Adakah Padamu Makanan?
Pembacaan Alkitab :
Lukas 24:41-43; Yohanes 21:4,5,9,13
Kedua bagian ayat Alkitab di atas merupakan catatan kisah Tuhan Yesus Kristus setelah bangkit dari kematian. Orang yang menanyakan pertanyaan itu adalah Tuhan sendiri, sedang yang ditanya adalah muridmuridNya. Pertanyaan dalam kedua bagian tersebut sama. Dalam Injil Lukas dikatakan, "Adakah padamu makanan di sini?" Sedang dalam Injil Yohanes dikatakan, "Adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Maksud pertanyaannya sama, yaitu apakah mereka mempunyai makanan. Injil Lukas 24 mengatakan, mereka ada makanan; sedang Yobanes 21 mengatakan, mereka tidak ada makanan.
Dalam Injil Lukas kita tampak bahwa yang diberikan oleh murid-murid kepada Tuhan hanyalah sepotong ikan goreng. Mungkin ketika itu mereka sudah makan malam, dan tersisa sepotong ikan goreng, yang kemudian diberikan kepada Tuhan. Seringkali Tuhan juga bertanya kepada kita, apakah ada makanan. Dan kita mirip pula dengan murid-murid ketika itu, kita memang ada makanan, tapi yang kita berikan kepada Tuhan hanyalah sepotong ikan goreng. Hanya sedikit itu saja.
Dalam Injil Yohanes kita tampak bahwa mereka tidak mempunyai makanan apa-apa, tetapi Tuhan malah menyediakan makanan yakni ikan dan roti. Jadi yang Tuhan berikan tidak saja ikan bahkan roti. Hal ini pun sama dengan keadaan kita. Meskipun kita telah berjerih lelah semalam suntuk, namun tidak ada suatu apapun yang kita peroleh. Ketika kita sedang dalam kekecewaan, ketika kita letih, Tuhan datang dan bertanya kepada kita, "Adakah padamu makanan?" Kita hanya dapat menjawab, "Tidak ada!" Akan tetapi pada pihak Tuhan, ada. PadaNya ada ikan bahkan ada roti. Ia akan memberikannya kepada kita agar kita kenyang dan puas.
Mengapa murid-murid yang berada di dalam rumah (Lukas 24) mempunyai ikan? Mengapa mereka yang di laut (Yobanes 21) malah tidak mempunyai ikan? Di sini kita dapat melihat satu perkara : Tuhan menghendaki mereka menantikan turunnya Roh Kudus di dalam kota (Lukas 24:49). Rumah adalah tempat seharusnya mereka ada, karena itu di sana masih ada sedikit ikan. Akan tetapi mereka tidak mengenal perihal kebangkitan Tuhan. Mereka pergi ke laut memukat ikan, adalah bermaksud kembali kepada pekerjaan mereka yang semula; tetapi akhirnya sepotong ikan goreng pun mereka tidak punya.
Mereka demikian memukat ikan, adalah perbuatan yang di luar kehendak Allah, karena itu mereka tidak memperoleh apa-apa. Namun ketika mereka berada di dalam rumah, meskipun keadaan mereka tidak baik dan tidak sempurna, mereka masih memiliki sepotong ikan goreng untuk disajikan kepada Tuhan. Karena itu kita harus memperhatikan, apakah tempat kita berada, apakah semua kegairahan kita itu di dalam kehendak Tuhan? Jika kita bekerja menurut kehendak sendiri, maka kita akan sama dengan murid-murid pada sepanjang malam itu, tidak memperoleh apa pun untuk dimakan. Bila kita berada di tempat yang jauh dari Tuhan, kita akan tidak mempunyai sesuatu apa pun.
Tuhan bertanya kepada mereka, "Adakah padamu makanan?" Tuhan seolah-olah lapar. Ketika Tuhan seolah-olah merasa lapar, adakah makanan pada mereka untuk mengenyangkanNya? Saudara saudari, apakah Anda mempunyai sesuatu untuk mengenyangkan Tuhan? Tuhan di sini sedang mencari-cari, dan Ia ingin mendapatkan kepuasan, Tuhan sedang menunggu kita untuk memperoleh kepuasan dari atas diri kita. "Lalu mereka memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng." Mereka seakan-akan berkata, "Ia Tuhan, kami ada makanan, kami sudah kenyang. Dan yang ada pada kami adalah sisanya yang kami sediakan untuk esok hari, tapi sekarang kami berikan ini kepadaMu." "Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka."
