan Yesus, memakai firman yang paling sedikit untuk menyelamatkan orang yang paling banyak, ini barulah terhitung.

Yohanes 8:3-11 membicarakan keselamatan seorang perempuan yang tidak dihukum. Perempuan ini asalnya orang berdosa, harus dihukum. Tetapi Tuhan berkata kepada orang-orang yang menangkapnya, "Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (ayat 7). Dalam kisah ini ada tiga pihak: Pihak pertama adalah perempuan yang berdosa itu, dengan gemetar mendengarkan keputusan pengadilan; pihak kedua adalah orang-orang yang menangkap dia dan orang-orang yang melihat keramaian, tetapi setelah mereka mendengar perkataan Tuhan ini, seorang demi seorang tertegur oleh hati nuraninya sendiri, sadar dirinya juga berdosa, maka seorang demi seorang pergi. Masih ada pihak ketiga, yaitu Tuhan Yesus, hanya Dia yang tidak berdosa, tetapi Dia juga tidak menghukum, sebaliknya mengampuni perempuan itu, supaya dia beroleh selamat. Kita perlu memperhatikan kisah ini: Tuhan Yesus tidak berdosa, perempuan itu berdosa, dipermalukan. Yang tidak berdosa di sana, yang berdosa juga di sana. Ketika Tuhan bertanya, "Hai ibu, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?" Dia segera menjawab, "Tidak ada, Tuhan." Inilah roh yang lemah lembut, roh yang telah terpukul. Sebab itu, meskipun perempuan itu tidak berbuat apa-apa, hanya berkata, "Tuhan". Tetapi Tuhan berkata, "Aku pun tidak menghukum engkau." Dia beroleh selamat. Sebab itu, asal seseorang merendahkan rohnya, mau mengaku Dia adalah Tuhan, sudahlah beres. Yang digenapkan di depan Allah begitu ajaib; yang digenapkan di atas diri manusia begitu sederhana.

Kisah Para Rasul 2:14-36 membicarakan saat hari raya Pentakosta, rasul-rasul memberitakan Injil membawa orang beroleh selamat. Di sini ketika Petrus memberitakan Injil, tidak ada doktrin yang jelas; yang dia katakan adalah kata-kata yang diajarkan oleh Roh Kudus. Dia hanya mengatakan Kristus merendahkan diri dan ditinggikan; mengatakan tentang Yesus, orang Nazaret yang dihina oleh orang, telah diangkat oleh Allah menjadi Tuhan dan Kristus. Setelah Petrus berkata demikian, hati orang-orang yang mendengarkan perkataannya sangat tergugah. Sebab itu, Injil tidak memerlukan doktrin yang jelas untuk menyelamatkan orang, asal memberitakan sedikit saja sudah cukup. Selamatkan dulu orang itu, kemudian baru menjelaskan kebenaran kepadanya. Kita harus memakai kebenaran yang paling sedikit untuk menyelamatkan orang yang paling banyak. Asal bisa memalingkan hati orang, sudahlah cukup. Kebenaran Injil yang diberitakan oleh Petrus pada hari Pentakosta tidak begitu jelas, sampai Surat 2 Petrus barulah dia menceritakan dengan jelas kebenaran Injil.

Kisah Para Rasul 10:34-43 adalah perkataan yang diucapkan oleh Petrus ketika ia diutus memberitakan Injil ke rumah Kornelius. Dia mengisahkan segala perbuatan yang Tuhan lakukan di bumi, akhirnya ketika ia mengatakan, "Siapa saja yang percaya kepada-Nya, akan mendapat pengampunan dosa melalui nama-Nya", Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan Injil (ayat 44). Karena itu, dalam pemberitaan Injil, asal bisa membawa orang ke hadapan Allah, sudahlah cukup. Orang berdosa mendapatkan sedikit perkataan anugerah keselamatan sudahlah cukup. Di rumah Kornelius, Roh Kudus sudah menunggu untuk turun; hari ini Tuhan juga sedang menunggu orang berdosa; asal hati orang berdosa bergerak sedikit, sudahlah beres. Dulu kita memperhatikan bagaimana Kristus menggenapkan penebusan bagi kita, tetapi hari ini kita harus mengetahui, bagaimana anugerah keselamatan tergenapi di atas diri orang berdosa. Beroleh selamat bukan masalah pengetahuan, melainkan masalah orang berdosa bertemu dengan Allah.

Roma 10:8-13 memperlihatkan kepada kita bahwa orang percaya kepada anugerah keselamatan, bukan percaya kepada alasan, doktrin, dan asal usul anugerah keselamatan. Karena itu, dalam pemberitaan Injil jangan mementingkan khotbahnya, tetapi beri tahu orang, anugerah keselamatan ini ada di dalam mulutnya dan di dalam hatinya. Injil adalah masalah mulut dan hati. Seseorang yang ingin beroleh selamat, kalau terlebih dulu harus berperilaku baik, betapa sulitnya. Hari ini firman Injil adalah untuk semua orang, bisa didapatkan oleh semua orang; asal orang mau mengaku dengan mulut, sudahlah beres, asal hati percaya, sudahlah genap. "Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan (pasti) diselamatkan." Asal orang berseru, menyeru Tuhan Yesus, dia beroleh selamat; anugerah keselamatan tergenapi di atas dirinya. Asal orang dengan hati percaya, sudahlah genap, asal mulut mengaku, sudahlah beres. Anugerah keselamatan di hadapan Allah begitu sempurna, namun manusia bisa menerima dengan cara yang begitu sederhana.

HARUS MEMPELAJARI BAGAIMANA ORANG BISA BEROLEH SELAMAT

Selain mempelajari contoh-contoh dalam Alkitab, perlu juga memperhatikan bagaimana anugerah keselamatan bisa tergenapi pada diri saudara saudari. Tanyalah kepada saudara saudari, Anda akan mengetahuinya. Kita beroleh selamat karena kita dengan tulus dan sungguh-sungguh datang ke hadapan Allah. Ini perlu membayar harga untuk mempelajarinya. Ketika kita mempelajari dengan jelas, ada orang yang dengan cara ini beroleh selamat, ada orang dengan cara itu beroleh selamat, demikian kita bisa mengetahui, harus bagaimana menghadapi jika bertemu dengan orang yang begini; harus bagaimana menghadapi jika bertemu dengan orang yang begitu. Ketika memberitakan Injil, lebih baik mengorbankan khotbahnya, namun bisa menyelamatkan banyak orang; sekali-kali jangan menitikberatkan memberitakan Injil dengan doktrin yang jelas, tetapi tidak ada seorang pun yang datang ke hadapan Allah. Kita bukan untuk memberitakan Injil yang baik, tetapi untuk menyelamatkan orang. Kita harus membuat hati orang terbuka kepada Tuhan, membuat orang membuka mulut. Begitu hati seseorang terbuka kepada Tuhan, mulut orang menyeru nama Tuhan, dia akan beroleh selamat.