Meskipun yang kita persembahkan kepadaNya hanya sedikit saja, namun Ia pasti menerimanya. Asal dipersembahkan kepada Tuhan, Ia pasti menerimanya. Asalkan dalam hati kita mempunyai sedikit niat dan berkata, "Ya Tuhan, ini untukMu," niscaya Tuhan akan menerimanya. Asal dalam lubuk batin kita ada sedikit suara, "Tuhan, ini untukMu", Tuhan pasti menerimanya.
Orang yang tidak mempunyai seekor ikan pun adalah orang yang berjerih payah semalam suntuk demi kemauan sendiri. Pada malam itu, mereka, tujuh orang pergi ke laut memukat ikan, tetapi seekor ikan pun tidak mereka peroleh. Mereka kembali kepada profesi mereka semula, tetapi malah tidak memiliki ikan seekor pun. Kita harus ingat, bila kita tidak mempunyai makanan, dan tidak ada pula untuk Tuhan, itu menunjukkan bahwa kita sudah berjalan di luar jalan Tuhan, pekerjaan yang kita kerjakan juga di luar kehendakNya. Jika tidak, mustahil seekor ikan pun tidak kita miliki. Jadi, barangsiapa tidak mempunyai apa-apa untuk dipersembahkan dan untuk memuaskan Tuhan, pastilah ia mau memuaskan dirinya dulu, dan melakukan sesuatu menurut kehendak hatinya sendiri.
Berjerih lelah menurut kemauan sendiri, akan mengakibatkan orang tidak memiliki seekor ikan pun, bahkan dirinya sendiri juga tidak kenyang dan puas. Tetapi jika seseorang sadar bahwa dirinya sudah mengingkari Allah, tidak dapat memuaskan hatiNya, lalu meletakkan segala yang lampau serta menghentikan langkah kakinya yang salah; ketika itu meskipun tidak mempunyai apa-apa untuk Tuhan, namun Tuhan akan memberikan banyak kepadanya. Meskipun dia tidak memiliki apa-apa untuk Tuhan, tetapi dalam keadaan demikian, Tuhan mempunyai ikan dan roti yang disediakan baginya untuk mengenyangkannya.
Karena itu, saudara saudari, hendaklah kita kembali! Meskipun di masa lalu Anda salah, tetapi Anda kini boleh menghentikan langkah kaki Anda dan berkata kepada Tuhan, "Ia Tuhan, aku kini kembali kepadaMu." Begitu Anda kembali kepada Tuhan, niscayalah Ia akan mengenyangkan Anda! Walaupun Anda tidak baik, tapi Ia mempunyai karunia. Dia akan mengaruniakan, memuaskan dan menghibur Anda.
Jika hari ini kita mempunyai sedikit untuk Tuhan, hendaklah kita berikan kepadaNya. Sekalipun kita hanya memiliki karunia yang kecil, meskipun karunia yang kita peroleh hanya sedikit, kita harus memberikannya kepada Tuhan. Kalau hari ini kita tidak mempunyai apa-apa untuk Tuhan, kita pun harus merasa puas atas karuniaNya. Meskipun kita tidak memiliki apa-apa untuk Tuhan, namun Dia memiliki suplai yang kaya limpah untuk diberikan kepada kita.
Orang yang paling kasihan ialah orang yang mempunyai seekor ikan, tapi tidak mau memberikannya kepada Tuhan. Dan yang paling disayangkan, adalah pada Tuhan ada kasih karunia yang kaya limpah yang akan diberikan secara cuma-cuma kepada kita, tetapi kita malah berjerih-lelah sepanjang malam.
Marilah kita memberikan sepotong ikan goreng kita kepada Tuhan, supaya Tuhan dipuaskan. Marilah kita menerima ikan dan roti dari Tuhan, supaya kita dipuaskan. Semoga kita bisa memuaskan Tuhan, dan Tuhan juga memuaskan kita.